Al-Faqr: Kemiskinan Spiritual


Sumber Gambar: Geogle

Tidak ada manusia yang mampu mandiri dalam arti tidak butuh atau tergantung pada orang lain. Ketika masih janin ia butuh ruang rahim ibu, menjelang lahir butuh penolong persalinan, ketika bayi butuh ASI atau non-ASI, ketika kanak-kanak butuh mentor untuk belajar merangkak-berdiri-berjalan-lari, ketika remaja butuh pendidik, ketika berkarier butuh atasan-rekan-bawahan, ketika berbisnis butuh rekan-klien, ketika berkeluarga butuh tetangga, ketika membesarkan anak butuh pendamping, ketika jompo butuh penolong, ketika meninggal butuh orang lain untuk memandikan, mengafankan, membawa ke liang kubur dan menguburkan. Singkatnya, dalam seluruh siklus hidupnya– sejak janin sampai ajal– manusia butuh atau memiliki ketergantunga penuh pada pihak lain. Ini fakta yang tak-terbantahkan.

Istilah al-faqr merujuk pada kesadaran mengenai ketergantungan penuh yang dimaksud: “Wahai manusia! Kamu yang memerlukan (teks: antumul fuqoro, jamak dari faqir)  Allah, dan Dialah Yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha terpuji (QS 35:15)”.

Apa hebatnya istilah ini? Ceritanya dapat panjang tetapi pointers berikut diharapkan dapat membantu memahami istilah ini.

    • Nabi SAW bergelar “berbudi pekerti agung” dari Dia SWT (QS 68:1-4). Apakah Nabi SAW bangga dengan gelar luar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Sejak remaja Nabi SAW bergelar al-amien, orang yang dapat dipercaya. Beliau telat berangkat hijrah ke Madina antara lain, konon, karena merasa belum menyelesaikan soal titipan barang berharga para tajir dan pembesar kaum kuffar (artinya, orang yang benar-benar kafir) Quraisy: bahkan pihak yang paling memusuhi beliau “mempercayakan” barang berharga kepadanya. Apakah Nabi SAW bangga dengan gelar luar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Nabi SAW masyhur karena sifat pemaafnya. Beliau adalah orang pertama yang menjenguk seorang ibu yang sakit padahal ketika sehat dia sangat rajin meludahi wajah beliau yang agung itu. Ketika dilempari batu penduduk Thaif sehingga berdarah dan membuat Malaikat “marah” menawarkan untuk meluluh-lantahkan penduduk itu.  Apa respons beliau? Memohonkan ampunan bagi mereka. Apakah Nabi SAW bangga dengan sifat uar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Nabi SAW masyhur karena ungkapan rasa syukurnya. Sekalipun sudah dijamin ampunan oleh-Nya tetapi beliau rajin salat malam sampai kakinya bengkak. Kenapa? Sebagaimana diungakpkannya, semata-mata untuk menyatakan rasa syukur. Apakah Nabi SAW bangga dengan periku luar biasa ini. Beliau tidak mengungkapkannya.
    • Nabi SAW masyhur karena kerendahan hatinya. Dalam suatu kesempatan ia menceritakan kehebatan pada nabi-nabi sebelumnya. Karena tidak menceritakan dirinya sendiri para sahabat yang tengah menyimak bertanya: “Lalu apa kehebatanmu? Beliau hanya menjawab singkat? “Yatim”. (Beliau memang sudah yatim bahkan ketika belum dilahirkan dan sudah piatu ketika usia kanak-kanak.)

Lalu, adakah ciri beliau yang membuatnya bangga? Ternyata ada dan itu– mungkin di luar kebanyakan dugaan– al-faqr:

“Dalam bukunya “Sirr al-Asrar” al-Ghawth al-Azam Shaikh Abdul Qadir Jilani secara komprehensif…

“Nabi berkata: “Faqr adalah kebanggaanku dan sumber kehormatanku”. Di sini, Faqr tidak berarti kemiskinan sebagaimana biasa dipahami, melainkan Faqr spiritual; yakni, hanya bergantung pada Allah. Selain itu, itu berarti melepaskan setiap kesenangan dan kegembiraan dari dalam kecuali kesenangan kedekatan Ilahi… “” [Sumber: INI]:

Berani meneladani beliau?

Wallahualamu bimuradih….@

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.