Pandemi Covid-19: Refleksi (5)


Sudah banyak korban terinfeksi Covid-19 (infected), lebih banyak lagi yang terdampak (affected). Data mengenai yang terinfeksi melimpah dan relatif mudah diakses, yang terdampak masih sangat langka jika ada. Yang pasti, populasi jauh lebih besar bagi yang terdampak dari pada yang terinfeksi. Yang pasti pula, dampaknya meliputi hampir semua aspek kehidupan: ekonomi, sosial, dan politik. Juga dampak psikologis: stres, panik perasaan putus asa, dan semacamnya.

Masyarakat umum  stres karena harus menjalani kehidupan normal baru (new normal), di-rumah-saja. Stres juga melanda kalangan pengusaha, pemerintah dan ahli medis:

  1. Kalangan pengusaha stres karena harus bertahan hidup di tengah tekanan berkurang atau negatifnya keuntungan usaha juga “niatan luhur” untuk mempertahankan karyawan secara optimal.
  2. Kalangan pemerintah stress karena harus mengambil kebijakan simalakama dan tidak populer: bias ke kepentingan ekonomi (termasuk ketenagakerjaan) atau kesehatan masyarakat. Karena simalakama, kebijakan normal baru masuk dalam daftar pilihan.
  3. Kalangan ahli medis dan industri stress karena dituntut segera menghasilkan vaksin yang aman menurut standar medis untuk menangkal infeksi Covid-19. Mereka dihadapkan pada tantangan normal baru: menghasilkan produk dalam kerangka waktu yang jauh lebih pendek dari waktu normal.

Yang bahaya dari dampak psikologis adalah ketidakmampuan memilah mana yang fakta psikologis (reality as perceived), mana yang realitas apa adanya (reality as it is). Ketidakmampuan ini dapat memperburuk dampak psikologis yang sudah buruk. Hubungan antara “ketidakmampuan membedakan” dan “memburuknya situasi” boleh jadi mengikuti kurva eksponensial. Itulah yang agaknya kenapa Nabi SAW sering berdoa agar diberikan pemahaman mengenai realitas as it is.

Respons stres karena bala Covid-19 ini normal bagi kita yang kebanyakan masih tergolong manusia normal. Tetapi sebagian kecil kita ada yang tergolong supra normal (bukan abnormal). Mereka adalah para elite spiritual yang mampu menilai secara jernih bahwa sikap stres dan panik dalam menghadapi bala tidak sehat serta tidak menguntungkan. Ini berlaku pada tingkat individual maupun masyarakat.

Para elite ini supra normal karena mampu melihat bala ini secara obyektif; artinya, membuat jarak kognitif dengannya. Kemampuan inilah yang membuat para elite spiritual tidak stres dan tidak tertekan ketika menghadapi bala. Lebih dari itu, kemampuan itu memampukan mereka melihat hikmah di balik bala sebagaimana dikumandangkan Rumi:

Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.

If you are irritated by every rub, how will your mirror be polished.

 The wound is the place where the Light enters you.

Where there is ruin, there is hope for a treasure.

Suffering is a gift. In it is hidden mercy.

Demikianlah hikmah jarak kognitif.

Puasa mengandung hikmah serupa melalui praktik menjaga jarak dengan rutinitas duniawi: makan, minum, dan aktivitas seksual. Melalui praktik itu para pelaku Puasa, secara terpaksa atau sukarela, menyadari bahwa dirinya bukan hewan yang motivasi gerak hidupnya hanya berkisar seputar makan, minum dan sex. Selain itu, mereka, pada tataran praksis, alih-alih stres dan meratapi diri karena pandemi, mengerahkan energi untuk mengintensifkan amalan sosial sebagai kompensasi terhalangnya tarawih berjamaah di masjid karena pandemi. Mereka melakukan ini sesuai pesan Nabi SAW bahwa amalan sosial adalah salah satu amalan utama, lebih-lebih di tengah situasi pandemi Covid-19.   

Semoga…@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/30/pandemic-covid-19-heroes/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.