Wording


Bagi Trump, executive order itu biasa. Yang luar biasa ia kali ini menggunakan jurus yang sama untuk urusan statistik yang sangat teknis, wording pada Kuesioner Sensus Penduduk 2020 (SP2020) terkait dengan pertanyaan mengenai kewarganegaraan. Ini mungkin historis dalam arti dapat memulai tradisi baru dalam sensus penduduk yang pada hakikatnya bertujuan menghitung setiap orang sekali, dan hanya sekali, di tempat yang tepat. Dalam SP2020 AS narasinya begini:

The goal of the 2020 Census is to count everyone once, only once, and in the right place.

(Garis bawah tambahan penulis)

Terkait dengan pertanyaan kewarganegaraan, pertanyaan normal dalam kuesioner sensus penduduk kira-kira begini ini: “Apakah kewarganegaraan (Nama)?”

(Ketika mengajukan pertanyaan ini pencacah diinstruksikan untuk menyebutkan nama dari anggota rumah tangga yang bersangkutan.)

Yang dimaui Trump kira-kira begini: “Apakah (Nama) warga negara Amerika Serikat?”

Dua pertanyaan ini sepintas lalu sama saja. Tapi hasilnya dapat sangat berbeda: wording matters dalam kuesioner survei maupun sensus penduduk. Dan ini agaknya disadari oleh Trump. (Ini “hebatnya” Trump”: mungkin ia satu-satunya kepala negara yang care mengenai kuesioner sensus.)

Kira-kira apa maunya Trump? Mudah diduga: wording pertanyaan modelnya akan menghasilkan angka warga negara AS yang under count–atau– angka imigran relatively over count. (Ini 100% benar.) Tapi apa untungnya bagi Trump? Juga mudah diduga: angka sensus akan menjustifikasi kebijaksanaan “keras” dalam urusan keimigrasian. Lebih dari itu, angka imigrasi yang diperoleh dengan cara itu akan dijadikan alat statistik bagi Trump untuk menuding negara-negara bagian yang biru “kantong” migran; artinya, yang didominasi Partai Demokrat yang relatif “ramah” imigran.

Itulah persisnya kenapa “musuh” Trump atau para profesional sensus di AS keberatan, atau bahkan menentang saran Trump. (Menentang presidential executive order?) Urusan ini agaknya belum tuntas. Motifnya dapat beda: musuhnya takut hasil sensus merugikan partainya, preofesional membebaskan diri dari “api neraka” kericuhan politik.

Sumber Gambar: Google

So, seperti saran Obama, jangan anggap remah Trump!

Bagaimana dengan model pertanyaan normal? Itulah model “dingin” profesi statistik. Model ini tidak mengarahkan jawaban responden sehingga hasilnya obyektif; juga dapat menghindari “campur tangan” politik. Paling tidak demikianlah kata orang statistik.

Bagaimana dengan Indonesia yang juga siap (?) menyelenggarakan SP2020 sebagaimana negara lain sesuai denngan rekomendasi PBB? Penulis tidak tahu tetapi harapannya sih masih dingin sebagaimana sensus-sensus sebelumnya sejak 1930… @

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.