Banjir, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia


Warga Jabodetabek dan sekitar kali ini memperoleh “hadiah” tahun baru yang luar biasa: kepungan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Singkatnya, bencana. Kepada para korban kita turut prihatin, berempati serta dituntut untuk membantu meringankan beban kesulitan mereka: para korban perlu diyakinkan bahwa negara “hadir” dan solidaritas sosial di antara warga bangsa masih kental[1].

Bencana alam seperti banjir terkait dengan faktor cuaca yang sebagian di luar kendali manusia: “Cuaca di bumi juga dipengaruhi oleh hal-hal lain yang terjadi di angkasa, di antaranya adanya angin matahari atau disebut juga star’s corona[2]. Oleh karena itu, untuk menyikapinya, selain wajib melakukan segala upaya manusiawi untuk mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim dan cuaca[3], sikap pasrah untuk menerima takdir-Nya adalah suatu sikap sehat dan terpuji, paling tidak dari sisi agama.

Banjir kali ini dilaporkan tidak hanya melanda kawasan ‘langganan” banjir musiman, tetapi juga beberapa wilayah yang sebelumnya ‘bebas” banjir. Kasus banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Lebak dilaporkan baru pertama kali terjadi. Laporan semacam ini mendukung dugaan bahwa bencana kali ini terkait dengan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang bersifat global.

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Terkait dengan perubahan iklim global ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, kesadaran penduduk mengenai seriusnya isu itu semakin meningkat (Grafik1).

Grafik 1: Persentase Responden yang Menganggap Perubahan Iklim sebagai Ancaman Utama Negaranya

Sumber: INI

Kabar buruknya, tingkat kerusakan ekologis yang diakibatkan sudah sedemikian parah sehingga tindakan jamaah warga planet bumi bukan pilihan tetapi keharusan serta tidak dapat ditunda[4]. Urgensi masalahnya diabadikan dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet.

Ulah Manusia

Selain faktor alamiah yang di luar kendali, faktor ulah manusia juga berpengaruh terhadap bencana atau kerusakan alam. Bukti ilmiah mengenai hal itu boleh dikatakan melimpah. Dengan kata lain, dalil aklinya meyakinkan. Demikian juga dalil naqlinya, dalil berbasis Quran atau Sunah. Sebagai ilustrasi, QS(30:41) menunjuk langsung hidung manusia sebagai pelaku kerusakan “di darat dan di laut”:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41)

Ada dua catatan menarik dari ayat ini. Pertama, ayat itu diturunkan lebih dari satu milenium lalu ketika manusia belum mengenal teknologi “perusak” alam dalam skala yang kita kenal sekarang. Kedua, ayat itu memastikan pelaku kerusakan merasakan akibat sebagian perlakukannya terhadap alam.

Selain itu ada ayat lain yaitu QS (2:9-11) yang menengarai “perusak bumi” sebagai ciri orang-orang munafik:

dan di antara manusia ada yang berkata “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman (ayat ke-8).

Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), Janganlah berbuat kerusakan di bumi“. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan” (ayat ke-11).

Ingatlah sesungguhnya merekalah orang yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari” (ayat ke-12)

Ada kesan ayat ini ditujukan pada para perencana dan pelaku pembangunan fisik (katakanlah atas nama pertumbuhan ekonomi) yang tidak memiliki visi pembangunan berkelanjutan.

Wallahualam…@

[1] Kentalnya solidaritas ini terungkap dari pemberitaan media masa terkait penanganan korban bencana di sekitar Jakarta. Hal serupa (kalau tidak lebih mengesankan) terkait upaya bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir bandang di sebagian wilayah Lebak yang medannya dilaporkan sangat sulit dijangkau. Informasi mengenai yang terakhir diperoleh dari lapangan langsung melalui beberapa pegiat kemanusiaan yang kebetulan masih keluarga dekat penulis.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca

[3] Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang sangat luas dalam periode waktu yang sangat lama (11-30 tahun) yang disebabkan oleh letak geografis dan topografi suatu wilayah yang mempengaruhi posisi matahari terhadap daerah di bumi. Lihat https://www.padamu.net/pengertian-cuaca-dan-iklim-dan-perbedaannya

[4] Posting mengenai perubahan iklim dapat diakses di sini https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.