Pandemi Covid-19: Refleksi (6)

Harap-harap Cemas. Barangkali ini kesimpulan wajar mengenai perkembangan pandemi Covid-19. Secercah harapan timbul dari temuan ilmiah mengenai obat remdesivir:

Preliminary results indicate that patients who received remdesivir had a 31% faster time to recovery than those who received placebo (p<0.001). Specifically, the median time to recovery was 11 days for patients treated with remdesivir compared with 15 days for those who received placebo. Results also suggested a survival benefit, with a mortality rate of 8.0% for the group receiving remdesivir versus 11.6% for the placebo group (p=0.059).

Jika temuan itu dapat diandalkan maka semakin besar kemungkinan yang terinfeksi Covid-19 (infected, I) dapat disembuhkan. Dengan kata lain, angka kesembuhan terinfeksi Covid-19 dapat ditingkatkan (I recovered, Irec).

Ada secercah harapan lain. Vaksin Covid-19 dilaporkan sudah akan tersedia dalam hitungan kurang dari setahun (jauh lebih cepat dari waktu normal pengembangan vaksin). Jika ini terbukti maka semakin besar kemungkinan populasi yang terduga terinfeksi (suspects, S) dapat ditekan. Dengan kata lain, angka terinfeksi dapat ditekan.

Kebijakan merespons pandemi, dinyatakan secara padat, pada dasarnya diarahkan untuk menekan besar dan angka populasi umum terpapar S dan meningkat angka  Irec.

Demikian mengenai harapan. Kecemasannya: (1) temuan mengenai obat di atas masih bersifat sementara (preliminary results), dan (2) belum ada yang berani menetapkan garis tegas mengenai waktu mengenai temuan vaksin yang dimaksud.

Sumber Gambar: Google

Harapan dan kecemasan. Secara psikologi konon keseimbangan dua unsur ini diperlukan untuk mengedukasi ras manusia. Mungkin. Yang pasti, menyampaikan kabar baik dan ancaman merupakan metode penyampaian risalah para Nabi AS, termasuk Nabi SAW (QS 17:105). Dia SWT menegaskan di satu sisi akan memberikan pahala paling 10 unit pahala untuk setiap unit amal baik, di sisi lain memberikan ancaman ganjaran keburukan yang setara:

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi) QS (6:160)

Aturan yang bias memang, bias ke arah positif; false positive kata orang statistik. Tetapi demikian sifat-Nya, al-Rahman sekaligus al-Rahim.

Wallahualam…..@