Belum Siap Melepas Ramadhan


ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.