Mahkamah Konstitusi dan Generasi Santri


Kita baru saja menyaksikan persidangan Mahkamah Konstitusi terkait dengan Sengketa Pemilihan Presiden 2019. Yang menarik, dalam persidangan ini sempat mengemuka kutipan dan bahkan bacaan ayat Al-Quran.

Beberapa teman yang sempat diajak diskusi meyakini kutipan-bacaan Kitab Suci mempengaruhi secara misterius proses persidangan dan penerimaan hasilnya. Wallahualam. Bagi penulis yang jelas kutipan ayat dilakukan oleh para pihak: oleh anggota majelis, pemohon (yang juga melafalkannya) dan pihak terkait. Ini mengindikasikan mereka akrab dengan Al-Quran, paling tidak yang terkait dengan persoalan hukum ketatanegaraan.

Sumber Gambar: Google

Pijakan Bersama

Proses persidangan yang berlangsung lancar dan hasilnya diterima secara positif. Ini dapat dipahami karena para pihak, bagaimanapun, menaruh perhatian pada “kepentingan yang lebih besar”, Persatuan Bangsa. Ini dikemukakan secara eksplisit bahkan oleh pihak yang perkaranya dikalahkan segera setelah hasil persidangan dibacakan. Sensibilitas mengenai kepentingan yang lebih besar inilah yang menjadi pijakan bersama (common ground, kalimatun sawa) bagi para pihak yang dapat meredakan syahwat menang sesaat.

Ada pijakan bersama lain sekalipun ini lebih tersirat. Pijakan yang dimaksud adalah kepercayaan bersama bahwa Al-Quran, sebagai rujukan proses pengambilan hukum, dapat diandalkan. Indikasinya, sebagaimana disinggung sebelumnya, kerapnya pengutipan ayat Al-Quran selama masa persidangan, khususnya pada prime-time; yakni, pada acara pembukaan dan penutupan sidang.

Soal Interpretasi

“Fakta bisa sama tetapi interpretasi bisa beda”. Itulah kira-kira moto MetroTV. Moto ini dapat diaplikasikan dalam kaitannya dengan Al-Quran: untuk ayat yang sama interpretasinya dapat memiliki spektrum interpretasi yang sangat luas. Ini khususnya berlaku bagi ayat-ayat yang terkait dengan masalah hukum, termasuk hukum ketatanegaraan. Ini menunjukkan bahwa menggunakan Al-Quran sebagai pijakan bersama belum memadai, perlu ada interpretasi.

Sebagai ilustrasi dapat diambil kasus dua negara Muslim besar yaitu Turki dan Iran. Yang pertama, Iran, melihat urusan kenegaraan di bawah kendali para ulama, political order based on velayat-e faqih  (guardianship of the legal scholar). Dalam ujung lain ada model Turki yang menganut sistem perwakilan parlementer demokrasi[1]. Dua-duanya mengklaim berbasis Al-Quran. Bagaimana dengan kasus Indonesia?

Ilustrasi ini menunjukkan adanya universalitas Islam, sekaligus pluralistis Muslim. Ilustrasi ini juga menunjukkan bahwa realisasi prinsip-prinsip Islam perlu mempertimbangkan konteks dan realitas sosial-budaya-kesejarahan setempat. Inilah makna interpretasi yang sangat-sangat manusiawi. Inilah “medan perang” para ahli ushul fikih: bagaimana berlaku adil terhadap teks suci dengan meletakannya dalam koteks sosial-budaya setempat.

Interpretasi teks suci merupakan keniscayaan; tanpa interpretasi (yang jujur) teks suci dapat menghasilkan keadaan yang tidak diinginkan. Inilah yang diingatkan oleh Keith Khan-Harris dalam salah satu tulisannya: “How should we read religious text“:

For almost the whole of their histories, Jews, Christians and Muslims have wrestled with the meanings of their scriptures, developing in the process elaborate hermeneutic and jurisprudential systems … Hard texts need interpreting; without it, they lead to violence. God has given us both the mandate and the responsibility to do just that.

Generasi Santri

Fakta bahwa banyak kampiun bidang hukum yang akrab Al-Quran sebagaimana ditunjukkan dalam Sidang MK kali ini menunjukkan adanya partisipasi kalangan santri di bidang ini. Fakta ini tentu memiliki sejarah sendiri yang mungkin dimulai di era Pak Harto justru ketika yang bersangkutan mencanangkan Pancasila sebagai satu-satunya Azas kebangsaan. Ketika itu salah salah seorang kiai sepuh NU konon menemui Pak Harto di istana untuk meminta kejelasan maksud Pak Harto yang sebenarnya. Hasilnya, adalah kesepahaman di antara keduanya. Kesepahaman ini pada gilirannya memupus kecurigaan pemerintah terhadap Islam. Dampaknya, lahirlah generasi santri yang semakin leluasa berpartisipasi dalam urusan publik sebagaimana ditunjukkan oleh para kampiun hukum di Mahkamah Konstitusi.

Bagaimana generasi ini menyikapi Al-Quran? Untuk menjawab ini tentu perlu kajian sendiri. Bagi penulis yang jelas ini. Jika para kampiun hukum ketatanegaraan diasumsikan mewarisi semangat (khitttah) para ulama sesepuh NU, maka prinsip nilai-nilai keislaman dalam semesta Indonesia akan dapat direalisasikan secara damai.

Ada dua argumen mengenai pernyataan terakhir ini. Pertama, tradisi NU sangat mengapresiasi budaya ketika menafsirkan teks-teks keagamaan (lihat saja Gus Dur). Sebagian bahkan menuduh terlalu jauh. Kedua, wawasan kenegaraan para sesepuh NU dikenal sangat inklusif, bahkan oleh sebagian dianggap terlalu inklusif. Tapi ini soal interpretasi.

Tugas Ulama

Konteks sosial selalu berubah. Ini berarti panggilan terus menerus bagi para ulama untuk menkonstruksi landasan hukum agar prinsip-prinsip moral quraniah dapat direalisasikan dalam dunia nyata berdasarkan bacaan konteks yang selalu berubah itu.  Metologinya jelas yaitu ijtihad yang berarti kerja keras dengan penuh tekad  serta berbasis kejujuran intelektual. Demikianlah penulis memaknai kata ijtihad hasil bacaan QS (29:69).

Kalau pembaca berpendapat lain maka itu kembali soal interpretasi yang sangat manusiawi.

Wallahualam….@

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi@gmail.com

[1] Tariq Ramadan’s Copernican Revolution (2011), Sage publication.

Advertisements

4 thoughts on “Mahkamah Konstitusi dan Generasi Santri

  1. Interpretasi AlQuran yang bebas kepentingan. Itu yang dibutuhkan. Mungkin tetap akan ada perbedaan, minimal masih mudah diambil titik temu dobanding yang didasarkan atas kepentingan kelompok.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.