Covid-19: Lima Fakta yang Menakutkan

Di sini kita bicara fakta, bukan opini. Tetapi agar bermakna, fakta tentu perlu interpretasi. Fakta yang dimaksud dalam tulisan ini terkait dengan pandemi Covid-19 yang menakutkan. Apa yang menakutkan? Apakah ini bukan hanya semacam sensasional media pemberitaan?  Jawabannya mungkin “ya” bagi sebagian yang mengedepankan keuntungan ekonomi dari pada harkat manusia. Yang jelas ketakutan itu berdasar, faktual, banyak faktanya. Tulisan ini menyajikan lima fakta yang dimaksud dan mungkin paling menakutkan.

1)       Kasusnya terus meningkat

Fakta pertama adalah bahwa kasus Covid-19 secara global masih terus meningkat. Menurut Worldmeter kini totalnya mencapai 7 digit atau jutaan, tepatnya 1,015,531 kasus. Seperti halnya kekayaan atau rezeki, kasus Covid-19 tidak merata. Dari sumber yang sama diketahui total itu didominasi 5 negara: Amerika Serikat (245,794),  Italia (115,242 kasus), Spanyol (112,065), Jerman (84,794) dan China (81,620). Kelima negara ini secara bersamaan menyumbang sekitar 63% dari kasus global.

Yang menarik, China sudah bergeser ke posisi ke-5. Yang juga menarik, Korea dengan 10,062 kasus tidak lagi terdaftar dalam urutan itu dan menduduki posisi ke-15 setelah negara kecil Austria dengan 11,129 kasus. Dari sebaran kasus itu sulit untuk mengabaikan fakta peralihan kasus dari Timur ke Barat.

Yang-wajib-segera-catat, angka-angka di atas, masih sangat kerendahan dibandingkan dengan angka sebenarnya[1]. Argumennya sederhana: angka-angka itu adalah kasus yang dilaporkan berdasarkan hasil medis, padahal tidak semua orang yang patut-diduga terinfeksi menjalani uji media. Kasus yang sebenarnya tidak diketahui dan patut diduga lebih besar.

The total number of COVID-19 cases is not known. It is however certain that the total number of COVID-19 cases is higher than the number of known confirmed cases. This is mainly due to limited testing (worldindata).

2)       Sangat Mudah Tertular

Fakta kedua yang menakutkan adalah Covid-19 ini sangat mudah tertular. Indikasinya terlihat dari banyaknya kasus petugas medis yang secara langsung berhubungan dengan pasien Covid-19 yang tertular dan bahkan wafat. Sulit penjelasan lain mengingat mereka secara profesional terlatih dan tersedia protokoler baku dari WHO terkait penanganan pasien Covid-19.

Kemudahan tertular ini menjelaskan kenapa kasus Covid-19 mudah meroket.  Sebagai ilustrasi, untuk Amerika Serikat, menurut Worldmeter, pada 2/3/ 2020 total kasusnya hanya 124 kasus. Sebulan kemudian (2/4/2020), angkany mencapai 248,887 kasus atau meningkat sekitar 200,000% dalam sebulan. Cara sederhana untuk mengukur kecepatan penyebaran adalah waktu-ganda (doubling time) penyebaran kasusnya: semakin pendek waktu-ganda, semakin cepat semakin cepat, dan sebaliknya[2].

3)       Dampak Negatifnya Luar Biasa

Dampak negatif pandemi terhadap ekonomi dan ketenagakerjaan sudah diduga akan sangat besar. Tetapi yang terjadi jauh lebih besar dari dugaan para ahli. Menurut pemberitaan CNN (3/3/2002), dalam dua minggu terakhir di Amerika Seriat tercatat ada sekitar 10 juta penganggur baru. Beberapa analisis pasar kerja menyebut angka itu monstrous.

4)       Ketidaktahuan Kita

Yang mungkin paling menakutkan dari yang paling menakutkan adalah ketidaktahuan kita secara kolektif mengenai sifat-sifat dasar Covid-19. Kerendahhatian kita diuji di sini.

Para ahli konon sudah mengenali susunan genetis Covid-19 yang sangat mirip dengan SARS tetapi kenapa sampai sekarang belum dapat diproduksi obat atau vaksin untuk menangani Covid-19. Seorang ahli pandemi Korea yang sudah sangat berpengalaman dalam menangani wabah menular sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya faktor yang dapat diandalkan agar pasien yang terinfeksi dapat bertahan hidup adalah daya imunitas dari pasien yang bersangkutan. Ini menjelaskan kenapa angka kematian pasien usia lanjut relatif sangat tinggi.

Para ahli sejauh ini meyakinkan kita bahwa penyebaran Covid-19, bukan melalui udara, tetapi melalui media cairan (melalui batuk atau bersin). Rekomendasi resmi masih berdasarkan pemahaman ini. Tetapi penelitian di Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan bahwa Covid-19 dapat menular melalui pembicaraan bahkan pernafasan. Jika ini benar maka keyakinan para ahli selama ini dapat sangat dipertanyakan.

5)       Populasi yang Triliunan

Menurut seorang pakar virologi yang terkenal, Vincent Racaniello, habitat manusia di muka planet ini dipenuhi oleh triliunan virus. Bagi Racaniello “More Viruses in a liter of coastal seawater than people on Earth“. Jika ini benar maka pertanyaannya adalah  apakah realistis bagi kita untuk merasa aman sepenuhnya dari infeksi virus? Lebih dari itu, menurut dia, sekali kita terinfeksi suatu virus, kita selalu bersamanya selama hidup.

Kabar baik dari Raceniello adalah bahwa kebanyakan virus tidak berbahaya bagi manusia. Hampir semuanya berlalu saja melalui tubuh kita tanpa meninggalkan efek negatif. Tetapi siapa yang mampu mencegah suatu saat yang tidak diketahui kapan dan bagaimana caranya virus itu tidak berperilaku “nakal”?

*****

Pertanyaan dalam alinea terakhir mendorong pertanyaan lebih lanjut: (1) Jika selama ini kita aman dari virus, apakah ini karena “campur tangan” Entitas yang lebih besar dan lebih berkuasa dari kita, Entitas pencipta dan pengendali virus? (2) Jika Entitas itu, dalam situasi entah bagaimana, berkehendak virus itu “nakal” bagi manusia, apakah ini mungkin? (3) Jika pertanyaan ke-2 positif, apakah kehendak Entitas itu disertai maksud tertentu,  (purposeful), dan (4) Apakah virus itu, seperti dikemukakan Shihab, analog dengan tahi lalat pada paras rupawan yang kita, secara bodoh, mengabaikan keindahan paras itu?

Pertanyaan terakhir terkait dengan “kebodohan” kita mengabaikan konteks ketika melihat suatu isu. Akibatnya, kita kehilangan kepekaan untuk menarik pelajaran atau memetik hikmah dari isu itu[3]. Bagi penulis, pandemi Covid-19 berpotensi mencerahkan spiritual seperti halnya tahi lalat dapat mencerahkan paras pemilik keindahan, malikil jamal menurut istilah tembang klasik Arab-Andalusia.

Wabillahi taufiq walhidayah….@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/01/covid-19-case-death/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/03/27/covid-19-idonesia-accelerating/

[3] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/03/30/pandemi-covid-19-lessons-learned/