Simbolisme Gua dan Gunung


Simbolisme Gua dan Gunung
Uzair Suhaimi
uzairsuhaimi.wordpress.com

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, suatu gua kecil di Jabal Nur yang terletak 5 km di utara Mekah. Dikisahkan pula bahwa Nabi Musa As menerima wahyu Taurat di Gunung Thur, suatu gunung yang berlokasi di semenanjung Sinai, Mesir . Dalam konteks ini gua maupun gunung memilki arti harfiah, geografis. Walaupun demikian, kata gunung dan gua — antara lain karena terkait peristiwa supra-rasional (bukan irasional) yaitu penurunan wahyu yang berarti “pengungkapan ilahiah atau supernatural kepada manusia mengenai sesuatu yang terkait dengan eksistensi manusia atau dunia” —tampaknya terlalu sederhana kalau hanya memiliki arti harfiah. Sebaliknya, wajar jika keduanya dianggap memilki arti simbolis. Hemat penulis, kata Thur, misalnya, mesti memiliki arti simbolis yang mendalam karena Jalalyan ketika mengartikan kata at-tur (Ayat ke-1, Surat ke-52) menarasikan sebagai “sebuah bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa”.

Di luar tradisi agama samawi, konon dalam banyak peradaban purba kata gua maupun gunung dimaknai sebagai representasi pusat spiritual. Kata gua (guhā) dalam Bahasa Sansekerta berasal dari akar kata guh yang berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Kata itu seakar kata dengan gup, karenanya gupta yang digunakan untuk apapun yang bersifat rahasia dan tidak tampak di permukaan. Kata itu sinonim dengan kata “crypt” yang dalam Bahasa Latin yang juga berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Ide dari kata-kata itu terkait dengan pusat, sejauh itu dilihat sebagai paling batini (inward) dan karenanya merupakan titik yang tersembunyi (hidden point). Ide yang sama juga merujuk pada inisiasi (mistis) yang bersifat rahasia dalam kaitannya dengan peristiwa itu sendiri maupun dengan tempat di mana inisiasi itu berlangsung; keduanya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan yang masih berjiwa duniawi (profane) .

Dalam artian simbolis gua dilihat sebagai tempat yang terletak di bawah atau di dalam gunung sehingga keduanya saling melengkapi. Walaupun demikian, gunung menurut Guénon secara simbolis lebih purba (primordial) dibandingkan gua. Berbeda dengan gunung yang dapat terlihat secara kasat mata dari semua sisi, gua pada dasarnya tempat tersembunyi dan tertutup. Dari pengamatan ini Guénon menyimpulkan bahwa representasi pusat spiritual dari gunung terkait dengan periode di mana “kebenaran seluruhnya dapat diakses oleh semua”; pada periode sesudahnya kebenaran itu hanya dapat diakses oleh segelintir kalangan elit. Untuk memperoleh gambaran agak lengkap mengenai pikiran Guénon, berikut ini disajikan ungkapannya secara langsung :

It must be mentioned… that the mountain is more “primordial” in its significance than the cave: it is so in virtue of being outwardly visible, we might even say of being the most visible object from all sides, whereas the cave is, on the contrary, an essentially hidden and closed place. It can easily be deduced from this that the representation of the spiritual center by the mountain corresponds to the original period of earthly humanity, during which the truth was wholly accessible to all …; but when, owing to the downward march of the cycle, this truth was no longer within the scope of more than a fairly restricted “élite” …. and had become hidden from the majority, the cave was a more fitting symbol of the spiritual center and therefore of the initiatic sanctuaries which are its images.

Harus disinggung… bahwa gunung lebih “primordial” signifikansinya dari gua: demikianlah karena gunung secara lahiriah terlihat, kita bahkan mungkin mengatakan menjadi objek yang paling terlihat dari semua sisi, sedangkan gua adalah, sebaliknya, pada dasarnya tersembunyi dan tertutup. Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa representasi dari pusat spiritual oleh gunung sesuai dengan periode awal manusia di bumi ketika kebenaran sepenuhnya dapat diakses oleh semua; pada masa selanjutnya, karena siklus yang merngarah ke ke bawah, kebenaran ini tidak hanya dapat diakses hanya oleh kalangan “elite” yang cukup terbatas …. dan telah menjadi tersembunyi dari mayoritas, gua adalah simbol lebih pas dari pusat spiritual dan karenanya menggambarkan tempat inisiasi suci.

Ungkapan di atas tidak menujukkan gunung berubah atau pindah tempat; yang terjadi adalah “puncaknya” seolah-olah menyembunyikan diri ke bagian dalam. Bagi Guénon perubahan yang tampak terbalik ini (reversal) juga tidak berarti bahwa “dunia lebih tinggi dan lebih lebih dalam” (higher and inner world) telah berubah; yang berubah adalah “dunia luar” (external world), demikian juga hubungan antara keduanya. Oleh Guénon gunung diilustrasikan oleh segitiga yang mengarah ke atas sementara gua segitiga lebih kecal yang mengarah ke bawah yang lebih kecil. Gambar 1 meujukkan hubungan “terbalik” sekaligus “saling melengkapi” antara keduanya.

goa101

Bagaimana agar segitiga yang di bawah dimasukkan ke dalam segitiga yang di atas sedemikian rupa sehingga menutupi yang pertama secara sempurna. Menurut Guénon, yang kebetulan ahli matematika, caranya adalah dengan menarik satu garis tengah secara horizontal pada segitiga yang di atas dan menjadikan garis tengah itu sebagai “alas” bagi segitiga yang mengarah ke bawah. Hasilnya adalah “klop” dengan 4 segitiga: satu mengarah ke bawah, sisanyake atas sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Guénon  memaknai ini sebagai simbol “Segel Sulaiman” (“Seal of Solomon”). Wallahu’alam.

Guénon mengungkapkan bahwa segitiga terbalik juga melambangkan hati (heart) dan cawan (cup), khususnya dalam kaitannya dengan misteri Cawan Suci (Holy Grail). Selain itu dia mengungkapkan bahwa segitiga yang di bawah lebih kecil dibandingkan dengan yang di atas tetapi dalam kaitan ini kata kecil sekaligus bermakna besar, jauh lebih besar:

Moreover, in the present case, there is a more special reason: we have recalled, in connection with the relationship between the cave and the heart, the text of the Upanishads where it is said that the Principle, which resides at “the center of the being”, is “smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a grain of mustard, smaller than a grain of millet, smaller than the seed that is in a grain of millet”, but also at the same time “larger than the earth, larger than the atmosphere (or the intermediary world), larger than the heavens, larger than all the worlds together”…

Selain itu, dalam kasus ini, ada alasan khusus lainnya: kami ingat sehubungan dengan hubungan antara gua dan hati, teks Upanishad mengungkapkan bahwa Prinsip, yang berada di “pusat wujud”, “lebih kecil dari sebutir beras, lebih kecil dari sebutir gandum, lebih kecil dari sebutir mustar, lebih kecil dari sebutir milet, lebih kecil dari benih yang ada di sebutir millet “, tetapi juga di saat yang sama “lebih besar dari bumi, lebih besar dari atmosfer (atau dunia perantara), lebih besar dari langit, lebih besar dari semua dunia bersama-sama.

Terkait dengan kutipan di atas kita dapat menganalogikan makna “besar-kecil” dengan misteri hati seorang Mukmin yang sekalipun fisik kecil tetapi menurut satu hadits qudsi dapat menampung Tuhan: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.” Wallahu’alam ……@

4 thoughts on “Simbolisme Gua dan Gunung

  1. “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”
    Bila disandingkan dengan pencerahan Pak Uzair pada ‘Senan Intelektual’ di bagian akhir tulisan:
    “Wahai dzat yang membolak-balikan qalb, tetapkanlah dalam qalb-ku dalam agamamu dan ketaatan kepada-Mu”,
    barangkali artinya:
    1. Hati seorang Mukmin yang cukup luas, merupakan anugerah tetapi bukan given langsung bisa diperoleh.
    2. Perlu berikhtiar mengupayakannya dalam permohonan dan doa, karena barangkali sesungguhnya
    urusan hati di luar kendali kita.

  2. sampai hari ini…gua dan gunung masih dalam konsep demikian. maka ketika zaman semakin edan (mohon maaf, saya harus katakan ini), agar kita bisa berdiskusi beningpun, saya dan para sahabat saya melakukannya di gunung. para profesorpun sekarang jika diskusi “tingkat tertentu” selalu mencari tempat di gunung. seperti beberapa waktu lalu, saya bersama beberapa dosen dari sosio.tekonologi ITB Bandung, sengaja mendaki gunung, hanya untuk berdiskusi di kesunyian dan dinginnya malam. di gelap gulitanya malam, kami berdiskusi dg cahaya rembulan. tak banyak hanya ber-5, namun dalam diskusi yang hanya 3 jam saja di ketinggian, sungguh hasilnya luar biasa. padahal ketika kami rapat di ruang rapat ber AC, jalan keluar dari sebuah permasalahan besar tak semudah itu kami bisa memikirkannya.

    Gunung dan Gua, sampai hari ini masih memiliki sifat seperti awal mereka diciptakan sang ilahi.
    penuh misteri, namun sebagai SUMBER INSPIRASI.

    sekarang, beberapa jendralpun, dalam menghadapi “perang pemikiran”, maka untuk dapat menghasilkan “strategi hebat” ….berdiskusinya di kesuynyian, gunung atau hutan……..di tempat gelap (gua,).

    ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.

    salam Hormat saya buat pak uzair yang tak pernah berhenti menulis…berbagi ilmu.

    1. Makasih komentarnya yang menarik. Menyepi (di tepi sungau dilembah gunung) dapat membantu upa mencapai situasi “hening Ilahiah (holy silence), tenggelam dalam kedamaiannya-Nya. Bagi saya menyepi hanya bermanfaat u/ meditasi, konsentrasi dan dzikir, bukan u/ diskusi yang malah memicu gerak dan hiruk pikuk pikiran liar. Ini sesuai dengan arti Shanti: damai, tetapi juga hening, silence). Maaf, ngelantur ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s