Cinta Ala Sufi


Cinta Ala Sufi 

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

“Allah itu indah dan mencintai keindahan” (Hadits). Hadits ini —yang kebanyakan kita cenderung mengabaikannya karena miskin imaginasi intelektual— bagi kalangan sufi maknanya sangat dalam. Bagi mereka semua keindahan –yang ada atau dapat dibayangkan– merefleksikan keindahan-Nya (Beatitude) dan kebaikan-Nya (Sovereign Good). Yang Maha Indah berasal dari yang ke-tak-terhingaan-Nya (His Infinitude, muhiith) dan ini bersesuaian dengan keberkahan-Nya (His Bliss) dan kecenderungan-Nya untuk berkomunikasi atau memancar; inilah kelimpahan dari kebaikan-Nya. Seperti diungkapkan Schuon[1],

“And Beatitude coincides with the divine “Dimension” of Infinitude, in virtue of which God shows Himself as Sovereign Good, source of all harmony and all happiness“

 “Dan keindahan-Nya bersesuaian dengan “Dimensi” ilahiah dari ke-tak-terhingaan-Nya, kebajikan Tuhan yang menunjukkan diri-Nya dalam bentuk yang Maha Baik, sumber segala harmoni dan semua kebahagiaan”

Apa hubungan keindahan dengan cinta? Jawabannya: obyek cinta adalah keindahan. Lalu, apakah seorang sufi mencintai makhluk? Ya, dia dapat mencintai makhluk tetapi tidak tanpa atau di luar Allah SWT. Dia bahkan sangat mengapresiasi, mensyukuri serta sensitif terhadap setiap bentuk keindahan makhluk atau aksiden dalam berbagai bentuknya: langit tanpa batas, pancaran sinar matahari, cahaya, kristal, dsb. Baginya semua itu pasti merefleksikan sesuatu mengenai Allah SWT sehingga perlu dikembalikan kepada yang Maha Baik dengan cara kuasi-sakramental. Singkatnya, baginya, kecintaan terhadap makhluk adalah sah sejauh disertai dua catatan: (1) tidak didorong nafsu berlebih (aviditas) dan tirani, dan (2) disertai kesadaran –secara kuasi eksistensial– mengenai arketip-surgawi dan substansi ilahiahnya.

images

Konon, ada dua macam cinta dilihat dari dasar pijakaannya: metafisis dan kontemplatif. Pijakan metafisis –yang melihat Tuhan dari aspek abstrak—menyimpulkan keindahan-Nya. Demikian juga kontemplasi jiwa yang sensitif. Sensitif terhadap apa? Sensitif terhadap kedamaian melimpah dari Ada murni (pure Being) atau terhadap sesuatu seperti kristalinitas dari yang Mutlak (Absolute). Manusia dapat mencintai-Nya karena Imutabilitas-Nya yang tak-terbantahkan, atau karena kehangatan yang membebaskan dari ketak-terhingaan-Nya. Akhirnya, kutipan berikut ini[2] layak direnungkan:

 “Beauty, love, happiness: man yearns for happiness because Beatitude, which is made of beauty and love, is his very substance”

Keindahan, cinta dan kebahagaan: manusia sangat mendambakan kebahagiaan karena keindahan-Nya; demikianlah karena substansi manusia diciptakan dari keindahan dan kebahagiaan.

 Wallahu’alam …..@


[1] Schuon ( 2002 ), “On Love” dalam Roots of the Human Condition, halaman 118.

[2] Schuon ( 2002 ), “On Love” dalam Roots of the Human Condition, halaman 119.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s