Covid-19, Ekonomi dan Penganggur: Kasus Amerika Serikat


Konteks

Covid-19, ekonomi dan penganggur. Tiga kata ini merefleksikan krisis global masa kini. Dampak buruk Covid-19 terhadap ekonomi jelas dan terdokumentasikan secara relatif memadai: statistik untuk menilai secara objektif relatif mudah diakses. Dampak buruk terhadap ketenagakerjaan juga jelas tetapi statistik yang relevan masih langka. Sejauh ini penulis hanya mampu mengakses data Amerika Serikat (AS) yang melalui tulisan ini dimanfaatkan untuk menilai dampak buruk Covid-19 terhadap ketenagakerjaan, menggunakan ukuran angka pengangguran.

Klaim Berlebihan

Bagi AS– tidak mustahil juga bagi negara lain– dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan luar biasa. Angka penganggur negara ini menembus dua digit (10% ke atas) sebagaimana disajikan dalam laporan thebalance berikut:

The current U.S. unemployment rate fell slightly to 13.3% after reaching 14.7% in April 2020. More than 20 million workers were let go from their jobs in response to the coronavirus pandemic. The forecast for second-quarter 2020 is 14% as the economy recovers from the shut-down.

Untuk melihat dimensi sejarahnya dapat dilihat tren angka pengangguran selama 70 tahun terakhir sebagaimana disajikan oleh Grafik 1. Dari grafik ini ada tiga catatan yang layak dikemukakan. Pertama, sejak 1950, angka pengangguran selalu satu digit kecuali pada 1981 (11%) ketika krisis moneter (angka inflasi yang hiper) dan 2009 (10%) ketika terjadi krisis ekonomi. Kedua, pada 2020 angka pengangguran melonjak luar biasa padahal sebelumnya terus turun sejak 2010. Ketiga penurunan angka penganggur sampai 2019 berlangsung sejak 2010.

Catatan terakhir menunjukkan penurunan angka pengangguran berlangsung sejak era Obama, bukan baru terjadi di era Trump sebagaimana sering diklaim oleh Administrasi Trump. Dinyatakan secara berbeda, klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Grafik 1: Tren Angka Pengangguran AS, 1950-2020

Sumber: thebalance

….. klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Pertanyaan Moral

Angka pengangguran 14% (kuartal II 2020) bagi AS luar biasa tinggi karena yang biasa sejak 1942 angkanya hanya satu digit (4-6%). Dalam konteks ini, peristiwa pada 1942 dan 1945 layak dibubuhi catatan khusus:

  • Tahun 1942 adalah tahun ke-3 Perang Dunia II (PD II). Pada tahun ini angka pengangguran AS hanya 5%. Yang menarik, angka itu cenderung turun pada tahun-tahun berikutnya: 2% (1943), 1% (1944) dan 2% (1945).
  • Pada 1945 PD II berakhir. Angka pengangguran hanya 2% sementara angka pertumbuhan ekonomi minus 1%. Yang menarik, tahun berikutnya angka penganggur masih masih relatif rendah (4%) padahal angka pertumbuhan ekonomi minus 12%.

Dari catatan itu dapat ditarik pelajaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu terkait secara langsung dengan angka pengangguran[1]. Pelajaran lainnya, industri terkait perang “bagus” untuk menekan angka penganggur. Catatan kedua menimbulkan pertanyaan moral: Apakah menekan angka pengangguran melalui pembangunan industri “perang” dapat dibenarkan secara moral? Pertanyaan analog: Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Tidak Sederhana

Gambaran menyeluruh tren angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi (GDP growth) dalam periode 1930-50 disajikan pada Grafik 2. Pada grafik ini tampak kecenderungan penurunan angka pengangguran di era PD II walaupun angka pertumbuhan ekonomi berfluktuasi bahkan negatif.

Grafik 3 menyajikan hal serupa tetapi untuk periode 1951-2000. Pada grafik ini tampak dalam periode 1993-2000, misalnya, kecenderungan umum penurunan angka penganggur sejalan dengan kenaikan angka pertumbuhan ekonomi. Pola serupa juga terjadi dalam dekade terakhir sejak 2011 sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 4.

Grafik 2: Tren Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1930-1950

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 3: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1950-2000

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 4: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 201-2019

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Dari tiga grafik ini tampak hubungan yang tidak sederhana antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi: ada hubungan negatif antara keduanya tetapi tidak selalu. Di sini letaknya arti penting intervensi pemerintah.

…. antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi ada hubungan negatif tetapi tidak selalu.

Intervensi Pemerintah

Melabeli AS sebagai negara liberal secara ekonomi mungkin menyesatkan. Fakta sejarah menunjukkan pemerintah AS seringkali melakukan intervensi terhadap kegiatan ekonomi “pasar-bebas” untuk melindungi kepentingan umum termasuk dalam bidang ketenagakerjaan. Pihak eksekutif tertinggi AS pada umumnya memprakarsai intervensi yang dimaksud seperti terlihat dalam beberapa kasus berikut.

  • Inisiatif Presiden Roosevelt (1933) untuk mengamankan sistem jaminan Bank untuk mengatasi Depresi Besar yang dipicu oleh rontoknya pasar saham (1929).
  • Inisiatif Presiden Truman yang menginstruksikan George yang (diakui sebagai arsitek kemenangan PD II) untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelesuan ekonomi akibat perang yang melahirkan apa yang dikenal sebagai Marshall Plan (1947).
  • Obama tax cut (2010) untuk keluar dari krisis ekonomi 2009, dan
  • Tumpt tax cut (2018) untuk memberikan dorongan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi dan menekan angka pengangguran

Yang terakhir secara luas dinilai berhasil dan keberhasilan ini merupakan andalan Trump dalam memenangkan Pilpres mendatang. Yang layak-catat, inisiatif menambah sekitar $1 triliun utang negara dalam 10 tahun mendatang.

Kebijakan Trump hampir selalu menuai kontroversi khususnya antara kalangan Republik dan kalangan Demokrat. Tapi dalam kasus jaminan penganggur hampir tidak ada yang mengkritik. Langkah ini secara ekonomi memang dinilai paling efektif untuk menggerakkan ekonomi dan mengurang dampak pengangguran. Logikanya sederhana: Uang jaminan pengangguran yang diberikan akan segera dibelanjakan oleh penerima untuk memperoleh kebutuhan pokok. Ini berarti kegiatan ekonomi penyedia barang dan jasa kebutuhan pokok bergerak. Pada gilirannya, ini akan berdampak positif terhadap lapangan kerja jasa keamanan di pasar, jasa transportasi, dan petani. Singkatnya, uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

….. uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

******

Kebijakan Trump terkait jaminan bagi penganggur, karena efektivitas dan kecepatan dampaknya, layak dipertimbangkan oleh pemerintah mana pun termasuk Indonesia. Untuk Indonesia belum tersedia data resmi yang dapat diakses oleh publik) pengangguran akibat Covid-19. Angkanya beredar antara 2-6 juta[2]. Katakanlah angkanya 4 juta dan pemerintah bermaksud memberikan jaminan Rp 1 juta/kepala/bulan maka kebutuhan per bulan hanya Rp 4 triliun. Hemat penulis angka ini relatif kecil terutama jika dilihat sebagai umpan untuk menggerakkan ekonomi.

Wallahualam.…. @

[1] (Orang ekonomi bilang angka penganggur adalah lag variable; artinya variabel itu akan terdampak secara positif (turun) jika pertumbuhan ekonomi terlalu berlangsung beberapa lama.)

[2] Perbedaannya terlalu besar untuk mengandalkan salah satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.