COVID-19 dan Angka Fatalitas

COVID-19: Coronavirus Disease 2019. Masyarakat global kini tengah memprihatinkan kasus penjangkitan jenis virus ini yang juga dikenal sebagai nCoV-Novel Coronavirus. Seperti halnya MERS-CoV[1] dan SARS-CoV[2], COVID19 tertular ke manusia melalui hewan[3]: unta bagi MERS-CoV dan musang bagi SARS-CoV. Bagi COVID-19 belum jelas; yang jelas, penyebarannya berawal dari suatu pasar hewan dan unggas di Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, RRC, yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa[4].

Yang paling mengkhawatirkan dari COVID-19 adalah kecepatan penyebarannya. Dilihat dari kecepatannya, agaknya tidak ada yang berani mengabaikan kemungkinan penjangkitan COVID-19 menjadi pandemik dalam arti mewabah secara nasional, regional bahkan global. Kuncinya terletak pada kemampuan RRC menghentikan penyebaran itu.

Belum Melambat

Besar masalah COVID-19 tercermin dalam laporan WHO per 18 Februari 2020[5] berikut ini:

  • Global: 73,332 kasus terkonfirmasi (1901 baru), 1,873 meninggal (101 baru), dan penilaian risiko[6] tinggi; dan
  • Cina: 72,528 kasus terkonfirmasi (1891 baru), 1870 meninggal (3 baru), dan penilaian risiko sangat tinggi.

Besarnya angka-angka itu sudah memprihatinkan. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah perkembangannya per hari. Angka 73,442 (total kasus), sebagai contoh, 27 hari sebelumnya kurang dari 1000. Grafik 1 menunjukkan perkembangan itu selama 27 hari terakhir sampai 18 Februari 2020.

Grafik 1: Total Kasus COVID-19

Grafik 1 juga menyiratkan terus bertambahnya kasus baru dan belum menunjukkan adanya perlambatan. Grafik 2 menunjukkan hal itu secara lebih langsung.

Grafik 2: Kasus COVID-19 Baru

Hasil studi menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara umur dengan paparan COVID-19; artinya, semakin tua seseorang, semakin besar risikonya terpapar COVID-19, ceteris paribus. Tidak ada laporan kasus bayi atau anak-anak terpapar COVID-19. Pertanyaannya, apakah ini semacam bentuk involuntary check (meminjam istilah Malthus) untuk mengoreksi struktur umur populasi yang semakin membesar ke umur-umur tua?

Angka Fatalitas

Berapa yang meninggal karena COVID-19? Pertanyaan ini sangat menggoda sehingga banyak orang yang memprediksi angkanya, angka fatalitas (case fatality rate, CFR). Upaya semacam ini tentu sah-sah saja. Yang perlu dicatat, saat ini prediksi semacam itu dapat menghasilkan angka yang menyesatkan. Masalahnya, proses penjangkitan masih berlangsung dan arahnya sukar untuk diprediksi.

CFR pada prinsipnya menyajikan proporsi kasus suatu penyakit  yang pada akhirnya meninggal karena penyakit itu. Rumusnya sederhana:

CFR = death/cases …..(1)

di mana death menunjukkan jumlah kasus yang meninggal, dan ceses adalah total kasus.

Tetapi rumusnya itu hanya berlaku jika epidemi COVID-19 telah berakhir. Karena epideminya masih berlangsung maka penerapan rumus itu, istilah WHO, paling tidak naif (“naïve”) dan sangat menyesatkan[7].

Jika kasusnya masih berlangsung maka rumusnya menjadi:

CFR = deaths at day (x) / cases at day (x-{T}) …..(2)

dimana T= rata-rata periode waktu antara kasus dikonfirmasi dan meninggal.

Kita dapat menerapkan ke dua rumus di atas pada data WHO per 8 Februari 2012. Menurut data itu secara global tercatat ada 813 kematian (total kumulatif) dan 37,552 kasus (total kumulatif).

Dengan rumus (1) yang menyesatkan itu kita dapat menghitung

CFR = 813/37,552 = 2.2%.

Kita bisa terapkan rumus (2) dengan T=7, rata-rata periode waktu antara kasus terkonfirmasi dan meninggal yang berarti merujuk pada kasus terkonfirmasi pada 1 Februari 2012 yang dilaporkan sebanyak 14,381. Hasilnya:

CFR = 813/1,438 = 5.7%.

Jadi hasil perhitungan kedua rumus itu sangat berbeda. Sebagai catatan, CFR adalah ukuran keparahan kematian (death severity) yang berbeda dengan angka insiden kematian (death incidence) yang biasa diukur dengan angka mortalitas atau mortality rate.

Lebih Rendah

Jika kita percaya pada angka CFR=5.7% maka kita dapat menyimpulkan angka CFR COVID-19 sebenarnya relatif rendah dibandingkan dengan, misalnya, CFR untuk SARS (CFR sekitar 10%) maupun MERS (CFR=34%)[8]:

At a briefing on 17 February WHO’s director general, Tedros Adhanom Ghebreyesus, said that more than 80% of patients with covid-19 have a “mild disease and will recover” and that it is fatal in 2% of reported cases. In comparison, the 2003 outbreak of severe acute respiratory syndrome (SARS) had a case fatality rate of around 10% (8098 cases and 774 deaths), while Middle East respiratory syndrome (MERS) killed 34% of people with the illness between 2012 and 2019 (2494 cases and 858 deaths).12

However, despite the lower case fatality rate, covid-19 has so far resulted in more deaths (1871) than SARS and MERS combined (1632).

Lebih Bijak

Menyikapi angka-angka itu, khususnya terkait COVID-19, mungkin akan lebih bijak jika kita mencermati peringatan Heyyman bahwa semua hasil perhitungan masih bersifat sementara, “They aren’t truth[9]:

Various epidemiological models estimate that the real number of cases is 100,000 or even more. Experts urged caution in interpreting those estimates.

“These are very early models that make several assumptions based on what evidence is available,” said David Heymann, an epidemiologist at the London School of Hygiene and Tropical Medicine. “They aren’t truth — they’re just one step in trying to better understand this outbreak.”

Singkatnya, kita harus mengakui belum tahu banyak mengenai COVID-19. Pertanyaannya, apakah lebih bijak lagi jika menilai penjangkitan penyakit ini sebagai suatu misteri, misteri bukan berarti sesuatu yang sukar atau mustahil dipahami atau dijelaskan, tapi, meminjam istilah Schuon (2007:119)[10], sesuatu yang “something God“?

By “mystery” we do not mean something incomprehensible in principle– unless on the purely rational level– but something that opens on the Infinite or envisage in this respect, so that intelligibility becomes limitless and humanly inexhaustible. A mystery is “something of God”.

Wallahualam…@

Coronavirus, MERS, SARS, CFR, pandemi COVID-19, Wuhan

[1] Middle East Respiratory Syndrome.

[2]  Severe Acute Respiratory Syndrome.

[3] . https://www.who.int/health-topics/coronavirus

[4] https://en.wikipedia.org/wiki/Wuhan

[5] https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf

[6] WHO risk assessment

[7] https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf

[8] https://www.bmj.com/content/368/bmj.m641

[9] https://www.nytimes.com/interactive/2020/world/asia/china-wuhan-coronavirus-maps.html

[10] F. Schuon, Spiritual Perspectives & Human Facts, World Wisdom.

Pandang-Dunia Jahili dan Qurani

Masyarakat global tengah waswas karena epidemi Coronavirus yang mengglobal, menjangkiti (per tanggal 11 Februari 2020) sebanyak 43,101 jiwa, dan sebanyak 1,107 di antaranya meninggal[1]. Epidemi ini dilaporkan melumpuhkan kegiatan ekonomi tidak hanya di Wuhan-Cina di mana episentrum epidemi terletak, tetapi juga di kawasan Cina lainnya, bahkan dilaporkan mulai menganggu aktivitas ekonomi Dubai–Uni Emirat Arab. Yang terakhir ini menambah waswas banyak pihak karena Dubai merupakan salah satu pusat persinggahan lalu-lintas global. Demikianlah gambaran singkat mengenai kenyataan obyektif situasi-terkait virus corona.

Pertanyanya adalah apa artinya semua itu bagi kita secara subyektif. Ini adalah pertanyaan eksistensialis model Kierkegaard. Jawabannya tergantung pada cara pandang-dunia (world view, Weltanschauung), cara pandang melihat dunia secara keseluruhan. Bagi Kierkegaard semua fenomena alam yang dapat kita amati dan persepsi adalah tanda (Arab: ayat). Sayangnya dia tidak mengelaborasi lebih lanjut tanda apa.

Ada banyak cara pandang-dunia dan dua di antaranya yang utama adalah cara-pandang jahili dan cara-pandang qurani. Tulisan ini membahas secara singkat dua cara-pandang ini.

Pandangan Jahili

Istilah jahili dalam tulisan ini merujuk pada cara-pandang arus-utama Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam awal abad ke-7. Ada empat ciri utama cara-pandang ini: (1) Ada ilah (Tuhan) lain selain Allah, (2) Tuhan tidak campur-tangan dalam urusan dunia, (3) Waktu (al-Dahr) menentukan kehidupan dunia, (4) tidak mempercayai keabadian jiwa atau kehidupan akhirat[2]. Semua ciri itu diabadikan secara ringkas dalam QS (45:24):

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (teks: al-Dhar). Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja.

Pandang-dunia jahili ini sangat suram serta mendorong sikap dan perilaku fatalisme dan kehidupan hedonisme. Yang menarik untuk dicatat, pandangan ini sangat mirip (kalau tidak persis sama) dengan konsep nihilisme dan absurditas hidup sebagaimana dikembangkan oleh para sesepuh eksistensialisme[3]:

The notion of the absurd contains the idea that there is no meaning in the world beyond what meaning we give it. This meaninglessness also encompasses the amorality or “unfairness” of the world. This conceptualization can be highlighted in the way it opposes the traditional Abrahamic religious perspective, which establishes that life’s purpose is about the fulfillment of God’s commandments. Such a purpose is what gives meaning to people’s lives. To live the life of the absurd means rejecting a life that finds or pursues specific meaning for man’s existence since there is nothing to be discovered.

Pertanyaan: Apakah Zaman Now masih banyak penganut atau pemrakarsa cara-pandang jahili atau filsafat nihilis atau absurditas dunia?

Pandangan Qurani

Al-Quran, seperti halnya kitab-kitab berbasis wahyu lainnya (Taurat, Injil, dsb.), pada prinsipnya menegaskan dua ajaran pokok: (1) semua fenomena hidup di dunia-bawah-sini ini (the here-lower World) adalah tanda atau ayat keberadaan-Nya, (2) kehidupan abadi di Dunia-Atas-Sana (upper-hereafter World), dunia di mana semua jiwa akan mempertanggungkan kiprahnya di dunia ini secara adil. Ajaran kedua jelas mendorong kehidupan yang bertanggung jawab. Ajaran pertama mengingatkan bahwa Dia-SWT campur tangan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Al-Quran, meminjam istilah Izutsu, Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara lingustik (melalui wahyu) maupun non-lingustik (melalui fenomena alam). Dengan demikian, bagi mereka yang meyakini Kitab Suci berbasis wahyu, memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan. Fenomena alam yang dimaksud mencakup aneka macam peristiwa alamiah (qurani: sunnatullah), termasuk epidemi Coronavirus, ledakan dahsyat bintang raksasa di suatu galaksi sehingga menimbulkan supernova, dan merekahnya kelopak bunga lily of the valey karena terpapar hangat matahari pagi.

… memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan.

Ayat non-lingustik ini “diturunkan” (istilah qurani: tanzil) oleh-Nya dan manusia dapat memahaminya (qurani: aqala, fahima, dsb.) Kenapa? Karena manusia memiliki organ yang dibutuhkan yaitu hati (qurani: lubb (pl. albab), qalb (fuad)).

Ayat itu dapat berbentuk khabar gembira (qurani: tabasshir) termasuk nikmat dan rahmat atau kabar buruk atau peringatan (qurani: indhar) termasuk azab. Respons manusia dua macam, membenarkan (qurani: tashdiq) atau mendustakan (qurani: takzib). Respons ini menentukan secara kategori apakah manusia tergolong beriman atau kafir.

Terima kasih layak ditujukan pada Izutsu telah membuat sistematika alur pikir Weltanschauung[4] Al-Quran mengenai ayat non-linguistik ini. Sebagian kecil dari sistematika itu disajikan pada Tabel berikut dengan harapan dapat mempermudah bacaan mengenai alur pikir itu.

Tabel: Ayat Non-Lingustik dan Respons Manusia

Divine Part God “send down” the ayat Tanzil
 

 

 

 

 

 

Human Part

Man understands the meaning of ayat aqala, fahima. faqiha, tafkkara, tadzakkara, tawassama, etc
The organ of understanding lubb (pl. albab), qalb (fuad)
The meaning of ayat A: ni’mah, rahmah, etc. (tabasshir)

B: intiqam, ‘iqab. ‘adzab, sakhat, etc (indhar)

The human response (a) tashdiq

(b) takdzib

The immediate consequence I: shukr (A+a)

II: taqwa (B+a)

III. kufr ((A,B)+b)

The final result Iman (I,II),

kufr (III)

Sumber: Diadaptasi dari Izutsu (1964:147).

Sikap Taqwa

Mereka yang memilik cara-pandang qurani tidak menapikan kemungkinan fenomena alam– termasuk tetapi tidak hanya epidemi Coronavirus– sebagai azab (=B) serta membenarkannya (=a) sebagai bentuk capur tangan Dia SWT. Cara pandang ini akan menghasilkan sikap taqwa (=B+a) dalam arti takut akan azab-Nya. Inilah arti dasar taqwa. Orang yang berpandangan ini selain berusaha menghenatikan penyebaran virus lebih lanjut (ini bagian manusia) juga akan menggantungkan harapan akan campur tangan-Nya (ini bagian ilahiah). Mereka akan berharap agar pademi black death–yang menelan korban jiwa 75-200 juta jiwa manusia Eurasia dan Eropa (puncaknya 1347-1351)– tidak terulang dalam sejarah manusia [5] berkat rahmat-Nya.

Mereka tidak membutuhkan bukti logis yang canggih untuk sampai kepada kesimpulan dan sikap itu karena bagi mereka kebutuhan semacam itu berbanding lurus dengan ketidaktahuan (ignorance), bukan pengetahuan (knowledge). Pandangan mereka tercermin dalam ungkapan Schuon (2007:4) yang padat: For the sage every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite [6]; yakni, Dia SWT. “Rahasia” mereka terletak pada penggunaan hati (heart) sebagai organ pemahaman (lihat Tabel), bukan pikiran (mind) yang ranahnya terbatas pada alam terikat ruang dan waktu dunia-bawah-sini (spatio-temporal realm).

For the sage, every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite

Wallahualam….@

[1] https://edition.cnn.com/asia/live-news/coronavirus-outbreak-02-11-20-intl-hnk/index.html

[2] Lihat Izutsu (1964), God and Man in Quran, Koeio University.

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Existentialism

[4] Penutur Bahasa Inggris menggunakan istilah ini (dengan hruf awal Kapital) dalam dikursus filsafat kognitif yang serius karena padanannya world view dianggap mengambang (vague) bahkan tidak memadai.

 [5] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death.

[6]Schuon, F. Spiritual Perspective & Human Facts, World Wisdom.

Tren Tidak Pernah Bohong

Jika Anda mengamati situasi internal Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini maka Anda akan menikmati serunya hiruk-pikuk politik di negara Paman Sam itu. Momennya mendukung: (1) tahun ini adalah tahun pemilihan Potus, the President of the United States of America, (2) Potus yang sekarang, Trump, baru saja lolos dari proses pemakzulan oleh Senat setelah sebelumnya dimakzulkan oleh Kongres, dan (3) sejak awal administrasinya, Trump “berhasil” menciptakan kondisi yang membuat masyarakat AS terbelah secara efektif antara pendukung Partai Republik pendukung gigih Trump dan Partai Demokrat yang sejak awal berupaya memakzulkan Trump.

Kesan penulis, sebagian besar (kalau tidak mayoritas) masyarakat AS tidak mengamini gaya kepemimpinan Trump khususnya terkait dengan kebijakan luar negeri dan keadaban berkonstitusi dalam kedudukan sebagai Potus. Tapi pernyataan ini masih perlu diverifikasi melalui Pemilu akhir 2020 ini. Masalahnya bagi barisan Partai Demokrat adalah bahwa ekonomi AS lagi bagus-bagusnya sehingga dikhawatirkan Trump masih akan memenangkan kursi Potus untuk putaran kedua.

Bahwa ekonomi lagi bagus didukung oleh indikator sosial-ekonomi yang meyakinkan: pasar modal sangat bagus, pertumbuhan ekonomi lumayan, angka kemiskinan rendah (diklaim oleh kubu Trump terendah dalam sejarah AS), angka penganggur di diklaim paling rendah dalam sejarah, penciptaan lapangan kerja terus bertambah.

Dua indikator pertama (pasar modal dan pertumbuhan ekonomi) dianggap belum meyakinkan karena belum menyangkut hajat hidup orang banyak secara langsung. Dua indikator berikutnya (kemiskinan dan penganggur) jelas meyakinkan. Istilah penganggur jelas terkait dengan employment, bukan hanya job; artinya, menyangkut orang banyak secara kongkret, bukan hanya kelompok tertentu.

Indikator yang mungkin paling meyakinkan adalah penciptaan lapangan kerja. Tidak ada negara yang menganggap enteng urusan ini. Negara “gagal” atau “setengah gagal” umumnya terkait dengan urusan ini, khususnya ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja bagi kalangan muda yang semakin terdidik. (Ini salah satu paradoks pembangunan: penduduk semakin terdidik tetapi penganggur tinggi justru mencolok bagi kalangan terdidik.)

Negara “gagal” atau “setengah gagal” umumnya terkait dengan urusan ini, khususnya ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja bagi kalangan muda yang semakin terdidik.

Kembali ke Trump.

Saat ini penciptaan lapangan kerja AS bertambah bahkan lebih banyak dari yang diramalkan oleh para ahli. Ini didukung oleh statistik resmi AS, DOL (Department of Laour). Pertanyaannya, apakah ini faktor Trump? Ini pertanyaan kompleks. Untuk menjawab ini, orang statistik biasanya merekomendasikan pendekatan perbandingan dengan mengajukan pertanyaan kira-kira begini:

“Mana yang lebih banyak lapangan kerja yang diciptakan, apakah di era Obama tiga tahun terakhir, atau di era Trump tiga tahun pertama?”

Analisis statistik menggunakan data DOL menunjukkan bahwa lapangan kerja baru ternyata lebih banyak diciptakan di era tiga terakhir Obama dari pada di era tiga pertama Trump. Dengan kata lain, perluasan kesempatan kerja yang terjadi akhir-akhir ini bukan faktor Trump.

Tetapi urusan belum selesai. Menurut salah seorang penyiar CNN, kubu Trump melakukan analisis statistik yang canggih dengan melihat ulang seri data yang panjang tetapi ketenagakerjaan… ini yang menarik… dan melakukan berbagai penyesuaian (adjustment) yang mengarah pada pendeskriditan kinerja Obama. Di sini patut diduga ada isu moral statistik “How to lie with statistics?”

Isu moral Statistik: “How to lie with statistics?

Hasil analisisnya? Tren di era Trump ternyata merupakan kelanjutan tren di era Obama. Kesimpulannya, besarnya penciptaan lapangan usaha di AS akhir-akhir ini tidak bisa diklaim sebagai faktor Trump.

Mengamati hasil analisis itu CNN edisi 8 Februari 2020 mengetengahkan headline:Trend never lie“, “Tren tidak pernah bohong”

Wallahualam…@

Mencermati Arti Kata Jahil

Kata jahil (Arab) biasa diartikan sebagai bodoh. Ini tidak salah tetapi secara kebahasaan tidak lengkap. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan secara singkat ketidaklengpan ini menggunakan Al-Quran sebagai referensi utama.

Sang Filsuf dan Joki Unta

Ada cerita menarik mengenai dialog singkat antara dua orang pengembara yang berbeda profesi: filsuf dan joki unta. Sang filsuf sangat terdidik, berpengetahuan sangat luas, serta terlatih berpikir abstrak. Sebaliknya, Sang Joko tidak terdidik, miskin ilmu, dan biasa berpikir sederhana.

Filsuf: “Bagaimana Anda mengetahui bahwa Tuhan itu ada?”

Joki Unta: (Menunjuk pada kotoran Unta) “Kotoran ini membuktikan tadi ada Unta di sini”.

Dalam cerita ini sang filsuf mewakili orang yang berilmu tetapi tidak berpikiran jernih, sementara sang joki yang tidak berilmu tetapi berpikiran jernih. Seperti akan segera terlihat, dua-duanya secara kebahasaan termasuk dalam kategori jahil[1].

Arti Kata Jahil

Kata jahil berasal dari kata kerja jahila-yajhalu (جَهِلَ – يَجْهَلُ). Lawan katanya antara lain ‘alima (‘arafa) dan ‘aqala[2]. Dua kata ini masing-masing berarti mengetahui dan berakal. Jadi kata orang jahil dapat berarti orang yang: (1) tidak mengetahui, tidak berilmu (Inggris: do not know, ignorance), dan (2) tidak berakal, tidak berpikir jernih (Inggris: do not think, mindlessness).

Antara berilmu dan berakal dalam arti berpikiran jernih tidak selalu ada hubungan positif. Artinya, banyak orang yang berilmu tetapi tidak berpikiran jernih (kasus sang filsuf dalam cerita di atas), dan banyak pula yang tidak berilmu tetapi berpikiran jernih (kasus sang joki). “Overdosis” pengetahuan agaknya berpotensi mengurangi kapasitas berpikiran jernih. Al-Quran datang, paling tidak dalam perspektif Muslim, untuk mengonfrontasi dua jenis kejahilan itu, ignorance dan mindlessness, yang menjadi ciri umum masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam.

Apakah Kalian Tidak Berakal?

Apakah Kalian Tidak Berakal? (Quran: Afala ta’qilun?) Kalimat ini banyak dijumpai dalam Al-Quran yang pada umumnya diterjemahkan sebagai “Apakah kalian tidak berakal (memikirkan, memahami, mengerti)? Salah satu ayatnya (QS 2:44) berikut ini:

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat?) Tidakkah kamu mengerti?

Ayat ini mengkritik sebagian ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang bertindak tidak logis atau tidak berpikiran jernih. Untuk menegaskannya ayat ini menggunakan turunan dari kata akal (ta’qilun). Kritik serupa dijumpai dalam QS (2:146) berikut.

Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui (nya).

Ayat ini menggunakan kata turunan ‘arafa (ya’rifunahu) dan ‘alima (ya’lamun) yang seakan-akan menegaskan tindakan tidak logis mereka itu (tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW) sama-sekali bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau tahu yang dalam Bahas Arab tidak berakal.

QS (2:44) bukan satu-satu ayat yang diakhiri dengan kalimat “Apakah kalian berakal?” Kita dapat menjumpai ayat lain dengan akhir kalimat yang sama termasuk  QS (12:199, 6:32, 7:169, 11:51, 2:76, 3:65, 10:16, 21:10, 21:67, 23:80, 28:60, 37:138).

Menarik Kesimpulan Logis

Dari uraian di atas jelas salah satu arti jahil adalah tidak berakal. Istilah tidak berakal dalam Bahasa Arab lebih mendekati arti “tidak mau mengerti”, “tidak mau memetik pelajaran atau hikmah”, “tidak bertindak logis” “tidak peduli”, mindlessness. Singkatnya, lebih mencerminkan aksi kehendak (the will) dari pada aksi pikiran (intelligence).

Orang yang memiliki pengetahuan luas atau konsepsi yang benar mengenai sesuatu (termasuk Allah SWT) tidak menjamin ia berakal dalam pengertian itu. Bacaan sejumlah ayat mengenai karakterisasi masyarakat jahiliah Masyarakat Mekah di era sebelum kedatangan Islam.

Mungkin berbeda dengan kepercayaan umum, Al-Quran mendokumentasikan bahwa masyarakat jahiliah sangat mengenal Allah dan secara umum memiliki konsepsi yang benar mengenai-Nya. Mereka mengenal Allah antara lain sebagai

  • Pencipta langit dan bumi: QS (31:25, 39:28))
  • Yang menurunkan air hujan atau sumber kehidupan: QS (29:63)
  • Tuhan Ka’bah: QS (106)
  • Pencipta mereka: QS(43:87)

Semua konsepsi itu benar menurut Al-Quran dan logisnya menempatkan Allah SWT, meminjam istilah Izutsu (1964), sebagai pusat medan semantik (the center of semantic field[3]) dalam welstaung atau cara pandang-dunia. Di sinilah letak kesalahannya: masyarakat jahiliah tidak mampu menarik kesimpulan yang logis dari konsepsi yang benar.

 …masyarakt jahiliah tidak mampu menarik kesimpulan logis dari konsepsi yang benar

Implikasi dari ketidakmampuan itu antara lain tindakan mereka “mengambil tuhan lain selain Allah (musyrik)” dan keyakinan bahwa “Allah tidak campur tangan dalam urusan aktual manusia sehari-hari”. Implikasi lebih lanjut, sekalipun mereka masih menyeru Alah SWT ketika dalam keadaan putus asa, mereka kembali berpaling dari-Nya begitu lepas dari kesulitan:

Dan apabila kamu ditempa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu, ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur) (QS (17:67)).

Implikasi lebih lanjut lagi, dan ini mungkin puncak kesalahan, mereka tidak mempercayai kehidupan akhirat:

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita dan mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita seain masa. Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-menduga saja ((QS(45:24)

Penulis yakin sebagian besar kita percaya pada kehidupan akhirat. Pertanyaannya, apakah kita mampu menarik kesimpulan logis dari- dan konsisten dengan– kepercayaan itu. Jika jawabannya negatif jangan-jangan kita termasuk jahil.

Wallahualam…..@

[1] Kisah lengkap mengenai filsuf dan joki unta dapat diakses di sini https://www.youtube.com/watch?v=9jqJvzSecWw

[2] https://www.almaany.com/en/thes/ar-en/%D8%AC%D9%87%D9%84/

[3] T. Izusu, God and Man in Quran, Keio University.

Air: Apa Kata Al-Quran?

Kita sebagai makhluk hidup ditakdirkan memiliki ketergantungan terhadap air[1]. Kita butuh air karena 60-70% berat tubuh kita berupa air. Demikian vitalnya fungsi air bagi tubuh sehingga kekurangannya akan memaksa tubuh secara otomatis mengambil sumber cairan lain dalam tubuh yaitu darah. Akibatnya darah mengental dan ini mengganggu fungsi darah mendistribusikan oksigen dan sari makanan ke seluruh bagian tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air itu maka kita perlu minum. Masalahnya, karena minum merupakan urusan sehari-hari, kita cenderung bersikap tidak peduli terhadap sumber air yang minum kita sehari-hari, suatu sikap yang kurang elok (QS 56: 68-70):

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkan dari awan atau Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Kutipan di atas, dalam bentuk narasi restrospektif, mengilustrasikan gaya khas Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Dia SWT dan ketergantungan kita secara mutlak kepada-Nya. Gaya ini khas dalam arti– mungkin berbeda dengan gaya Kitab-Kitab suci lain– menggunakan contoh kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diverifikasi (verifiable), bukan melalui penjelasan filosofis-abstrak atau cerita mengenai entitas atau peristiwa luar biasa yang adi manusiawi.

Yang menarik untuk dicatat, kata air (Arab: ٱلْمَآءَ), sangat sering disebutkan dalam Al-Quran selain yang dikutip di atas. Catatan penulis paling tidak ada ada 20-an ayat yang menyebutkan secara eksplisit kata air, tiga di antaranya adalah sebagai berikut:

  • “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha Mengetahui” (QS 22:63).
  • Tidakkah engkau melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya[2] (QS 35:27).
  • Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS 39:21).

Kutipan di atas menegaskan paling tidak dua hal. Pertama, air sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Sains dapat menjelaskan hal ini secara gamblang dan tak-terbantahkan. Kedua, air itu diturunkan-Nya (Arab: anzala) dari langit. Jadi, subyeknya jelas: Dia SWT.

Dengan iptek manusia dapat mengupayakan hujan buatan yang untuk keperluan jangka pendek, upaya yang dapat memberikan manfaat kepada manusia tetapi pasti dalam skala terbatas. Iptek mustahil dapat menggantikan fungsi matahari menguapkan air laut untuk membentuk awan dan mendistribusikannya secara alamiah pada tataran global. Selain itu perlu dicatat bahwa hujan buatan juga membawa dampak negatif yang merugikan antara lain dalam bentuk hujan asam dan pencemaran tanah[3].

Singkat kata, kita butuh air dan untuk memperolehnya kita perlu “campur tangan” langit. Dalam kontkes ini layak disisipkan di sini penuturan Lings[4] yang kaya makna terkait dengan simbolisme air:

In the Qoran the ideas of Mercy and water—in particular, rain—are in a sense inseparable. With them must be included the idea of Revelation, tanzīl, which means literally “a sending down.” The Revelation and the rain are both “sent down” by the All-Merciful, and both are described throughout the Qoran as “mercy,” and both are spoken of as “life-giving.” … rain might even be said to be an integral part of the Revelation which it prolongs, as it were, in order that by penetrating the material world the Divine Mercy may reach the uttermost confines of creation; and to perform the rite of ablution is to identify oneself, in the world of matter, with this wave of Mercy, and to return with it as it ebbs back towards the Principle, for purification is a return to our origins. Nor is Islam—literally “submission”—other than non-resistance to the pull of the current of this ebbing wave.

Dalam Al-Quran, gagasan tentang Rahmat dan air — khususnya hujan — dalam arti tertentu tidak dapat dipisahkan. Bersama mereka harus dimasukkan gagasan Wahyu, tanzil, yang secara literal berarti “mengirim turun.” Wahyu dan hujan keduanya “diturunkan” oleh Yang Maha Penyayang, dan keduanya digambarkan di seluruh Alquran sebagai “rahmat,” dan keduanya disebut sebagai “pemberian hidup.” … hujan bahkan dapat dikatakan sebagai bagian integral atau kelanjutan dari Wahyu yang … seolah-olah menembus dunia material, Rahmat Ilahi dapat mencapai batas-batas penciptaan yang paling tinggi; dan melaksanakan ritual wudu berarti mengidentifikasi diri sendiri, di dunia materi, dengan gelombang rahmat ini, dan untuk kembali bersamanya ketika ia kembali ke Prinsip, karena pemurnian adalah kembalinya ke asal usul kita. Islam yang secara literal “tunduk” tidak bearti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali-ke-asal.

Kutipan di atas mengaitkan air dengan rahmat karena keduanya sama-sama menggunakan kata tanzīl atau anzala. Jelasnya, kata ini dalam Al-Quran hampir semuanya digunakan untuk merujuk kepada rahmat dalam pengertian luas termasuk kitab, quran, ayat, tempat yang diberkati, dan ketenangan yang “diturunkan” ke dalam hati seseorang atau sekelompok orang. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk antara lain QS (48:18).

Islam yang secara literal berarti “tunduk” tidak berarti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali ke asal-usul kita.

Walalhualam…@

[1] Istilah “bumi yang hijau” menarik untuk dicatat karena setara dengan istilah ilmiah “blue planet” yang digunakan berdasarkan fakta ilmiah bahwa sekitar 72% permukaan bumi tertutup oleh air[1]. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Air

[2] Terkait dengan aneka jenis buah-buahan penulis teringat cerita seorang teman warga Jerman keturunan Argentina yang ingin ke Indonesia. Ketika ditanya apakah bermaksud mengunjungi Bali atau Candi Borobudur ia mengiyakan tetapi yang utama adalah ingin banyak menikmati buah manggis yang katanya tidak tumbuh di kawasan Amerika Latin.

[3] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/hujan-buatan

[4] Martin Lings “The Qoranic Symbolism of Water”, Studies in Comparative Religion, Vol. 2, No. 3. (Summer, 1968) © World Wisdom, Inc.www.studiesincomparativereligion.com

 

Banjir, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia

Warga Jabodetabek dan sekitar kali ini memperoleh “hadiah” tahun baru yang luar biasa: kepungan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Singkatnya, bencana. Kepada para korban kita turut prihatin, berempati serta dituntut untuk membantu meringankan beban kesulitan mereka: para korban perlu diyakinkan bahwa negara “hadir” dan solidaritas sosial di antara warga bangsa masih kental[1].

Bencana alam seperti banjir terkait dengan faktor cuaca yang sebagian di luar kendali manusia: “Cuaca di bumi juga dipengaruhi oleh hal-hal lain yang terjadi di angkasa, di antaranya adanya angin matahari atau disebut juga star’s corona[2]. Oleh karena itu, untuk menyikapinya, selain wajib melakukan segala upaya manusiawi untuk mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim dan cuaca[3], sikap pasrah untuk menerima takdir-Nya adalah suatu sikap sehat dan terpuji, paling tidak dari sisi agama.

Banjir kali ini dilaporkan tidak hanya melanda kawasan ‘langganan” banjir musiman, tetapi juga beberapa wilayah yang sebelumnya ‘bebas” banjir. Kasus banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Lebak dilaporkan baru pertama kali terjadi. Laporan semacam ini mendukung dugaan bahwa bencana kali ini terkait dengan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang bersifat global.

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Terkait dengan perubahan iklim global ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, kesadaran penduduk mengenai seriusnya isu itu semakin meningkat (Grafik1).

Grafik 1: Persentase Responden yang Menganggap Perubahan Iklim sebagai Ancaman Utama Negaranya

Sumber: INI

Kabar buruknya, tingkat kerusakan ekologis yang diakibatkan sudah sedemikian parah sehingga tindakan jamaah warga planet bumi bukan pilihan tetapi keharusan serta tidak dapat ditunda[4]. Urgensi masalahnya diabadikan dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet.

Ulah Manusia

Selain faktor alamiah yang di luar kendali, faktor ulah manusia juga berpengaruh terhadap bencana atau kerusakan alam. Bukti ilmiah mengenai hal itu boleh dikatakan melimpah. Dengan kata lain, dalil aklinya meyakinkan. Demikian juga dalil naqlinya, dalil berbasis Quran atau Sunah. Sebagai ilustrasi, QS(30:41) menunjuk langsung hidung manusia sebagai pelaku kerusakan “di darat dan di laut”:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41)

Ada dua catatan menarik dari ayat ini. Pertama, ayat itu diturunkan lebih dari satu milenium lalu ketika manusia belum mengenal teknologi “perusak” alam dalam skala yang kita kenal sekarang. Kedua, ayat itu memastikan pelaku kerusakan merasakan akibat sebagian perlakukannya terhadap alam.

Selain itu ada ayat lain yaitu QS (2:9-11) yang menengarai “perusak bumi” sebagai ciri orang-orang munafik:

dan di antara manusia ada yang berkata “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman (ayat ke-8).

Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), Janganlah berbuat kerusakan di bumi“. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan” (ayat ke-11).

Ingatlah sesungguhnya merekalah orang yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari” (ayat ke-12)

Ada kesan ayat ini ditujukan pada para perencana dan pelaku pembangunan fisik (katakanlah atas nama pertumbuhan ekonomi) yang tidak memiliki visi pembangunan berkelanjutan.

Wallahualam…@

[1] Kentalnya solidaritas ini terungkap dari pemberitaan media masa terkait penanganan korban bencana di sekitar Jakarta. Hal serupa (kalau tidak lebih mengesankan) terkait upaya bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir bandang di sebagian wilayah Lebak yang medannya dilaporkan sangat sulit dijangkau. Informasi mengenai yang terakhir diperoleh dari lapangan langsung melalui beberapa pegiat kemanusiaan yang kebetulan masih keluarga dekat penulis.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca

[3] Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang sangat luas dalam periode waktu yang sangat lama (11-30 tahun) yang disebabkan oleh letak geografis dan topografi suatu wilayah yang mempengaruhi posisi matahari terhadap daerah di bumi. Lihat https://www.padamu.net/pengertian-cuaca-dan-iklim-dan-perbedaannya

[4] Posting mengenai perubahan iklim dapat diakses di sini https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

Yesus dalam Al-Quran

Nama Yesus banyak disebutkan dalam Al-Quran, tentu tidak secara harfiah tetapi dalam padanan Arabnya yaitu Isa. Kitab Suci ini mencantumkan nama Isa AS secara eksplisit sebanyak 27 kali dalam 26 ayat. Ini fakta qurani yang menarik karena penyebutan Muhammad SAW secara eksplisit hanya sebanyak 4 kali dalam 4 ayat. Yang mungkin lebih menarik, penyebutan nama Maryam RA sebanyak 34 kali dalam 31 ayat[1]. Tulisan ini membahas secara singkat ayat-ayat yang terkait dengan Isa AS dan Maryam RA. Sebelum memasuki topik utama ini, untuk memberikan konteks yang lebih luas, berikut ini disajikan perspektif Al-Quran mengenai rasul secara keseluruhan[2].

Konteks

Al-Quran “tidak membeda-bedakan” para rasul-Nya dan mengakui “kelebihan” masing-masing. Ayat-ayat mengenai hal ini sangat eksplisit. Mengenai yang pertama QS(2:136) menarasikan sebagai berikut:

Katakanlah “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya. dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya (teks: muslimun).

(Teks ayat: Klik di sini)

“Kami tidak membeda-bedakan”, la nufarriqu. Penegasan yang sama dapat ditemukan dalam QS(2:185) dan QS(3:84). “Kami berserah diri kepada-Nya” menegaskan makna inklusif dari istilah muslimun; artinya, berlaku bagi umat-umat terdahulu sebelum Umat Muhammad SAW.

Terkait dengan “kelebihan masing-masing”, QS (2:253) menarasikannya sebagai berikut:

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ditinggikan beberapa derajat. Dan Kami berikan putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dengan Roh Kudus…”

(Teks ayat: Klik di sini)

Para penafsir sepakat narasi “yang (langsung) Allah berfirman” merujuk pada Nabi Musa AS. Musa AS, bersama Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing membawa kitab suci untuk umat masing-masing: Taurat-Yahudi (Musa AS), Injil- Nasrani[3] (Isa AS) dan Al-Quran-Muslim (Muhammad SAW). Tiga  agama ini yang kini  dikenal sebagai agama samawi[4], agama “langit”, agama berbasis wahyu.

Terkait dengan Ibrahim AS, Al-Quran menyebutkan istilah milah-hanif yang kira-kira setara dengan agama tetapi dalam bentuk yang lebih longgar. Dengan milah itu Ibrahim AS diakui sebagai leluhur semua agama samawi[5]. Lebih dari itu, ketika berargumen soal agama dengan para ahli kitab Muhammad SAW diperintahkan untuk merujuk milah hanif sebagai karakteristik ajaran yang dibawanya (QS 2:135)

Isa Ibnu Maryam

Dalam banyak ayat (14 dari 26 kasus), penyebutan Isa AS selalu dikaitkan dengan ibunya, Maryam RA. Jadi nama lengkap Isa AS adalah Isa Ibn Maryam. Karakterisasi Maryam AS dalam Al-Quran sangat terhormat dan boleh dikatakan unik:

  • Beliau satu-satunya wanita yang namanya tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran.
  • Sebagaimana disinggung sebelumnya, nama beliau tercantum tidak hanya sekali melainkan 34 kali dalam 31 ayat Al-Quran. Lebih dari itu, salah satu nama Surat Al-Quran berjudul Maryam (Surat ke-19).
  • Al-Quran menggelarinya sebagai sangat terhormat: tersucikan dan terpelihara (3:42).

Gambaran umum mengenai beliau dapat dilihat dalam QS (66:12):

… dan Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.

(Teks ayat: Klik di sini)

Penyaliban dan Trinitas

Soal penyaliban Isa AS QS(4:157) sangat eksplisit:

.. dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang-orang yang diserupakan dengan Isa…

(Teks ayat: Klik di sini)

Demikian juga soal trinitas. QS(4:171) sangat eksplisit mengenai ini:

Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah mengatakan, “(tuhan itu) tiga”, berhentilah dari ucapan itu).

(Teks ayat: Klik di sini)

Al-Quran menganggap isu trinitas sangat serius sehingga seolah-olah meminta konfirmasi langsung pada Nabi Isa AS dalam suatu “dialog”:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai “Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku bagai dua tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya… (5:116).

(Teks ayat: Klik di sini)

Wallahualam…@

[1] Penyebutan secara eksplisit Ibrahim AS dan Musa AS masing-masing sebanyak 71 kali (65 ayat) dan 158 kali (149 ayat).

[2] Dalam Islam istilah rasul merujuk kepada nabi (penerima wahyu) yang berkewajiban menyampaikan ajaran-Nya kepada Umat. Istilah rasul dalam Al-Quran terkadang merujuk kepada malaikat yang diutus untuk menyampaikan wahyu kepada seorang rasul.

[3] Dalam artikel ini digunakan istilah Nasrani, bukan Kristen, karena lebih bersifat qurani dalam arti tercantum dalam Al-Quran.

[4] Karena memiliki kitab suci maka semua umat agama samawi ini berhak bergelar ahli kitab. Jika Al- Quran menggunakan istilah ahli kitab tidak termasuk Islam maka hal itu karena Al-Quran masih dalam proses pembentukan. Berbeda Taurat dan Injil, Al-Quran diturunkan secara bertahap dalam waktu relatif lama, lebih dari 20 tahun.

[5] Dalam Islam, penghormatan (tahiyyah) terhadap Ibrahim AS terlembagakan karena merupakan bagian bacaan Salat (tepatnya pada tasyahud akhir).