Postur Penduduk Indonesia


Postur penduduk dibentuk oleh susunan penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin yang dimulai dari kelompok paling muda  (=P(0-5)) sebagai alas, diikuti P(5-10), P(10-15), dan seterusnya[1]. Hasilnya semacam piramida dengan alas yang lebar dan terus memendek (mengerucut) sejalan dengan bertambahnya usia. Itu gambaran piramida yang sempurna yang tidak selalu atau bahkan jarang ditemui dalam susunan penduduk sebenarnya karena adanya dinamika penduduk akibat faktor alamiah (kelahiran dan kematian) maupun non-alamiah (migrasi).

Postur penduduk dalam sajian piramida menarik untuk dipelajari karena mudah dibaca selain karena mengindikasikan banyak hal antara lain: (1) sejarah kelahiran masa lalu dan perkiraannya ke depan, (2) besaran pasokan tenaga kerja masa kini dan perkiraannya di masa depan, dan (3) besaran wanita usia subur (WUS) yang menentukan “penciptaan generasi baru” untuk masa kini dan perkiraannya ke depan. Selain itu, postur penduduk, sampai taraf tertentu, dapat membedakan kemajuan ekonomi suatu negara. Demikian karena negara maju dapat dikenali dari tingginya proporsi usia tua, sementara negara-negara berkembang dari tingginya proporsi usia muda.

Tulisan ini memotret postur penduduk Indonesia pada tahun-tahun 1950, 2000, 2050 dan 2100 berdasarkan data PBB. Dua tahun pertama didasarkan pada proyeksi standar[2], sisanya pada proyeksi probabilitas[3].

Postur 1950

Pada tahun 1950 RI belum memiliki data sensus penduduk (SP) sehingga postur penduduk hanya dapat diperkirakan secara kasar berdasarkan sumber data yang terserak. Sumber data lain seperti catatan administrasi dan registrasi dengan kualitas yang dapat diandalkan mampir dapat dipastikan tidak tersedia. Implikasinya, postur 1950 perlu dilihat sebagai perkiraan kasar tanpa mengurangi maknanya serta apresiasi kepada PBB.

Menurut perkiraan PBB, total penduduk Indonesia 1950 sekitar 69,5 juta atau sekitar 2.7% dari total penduduk global. Posturnya disajikan pada Paramida 1.

Piramida 1: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 1950.

Piramida 1 menunjukkan antara lain:

  • Postur penduduk sangat kokoh dalam arti memiliki alas yang sangat lebar untuk mendukung batang bangunan di atasnya yang semakin pendek.
  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) mendominasi penduduk. Di lain pihak, penduduk usia lanjut (warna paling gelap) memainkan peran yang sangat kecil dalam membangun piramida itu.
  • Lebar alas piramida, P(0-5)[4], mengindikasikan besarnya peristiwa kelahiran dalam 5 tahun[5] terakhir. Dalam kaitannya dengan indikator kelahiran, lebar alas itu tentu bersifat indikatif karena sebagian dari penduduk kelahiran 5 tahun terakhir sudah meninggal sehingga tidak terdata sebagai penduduk.
  • Lebarnya alas piramida juga mengisyaratkan besarnya tekanan 15 tahun mendatang terhadap pasar kerja, juga terhadap tambahan pasokan wanita usia subur (WUS).

Dengan  postur semacam itu penduduk Indonesia 1950 tergolong masih sangat muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) hampir 40% (tepatnya 39%) sementara proporsi P(65+) baru 4%.

Postur 2000

Bagaimana postur 2000? Yang jelas, pada tahun itu RI telah diperkaya dengan lima 5 set data data SP: 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000 sehingga gambaran postur penduduknya meyakinkan.

Piramida 2 menyajikan postur 2000 yang mengungkapkan antara lain:

  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) masih mendominasi bangunan piramida.
  • Kelompok usia lanjut (berwarna paling gelap) sudah bertambah dibandingkan dengan keadaan 50 tahun sebelumnya 1950 tetapi masih relatif kecil.
  • Berbeda dengan postur 1950, postur piramida kurang kokoh dalam arti alasnya harus menunjang tiga kelompok umur di atasnya yang lebih besar. Pertambahan lebar empat batang pertama dalam piramida mengindikasikan penurunan angka fertilitas yang terus menerus selama 20 tahun terakhir (1980-2000).

Pertambahan lebar empat batang pertama piramida mengindikasikan penurunan terus menerus angka fertilitas 20 tahun terakhir.

Piramida 2: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2000.

Postur penduduk Indonesia 2000 masih tergolong muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) masih 31% sementara proporsi penduduk tua (65+) baru 5%. Sisanya, 64% adalah penduduk usia produktif dan usia reproduktif (bagi wanita)

Postur 2050

Seperti disinggung sebelumnya, postur 2050 dan 2100 didasarkan pada hasil proyeksi probabilitas yang tentunya mempertimbangkan berbagai faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Postur 2050 diungkapkan oleh Piramida 3 yang mengisyaratkan berlanjutnya penurunan angka fertilitas[6] dan proses penuaan penduduk. Postur penduduk sudah mulai tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 19%, proporsi P(65+) 16%. Walaupun demikian, usia produktif (P(15-64) masih mayoritas (66%).

Piramida 3: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2050.

 

Postur 2100

Seperti postur 2050, postur 2100 juga didasarkan model proyeksi probabilitas. Selain itu, rentang interval proyeksi 2100 jauh lebih yang luas dari rentang proyeksi 2050. Ini berarti tingkat akurasi postur 2100 jauh lebih rendah dari pada tingkat akurasi 2050. Tetapi semua ini tidak mengurangi makna bagi perencanaan pembangunan jangka panjang. Selain itu, sumber PBB ini mungkin salah satu sumber informasi utama yang dapat diandalkan mengenai megatrend penduduk global.

Postur 2100 disajikan pada Piramida 4. Seperti ditunjukkan oleh piramida itu  postur penduduk Indonesia 2050 sudah semakin tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 15%, proporsi P(65+) 24%. Ini berarti proporsi usia produktif masih dominan, 61%. Hal ini tentu menguntungkan dari sisi ekonomi sebagaimana diilustrasikan secara dalam bagian akhir tulisan ini.

Piramida 4: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2100.

Belum Terlalu Tua

Seperti disinggung sebelumnya, postur penduduk Indonesia 2050 terlihat dari relatif besarnya proporsi P(65) yaitu 19% dan relatif kecilnya proporsi P(0-15) yaitu yaitu 16%. Dari dua angka proporsi ini dapat dihitung rasio ketergantungan lanjut usia [=P(65+)/P(15-64)] dan hasilnya adalah 25%. Rasio ketergantungan ini yang lazim digunakan sebagai ukuran “ketuaan” suatu populasi: semakin tinggi rasio, semakin tua.

Dengan rasio ketergantungan lanjut usia 25% penduduk Indonesia 2050 dapat dikatakan sudah tua. Tapi seberapa tua? Yang jelas, angka itu  sebenarnya lebih rendah dari angka-angka untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat (USA), Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang seperti yang ditunjukkan oleh Grafik 1. Grafik itu menyajikan angka rasio ketergantungan lanjut usia beberapa negara maju 2020 dan Indonesia 2050. Apa yang terlihat dari grafik itu sangat jelas: penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum terlalu tua, belum setua negara-negara maju tahun 2020.

… penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum setua penduduk negara-negara maju tahun 2020.

Grafik 1: Rasio Ketergantungan Usia Lanjut (%)

Paradoks Pembangunan

Tingginya rasio ketergantungan lanjut usia menunjukkan rendahnya barisan usia produktif. Ini berarti pula rendahnya barisan penduduk yang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif yang pada gilirannya menyulitkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini agaknya paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

…. paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

Wallahualam…@

[1] Dalam tradisi demografi, pencatatan umur dibulatkan ke bawah. Penduduk berumur 11 tahun, misalnya, mencakup yang berumur 11 tahun 11 bulan. Penulisan P(0-5) perlu dibaca sebagai penduduk “dari 0 sampai 5”, bukan ” dari 0 sampai dengan 5″ karena 5 tidak dicakup. Analog, P(5-10) tidak mencakup penduduk umur 10.

[2] https://population.un.org/wpp/Download/Standard/Population/

[3] https://population.un.org/wpp/Download/Probabilistic/Population/. Lihat juga Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/28/total-penduduk-indonesia-masa-depan/

[4] Lihat catatan kaki 1.

[5] Tepatnya, 4.99…<5 tahun. Lihat catatan kaki 1

[6] Postur penduduk lebih ditentukan oleh angka fertilitas dari pada oleh mortalitas

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.