Pandemi Covid-19: Refleksi (4)


Boleh jadi kita secara kolektif tergolong kufur dalam arti tidak pandai bersyukur. Walaupun demikian, sebagian kita, sekecil apa pun proporsinya, pasti ada yang masih dikaruniai kegemaran minta ampun kepada-Nya, amalan utama waktu sahur (QS 51:18). Kelompok ini layak bergelar elite mustagfirun (meminjam istilah Qurani) yang kita semua orang berhutang budi. Argumennya, sesuai firman-Nya, kita secara kolektif masih terlindungi dari azab-Nya karena elite ini: “Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampun” (QS 8:33).

Boleh jadi Pandemi Covid-19 mengharu-buru masyarakat global terutama karena efek dominonya. Walaupun demikian, sejalan dengan ayat yang baru saja dikutip, pandemi ini belum masuk kategori azab menurut terminologi Qurani.

Jika bukan azab lalu apa? Bisa musibah atau bala; keduanya juga istilah Qurani. Jika bala maka itu suatu keniscayaan manusiawi, bahkan melatarbelakangi tragedi kosmis kematian-kehidupan manusia menurut QS(67: 2). (Ayat ini menyebutkan kematian terlebih dahulu.) Lebih dari itu, menurut ayat yang sama, bala mengandung unsur edukasi agar manusia terdorong melakukan amal terbaik, amal terindah, ahsanu ‘amala.

Di tengah pandemi Covid-19 banyak kabar yang menunjukkan kemuliaan manusia dalam arti mampu melakukan amal terindah. Dari Italia terkabarkan sekelompok volunter tenaga medis, muda dan tua, yang mendedikasikan diri untuk membantu menolong korban Covid-19. Sebagaimana terungkap dalam Wawancara CNN, yang muda bilang “Aku tahu risiko pekerjaan ini dapat menulariku dan orang-orang terkasih di rumah. Tapi yang penting bagiku saat ini bagaimana berkontribusi sesuatu kepada sesama”. Yang tua bilang “Aku tahu apa yang dapat aku lakukan dan kalau tidak sekarang kapan”.

Cerita serupa banyak dari belahan bumi yang lain, khususnya tetapi tidak terbatas pada, mengenai dedikasi para tenaga medis yang bekerja luar biasa intensif dan sangat melelahkan, jauh dari keluarga serta berisiko tinggi, demi menolong korban Covid-19 . Di Indonesia ada cerita semacam ini. Di Indonesia juga ada kabar seorang anak SD yang mengaku menabung beberapa lama agar dapat membelikan masker bagi pak polisi.

Semua cerita di atas  membuktikan manusia dapat melakukan ahsnu ‘amala, amalan ikhlas, bentuk amalan konkret untuk  merealisasikan prinsip kasih-tanpa-pamrih. Itulah sebabnya manusia as such dimuliakan (QS 17:70). Boleh jadi bentuk amalan mereka setara dengan bentuk amalan para mustagfirun dalam konteks kekinian. Boleh jadi amalan para pahlawan-harian (daily heroes, istilah Cuomo) yang menjadi subjek cerita di setara dengan amalan elite mustagfirun.

Jika dugaan di atas benar maka para subjek cerita  layak memperoleh doa terbaik dari kita semua, serta memperoleh insentif yang layak dari para empunya dan pemegang kekuasaan. Mereka menolong korban Covid-19 sekaligus, boleh jadi, memainkan peran penolong kita semua sehingga terhindar dari azab-Nya.

Wallahualam…..@

One thought on “Pandemi Covid-19: Refleksi (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.