Pandemi Covid-19: Fauci, Trumph dan Kebenaran


Konteks

Ada dua perkembangan menarik terkait pandemi Covid-19. Pertama, Soviet membayangi Amerika Serikat (AS) dalam kasus baru terinfeksi Covid-19; skornya: AS: 18,500, Soviet: 10,000. Ini keadaan 13/5/2020. Dua angka ini menempatkan Soviet pada urutan ke-2 di bawah AS dan di atas Spanyol. Dilihat dari total kasus, dengan mengindeks angka Spanyol 271,000=10, skor AS: Spanyol: Soviet = 53: 10: 9. Yang menarik untuk Soviet, pada 13/4/2020 total kasus hanya sekitar 68,000 dan lonjakan angka ini menimbulkan kecurigaan para ahli bahwa angka-angka Soviet selama ini kerendahan.

Kedua, dalam dengar pendapat dengan kongres AS, Fauci menyinggung angka kematian Covid-19 di AS kerendahan. Pernyataan ini di dibantah oleh Trump: “Angkanya ketinggian”, katanya kira-kira.

Dari dua perkembangan ini pertanyaan besarnya adalah siapa yang benar? Apa itu kebenaran? Tulisan ini tidak bermaksud menjawab pertanyaan besar ini tapi sekadar memetakan isunya untuk memperoleh gambar besar.

Misteri Kebenaran

Para sufi biasa menggunakan istilah al-Haqq untuk merujuk kepada realitas atau kebenaran tertinggi. Secara tidak langsung mereka menganalogikan istilah ini dengan Tuhan YME yang bagi mereka puncak misteri dari misteri. Dalam konteks ini para sufi paling rasional: bagi mereka Kebenaran (dengan huruf K besar, Inggris Truth) tidak akan pernah dapat terjangkau oleh manusia walaupun jalur ke arah-Nya dapat diketahui melalui wahyu yang diturunkan-Nya. Dengan pola pikir semacam ini mereka juga paling rendah hati: bagi mereka, Kebenaran hanya bisa didekati, bukan dicapai [1]. Untuk membayangkan hal ini konsep limit atau asimtot dalam matematik dapat difungsikan sebagai alat bantu.

….. Kebenaran (dengan huruf K besar, Inggris Truth) tidak akan pernah dapat terjangkau oleh manusia walaupun jalur ke arah-Nya dapat diketahui melalui wahyu yang diturunkan-Nya.

Agar isunya membumi, ambil kasus total penduduk sebagai contoh, katakanlah penduduk Jakarta. Pertanyaannya, persisnya berapa total penduduk Jakarta hari ini? Para ahli kependudukan pasti tidak ada yang berani menjawab pertanyaan ini. Argumennya kira-kira: angka sensus mengandung kemungkinan lewat-hitung atau hitung- ganda, angka proyeksi penuh dengan asumsi, dan angka laporan administrasi bisa rawan manipulasi. Untuk menambah komplikasi, setiap saat penduduk dapat bertambah karena kelahiran atau migrasi masuk, dan berkurang karena kematian atau migrasi keluar.

Para ahli demografi (seperti hanya para ilmuan lainnya) akan mempertimbangkan semua isu teknis itu sebelum menyajikan angka terbaik mereka. Sajian mereka pasti akan dilengkapi kata pengantar yang isinya kira-kira: “Inilah kebenaran parsial (dengan huruf k kecil) yang bisa saya sajikan, dan ini bukan Kebenaran total (dengan huruf K besar)”. Bagi Muslim, keyakinan mengenai yang terakhir ini (Arab: ‘ilmal yaqinhaqqul yaqin) baru akan diperoleh setelah “masuk dalam kubur” (QS 102:3, 56:96. 69:51).

Otoritas Profesional

Dalam kasus di atas, sikap yang paling masuk akal adalah memasrahkan-diri (Arab: aslama) kepada para ahli kependudukan. Mereka memiliki otoritas profesional di bidang itu. Dalam konteks AS, Fauci[2] berada pada posisi itu ketika mengemukakan angka kematian korban Covid-19 negaranya.

Untuk mengemukakan pendapatnya itu Fauci hampir dapat dipastikan telah mempelajari data yang relevan, mengevaluasi tingkat reliabilitas data yang tersedia secara cermat, serta menimbang-nimbang banyak faktor pengaruh secara profesional. Termasuk dalam faktor itu adalah keadaan cuaca, tingkat kontak karena antar penduduk, tingkat kepatuhan masyarakat AS dalam mengikuti aturan yang berlaku, perilaku Covid-19 yang baginya masih misterius, angka fatalitas, ketersediaan obat/vaksin yang aman, serta berbagai skenario mengenai semua itu.

….. Fauci…  menimbang-nimbang banyak faktor pengaruh… termasuk tingkat kontak  antar penduduk, tingkat kepatuhan masyarakat AS dalam mengikuti aturan yang berlaku, angka fatalitas, ketersediaan obat/vaksin yang aman, serta berbagai skenario mengenai semua itu

Pertanyaannya, kenapa Trump menentang pendapat Fauci? Jawabannya mungkin ini: Trump sangat berkepentingan mencitrakan dirinya sebagai aktor utama pemulihan ekonomi AS yang tengah terancam bangkrut. Motivasi pemulihan ekonomi tentu suatu kebajikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Isunya di sini, motivasi itu diduga kuat dijadikan pembenar penciptaan-diri untuk kepentingan kampanye Pilpres AS dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai catatan, kurva kasus Covid-19 AS sebenarnya masih setara dengan Indonesia, masih dalam Zona Merah.

Rujukan Statistik

Kembali ke isu Soviet yang angkanya diragukan para ahli. Isu besarnya di sini adalah akuntabilitas pemerintah dalam menyajikan statistik resmi (official statistics). Pertanyaannya, apakah statistik yang dikemukakan berasal dari kegiatan statistik yang mengikuti kaidah statistik secara konsisten dan dilakukan semata-mata untuk memotret realitas lapangan yang sebenarnya. Dalam kalimat terakhir di atas kata semata-mata digarisbawahi untuk menekankan bahwa secara profesional, lembaga statistik negara perlu memiliki otoritas penuh dibidang metodologi kegiatan statistik dan menyajikan hasilnya yang bebas kepentingan politik.

Dalam konteks ini, pengalaman di era Presiden Suharto layak dicatat. Ketika itu kewenangan menyampaikan laporan statistik berada pada Menteri Penerangan atau menteri yang ditunjuk, bukan pada BPS. Pengalaman Jerman juga menarik untuk dicacat. Ketika ibu kota negaranya Bonn, kantor “Statistik Federal” berlokasi di Berlin. Begitu ibu kota negara pindah ke Berlin, kantor statistik pindah ke Bonn. Kini, dengan sekitar 2.300 staf, kantor itu berlokasi di Wiesbaden (pusat), Bonn dan Berlin. Model ini tak-pelak menguatkan kredibilitas Kantor Statistik sebagai lembaga independen sehingga produknya dapat dipercaya.

Statistik merepresentasikan kebenaran atau realitas sejauh dapat diamati dan diukur sehingga tidak mewakili realitas mutlak. Ketika berbicara selang kepercayaan (confidence interval) orang statistik menegaskan kemustahilan memotret realitas mutlak. Walaupun mengandung keterbatasan melekat, statistik paling masuk akal untuk dijadikan rujukan bersama (Inggris: common denominator, Arab: kalimatun sawa) semua pihak yang berkepentingan.

Walaupun mengandung keterbatasan melekat, statistik paling masuk akal untuk dijadikan rujukan bersama bagi semua pihak yang berkepentingan.

Dalam situasi ideal, dengan memfungsikan statistik sebagai rujukan bersama, kontroversi Trump-Fauci tidak perlu terjadi karena bukan saja tidak produktif tetapi juga dapat membahayakan kepentingan hidup orang banyak. Analog dengan kecurigaan terhadap angka Soviet terkait Covid-19.

Wallahualam….. @

[1] Inilah paradoks-nya. Bagi para sufi tidak terjangkau bukan berarti sangat jauh, tapi justru sangat dekat; satu-satu bisnis berharga di dunia ini adalah mendekati-Nya, terus-menerus, tanpa jeda. Huston Smith menyebut sufi sebagai orang yang “tidak sabaran ingin bertemu Tuhan, bukan di akhirat nanti, tapi di dunia ini sekarang”.

[2] Fauci (1940-) adalah seorang dokter dan ahli imunologi AS yang telah menjabat sebagai direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) sejak 1984 dan menjadi salah satu dari anggota utama Gugus Tugas Coronavirus Gedung Putih sejak Januari 2020. Dia dianggap sebagai salah satu tokoh medis paling terpercaya di AS yang juga diakui sebagai salah satu pakar penyakit menular terkemuka di dunia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.