Makna Hidup dan Salat


Makna Hidup dan Salat[1]

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi@gmail.com

Hidup bukanlah semacam ruang kemungkinan yang menawarkan berbagai kesenangan hidup sebagaimana dipercayai oleh anak-anak dan orang-orang duniawi (worldly people); hidup adalah jalan yang semakin menyempit, dari momen masa kini ke kematian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian; semua realitas itu sudah hadir dalam Salat; dalam aktualitas nir-waktu dari Kehadiran ilahiah.

Apa yang penting bukanlah keragaram pengalaman hidup sepanjang bentangan ajaib yang kita sebut durasi, tetapi ketekunan dalam “kenangan” (“rememberance”) yang membawa kita keluar dari waktu dan mengangkat kita mengatasi harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita. Kenangan ini sudah ada dalam keabadian; di dalamnya, rangkaian aktivitas hidup hanyalah ilusi yang menjadi satu dalam Salat; Salat dengan demikian sudah merupakan suatu kematian, suatu pertemuan dengan Tuhan, suatu keabadian dalam kebahagiaan.

Apakah arti dunia kalau bukan aliran bentuk-bentuk (forms), dan apakah arti hidup kalau bukan suatu bejana yang dikosongkan dari satu malam ke malam lainnya? Dan apakah arti Salat kalau bukan satu-satunya titik stabil –terbuat dari kedamaian dan cahaya—di dalam dunia mimpi ini dan dalam gerbang sempit yang membawa kita pada suatu “tempat” dimana semua yang ada dalam dunia dan kehidupan ini menjadi remeh? Dalam kehidupan manusia, empat kepastian adalah segalanya: momen sekarang, kematian, bertemu Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah pintu keluar dari dunia yang menjadi tertutup; bertemu Tuhan layaknya suatu pembuka jalan yang mengarah pada ketakterbatasan yang penuh cahaya dan tak berubah. Keabadian adalah kelimpahan cahaya murni; dan masa kini adalah suatu tempat yang hampir tak terfahami dalam durasi kita yang sudah abadi—suatu tetesan keabadian di tengah perubahan bentuk dan melodi; Salat memberikan daya penuh kebadian dan nilai-nilai ilahiah dalam titik waktu duniawi; Salat adalah kapal suci yang mengantarkan muatannya, melalui kehidupan dan kematian, menuju pelabuhan berikut, menuju keheningan cahaya. Dan lebih dari itu, dalam level yang lebih dalam, bukannya Salat yang berlalu dalam waktu; waktu itulah yang berhenti di hadapan Salat yang sudah menjadi kesatuan utuh dan keunikan surgawi dari Salat.

[1] Terjemahan bebas dari Prayer Fashions Man: Fritjhof Shuon on Spiritual Life, World Wisdom, Inc., halaman 75.

One thought on “Makna Hidup dan Salat

  1. Semoga Allah SWT meridhoi kita menjadi hambaNya yang mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan melalui shalat. Sebagaimana Rasulullah SAW merasakan hal tersebut:”Dan dijadikanlah penyejuk hatiku di dalam shalat” (HR. Bukhari). Bahkan dalam sejarah kenikmatan shalat dapat mengalahkan rasa sakit. Ali RA ketika kakinya terkena anak panah, atas permintaan beliau anak panah dicabut ketika sedang shalat. Demikian pula Urwah bin Zubair yang karena penyakit menyebabkan kakinya harus diamputasi dan ketika dokter hendak memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit Urwah bin Zubair berkata, “Demi Allah, janganlah kalian beri aku sesuatu yang dapat menghilangkan akalku sehingga aku lupa dari mengingat Allah,kemudian beliau berkata, jika aku sedang shalat, dan dalam posisi duduk tasyahud maka potonglah betisku, karena ketika aku sedang menghadap Allah,tidak ada yang aku pikirkan selain Allah ta’alla.”
    Itulah janji Allah bagi hamba-hambaNya yang yakin. Shalat menghadirkan ketenangan ketika datang keresahan. “Tegakkanlah shalat untuk mengingatKu” (Qs, 20:14). “Ingatlah dengan mengingatKu hati akan tenang” (QS. 13:28)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s