Covid-19: Indonesia, Malaysia, dan Filipina

Data WHO menunjukkan bahwa sampai pada 7/6/2020 secara global ada sekitar 7.09 juta total kasus yang terkonfirmasi terjangkit Covid-19. Ini hampir mendekati angka 1 per mil penduduk (total populasi global sekitar 7.75 milyar). Ini mungkin pandemi terluas dalam sejarah kemanusiaan. Pertanyaannya bagaimana angka dan perkembangan terkini di Indonesia. Tulisan ini mencoba menjawab secara singkat pertanyaan ini. Agar lebih bermakna, angkanya dibandingkan dengan dua negara ASEAN yaitu Malaysia dan Filipina. Menurut Worldmeter per 7/6/20, total kasus di tiga negara ini relatif terbanding. Dilihat dari total kasus, misalnya; Indonesia: Malaysia: Filipina = 31,186: 8,222: 21,895. Sementara dari sisi total kematian Indonesia: Malaysia: Filipina = 1,851: 117 : 1,003. Jelas terlihat Malaysia paling unggul: total kasus dan total kematian yang paling rendah.

Tujuh negara ASEAN lainnya “terlalu baik” untuk dibandingkan. Sebagai ilustrasi, total kasus di Vietnam dan Kamboja masing-masing hanya 329 dan 126 kasus, masing-masing tanpa kasus kematian. Sebagai ilustrasi lain, Singapura sekalipun memiliki kasus total yang lebih tinggi dari Indonesia yaitu 37,910, total angka kematiannya hanya 25 kasus (Indonesia: 1,851 kasus).

Data Laporan dan Masalahnya

Bagian selanjutnya tulisan ini, kecuali disebutkan lain, menggunakan data WHO[1] sebagai sumber data utama. Sumber ini mungkin paling kredibel untuk perbandingan semacam ini. Yang perlu dicatat, data WHO bersifat sekunder; artinya, berdasar data laporan dari negara-negara anggota. Akibatnya, kualitas datanya tergantung pada kualitas data serta akuntabilitas administrasi pelaporan dari masing-masing negara anggota.

Dalam konteks ini, kecepatan laporan menjadi penting. Artinya, jarak waktu antara terjadinya infeksi (onset) dengan pelaporan idealnya tidak tertunda terlalu lama. Inilah masalah umum negara-negara berkembang. Menurut seorang ahli data epidemiologi FKM-UI (komunikasi personal), untuk kasus Indonesia, jarak waktu itu adalah 1-2 minggu. Ini berarti laporan hari h sebenarnya menunjukkan keadaan (t-7) atau (t-14) yang lalu. “Celakanya”, pola penundaan laporan tidak bersifat acak sehingga tidak bisa diabaikan secara statistik.

Bagian selanjutnya tulisan diarahkan untuk memotret gambar besar tren kasus baru (harian) di Indonesia dalam perbandingannya dengan Malaysia dan Filipina menggunakan data laporan (WHO) dengan segala keterbatasan sebagaimana baru saja dibahas. Agar bermakna, tulisan ini didasarkan pada dua asumsi. Pertama, masalah penundaan laporan tidak mempengaruhi secara signifikan pola (bukan angka atau level) dan arah tren angka yang menjadi perhatian. Kedua, konsep, definisi, dan metode penghitungan data tidak berbeda antar negara secara signifikan; demikian halnya sistem dan akuntabilitas pelaporan serta akuntabilitas administrasi pelaporan.

Kasus Baru (Harian)

Grafik 1 menunjukkan tren kasus baru (harian) Covid-19 di Indonesia, Malaysia dan Filipina. Sebagai catatan, periode data yang dibandingkan disesuaikan dengan data Indonesia yang baru tersedia 2/3/20. (Data Malaysia tersedia sejak 25/1/20; Filipina sejak 30/1/20.) Ada tiga catatan mengenai Grafik 1 yang layak memperoleh perhatian:

  • Di tiga negara yang diperbandingkan angka kasus baru Covid-19 berfluktuasi atar waktu. Hal ini terutama berlaku untuk Indonesia dan Filipina. Fluktuasi ini patut diduga sebagian terjadi karena masalah penundaan laporan yang tidak bersifat acak sebagaimana di bahas sebelumnya.
  • Sejak minggu pertama Maret 2020, angka Malaysia selalu lebih rendah dari pada angka-angka di dua negara lainnya.
  • Dibandingkan dengan angka Filipina, angka Indonesia selalu lebih tinggi. Sedikit kekecualian terjadi dalam periode awal Maret dan awal April, serta akhir Mei 2020. Angka Filipina pada akhir Mei relatif sangat tinggi.

Grafik 1: Tren Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Malaysia dan Filipina

Demikian tiga catatan penting mengenai Grafik 1. Catatan penting lainnya, untuk Indonesia, ada perbedaan pola yang mencolok antara Jakarta dan Luar Jakarta (lihat Grafik 2, Sumber: Kompas). Angka Jakarta relatif stabil pada angka relatif rendah, di bawah angka 100-an, mirip dengan pola Malaysia sebagaimana akan terlihat nanti.

Grafik 2: Kasus Harian Kasus Positif Covid-19, Indonesia VS Jakarta

Penghalusan Data

Pergerakan angka pada Grafik 1 sulit dibaca karena faktor fluktuasi antar waktu. Untuk mengatasi ini diperlukan penghalusan data (data smooting) agar dimungkinkan melihat pola umum serta trennya.

Grafik 3 menyajikan menyajikan pola umum dan tren yang dimaksud menggunakan metode LOWESS (locally weighted scatterplot smoothing). Sebagai catatan, LOWESS (seperti halnya LOESS) adalah metode penghalusan data dengan menggabungkan model regresi ganda menggunakan data “tetangga terdekat” (k-nearest-neigbor). Karena menggunakan data tetangga maka secara logis metode ini dapat mengurangi sebagian dampak penundaan laporan [2]

Grafik 3: Tren Kasus Baru Covid-19 di Indonesia , Malaysia dan Filipina

(Lowess Smoother)

Bacaan Grafik 3 perlu difokuskan pada pola dan tren umum sebagaimana ditunjukkan oleh garis berwarna merah. Berdasarkan garis itu terkesan masih sulit untuk mengklaim total kasus di negara itu sudah “aman” dalam arti turun secara meyakinkan:

  • Filipina terkesan masih naik malah meningkat kecepatannya;
  • Malaysia terkesan mengarah pada gelombang peningkatan kedua (second wave), model spiral fungsi Sinus (?); dan
  • Indonesia jelas masih naik walaupun terkesan melambat.

Semua itu tentu interpretasi pribadi sekalipun berbasis data empiris. Interpretasi lebih cermat pasti lebih mungkin jika datanya dibagi per sub-nasional. Sebagai ilustrasi, untuk kasus Indonesia, Grafik 2 menunjukkan perbedaan pola nasional dan Jakarta. Selain itu, Grafik 4 memberikan kesan kasus di Jakarta cenderung turun sekalipun masih dibayangi second wave (lihat paruh kedua kurva hasil LOWESS smoothing), mirip Malaysia.

Grafik 4: Tren Kasus Baru (Harian) dan Total Kasus Jakarta

Sumber: M.N. Farid dan Tim FKMI-UI (mimeo, komunikasi personal); disajikan di sini setelah memperoleh izin yang bersangkutan.

*****

Kasus Covid-19 di Indonesia seperti halnya di Malaysia dan Filipina masih sulit dikatakan telah turun secara mantap. Ini analisis antar negara. Patut diduga ada variasi antar sub-nasional. Untuk Indonesia, misalnya, tren kasus baru (harian) di Jakarta cenderung turun sejak awal April. Walaupun demikian, bayang-bayang second wave masih mengintai. Jadi, masih memerlukan kewaspadaan semua pihak.

Wallahualam….. @

[1] Menurut wilayah kerja WHO, Malaysia, Filipina dan Vietnam termasuk kawasan Pasifik Barat (WPRO); Indonesia, Thailand, Myanmar dan Timor Leste, seperti halnya India dan Maldives misalnya, termasuk kawasan Asia Tenggara (SEARO).

[2] Pendapat berbeda dikemukakan oleh salah seorang ahli epidemiologi (komunikasi personal).