Dikendalikan Alam


Dikendalikan Alam

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Mungkin sekadar mengurangi rasa pegal, di kawasan paling miskin Turki Selatan, ketika suhu udara mendekati titik_beku pada pertengahan Oktober 2011, bumi menggerakkan sedikit badannya sejanak; terjadilah apa yang dikenal sebagai gempa bumi dengan skala 7.2, terbesar dalam 10 tahun terakhir di negara itu. Akibatnya: setidaknya 217 meninggal, 350 terluka, puluhan bangunan rumah dan apartemen ambruk, saluran listrik dan gas alam rusak tak_berfungsi[1]. Pertanyannya: Siapa dapat mencegah agar bumi di sana agar diam tanpa menggerakkan badan dulu paling tidak untuk “sementara”?

Mungkin karena sedang ceria, ombak di selatan Thailand memperlihatkan ketinggiannya sehingga tuan rumah laut enggan menerima kedatangan tamu berupa rombongan besar air sisa hujan dari utara. Akibatnya, terjadilah banjir berkepanjangan, tiga-bulanan, yang konon terbesar dalam 50 tahun terakhir di kerajaan itu. Pertanyannya: Siapa yang dapat memerintah ombak di sana agar tidak terlalu bergembira dulu?

Mungkin karena sudah lama saling berdiam diri, belahan bumi Amerika bersalaman ketika berpapasan dengan rekannya dari Asia sehingga terjadilah sekitar 58 kali gempa bumi masing-masing berskala 6-7 dan dua berskala 7 lebih. Akibatnya, 7/4/2011 terjadilah tsunami di kawasan Jepang yang luar biasa hebat[2]? Pertanyannya: Siapa dapat memerintah agar keduanya untuk sementara tetap saling_acuh?

Untuk semua peristiwa alam itu –seperti halnya untuk peristiwa alam lainnya termasuk gunung meletus, banjir besar, dan kemarau panjang– kita memberikan label musibah. Kenapa? Karena dampaknya terhadap manusia: semakin besar dampaknya, semakin tinggi kita memberikan peringkat musibah. Fakta tak_terbantahkan adalah bahwa peristiwa itu di luar kendali manusia.

Jelaslah, manusia tidak berkuasa menaklukkan alam. Jelaslah, berdasarkan tiga contoh itu, manusia dikendalikan alam. Jelaslah, akan lebih bijak menghapus jargon “menaklukkan alam” (conquer the nature) dalam perbendaharaan kata kita agar tidak terjebak dalam ilusi yang aburd.

Selain tidak kuasa menaklukkan alam, manusia bahkan tidak dapat mengendalikan sepenuhnya kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidup mereka sendiri; teks suci sudah lama mengingatkan[3]:

  • Pernahkan kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang (sambil berkata) “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian”Bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.
  • Pernahkah kamu perhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur.
  • Maka pernahkan kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu). Kamukah yang menumbuhkannya (api itu) untuk peringatan dan bahan berguna bagi yang musafir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Mahabesar…. @

2 thoughts on “Dikendalikan Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s