Covid-19 Indonesia: Gambar Besar

Konteks

Sekitar sebulan lalu penulis, melalui tulisan di blog ini, pernah mengemukakan data Covid-19 Indonesia terlalu dini untuk dianalisis. Argumennya ketika itu seri datanya masih pendek dan polanya belum dapat terbaca. Ketika itu total kasus terakhir sekitar 2,000, masih jauh dari “angka psikologis 4 digit”, puluhan ribu. Angka psikologis ini kini tercapai: menurut Worldmeter, per 2/5/20 pukul 23 GMT, angkanya 10,083 kasus. Jadi dalam sebulan terakhir ini kasusnya meningkat sekitar lima kali lipat, suatu pertumbuhan kasus yang cepat tetapi agaknya normal dalam kasus Covid-19.

Kini, setelah seri data bertambah panjang, agaknya tepat waktu untuk melihat-ulang data Covid-19 Indonesia. Tulisan  ini menyajikan hasil penglihatan-ulang yang dimaksud. Yang ingin dipotret adalah gambar besarnya: status terkini dan tren masa lalunya. Data yang digunakan bersumber Worldmeter.

Perkembangan Kasus

Grafik 1 menunjukkan kasus baru Covid-19 di Indonesia terkesan masih naik-turun atau berfluktuasi. Sebagai ilustrasi, dalam periode 12-14 April angkanya turun tetapi trennya diikuti kenaikan selama 3 hari berturut-turut. Kecenderungan umumnya, sebagaimana ditunjukkan oleh angka rata-rata bergerak (5 titik) yang berwarna merah, masih naik walaupun melambat. Berdasarkan grafik ini masih sulit menduga (paling tidak bagi penulis) apakah titik puncak tertinggi (universal extreme) sudah melampaui, atau jika belum, kapan.

Grafik 1: Tren Kasus Baru Per Hari

Berbeda dengan tren kasus baru, tren kasus kematian per hari mengindikasikan adanya penurunan. Grafik 2 menunjukkan hal itu. Berdasarkan grafik itu tampak agak realistis berharap angka kematian 60 untuk 14/4/20 sudah merupakan angka tertinggi. Tapi waktu masih akan menguji harapan ini.

Grafik 2: Tren Kasus Kematian Per Hari

Perkembangan situasi juga dapat dilihat dari tren kasus aktif atau komplemennya yaitu kasus ditutup. Grafik 3 menunjukkan tren kasus aktif maupun kasus ditutup masih cenderung naik.

Grafik 3: Tren Total Kasus, Kasus Aktif dan Kasus Ditutup

Sebagai catatan, kasus aktif dan kasus ditutup masing-masing dapat dilihat sebagai komponen indikator komposit kasus total: Kasus total = Kasus aktif + Kasus ditutup. Idealnya, tren kasus aktif turun mendekati angka Nol sementara kasus ditutup naik mendekati angka total kasus. Jadi, arahnya berlawanan. Oleh karena itu angka kasus total dapat membingungkan atau bahkan menyesatkan untuk menilai perkembangan situasi.

Idealnya, proporsi kasus ditutup dengan kesembuhan. Grafik 4 menunjukkan kecenderungan meningkatnya kasus itu. Grafik 5 memberikan indikasi yang lebih langsung: proporsi kasus ditutup yang berakhir kesembuhan cenderung turun sampai 26/3/20 tetapi selanjutnya cenderung naik.

Grafik 4: Tren Kasus Ditutup, Tersembuhkan dan Kematian

Grafik 5: Proporsi Kasus Ditutup dengan Kesembuhan (%)

Ringkasan dan Diskusi

Tren angka kasus baru masih berfluktuasi dengan kecenderungan sedikit kenaikan (Grafik 1). Adalah soal selera (subyektif) memaknai ini sebagai kabar baik atau kabar buruk. Bagi penulis, kabar “agak melegakan” jika angkanya mulai turun yang berarti angkanya telah mencapai titik paling puncak. Jika angkanya telah mendekati angka nol, katakanlah 1-2% dari angka puncak universal, maka bagi penulis itu sudah layak disebut “kabar baik”.

Cina mengalami situasi ketika angka kasus baru terus bermunculan di sekitar angka yang sudah rendah. Berdasarkan pengalaman agaknya tidak realistis berharap kasus baru akan terhenti mutlak. Bagi penulis, inilah normal baru (a new normal) yang perlu diantisipasi.

Tren kasus aktif yang masih cenderung naik. Ini mendukung kesimpulan bahwa situasi belum mencapai taraf “agak melegakan” walaupun mengarah ke sana. “Agak melegakan” jika trennya mulai turun dan berubah menjadi “kabar baik” jika angkanya mendekati angka kasus total. Situasi ini identik dengan situasi ketika tren angka kasus ditutup mulai naik sebelum akhirnya mendekati angka kasus total. Situasi idealnya tentu didekati jika proporsi kasus ditutup karena tersembuhkan mendekati angka100%.

Ada indikator lain yang lebih padat dan lebih meyakinkan untuk mengevaluasi perkembangan pandemi yaitu angka reproduksi virus, R0. Pandemi masih masih memburuk atau “kabar buruk” jika R0>1, mereda atau “agak melegakan” R0=1 dan akan segara berakhir atau “kabar baik” jika R0<1. Angka ini R0 mengukur transmisi kedua (second transmission); artinya, mengukur banyaknya kasus baru yang ditulari oleh seorang yang terinfeksi. Berapa angka untuk Indonesia? Penulis tidak berani menghitung karena pandemi masih berlangsung entah sampai kapan. Selain itu, ukuran ini terlalu teknis untuk dibahas lebih lanjut dalam tulisan singkat ini. Bagi yang berminat mempelajari logika dasarnya dapat mengakses di SINI.

Demikianlah gambar besar Covid-19 di Indonesia….@