Dampak Ekonomi Covid-19: Lebih Buruk dari Dugaan


Konteks

Kapan pandemi Covid-19 akan berakhir? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Kasusnya di sebagian kawasan menurun secara meyakinkan tetapi di sebagian kawasan lainnya naik juga secara meyakinkan. Isyarat lonjakan kasus baru kini semakin memprihatinkan. Kasus semacam ini dilaporkan dialami, misalnya, di 36 negara bagian AS. Di Yaman yang dua bulan lalu memiliki kasusnya paling rendah (hanya 1 kasus), sebagai misal lain, kini mengalami lonjakan kasus yang cenderung meningkat. Yaman kini menjadi easy target (istilah penyiar BBC-TV) bagi pandemi Covid-19. Yang layak-catat, di luar dugaan sebelumnya, Covid-19 kini cenderung menyasar kelompok usia muda: median umur korban pandemi cenderung turun. Menurut laporan Wapres AS, sekitar 50% kasus baru di AS berusia kurang dari 35 tahun.

Yang menambah komplikasi, pandemi Covid-19 ini berdampak sangat negatif terhadap sektor ekonomi yang pada gilirannya menyulitkan semua sektor lainnya. Pertanyaannya bukan ya atau tidak tetapi seberapa besar dampak buruk itu. Isu inilah yang dicoba diulas secara sekilas dalam tulisan ini.

Tertolong China

World Economic Outlook (WEO) menduga ekonomi global akan mengalami kontraksi. Lembaga ini menaksir pertumbuhan Real GDP global pada 2020 bukan hanya turun tetapi negatif atau minus. Jika Real GDP dianalogikan dengan kue maka pertumbuhan negatif berarti berkurangnya ukuran kue (global) yang pada gilirannya berarti semakin kecil ukuran kue yang dapat dinikmati masyarakat global. Demikianlah halnya karena populasi global diproyeksikan masih akan tumbuh sampai akhir abad 21 ini[1]. Ini isu kompleks. Untuk menambah kompleksitas, pembagian jatah kue antar negara sepanjang sejarah selalu timpang dan bias ke arah negara-negara maju.

Menurut sumber yang sama pertumbuhan “kue” global minus  3.0% pada 2020 dan diharapkan plus 5.8% pada 2021. Ini taksiran April 2020. Taksiran ini dinilai terlalu optimistis sehingga WEO merevisinya Juni ini: real GDP global minus -4.9% pada 2020 dan plus 5.4% pada 2021. Dinyatakan secara berbeda, dampak pandemi Covid-19[2] terhadap ekonomi global lebih buruk dan pemulihannya lebih lambat dari yang diduga sebelumnya.

Global growth is projected at –4.9 percent in 2020, 1.9 percentage points below the April 2020 World Economic Outlook (WEO) forecast. The COVID-19 pandemic has had a more negative impact on activity in the first half of 2020 than anticipated, and the recovery is projected to be more gradual than previously forecast. In 2021 global growth is projected at 5.4 percent. Overall, this would leave 2021 GDP some 6½ percentage points lower than in the pre-COVID-19 projections of January 2020. The adverse impact on low-income households is particularly acute, imperiling the significant progress made in reducing extreme poverty in the world since the 1990s.

Angka global itu sebenarnya tertolong kinerja ekonomi China yang pada 2020 real GDP-nya masih diduga masih akan positif, plus 1%. Dari 30 negara yang dilaporkan WEO, hanya dua negara yang dalam 2020 pertumbuhannya positif, China dan Mesir (plus 2%).

The COVID-19 pandemic has had a more negative impact on activity in the first half of 2020 than anticipated, and the recovery is projected to be more gradual than previously forecast (WEO).

Kinerja Indonesia

Sebagaimana dilaporkan WEO, angka kontraksi ekonomi 2020 bervariasi antar negara. Di lima negara angka kontraksi (diukur dengan pertumbuhan real GDP) mencapai dua digit: Italia dan Spanyol; masing-masing minus 12.8%; Prancis, Inggris dan Mexico masing-masing minus 12.5%, 10.5% dan 10.2%. Tabel 1 menunjukkan angka lebih lengkap dan Grafik menyajikan gambaran visual untuk 2020

Seperti terlihat pada Grafik 1, angka untuk Indonesia paling rendah dibandingkan dengan angka dari 30 negara yang dibandingkan (kecuali China dan Mesir yang angkanya positif). Dengan angka minus 0.3% Indonesia sebenarnya  “lebih tangguh” dari tiga negara jiran yaitu Thailand, Malaysia dan Filipina yang mengalami kontraksi ekonomi (dikur dengan pertumbuhan real GDP) masing-masing 7.7%, 3.8% dan 3.6%. Yang layak-catat, WEO menaksir pertumbuhan real GDP Indonesia pada 2021 sekitar 6.1%, lebih rendah dari angka-angka Malaysia (6.3%) maupun Filipina (6.8%).

…. Dengan angka minus 0.3% Indonesia sebenarnya “lebih tangguh” dari Thailand, Malaysia dan Filipina yang mengalami kontraksi ekonomi masing-masing 7.7% 3.8% dan 3.6%.

Tabel 1: Pertumbuhan Negatif Real GDP di 30 Negara Terpilih

(2020 dan 2021 Angka Proyeksi)

Sumber: WEOA Crisis like No Other, An Uncertain Recovery”

 

Grafik 1: Proyeksi Pertumbuhan Real GDP di 30 Negara Terpilih 2020

Sumber: WEOA Crisis like No Other, An Uncertain Recovery”

 

*****

Semua angka pada Grafik 1 tidak perlu dibaca secara harfiah tetapi layak dicermati sebagai probable arah dalam waktu dekat ini. Argumennya, sebagaimana layaknya semua taksiran manusiawi, taksiran WEO mengandung faktor ketidakpastian (uncertainty). Dalam hal ini WEO mengakuinya secara terbuka sebagaimana terungkap dalam judul artikelnya: A Crisis like No Other, An Uncertain Recovery. Catatan ini sejalan dengan kekhawatiran global mengenai kemungkinan merebaknya gelombang ke-2 pandemi Covid-19 yang gejala-gejalanya terus bermunculan dan rajin diwanti-wanti oleh WHO. Pada analisis terakhir, siapa yang dapat memastikan apa yang akan terjadi hari besok (QS 18:23)?

Wallahualam.…. @

[1] Mengenai isu ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/06/22/global-population-21th-century/

[2] Faktor lain tentu berkontribusi termasuk melemahnya “wibawa” WTO sebagaimana terlihat dari nasehatnya yang diabaikan dalam kasus Brexit Inggris dan perseteruan AS-China.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.