Gunung, Gua dan Hati


Jika kita mendengar cerita orang-orang dulu yang pergi untuk bersemadi atau bertapa ke gunung atau gua, maka sikap kita– karena latar belakang pendidikan modern dan arogansi intelektual– kemungkinan cenderung mencemoohkan. Sikap ini kurang elok karena alasan yang akan segera jelas.

Dikisahkan Rasul SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Dikisahkan pula Musa AS menerima wahyu Taurat di Gunung at-Thur. Gua dan gunung ini adalah fakta fisik-geografis; atinya, kita dapat memverifikasinya. Di luar fakta ini, keduanya tentu istimewa karena dipilih-Nya untuk menyampaikan wahyu yang menurut Guénon berarti “pengungkapan ilahiah atau supernatural kepada manusia mengenai sesuatu yang terkait dengan eksistensi manusia atau dunia”[1]. Dalam tafsirnya yang terkenal Jalalyan ketika mengartikan kata at-Thur (QS 52:1) “bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa”.

Di luar tradisi agama-agama samawi, gua maupun gunung secara historis dikenakan makna simbolis; keduanya merepresentasikan pusat spiritual.

Dalam Bahasa Sanskerta kata gua (guhā) berasal dari akar kata guh yang berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Kata itu seakar dengan kata gup; karenanya, istilah gupta digunakan untuk apa pun yang bersifat rahasia dan tidak tampak di permukaan.

Dalam Bahasa Latin kata itu sinonim dengan kata “crypt” yang  yang juga berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Ide dari kata-kata itu terkait dengan pusat, sejauh itu dilihat sebagai paling batini (inward) dan karenanya merupakan titik yang tersembunyi (hidden point).

Ide yang sama juga merujuk pada inisiasi (mistis) yang bersifat rahasia dalam kaitannya dengan peristiwa itu sendiri maupun dengan tempat di mana inisiasi itu berlangsung. Keduanya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan yang masih berjiwa duniawi (profane) .

Dalam artian simbolis, gua dilihat sebagai tempat yang terletak di bawah atau di dalam gunung sehingga keduanya saling melengkapi. Walaupun demikian, menurut Guénon (ibid), gunung secara simbolis lebih purba (primordial) dibandingkan gua.

Berbeda dengan gunung yang dapat terlihat secara kasat mata dari semua sisi, gua pada dasarnya tempat tersembunyi dan tertutup. Dari pengamatan ini Guénon (ibd) menyimpulkan bahwa representasi pusat spiritual dari gunung terkait dengan periode di mana “kebenaran seluruhnya dapat diakses oleh semua”; pada periode sesudahnya kebenaran itu hanya dapat diakses oleh segelintir kalangan elite. Untuk memperoleh gambaran agak lengkap mengenai pikiran Guénon (ibid), berikut ini disajikan ungkapannya secara langsung :

… that the mountain is more “primordial” in its significance than the cave: it is so in virtue of being outwardly visible, we might even say of being the most visible object from all sides, whereas the cave is, on the contrary, an essentially hidden and closed place. It can easily be deduced from this that the representation of the spiritual center by the mountain corresponds to the original period of earthly humanity, during which the truth was wholly accessible to all …; but when owing to the downward march of the cycle, this truth was no longer within the scope of more than a fairly restricted “élite” …. and had become hidden from the majority, the cave was a more fitting symbol of the spiritual center and therefore of the initiatic sanctuaries which are its images.

… gunung lebih “primordial” signifikansinya dari gua: demikianlah karena gunung secara lahiriah terlihat, kita bahkan mungkin mengatakan menjadi objek yang paling terlihat dari semua sisi, sedangkan gua adalah, sebaliknya, pada dasarnya tersembunyi dan tertutup. Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa representasi dari pusat spiritual oleh gunung sesuai dengan periode awal manusia di bumi ketika kebenaran sepenuhnya dapat diakses oleh semua; pada masa selanjutnya, karena siklus yang mengarah ke ke bawah, kebenaran ini tidak hanya dapat diakses hanya oleh kalangan “elite” yang cukup terbatas …. dan telah menjadi tersembunyi dari mayoritas, gua adalah simbol lebih pas dari pusat spiritual dan karenanya menggambarkan tempat inisiasi suci.

Ungkapan di atas tidak berarti gunung berubah atau pindah tempat; yang terjadi adalah “puncaknya” seolah-olah menyembunyikan diri ke bagian dalam. Bagi Guénon perubahan yang tampak terbalik ini (reversal) tidak berarti  “dunia lebih tinggi dan lebih lebih dalam” (higher and inner world) telah berubah; yang berubah adalah “dunia luar” (external world), demikian juga hubungan antara keduanya.

Oleh Guénon gunung diilustrasikan oleh segitiga yang mengarah ke atas, sementara gua segitiga lebih kecil yang mengarah ke bawah. Gambar 1 merujukkan hubungan “terbalik” sekaligus “saling melengkapi” antara keduanya.

Bagaimana agar segitiga yang di bawah dimasukkan ke dalam segitiga yang di atasnya sedemikian rupa sehingga menutupi yang pertama secara sempurna. Menurut Guénon (ibid), yang juga ahli matematika, caranya adalah dengan menarik satu garis tengah secara horizontal pada segitiga yang di atas dan menjadikan garis tengah itu sebagai “alas” bagi segitiga yang mengarah ke bawah. Hasilnya adalah “klop” dengan 4 segitiga: satu mengarah ke bawah, yang lainnya ke atas sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Guénon (ibid)  memaknai hasilnya ini sebagai simbol “Segel Sulaiman” (“Seal of Solomon”).

Guénon mengungkapkan bahwa segitiga terbalik juga melambangkan hati (heart) dan cawan (cup), khususnya dalam kaitannya dengan misteri Cawan Suci (Holy Grail). Selain itu dia mengungkapkan bahwa segitiga yang di bawah lebih kecil dibandingkan dengan yang di atas tetapi dalam kaitan ini kata kecil sekaligus bermakna besar, jauh lebih besar:

… in connection with the relationship between the cave and the heart, the text of the Upanishads where it is said that the Principle, which resides at “the center of the being”, is “smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a grain of mustard, smaller than a grain of millet, smaller than the seed that is in a grain of millet”, but also at the same time “larger than the earth, larger than the atmosphere (or the intermediary world), larger than the heavens, larger than all the worlds together”…

…. sehubungan dengan hubungan antara gua dan hati, teks Upanishad mengungkapkan bahwa Prinsip, yang berada di “pusat wujud”, “lebih kecil dari sebutir beras, lebih kecil dari sebutir gandum, lebih kecil dari sebutir mustar, lebih kecil dari sebutir jawawut, lebih kecil dari benih yang ada di sebutir jawawut “, tetapi juga di saat yang sama “lebih besar dari bumi, lebih besar dari atmosfer (atau dunia perantara), lebih besar dari langit, lebih besar dari semua dunia bersama-sama.

Terkait dengan kutipan di atas kita dapat menganalogikan makna “besar-kecil” dengan misteri hati seorang Mukmin yang sekalipun fisik kecil tetapi menurut satu Hadits qudsi dapat menampung Tuhan: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”

Masing-masing kita punya hati yang dimaksud oleh Hadits itu. Artinya, kita menyandang ruang sempit yang dapat menampung-Nya. Lokus ini yang dinasihatkan Rumi agar dikunjungi secara reguler. Wallahualam….@

[1] http://www.studiesincomparativereligion.com/Public/articles/The_Mountain_and_the_Cave-by_Rene_Guenon.aspx

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.