Tragedi Badai Matthew, Tragedi Aleppo dan Jejak Ilahi


Tregedi Badai Matthew, Tragedi Alepo dan Jejak Ilahi

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Akhir-akhir ini dua tragedi kemanusiaan menyita perhatian media pemberitaan internasional: (1) tragedi Badai Matthew yang melanda kawasan Amerika, dan (2) tragedi perang sipil di Kota Alepo, Syria. Dilihat dari skala korban, kedua tragedi itu jelas memiriskan. Mengenai tragedi pertama dilaporkan setidaknya “852 kematian terkait dengan badai itu, termasuk 842 di Haiti, membuatnya paling mematikan sejak Badai Atlantik Stan tahun 2005 yang menewaskan lebih dari 1,600 orang di Amerika tengah dan Meksiko” [1].

Mengenai Tragedi Aleppo, PM Prancis meramalkan–sebagaimana dilaporkan CNN 8/10/2016—tanpa aksi, Aleppo akan hancur sekitar musim Natal tahun ini; sementara itu Perwakilan khusus PBB mengemukakan rinciannya:[2]:

Detailing the bloodshed in eastern Aleppo, where in the last two weeks, 376 people – half of them children – have been killed, 1,266 injured, hospitals destroyed, and “all sorts of ammunitions” and weapons used, the United Nations Special Envoy for Syria underscored today that this part of the iconic city may be totally destroyed in two months, leaving thousands dead and forcing countless more to flee.

Perwakilan khusus PBB mengemukakan rincian pertumpahan darah di aleppo dalam dua minggu lalu: 376 orang tewas (separuhnya anak anak), 1,266 orang terluka, rumah sakit-rumah hancur , dan berbagai macam amunisi dan senjata digunakan. Dia menekankan bahwa bagian ikonis dari kota itu (Aleppo) mungkin hancur total dalam dua bulan, meninggalkan ribuan orang meninggal dan lebih banyak lagi yang terpaksa untuk mengungsi.

aleppo1

Sementara tragedi yang pertama merupakan gejala alam, tragedi yang kedua akibat ulah manusia (man-made tragedy). Jenis tragedi yang  kedua ini sebenarnya dapat dinatisipasi dan diupayakan secara kolektif untuk dihindari. Hemat penulis, pelajaran (hikmah, i’tibaar) yang dapat dipetik  dari kedua tragedi antara lain sebagai berikut:

  • Tragedi Badai Matthew mendemontrasikan ketidak-berdayaan kita ketika berhadapan dengan kekuatan eksternal, “balatentara” Tuhan berupa angin kencang, balatentara yang dahulukala meluluh-lantahkan Kaum ‘Aad (al-Qamr: 18-19). Tingkat Iptek kita sekarang ini baru mampu memprediksi kapan dan perkiraan kedahsyatan tragedi itu tetapi tidak berdaya untuk mengarahkan apalagi  mencegah terjadinya tragedi itu.
  • Tragedi Aleppo mengilustrasikan ketidak-mampuan kita secara kolektif untuk mengendalikan kekuatan internal kita berupa hawa nafsu kekuasaan, ketidakmampuan membangun konsensus global, dan –ini yang paling subtil tetapi sekaligus merupakan akar masalah dari tragedi kemanusiaan sepanjang sejarah manusia– kekerdilan kita untuk memahami serta merealisasikan prinsip kuasi-Tauhid (jika boleh mengunakan istilah ini): kesatuan umat manusia.

Penulis melihat kedua tragedi kemanusiaan sebagaimana baru dibahas itu sebagai salah satu bentuk campur tangan atau jejak ilahi (the trace of the Divine) dalam hiruk-pikuk dunia: Badai Matthew sebagai salah satu cara Tuhan memperlihatkan rigoritas-Nya, syadiidul iqabb; sementara tragedi Aleppo sebagai “anugrah” Tuhan kepada manusia berupa kebebasan kehendak (free will) sekalipun diarahkan untuk menghancurkan dirinya.

Untuk menghadapi tragedi akibat kemanusiaan kekuatan eksternal dan internal yang bersifat destruktif itu kita masih perlu belajar banyak mengenai kerendahan hati (humility), kesadaran bahawa kita bukan apa-apa di hadapan yang Mutlak (nothing before the Absolute). Sangat banyak contoh yang memperlihatkan ketidakberdayaan kita dalam menghadapi kekuatan alam; kita bahkan tidak berdaya menghapai hawa nafsu, syhawat kekuasaan, kecuali dengan rahmat-Nya (Al-Qur’an, Surat Yusuf:53). Dalam konteks ini, pernyataan Schuon ini[3] layak disimak: “One cannot know the grandeur of the Absolute without knowing correlatively the smallness of the contingnet, thus of man” (“Siapa pun tidak dapat mengetahui kemegahan yang Mutlak tanpa mengetahui secara bersamaan kekerdilan yang kontingen, dengan demikian kekerdilan diri manusia”).

Menghadapi musibah atau tragedi, kerendahan hati untuk meminta perlindungan-Nya merupaka tuntutan bagi kita sekalipun ini sulit dipahami oleh manusia kontemporer. Dalam konteks ini, bagi penulis, Surah Al-Falaq pada intinya merupakan ajaran mengenai perlunya meminta perlindungan-Nya terhadap kekuatan eksternal, sementara Surah Annas, terhadap kekuatan internal. Kedua surah itu mengindikasikan bahwa perang menghadapi kekuatan internal jauh lebih berat dari pada menghadapi kekuatan eksternal  yang destruktif itu. Untuk meminta perlindungan 4 (empat) jenis kekuatan eksternal yang destruktif –kejahatan “makhluk” (ma khalaq),  “kegelapan malam” (gasaq),  “sihir” (naffatsaat), “pendengki” (haasid)– cukup menyebutkan satu asma-Nya yaitu Rabb Falaq; sebaliknya, untuk menghadapi 1 (satu) jenis kekuatan internal yang destruktif yaitu “bisikan hati” perlu menyebutkan 3 (tiga) asma-Nya: Rabb, Malik, dan Ilaah manusia. Akhirnya, sangatlah layak bagi kita untuk pertimbangkan nasihat orang bijak dalam rangka meghindari musibah atau tragedi sebagai akibat dua kekuatan destruktif itu yaitu banyak sodaqah. Wallahu’alam ….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hurricane_Matthew

[2] http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=55228#.V_hL5EuprwI

[3] Frithjof Schuon, Roots of The Human Condition (2002), halaman 86.

2 thoughts on “Tragedi Badai Matthew, Tragedi Aleppo dan Jejak Ilahi

  1. Tragedi Badai Matthew mendemontrasikan ketidak-berdayaan umat manusia berhadapan dengan kekuatan eksternal, “balatentara” Tuhan berupa angin kencang, balatentara yang dahulukala meluluh-lantahkan Kaum ‘Aad (al-Qamr: 18-19). Tingkat Iptek manusia mampu memprediksi kapan dan kedahsyatan tragedi tetapi tidak berdaya mengarahkan atau mencegah terjadinya tragedi itu.

    Komentar: Wujud dari Al Malik (yang maha merajai), Al Qahhar (yang maha memaksa), Al Qaabidh (yang maha menyempitkan), Al Khaafidh (yang maha merendahkan), Al Mumiitu (yang maha mematikan), Ad Dhaar (yang maha penimpa kemudharatan).

    Tragedi Aleppo mengilustrasikan ketidak-mampuan manusia mengendalikan kekuatan internalnya berupa hawa nafsu kekuasaan bagi berbagai pihak pemangku kepentingan, ketidakmampuan membangun konsensus global, serta kebutaan untuk melihat perlunya merealisasikan kensicayaan kuasi-Tauhid (jika boleh mengunakan istilah ini): kesatuan umat manusia.

    Komentar: Tak lepas dari bisikan dan godaan iblis. Permintaan Iblis kepada Allah, SWT.
    “Aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, “silahkan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.” Iblis berkata: “Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s