Tinjauan Buku: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World


Tinjauan Buku
Judul : The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope   Are Reshaping the World
Pengarang : Moïsi, Dominique
Tahun terbit : 2009
Penerbit : Doubleday
Halaman : 176 halaman + xii

Seperti tercermin dari judul, buku ini memetakan geopolitik dengan tilikan tidak lumrah, emosi. Karena tidak lumrah inilah buku ini menuai banyak kritik. Sebagian kritikus ‘meragukan’ kadar ilmiah isi buku ini dan mengatakan kira-kira ‘kok urusan geopolitik pakai pendekatan emosi’. Oleh penulisnya buku ini didedikasikan untuk bapaknya dalam bahasa yang emosional tetapi juga inspirasional: ‘Untuk mengenang bapak saya, Jules Moïsi, number 159721 di Auschwitz, yang selamat dari ketakutan dan penghinaan yang ekstrim dan mengajarkan harapan pada saya’.

Tetapi kita keliru jika mengira penulis menganggap masing-masing emosi itu sebagai sesuatu yang salah dalam dirinya sendiri. Bagi dia ketiganya ‘diperlukan’. Darah yang sehat, argumennya, memerlukan darah merah, darah putih dan plasma. Kehilangan salah satu akan membuat darah menjadi tidak sehat. Analog dengan itu, situasi geopolitik tidak sehat yang didominasi oleh harapan, mislanya. Yang diperlukan adalah keseimbangan: keseimbangan antara ketakutan, humiliasi dan harapan.

Bagi saya, dengan cara ini penulis bermaksud menegaskan posisinya: tidak seoptimis Fukuyama (dengan the end of history-nya) tetapi juga tidak sepersimis Hutington (dengan clash of civialtion-nya). Bagi yang meminati artikel lengkap silakan klik: TinjBukuMosi

One thought on “Tinjauan Buku: The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World

  1. Teori Moisi ini merupakan derivative atau revisi terhadap teori Huntington. Dalam buku The Clash of Civilizations, Samuel berpendapat bahwa sumber konflik pasca-Perang Dingin dunia bukan ideologis atau ekonomi, tetapi terutama budaya atau peradaban (bentuaran peradaban).

    terdapat convition ganda. Pertama: yang satu tidak dapat sepenuhnya memahami dunia di mana kita hidup tanpa berusaha untuk mengintegrasikan dan memahami emosi. Dan kedua, emosi seperti kolesterol, baik dan buruk.

    kondisi dunia tahun 2025″, di mana Moisi membagi 2 skenarioa. Skenario pertama dimana ketakutan berlaku, dan skenario kedua adalah dimana harapan berlaku.

    Ini juga jelas bahwa untuk menginspirasi, kita harus melalui selubung ketidakpercayaan. Jika tujuan kita adalah untuk menginspirasi penduduk dunia, terlepas dari keyakinan, kebangsaan atau keadaan ekonomi, maka rintangan pertama kita adalah mengenali dan kemudian mengakui emosional orang lain. Hanya itu kita dapat dianggap cukup serius untuk menciptakan antusiasme umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s