Perubahan Iklim: Lima Alasan Mengabaikan

Isu perubahan iklim (climate change) sangat riil. Gejalanya dirasakan pada peningkatan suhu global, kenaikan permukaan laut, pengasaman samudera dan dampak iklim serius lainnya bagi wilayah pesisir dan negara-negara pantai dataran rendah, termasuk banyak negara kurang berkembang dan negara berkembang pulau kecil. Dampaknya beragam mulai dari semakin berkurangnya sumber daya alam sebagai dampak negatif dari degradasi lingkungan, termasuk desertifikasi (meluasnya wilayah padang pasir), kekeringan, degradasi lahan, kelangkaan air tawar dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Dari sifatnya mudah dipahami dampak negatif isu perubahan iklim  sebagian bersifat permanen (tidak dapat diperbaharui), menjangkau periode jauh ke depan (far reaching) dan urgen (mendesak). Urgensinya tercantum dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

(We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet .)

Dari diskusi di atas tampak bahwa isu perubahan iklim menyangkut hidup orang banyak (global) generasi sekarang dan juga generasi mendatang. Semuanya menambah dan memperburuk daftar tantangan yang dihadapi umat manusia.

Pertanyaannya, kenapa dalam praktik kita secara kolektif mengabaikan isu perubahan iklim yang sangat riil ini? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan ini.

Seperti akan segera terlihat, jawabannya tidak sederhana karena menyangkut pola pikir (mindest), ketidaktahuan (ignorance) dan perlikau bodoh kita yang cenderung tidak kita sadari. Singkatnya, penjelasannya kompleks. Walaupun demikian, kita paling tidak kita dapat mengidentifikasi lima alasan (reasoning) yang mendorong kita cenderung mengabaikan isu yang menyangkut hajat hidup antar-generasi ini. Berikut ini adalah lima alasan yang dimaksud.

1. Doktrin Waktu Hampa

Penaklukkan Australia oleh Inggris pada abad ke-18 dan ke-19 berdasarkan doktrin hukum yang dikenal sebagai terra nullius, “bukan tanah siapa-siapa”. Doktrin ini menjustifikasi penaklukan dan memperlakukan penduduk asli ( aborigin, aborigine) seolah tidak ada, atau tidak punya hak-milik terhadap tanah leluhurnya itu.

Doktrin serupa tapi tidak sama dengan doktrin terra ini adalah doktrin tempus nullinus (empty time, “waktu hampa”). Doktrin tempus ini, sebagaimana diungkapkan Roman Krznaric (19/2/19), seakan-akan menjustifikasi penjajahan masa depan.

We treat the future like a distant colonial outpost devoid of people, where we can freely dump ecological degradation, technological risk, nuclear waste and public debt, and that we feel at liberty to plunder as we please.

2. Pola Pikir Negatif

Doktrin tempus nullius mempengaruhi pola pikir kita yang negatif mengenai isu perubahan iklim yang berskala TSM- terstruktur, sistematis dan masif: terstruktur karena melibatkan semua agen pembangunan, sistematis karena dikemas dalam model demokrasi yang dapat dikatakan dianut secara universal, dan masif karena diamini oleh semua pemangku kepentingan. Pola pikir yang berskala TSM ini memberikan kita amunisi untuk membela diri secara terampil:

  • Jika dikatakan isu perubahan iklim itu adalah riil dan berbasis ilmiah, maka kita membela diri dengan mengatakan bahwa dampaknya tidak tampak, masih terlalu jauh di depan. Demikianlah pandangan orang yang berpenyakit rabun jarak jauh (nearsight). Itulah penyakit kita secara kolektif.
  • Jika ditunjukkan bukti konkret– misalnya krisis air di India, atau migrasi internal di Afrika yang terjadi utamanya karena dampak perubahan iklim– maka masing-masing kita membela diri dengan mengatakan kira-kira: “itu kan terjadi terhadap mereka, bukan terhadap kita”. Itulah mentalitas “Kita VS Mereka”. Itulah mentalitas kita secara kolektif.
  • Jika diyakinkan pentingnya apek kesehatan dan kelestarian lingkungan dalam model pembangunan ekonomi, maka kita berkilah pertimbangan itu merugikan secara ekonomi dalam jangka pendek (short term). Itulah penyakit short-termism; penyakit yang sejalan dengan penyakit rabun jarak jauh. Itulah penyakit kita secara kolektif.

3. Catat Demokrasi

Praktik demokrasi, di mana pun, didasarkan pada hak konstitusional penduduk dewasa. Jadi, anak-anak, bayi, janin, dan generasi mendatang tidak masuk hitungan. Inilah salah satu catat demokrasi: pengabaian hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Salah satu cacat demokrasi adalah pengabaian hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Cacat ini menjustifikasi eksploitasi lingkungan alam secara semena-mena dengan mengabaikan hak-hak konstitusional generasi menatang. Mereka diperlakukan sama seperti oborigin dalam kasus penaklukkan Australia: hak hidup mereka tidak diakui.

Dalam konteks ini kita perlu mengasah kepekaan mendengarkan suara “malaikat” yang diwakili antara lain oleh Greta Thunberg (16) yang telah berhasil secara gemillang menginspirasi generasi anak-anak sekolah untuk memprotes dan menuding kita kelewat lamban dalam merespons isu perubahan iklim.

Sumber: gambar ini

Apa preastasi gadis ini? Berikut ini adalah sekilas gambarannya:

On 15 March 2019, an estimated 1.4 million students in 112 countries around the world joined her call in striking and protesting. A similar event involving students from 125 countries took place on 24 May 2019.

Thunberg has received various prizes and awards for her activism. In March 2019, three members of the Norwegian parliament nominated Thunberg for the Nobel Peace Prize. In May 2019, at the age of 16, she featured on the cover of Time magazine. Some media have described her impact on the world stage as the Greta Thunberg effect.

4. Ekses Kemajuan Teknologi

Tidak ada yang membantah manfaat positif dari kemajuan teknologi terhadap kenyamanan hidup. Yang luput dari perhatian kita adalah ekses kemajuan ini terhadap perilaku hidup kita sehari-hari dalam kaitannya dengan kerangka waktu kita semakin pendek. Mengenai hal ini Dyson (seorang investor) mengungkapkannya begini:

… in politics the dominant time frame is a term of office, in fashion and culture it’s a season, for corporations it’s a quarter, on the internet it’s minutes, and on the financial markets mere milliseconds. (Dikutip oleh Richard Fisher (10/1/19))

Apa hubungannya dengan isu perubahan iklim?

Kerangka waktu yang semakin pendek mendorong tumbuh-suburnya “isme jangka pendek” (short-termism) yang membuat isu perubahan iklim menjadi kabur dalam kesadaran kongkret kita.

5. Hiper Indivisualisme

Kesibukan kita dalam dunia dengan kerangka waktu yang semakin pendek menyuburkan naluri individualistis kita. Secara psikologis ini mungkin manusiawi. Masalahnya, naluri ini sudah sedemikian tinggi, tak-lagi terkendali, hiper. Mengenai hal ini Krznaric merumuskannya begini:

We live in an age of hyper-individualism, an era in which an overdose of free-market culture and simplistic self-help, have led us to believe that the best way to lead the good life, and achieve human happiness, is to pursue our narrow self-interest, to follow our personal desires. In a way, the question, ‘What’s in it for me?’ has become the leading question of our time.

Demikianlah lima alasan kenapa kenapa kita mengabaikan isu perubahan lingkungan. Daftar semacam ini tentu dapat diperpanjang tetapi empat itu saja sudah memadai untuk bahan refleksi.

Terkait dengan alasan terakhir, hiper individualisme, penangkalnya sebenarnya sederhana yaitu empati. Masalahnya, justru empati ini yang defisit dalam zaman now. Sebagai ilustrasi, di Amerika Serikat level empati dilaporkan turun hampir 50% dalam 40 tahun terakhir dan penurunan paling drastis terjadi dalam 10 tahun terakhir.

Penangkal hiper individualisme adalah empati.

******

Ke mana pun kita memandang, kita melihat kesenjangan sosial dalam berbagai bentuk: di dua-pertiga dunia Barat, kesenjangan kaya-miskin kini lebih parah dibandingkan tahun 1980-an. Di sisi lain, lebih dari satu milyar penduduk hidup di bawah satu dolar/hari. Ke mana pun kita memandang, kita melihat konflik karena berbagai sebab yang semuanya ini membutuhkan empati. Untuk merespons semua itu dibutuhkan empati. Empati dibutuhkan untuk merekat kebersamaan sosial dan menjinakkan mentalitas “Kita VS Mereka” yang menjadi penyebab demikian banyak konflik.

Tapi apa itu empati? Sebagian kita mungkin berpengalaman terlibat dalam perdebatan sengit dengan rekan (termasuk istri) yang hasil akhirnya mengecewakan. Kita mungkin akan berpikir begini: “Aku berharap mereka memahami sudut pandangan saya, sayangnya mereka gagal”. Harapan semacam itulah persisnya empati, bahkan melampaui harapan semacam itu Roman Krznaric (19/2/19):

Empathy can create radical social change. Empathy, I believe, can create a revolution, not one of those old-fashioned revolutions of new laws and institutions, public policies, but a revolution of human relationships. And we urgently need this revolution because of a growing global empathy deficit.

Wallahualam….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com