Seri Uzair_on_ Puasa: Puasa dari apa?


Secara kebahasaan, puasa (Arab: shiyam, kata benda, ism masdar) berarti kemampuan menahan diri. Menahan diri dari apa? Dari apa saja yang membatalkan: makan, minum, merokok, berhubungan secara seksual, dsb. Kita pasti menyukai semua itu karena dianugerahi syahwat untuk menghendakinya. Dengan demikian, berpuasa –diberikan imbuhan awal “ber” untuk memperkuat kata puasa sebagai kata kerja (Arab: shaama, kata kerja, fiil madhi)– dapat dimaknai secara luas sebagai “menahan diri atau melawan kehendak untuk tidak melakukan apa saja yang kita sukai”. Jika ini dilakukan secara serius maka tindakan menahan diri atau melawan kehendak semacam ini sama dengan berpantang (abstinence). Pantangan ini tentu saja bersifat sementara (temporary abstinece) yang dalam konteks syar’i waktunya mulai dari fajar sampai magrib setiap harinya selama bulan Ramadhan. Selain itu, sifat sementara dari upaya mengendalikan kehendak diperlukan karena tidak semua yang kita sukai buruk bahkan dibutuhkan. Singkatnya, berpuasa dapat didefinisikan secara umum (generik), bukan definisi syar’i, sebagai berpantang sementara melakukan apa yang kita sukai sekali pun dalam keadaan normal tindakan itu baik dan diperlukan.

Definisi umum ini perlu diketengahkan paling tidak karena dua alasan. Pertama, kemampuan menahan diri atau melawan kehendak untuk melakukan apa yang dikehendaki (sesuai syahwat) adalah khas manusia. Manusia dianugerahi kebebasan berkehendak (free will) tetapi juga sekaligus kemampuan untuk mengendalikannya. “Kehendak” binatang terbatas sesuai insting dan binatang tidak diberi kemampuan untuk melawan instingnya. Dapat dibayangkan “derajat” manusia yang tidak memiliki kemampuan pengendalian itu: lebih rendah dari binatang (istilah qur’ani). Kedua, kemampuan mengendalikan kehendak diperlukan dalam kehidupan masyarakat pada tingkat lokal, domestik maupun global. Kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi dalam skenario berikut:

  • Suatu negara adi-kuasa dengan kemampuan teknologi nuklir serta kekuasaan mengendalikan opini publik pada tingkat global tidak mampu menahan diri dari kekuatan syahwat kekuasaan dengan cara memaksakan kehendak bagi negara lain?
  • Seorang pengusaha raksasa yang memiliki sumberdaya hampir tak-terbatas untuk “membeli apa pun” tidak mampu menahan diri dari kuasa syahwat kekayaan dengan cara mengeruk keuntungan tanpa-batas dari sumberdaya alam dan sumberdaya manusia?
  • Suatu kelompok mayoritas tidak mampu megendalikan syhawat (halus) menjaga ego kelompok dengan memaksakan kehendak bagi kelompok minoritas?

Dari uraian di atas tampak bahwa kemampuan mengendalikan kehendak (syahwat) adalah krusial bagi manusia sebagai individu maupun kelompok. Apakah realistis bagi kita untuk berharap suatu saat terbangun kesadaran global mengenai arti penting mengendalikan kehendak ketika berinteraksi dengan sesama? Harapan itu bukan sesuatu yang mustahil karena ketentuan mengenai puasa dikenal oleh semua agama  dan tradisi sebelum Islam seperti yang diisyaratkan oleh teks suci (al-Baqarah: 183). Bagi muslim, kesadaran itu seyogyanya sudah mendarah-daging atau merupakan kesadaran kongkrit bagi dirinya, beyond gagasan abstrak, karena selalu dilatih selama bulan Ramadhan. Selamat datang ramadhan!

ramadhan1

Sumber: Youtube

One thought on “Seri Uzair_on_ Puasa: Puasa dari apa?

  1. Pada kalimat akhir tertulis “Bagi muslim, kesadaran itu (menahan kehendak) seyogyanya sudah mendarah-daging atau merupakan kesadaran kongkrit bagi dirinya, beyond gagasan abstrak, karena selalu dilatih selama bulan Ramadhan.
    Menahan kehendak bagian dari kesabaran. Dan menurut Ayat Suci QS. Az Zumar: 10: “….Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Mudah-mudahan puasa kita diterima dan masuk dalam golongan orang beriman yang senatiasa mendapat petunjuk-Nya sehingga seyogyanya itu menjadi konkrit. “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-An’am: 125)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s