Neti, Neti, Neti, …


Judul itu kira-kira berarti “bukan itu, bukan itu, bukan itu”.., suatu negasi terhadap deskripsi apapun mengenai Yang Mutlak. Artikel pendek ini (62×7 kata) mencoba meringkas –sepadat dan sesederhana mungkin— inti ajaran sejumlah teolog besar tetapi sangat rendah hati dari bebagai latar tradisi keagamaan yang menegaskan: bahasa manusia tidak memadai mendeskripsikan Yang Mutlak, Beyond Being. Jika tertarik membacanya silakan klik: Neti

4 thoughts on “Neti, Neti, Neti, …

  1. neti, neti, neti..
    Pertanyaannya kenapa ada 7 cara: diam 7x. cukup 1 cara saja yaitu: Diam.
    artikel yg ringan namun memiliki arti filosofi tersendiri. Usaha sekeras apapun untuk mencari makna”Maha” tidak akan dapat menghasilkan hasil yg memuaskan, krn “Maha” akan selalu mematahkan arti yg kita dapatkan.
    Salam Takzim

    1. Menjelang mendarat dari pesawat seorang pramugari biasanya mengingatkan dengan segala kekenesannya untuk tidak membuka sabuk pengaman “sebelum pesawat benar-benar berhenti”. Pertanyaannya, kenapa tidak cukup bilang “sampai berhenti”, tidak perlu tambahan “benar-benar”; toh berhenti ya berhenti. But we understand what she is trying to say: memperkuat. Analog dengan ini, kita memang harus “benar benar diam”, tidak cukup, misalnya, “pura-pura diam”, atau “diamnya setengah-setengah”. Kenapa 7? Karena 7 konon lambang sempurna [baca kan artikel misteri angka 7 saya] So, ada argumennya kan. Salam

  2. Kontemplasi atas Sang Kholik…. Cukup Pada Wujud para Makhluk Nya. Tak akan mampu Syaraf Otak Insan mencapai Kontemplasi atas Wujud Alloh SWT. Ketika memaksakannya, jalinan syaraf yang sudah tersusun rapih akan hancur berantakan. yang kemudian lahir banyak penyimpangan pemikiran akan Dzat Alloh Robbul Izzati.

    Semoga Hidayah menunjukkan Cahaya penerang dan lentera bagi semua kesimpulan pada output pemikiran kita.

  3. TK komentarnya yang pas. Sebenarnya tulisan dimaksudkan sebagai kritik terhadap ‘mereka’ yang merasa pengetahuannya mengenai yang Mutlak sempurna, final dan paling benar; mereka yang tidak mampu membedakan antara –meminjam pendekatan Ibnu ‘Arabi– Allah sebagaimana ada-Nya [Hua] yang pasti tak terjangkau, dengan Allah sebagaimana kita yakini atau kita perspesikan yang pasti relatif, dapat berbeda antar orang, dapat berbeda antar waktu sesuai dengan kematangan spiritual, dan tidak pernah memadai). Sekali TK ya komentarnya. Coba komentari tulisan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s