Isu Kerdil yang Besar

Apa masalahnya dengan kerdil? Bukankah itu soal genetis atau turunan orang tua? Apakah itu sesuatu yang dapat dicegah? Daftar pertanyaan semacam ini dapat diperpanjang. Tapi apapun jawabannya, yang jelas pemerintah menilai serius urusan ini. Indikasinya, untuk mengurusi isu ini, pemerintah telah membentuk P2AK: Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil[1]. Secara administrasi Tim ini berada di bawah Sekretariat Kantor Wakil Presiden dan ini menunjukkan besar, serius dan kompleksnya isu ini

Dari kepanjangan TP2AK terlihat beberapa hal berikut: (1) fokus perhatian pada anak, (2) pengerdilan anak diasumsikan dapat dicegah, dan (3) upaya pencegahan itu perlu dipercepat. Tapi apa masalahnya dengan kekerdilan ini? Inilah yang akan dicoba dijawab secara sederhana melalui tulisan singkat ini, sekadar untuk memperoleh gambar besarnya.

Definsi dan Dampak Stunting

Padanan Bahasa Inggris untuk kata kerdil adalah swarf (kata benda) sementara untuk kata pengerdilan adalah stunting (kata kerja). Yang menjadi isu bukan swarf tetapi stunting. Asumsi dasarnya, berbeda dengan swarf yang lebih bersifat genetis atau terjadi karena kelainan hormonal yang tidak dapat dicegah, stunting dapat dicegah. UNICEF menggunakan istilah yang terakhir ini untuk merujuk pada rendahnya tinggi badan anak relatif terhadap umurnya karena kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang dan seringnya infeksi: “Stunting, or low height for age, is caused by long-term insufficient nutrient intake and frequent infections”.

Dampak stunting ternyata luas termasuk lambatnya pertumbuhan motorik dan rusaknya fungsi kognitif anak, kedua hal ini pada gilirannya berakibat  pada buruknya kinerja sekolah anak. Dampak lebih jauh, menurut WHO stunting membawa dampak negatif terhadap produktivitas ekonomi nasional. Yang ‘menakutkan’, menurut UNICEF dampak stunting terhadap pertumbuhan motorik dan kognitif anak bersifat permanen (irreversible).

Prevalensi Stunting

Menurut UNICEF hampir sepertiga anak balita secara global tergolong stunting. Angka ini tidak berbeda jauh dari angka Indonesia yang dalam periode 2010-2019 sekitar 27-35%[2]. Dinyatakan secara berbeda, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa angka stunting Indonesia merepresentasikan angka stunting global.

…. angka stunting Indonesia representasi angka stunting global.

Prevalensi stunting relatif tinggi di negara-negara berkembang. Walaupun demikian, angkanya sangat bervariasi menurut kawasan. Angka untuk kawasan Asia Timur (Pasifk), misalnya, hanya 16%, jauh lebih rendah dari angka kawasan Asia Selatan (46%). Yang layak-catat, angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Highest levels are found in South Asia
Prevalence of stunting in children under five, by region (2000–2006)

Source: UNICEF

Angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Sebagai catatan, proses pengumpulan data untuk menghitung angka pengukuran stunting secara langsung relatif kompleks sehingga sulit diajarkan pada petugas Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Di sisi lain, kuesioner Susenas menyediakan sejumlah variabel yang dapat digunakan untuk membangun variabel penjelas (explanatory variables) bahkan untuk menghitung proksi indikator stunting. Dengan demikian data Susenas secara umum berpotensi untuk digunakan sebagai alat pemantauan status stunting secara berkala.

Tantangannya, rancangan sampel Susenas utamanya dimaksudkan untuk mengukur karakteristik rumah tangga secara umum, bukan karakteristik sub-populasi anggota rumah tangga secara spesifik seperti balita apalagi baduta. Dalam konteks ini, kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan bukan merupakan pilihan tetapi merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

…. kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan … merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

Faktor Pengaruh

Terkait anak stunting ini catatan pentingnya adalah bahwa kondisinya merupakan akibat dari sejumlah faktor yang terjadi bahkan sebelum anak itu terlahir. Itulah sebabnya upaya penanganannya mencakup 1000 hari pertama termasuk ketika anak itu masih berbentuk janin dalam rahim ibunya. Dengan demikian faktor ibu turut menentukan: asupan gizi dan kesehatan reproduksi ibu ketika mengandung turut menentukan. Jika asupan gizinya buruk atau secara fisik belum siap (akibat pernikahan dini) maka besar kemungkinan dia melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR).

Banyak faktor yang mempengaruhi stunting termasuk sejarah kesakitan neonatal dan kemiskinan. Menurut suatu penelitian (2017) terhadap anak berumur 12-23 bulan, bayi dengan sejarah kesakitan neonatal (neonatal illness) memilki OR=1.23; artinya, memiliki risiko menjadi stunting 23% lebih tinggi dari bayi yang tidak memiliki sejarah itu. Sementara itu, risiko kemiskinan (tidak langsung) memiliki OR=1.3.

Menurut penelitian yang sama, risiko BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan risiko dua faktor sebelumnya. Angka OR-nya sekitar 1.74. Dengan kata lain, bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau di bawah normal (<2.5 kg) berisiko 74% lebih tinggi untuk menjadi stunting dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan normal (>=2.5 kg[3]). Yang juga layak-catat dari penelitian ini adalah bahwa bayi laki-laki 27% berisiko lebih tinggi menjadi stunting dari pada bayi perempuan. Apakah angka terakhir menunjukkan bahwa wanita lebih “tangguh” dari pria sejak masih bayi?

Wallahualam…. @

[1] Penulis baru saja kenal istilah TP2AK karena kebetulan beberapa hari lalu (3/6/20) berpartisipasi dalam suatu Zoom Meeting terkait isu ini.

[2] Menurut suatu penelitian (2017), prevalensi stunting anak umur 12-23 bulan di Indonesia sekitar 40.4%.

[3] Angka ini lebih kecil dari 2 standar deviasi median dari standar tinggi badan per umur menurut standar WHO.

Ihsan Kepada Orang Tua

Hampir semua (kalau tidak semua) agama mengandung ajaran untuk menghormati orang tua. Jadi tidak aneh jika Islam juga mengandung ajaran yang sama. Yang khas dalam Islam adalah ajaran ini demikian ditekankan dan ajarannya berasal langsung dari sumber tertinggi yaitu Al-Quran. Kitab Suci ini mengajarkan bahwa kita tidak cukup hanya berbuat baik kepada orang tua (Arab: al-birr); kita diperintahkan ber-ihsan kepada mereka.

…. kita tidak cukup hanya berbuat baik kepada orang tua; kita diperintahkan ber-ihsan kepada mereka.

Tulisan ini menyajikan refleksi mengenai sikap ihsan kepada orang tua berbasis beberapa ayat Kitab Suci itu. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini dibahas sekilas perbedaan dua istilah qurani ini yang baru saja disinggung: al-birr dan ihsan.

Perbedaan al-Birr dan Ihsan

Istilah al-birr merujuk pada kebaikan dalam pengertian umum sementara istilah ihsan pada al-birr tetapi dengan kualifikasi yang lebih dalam (deep) dan mendalam (profound). Perbedaan kedua istilah ini diilustrasikan secara sederhana oleh Ustaz Yazid Muttaqin:

Ketika tetangga Anda memberikan semangkuk opor ayam lalu keesokan harinya Anda membalas dengan juga memberinya semangkuk opor ayam, maka apa yang Anda lakukan itu adalah perbuatan baik namun tidak pada makna ihsan. Kebaikan yang Anda lakukan itu hanyalah kebaikan sepadan untuk membalas kebaikan yang Anda terima. Namun bila Anda membalas pemberian itu dengan opor ayam seekor utuh maka itulah yang disebut kebaikan dalam makna ihsan.

Untuk memperjelas, ilustrasi berikut ini mungkin dapat membantu.

Jika Anda berkomitmen mengalokasikan katakanlah 10-25% dari pendapatan Anda untuk orang tua maka itu adalah al-birr, Insya Allah. Anda telah melakukan apa yang dalam bahasa santri birrul walidain. Tetapi jika proporsi yang dialokasikan katakanlah 70% atau lebih tinggi maka Insya Allah Anda telah berbuat ihsan kepada orang tua.

Terkait dengan definisi ihsan, Sang Ustaz itu mengutip salah satu karya ulama besar, Syekh Nawawi Banten, sebagai berikut:

ليس الإحسان أن تحسن إلى من أحسن إليك ذلك مكافأة، إنما الإحسان أن تحسن إلى من أساء إليك

Artinya: “Ihsan bukanlah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan. Hanya dikatakan ihsan bila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Marâh Labîd, Beirut: Darul Fikr, juz I).

Perintah Kedua

Semua agama samawi menempatkan perintah ber-tauhid atau mengesakan Dia SWT sebagai perintah pertama dan utama. Dalam Agama Islam, hal itu tercermin dari rukun atau prinsip pertama dalam Rukun Islam maupun Rukun Iman. Dalam Agama Yahudi dan Kristen, hal yang sama juga berlaku jika mengacu pada 10-Perintah-Tuhan yang tercantum secara eksplisit dalam Kitab Keluaran maupun Kitab Ulangan. Dinyatakan secara berbeda, dalam semua agama samawi, ber-tauhid merupakan kebajikan utama yang menjadi basis bagi semua kebajikan yang lain.

…. ber-tauhid merupakan kebajikan utama yang menjadi basis bagi semua kebajikan yang lain.

Jika dalam 10-Perintah-Tuhan perintah kedua adalah mengingat dan menyucikan Hari Sabat, maka dalam Islam perintah kedua adalah ber-ihsan kepada orang tua. Hal ini menunjukkan demikian pentingnya perintah ihsan kepada orang tua:

Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, ber-ihsan kedua orang ibu bapak, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar”. QS (6:151).

Dari kutipan itu jelas perintah ber-ihsan kepada orang tua menempati urutan kedua setelah perintah ber-tahuid, sebelum perintah atau larangan yang lain termasuk membunuh. Perintah ber-ihsan itu sering diulang dalam Al-Quran dan secara konsisten menempati urutan kedua setelah perintah ber-tauhid. Dalam beberapa ayat perintah itu dinyatakan secara rinci sebagaimana tercantum dalam (Qs 31:13-15):

وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍۢ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar ber-ihsan) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Kebajikan Fundamental

Kenapa ihsan kepada orang tua demikian ditekankan dalam Al-Quran? Jawabannya, wallahualam. Yang jelas, secara biologis-normal, hubungan orang tua dan anak adalah hubungan niscaya, sine qua non: keberadaan anak menghendaki adanya keberadaan orang tua. Hubungan serupa dalam pengertian yang lebih subtil berlaku antara manusia dengan Dia SWT. Hubungan niscaya semacam itu adalah haqq (Arab) yang berarti kebenaran sekaligus realitas. Sebagai catatan, para sufi terbiasa menggunakan istilah Al-Haqq untuk merujuk pada Realitas tertinggi, Allah SWT.

Kebenaran dan realitas atau haqq (truth, veracity) adalah kebajikan fundamental yang mendasari dua kebajikan fundamental lainnya yaitu murah hati (Inggris: charity, charitable) dan rendah hati (Inggris: humility, humble). Dinyatakan secara berbeda, murah hati dan rendah hati ini secara spiritual tidak bermakna jika tidak didasari kebenaran.

Murah hati dan rendah hati ini secara spiritual tidak bermakna jika tidak didasari kebenaran.

*****

Jika kebenaran tercermin dalam perintah bertauhid dan ihsan kepada orang tua (QS 17:22-25), maka murah-hati dalam perintah “memberikan hak-hak orang-orang terdekat, miskin, dsb.” (QS 17: 26-28), sementara rendah hati dalam larangan “berjalan di muka bumi secara sombong” (QS (17: 37). Yang menarik, tiga ayat ini semuanya tercantum dalam Surat ke-17 (Al-Isra). Yang juga menarik, rangkaian ayat 22-37 dalam surat yang sama mencakup 10 jenis larangan keras termasuk berzinah, membunuh, praktik bisnis yang curang, dan mengeksploitasi anak yatim (sebagai representasi kelompok masyarakat yang rentan tanpa perlindungan).

Semua dari 10-larangan ini merupakan antitesis dari kebajikan-kebajikan yang terbingkai dalam tiga kebajikan fundamental yaitu  realitas atau kebenaran, murah hati, dan rendah hati.  Realitas atau kebenaran dalam konteks ini merujuk pada realitas hakiki dalam kebijakan abadi (perennial wisdom), bukan kebenaran realitas palsu (pseudo-reality):

…. spokesmen of the philosophia perennis… always have the freshness and perfect “timeliness” that comes from truth …, real wisdom does not fade with age …Conceptualist relativism abolished truth in order to set in its place a blind and heavy biological pseudo-reality (Schuon, Spiritual Perspectives & Human Facts, 2007:13).

Wallahualam…. @

Sepuluh-Perintah-Tuhan dalam Al-Quran

Bagi Muslim Al-Quran menyajikan panduan lengkap apa yang harus dikerjakan (DOs) dan apa yang terlarang (DONTs). Dari sumber ini mereka dapat menyusun semacam daftar DOs dan DONTs. Dalam konteks ini QS(17:22-36) menarik untuk disimak karena mengisyaratkan sejumlah DOs yang utama dan di sisi lain sekitar 10-DONTs yang sangat “dibenci” Rabb SWT. QS(17:36) menggunakan istilah DONTs ini sebagai kejahatan yang “kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu”[11. Melakukan kejahatan dalam kategori ini tentu merupakan dosa besar. Oleh karena itu dalam tulisan ini istilah 10 DONTs diganti dengan istilah 10-Dosa-Besar, sekadar untuk memudahkan ingatan. Yang menarik untuk dicatat, dalam tradisi dua agama samawi lain yaitu Yahudi dan Kristen dikenal apa yang disebut 10-Perintah-Tuhan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan substansi ajaran dua “10” ini: 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar.

Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan

Substansi 10-Perintah-Tuhan patut diduga diakrabi oleh Umat Yahudi dan Kristen karena tercantum dalam Kitab Keluaran (Exodus ) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy). Kedua Umat Agama Samawi ini juga patut diduga mengenali berbagai tradisi keagamaan mereka termasuk Talmud (Jewish Talmud, T), Kristen Reformasi (Reformed Christian, R), Septuagint (LXX). Philo (P), Lutheran (L), Samaritan (Samaritan Pentateuch, S), Augustine (A), dan Gereja Katolik (Catechism of the Catholic Church), C).

Sekalipun ada perbedaan narasi, substansi 10-Perintah-Tuhan dalam semua tradisi itu konsisten satu sama lain. Ada sedikit perbedaan mengenai penomoran. Angka 10 agaknya lebih merupakan alat bantu mengingat ketimbang masalah teologis[2].

Tabel 1: Daftar 10 Perintah-Tuhan[3] menurut Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan (Sumber: Wikipedia)

Lima catatan mengenai Tabel 1 perlu disisipkan di sini:

  1. Nomor pertama jelas menunjukkan Subjek pemberi perintah, bukan jenis perintah.
  2. No. terakhir tidak tercantum dalam semua tradisi kecuali Gereja Katolik (C) yang agaknya baru diintroduksi oleh Pop John Paul 2 pada 1992.
  3. Dalam 3 tradisi (S,L,A,C), No. 2-3 dianggap sebagai satu perintah.
  4. Hampir semua perintah dalam kolom (2) bersifat larangan.
  5.  Redaksi ayat QS( 24:27) mengenai No. 11 berbicara umum mengenai larangan memasuki rumah orang lain sebelum memperoleh izin dan mengucapkan salam. Secara makna ini mungkin juga termasuk No. 12-13 dalam tabel tetapi secara harfiah tidak eksplisit.

Tabel 1 menunjukkan hampir semua dari 10-Perintah-Tuhan (Kolom 2) ada padanannya dalam Al-Quran (Kolom 3). Tiga perintah pertama (No 2-4) tidak lain dari pada ajaran Keesaan Tuhan atau ajaran Tauhid dalam terminologi Islam. Selain ajaran tauhid, Kolom 3 menunjukkan ada enam perintah lainnya yang ada padananya dalam Al-Quran. Fakta ini– kesamaan ajaran Tauhid dan enam ajaran lainya– selayaknya menjadi pijakan bersama, common denominator, atau kalimatun sawa (dalam istilah Al-Quran) bagi Umat agama-agama samawi yaitu Umat Yahudi, Umat Kristen, dan Umat Islam. Gelar Al-Quran untuk dua Umat yang pertama adalah ahli kitab, suatu gelar terhormat.

… kesamaan ajaran Tauhid dan enam ajaran lainnya sudah selayaknya menjadi pijakan bersama Umat agama-agama samawi …

Versi Al-Quran

Kolom (3) Tabel 1 menyajikan ayat Al-Quran yang relevan dengan kolom sebelumnya. Narasi ayat pada Kolom (3) sangat eksplisit dan kuat dari sisi kebahasaan. Berikut adalah beberapa ilustrasinya.

Terkait No. 1-3 (Keesaan Tuhan), redaksi Al-Quran mengacu pada cuplikan dialog antara Musa AS (leluhur Umat Yahudi) dengan Allah SWT: “Sungguh, Aku in Allah, tidak adalah tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku”. Redaksi ini jelas berbentuk dialog: pihak pertama (Arab: mutkallim) adalah Allah SWT, pihak kedua atau orang yang diajak bicara (Arab: mukhatabah) adalah Musa AS. Karena posisi mukhatabah ini maka Musa AS bergelar Kalimullah.

Terkait No. 6, perintah “menghormati orang tua”, narasi Al-Quran terkesan “senapas” dengan larangan menyekutukan-Nya karena keduanya tercantum dalam ayat yang sama (ayat ke-23). Mengenai perintah menghormati orang tua Al-Quran malah menambahkan satu ayat dengan bahasa yang sangat tegas tetapi juga elegan (ayat ke-24):

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan mengatakan kepada kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ungkapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (ayat ke-23).

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil” (ayat ke-24).”

Mengenai larangan mencuri (No. 9) narasi Al-Quran sangat spesifik dan relevan bahkan dalam konteks dunia masa kini: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan dengan timbangan yang benar. Itulah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS 17:33).

Irisan

Pada Tabel 1 tampak beberapa perintah bertanda (*) karena tidak tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran. Di sisi lain, menggunakan rumpun ayat yang sama dalam Surat Al-Isra, ada empat larangan yang tidak tercantum dalam 10-Perintah-Tuhan. Ke empat larangan itu adalah (1) tindakan mubazir (ayat 36), (2) berperilaku pelit dan murah-hati berlebihan (ayat 29), (3) bertindak bodoh (tanpa ilmu) karena pendengaran, penglihatan dan gerak-hati, semuanya akan dimintakan pertanggungjawaban (ayat 36) dan (4) bersikap sombong (ayat 37). Mengenai yang terakhir berikut terjemahannya:

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

Singkatnya, dalam perspektif Al-Quran, kikir, boros, mubazir, bodoh dan sombong, bukan hanya buruk secara moral, tetapi merupakan bagian dari dosa besar dalam arti “sangat dibenci di sisi Tuhanmu” (teks: kana sayyiuhu ‘inda rabbika makruha).

… dalam perspektif Al-Quran, kikir, boros, mubazir, bodoh dan sombong, bukan hanya buruk secara moral, tetapi merupakan bagian dari dosa besar….

Berdasarkan diskusi di atas, dapat dikatakan bahwa 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar tidak persis identik. Artinya; ada bagian yang sama antara keduanya, ada bagian yang berbeda. Jika A = {10-Perintah-Tuhan} dan B= {10-Dosa-Besar} maka irisan antara A dan B menggambarkan kesamaan dua himpunan ini (lihat Gambar 1).

*****

Terhadap pertanyaan yang mungkin timbul kenapa 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar diperbandingkan, jawabannya adalah semangat ayat dalam QS (3:64):

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada suatu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan bahwa kita tidak tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada (mereka), ” Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim” (QS 3:64).

Wallahualam….. @

[1] Catatan kaki ayat ini dalam Al-Quran: Disertai Terjemahan dan Transliterasi, Mizan (2008) mendaftar 10 kejahatan yang dimaksud untuk merujuk kejahatan-kejahatan yang dirujuk oleh ayat-ayat sebelumnya sampai ayat ke-22.

[2] “Some suggest that the number ten is a choice to aid memorization rather than a matter of theology” (Wikipedia). Analog dengan 10-Dosa-Besar.

[3] Sengaja tidak diterjemahkan untuk menghindari salah-terjemah.

Estimasi Populasi Global Sepanjang Masa

Global dan Sepanjang Masa. Ini adalah dua kata kunci untuk menghindari keliru-baca judul tulisan dan keliru-paham isinya. Kata global mengimplikasikan faktor migrasi tidak relevan. Kata sepanjang masa mengimplikasikan status kelangsungan hidup (masih hidup atau sudah meninggal) juga tidak relevan. Singkatnya, dua faktor pertumbuhan penduduk ini, Migrasi (M) dan Kematian (D), tidak relevan dalam tulisan ini. Satu-satunya yang relevan adalah faktor Kelahiran (B). Dengan kata lain, populasi dalam judul tulisan identik dengan total Kelahiran, tepatnya total kelahiran-hidup[1], atau populasi yang pernah hidup (ever lived). Tulisan ini bermaksud mengestimasi populasi yang dimaksud.

Klarifikasi Teknis

Pertanyaannya, apakah mengestimasi populasi yang dimaksud secara teknis dimungkinkan dalam arti menghasilkan angka yang masuk akal. Jawabannya positif. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya.

Estimasi suatu populasi apa pun dimungkinkan asalkan dipenuhi dua syarat. Pertama, fungsi matematis dari populasi yang dimaksud dapat diketahui. Teknik demografi memastikan fungsi itu diketahui untuk organisme hidup termasuk manusia. Kedua, ruang lingkup fungsi itu dapat didefinisikan. Begitulah persyaratan kalkulus (definite integral). Dalam konteks tulisan ini, ruang lingkup yang dimaksud adalah batasan waktu dari “sepanjang masa”. Catatan sejarah demografi global memungkinkan pendefinisian ruang lingkup itu

Seperti yang akan segera terlihat, batas bawah “sepanjang masa” dalam tulisan ini adalah tahun 600,000 SM ketika hanya ada seorang populasi global, batas atasnya 2011 ketika total penduduk mencapai tujuh milyar, 107. Dengan demikian, bahasan dalam tulisan ini mencakup periode sekitar (6×106 + 2011) tahun, periode yang mencakup era sebelum maupun sesudah banjir akbar, era Nabi Nuh AS[2].

Metodologi

Populasi tahun t2 (=N2) merupakan fungsi dari populasi tahun t1 (=N1), rentang periode  yang menjadi perhatian (t2 -t1) dan pertumbuhan populasi dalam periode itu:

N2= f(N1, r, (t2 -t1))

Fungsi N2 dapat dinyatakan dalam model eksponensial[3] berikut:

N2 = N1exp(r(t2 -t1)) atau

(N2/N1) = exp(r(t2 -t1)) …. (1)

Dari persamaan (1) dapat dirumuskan pertumbuhan penduduk:

r = log(N2/N1)/(t2-t1)] …. (2)

Fokus tulisan ini adalah total kelahiran atau populasi yang pernah hidup yang dalam tulisan ini dinotasikan dengan n1 (untuk t1) dan n2 (untuk t2). Menggunakan analogi persamaan (1), total kelahiran dapat dinyatakan sebagaiJika persamaan (1) disubstitusikan ke persamaan (3) maka hasilnya

B = [((n2-n1) (t2-t2)] / [log(n2)-log((n1)] ….. (4)

di mana B adalah total kelahiran hidup atau populasi yang pernah hidup. B inilah yang menjadi tujuan akhir dari estimasi populasi dalam tulisan ini.

Hasil Perhitungan

Tabel 1 menyajikan hasil perhitungan berdasarkan persamaan (4). Sumber data diperoleh dari Keyfitz dan Caswell[4] dan hasil olahan data yang bersumber Worldmeter.

Tabel 1: Penghitungan Orang Pernah Dilahirkan

Seperti yang tampak pada tabel itu, rentang waktu dibagi dalam 8 periode mulai 600,000 SM. Catatan singkat mengenai empat periode pertama layak disisipkan di sini:

  • 600,000 SM: Di Afrika diduga Homo sapiens mulai berkembang;
  • 6,000 SM: Di Eropa mulai ada kehidupan Cro-magnous (Homo sapiens sapiens) mulai kehidupan di Eropa, jelas jelas apakah mereka  migran dari Afrika;
  • 1650: IPTEK mulai maju pesat; jarak antara bumi-matahari telah dapat dihitung dan dijadikan sebagai 1 unit astronomi oleh Kepler (1619); dan
  • 1962: Umur Battle (Grup Musik Inggris) baru berumur 2 tahun dan Yuri Gagarin baru saja bermanuver di Ruang Angkasa.

Tabel 1 (Kolom (3) juga menunjukkan betapa cepatnya populasi ‘manusia modern” (Homo Sapiens) tumbuh dalam lintasan waktu. Berikut ini adalah ilustrasi mengenai kecepatan pertumbuhan itu:

  • Pada fase awal, manusia perlu waktu hampir 600 milenium agar secara agregat berjumlah 250,000 jiwa;
  • Dalam fase berikutnya, makhluk ini perlu waktu kurang dari 8 milenium untuk menjadi 100 kali lipat dari fase sebelumnya; menjadi 25,000 juta jiwa. Dari sini mulai tampak akselerasi dari kecepatan pertumbuhan populasi manusia; dan
  • Dalam enam fase terakhir (1650-2011), populasi manusia hanya perlu waktu sekitar 3.5 abad untuk melipatkan-diri sebanyak 38 kali; dari 25 juta menjadi 7 milyar jiwa.

Fokus tulisan adalah Kolom terakhir pada Tabel 1. Pada kolom itu tampak pada awal, dari 600,000 SM–6000 SM, sudah ada hampir  sampai 12 milyar penduduk yang pernah hidup atau peristiwa kelahiran hidup. Yang mencolok adalah pertambahan kelahiran-hidup dalam periode 1974-1987 ketika kelahiran-hidup bertambah dari sekitar 13 milyar menjadi 58 miliar; lebih dari 4.5 kali lipat hanya dalam waktu hanya 12 tahun. Atas dasar ini maka masuk akal jika istilah ledakan penduduk (population explosion) menjadi keprihatinan hampir semua pihak di era 1970-90-an.

Kolom terakhir baris jumlah menunjukkan sampai 2011 sekitar 284 milyar jiwa yang pernah dilahirkan-hidup di muka bumi ini. “Populasi” yang sudah meninggal, dengan demikian, berjumlah sekitar 277 miliar jiwa. Proporsi yang “masih hidup” sekitar 2.5% (=7/284). Angka ini lebih rendah dari perhitungan Winter (1959) dan Fuhs (1951) yaitu 4-6% sebagaimana dikutip Keyfitz-Caswell (1977:13)[5]. Catatannya, yang terakhir ini mengomentari angka 4-6% ketinggian,

…. a proportion that would be somewhat smaller if we moved human origin back in time. The corresponding fraction for adults is greater, and the fraction of those with specific modern occupations who have lived, for instance engineers, much greater.

******

“Populasi” yang sudah meninggal yang berjumlah sekitar 277miliar jiwa itu (sampai 2011), menggunakan terminologi Islam, adalah populasi alam barzah (alam antara), antara alam dunia dan alam akhirat. Populasi Alam Dunia: Populasi Alam Barzah = 1:40. Jumlah mereka pasti terus bertambah karena sifatnya monotonously increasing menurut istilah orang matematik. Demikianlah faktanya karena “yang pernah hidup” pasti akan memasuki “pintu kematian”, meminjam istilah Hadits: “Kematian adalah pintu dan setiap orang akan memasukinya”.

 Dalam Weltanschauung Al-Quran, sebelum memasuki alam akhirat, setiap individu dalam populasi alam barzah akan dihitung satu-persatu untuk memastikan keadilan-Nya berlaku secara sempurna. Yang layak catat, soal perhitungan ini secara eksplisit tercantum dalam QS (19:93-95):

  • Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.
  • Dia Allah benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.
  • Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.

Wallahualam….. @

[1] Menurut definisi, kelahiran hidup adalah kelahiran yang diikuti oleh tanda-tanda kehidupan seperti menangis walaupun sesaat. Istilah kematian hanya berlaku bagi kelahiran hidup, istilah kematian tidak relevan untuk kasus lahir mati.

[2] Menurut catatan sejarah terjadi sekitar tahun 7,550 Sebelum Masehi.

[3] Rumus geometrik bisa diterapkan tetapi proses perhitungan menjadi rumit dan –ini yang mendasar– hasilnya tidak berbeda secara signifikan.

[4] Keyfitz, Nathan and Hal Caswell (1977), Applied Mathematical Demography (3rd Edition), Springer.

[5] Ibid.

Khutbah Salat Idul Fitri #Di Rumah Saja

Khutbah ke-1:

السَّلاَمُ†عَلَيْكُمْ†وَرَحْمَةُ اللهِ†وَبَرَكَاتُهُ

الله أكبر†(9x)

الْحَمْدُ لله رَ بِ الْعَالَمِيْنَ

اَللَّهُمَّ  صَلِيْ عَلَي سَيِدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدٌ اَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ الله

يَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَا اللهَ فَقْدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَاأَيُّهَا†الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَََّّ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

:وَقَالَ

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 155]

Ayat yang di atas menunjukkan bahwa cobaan atau bala itu merupakan keniscayaan bagi manusia. Bentuknya dapat bermacam-macam, mulai dari sedikit ketakutan, kekurangan pangan, bahkan kehilangan orang terkasih. Semua itu merupakan cara Allah SWT, Rabb kita semua, mendidik Umat manusia agar memperoleh pelajaran paling penting dalam kehidupan ini yaitu Sabar.

Dalam pengertian sederhana sabar kira-kira identik dengan kegigihan. Ribuan bukti menunjukkan kegigihan itu adalah kunci keberhasilan hidup yang berprofesi dalam bidang apa pun. Orang yang menonjol sukses hidupnya, hampir semua kalau tidak semua, adalah terkait dengan kegigihan. Pekerja yang paling sukses pada umumnya pekerja yang paling gigih, demikian juga pengusaha, ilmuan, entertainer yang paling sukses.

الله†أكبر†(3x

Demikianlah kira-kira pesan moral al-Baqarah 155. Ayat berikutnya mendefinisikan arti kata Sabar:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 156]

Ayat ini menunjukkan dalam ajaran Islam, semua urusan, termasuk musibah pendemi Covid-19, merupakan ketetapan-Nya sehingga harus dikembalikan kepada Pemilik sesungguhnya dari setiap urusan. Tetapi ini tidak berarti pasrah dalam pengertian menyerah tanpa upaya. Sebaliknya yang dituntut: mengerahkan segala daya-upaya untuk menghindari mudharat pandemi, menggunakan akal sehat bahkan keseluruhan fakultas ruhani kita (Arab: sulthan) untuk menghindarinya, tetapi pada akhirnya kita harus pasrah menerima ketetapan-Nya (Arab: aslama) setelah pengerahan upaya itu.

Makna sabar secara qurani dicontohkan oleh kemenangan pasukan Nabi SAW dalam perang Badar dan kekalahan mereka dalam Perang Uhud (QS 3:213-215). Di ayat lain disebutkan bagaimana Dia SWT memonitor apa yang dilakukan Nabi SAW menjelang perang-perang itu (QS 3:121)

الله†أكبر†(3x

Musibah, selain merupakan keniscayaan hidup, juga merupakan keseluruhan cerita tragedi kematian maupun kehidupan:

تَبَـٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS 67:1-2)

Kalau ditanya apakah misi hidup maka jawabannya melakukan amal terbaik, ahsanu amala. “Orang terbaik diantara kamu adalah orang paling bermanfaat bagi orang lain”; demikianlah kira-kira salah satu sabda Nabi SWT.

الله†أكبر†(3x

أَقُوْلُ†قَوْلِيْ†هَذَا†وَاسْتَغْفِرُ†اللهَ†لِيْ†وَلَكُمْ†إِنَّهُ†هُوَ†الْغَفُوْرُ†الرَّحِيْمُ

Khutbah ke-2

الله†أكبر†(7x)

لا†اله†الا†اللهÆƆالله†أكبر†الله†أكبرÆƆولله†الحمد

الْحَمْدُ†لله†رَ†بِ†الْعَالَمِيْنَ

اَللَّهُمَّ†صَلِ†يْ†عَلَي†سَ†يِدِنَا†مُحَمَّدٍ†وَعَلَي†آلِهِ†وَأَصْحَابِهِ†اْلأَخْيَارِ†أَجْمَعِيْنَÆ

اَشْهَدُ†اَنْ†لاَ†اِلَهَ†اِلاَّ†اللهُ†وَاَشْهَدٌ†اَنَّ†مُحَمَّدًارَسُوْلُ†الله

يَا†مَعَاشِرَ†الْمُسْلِمِيْنَ†،†أُوصِيْكُمْ†وَإِيَّايَ†بِتَقْوَا†اللهَ†فَقْدْ†فَازَ†الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ†اللهُ†تَعَالَى∫†اِنَّ†اللهَ†وَمَلاَئِكَتَهُ†يُصَلُّوْنَ†عَلىَ†النَّبِىْ†يَا†يُّهَاالَّذِيْنَ†آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْه†وَسَلِ†مُوْاتَسْلِيْمًا

اَلل†هُمَّ†اغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَ†وَالْمُسْلِمَاتِ†وَالْمُؤْمِنِيْنَ†وَالْمُؤْمِنَاتِ†اْلاَحْيَاءِ†مِنْهُمْ†وَاْلاَمْوَاتِ†.

رَبَّنَااَتِنَافِى†الدُّنْيَا†حَسَنَةً†وَفِى†اْلاَخِرَةِ†حَسَنَةً†وَقِنَا†عَذَابَ†النَّار†والْحَمْدُ†لله†رَ†بِ†الْعَالَمِيْنَ

وَ†السَّلاَمُ†عَلَيْكُمْ†وَرَحْمَةُ†اللهِ†وَبَرَكَاتُه

******

Renungan Puasa (5): Idul Fitri

Hari ini (23/5/20) adalah hari terakhir Umat Islam Sejagat melaksanakan Ibadah Puasa, besok Hari Lebaran, Lebaran Idul Fitri. Ada kedalaman dalam istilah Idul Fitri dan tulisan ini mencoba mengulas secara sekilas.

Memaknai Ulang Kata Fitrah

Secara kebahasaan, istilah Idul Fitri berarti “kembali ke fitrah”. Kata fitrah kira-kira setara dengan kata suci, asli, murni, atau otentik. Dengan demikian, istilah Idul Fitri dapat diartikan sebagai kembali menjalani kehidupan otentik tanpa dibuat-buat. Artinya, selama ini kita menjalani kehidupan yang tidak otentik. Demikianlah karena kita hidup sebagai person.

Dalam peradaban Romawi Kuno kata person persona (Latin) or prosopon (πρόσωπον; Greek)” digunakan untuk merujuk pada kata topeng, topeng yang digunakan aktor ketika bermain di atas panggung sandiwara. Topeng yang berbeda mewakili “personae” yang berbeda. Jika topeng itu dilepas maka tidak relevan lagi istilah penguasa-rakyat atau tuan-budak. Maksudnya, sekalipun diperlukan, pasangan-kontras itu perlu dimaknai sebagai perbedaan peran yang bersifat situasional tetapi tetap dalam hubungan horizontal antar sesama. Pemaknaan ini sejalan dengan semangat kesetaraan harkat manusiawi, semangat kerja-sama tanpa paksa atau eksploitasi.

Bacaan sejumlah ayat Al-Quran mengindikasikan bahwa istilah Idul Fitri dalam pengertian di atas mengisyaratkan beberapa fundamenta ajaran Islam: (a) manusia pada dasarnya suci, (b) Puasa atau ibadah lain memungkinkan penyucian dilakukan sendiri, dan (3) terkait dengan butir b, pertanggungjawaban keagamaan bersifat individual (lihat, misalnya, QS 19:95).

Takbir dan Sejarah Luar Biasa

Yang khas dalam Idul Fitri adalah kumandang takbir: Allahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar. Para Ulama sepakat menambah dzikir dalam takbir adalah suatu kebaikan. Atas dasar ini Imam Syafii menggunakan lafal takbir sebagai berikut:

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن، لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر

Allâhu akbar kabîran wal hamdu lillâhi katsîra wa subhânallâhi bukratan wa ashîla, lâ ilâha illallâhu wa lâ na’budu illâ iyyâh, mukhlishîna lahuddîna wa law karihal kâfirun, lâ ilâha illallâhu wahdahu shadaqa wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzâba wahdahu, lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar”

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan(yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke-Esa-an-Nya, Dia Dzat yang menepati janji, Dzat yang menolong hambaNya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan ke Esa anNya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar.”

Menurut catatan sejarah, lafal yang di garis-bawahi dikumandangkan oleh pasukan Nabi SAW menaklukkan Mekah dari genggaman pasukan Musyrikin-Mekah tanpa pertumbuhan darah. Ini sejarah, sejarah yang dapat dikatakan luar biasa mengingat dua hal: (1) pengalaman pihak penakluk mengenai kekejaman luar biasa pasukan Kaum Musyrikin dalam peperangan sebelumnya, dan (2) tradisi “balas-dendam” merupakan norma umum pada era sekitar abad ke-7M, apalagi bagi masyarakat jahiliyah Arab.

Penaklukan Mekah dan Revolusi Perancis

Sejarah penaklukan Mekah dan Revolusi Prancis adalah sejarah kemenangan. Yang terakhir ini bahkan diklaim secara luas sebagai simbol kemenangan kemanusian era modern. Yang jarang disadari adalah perbedaan mencolok antara keduanya. Jika penaklukan Mekah tanpa pertumbuhan darah, maka revolusi Perancis bersimpuh darah dalam arti harfiah. Terkait yang terakhir ini, dua fakta sejarah berikut layak disimak

  • Revolusi Prancis diikuti oleh kekacauan sosial yang menimbulkan apa yang dikenal sebagai Great Fear (la Grande peur). Majelis Konstituen Nasional di Prancis, pada 4/8/1789, menandatangani penghapusan orde kerajaan yang oleh sejarawan George Lefebvre sebagai “sertifikat kematian orde lama” (death certificate of the old order)”
  • Revolusi Prancis diikuti gerakan radikal yang tidak masuk akal: (a) menyatakan perang terhadap Austria dan Prusia yang dipercayai, (b) para ekstrimis yang dipimpin Jacobins menyerang istana, menahan raja (10/8/1792), menuduhnya penghianat negara (21/1/1793), serta mengeksekusi permaisuri Marie-Antionetter ke tiang guletin , dan (3) Revolusi Perancis berakhir dengan munculnya rezim Napoleon yang membawa jenis kekacauan baru bagi masyarakat Eropa.

Mengenai Great Fear, History mengemukakan ini: “Did you know? Over 17,000 people were officially tried and executed during the Reig of Terror, and unknown number of others dies in prison or without trial”.

*****

Demikian makna Idul Fitri secara kebahasaan dan kesejarahan. Pelajarannya, pelaku Puasa– yang telah meraih prestasi dengan melakukan pekerjaan yang mungkin paling berat yaitu mengendalikan hawa nafsu– berhak dikategorikan ‘aidin-al-faizin yang berarti mereka yang kembali ke fitrah serta membawa kemenangan. Idul Fitri perlu disertai kumandang takbir sebagai pernyataan kesadaran mengenai kebesaran-Nya serta kekerdilan-diri, kesadaran yang diteladankan oleh para penakluk Kota Mekah belasan abad lalu.

Wallahualam….@

Renungan Puasa (4): Kekayaan Makna Takwa

Umat Islam kini tengah mendekati garis finish dari lintasan panjang puasa mereka selama sebulan penuh. Kondisi fisik mereka boleh jadi berada pada titik rendah tetapi status spiritual mereka tinggi. Apa pun kasusnya, menjelang garis finish itu, mereka tidak mengendurkan amalan, malah melakukan akselerasi pengerahan energi fisik dan dan spiritual untuk memenangkan piala takwa (QS 2:183). Yang mereka lakukan adalah mengintensifkan amalan-amalan Nawafilah yang menjadi amalan utama Puasa termasuk tadarus dan sedekah.

Demikian besar daya tarik takwa sehingga para shoimun berani terjun dalam peperangan terberat, peperangan melawan hawa nafsu (Hadits). Mereka berusaha keras untuk tidak bertindak bodoh dengan menempatkan hawa sebagai Tuhan yang mendikte arah perjalanan hidup (QS 25:43).

Istilah takwa kaya makna. Tulisan ini mengulas secara sekilas kekayaan makna yang dimaksud.

Takwa, Taat dan Ihsan

Takwa identik dengan taat; artinya, melakukan apa yang diperintah dan menghindari dilarang. Jika setelah puasa ketaatan tidak meningkat maka puasa tidak kena sasaran. Dengan kata lain, indikator keberhasilan Puasa adalah peningkatan ketaatan. Demikianlah arti takwa secara istilahi menurut para ulama.

Dalam tingkatnya yang lebih tinggi takwa mengandung tiga unsur Ihsan: (1) berani bersedekah ketika susah, (2) mampu mengendalikan amarah ketika tengah pada puncak-puncaknya, dan (3) berlapang dada ketika “harga-diri” tercedera orang lain dengan memaafkan pelakunya  QS (3:133-4).

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langi dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai Muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan atau Ihsan).

Demikianlah antara lain makna takwa menurut versi qurani.

Takwa, Kemuliaan dan Kesamaan Derajat

Masyarakat jahiliyyah dulu sangat mengenal konsep murah hati. Secara alami mereka menghormati seseorang yang memiliki sifat pemurah; karim, istilah mereka. Walaupun demikian mereka kaget ketika turun ayat yang mengaitkan kata kemuliaan dengan ketakwaan (QS 17:27). Pesan ayat ini revolusioner bahkan dalam standar masa kini. Agar jelas, berikut ini disajikan ayat dan terjemahan lengkapnya.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Surat Al-Hujurat (49) ayat 13]

Ada beberapa catatan yang layak dikemukakan terkait dengan ayat itu.

  • Lawan bicara (Arab: Mukatabah) ayat adalah manusia secara keseluruhan (Teks: annnas), bukan hanya orang yang beriman. Di sini terlihat universalitas audiensi Al-Quran.
  • Perbedaan gender dan keragaman suku dan budaya bagi manusia bersifat alamiah, fitrah. Masing-masing gender dan suku-budaya memiliki bakat (Arab: syakilah, lihat QS (17:84) yang khas sehingga masing-masing dapat saling mengenal, saling belajar, saling melengkapi.
  • Variabel suku-bangsa tidak valid sebagai ukuran kemuliaan seseorang atau bangsa. Ketiga catatan ini agaknya masih terlalu revolusioner bahkan bagi peradaban masa kini.

Singkatnya, kecenderungan primordial kesukuan, rasa kebangsaan yang berlebihan sebagai imbas negatif dari konsep negara bangsa, supremasi ras, semuanya tidak ada hubungan dengan kemuliaan seseorang atau bangsa sehingga tidak sesuai konsep takwa versi qurani. Konsep kemuliaan menurut QS(49:13) lebih sejalan dengan semangat kesatuan kemanusiaan tanpa batas buatan seperti negara, semangat yang agaknya ingin disampaikan Covid-19.

Murah Hati yang Sederhana

Q(3:134) sebagaimana dikutip di atas menunjukkan hubungan antara takwa dengan murah hati. Walaupun demikian, agar bermakna, murah hati perlu disertai keikhlasan (QS 2:164) dan proporsional dalam arti tidak berlebihan (QS 17:29) sehingga tidak mubazir (QS 17:27).

Keikhlasan dan proporsional ini dapat dikatakan syarat perlu bagi murah hati agar bermakna. Di luar dua syarat ini dapat ditambahkan syarat ketiga yaitu kerendahan hati. Murah hati yang rendah hati, humble charity. Mengenai Mengenai syarat ketiga ini dikemukakan oleh Schuon:

Humble charity will avoid exhibiting itself without any useful purpose; man must not pride himself on his generosity: “Let not thy left hand know what thy right hand doeth.” The gift of self should be above all inward; without this gift outward charity is devoid of spiritual value and blessing.

Murah hati yang sederhana akan menghindari sikap memperlihatkan diri tanpa tujuan yang bermanfaat; manusia tidak boleh membanggakan dirinya atas kemurahan hatinya: “Jangan biarkan tangan kiri kamu tahu apa yang dilakukan tangan kananmu.” Pemberian di atas segalanya harus berorientasi ke dalam; tanpa ini, pemberian lahiriah tidak memiliki nilai dan berkah spiritual.

*****

Demikianlah makna takwa dalam berbagai level: level individual, level komunitas, dan level kemanusiaan. Dua level terakhir ini agaknya masih perlu memperoleh perhatian.

Wallahualam….. @