Misteri Huruf Nun


Misteri Huruf Nun[1]

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Huruf Nun dapat dilihat sebagai perlambang dari sejumlah misteri yang layak direnungkan. Huruf itu dalam tradisi Islam merepresentasikan al-ūt  (Ikan Paus) yang konon “menelan” tetapi juga “menolong” Nabiyullah Yūnus AS (the prophet Jonah). Karena alasan iniliah beliau bergelar Dhū-n-Nūn[2] atau Shahib al-ūt [3].

Huruf Nun dalam sistem Abjad Arab menempati urutan ke-14 atau posisi “tengah” dalam rangkaian huruf yang berjumlah 28 itu[4]. Label “tengah” dalam konteks ini tampaknya memilki konotasi tertentu:

  • Masing-masing huruf dalam Abjad Arab (seperti halnya Abjad Yahudi) memilki nilai tertentu dan Huruf Nun nilainya 50. Angka ini mengesankan “setengah” dari angka sempurna yang biasanya diberikan nilai 100. Kesan serupa juga terlihat dari bentuk huruf itu (=نِ) yang menyerupai “setengah” lingkaran dengan satu titik di tengahnya.
  • Bentuk setengah lingkaran juga menggambarkan “perahu” yang dapat dianalogikan dengan perahu Nabi Nuh AS yang digunakan untuk menyelematkan “benih-benih kehidupan” dalam masa transisi atau masa kegelapan (“a period of “obscuration”) yang menandai dua kehidupan yang sangat berbeda: sebelum dan pasca banjir bah. Benih-benih kehidupan itu dilambangkan oleh titik dalam Huruf Nun[5].

Jika dalam kisah Nabi Nuh AS masa transisi itu dapat dianalogikan dengan masa berkecamuknya banjir bah, maka dalam kisah Nabi Yunus AS dengan masa ketika beliau berada dalam kegelapan perut Ikan. Untuk menyempurnakan siklus, Era Baru, Kelahiran Baru (New Birth), atau regenarsi wujud (being) merupakan keniscayaan baik pada tingkat individual maupun kosmis. Era baru itu diawali dengan berakhirnya banjir bah Nabi Nuh AS atau dengan dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari perut Ikan Paus. Pada tingkat individu penyempurnaan siklus tampaknya hanya dapat dicapai setelah kematian (al-mawt) yang dilambangkan oleh Huruf Mīm (م), urutan huruf berikut setelah Nun. Pada tingkat yang lebih umum, penyempurnaan siklus itu dapat dilakukan dengan melengkapi setengah lingkaran Huruf Nun (lambang dunia “bawah” yang merupakan domain pemisahan dan terus berubah) dengan Huruf “Nun” lain tetapi berbentuk terbalik (lambang dunia “atas” yang permanen dan tak_berubah dalam kekinian yang abadi). Penambahan itu membentuk lingkaran penuh dengan satu titik pusat, lambang kesempurnaan.

Huruf “Nun” dengan bentuk terbalik “anehnya” ditemukan dalam Huruf Na dalam Abjad Sanskerta. Bagi Guénon, Huruf Na (Sanskerta) melambangkan “matahari terbit” dari Tradisi Primordial Hindu sementara Huruf Nun (Arab) melambangkan “matahari terbenam” dari “Segel Kenabian” (Seal of Prophecy) dalam Tradisi Islam. Baginya, kombinasi dari keduanya “represents the ultimate form of traditional orthodoxy for present cycle”. Wallâhu a’alam …..@


[1] Diringkas dari René Guénon, “The Mysteries of the Letter Nūn”, Studies in Comparative Religion, Vol. 14, No. 1 & 2. (Winter-Spring, 1980), http://www.studiesincomparativereligion.com

[2] Simbolisme ikan –tepatnya Ikan Penolong (Saviour Fish)—dapat dianalogkan dengan Matsya-avatāra dalam tradisi Hindu dan the Ichthus dalam Tradisi Kristen Awal.

[3] Al-Qur’an (68:48).

[4] Dalam Abjad Yahudi Nun juga huruf ke-14 tetapi posisinya tidak persis tengah karena total huruf dalam sistem abjad itu bukan 28 tetapi 22.

[5] Benih-benih itu menurut René Guénon melambangkan “the seed of immortality, the indestructible “core” which escape all exterior dissolution”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s