Dimensi Salat Menurut Schuon

Artikel ini merupakan terjemahan bebas dari suatu artikel Karya Fritjhof Schuon yang berjudul “Dimension of Prayer”. Agar mampu merasakan ‘gereget-nya’ pembaca dianjurkan mencermati artikel aslinya yang dapat diakses antara lain melalui www.worldwisdom.com/public/library/default.aspx. Dalam artikel ini kata salat merupakan terjemahan prayer sehingga dapat juga diterjemahkan sebagai do’a. Pembaca juga dianjurkan mencermati karya Schuon lain yang senada yang berjudul Mode Salat (Mode of Prayer). Dalam artikel ini Schuon memperluas makna preyer dengan mencakup salat petisi, salat kanonik, meditasi dan dzikir. Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap terjemahan ini— sekitar 1000 kata— silakan klik: Dimensi_doa_1

Konversi Lahan Petanian

Tulisn ini mengilustrasikan seriusnya isu konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Isu ini serius karena terkait secara langsung dengan produksi pangan– dan karenanya dengan ketahanan pengan (food security) atau mungkin lebih tepat kedaulatan  pangan (food sovereignty)–  dan secara tidak langsung dengan kualitas lingkungan hidup berupa jasa-jasa non-marketable yang disumbangkan oleh lapangan usaha pertanian. Tulisan pendek ini (sekitar 1000 kata) mencoba menjawab pertanyaan ini: “Seberapa cepat konversi lahan pertanian berlangsung dan terjadi di belahan Nusantara mana saja?”

(Lanjut)

[Kembali ke Daftar Isi]

Seberapa Timpang Distribusi Pendapatan Kita?

Kalau mau jujur sebenarnya perlu diakui bahwa tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan seberapa timpang pendapatan kita. Kenapa? Karena data statistik pendapatan di Indonesia tidak tersedia. Kenapa tidak tersedia? Karena dalam praktek, data pendapatan yang dapat dipercaya sangat sulit diperoleh melalui survei berskala nasional. Artikel ini— terdiri dari sekitar 1 300 kta— mencoba menjawab pertanyaan itu memanfaatkan data yang tersedia dan ukuran ketimpangan pendapatan yang populer. Bagi yang berminat mengakses silakan kilik: Seberapa_Timpang

Inti_Ajaran_Agama

Inti ajaran agama terkait dengan keyakinan terhadap wujud Mutlak (al-Haqq, the Absolute). Untuk merealisasikan hal ini Dia menganugerahkan inteligensi kepada manusia sehingga mampu membedakan (to discern) diri-Nya dari yang relatif. Dua catatan singkat perlu disisipkan di sini:

Kata Dia diambil dari kata Hua (dengan H besar) yang banyak ditemukan dalam teks suci. Kata itu tercantum dalam Surat Al-Ikhlas, ayat Kursi dan— ini sangat eksplisit— dalam dua ayat berurutan dalam Al-Hasyr (21 dan 22)[1]; dan

Istilah inteligensi disini mengacu pada semacam perangkat ruhani manusia yang dirancang untuk mengenai wujud Mutlak; jadi, bukan inteligensi dalam pengertian popular yang biasa dikaitkan hanya dengan kecerdasan psikologis[2].

Dia yang ingin dikenal dan didekati

Kenapa manusia dianugrahi inteligensi? Salah satu alasannya mungkin karena Dia ingin dikenal dan hanya manusia yang ‘mampu’ mengenal-Nya. Misterinya adalah bahwa Dia yang Mutlak dalam diri-Nya sendiri tidak akan pernah terjangkau oleh manusia dengan cara dan media apapun.

Lalu bagaimana mengenal-Nya? Hemat penulis sebagian caranya adalah melalui kontemplasi mengenai yang Mutlak sekaligus berpikir mengenai yang realtif sebagai tanda-tanda (ayat) keberadaan-Ny. Hemat penulis, ini lah salah satu makna perintah ganda berdzikir dan berpikir sebagaimana tercantum dalam teks suci (3:191). Kontemplasi dapat dilakukan dengan menggunakan kiasan metaforis ‘cahaya di atas cahaya’ (An-Nuur:35) atau melalui Nama-nama-Nya yang Indah sesuai yang diajarakan dalam teks suci.

Selain ingin dikenal, Dia juga ingin didekati dan dalam hal ini juga hanya manusia yang mampu. Kenapa hanya manusia? Karena hanya kepada manusia Dia menganugrahkan kehendak (the will) yang dengan kelengkapan itu manusia— diakui tau tidak — terdorong untuk mendekati-Nya. Secara spiritual, dorongan itulah yang merupakan sifat alami dari kehendak. Seperti halnya keberadaan inteligensi, keberadaan kehendak— dengan masing-masing fungsi dan sifat alaminya— melekat secara permanen dalam fakultas ruhaniah manusia sekalipun senantiasa dicoba dikaburkan oleh ego. Ke_tidak_sadar_an mengenai sifat alami kehendak inilah yang konon mendasari kegelisahan jiwa sebagian anggota masyarakat yang telah berhasil mencapai kemakmuran material yang melimpah. Mereka, konon, sangat sadar mereka kehausan tetapi tidak mengetahui haus akan apa (thirsty for what?).

Merealisasikan Kebajikan Spiritual

Seruan agama tidak menambahkan suatu perangkat ruhaniah baru bagi manusia. Seruan itu pada prinsipnya sekadar menghidupkan fungsi dan sifat alami inteligensi dan kehendak. Dalam bahasa Qur’ani— daâkum lima yuhyikum— “menyerumu untuk menghidupkan” (sifat alami inteligensi dan kehendak).

Seruan itu juga mengingatkan bahaya permanen dari ‘bisikan halus’ ego yang senantiasa dan berbagai cara mendistorsi fungsi dan sifat alami inteligensi dan kehendak. Bisikan halus itu sulit dikendalikan karena dengan cara yang sangat sophisticated seringkali disertai pembenaran yang diciptakan oleh inteligensi ‘palsu’ di bawah kendali ego.

Respon apa yang dikehendaki dari seruan agama? Jawaban singkatnya: merealisasikan Kebajikan (Virtue), bukan kebaikan natural (natural virtue) yang belum terbebas dari kebanggaan diri, melainkan kebajikan supernatural (supernatural virtue) yang berakar dari Dia. Kebajikan spiritual tidak lain dari pada kesesuaian antara jiwa dengan model ilahiah dan dengan pekerjaan spiritual[3].

Kebajikan spiritual dapat dikatakan berlaku perennial— kapan saja, di mana saja— sekalipun manifestasinya pada tataran sosiologis diletakkan dalam kerangka sistem kepercayaan, agama dan tradisi agung tertentu. Dalam kontkes Islam, realisasi Kebajikan spiritual dipandu oleh Qur’an dan Sunnah. Hemat penulis, merealisasikan Kebajikan spitiual inilah yang merupakan kewajiban pokok agama. Dalam kaitan ini, sikap rendah hati (humble) dan kejujuran intelektual (thruthful) sangat diperlukan: yang pertama karena ego cenderung melihat dirinya lebih besar dari yang sebenarnya, yang kedua karena ego cenderung memiliki selera sendiri mengenai kebenaran dan membiasakan diri dengan itu.

Bahasa Berbeda

Ajaran agama sampai taraf tertentu dapat dilihat sebagai penjabaran “teknis_operasional” yang diperlukan untuk merealisasikan kewajiban pokok agama sebagaimana dibahas sebelumnya. Dalam terang ini, mungkin bermanfaat dikemukakan sembilan istilah “teknis_operasional” yang pokok berikut ini, dinarasikan dalam bahasa yang mungkin lebih sesuai dengan cita-rasa-bahasa peradaban kontemporer:

  1. Iman: keyakinan mengenai keunikan wujud Mutlak;
  2. Islam: sikap merelakan_diri “diatur” oleh pola ilahiah dan aksi kongkrit merealisasikan Kebajikan spiritual;
  3. Ihsan: praktek menyempurnakan dan mempercantik_diri dalam ber-Iman dan ber-Islam;
  4. Jihad: upaya keras untuk merealisasikan Ihsan;
  5. Takwa: kehati-hatian untuk tidak melanggar batas-batas Kebajikan spiritual karena kehawatiran menerima konsekuensinya di kemudian hari;
  6. Istiqamah: konsistensi atau keajegan dalam merealisasikan Kebajikan spiritual;
  7. Kafir: sikap dan prilaku mengingkari dan mendustakan keberadaan wujud Mutlak;
  8. Musyrik: kegagalan memahami keunikan wujud Mutlak; dan
  9. Fasik: perusak tatanan sistem Kebajikan spiritual.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa ajaran agama pada intinya adalah ajaran untuk menghidupkan fakultas ruhaniah yang melekat (built-in) dalam setiap jiwa sehingga dapat merealisasikan kebajikan spiritual yang berbasis keyakinan terhadap yang Mutlak. Wallâhu’alam… @

inti1.png

[1] Schuon (2002:165) dalam Transfigurasi Manusia mendeskripsikan kata itu dalam bahasa yang sangat inspiratif: ““Dia’’(Huwa): Prinsip Tertinggi sejauh ia adalah dirinya sendiri; esensi dibalik sifat-sifat; misteri mengenai keberadaan, esensi, kondisi–Nya yang sebenarnya”.

[2] Untuk jelasnya lihat “Inteligensi, Kehendak dan Kebaikan dalam Perspektif Perenian”, uzairsuhaimi.wordpress.com.

[3] Kebajikan spiritual dapat dikatakan berlaku perennial— kapan saja, di mana saja— sekalipun manifestasinya pada tataran sosiologis diletakkan dalam kerangka sistem kepercayaan, agama dan tradisi agung tertentu. Dalam kontkes Islam, realisasi Kebajikan spiritual perlu dipandu oleh Qur’an dan Sunnah.