Pandemi Covid-19: Merenungi Beberapa Hikmahnya


Kasus Covid-19, tepatnya kasus yang dilaporkan (reported cases), masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Di beberapa negara Amerika Latin kasusnya bahkan meroket; artinya, berganda dalam hitungan hari; di Italia angkanya telah melampaui kasus China. Kasus yang meninggal di beberapa negara  juga meningkat pesat: di Spanyol kasusnya telah melampaui angka psikologis, 10,000; di Amerika Serikat berganda dalam dua hari.

Kasus Covid-19 tak pelak telah menyengsarakan kehidupan luas bagi masyarakat global, entah sampai kapan. Kesengsaraan ini dalam bahasa agama dapat dikatakan sebagai bala atau cobaan (mushibah) (Inggris: pain and calamity, trial) bagi kemanusian secara kolektif.  Dalam perspektif Al-Quran, bala adalah peristiwa alamiah yang terjadi karena kehendak Tuhan YME atau Rabb SWT. Yang perlu dicatat, kehendak-Nya bukan tanpa maksud karena semua kehendak-Nya pasti berlaku dan bertujuan. Dengan kata lain, bala dan cobaan ini, bagi orang yang beragama, pasti mengandung hikmah atau pembelajaran.

Tulisan ini adalah undangan untuk merenungi beberapa hikmah yang dimaksud. Sebelumnya, berikut disajikan catatan singkat mengenai konteks primordial dari isu ini.

Konteks Primordial

Pertanyaan mendasar bagi kita adalah kenapa bala atau cobaan bisa menimpa umat manusia sedemikian masif. Jawabannya wallahualam. Argumennya dapat ditelusuri dari kisah penciptaan manusia (QS 2:30):

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Aku hendak menjadi khalifah (baca: manusia) di muka bumi””.

Secara spontan para malaikat memberikan reaksi:

“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Reaksi para malaikat itu tentu tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan kebijaksanaan-Nya. Mereka terlalu suci untuk itu. Para malaikat sekadar mengungkapkan rasa ingin tahu serta berharap sedikit penjelasan atau rasional di balik rencana-Nya itu. Yang penting untuk konteks tulisan ini adalah jawaban singkat dan tegas dari Rabb SWT:

“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Paling tidak ada dua pelajaran yang dapat kita simak dari dialog singkat ini. Pertama, Rabb SWT tidak mengungkapkan rasionalitas penciptaan manusia kepada malaikat (apalagi kepada manusia), walaupun di ayat lain, tujuannya ditegaskan untuk menghambakan-diri kepada-Nya (QS 51:56). Kehambaan inilah alasan keberadaan kita di bumi ini. Kedua, manusia memiliki potensi atau kapasitas untuk membuat kerusakan di muka bumi ini, bahkan untuk saling-membunuh. Hemat penulis, fungsi ajaran semua agama diarahkan untuk “menjinakkan” potensi destruktif ini.

Hikmah Pandemi Covid-19

Tema hikmah dari pandemi Covid-19 sempat disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi, seorang cendekiawan Muslim Amerika Serikat, dalam suatu khotbah Jumat yang diselenggarakan dalam akhir Maret ini dan sangat sepi jamaah. Menurut Yasir, paling tidak ada empat hikmah yang dimaksud:

(1) Untuk mendemonstrasikan rububiyyah-Nya

Menurut pengamatan Yasir, dalam sejarah umat manusia baru di zaman kita sikap memposisikan diri sebagai Tuhan sudah sedemikian masal. Karakteristiknya antara lain sikap tinggi hati (takabbur) dan merasa tidak perlu yang lain (alghaniyyu). Sikap ini bagi Yasir merampok hak eksklusif-Nya sebagai Rabb SWT, pencipta, pengendali dan pemelihara alam raya.

Referensi: QS (3:181).

(2) Untuk menyadarkan posisi kehambaan manusia

Bagi Yasir, baru di zaman kita ini manusia secara masif melupakan karakter dirinya sebagai hamba Rabb SWT. Indikasinya, bagi mayoritas kita sikap rendah hati (tawadhu’) dan merasa miskin di hadapan-Nya (faqir) semakin langka. Dalam bahasa agama (Islam) ini berarti mengingkari perjanjian-purba kita dengan-Nya di zaman azali, di hari alastu.

Referensi: QS (51:56, 7:55, 3:181, 7:172).

(3) Untuk merestorasi religiusitas kita

Bagi Yasir, religiusitas atau perasaan, sikap dan praktik keagamaan kita secara kolektif makin memburuk. Indikasinya, fahsya atau perbuatan buruk yang dilakukan semakin terbuka dan semakin masif. Yang perlu dicatat, korbannya fahsya (di dunia ini) melanda semua pihak, tidak hanya pelaku atau yang terlibat.

Bagi Yaser, meluasnya fahsya sejalan dengan semakin meluasnya gaya dan filsafat hidup hedonisme, rakus, konsumtif dan bermewah-mewah. Di sisi lain, kita menyaksikan dekadensi akhlak dan kelemahan karakter semakin melanda semua kalangan. Cirinya antara lain menganggap enteng ajaran moral agama, serta miskin-sabar ketika menghadapi kesulitan.

Referensi: QS (6:32, 57:20, 47:31).

(4) Sebagai teguran keras terhadap sikap nafsi-nafsi kita

Bagi Yasir, mayoritas kita sekarang ini sudah semakin tidak peduli kepada orang lain (nafsi-nafsi, selfness). Baginya, malapetaka ini merupakan teguran keras untuk meninggalkan sikap itu serta untuk semakin peduli kepada g orang lain, dengan pengorbanan jiwa jika perlu. Kesiapan pengorbanan jiwa sudah banyak dicontohkan oleh para petugas medis.

Referensi: QS (2:3, 69:34).

Peringatan ini tampaknya efektif, Insyaallah. Terkait wabah ini akhir-akhir ini kita menyaksikan semangat saling-berbagi muncul di mana-mana: Klub Sepakbola Raksasa Roma membagikan bingkisan bagi para pendukungnya, sepasang keluarga di Inggris menyiapkan makanan untuk para pekerja kesehatan yang tengah berjuang,  beberapa perusahaan/pengusaha besar di banyak negara termasuk di Indonesia memberikan donasi untuk keperluan penanganan kasus Covid-19.

****

Bahwa manusia membawa kerusakan di bumi ditegaskan dalam salah satu ayat Al-Quran (QS 30:41): “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Yang perlu dicatat, ayat itu diturunkan jauh sebelum era industrialisasi, era ketika kita mulai berkontribusi terhadap apa kini dikenal sebagai perubahan iklim atau pemanasan global dalam skala yang eksponensial.

Pertanyaannya, apakah ini ada hubungan antara perubahan iklim dengan Covid-19? Menurut para ahli lingkungan hubungannya, kalaupun ada, kecil dalam jangka pendek. Walaupun demikian, respons kita secara kolektif dalam menghadapi pandemi Covid-19 terbukti secara ilmiah membawa perubahan positif terhadap iklim global; artinya, kualitas udara membaik akibat berkurangnya pencemaran karena CO2 dan Nitrogen. Jika ini benar maka bala ini mengungkapkan hikmahnya atau peringatan bagi kita agar serius mengenai isu pemanasan global, isu yang terbukti sangat mendesak tetapi cenderung kita abaikan[2].

Wallahualam…..@

[1] Istilah bala oleh penutur Bahasa Arab umumnya merujuk pada wabah (plague).

[2] Tulisan mengenai alasan kenapa kita secara kolektif mengabaikan isu perubahan iklim dapat diakses di sini:

https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

 

 

One thought on “Pandemi Covid-19: Merenungi Beberapa Hikmahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.