Pandemi Covid-19: Indonesia sebagai Negara Paling Terinfeksi

Istilah negara paling terinfeksi dalam tulisan menggunakan angka total kasus Covid-19 dengan batas bawah empat digit. Artinya, suatu negara dikategorikan paling terinfeksi jika memiliki total kasus (kumulatif) 10,000 ke atas. Dengan batasan ini Indonesia termasuk dalam kategori ini, di atas Denmark, Korea Selatan dan Bangladesh. Amerika Serikat (AS) menempati urutan pertama diikuti Spanyol, Italia, dan Prancis. Dari bawah, termasuk Korea Selatan, Bangladesh dan Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk meninjau secara singkat posisi Indonesia dalam kancah negara dengan kategori paling terinfeksi dengan batasan di atas.

Tulisan ini dibagi dua bagian: (1) fokus pada Indonesia dengan memantau tren kasus baru dan kasus kematian baru terkait Covid-19, dan (2) membandingkan “angka” kematian Covid-19  Indonesia dibandingkan negara-negara setara. Sumber data Worldmeter tertanggal 5/5/20 pukul 22 GMT

Indonesia: Tren Kasus Baru dan Kematian

Grafik 1 menunjukkan tren kasus baru Indonesia masih berfluktuasi dengan kecenderungan umum masih naik. Kecenderungan naik ini kemungkinan terkait dengan meningkatnya pemeriksaan[1] terhadap suspect (=S) atau populasi yang dicurigai terinfeksi Covid-19 (=I). Jika ini benar maka kenaikan kasus baru, sekalipun semakin membebani infrastruktur medis, tidak terlalu menghawatirkan. Logikanya, semakin banyak S dikenali sebagai I, semakin besar kemungkinan mengisolasi dan merawat I. Pada gilirannya, isolasi dan perawatan itu akan memperkecil S dan ini berarti mengurangi populasi yang berpotensi menularkan Covid-19[2]. Singkatnya, kenaikan kasus baru tidak selalu berarti berita buruk dalam perspektif jangka panjang.

….. kenaikan kasus baru tidak selalu berarti berita buruk dalam perspektif jangka panjang.

 

Grafik 1: Tren Kasus Baru dan Kematian Covid-19 Indonesia

Begitu I dikenali maka ‘bola” berada di tangan tenaga medis. Inilah situasi yang sangat menantang: sejauh ini belum ada obat yang terbukti dan diakui secara luas di kalangan medis dapat mengatasi infeksi Covid-19. Dalam situasi ini agaknya daya tahan atau imunitas individu pasien yang menentukan hasil perlakuan medis[3].

Grafik 1 juga menyajikan kabar baik: kasus kematian Covid-19 di Indonesia cenderung bertahan pada level yang relatif rendah (dibandingkan dengan kasus baru). Untuk menilai “seberapa baik” kabar baik ini tentu perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dengan membandingkan dengan negara-negara yang setara yang dalam hal ini terkategorikan sebagai negara paling terinfeksi.

“Angka” Kematian Covid-19

Kata “angka” diberi tanda kutip ganda untuk menunjukkan ukuran yang sangat kasar. Kata angka di sini terjemahan dari rate (Inggris) yang berarti rasio antara suatu insiden dengan populasi terpaparnya. Idealnya angka ini perbandingan antara total kasus kematian dengan total kasus (yang pada akhir pandemi identik dengan kasus ditutup). Tetapi angka ini belum dapat dihitung karena pandemi masih berlangsung. Untuk Cina, sebagai kasus ekstrem, kasus baru terkadang masih muncul dalam angka puluhan bahkan ratusan.

Grafik 2 menyajikan angka-sangat kasar kematian Covid-19 di 40 negara terpilih yang semuanya masuk dalam kategori paling terinfeksi.  Urutan dimulai dengan yang paling “paling terinfeksi” (AS) sampai yang paling kurang terinfeksi dalam kelasnya (Denmark). Pada grafik itu tampak Indonesia “mengejar” Denmark dan Korea Selatan yang secara “historis” paling terinfeksi (di bawah Cina).

Grafik 2: Angka Kematian Kasus Covid-19 per Sejuta Penduduk

Penyebut dari angka kematian sebagaimana disajikan pada Grafik 2 adalah total penduduk (milyaran). Ini jelas bukan ukuran yang cermat karena Covid-19 “selektif” dalam memilih induk semang yaitu, yang dalam konteks ini penduduk, kasarnya, di atas 20 tahun. Tetapi karena rumusnya diperlakukan sama bagi semua negara yang diperbandingkan maka hasil perbandingan relatif aman.

Tiga hal layak-catat dari Grafik 2:

  • Angka kematian Indonesia relatif sangat rendah dan ini berkat populasinya yang besar.
  • Angka Indonesia relatif rendah dibandingkan angka AS padahal dari sisi populasi keduanya beda-tipis.
  • Tingginya angka kematian di Belgia, Spanyol, Italia dan Inggris, tentunya juga Swedia dan Islandia, dapat dijelaskan dengan populasi masing-masing yang relatif rendah (dibandingkan Indonesia).

Singkatnya, diukur dengan kematian per juta penduduk, angka kematian Covid-19 di Indonesia relatif rendah bahkan jika dibandingkan angka AS.

… diukur dengan kematian per juta penduduk, angka kematian Indonesia relatif rendah bahkan jika dibandingkan angka AS.

Keadaan berbeda jika yang digunakan sebagai ukuran adalah proporsi kasus yang ditutup dan gagal tersembuhkan atau berakhir dengan kematian. Grafik 3 menunjukkan hal itu secara jelas. Catatannya, ukuran ini masih sangat kasar dan overestimate; kasar karena penyebutnya tidak memasukkan kasus aktif (atau belum ditutup), overestimate karena berdasarkan data yang tersedia sejauh ini, proporsi kasus aktif jauh lebih besar untuk yang tersembuhkan dari pada yang meninggal.

Grafik 3: Proporsi Kasus Ditutup Karena Kematian (%)

Dengan catatan teknis itu Grafik 3 menunjukkan angka kematian Covid-19 di Indonesia sebenarnya relatif tinggi, lebih tinggi dari angka-angka Korea Selatan, Iran, bahkan AS, Italia dan Spanyol. Angka Indonesia lebih rendah dibandingkan angka-angka Swedia, Belgia, Portugal, dan Prancis. Pada grafik itu tampak angka Swedia paling tinggi. Hal ini mungkin terkait dengan santainya negara itu dalam menghadapi Covid-19; di sana tidak diberlakukan kebijakan lock down, yang tentunya sudah diperhitungkan oleh petinggi kerajaan itu.

…. diukur dengan proporsi kasus ditutup karena kematian, angka kematian Indonesia relatif tinggi.

Wallahualam.…@

[1] “Dengan meningkatnya pemeriksaan ini kita perlu bersiap panen kasus”, kira-kira demikian ungkapan seorang teman yang paham epidemiologi. Upaya memperkecil S secara masif dan aman adalah dengan memberikan vaksin Covid-19 yang sejauh ini belum tersedia.

[2] Di sini diasumsikan, yang terbukti terinfeksi memiliki peluang lebih besar menyebabkan penularan dari pada yang belum teridentifikasi. Asumsi ini sebenarnya agak lemah karena yang belum menunjukkan simtom (masih dalam masa inkubasi) dapat menularkan kepada orang lain.

[3] Hal ini pernah dikemukakan seorang ahli epidemiologi Korea Selatan yang sangat berpengalaman menangani kasus penyakit menular.