Dunia Tanpa Islam

Dunia Tanpa Islam (Tinjauan Buku)

Judul Buku : A World Without Islam
Pengarang : Graham E. Fuller
Penerbit : Back Bay Book
Tahun Terbit : 2010
Halaman : 385 (termasuk catatan dan indeks)
Harga : US$ 7.98

Buku ini menarik paling tidak karena dua hal. Pertama, judulnya eye-catching dan bernada provokatif yang seolah-olah menyuarakan pandangan umum dunia Barat bahwa dunia tanpa Islam akan “lebih baik”. Kedua, ini lebih substantial, isi buku bertentangan dengan pandangan umum itu: dunia dengan dan tanpa Islam sama saja. Argumen dan bukti pendukung yang dikemukakan pada umumnya luput dari perhatian publik selama ini sehingga kesimpulannya berkesan_awal counterfactual. Buku yang terdiri dari 3 bagian dan 16 bab ini memuat sejumlah rincian menarik mengenai isu yang jarang dipublikasikan secara gamblang termasuk mengenai Perang Salib dan rivalitas antara Kristen Barat dan Kristen Timur. Buku ini dapat dibeli di Gramedia (atau mungkin toko buku lain) dengan harga hanya sekitar Rp 75,000, harga yang terlalu murah untuk kedalaman dan keluasan kandungannya.

Pertanyaan hipotetis

Dunia tanpa “Islam” jelas hipotetis dan bahkan absurd. Upaya untuk menjawab pertanyaan hipotetis dengan tipe argument what if itu akan mengarah pada spekulasi tanpa akhir. Pertanyaan mengenai dunia “seandainya jika” tanpa Islam serupa dengan pertanyaan-pertanyaan: (a) Bagaimana seandainya jika tidak terjadi peristiwa pemboman Gedung Kembar World Trade di New York 9/11  lalu? (b) Bagaimana seandainya jika tidak terjadi pembunuhan Pengeran Ferdinand di Sarajevo dalam tahun 1914 (yang memicu PD-I)? (c) Bagaimana seandainya jika tidak terjadi pemboman Hirosima-Nagasaki oleh Amerika?, dan akhirnya (d) Apakah kita akan mengalami dunia yang sangat berbeda atau sama saja?

Semua pertanyaan hipotesis semacam itu jelas tidak akan dapat dijawab. Seperti dikemukakan penulisnya, buku ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan bagaimana hubungan Barat-Timur seandainya tidak ada Islam, “how the relationship between the West and the Midle East would be if there is no Islam” (12). Untuk apa? Seperti juga dikemukakan penulisnya, untuk memperoleh semacam pencerahan:

“… to employ imagination  to illuminate history from an alternative angle, to permit new contours and features to suddenly appear before our eyes that has previously remained unnoticed. May be the odds were only 51 percent that an event would be turn out the way it did. That suggests that there are 49 percent of other factors at work that did not, in the end, happen to dominate. But they were there are along and possibly still remain below the surface, exerting considerable, even not decisive, influence on later events and may again in the future” (halaman 10).

Label Baru: Islam Radikal

Pandangan umum dunia Barat mengenai krisis Timur-Barat bertendensi “memojokkan” Islam. Bagi mereka (dengan sedikit pengecualian) dunia tanpa Islam akan lebih “aman”: tidak ada benturan peradaban, tidak ada “perang suci”, tidak ada teroris. Pandangan ini seolah-olah diperkuat oleh judul buku ini yang pengarangnya kebetulan mantan tokoh CIA, mantan wakil ketua the National Intelligence Council, CIA. Kesan negatif yang bernada buruk_sangka itu ternyata tidak berdasar: “…it might actually be quite similar to what we see today” (halaman 4). Seperti terungkap dalam kutipan di atas, perbedaan dunia tanpa dan dengan Islam kira-kira seperti perbedaan antara 49% dan 51%, suatu perbedaan yang sangat tipis dan tidak signifikan.

Kenapa perlu label “Islam Radikal”? Untuk “memudahkan” pergantian label “musuh” sebelumnya yang tidak relevan lagi: Anarkis, Nazi, Fasis, dan Komunis. Oleh penulis, kata radikal Islam dibubuhi tanda kutip bukan karena tidak mengakui keberadaannya tetapi karena baginya istilah itu merupakan fenomena yang luas dan kompleks yang dapat muncul ke permukaan dalam berbagai bentuk dan ukuran sehingga membutuhkan respon yang beragam dan berbeda pula. Dalam konteks ini menarik untuk dicatat kritik tajam penulis mengenai cara pandang yang memudahkan itu:

Power also brings a certain arrogance: the belief that we can control the situation, we are in charge, we can persuade or intimidate with ease-or so we think. Indeed, one senior official in Bush administration, when asked about looming srealities of the wars of the Middle East, stated without a pause, “We create our own realities” (6).

Singkatnya, bagi penulis, krisis kontemporer hubungan Timur_Barat atau Barat_”Islam” tidak terlalu terkait dengan agama, “…the present crisis of East-West relation, or between the West and “Islam”, has really very little to do with religion and everything to do with political and cultural friction, interest, rivalries, and clashes” (18).

Perang Salib

Dalam “skenario”-nya yang sudah barang tentu hipotetis, penulis mengemukakan tesis utamanya bahwa “seandainya” tidak ada Islam maka ketegangan hubungan antara Timur dan Barat akan tetap ada yang dipicu oleh rivalitas antara Kristen “Barat” (yang berpusat dio Roma) dan Kristen “Timur” yang (ketika itu) berpusat di Istambul (Byzantium). Walaupun pemicu rivalitas itu pada awalnya adalah perbedaan teologis, tetapi bagi penulis yang sebenarnya terjadi adalah friksi, kepentingan, dan perseteruan politik dan budaya antara Dunia Timur dan Dunia Barat yang sudah berlangsung sangat lama jauh sebelum Islam datang.

Basis argumen mengenai rivalitas Barat-Timur sangat luas termasuk kajian kritis mengenai kisah Perang Salib. Pada 15 Juli 1099 ketika pasukan Perang Salib Pertama memasuki Kota Yerusalem, misalnya, tidak hanya penduduk Muslim dan Yahudi yang dibantai tetapi juga penduduk Kristen Ortodoks. Ketika itu konon, selama 24 jam periode pembantaian, diperkirakan dibunuh sekitar 60,000 penduduk, termasuk ribuan Yahudi yang mengungsi di Sinagog dan lebih banyak lagi Muslim yang mengungsi di Masjid Al-Aqsa (hal.: 15).

Situasinya sangat berbeda ketika Umar RA membebaskan Yerusalem pada tahun 637. Pada masa pembebasan itu Umar RA konon secara pribadi turut serta membersihkan kota dan untuk pertama kali dalam 500 terakhir Umat Yahudi bebas menjalankan ibadah mereka. Mengenai Kristen, ketika itu, “their churches are not taken, nor are they to be destroyed, nor are they to be degraded or belittled, neither are there are their crosses or their money, and they are be forced to change their religion, nor is any one of them to be harmed (hal.: 114)

Akhirnya, mengenai buku ini komentar otoritatif Esposito, pengarang The Future of Islam, layak dipertimbangkan. Komentarnya antara lain: “A must read. Graham Fuller’s A World Without Islam is a tour de force by one of the foremost authorities on global Muslim politics. Fuller’s masterful study provides an insightful analysis and at times provocative analysis of the character of Muslim-West relations…”. Silakan anda buktikan!…..@

Advertisements

Tinjauan Buku: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World

Tinjauan Buku
Judul : The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope   Are Reshaping the World
Pengarang : Moïsi, Dominique
Tahun terbit : 2009
Penerbit : Doubleday
Halaman : 176 halaman + xii

Seperti tercermin dari judul, buku ini memetakan geopolitik dengan tilikan tidak lumrah, emosi. Karena tidak lumrah inilah buku ini menuai banyak kritik. Sebagian kritikus ‘meragukan’ kadar ilmiah isi buku ini dan mengatakan kira-kira ‘kok urusan geopolitik pakai pendekatan emosi’. Oleh penulisnya buku ini didedikasikan untuk bapaknya dalam bahasa yang emosional tetapi juga inspirasional: ‘Untuk mengenang bapak saya, Jules Moïsi, number 159721 di Auschwitz, yang selamat dari ketakutan dan penghinaan yang ekstrim dan mengajarkan harapan pada saya’.

Tetapi kita keliru jika mengira penulis menganggap masing-masing emosi itu sebagai sesuatu yang salah dalam dirinya sendiri. Bagi dia ketiganya ‘diperlukan’. Darah yang sehat, argumennya, memerlukan darah merah, darah putih dan plasma. Kehilangan salah satu akan membuat darah menjadi tidak sehat. Analog dengan itu, situasi geopolitik tidak sehat yang didominasi oleh harapan, mislanya. Yang diperlukan adalah keseimbangan: keseimbangan antara ketakutan, humiliasi dan harapan.

Bagi saya, dengan cara ini penulis bermaksud menegaskan posisinya: tidak seoptimis Fukuyama (dengan the end of history-nya) tetapi juga tidak sepersimis Hutington (dengan clash of civialtion-nya). Bagi yang meminati artikel lengkap silakan klik: TinjBukuMosi

Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an

Tinjauan Buku

Judul : Argumen Pluralisme Agama: Membangun ToleransiBerbasis Al-Qur’an
Karangan : Abd. Moqsith Ghazani
Tahun Terbit : 2009
Penerbit : KATAKITA
Halaman : 433 halaman+ (i-xxix)
Harga : Rp 70 000,-

Buku yang kita tinjau ini bersumber dari disertasi penulisnya untuk memperoleh gelar doktor dalam bidang tafsir al-Qur’an di UIN Syarif Hidayatulalh, Jakarta, tahun 2007. Oleh karena bersumber disertasi  buku ini tentunya sudah teruji sebagai karya akademis yang menurut salah satu pembimbingnya, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, excelent.

Buku ini dilengkapi prolog oleh KH Husein Muhammad (selanjutnya, Muhammad), Pengasuh PP Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon. Pembaca akan sangat terbantu dengan prolog ini karena berisi semacam ringkasan.  Buku ini juga dilengkapi epilog oleh Gus Dur dengan judul ‘Pluralisme Agama dan Era Ketakpastian’ dengan pertanyaan pokok ‘bagaimana hal-hal tersebut (pluralisme) difahami oleh umat’ (422). Karena tilikannya berbeda epilog ini tak pelak lagi akan memperkaya pembaca buku yang kita tinjau ini.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: TinjBukuPluralisme