Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS


Setiap Jumat pagi HP penulis mengingatkan agar tidak lupa baca Surat Al-Kahfi (QS 18). Penulis tidak sepenuhnya memahami reasoning atau dalil keagamaan dari peringatan ini. Yang penulis sedikit paham, Surat ini berbicara mengenai tiga macam fitnah atau ujian hidup. Melalui tulisan singkat ini penulis ingin berbagai sedikit pemahamannya mengenai topik ini.

Fitnah kelebihan

Fitnah atau ujian hidup yang secara umum dipahami berbentuk ke-serba-kekurangan: kekurangan harta, kekurangan kekuasaan, kekurangan ilmu, atau kekurangan lainnya. Surat al-Kahfi mengingatkan ada cobaan lain yang berbentuk ke-serba-kelebihan. Surat ini juga menegaskan bahwa bentuk cobaan yang kedua ini tidak kalah beratnya dari yang pertama:

Ayat 22-43: kasus gagal ujian orang yang kelebihan harta; sebab kegagalan: sombong dan tidak-pandai-bersyukur. Kasusnya diwakili petani korma dan anggur di atas lahan luas dengan sumber air melimpah.

Ayat 83-94: kasus lulus ujian kelebihan kekuasaan; sebab kelulusan: rendah hati dan proporsional dalam penggunaan kekuasaan. Kasusnya diilustrasikan oleh Zulkarnain yang konon jendral paling hebat sepanjang sejarah.

Bagaimana dengan kasus kelebihan ilmu? Kasus ini diilustrasikan kisah Nabi Musa AS yang berguru kepada Nabi Khidir AS.

Nabi Khidir AS

Menurut riwayat, Nabi Musa AS diperintahkan berguru kepada Nabi Khidir karena “salah ucap” dengan mengatakan dirinya paling pintar. Nabi Musa AS ini pasti pintar karena semua nabi supra-pintar. Tetapi mengucapkan diri paling pintar mencerminkan ketinggian hati. Ucapan ini jelas tidak elok, apalagi bagi seorang nabi.

Tetapi siapa Nabi Khidir AS? Banyak spekulasi mengenai sosok ini. Yang jelas jika beliau seorang nabi maka itu di luar 25 nabi yang namanya tercantum dalam Al-Quran.

Ada spekulasi lain. Kata Khidir berasal dari kata hadhara yang artinya kira-kira menghijaukan. Jika ini diterapkan pada sifat seseorang maka orang itu memiliki kemampuan untuk menghijaukan dalam arti mencerahkan pikiran banyak orang. Sifat ini dapat dimiliki oleh banyak orang, di setiap zaman, di mana pun. Jelasnya, Khidir dalam pengertian ini  bukan merujuk pada seorang individu tertentu.

Analisis bahasa ini sesuai dengan kepercayaan umum bahwa Nabi Khidir sampai sekarang masih hidup (yang bagi kebanyakan tentu tidak sesuai dengan fitrah seorang manusia). Bacaan penulis terhadap Tafsir Al-Azhar Juz 15 mengesankan bahwa Buya Hamka cenderung pada pendapat ini.

Seperti disinggung sebelumnya, nama Khidir tidak tercantum dalam Al-Quran. Dalam kaitannya sebagai “guru” Nabi Musa AS, Al-Quran menyebutnya sebagai “seorang hamba dari hamba-hamba-Kami” (QS 18:65). [Jadi jangan anggap remeh gelar “hamba” yang mungkin terkesan kurang gereget.]

Ujian Luar Biasa

Oleh gurunya Nabi Musa AS sejak awal diingatkan bahwa beliau akan gagal ujian QS (18:67). Peringatan terbukti sebagaimana akan kita lihat.

musa

Sumber gambar: Geogle

Ujian yang diberikan sang guru sebenarnya sederhana: sabar untuk tidak bertanya atau berkomentar mengenai apa pun yang dilakukan sang guru sebelum dijelaskan. Nabi Musa AS berikrar menyanggupi syarat ini (QS 18:69) yang ternyata gagal, bukan sekali, tetapi sampai tiga kali. Dalam kegagalan pertama sang guru mengingatkan:

Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (QS 18:72)

Peringatan yang sama dikatakan sang guru untuk pelanggaran kedua (ayat ke-75).

Menyadari kegagalan ini Nabi Musa AS menyatakan diri akan berhenti berguru jika melakukan kegagalan ketiga kalinya yang ternyata dialaminya. Akibatnya, ia “dipecat” sebagai “murid”:

Ayat 76: Dan (Musa) berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku”.

Ayat 78: Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau, aku akan memberikan kejelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

Tiga Macam Ujian

Musa AS disuguhi  tiga macam yang semuanya luar biasa. Ujian pertama adalah menyaksikan ulah sang guru melubangi perahu yang ditumpangi mereka (ayat 71). Ulah guru ini jelas tidak masuk akal sehingga wajar jika Nabi Musa AS gagal menghadapinya tanpa berta nya.

Ujian kedua berupa tindakan sang guru membunuh seorang anak yang mereka temui (ayat 74). Tindakan ini jelas “kelewatan”  dalam ukuran normal sehingga Nabi Musa AS gagal lagi.

Ujian ketiga berupa tindakan sang guru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh di suatu kampung yang para penghuninya menolak memberikan makanan sekadarnya:

Ayat 77: Maka keduanya berjalan hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu”.

Kalimat terakhir ayat ini adalah bentuk pelanggaran ketiga yang menyebabkan Nabi Musa AS dipecat sebagai “murid”.

Hikmah dati tindakan Khidir

Sesuai janji, sang guru menceritakan alasan tindakannya.

Ayat 79: Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka seorang raja yang akan merampok setiap perahu.

Ayat 80: Dan adapun  anak muda (kafir) itu, kedua orang-tuanya mukmin, dan kami khawatir dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.

Ayat 81: Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

Ayat 82: Dan adapun rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri, itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.

Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa tindakan sang guru, bukan dilakukan karena kemauan sendiri, melainkan perintah “Rabb-mu”.

Dua Hikmah

Demikian kisah Nabi Musa AS dan Nabi Hidir AS. Kisah-kisah dalam Al-Quran jelas bukan dongeng  (fairytale) sekadar untuk hiburan, melainkan sarana pengajaran moral-spiritual yang perlu digali hikmahnya, khususnya oleh mereka diberi kelebihan ilmu.

Hemat penulis, hikmah itu paling tidak ada dua. Pertama, fitnah atau cobaan hidup tidak hanya berbentuk serba-kekurangan tetapi juga serba-kelebihan. Dari tiga kasus yang dikemukakan, dua di antarnya berisi kegagalan. Jika hal ini dapat digeneralisasi maka dapat dikatakan bahwa peluang kegagalan karena kelebihan hanya sepertiga. Peluang lulus ujian bagi penguasa lebih besar ketimbang peluang lulus bagi hartawan maupun ilmuwan. Ini mungkin peringatan keras bagi hartawan dan ilmuwan; sekaligus kabar baik bagi penguasa atau pejabat publik. Kelompok ini berpeluang paling besar untuk– dalam bahasa Obama di tengah mahasiswa Al-Azhar– melayani masyarakat yang berarti pula tiket untuk menjadi “manusia terbaik” yang menurut Hadits didefinsikan sebagai orang “yang paling bermanfaat bagi sesama”.

Kedua, fitnah dapat berbentuk kecenderungan untuk overestimate atau menilai diri lebih dari yang sebenarnya atau megalomania dalam istilah psikologi; juga, kepicikan-diri yang cenderung underestimate mengenai ilmu Tuhan SWT yang luasnya tak-terbatas.

Wallahualam…@

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.