Pandemi Covid-19: Refleksi (4)

Boleh jadi kita secara kolektif tergolong kufur dalam arti tidak pandai bersyukur. Walaupun demikian, sebagian kita, sekecil apa pun proporsinya, pasti ada yang masih dikaruniai kegemaran minta ampun kepada-Nya, amalan utama waktu sahur (QS 51:18). Kelompok ini layak bergelar elite mustagfirun (meminjam istilah Qurani) yang kita semua orang berhutang budi. Argumennya, sesuai firman-Nya, kita secara kolektif masih terlindungi dari azab-Nya karena elite ini: “Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampun” (QS 8:33).

Boleh jadi Pandemi Covid-19 mengharu-buru masyarakat global terutama karena efek dominonya. Walaupun demikian, sejalan dengan ayat yang baru saja dikutip, pandemi ini belum masuk kategori azab menurut terminologi Qurani.

Jika bukan azab lalu apa? Bisa musibah atau bala; keduanya juga istilah Qurani. Jika bala maka itu suatu keniscayaan manusiawi, bahkan melatarbelakangi tragedi kosmis kematian-kehidupan manusia menurut QS(67: 2). (Ayat ini menyebutkan kematian terlebih dahulu.) Lebih dari itu, menurut ayat yang sama, bala mengandung unsur edukasi agar manusia terdorong melakukan amal terbaik, amal terindah, ahsanu ‘amala.

Di tengah pandemi Covid-19 banyak kabar yang menunjukkan kemuliaan manusia dalam arti mampu melakukan amal terindah. Dari Italia terkabarkan sekelompok volunter tenaga medis, muda dan tua, yang mendedikasikan diri untuk membantu menolong korban Covid-19. Sebagaimana terungkap dalam Wawancara CNN, yang muda bilang “Aku tahu risiko pekerjaan ini dapat menulariku dan orang-orang terkasih di rumah. Tapi yang penting bagiku saat ini bagaimana berkontribusi sesuatu kepada sesama”. Yang tua bilang “Aku tahu apa yang dapat aku lakukan dan kalau tidak sekarang kapan”.

Cerita serupa banyak dari belahan bumi yang lain, khususnya tetapi tidak terbatas pada, mengenai dedikasi para tenaga medis yang bekerja luar biasa intensif dan sangat melelahkan, jauh dari keluarga serta berisiko tinggi, demi menolong korban Covid-19 . Di Indonesia ada cerita semacam ini. Di Indonesia juga ada kabar seorang anak SD yang mengaku menabung beberapa lama agar dapat membelikan masker bagi pak polisi.

Semua cerita di atas  membuktikan manusia dapat melakukan ahsnu ‘amala, amalan ikhlas, bentuk amalan konkret untuk  merealisasikan prinsip kasih-tanpa-pamrih. Itulah sebabnya manusia as such dimuliakan (QS 17:70). Boleh jadi bentuk amalan mereka setara dengan bentuk amalan para mustagfirun dalam konteks kekinian. Boleh jadi amalan para pahlawan-harian (daily heroes, istilah Cuomo) yang menjadi subjek cerita di setara dengan amalan elite mustagfirun.

Jika dugaan di atas benar maka para subjek cerita  layak memperoleh doa terbaik dari kita semua, serta memperoleh insentif yang layak dari para empunya dan pemegang kekuasaan. Mereka menolong korban Covid-19 sekaligus, boleh jadi, memainkan peran penolong kita semua sehingga terhindar dari azab-Nya.

Wallahualam…..@

Pandemi Covid-19: Gambar Besar

Ketersediaan informasi terkait Covid-19 dapat dikatakan melimpah dan sangat beragam. Tantangannya, limpahan dan ragam informasi dapat mengaburkan citra utuh atau gambar besar dari isu pokok yang dalam konteks kali ini adalah pandemi Covid-19. Tulisan ini bermaksud memotret gambar utuh yang dimaksud. Yang ingin dipotret adalah gambaran global secara holistik; fokusnya, agar manageable, diberikan pada beberapa negara yang dinilai paling terinfeksi. Pertanyaan yang ingin dijawab, seberapa luas kasus Covid-19 menginfeksi masyarakat global, bagaimana statusnya saat ini, dan bagaimana kecenderungannya secara umum. Juga, bagaimana kinerja Indonesia dalam kancah global. Sumber data diperoleh dari Worlmeter dan John Hopkins, dua sumber yang secara luas diakui kredibilitasnya.

Sebaran Kasus Antar Negara

Menurut data Worldmeter, per 27/4/2020 sekitar Pukul 6.00 GMT, secara global ada sekitar 3.0 juta orang yang terinfeksi Covid-19, sekitar 207,000 di antaranya meninggal. Angka-angka ini tersebar di lebih 210 negara[1] dengan sangat tidak merata dan sangat terkonsentrasi di belasan negara. Indikasinya, 2 dari 3 kasus Covid-19 ditemukan di 7 negara paling terinfeksi yaitu Amerika Serikat (AS), Italia, Spanyol, Prancis, Jerman, Inggris dan Turki. Angka kasus di masing-masing tujuh negara ini 6 digit atau ratus-ribuan. Khusus untuk AS, angkanya hampir 7 digit.

Di kebanyakan negara, kasus terinfeksi Covid-19 sebenarnya relatif kecil, Hal ini terlihat dari angka mediannya yang hanya 425 (lihat Tabel 1). Ini berarti 50% negara yang terinfeksi Covid-19 hanya memiliki kasus 425 atau kurang. Dengan mengacu pada tabel itu, Indonesia dengan sekitar 9,000 kasus  berada posisi antara persentil 75% dan 90% atau 10%-25% tertinggi di Dunia.

Tabel 1: Sebaran Total Kasus Covid-19 menurut Negara

Sumber: Diolah dari  Worldmeter

Besarnya variasi kasus antar negara terlihat dari angka varian (11 digit); kumencengangnya terlihat dari angka Skewness dan angka Kurtosis. Kemencengannya juga terlihat dari besar perbedaan antara angka rata-rata dan mediannya.

Profil 10 Negara Paling Terinfeksi

Tabel 2, kolom 1, memotret sangat terkonsentrasinya kasus global: secara rata-rata, 7 dari 10 kasus terinfeksi Covid-19 berasal dari 10 negara terdaftar pada tabel itu. Yang perlu dicatat, angka-angka pada kolom ini termasuk kasus yang sudah dinyatakan meninggal (kolom 3) atau tersembuhkan (kolom 4). Jika dua kategori kasus ini dikeluarkan maka hasilnya adalah kasus aktif sebagaimana disajikan pada kolom 2. Kasus aktif (kolom 2) inilah yang menyajikan gambar besar masalah Covid-19 secara lebih cermat dibandingkan total kasus (kolom 1). Totalnya secara global ada sekitar dua juta kasus aktif.

Seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 2, kasus aktif (kolom 2) mengoreksi urutan negara jika dibandingkan urutan sebelumnya menggunakan kasus total (kolom 1). Sebagai ilustrasi, Inggris terkoreksi dari urutan-6 (kolom 1) ke urutan-2 (kolom 2) sementara Cina dari peringkat-8 (kolom 1) ke peringkat-10 (kolom 2).

Tabel 2: Profil Pandemi Covid-19 di 10 Negara Terpilih

Sumber: Diolah dari Worldmeter

Kolom 5 Tabel 2 menunjukkan baru sekitar 30% total kasus yang terinfeksi Covid-19 dapat disembuhkan (recovered). Ini berlaku di 10 negara terinfeksi maupun di luar negara-negara itu. Sisanya yang 70% masih aktif atau sudah meninggal. Ini merefleksikan masih besarnya tantangan global untuk menangani kasus Covid-19. Dalam konteks ini Indonesia masih sangat terbelakang.

Kolom 6 Tabel itu menyajikan angka proporsi kasus yang ditutup (closed cases) yang berakhir dengan kematian. Diukur dengan indikator ini kinerja global adalah 19%. Angka ini jauh lebih tinggi dari angka 10 negara paling terinfeksi (22%), apalagi Indonesia (36%). Kembali Indonesia terlihat paling terpuruk (setelah Belgia).

Perkembangan Kasus Baru

Grafik 1 menyajikan tren kasus di 10 negara paling terinfeksi (versi Johns Hopkins). Grafik ini secara umum menunjukkan perkembangan yang mulai agak melegakan dalam arti kasusnya sudah melalui titik puncak. Fakta ini yang membuat sebagian negara (atau negara bagian) berani “adu nyali” dengan mulai mengizinkan beroperasi kembali beberapa jenis kegiatan bisnis dan kegiatan sekolah.

Grafik 1: Tren Kasus baru di 10 Negara Paling Terinfeksi

Amerika Serikat

Tren kasus baru di AS sudah merata (flattening) bahkan mulai turun. Walaupun demikian kecenderungan turunnya masih belum meyakinkan. Para ahli epidemiologi di sana secara umum memperkirakan pandemi masih akan terjadi di musim gugur mendatang. Tim dari para ahli ini telah membangun model ramalan untuk setiap negara bagian yang hasilnya dijadikan acuan oleh para gubernur untuk menyikapi kebijakan stay-at-home atau lock down. Tidak semua gubernur mematuhi rekomendasi para ahli.

Grafik 2: Tren Kasus Baru di Amerika Serikat

Cina dan Iran

Seperti tampak pada Grafik 3, bagi Cina puncak kasus sudah dilalui sejak pertengahan Februari; sejak awal Maret kecenderungannya tetap pada level relatif rendah. Bagi Iran, puncak kasus terkesan juga sudah dilalui pada akhir Maret, kecenderungannya angka turun secara konsisten walaupun pada level yang relatif tinggi (dibandingkan Cina).

Grafik 3: Tren Kasus Baru di Cina dan Iran

Eropa

Di tujuh negara Eropa yang diamati kasus baru sudah melalui titik puncak dan mulai menurun walaupun ada perbedaan pola di antara mereka. Denmark (data tidak disajikan) dan Jerman mulai membuka kembali kegiatan sekolah dan beberapa jenis kegiatan usaha. Negara lain seperti Inggris tampak masih agak waswas.

Grafik 4: Tren Kasus Baru di Tujuh Negara Eropa

Indonesia

Grafik 5 menunjukkan kasus baru Covid-19 Indonesia sampai 12/4/20 angkanya cenderung naik. Setelah tanggal itu polanya secara umum berfluktuasi walaupun terjadi penurunan dalam empat hari terakhir. Pola ini ditunjukkan oleh angka rata-rata bergerak 5-harian (berwarna merah). Dengan pola semacam ini masih sulit menduga titik puncak puncak kasus. Implikasinya berbeda dengan pengalaman oleh 10 negara terinfeksi, kebijakan untuk melonggarkan kebijakan PSBB aganya masih terlalu berisiko.

Grafik 5: Tren Kasus Baru di Indonesia

Kesimpulan

Kasus Covid-19 sangat bervariasi antar negara dan sangat didominasi oleh belasan negara khususnya 10 negara paling terinfeksi yaitu AS, Spanyol, Italia, Prancis, Inggris, Jerman, Belgia, Belanda, Cina dan Iran. Secara kasar, dua dari tiga kasus global diwakili oleh 10 negara ini. Diukur dengan kasus baru, tren kasus di 10 negara ini sudah melalui titik puncak dan menurun. Agaknya atas dasarnya ini sebagian negara (dan negara bagian di AS) sudah mulai berani melunakkan kebijakan lock down atau berpikir ke arah sana. Pikiran ke arah sana belum waktunya bagi Indonesia dimana kasus puncak sampai sekarang masih sulit diramalkan. Selain itu, diukur dengan proporsi total kasus yang tersembuhkan dan proporsi kasus ditutup yang meninggal, Indonesia tergolong paling terbelakang. Singkatnya, Indonesia masih perlu bersabar, patience,  “…. So Patience is best benefitting for me… ” (QS 12:83).

Wallahualam.….@

[1] Angka ini termasuk wilayah ‘jajahan” (not-being self governing) dan kapal pesiar Diamond Princes. Kini ada 145 negara yang semuanya anggota PBB kecuali Holy Se dan Palestina.

Pandemi Covid-19: Refleksi (3)

Terkait musibah Covid-19 ini seorang ahli tafsir belum lama ini diminta berdoa. Sebelum mengabulkan ia sempat mengagetkan peminta: “Apa yang kamu mau doakan?” “Kenapa tidak melakukan sendiri?” Yang minta terpana. “Kalau minta sesuatu kepada-Nya lakukan secara langsung, dalam bahasamu sendiri kalau perlu, syaratnya tulus. Tidak perlu menunggu guru, ustaz, ulama atau kiai untuk berdoa untukmu”. Demikian nasehat sang ahli.

Nasehat ini menyangkut ajaran esensial dalam akidah Islam, ajaran mengenai pertanggung-jawaban pribadi. Islam menekankan kedekatan hamba dengan Pencipta, “lebih dekat dari pada urat nadi leher” (QS 50:16). Implikasinya perantara tidak diperlukan ketika berdoa. Kalaupun ada bentuknya adalah amalan sendiri.

Ajaran pertanggungjawaban pribadi dipastikan dalam kehidupan di akhirat kelak. Dalam kehidupan ini setiap individu, makhluk langit maupun bumi, datang sendiri untuk  mempertanggungjawabkan amal pribadi. Itulah prinsip keadilan hakiki. Untuk “memastikan” prinsip ini, atau untuk memastikan cakupan, Dia SWT terkesan seakan-akan melakukan semacam sensus. (Tentu itu dalam perspektif manusiawi yang terbatas.):

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dan Allah benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat (QS 19:93-95).

Kembali ke doa.

Sebagai seorang hamba setiap individu berhak berdoa kepada-Nya atas nama pribadi, untuk kepentingan pribadi, dengan cara sendiri. Ini doa-personal[1]. Dalam doa-formal atau doa kanonik (canonical prayer), doa dikemukakan dengan cara baku dan atas nama manusia apa adanya secara keseluruhan (man as such). Redaksi doa formal menggunakan kata subjek jamak. Contohnya, ‘rabbana atina fid dunya….wahai Tuhan kami berikan kepada kami kebaikan di dunia …”. Di sini digunakan kata atina (kepada kami), bukan atini (kepadaku).

Bagi Muslim, dalam rangka doa meminta petunjuk yang dilakukan minimal 17 kali dalam sehari terungkap dalam Alfatihah. Doa ini juga menggunakan subjek jamak (istilah tata bahasa Arab: mutakallim- jama’), ihdina alshhirat almutaqim, bukan ihdini alshit almustaqim.

Dua contoh ini adalah fakta qurani yang merefleksikan ajaran Islam yang pada intinya anti egosentris. Fakta ini semakin kurang disadari. Jangan-jangan musibah Covid-19 sebagai teguran bagi man as such yang dinilai-Nya semakin nafsi-nafsi. Secara fisik, dengan bantuan teknologi, mereka semakin terkoneksi; secara psikis dan emosional, karena kemiskinan spiritual, mereka saling menjauh.

Wallahualam….@

[1] Mengenai doa peronal lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/11/05/doa-personal/

Pandemi Covid-19: Refleksi (2)

Di rumah saja. Bekerja, baca Quran, dan tarawih, semuanya di rumah saja. Baca Quran di rumah secara tartil mencegah rumah menjadi “seperti kuburan” (Hadits). Tarawih di rumah memperbesar peluang terhindar dari virus yang lebih berbahaya dari Covid-19 yaitu riya. Riya (keinginan memaparkan kebaikan pada orang lain) lebih berbahaya karena dapat memupus nilai amal; jangkauannya jauh ke depan.

Pandemi Covid-19 boleh jadi mencegah salat berjamaah di Masjid tetapi tidak bagi amalan utama puasa yang lain yaitu sedekah. Satu unit amalan ini berarti investasi untuk meraih keuntungan 700 unit atau lebih banyak (QS: 2:261). Syaratnya tiga: (1) tidak menyebut-nyebut, (2) tidak menyakiti penerima, dan (3) tidak riya:

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dan menyakiti (perasaan orang yang menerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi (QS 2:264).

Debu di atas batu licin terkena hujan lebat, apa yang tersisa.

Baca Quran, tarawih dan sedekah. Semuanya untuk meraih takwa. Indikator untuk mengukur tingkat keberhasilannya ada tiga (QS 3:314): (1) bersedekah ketika susah, (2) mampu mengendalikan amarah, dan (3) mampu memaafkan orang lain (QS 3:314). Ini takwa kelas tinggi, takwa berlapis ihsan, karena langsung menggugat sisi-hewani manusia.

Di rumah saja. Ini upaya logis untuk menghindari terinfeksi atau menyebarkan infeksi Covid-19. Dalam skenario terburuk kita dapat meninggal karena virus ini. Secara logis kemungkinannya kecil sejauh kita di rumah saja. Juga karena angka kematian kasus ini (CFR) menurut dugaan para ahli sebenarnya relatif kecil. Porsi manusia melakukan upaya. Hasil akhir di atas kendali jari tangan-Nya secara mutlak. Kalau dikehendaki-Nya apa pun dapat terjadi.

Pada analisis terakhir adalah sehat secara mental dan spiritual untuk berikrar sebagaimana orang-orang yang berserah diri (Arab: Muslimun) berikrar ketika selesai salat:

Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan (Arab: Allahumma laa maani’a lima a’thoita) dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah (wa laa mu’thiya limaa mana’ta) dan tidak ada yang dapat memberikan manfaat kekayaan dan kemuliaan (wa laa yanfau dzal jaddi minkal jaddu.) (kecuali dengan izin-Mu). (HR. Bukhari no.6615, Muslim no.593.)

Wallahualam…..@

Pandemi Covid-19: Refleksi (1)

Pandemi Covid-19 mendunia dalam arti harfiah. Wordmeter melaporkan jangkauannya mencakup 214 “negara”. Angka ini lebih tinggi dari total negara yang tercatat di PBB yaitu 195 negara, termasuk Holy See dan Palestina. Pandemi ini  dipercaya berawal dari Kota Wuhan (Cina). Kota ini adalah episentrum jilid pertama yang diambil alih kedudukannya New York dalam jilid kedua. Fakta-fakta dasar ini merefleksikan dua hal: (1) demikian mudahnya Covid-19 menyebar, dan (2) demikian eratnya konektivitas antar manusia secara fisik. Secara batin(?)

Sifat alamiah Covid-19 secara umum sudah dikenali oleh para ahli. Buktinya, mereka berani menjanjikan vaksinnya sudah akan tersedia sekitar kuartal pertama atau pertengahan 2021, atau (harapannya) lebih awal. Tetapi mereka sementara ini masih perlu terus memperbaharui ilmunya terkait isu  bagaimana virus yang satu ini menyebar antar manusia.

Yang “menguntungkan”, pembawa virus ini adalah manusia yang dapat diatur. Jika pembawanya nyamuk, misalnya, bagaimana mengimplementasikan kebijakan cuci-tangan, bermasker atau lock down?  Repotnya, tidak seperti nyamuk yang oleh kebanyakan kita dapat dibasmi tanpa perasaan bersalah[1], jiwa manusia justru perlu diselamatkan karena setiap individu manusia adalah mulia (QS 17:70).

Repotnya lagi, kebijakan lock down yang sejauh ini dianggap paling masuk akal[2], membuat kehidupan kita sangat tidak nyaman. Kita diputus dari rutinitas normal kita sebagai makhluk sosial yang secara alamiah berkecenderungan saling-berinteraksi dalam rangka berproduksi (secara ekonomi, bekerja) atau memberikan pelayanan jasa (guru agama independen, misalnya). Implikasinya, ekonomi masyarakat terancam bangkrut, ancaman yang sangat riil bagi yang berpendapatan harian tidak tetap, termasuk  penjual makanan, tukang becak, pengojek, dan guru mengaji keliling.

Bagi yang berpuasa yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 2.4 milyar, lock down membawa serta ketidaknyamanan tersendiri. Mereka terbiasa mengintensifkan interaksi sosial justru pada Bulan Puasa. Untungnya, mereka diajarkan untuk lebih menghindari mudarat dari pada mengejar manfaat. Berdasarkan ajaran ini mereka dapat menyesuaikan diri dalam melaksanakan amalan-amalan utama puasa khususnya terkait tarawih dan taklim.

Mereka tarawih tidak lagi dilakukan secara berjamaah di rumah ibadah tetapi di rumah masing-masing. Hikmahnya yang tersembunyi, mereka lebih berpeluang mampu menghindari riya, juga untuk mengingat-ulang makna ketulusan dan kejernihan hati ketika membangun konektivitas dengan yang Ilahi. Bukankah dalam ibadah kurban hewan, misalnya, yang sampai kepada-Nya bukan daging dan darahnya melainkan nilai takwa (QS 22:37)?

Pandemi Covid-19 adalah cobaan (Arab: bala) yang merupakan keniscayaan bagi spesies manusia. Menurut Quran, keseluruhan tragedi kehidupan dan kematian adalah cerita mengenai bala (QS 67:2) yang bentuknya bermacam-macam (QS 2:155) [3]:

Pasti Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Bagi Muslim, respons paling sehat menghadapi bala adalah sabar sebagaimana terungkap dalam kutipan di atas.

Wallahualam….@

[1] Ada segelintir orang ini yang memiliki perspektif lingkungan-hidu–dalam (deep ecology) melihat nyamuk (juga virus) memiliki hak hidup dan masing-masing memainkan peran tertentu dalam kosmos.

[2] Dalam konteks ini diabaikan pandangan yang melihat over reaction lebih berbahaya dari pada under reaction.

[3] Ayat pertama menggunakan kata “li-nabluwa-kum”, seakar kata dengan bala; ayat kedua, la-nabluwanna-kum juga seakar kata dengan bala. Imbuhan “la” menunjukkan keniscayaan, huruf n ganda (tasydid) menunjukkan kesungguhan.

Puasa (1): Definisi Umum

Jejak Pemikiran dan Refleksi

Secara Kebahasaan

Puasa adalah kata benda (Arab: shiyam, ism masdar) yang berarti kemampuan menahan diri dari apa saja yang membatalkan: makan, minum, merokok, berhubungan secara seksual, dsb. Tambahan awalan “ber” menjadikan kata puasa menjadi kerja (Arab: shaama, fiil madhi). Sebagai kata kerja puasa berarti upaya untuk menahan diri untuk tidak melakukan apa yang kita sukai. Kemampuan menahan diri adalah khas manusia yang memungkin mereka menjadi memiliki keadaban (civilized) dan secara kolektif membanguna peradaban (civilization).

Secara Istilah

Dalil

Umat Islam, semua bentuk ibadah dilarang kecuali yang memiliki dasar hukum atau dalil (syar’i). Dalam konteks puasa, dalilnya adalah QS (2:183): “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Niat

Secara istilah (syari), puasa harus diniatkan dalam arti dilakukan secara sadar (intentional). Dalam Islam, unsur niat sangat penting  bahkan menentukan nilai suatu kegiatan: “Semua amal (nilainya)…

View original post 181 more words

Puasa dalam Konteks Covid-19

Konteks

Sekitar 10 hari lalu seorang teman minta izin menggunakan salah satu tulisan dalam blog ini sebagai bahan infografis: “Untuk mengedukasi jamaah saya, Mas”, kira-kira demikian alasannya. “Maklum mereka jabbariyah; mereka mau tarawihan di masjid”, lanjutnya. Penulis hanya merespons “Bagaimana kalau para pengurus diajak diskusi mengenai Hadits yang menjelaskan Nabi SAW teraweh di masjid hanya 1-2 kali”.

Cerita di atas yang juga anggota dewan ini, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), mendorong penulis untuk bertanya: “Adakah aturan pemerintah atau fatwa MUI mengenai hal ini?” Penulis berbaik-sangka peraturan itu ada tetapi di luar pengetahuan penulis. Demikianlah cerita yang memotivasi penyiapan tulisan ini. Isinya menyajikan hasil survei pustaka super-cepat terkait dengan puasa dan tradisi yang menyertainya dalam konteks Covid-19.

Puasa dan gejala Covid-19

Puasa dapat ditunda karena alasan sakit atau dalam perjalanan (QS 2:184). Pertanyaannya, dapatkah kita berpuasa ketika memiliki gejala Covid-19? Adakah pedoman bagi Umat di Indonesia mengenai ini? Penulis tidak bisa menjawab. Yang penulis ketahui kasus di Inggris. British Muslim Medical Association (BM2A) dalam minggu ini telah mengeluarkan pedoman yang sangat jelas bagi masyarakat Muslim di Inggris (lihat Gambar di bawah).

Sebagai asosiasi medis, BM2A tentu telah mempertimbangkan semua pertimbangan medis serta hasil riset yang relevan, termasuk yang dilakukan oleh Profesor Longo. Profesor ini menarik karena risetnya telah menunjukkan hubungan positif antara praktik puasa dan perbaikan sistem imunitas termasuk terhadap Covid-19:

Professor Valter Longo, director of the USC Longevity Institute, is investigating how fasting and diets that mimic fasting’s effects can help immune function, including vaccine efficacy and the body’s response to infection by viruses such as influenza and eventually COVID-19.

Fasting and fasting mimicking diets appear to “get rid of damaged or mis­guided cells and replace them with younger and more effective immune cells,” he says, improving many signs of health in mice.

Teraweh di Masjid dan WHO

Bagaimana dengan tarawih di Masjid? Mengenai hal ini penulis juga tidak mengetahui ada atau tidak ada pedoman bagi Umat di Indonesia. Yang penulis ketahui, Pakistan mengizinkan Umat  tarawih di Masjid dalam kondisi tertentu: “Pakistan’s government has decided to conditionally keep mosques open during Ramadan”. Dari Gambar di bawah tampak kondisi yang dimaksud sesuai dengan SOP physical distancing.

Terkait dengan praktik puasa umumnya dan tarawih khususnya dalam konteks Covid-19, WHO telah menyusun pedoman yang jelas, rinci dan menyeluruh. Pedoman ini mencakup praktik physical distancing ketika salat berjamaah, cara memperlakukan kelompok yang berisiko tinggi, pengaturan tempat penyelenggaraan, dan dorongan untuk membangun lingkungan higiene yang sehat. Aturan itu rinci. Terkait physical distancing, misalnya, WHO memberikan tiga rekomendasi:

  • Praktikkan physical distancing secara ketat dengan menjaga setiap sat jarak dengan orang lain setidaknya 1 meter (3 kaki).
  • Gunakan salam yang disetujui secara budaya dan agama dengan menghindari kontak fisik, seperti melambaikan tangan, mengangguk, atau meletakkan tangan di atas hati.
  • Menghentikan banyak orang berkumpul di tempat-tempat yang terkait dengan kegiatan Ramadhan, seperti tempat hiburan, pasar, dan toko.

Mengenai yang terakhir ini Malaysia, Singapura dan Brunei dilaporkan melarang jualan penganan takjil yang biasanya marak selama bulan puasa.

Penulis menilai rekomendasi WHO ini layak dipelajari sehingga disajikan sebagai lampiran ini.

Selamat berpuasa bagi yang melaksanakan…. @

*******

Lampiran

(Cuplikan Rekomendasi WHO)

Safe Ramadan practices in the context of the COVID-19

  1. Overarching considerations
  2. Advice on physical distancing
  3. Practice physical distancing by strictly maintaining a distance of at least 1 metre (3 feet) between people at all times.
  4. Use culturally and religiously sanctioned greetings that avoid physical contact, such as waving, nodding, or placing the hand over the heart.
  5. Stop large numbers of people gathering in places associated with Ramadan activities, such as entertainment venues, markets, and shops.
  6. Advice to high-risk groups
  7. Urge people who are feeling unwell or have any symptoms of COVID-19 to avoid attending events and follow the national guidance on follow-up and management of symptomatic cases.
  8. Urge older people and anyone with pre-existing medical conditions (such as cardiovascular disease, diabetes, chronic respiratory disease, and cancer) not to attend gatherings, as they are considered vulnerable to severe disease and death from COVID-19.
  9. Mitigation measures for physical gatherings

The following measures should be applied to any gathering occurring during Ramadan, such as prayers, pilgrimages, and communal meals or banquets.

  1. Venue
  2. Consider holding the event outdoors if possible; otherwise, ensure that the indoor venue has adequate ventilation and air flow
  3. Shorten the length of the event as much as possible to limit potential exposure
  4. Give preference to holding smaller services with fewer attendees more often, rather than hosting large gatherings
  5. Adhere to physical distancing among attendees, both when seated and standing, through creating and assigning fixed places, including when praying, performing wudu (ritual ablutions) in communal washing facilities, as well as in areas dedicated to shoe storage.
  6. Regulate the number and flow of people entering, attending, and departing from worship spaces, pilgrimage sites, or other venues to ensure safe distancing at all times
  7. Consider measures to facilitate contact tracing in the event that an ill person is identified among the attendees of the event.
  8. Encourage healthy hygiene

Muslims perform wudu before prayers, which helps maintain healthy hygiene. The following additional measures should be considered:

  1. Ensure that hand washing facilities are adequately equipped with soap and water and provide alcohol based hand-rub (at least 70% alcohol) at the entrance to and inside mosques.
  2. Ensure the availability of disposable tissues and bins with disposable liners and lids, and guarantee the safe disposal of waste.
  3. Encourage the use of personal prayer rugs to place over carpets.
  4. Provide visual displays of advice on physical distancing, hand hygiene, respiratory etiquette, and general messages on COVID-19 prevention. Frequently clean worship spaces, sites, and buildings
  5. Enforce routine cleaning of venues where people gather before and after each event, using detergents and disinfectants.
  6. In mosques, keep the premises and wudu facilities clean, and maintain general hygiene and sanitation.
  7. Frequently clean often-touched objects such as doorknobs, light switches, and stair railings with detergents and disinfectant.

******