Memahami Peradaban Muslim

1.  Pendahuluan

Islam, Muslim dan Umat. Istilah-istilah ini saling terkait. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Rasulullah Salla Allah Wa-‘alaiahi Wa-Sallam (selanjutnya, Muhammad SAW atau Rasul SAW). Istilah Muslim merujuk pada penganut agama ini dan istilah Umat pada komunitas Muslim. Buku ini bukan tentang Islam tetapi tentang komunitas penganut agama ini dan dapat dilihat sebagai pengantar sejarah ringkas peradaban awal komunitas ini.

Tema utama buku ini adalah sejarah peradaban Umat ini dalam periode Rasul SAW. Ini berarti mencakup periode sekitar 23 tahun: 13 tahun di era Mekah dan 10 tahun di era Madinah. Periode ini menarik dan unik; menarik karena menyaksikan pengalaman manusiawi bagaimana suatu peradaban manusia dunia-bawah-sini “berinteraksi” dengan ajaran-ajaran dunia-atas-sana; unik karena pengalaman semacam ini yang pertama dan terakhir, paling tidak dalam perspektif Muslim.

Buku ini dipersembahkan bagi mereka yang terlalu sibuk untuk membaca buku tebal, memiliki modal minat baca yang pas-pasan, tetapi berhasrat memahami tema buku ini menyeluruh mengenai tema buku ini dan. Buku ini utamanya didedikasikan bagi pembaca Muslim yang memiliki hasrat untuk menyegarkan ingatan mengenai leluhur tradisi agama mereka, dengan rujukan catatan sejarah yang dapat diandalkan. Lebih dari itu, buku ini dilengkapi rujukan teks suci Al-Quran yang bagi Muslim merupakan sumber ajaran primer agama mereka dan memiliki nilai kebenaran universal dan perenial (abadi).

Buku ini juga dipersembahkan dengan rendah hati kepada pembaca non-Muslim, terutama bagi kalangan kebanyakan orang Barat atau terbaratkan (weternized). Bagi mereka buku ini diharapkan dapat membantu merefleksikan kemungkinan kesalahpahaman mereka terhadap Islam sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut:

Bagi orang Barat biasa, dunia Islam tampak tidak bisa dimengerti. Sikapnya mereka fanatik dan tanpa kompromi, dan tindakan mereka sewenang-wenang. Ini bukan satu-satunya penilaian modern. Sejauh Abad Pertengahan, propaganda gereja Kristen menampilkan kaum Muslim sebagai orang-orang liar, dan di seluruh Eropa orang-orang berbondong-bondong menyambut spanduk-spanduk Perang Salib untuk memulihkan Tanah Suci ke dunia Kristen (Roberts, 1982:1).

Menurut Roberts dalam buku yang sama (halaman 1), kesalahpahaman ini hanya “sedikit berubah”, bukan karena karya-karya tentang Islam tidak diterbitkan di Barat. Apa yang “hilang secara mencolok … adalah karya populer yang menetapkan dengan jelas keyakinan, sikap dan adat istiadat Islam dengan cara yang mudah dimengerti oleh pembaca Barat tetapi tidak dilihat melalui tabir nilai Kristen”.

Berbeda dengan Roberts yang memfokuskan pada berbagai aspek dari ajaran Islam termasuk hukum, politik, ekonomi dan kehidupan keluarga, buku ini fokus pada sejarah peradaban Muslim awal. Materi bahasannya  relatif lengkap tapi ringkas: lengkap karena mencakup hampir semua peristiwa penting yang dialami Umat dalam fase awal sejarahnya, ringkas karena fokus hanya pada isu-isu yang dinilai mendasar. Penekanan diberikan lebih pada upaya memahami “hutan” sejarah dari pada mencermati “pohon” peristiwa yang berlangsung di dalamnya.

Buku ini mengutip relatif banyak terjemahan teks suci Al-Quran sebagai rujukan, khususnya dalam upaya memahami dimensi spiritual dari suatu peristiwa sejarah yang tengah dibahas. Selain itu, Al-Quran, dengan gaya narasinya yang khas, sebenarnya memberikan banyak kesaksian mengenai karakteristik pelaku dan peristiwa sejarah. Sebagai ilustrasi, Kitab Suci ini memberikan kesaksian mengenai karakter Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, dua kaum yang menjadi tulang punggung komunitas Muslim awal. Sebagai ilustrasi lain, teks suci juga menjelaskan hakikat kemenangan Perang Badar dan kekalahan Perang Uhud yang dialami Umat. Jadi, sebenarnya agak mengherankan jika para sejarawan tidak memanfaatkan Kitab Suci sebagai rujukan mereka. Buku ini menggunakan Al-Mizan (2008) sebagai satu-satunya rujukan untuk menerjemahkan Al-Quan.

Kemunculan suatu peradaban tentu memiliki konteks yang perlu dicermati agar diperoleh pemahaman yang memadai mengenai peradaban yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebelum membahas peradaban komunitas Muslim, berikut disajikan uraian singkat mengenai konteks sejarah kemunculan agama yang mewarnai peradaban Muslim, Islam.

 

 

2.  Konteks Sejarah Kelahiran Islam

Perkembangan Agama Kristen

Islam lahir setelah Kristen berumur sekitar enam abad. Menurut Lewis (1995), yang paling mewarnai sejarah enam abad pertama Masehi adalah kemajuan Kristen. Selama periode ini penganut agama ini meningkat secara perlahan tetapi pasti, tidak hanya di kawasan Romawi tetapi juga di Timur Tengah dan sekitar.

Agama ini pada dasarnya merupakan bagian dari tradisi monoteis Ibrahim AS (Inggris: Abraham) yang didasarkan pada kehidupan dan ajaran Nabi Isa Ibn Maryam AS atau Yesus dari Nazareth. Orang Kristen mengenal Yesus sebagai Kristus atau “Mesias” yang merupakan titik pusat ajaran agama Kristen. Bagi mereka Yesus adalah Anak Allah dan penyelamat kemanusiaan yang datang sebagai Mesias (Kristus) yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Agama Kristen memainkan peran penting dalam pembentukan peradaban Barat[1].

Mengenai perkembangan kemajuan Agama Kristen ada tiga catatan yang layak dicermati:

  • Ajaran agama ini menyebar dan diterima secara perlahan oleh masyarakat. Akibat penyebaran ini agama non-Kristen hilang atau meredup. Dalam hal ini, Yahudi dan Persia merupakan kekecualian.
  • Selama tiga abad pertama dan awal abad ke-4, Kristen tumbuh dan menyebar sebagai protes terhadap tatanan Romawi, terus berupaya melepaskan diri dari pengaruhnya, dan menawarkan tatanan sendiri dengan kepemimpinan dan hierarki sendiri. Pertumbuhan dan penyebaran ini pada akhirnya mencakup semua dunia Romawi.
  • Dengan masuknya Kaisar Konstantin (Constantine) (311-337M) sebagai penganut Agama Kristen, agama ini menaklukkan Romawi dan –dalam pengertian tertentu—Romawi menaklukkan agama ini.

Setelah menaklukkan Romawi, proses Kristenisasi negara Romawi berlangsung secara bertahap dan mencapai momentum yang menentukan dalam Era Kaisar Justinian (527-569). Mengenai yang terakhir ini Lewis (1995:33) menulis:

…. pada masa kaisar Kristen besar Justinian (527-569), semua perangkat kekuasaan Romawi digunakan, tidak hanya untuk menetapkan supremasi Kekristenan atas agama-agama lain, tetapi juga untuk menegakkan supremasi satu doktrin yang disetujui oleh negara di antara banyak aliran pemikiran yang sekarang terbagi.

Pergeseran Gravitasi Kekuasaan Romawi

Menjelang kelahiran Islam, gravitasi kekuasaan Romawi bergeser dari Barat ke Timur yang menurut Lewis (1995) mewarnai sejarah paruh kedua enam abad pertama Masehi. Pergeseran ini mulai sekitar akhir abad ke-4 pasca kematian Kaisar Theodosius (395M). Peristiwa ini menandai mulai pecahnya kekaisaran Roma terpecah menjadi dua: (1) Kekaisaran Barat yang berpusat di Roma, dan (2) Kekaisaran Timur yang dikenal sebagai Bizantium (Inggris: Byzantine) yang berpusat di Konstantionepel (Inggris: Constantinople). Dalam waktu yang relatif singkat, kekaisaran Barat tenggelam oleh serangkaian invasi suku-suku Barbar sehingga akhirnya punah. Kekaisaran Timur terbebas dari masalah ini sehingga dapat bertahan seribu tahun berikutnya.

Mengenai istilah Bizantium dapat disisipkan dua catatan berikut:

  • Orang-orang Bizantium tidak pernah menyebut dirinya orang Bizantium tapi orang Roma (Roman) dan diperintah oleh Kekaisaran Romawi.
  • Sekalipun merasa sebagai Kristen dan orang Roma, orang Bizantium mengungkapkannya dalam Bahasa Yunani (rhomaioi), bukan Latin (romani).

Pergeseran gravitasi kekuasaan diikuti dengan intensitas penggunaan Bahasa Yunani sebagai bahasa pemerintah dan budaya. Penggunaan ini sebenarnya memiliki sejarah panjang jauh sebelumnya: bahasa, tradisi filsafat dan tradisi keilmuan Yunani telah lama mempengaruh bahasa dan budaya lain termasuk Koptik, Aramanik, dan berikutnya Arab.

Perseteruan Romawi-Persia

Romawi adalah suatu kekaisaran besar yang hampir selalu berseteru dengan kekaisaran lain yang setara yaitu Persia. Perseteruan ini dimulai dengan perang antara Kekaisaran Parthia dan Republik Roma sekitar tahun 66 SM. Perseteruan terus berlanjut hampir tanpa jeda dan di era belakangan terjadi antara Kekaisaran Sasanid dan Kekaisaran Roma yang melibatkan negara nomad dan negara-negara bawahan dari masing-masing kekaisaran itu. Perang berakhir karena penaklukkan Arab-Muslim yang mengakibatkan kejatuhan Sasanid dan kerugian teritorial Bizantium.

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Christianity