Air: Apa Kata Al-Quran?


Kita sebagai makhluk hidup ditakdirkan memiliki ketergantungan terhadap air[1]. Kita butuh air karena 60-70% berat tubuh kita berupa air. Demikian vitalnya fungsi air bagi tubuh sehingga kekurangannya akan memaksa tubuh secara otomatis mengambil sumber cairan lain dalam tubuh yaitu darah. Akibatnya darah mengental dan ini mengganggu fungsi darah mendistribusikan oksigen dan sari makanan ke seluruh bagian tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air itu maka kita perlu minum. Masalahnya, karena minum merupakan urusan sehari-hari, kita cenderung bersikap tidak peduli terhadap sumber air yang minum kita sehari-hari, suatu sikap yang kurang elok (QS 56: 68-70):

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkan dari awan atau Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Kutipan di atas, dalam bentuk narasi restrospektif, mengilustrasikan gaya khas Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Dia SWT dan ketergantungan kita secara mutlak kepada-Nya. Gaya ini khas dalam arti– mungkin berbeda dengan gaya Kitab-Kitab suci lain– menggunakan contoh kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diverifikasi (verifiable), bukan melalui penjelasan filosofis-abstrak atau cerita mengenai entitas atau peristiwa luar biasa yang adi manusiawi.

Yang menarik untuk dicatat, kata air (Arab: ٱلْمَآءَ), sangat sering disebutkan dalam Al-Quran selain yang dikutip di atas. Catatan penulis paling tidak ada ada 20-an ayat yang menyebutkan secara eksplisit kata air, tiga di antaranya adalah sebagai berikut:

  • “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha Mengetahui” (QS 22:63).
  • Tidakkah engkau melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya[2] (QS 35:27).
  • Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS 39:21).

Kutipan di atas menegaskan paling tidak dua hal. Pertama, air sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Sains dapat menjelaskan hal ini secara gamblang dan tak-terbantahkan. Kedua, air itu diturunkan-Nya (Arab: anzala) dari langit. Jadi, subyeknya jelas: Dia SWT.

Dengan iptek manusia dapat mengupayakan hujan buatan yang untuk keperluan jangka pendek, upaya yang dapat memberikan manfaat kepada manusia tetapi pasti dalam skala terbatas. Iptek mustahil dapat menggantikan fungsi matahari menguapkan air laut untuk membentuk awan dan mendistribusikannya secara alamiah pada tataran global. Selain itu perlu dicatat bahwa hujan buatan juga membawa dampak negatif yang merugikan antara lain dalam bentuk hujan asam dan pencemaran tanah[3].

Singkat kata, kita butuh air dan untuk memperolehnya kita perlu “campur tangan” langit. Dalam kontkes ini layak disisipkan di sini penuturan Lings[4] yang kaya makna terkait dengan simbolisme air:

In the Qoran the ideas of Mercy and water—in particular, rain—are in a sense inseparable. With them must be included the idea of Revelation, tanzīl, which means literally “a sending down.” The Revelation and the rain are both “sent down” by the All-Merciful, and both are described throughout the Qoran as “mercy,” and both are spoken of as “life-giving.” … rain might even be said to be an integral part of the Revelation which it prolongs, as it were, in order that by penetrating the material world the Divine Mercy may reach the uttermost confines of creation; and to perform the rite of ablution is to identify oneself, in the world of matter, with this wave of Mercy, and to return with it as it ebbs back towards the Principle, for purification is a return to our origins. Nor is Islam—literally “submission”—other than non-resistance to the pull of the current of this ebbing wave.

Dalam Al-Quran, gagasan tentang Rahmat dan air — khususnya hujan — dalam arti tertentu tidak dapat dipisahkan. Bersama mereka harus dimasukkan gagasan Wahyu, tanzil, yang secara literal berarti “mengirim turun.” Wahyu dan hujan keduanya “diturunkan” oleh Yang Maha Penyayang, dan keduanya digambarkan di seluruh Alquran sebagai “rahmat,” dan keduanya disebut sebagai “pemberian hidup.” … hujan bahkan dapat dikatakan sebagai bagian integral atau kelanjutan dari Wahyu yang … seolah-olah menembus dunia material, Rahmat Ilahi dapat mencapai batas-batas penciptaan yang paling tinggi; dan melaksanakan ritual wudu berarti mengidentifikasi diri sendiri, di dunia materi, dengan gelombang rahmat ini, dan untuk kembali bersamanya ketika ia kembali ke Prinsip, karena pemurnian adalah kembalinya ke asal usul kita. Islam yang secara literal “tunduk” tidak bearti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali-ke-asal.

Kutipan di atas mengaitkan air dengan rahmat karena keduanya sama-sama menggunakan kata tanzīl atau anzala. Jelasnya, kata ini dalam Al-Quran hampir semuanya digunakan untuk merujuk kepada rahmat dalam pengertian luas termasuk kitab, quran, ayat, tempat yang diberkati, dan ketenangan yang “diturunkan” ke dalam hati seseorang atau sekelompok orang. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk antara lain QS (48:18).

Islam yang secara literal berarti “tunduk” tidak berarti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali ke asal-usul kita.

Walalhualam…@

[1] Istilah “bumi yang hijau” menarik untuk dicatat karena setara dengan istilah ilmiah “blue planet” yang digunakan berdasarkan fakta ilmiah bahwa sekitar 72% permukaan bumi tertutup oleh air[1]. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Air

[2] Terkait dengan aneka jenis buah-buahan penulis teringat cerita seorang teman warga Jerman keturunan Argentina yang ingin ke Indonesia. Ketika ditanya apakah bermaksud mengunjungi Bali atau Candi Borobudur ia mengiyakan tetapi yang utama adalah ingin banyak menikmati buah manggis yang katanya tidak tumbuh di kawasan Amerika Latin.

[3] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/hujan-buatan

[4] Martin Lings “The Qoranic Symbolism of Water”, Studies in Comparative Religion, Vol. 2, No. 3. (Summer, 1968) © World Wisdom, Inc.www.studiesincomparativereligion.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.