Data Covid-19 Indonesia: Terlalu Dini untuk Dianalisis

Tulisan ini menjajaki kemungkinan untuk menganalisis data Covid-19 Indonesia dari perspektif orang yang awam dalam bidang epidemiologi dan hanya mampu mengandalkan akal sehat sebagai alat kajian. Latar belakangnya, laporan mengenai kasus baru terkonfirmasi Covid-19 di Jepang yang berjumlah sebanyak 515 orang pada 5/5/2020. Bagi penulis ini mengagetkan karena Jepang terkenal sigap ketika merespons rekomendasi WHO terkait dengan upaya pengendalian penyebaran Covid-19. Sejauh ini Jepang dinilai secara luas relatif sangat berhasil dalam  upaya ini. Keberhasilan ini pada umumnya dipahami terkait dengan budaya masyarakat Jepang yang terkenal sangat disiplin, taat-perintah, dan mencintai kebersihan; mungkin karena pengalaman historisnya.

Sulit Diduga

Bagi penulis fakta di atas merupakan isyarat-kuat bahwa pola penyebaran wabah Covid-19 masih sangat sulit diduga. Ini berati pengetahuan kita mengenai Covid-19 masih perlu terus diperbaharui. Ini juga berarti hasil analisis datanya perlu selalu dilabeli bersifat sementara. Pada analisis terakhir, ini juga berarti hikmah untuk bersikap rendah hati sesuai wejangan ourwoldindata:

 Most of our work focuses on established problems, for which we can refer to well-established research and data. COVID-19 is different. All data and research on the virus is preliminary; researchers are rapidly learning more about a new and evolving problem. It is certain that the research we present here will be revised in the future.

Bukan Tanpa Fakta

Bahwa data Covid-19 sulit diduga bukan bukan tanpa fakta, tidak sekadar berdasarkan kasus tunggal Jepang, tetapi berbasis data yang luas. Sebagai ilustrasi, sebulan lalu, siapa yang dapat menduga, per tanggal 7/4/2020, Cina (dengan total kasus sekitar 82,000) akan “dikalahkan” oleh Amerika Serikat (367,000), Spanyol (137,000), Italia (133,000), Jerman (103,000) dan Prancis (98,000) dalam hal total kasus Covid-19 tetapi itulah faktanya. Grafik 1 mendukung argumen ini.

Grafik itu pada prinsipnya menunjukkan pergerakan data kasus Covid-19 masih sangat dinamis. Bagi penulis implikasinya jelas: datanya belum dapat dibaca dan  “arahnya bisa ke mana saja” istilah WHO. Ini berlaku bagi semua negara yang diperbandingkan, termasuk Indonesia (terletak dalam baris-5, kolom-5), walaupun agaknya dengan hanya satu kekecualian yaitu Cina (pojok kanan-bawah). Cina adalah satu-satunya negara yang datanya sudah ajek (stabil) walaupun belum stasioner karena masih ditemukan kasus (32 kasus pada 7/4/2020). Bagi penulis catatan ini perlu khususnya bagi yang suka mengutak-katik data Covid-19. Sebagai catatan, grafik itu menyajikan data kasus per hari, bukan data kumulatif yang tidak tepat digunakan untuk memprediksi[1].

Grafik 1: Kasus Covid-19 di 49 Negara Terpilih

Sumber: Towardsdatascience

Grafik 2 dan 3 membandingkan data Cina dan Indonesia. Perbandingan kedua grafik ini menunjukkan dua kontras yang saling berkaitan: (1) Cina memiliki 116 titik pengamatan, Indonesia hanya 35 titik pengamatan), dan sebagai konsekuensi logisnya (2) pola data China sudah relatif dapat terbaca, pola data Indonesia masih jauh dari kondisi itu.

Grafik 2: Kasus Terkonfimasi Covid-19, Cina, 31/12/2019-26/3/2020

Sumber: Diolah dari Worldindata

Grafik 3: Kasus Terkonfimasi Covid-19 Indonesia, 1/3/2020-4/4/2020

Sumber: Diolah dari Wolrdindata

Kesimpulan

Mengingat datanya sulit diduga dan menimbang titik pengamatan masih sedikit sehingga datanya belum dapat terbaca maka kesimpulannya terlalu dini menganalisis data Indonesia apalagi untuk memprediksi masa depan dalam jangka pendek. Jika dipaksakan maka hasilnya, semata-mata dalam terang akal sehat, hampir dapat dipastikan terlalu spekulatif.

Wallahualam…@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/05/covid-19-problems-cumuative-data/