Basmalah: Suatu Analisis Kuantitatif


Istilah basmalah merupakan kependekan dari ‘bismillah al-rahman al-rahiem’, ayat pertama dari surat pertama al-Qur’an (al-Fatihah). Basmalah terdiri dari huruf-huruf hijaiyah (huruf dalam Bahasa Arab) yang masing-masing memiliki nilai. Lafadz bismi, misalnya, terdiri dari tiga huruf: b (ba), s (sin) dan m (mim), yang masing-masing memiliki nilai 2, 60 dan 40. Total huruf dari lafadz ini, dengan demikian, adalah 2+60+40=102. Tabel 1 mendaftar nilai dari masing-masing huruf hijaiyyah yang akan kita gunakan dalam analisis. Daftar itu konon sama dengan sistem nilai abjad Rumawi.

Karena memiliki nilai inilah maka analisis kuantitatif ayat a-Qur’an (tidak hanya basmalah) dimungkinkan dan nyatanya telah banyak yang melakukan[1]. Tulisan ini merupakan hasil kajian beberapa literatur yang relevan dan diharapkan dapat membantu mengapresiasi basmalah –seperti halnya ayat-ayat suatu kitab suci (termasuk al-Qur’an)– sebagai wahyu dalam arti berbasis inspirasi langsug[2] dari Yang_Maha_Tinggi, serta memiliki karakter sakral (sacred). Istilah sakral di sini mengacu pada apa yang diungkapkan Schuon (1998:45)[3]: sesuatu yang tersambung dengan tatanan transenden, memiliki karakteristik kepastian yang absolut, dan di luar nalar dan kendali pikiran manusia biasa.

… sacred which in the first place is attached to the trancendent order, secondly possesses the character of absolute certainty, and, thirdly, eludes the comprehension and control the ordinary human beeing.

tab1_basmalah

Secara sederhana komposisi basmalah dapat dilihat sebagai gabungan dari empat lafadz: bismi (b/s/m), allah (a/l/l/h), al-rahman (a/l/r/h/m/n), dan al-rahim (a/l/r/h/i/m). Kita memahami makna masing-masing komposisi basmalah itu tetapi apa yang dikemukakn Schuon[5] tampak sangat kuat-padat dan inspirasional sehingga layak kutip:

Allah: Prinsip Tertinggi sejauh ia memuat segala sesuatu. Misteri mengenai ketuhanan.

Al-Rahman: Prinsip Tertinggi dalam sifat-sifatnya yang ingin menampakkan Ketuhanannya, keindahannya, aksih sayangnya, sejauh itu adalah kekuasaan Tuhan “sebelum” penciptaan dunia. Misteri mengenai Ketuhanan intrinsik.

Al-Rahim: Prinsip Tertinggi sejauh ia memanifestasikan Ketuhanannya “setelah” penciptaan Dunia dan segala sesuatu di dalamnya. Misteri mengenai Ketuhanan ekstrinsik.

Misteri Angka 19

Berdasarkan Tabel 1 kita bisa melihat bahwa huruf yang menyusun lafadz basmalah berjumlah 19 dan ini merupakan penjumlahan dari 3+4+6+6. Seperti yang akan kita lihat nanti, angka 19 ini terkesan “misterius”[4] dan tampak sebagai faktor kunci dalam analisis kuantitatif sistem basmalah (bahkan dalam sistem al-Qur’an secara keseluruhan). Berikut ini disajikan lima fakta relevan terkait dengan angka misterius itu:

Fakta-1: Jumlah surat dalam al-Qur’an, mulai dari al-Fatihan dampai al-Naas, berjumlah 114. Angka ini merupakan kelipatan angka 19: 114=19×6;

Fakta-2: Basmalah tercantum dalam setiap surat, muncul dua kali dalam Surat al-Naml (ayat awal dan ayat ke-30), tetapi tidak muncul sama-sekali dalam Surat al-Baraah. Basmalah sebagai awal dari Surat tak_bernomor kecuali Surat ke-1 (al-Fatihah). Dengan demikian, jika mengabaikan yang tak_bernomor dan mengingat fakta-1, maka total kemunculan basmalah adalah 114 kali: 114=19×6;

Fakta-3: Lafadz Allah, tanpa memperhitungkan basmalah dalam setiap awal surat, tercantum dalam al-Qur’an sebanyak 2,698 kali: 2,2698=19×142;

Fakta-4: Lafadz al-Rahman yang dinisbahkan langsung kepada Allah swt tercantum sebanyak 57 kali: 57=19×3; dan

Fakta-5: Lafadz al-Rahiman yang dinisbahkan langsung kepada Allah swt (sehingga tidak termasuk ayat ke-128 Surat ke-9) tercantum sebanyak 114 kali: 114=19×6.

Peratanyaan retrospektif: Apakah relasi angka-angka atau persamaan dalam fakta 1-5 di atas kebetulan atau random? Seperti yang akan kita lihat nanti, kemungkinan kebetulan dalam persamaan semacam itu mendekati nol.

Misteri Angka 19 Berlanjut

Untuk mendalami misteri angka 19 lebih lanjut kita perlu tabel pembantu yang menyajikan proses dan hasil artimatika sederhana terhadap komposisi huruf yang menyusun basmalah. Tabel 2 dimaksudkan untuk tujuan itu dan akan segera kita analisis[6]. Tetapi sebelumya kita perlu menyisipkan catatan singkat mengenai tabel itu.

Tiga kolom pertama dalam tabel itu tampak jelas dengan sendirinya. Proses perhitungan angka-angka dalam Kolom (5)-(7)tampaknya juga jelas. Yang mungkin perlu penjelasan tambahan adalah Kolom ke-4 dan ke-8:

Kolom ke-4 diperoleh dari akumulasi kolom ke-3: 3 (baris ke-1= 3+0), 7 (baris ke-2= 3+7), 13 (baris ke-3=7+6), dan 19 (baris ke-4=13+6).

Prosedur yang sama berlaku untuk Kolom ke-8 tetapi menggunakan kolom yang berbeda sebagai basis perhitungan yaitu Kolom ke-6.

tab2_basmalah

Sekarang kita siap untuk menaganlisis Tabel 2.

Dalam tabel itu kita dapat melakukan berbagai permainan perhitungan dan bisa mengamati paling tidak empat relasi angka angka berikut ini:

  1. Jika kita mengurutkan kolom kolom (1) dan kolom (3) maka kita sampai kepada angka 1324364 Angka ini terkesan acak (random) tetapi ternyata tidak; ia merupakan kelipatan dari angka 19: 13,243,646 = 19 x 697,034.
  2. Jika prosedur yang sama kita lakukan tetapi kali ini mulai dari bawah niscaya kita akan sampai pada angka 46,362,413: 46,362,413 = 19 x 2,440,127.
  3. Jika prosedur 1) kita ulangi tetapi menggunakan kolom (1) dan kolom (7) niscaya kita angka akan memperoleh angka 110,527,033,354,295: 110,527,033,354,295 = 19 x 5,817,212,281,805.
  4. Jika prosedur 1) kita replikasi menggunakan kolom (1) dan kolom (4) niscaya akan menghasilkan angka 1,327,313,419: 1,327,313,419 = 19 x 69,858,601.

Probabilita relasi angka-angka itu bersifat kebetulan atau random hampir nol. Penjelasan singkatnya kira-kira begini:

Secara statistik kita bisa rumuskan semua relasi angka-angka di atas (kecuali yang ke-3) sebagai:

1k2l3m4n = 19 X a

dimana, k, l, m, n dan a angka bulat (tanpa pecahan atau desimal) yang terdiri dari sejumlah digit.

Rumusan itu berarti, di tempat nilai-nilai k, l, m dan n mesti ada suatu nilai yang berkorespondensi dengannya. Menurut simulasi komputer[7], random odds[8] dari persamaan 1 adalah 1 berbanding 189,753; untuk persamaan 1 dan 3 adalah 1:36 milyar; dan untuk tahap 1, 3, dan 4 dikombinasikan, adalah kurang dari 1:6.8 quadrillion (=10 pangkat 15), suatu perbandingan yang sulit dibayangkan kecilnya.

angka2

Sumber: Youtube

Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan dapat dimeukakan bahwa relasi angka-angka dalam dalam persamaan 1-4, seperti halnya dalam fakta 1-4 sebagaimana dibahas sebelumnya, hampir nol. Dengan perkataan lain, relasi itu hampir pasti ada yang secara intensional bermaksud menciptakannya. Dalam perspektif iman kesimpulan ini mungkin tidak memadai karena masih menyisakan keraguan.

Agar yakin, kita perlu menghapus kata “hampir” dalam kesimpulan itu. Ini sama saja dengan menyatakan bahwa basmalah adalah wahyu dalam pengertian sebagaimana diungapkan oleh Schuon (dikutip sebelumnya dan kita narasikan-ulang): (1) transenden, misteri yang selamanya tidak akan pernah terungkap secara tuntas, (2) kepastiannya bersifat mutlak, dan (2) tidak akan terjangkau sepenuhnya oleh nalar kita.

Sebagai penutup kita berharap kesimpulan di atas dapat membantu kita memahamai dua ayat berikut:

Al-Isra (17:88):

Katakanlah. “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) AlQur’an ini, merek tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”.

Al-Kahfi (18:109):

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalmat-kalimatTuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Wallahu’alam bimuraadih ….@

[1] Untuk rujukan dapat diakses, misalnya, http://www.masjidtucson.org/quran/miracle /simplefacts.html, juga http: //eholyquran.com/Quran/LinksPrime/Mathematical Miracles OfQuran.htm

[2] Mengenai inspirasi langsung dapat dirujuk posting sebelumnyaa https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/10/seri-uzair_on_puasa-al-quran-dan-ahli-kitab/

[3] Schuon, F. (1998), Understanding Islam, World Wisdom.

[4] 19 adalah angka prima (tidak memiliki pembagi) dan unik karena terdiri dari angka terkecil (=1) dan terbesar (=9), semacam alpha (=a) dan omega (=w) dari suatu abjad.

[5] Schuon, F. (2002), Transfigurasi Manusia: Refleksi Antrosophia Perennialis, Penerbit Qalam.

[6] Tabel ini dikembangkan dari artikel yang berjudul “Mathematical Miracles of Quran” dalam http://eholyquran.com/ Quran/ LinksPrime /MathematicalMiraclesOfQuran.htm

[7] Lihat http://eholyquran.com/Quran/LinksPrime/MathematicalMiraclesOfQuran.htm

[8] Istilah odds sangat teknis sehingga sulit dijelaskan secara singkat. Walaupun demikian, ia secara sederhana dapat diartikan sebagai perbadingan antara jumlah kasus random (=a) dengan jumlah kasus tidak random (=b). Ini berbeda dengan probabilita yang diperoleh dari a/(a+b).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s