Pandemi Covid-19: Refleksi (1)


Pandemi Covid-19 mendunia dalam arti harfiah. Wordmeter melaporkan jangkauannya mencakup 214 “negara”. Angka ini lebih tinggi dari total negara yang tercatat di PBB yaitu 195 negara, termasuk Holy See dan Palestina. Pandemi ini  dipercaya berawal dari Kota Wuhan (Cina). Kota ini adalah episentrum jilid pertama yang diambil alih kedudukannya New York dalam jilid kedua. Fakta-fakta dasar ini merefleksikan dua hal: (1) demikian mudahnya Covid-19 menyebar, dan (2) demikian eratnya konektivitas antar manusia secara fisik. Secara batin(?)

Sifat alamiah Covid-19 secara umum sudah dikenali oleh para ahli. Buktinya, mereka berani menjanjikan vaksinnya sudah akan tersedia sekitar kuartal pertama atau pertengahan 2021, atau (harapannya) lebih awal. Tetapi mereka sementara ini masih perlu terus memperbaharui ilmunya terkait isu  bagaimana virus yang satu ini menyebar antar manusia.

Yang “menguntungkan”, pembawa virus ini adalah manusia yang dapat diatur. Jika pembawanya nyamuk, misalnya, bagaimana mengimplementasikan kebijakan cuci-tangan, bermasker atau lock down?  Repotnya, tidak seperti nyamuk yang oleh kebanyakan kita dapat dibasmi tanpa perasaan bersalah[1], jiwa manusia justru perlu diselamatkan karena setiap individu manusia adalah mulia (QS 17:70).

Repotnya lagi, kebijakan lock down yang sejauh ini dianggap paling masuk akal[2], membuat kehidupan kita sangat tidak nyaman. Kita diputus dari rutinitas normal kita sebagai makhluk sosial yang secara alamiah berkecenderungan saling-berinteraksi dalam rangka berproduksi (secara ekonomi, bekerja) atau memberikan pelayanan jasa (guru agama independen, misalnya). Implikasinya, ekonomi masyarakat terancam bangkrut, ancaman yang sangat riil bagi yang berpendapatan harian tidak tetap, termasuk  penjual makanan, tukang becak, pengojek, dan guru mengaji keliling.

Bagi yang berpuasa yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 2.4 milyar, lock down membawa serta ketidaknyamanan tersendiri. Mereka terbiasa mengintensifkan interaksi sosial justru pada Bulan Puasa. Untungnya, mereka diajarkan untuk lebih menghindari mudarat dari pada mengejar manfaat. Berdasarkan ajaran ini mereka dapat menyesuaikan diri dalam melaksanakan amalan-amalan utama puasa khususnya terkait tarawih dan taklim.

Mereka tarawih tidak lagi dilakukan secara berjamaah di rumah ibadah tetapi di rumah masing-masing. Hikmahnya yang tersembunyi, mereka lebih berpeluang mampu menghindari riya, juga untuk mengingat-ulang makna ketulusan dan kejernihan hati ketika membangun konektivitas dengan yang Ilahi. Bukankah dalam ibadah kurban hewan, misalnya, yang sampai kepada-Nya bukan daging dan darahnya melainkan nilai takwa (QS 22:37)?

Pandemi Covid-19 adalah cobaan (Arab: bala) yang merupakan keniscayaan bagi spesies manusia. Menurut Quran, keseluruhan tragedi kehidupan dan kematian adalah cerita mengenai bala (QS 67:2) yang bentuknya bermacam-macam (QS 2:155) [3]:

Pasti Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Bagi Muslim, respons paling sehat menghadapi bala adalah sabar sebagaimana terungkap dalam kutipan di atas.

Wallahualam….@

[1] Ada segelintir orang ini yang memiliki perspektif lingkungan-hidu–dalam (deep ecology) melihat nyamuk (juga virus) memiliki hak hidup dan masing-masing memainkan peran tertentu dalam kosmos.

[2] Dalam konteks ini diabaikan pandangan yang melihat over reaction lebih berbahaya dari pada under reaction.

[3] Ayat pertama menggunakan kata “li-nabluwa-kum”, seakar kata dengan bala; ayat kedua, la-nabluwanna-kum juga seakar kata dengan bala. Imbuhan “la” menunjukkan keniscayaan, huruf n ganda (tasydid) menunjukkan kesungguhan.

One thought on “Pandemi Covid-19: Refleksi (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.