Melek Huruf, Melek Statistik dan Peradaban


Jika melek huruf didefinisikan sebagai kemampuan baca-tulis maka melek statistik dapat didefinsikan sebagai kemampuan ‘membaca’ informasi statistik. Melek huruf memungkinkan manusia melalukan lompatan kuantum dalam peradaban karena membuka peluang bagi masyarakat luas untuk  mengakses sumber informasi yang sebelumnya tertutup dan hanya dimiliki oleh segelintir elit. Analog dengan ini, melek statistik membuka  peluang bagi masyarakat  kontemporer untuk melakukan lompatan kuantum lebih lanjut dalam ranah peradaban. Bagi Indonesia yang tengah ‘belajar’ berdemokrasi dan membangun konsensus politik yang cerdas dan beradab, melek statistik memiliki arti strategis dan khas.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap (edit terkini: 22/4/2010) silakan klik: MelekHuruf_StatistikRev1

4 thoughts on “Melek Huruf, Melek Statistik dan Peradaban

  1. Melek statistik merupakan tahapan lanjutan dari melek huruf yang mana keduanya tak dapat dipisahkan. Hal ini tercermin pada wahyu pertama yang berarti bacalah. Kata Iqra diulang-ulang pada wahyu pertama ini untuk menekankan bobot pentingnya (tahapan melek huruf). Adalah mengagumkan bahwa tujuan untuk mengajar dan proses pelajaran diucapkan sebagai ’qalam’ atau ’pena’ (tahapan melek statistik). Hanya manusia yang mendapat perlakuan khusus, kemampuan dan kehormatan untuk menulis atau merekam pemikiran dan gagasan mereka. Dengan cara ini umat manusia bisa mendapat manfaat dari pekerjaan orang-orang yang sebelumnya atau mewariskan pekerjaan yang dicapai oleh mereka kepada generasi yang akan datang. Teknologi informasi adalah alternatif yang modern dari suatu pena.

  2. Melek Statistik, kalau saya melihat sebagai “memberikan ruh” pada suatu simbol (angka, huruf, fenomena, geja dll), sehingga menjadi sesuatu yang bernilai plus.

    Ketika membaca peningkatam jumlah keterlibatan orang dalam korupsi, maka statistik akan menyatakan (ruh), kondisinya akan sangat berbahaya buat negri ini, atau bisa juga diartikan perlu peran lebih besar dalam pengawasan, pendidikan norma diperlukan sejak dini dll.

    Nyambung nggak ya….Trims

  3. Good point! You add something new ‘memberikan ruh’. Saya belum sejauh itu. Yang saya bayangkan dengan melek statistik masyarakat mampu, paling tidak memilah dan memilih, mana informasi bersumber sekedar kepercayaan, rumor, atau opini semata, mana yang berbasis fakta (faktual). Kemampuan itu pada gilirannya akan memampukan berpikir, menilai (keadaan, situasi, peritiwa) dan bersikap ‘cerdas’ dalam arti berbasis reasoning, bukan berdasakan feeling, misalnya.Jadi, ada relevansinya dengan upaya ‘menecerdaskan’ bangsa dan membangun demokrasi yang sehat.

    TK, anayway.Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s