Pandemi Covid-19: Refleksi (3)


Terkait musibah Covid-19 ini seorang ahli tafsir belum lama ini diminta berdoa. Sebelum mengabulkan ia sempat mengagetkan peminta: “Apa yang kamu mau doakan?” “Kenapa tidak melakukan sendiri?” Yang minta terpana. “Kalau minta sesuatu kepada-Nya lakukan secara langsung, dalam bahasamu sendiri kalau perlu, syaratnya tulus. Tidak perlu menunggu guru, ustaz, ulama atau kiai untuk berdoa untukmu”. Demikian nasehat sang ahli.

Nasehat ini menyangkut ajaran esensial dalam akidah Islam, ajaran mengenai pertanggung-jawaban pribadi. Islam menekankan kedekatan hamba dengan Pencipta, “lebih dekat dari pada urat nadi leher” (QS 50:16). Implikasinya perantara tidak diperlukan ketika berdoa. Kalaupun ada bentuknya adalah amalan sendiri.

Ajaran pertanggungjawaban pribadi dipastikan dalam kehidupan di akhirat kelak. Dalam kehidupan ini setiap individu, makhluk langit maupun bumi, datang sendiri untuk  mempertanggungjawabkan amal pribadi. Itulah prinsip keadilan hakiki. Untuk “memastikan” prinsip ini, atau untuk memastikan cakupan, Dia SWT terkesan seakan-akan melakukan semacam sensus. (Tentu itu dalam perspektif manusiawi yang terbatas.):

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dan Allah benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat (QS 19:93-95).

Kembali ke doa.

Sebagai seorang hamba setiap individu berhak berdoa kepada-Nya atas nama pribadi, untuk kepentingan pribadi, dengan cara sendiri. Ini doa-personal[1]. Dalam doa-formal atau doa kanonik (canonical prayer), doa dikemukakan dengan cara baku dan atas nama manusia apa adanya secara keseluruhan (man as such). Redaksi doa formal menggunakan kata subjek jamak. Contohnya, ‘rabbana atina fid dunya….wahai Tuhan kami berikan kepada kami kebaikan di dunia …”. Di sini digunakan kata atina (kepada kami), bukan atini (kepadaku).

Bagi Muslim, dalam rangka doa meminta petunjuk yang dilakukan minimal 17 kali dalam sehari terungkap dalam Alfatihah. Doa ini juga menggunakan subjek jamak (istilah tata bahasa Arab: mutakallim- jama’), ihdina alshhirat almutaqim, bukan ihdini alshit almustaqim.

Dua contoh ini adalah fakta qurani yang merefleksikan ajaran Islam yang pada intinya anti egosentris. Fakta ini semakin kurang disadari. Jangan-jangan musibah Covid-19 sebagai teguran bagi man as such yang dinilai-Nya semakin nafsi-nafsi. Secara fisik, dengan bantuan teknologi, mereka semakin terkoneksi; secara psikis dan emosional, karena kemiskinan spiritual, mereka saling menjauh.

Wallahualam….@

[1] Mengenai doa peronal lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/11/05/doa-personal/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.