Refleksi, Sejarah, Stat_Ketahanan_Sosial

Hijrah sebagai Landasan Pacu Peradaban Umat: Bahan Renungan

Sumber Gambar: Google

Selamat bagi yang merayakan Tahun Baru Hijriyah!

Mengenai perayaan ini itu layak disisipkan dua catatan berikut:

  • Umat merayakannya secara beragam sesuai tradisi budaya setempat. Atau tidak merayakan sama-sekali. Dengan kata lain, ini soal ekspresi budaya.
  • Perayaan ini tidak dilakukan dalam era Rasul SAW; tidak juga dalam era khalifah pertamanya, Abu Bakar RA. Demikianlah karena sistem kalender Islam yang dikenal sebagai Kalender Hijriyah baru dikenal dalam era Khalifah ke-3, Umar RA.

Istilah Kalender Hijriyah menunjukkan bahwa bahwa sistem penanggalan ini terkait dengan peristiwa Hijrah, peristiwa perpindahan permanen dari Kota mekah ke Kota Yatsrib (kemudian diganti dengan Madinah an-Nabi tetapi kata an-Nabi segera dihapus), oleh Rasul SAW bersama komunitas Muslim yang berjumlah kecil. Peristiwa ini terjadi tahun 620 Masehi atau sekitar 14 abad lalu menurut sistem Kalender Masehi. Umar RA menetapkan peristiwa ini sebagai titik tolak penanggalan sistem Kalender Hijriyah. Pertanyaannya, mengapa?

Kenapa peristiwa Hijrah dipilih sebagai titik tolak peradaban Umat dan bukannya peristiwa lain yang juga bersifat historis dalam Sejarah Islam termasuk kelahiran Rasul SAW (570/571) atau turunnya wahyu pertama (610) Agaknya hanya Umar RA ang dapat memberikan jawaban meyakinkan terhadap pertanyaan ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga-duga reasoning beliau berdasarkan beberapa fakta berikut:

  • Populasi komunitas Muslim sebelum-Hijrah masih sangat kecil, terlalu kecil untuk menjadi bibit Umat yang berbobot. (Umat berarti komunitas Muslim atau penganut agama Islam.)
  • Wahyu yang diturunkan sebelum-Hijrah lebih terfokus pada ajaran keyakinan agama (Iman) dan kehidupan akhirat, kehidupan dunia-atas-sana. Karakteristik wahyu ini dapat dikenali melalui surat-surat pendek  Al-Quran. Ajaran Ini tentu belum cukup untuk membangun peradaban di dunia-bawah-sini berdasarkan acuan normatif yang diturunkan dari dunia-atas-sana. Ajaran Islam sangat menghargai kehidupan dunia sebagai satu-satunya kesempatan sarana-amal bagi kehidupan akhirat sekalipun yang pertama bukan tujuan dalam dirinya sendiri. Islam menghendaki Umat tidak mengabaikan kehidupan dunia (QS 28: 77) dan memperoleh kebahagiaan (Arab: hasanah) di akhirat dan kebahagiaan di dunia (QS 2:201).
  • Sebelum-Hijrah Umat tidak memiliki pijakan geografis yang dapat dijadikan sebagai modal dasar “negara” untuk membangun suatu peradaban besar secara bebas tanpa intimidasi kekuasaan seperti yang dialami Umat di Kota Mekah; dan
  • Jika sebelum-Hijrah soko guru Umat hanya kaum Muhajirin yang memiliki karakter luar biasa (QS 59:8), di Madinah soko gurunya diperkuat dengan bergabungnya kaum Ansar yang juga memiliki karakter luar biasa (QS 59:9).

Kombinasi Muhajirin-Ansar melahirkan bibit Umat yang unggul[1]. Bibit ini lolos-uji melalui berbagai perjuangan mempertahankan kelangsungan hidupnya menghadapi kaum kuffar Quraisy (artinya, benar-benar kafir) melalui Perang Badar ( 624 ), Perang Uhud (625) dan perang-perang lainnya. Umat ini juga lolos-uji dari rongrongan internal komunitas Yahudi dan para unsur kaum munafikin (orang-orang munafik) yang tidak kalah bahayanya. Dua kelompok terakhir ini berupaya mati-matian memadamkan “api” Islam yang mulai menyala.

Singkatnya, peradaban Umat dalam panggung dunia secara realistis-historis baru dapat direalisasikan pasca-Hijrah. Dengan kata lain, Hijrah adalah titik tolak, atau lebih tepat landasan pacu. Inilah barangkali landasan pikiran Umar RA, khalifah yang masyhur daya inovatifnya.

Penggunaan analogi landasan pacu dalam paragraf di atas tidak berlebihan mengingat kecepatan penyebaran peradaban Umat. Sebagai ilustrasi, hanya dalam 1.2  abad sejak Hijrah, tepatnya di akhir era khalifah Hisyam (memerintah 724-743) dari Dinasti Umayah, luas kekuasaan kekhalifahan membentang  pantai samudera Atlantik sampai batas-batas Cina sebagaimana diungkapkan Hitti (1961) dalam bukunya Histoy of the Arabs:

Di bawah kekuasaan ʻAbd-al-Malik dan dari empat putra yang menggantikannya, kekuasaan Damaskus mencapai puncak kekuasaan dan kemegahannya. Selama masa pemerintahan al-Walid dan Hisyam, kerajaan Islam mencapai ekspansi terbesarnya, membentang dari pantai Samudra Atlantik dan Pyrenees ke Indus dan batas-batas Cina — suatu tingkat yang sulit disaingi pada zaman kuno dan dilampaui di zaman modern hanya oleh Kerajaan Inggris dan Rusia. Untuk periode megah ini termasuk penaklukan Transoxiana, negara Eropa terbesar yang pernah dimiliki oleh Arab — Spanyol.

Peradaban Umat boleh dibilang paling beruntung bahkan unik dalam perspektif keseluruhan sejarah peradaban umat manusia. Paling ada tiga argumen mengenai hal ini:

  • Umat ini memiliki bibit unggul yang berbobot, kombinasi Muhajirin-Ansar yang masing-masing memiliki karakter luar biasa (bahkan dalam standar moral masa kini).
  • Dalam satu dekade perjalanan sejarahnya Umat dibimbing secara langsung seorang laki-laki pilihan (Arab: mustafa) yang memiliki kapasitas kepemimpinan luar biasa (bahkan dalam standar sekarang); dan
  • Dalam 10 tahun pertama dipandu secara langsung oleh wahyu yang dikenali melalui melalui surat-surat panjang Al-Quran, Surat-syurat Madaniyyah; wahyu yang diterima oleh rasul terakhir, dalam siklus terakhir kerasulan agama-agama langit (Aab: samawi) sejak Nabi Adam AS.

Tabel 1 menyajikan daftar pendek peristiwa perjalanan Umat dalam satu dekade pertamanya. Pada tabel itu tampak betapa sibuknya Rasul SAW dan para sahabat mengurusi isu-isu keumatan mempertahankan kelangsungan hidup Umat serta menorehkan prestasi gemilang, bukan isu-isu ibadah dalam arti sempit.

Ucapan terima kasih layak diberikan oleh Umat yang kini diperkirakan berjumlah 1.8 milyar jiwa[2] kepada Umar RA dengan amal inovatifnya menginisiasi Kalender Hijriyah. Juga untuk banyak amal inovatif lainnya termasuk:

  • Rekomendasi Kepada Rasul SAW untuk menggunakan adzan sebagai cara memanggil salat jamaah bagi Umat;
  • Mengomandoi perluasan wilayahi kekuasaan pemerintah Madinah ke luar Jazirah Arab sehingga mencakup Palestina dan sebagian kawasan Suriah dan Mesir; dan
  • Membangun sistem administrasi pemerintahan dalam kekhalifahannya untuk mengimbangi perluasan wilayah.

Rasul SAW agaknya pembaca karakter luar biasa ketika mengungkapkan kira-kira, “Seandainya bukan Muhammad SAW yang terpilih sebagai rasul maka Umar orangnya”.

Wallahualam…@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

 

Advertisements
Standard
Refleksi, Sejarah, Stat_Ketahanan_Sosial

Sulitnya Mempersatukan Umat

Kalau ada suatu ideal yang dihasratkan oleh Umat tetapi hampir tidak pernah diraih maka itu adalah persatuan Umat, dengan sedikit pengecualian tentunya. Dalam hal ini kata Umat digunakan untuk merujuk pada komunitas Muslim atau penganut Agama Islam.

Titik Keseimbangan

Kata Umat tercantum dalam teks suci Al-Quran Surat ke-2 ayat ke-143 (selanjutnya, QS 2:143) yang mengkarakterisasikan sebagai komunitas yang moderat (Arab: wasatha). Salah satu tafsir ayat ini, Umat (seyogianya) menempatkan diri pada titik keseimbangan tiga pilar agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan[1]. Wallahu’alamu bimradih! Dalam milah Ibrahim pilar pertama demikian ditekankan sehingga seolah-olah menyerap dua pilar lainnya. Dalam “agama” Musa AS dan Isa AS pilar ke-2 dan ke-3 yang ditekankan sehingga dua pilar lainnya seolah-oleh terserap. Terkait dengan tafsir ini dapat dirujuk kutipan Schuon (2002:87-88) berikut[2]:

Untuk menunjukkan bagaimana agama Muslim menganggap dirinya sebagai penyelesaian dan sintesis dari monoteisme sebelumnya, pertama-tama kita harus ingat bahwa unsur-unsur konstitutifnya adalah al-Iman, al-Islam, dan al-Ikhsan, istilah-istilah yang dapat dipadankan, tidak secara harfiah tetapi tetap memadai, dengan “Iman” (Faith), “Hukum” (Law) dan “Jalan” (Way). “Iman” berkorespondensi dengan yang pertama dari tiga monoteisme, yaitu dari Abraham; “Hukum” untuk yang kedua, dari Musa, dan “Jalan” dari ke yang ketiga, yaitu Yesus dan Maryam. Dalam Abrahamisme, unsur “Hukum” dan “Jalan” seolah-olah terserap oleh unsur “Iman”; dalam Musaisme, unsur “Hukum” yang mendominasi sehingga menyerap unsur “Iman” dan “Jalan”, dan dalam agama Kristen, “Jalan” yang menyerap dua elemen lainnya. Islam, mengandung ketiga unsur ini secara berdampingan dan membentuk keseimbangan sempurna.

Era Istimewa

Apakah kesatuan Umat mungkin? Ya, karena pernah dibuktikan dalam era Rasul SAW, era 10 tahun pertama peradaban Muslima (622-632). Periode ini adalah model ideal yang dapat dicapai (attainable). Karena dapat dicapai? Karena individu Umat seperti kita, manusia biasa. Lebih dari itu, Rasul SAW adalah juga manusia “seperti kalian” menurut narasi teks suci (QS 18:110); bedanya, beliau memperoleh wahyu.

Tetapi periode itu memang periode istimewa dilihat dalam tiga hal berikut:

  • Peradaban Umat dalam proses pembentukan dan masih dibimbing oleh wahyu (ayat-ayat Madaniyyah).
  • Umat masih dibimbing Rasul SAW yang memiliki kepemimpinan luar biasa serta memiliki “akhlak yang agung” menurut QS (68:4); dan
  • Komposisi utama pembentuk Umat terdiri dua kaum yang memiliki karakter luar biasa yaitu Kaum Muahajirin yang Kaum Ansar[3].

Karakter luar biasa dua kaum ini mereka diabadikan dalam teks suci:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keredaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (QS 59: 8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (QS 59:9).

Peradaban Umat dalam 10 tahun pertamanya mewarisi tiga pusaka: Quran, Sunnah Rasul SAW, dan persatuan jazirah Arab. Yang terakhir ini layak disebut pusaka karena ada adagium yang mengatakan bahwa salah satu kemustahilan dunia adalah mempersatukan suku-suku Arab. Capaian era istimewa ini secara apik dinarasikan oleh Amstrong (2002:33):

Kehidupan dan pencapaian Muhammad akan mempengaruhi visi spiritual, politis dan etis Muslim selamnya. Mereka mengekspresikan pengalaman Islami dari “penyelamatan”, yang tidak terdiri dari perbuatan “dosa asal” yang dilakukan Adam dan pengakuan terhadap kehidupan yang abadi, melainkan dalam pencapaian sebuah masyarakat yang mengamalkan kehendak Tuhan untuk ras manusia. Ia bukan hanya membebaskan Muslim dari neraka politis dan sosial yang ada di Arabia pada masa sebelum Islam, tetapi juga memberi mereka sebuah konteks yang di dalamnya mereka bisa dengan mudah tulus memasrahkan diri pada Tuhan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Capaian era istimewa ini sampai tarap tertentu dipertahankan dalam era dua khalifah pertama: Abu Bakar RA (memerintah 632-634) dan Umar RA (memerintah 634-644). Kenapa dua khalifah berhasil? Karena keduanya berpegang teguh pada tiga pusaka warisan Umat, kualitas kepemimpinan yang luar biasa, semangat “menggadaikan diri” pada kepentingan Umat, dan menjalani kehidupan rendah hati dan “super sederhana”.

Khalifah pertama berhasil mengatasi ancaman perpecahan Umat karena banyaknya suku Arab yang murtad; juga mulai merintis perluasan wilayah kekuasaan “negara” Madinah. Oleh Umar RA rintisan dilanjutkan bahkan diperluas sehingga wilayah kekuasaan Madinah mencapai sebagian kawasan Suriah, Irak, Palestina dan Mesir.

Gambaran kualitas kepemimpinan Abu Bakar RA terungkap dalam pidato pelantikannya sebagai khalifah sebagaimana dicantumkan dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Bedasarkan Sumber Klasik::

Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku, dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskan aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan, dan pengkhianatan. Orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga aku serahkan haknya, Insya Allah, dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga aku ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama selama aku menaati Allah dan Rasul-Ny. Namun jika tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah salat kalian, Tuhan merahmati kalian (Lings, 1991:65).

Era Fitnah

Kesatuan Umat mulai goyah dalam era khalifah ketiga, Utsman RA (memerintah 644-656). Kepemimpinannya dinilai terlalu lemah untuk mengendalikan syahwat kekuasaan dari keluarganya, Bani Umayah, yang sejak turun temurun merasa tersaingi oleh wibawa Bani Hasyim (buyut rasul SAW). Kelemahan “manusiawi” ini mulai merobek kesatuan Umat yang pada akhirnya menimbulkan fitnah pertama yaitu terbunuhnya Utsman RA oleh seorang Muslim, ya seorang Muslim.

Fitnah berlanjut pada era khalifah keempat, Ali RA (memerintah 656-661), bahkan meningkat. Puncaknya, Ali RA terbunuh, juga oleh seorang Muslim. Akibatnya, Umat mulai terkoyak dalam tiga kelompok atau mazhab besar: Sunni (mayoritas), Syiah (pencinta Ali RA) dan Khawarij (berasal dari kelompok Ali RA tetapi keluar dan mengambil sikap ekstrem).

Dalam suasana perpecahan ini berakhir era khulafaur rasyidin, empat khalifah yang memperoleh petunjuk, rightly-guided calips. Apa hikmahnya? Soal kesatuan Umat merupakan masalah pelik bahkan bagi tokoh sekaliber Utsman RA dan Ali RA.

Dengan wafatnya Ali RA, era khulafaur rasyidin berakhir dan mulai dinasti Umayah. Banyak yang menyebut namanya kerajaan Arab (arab Kingdom) sebagai pernyataan protes terhadp gaya kekhalifahannya yang sekuler. Yang jelas, mulai era ini dan seterusnya dalam sejarah peradaban Muslim, suksesi kepemimpinan sudah mengikuti garis keturunan (bloodline), model yang asing dalam tradisi Arab.

Dinasti Umayah didirikan oleh Muawiyah yang juga merupakan khalifah pertamanya. Terlepas dari kualitas pribadinya sebagai seorang Muslim, kepemimpinan diakui luar biasa. Di tengah perpecahan Umat dia berhasil mempertahankan alat pemersatu Umat, kekhalifahan, dan bahkan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah bahkan sampai ke kawasan India, Afrika Utara dan Spanyol.

Keberhasilan kepemimpinan Umayah tidak berarti tidak ada masalah kesatuan Umat. Kelompok sektarian di kalangan internal Umat yang marak pasca era Ali RA tidak pernah benar dapat diatasi oleh dinasti Umayah. Pemberontakan demi pemberontakan mulai marah dan mencapai puncaknya ketika seluruh keluarga Bani Umayah yang ditemui dibantai oleh pemberontak Muslim, ya Muslim.

Ramalan Rasul SAW

Itulah sejarah peradaban Muslim masa lalu dalam konteks persatuan Umat. Jadi, tidak perlu terlalu heran jika sekarang ini kita menyaksikan maraknya perpecahan Umat dalam berbagai bentuknya antara lain:

  • berbagai fitnah (perang sipil) antar faksi-faksi internal Umat di berbagai “negara Muslim” di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara,
  • permusuhan sektarian Sunni-Syiah,
  • perang saudara di Suriah dan Yaman yang menimbulkan berbagai bentuk tragedi kemanusiaan;
  • konflik Arab Saudi-Iran yang sampai sekarang tidak terlihat prospek penyelesaian yang realistis.

Dari peristiwa-peristiwa semacam ini kita memahami ramalan Rasul SAW bahwa Umat akan diperlakukan layaknya santapan lezat yang diperebutkan pihak lain. “Apakah ketika itu kita sedikit?” “Tidak, ketika itu kalian berjumlah banyak tetapi kualitasnya seperti buih yang tidak punya daya”. Demikianlah kira-kira dialog antara Rasul SAW dan para sahabat ketika ramalan itu disampaikan.

Apakah kini Umat sedikit? Tidak! Populasi Muslim kini mencapai sekitar 1.8 milyar[4]. Jadi; jangan-jangan kita tengah menyaksikan terjadinya ramalan Rasul SAW ini….@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/

[2] Schuon, F. (2002:87-88), Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, World Wisdom, Inc.

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/02/04/sejarah-singkat-muslim/

 

 

Standard
Refleksi, Sejarah, Spiritual

Khotbah Haji Perpisahan dan Pesan Kemanusiaan

Dalam hitungan hari, diperkirakan lebih dari dua juta muslim akan melaksanakan Ibadah Haji tahun ini, ibadah yang merupakan rukun (prinsip) Islam yang kelima bagi yang mampu. Mereka semua akan mencapai puncak ibadah yaitu berkumpul di Arafah (wukuf) pada hari yang sama yaitu tanggal 9 Julhijah. Dalam puncak ibadah inilah disampaikan Khotbah Haji dalam bahasa yang dapat dipahami oleh jamaah.

Dalam tulisan ini kita memfokuskan pada isi khotbah haji yang disampaikan sekitar 1.5 milenium yang lalu ketika berlangsung haji perpisahan (Arab: Haji Wada’)[1]. Haji kali ini dikatakan haji perpisahan karena merupakan haji terakhir yang diikuti Rasul SAW. Beliau wafat pada tahun yang sama. Ketika melaksanakan haji in Rasul SAW terkesan sudah memiliki firasat akan segera meninggalkan Umat yang mencintai dan dicintainya. Tidak lama setelah haji itu turun teks suci yang menyatakan Islam sebagai suatu agama telah sempurna (QS 5:3). Turunnya ayat ini sempat membuat salah satu sahabat senior Rasul SAW, Umar RA, menangis. situasi yang terkesan agak aneh karena sahabat yang satu ini terkenal tegar dan tegas, tetapi sekaligus menggambarkan kejauhan visi dan kecerdasan sahabat yang kelak akan menjadi “bos” orang beriman (Arab: Amirul Mukminin). Ketika ditanya kenapa beliau menangis, beliau hanya merespons dalam bahasa yang kira-kira berarti “setelah kesempurnaan hanya ada ke-tidak-sempurna-an”, suatu respons yang cerdas.

Didorong oleh firasat akan segera pamit kepada Umat, Rasul SAW menyiapkan narasi pidato yang dapat “merangkum” esensi atau ajaran-ajaran pokok dari risalah yang di bawanya. Tetapi isinya yang utama ternyata bukan mengenai ibadah dalam arti sempit, melainkan isu-isu terkait dengan Hak-hak Azasi Manusia (HAM).

Khotbah Haji Perpisahan sangat menekankan arti penting penghormatan terhadap hidup (darah) dan hak milik seseorang. Ini adalah pesan revolusioner bagi era itu, tidak hanya bagi masyarakat arab jahiliah. Isu khotbah lainnya terkait degan masalah kehidupan sosial kemasyarakatan dalam arti luas: kewajiban menyempurnakan amanah, penghapusan riba, hak-hak dan kewajiban wanita (termasuk hak dan kewajiban timbal-balik suami-istri), ukhuwah islamiah dan persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang bangsa dan warna kulit. Kita dapat merasakan kedalaman dan keluasan isi khotbah, serta relevansinya bahkan bagi peradaban kontemporer. Dan itu disampaikan 1.5 milenium yang lalu!

Layak disisipkan catatan di sini bahwa khotbah itu disampaikan dalam bentuk dialog dan setiap kali selesai menyampaikan satu topik, beliau selalu berseru: ‘Apakah aku sudah sampaikan?’ Umat yang hadir secara spontan akan meresponsnya: “Betul, sudah engkau sampaikan. Mendengarkan respons spontan itu Rasul SAW segera melanjutkan dengan munajat: ‘Wahai Tuhanku, persaksikanlah’. Dengan munajat ini seolah-olah Rasul SAW ingin menegaskan bahwa dia telah menyampaikan misinya, mission accomplished! Untuk memperoleh gambaran lebih cermat dan menyeluruh, berikut disajikan sebagian isi khotbah sebagaimana yang dinarasikan oleh Natsir (2008:111-118)[2].

Rasul (R): “Wahai manusia! Dengar kataku, agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tak tahu, barangkali aku tak akan bertemu lagi denganmu sesudah tahun ini, di tempat pemberhentian ini untuk selamanya’. ‘Wahai orang banyak! Tahukah kamu, bulan apakah sekarang?”

Umat yang hadir (U): “Bulan haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu, darah sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya bulan ini’. ‘Tahukah kamu daerah apakah ini?”

U: ‘Daerah Haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu dan harta sesamamu; sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu; seperti haramnya daerahmu ini”. “Tahukah kamu hari apakah sekarang?”

U: ‘Hari haram’

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu darah sesamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya haramnya hari ini di bulanmu ini, di daerahmu ini. Sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya akan segala perbuatanmu’. “Wahai! Apakah aku sudah sampaikan? (Alä hal balagtu?)

U: ‘Allahumma, betul, sudah engkau sampaikan’

R: “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah”.

Sebagai catatan akhir, dalam khotbahnya Rasul SAW memanggil hadirin dengan ungkapan “Wahai Manusia” (bukan Wahai Umatku”), suatu ungkapan yang mencerminkan universalitas ajaran risalahnya. Wallahualam. Pertanyaan: Sejauh mana Muslim kontemporer menginternalisasikan pesan moral khotbah haji perpisahan?

[1] Urian lebih lengkap dpat diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2009/10/27/tablig-haji-wada-dan-hak-azasi-manusia/

[2] M. Natsir, Fiqhud Da’wah, PT Abadi, Cetakan ke-13, 2008.

Sumber: https://www.aljazeera.com/topics/country/yemen.html

Standard
Refleksi, Sejarah

Kesultanan Utsmaniyah: Sejarah Singkat dan Refleksi

utsmani1

Sumber Gambar: Google

Kalau kita diizinkan membuat penyederhanaan-berlebihan mengenai sejarah peradaban muslim sebagai suatu kesatuan Umat, agaknya tidak terlalu keliru jika kita membaginya ke dalam empat babakan sejarah berikut: (1) 1.5 milenium yang lalu: Lahir, (2) Satu milenium berikutnya: tumbuh, berkembang, dan mencapai titik puncak, (3) 0.6 milenium selanjutnya: melemah; dan (4) Satu abad terakhir: “mati”. Di sini istilah kestuan Umat dilihat pada level sosiologis-politis yang konkret; jelasnya, ketika Umat Islam (selanjutnya: Umat) secara keseluruhan memiliki faktor pemersatu berupa sistem pemerintahan tertentu, kekhalifahan atau kesultanan. Dalam konteks ini Kesultanan Utsmaniah (Inggris: Ottoman Empire) menarik untuk ditelisik karena periodenya mencakup era ketika peradaban Umat bergerak maju ke titik puncak, melemah dan “mati” [1].

Kesultanan Utsmaniah termasuk salah satu entitas politik negara adikuasa (superpower) termegah dan terlama dalam sejarah dunias selama lebih dari 600 tahun. Kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas: Timur Tengah, Eropa Timur dan Afrika Utara. Puncak kekuasaan terletak pada Sultan yang memiliki otoritas keagamaan dan politik terhadap rakyat. Sementara Eropa menganggapn kekuasaan Kesultanan ini sebagai ancaman, banyak para ahli sejarah melihatnya sebagi sumber stabilitas regional yang juga memberikan sumbangan positif terhadap kemajuan bidang-bidang seni, sains, agama dan kebudayaan.

Kesultanan ini mulai dibangun oleh pimpinan suku Turki di Anatolia sekitar tahun 1299. Perluasan pemerintahan formal Kesultanan ini dibangun di bawah sultan-sultan berikutnya khususnya Osman I, Orhan, Murad I dan Beyazid I. Era Sultan Mehmed II, Kesultanan ini merebut kota kuno Konstantinopel, Ibu Kota Imperium Bizantium, pada tahun 1517. Sultan mengganti namanya menjadi Istambul yang berarti ‘Kota Islam”. Penaklukkan ini mengakhiri kekuasaan 1000-tahun Imperium Bizantium. Pada awal abad ke-17, kesultanan ini terdiri dari 32 provinsi dan sejumlah negara vasal, sisanya diberikan otonomi dalam berbagai tigkat[2].

Puncak kejayaan Kesultanan ini –dilihat dari luasnya wilayah kekuasaan, stabilitas sosial-politik, dan kemakmuran rakyat–  dicapai dalam Era Sultan Sulaiman Agung (1520-1566). Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan Kesultanan mencakup wilayah-wilayah Turki, Yunani, Bulgaria, Mesir, Hongaria, Mecedonia, Romania, Yordania, Palestina, Lebanon, Syiria, beberapa wilayah Arab, dan sejumlah wilayah garis pantai Afrika Utara.

Sesuai “hukum sejarah”, gerak maju dan mencapai titik puncak pasti dikuti oleh gerak mundur. Bagi Kesultanan Utsmaniah, gerak mundur ini dimulai sekitar tahun 1600 karena dominasi ekonomi dan militer Eropa. Sekitar tahun ini Eropa mengalami kemajuan cepat karena menguatnya semangat zaman Renaisans (Renaissance)[3] dan fajar revolusi industri.

Terkait dengan istilah Renaisans kita dapat menyisipkan catatan singkat berikut. Istilah ini merujuk pada suatu gerakan budaya di benua Eropa pada abad 14-17. Sebagai gerakan budaya, Renaisans tidak bergerak serempak di seluruh Eropa tetapi semangatnya satu: pencarian alternatif budaya dari yang sepenuhnya diwarnai ajaran Kristen dan beralih ke kebudayaan-Yunani-Romawi sebagai model. Zaman Renaisans diikuti oleh Zaman Pencerahan sekitar abad ke-18 ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi ilmiah. Zaman ini—dengan tonggak Sekularisme—merupakan masa produktif bagi Eropa dan pada masa ini ditemukan bubuk mesiu, mesin cetak, dan kompas yang sangat bepegaruh terhadap peradaban manusia[4].

Kembali kepada Kesltanan Utsmaniah. Pelemahan Kesultanan ini juga terjadi karena buruknya kepemimpinan dan kekalahan dagang dalam berkompetisi dengan pihak-pihak Amerika dan India. Kemunduran kekuasaan Kesultanan ini ditandai oleh lima peristiwa menentukan berikut:

  • 1683: Kekalahan dalam Pertempuran Viena (the Battle of Vienna);
  • 1830: Kemenangan Yunani dalam melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan;
  • 1878: Kemerdekaan Romania, Serbia dan Bulgaria yang dideklarasikan dalam Kongres Berlin;
  • 1912-1913: Kesultanan kehilangan kekuasaan hampir di seluruh daratan Er opa;
  • 1918: Kekalahan dalam Perang Dunia ke-I. Kesultanan, bersama Jerman dan Austria-Hongaria, berada di pihak Kekuatan Terpusat (the Central Power). Sesuai kesepakatan, hampir semua wilayah kekuasaan Kesultanan dibagi-bagi antara Inggris, Prancis, Yunani dan Rusia.

Kesultanan secara resmi berakhir tahun 1922 ketika istilah Kesultanan Utsmaniah dihapuskan dan Turki mendeklarasikan sebagai Negara Republik pada tahun 1923. Dalam perjalanan sejarahnya dalam periode 1299-1922, Kesultanan dipimpin oleh 36 Sultan.

Sebagai penutup agaknya layak direnungkan teks suci berikut yang diturunkan terkait dengan kekalahan bala tentara Rasul SAW dalam perang Uhud.

Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuhmu pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS 3:165).

Wallahualam….@

[1] Rujukan utama tulisan ini diperoleh dari https://www.history.com/topics/ottoman-empire

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Renaisans

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Abad_Pencerahan

Standard
Refleksi

Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

Sumber Gambar: Wikipedia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang). Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan dalam dari sekadar sebagai alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik. Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya. Selain itu, bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam

EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

Standard
Refleksi, Spiritual

Jalan Spiritual dan Meditasi: Suatu Tinjauan Singkat

“The greatest disease in the West today is not TB or leprosy; it is being unwanted, unloved, and uncared for. We can cure physical diseases with medicine, but the only cure for loneliness, despair, and hopelessness is love. There are many in the world who are dying for a piece of bread but there are many more dying for a little love. The poverty in the West is a different kind of poverty — it is not only a poverty of loneliness but also of spirituality. There’s a hunger for love, as there is a hunger for God.”
Mother Teresa, A Simple Path: Mother Teresa

Semua agama atau tradisi keagamaan besar menawarkan berbagai jalan spiritual (spiritual ways) yang memungkinkan agama relevan bagi semua orang dengan berbagai kecenderungan alamiah atau temperamen. Dalam Tradisi Hindu, misalnya, kita mengenal istilah-istilah karma (Jalan Aksi, the Way of Action), bhakti (Jalan Cinta, bhakti, the Way of Devotion) dan jñãna (Jalan Pengetahuan, the Way of Knowledge or Gnosis). Dalam tradisi Krsiten, Jalan Aksi srupa dikenal dengn Jalan Martha (Way of Martha) sedangkan Jalan Kontemplasi– gabungan Jalan Cinta dan Jalan Pengetahuan– dikenal dengan Jalan Maria (Way of Mary). Bagaimana dengan tradisi Islam? Dalam tradisi ini kita mengenal padanannya dalam istilah makhaffah (Jalan Takut, Fear of God), mahabbah (Jalan Cinta, Love of God), dan ma’rifah (Knowledge of God, Gnosis).

Apa yang menarik untuk dicatat dari uraian di atas adalah bahwa pada tataran spiritual atau batiniah (esoteric), kita dapat menemukan titik-temu (Arab: kalimatun sawa) antar agama atau tradisi keagamaan. Titik-temu serupa hampir selalu kita temukan dalam bidang yang terkait dengan kebajikan sosial (social virtue) seperti dalam hal keprihatinan mengenai masalah kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan alam. Dengan alur pemikiran semacam ini maka kita sebenarnya kita memiliki pijakan bersama (common ground) untuk melaksanakan agenda pembangunan global seperti yang dicanangkan dalam Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs).

Masing-masing jalan spiritual itu, dengan bantuan meditasi, dapat menghasilkan kebajikan yang dihargai oleh semua tradisi keagamaan sejak dahulu kala; kecuali, dunia modern yang berperlaku menyimpang, spirtually-speaking. Sebagai ilustrasi, Jalan Cinta dapat mendorong sifat murah hati (generosity) jika menggunakan mode meditasi aktif dan rasa syukur (gratitude) jika menggunakan mode meditasi pasif. Istilah sufi fana (Inggris: extinction) dan baqa (Inggris: union) dapat kita lihat sebagai cerminan Jalan Pengetahuan, masing-masing dengan mode meditasi yang pasif dan aktif. Bagan di bawah menyajikan beberapa kebajikan spiritual yang dapat dilahirkan dari perkawinan Jalan Spiritual dengan meditasi.

Jalan Spiritual dan Mode Meditasi
Jalan Spiritual Meditasi Mode Pasif Meditasi Mode Aktif
Takut (Makhafah) Pelepasan-diri dari hal-hal duniawi (renunciation), berpantang-diri (abstention). Tindakan aktif (act), ketekunan (persevernce).
Cinta (Mahabbah) Pengunduran-diri (resignation), syukur (garitude). semangat (himmah, fervor), percaya (trust), murah hati (generosity)
 Pengetahuan (Ma’rifah) fana (extinction), kebenaran (truth). baqa (union)
Sumber: Diadaptasi dari W. Stoddart (2008:60), Remembering in a World of Forgetting.

Sebagai penutup layak dibubuhkan dua catatan berikut. Pertama, bersama konsentrasi dan salat, meditasi meringkas inti ajaran semua agama yang menuntut partisipasi semua fakultas wujud kita. Yang pertama melibatkan kegiatan inteligensi (intelligence), sementara yang kedua dan ketiga masing-masing bidang kegiatan kehendak (the will) dan jiwa (the soul). Kajian agak rinci mengenai meditasi-konsentrasi-salat dapat dilihat dalam diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2012/07/26/meditasi-konsentrasi-dan-salat/

Kedua, ini mungkin berbeda dengan pemahaman umum, meditasi tidak dapat melahirkan pencerahan; fungsinya utamanya adalah menyingkirkan kotoran-kotoran pada dinding batin-kita yang menghalangi masuknya cahaya ilahiah yang selalu hadir “di sana” (omnipresence) ke dalam ruang terdalam jati-diri kita:

Contrary to what is too often stated, meditation cannot of itself provoke illumination; rather, its object is negative in the sense that it has to inner obstacles that stand in the way, not of new, but a pre-existed and “innate” knowledge of which it has to become aware. Thus meditation may be compare not so much to light kindles in a dark room, as to opening made in the wall of the room to allow the light enter…. (Schuon, sebagaimana dikutip oleh Deon Valodia dalam Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon).

 Wallahualam….@

 

 

 

Standard
Refleksi, Spiritual

Belum Siap Melepas Ramadhan

ramadhan105

Sumber Gambar: Google

Begitu menyelesaikan dua rakaat terakhir tarawih berjamaah, seperti biasa, penulis keluar masjid yang berlokasi dekat rumah dan bersiap untuk pulang. Penulis biasa melakukan salat witir tiga rakaat untuk menutup tarawih di rumah sendirian pada tengah malam. Sejauh pengamatan, penulis adalah satu-satunya jamaah di masjid itu yang memiliki kebiasaan ini. Tapi tidak demikian halnya pada siklus tarawih terakhir (malam ke-29) kali ini: beberapa orang melakukan hal yang sama, termasuk seorang jamaah yang biasanya berada dalam saf pertama dalam jamaah, tepat di belakang Iman, posisi yang “riskan” karena harus siap menggantikan Imam jika terpaksa.

Ketika orang itu ditanya kenapa tidak ikut jamaah witir, jawabannya membuat penulis tercenung: “Rasanya belum siap melepas Ramadhan Ji!” “Malam ini niatnya mau melanjutkan tarawih sendiri di rumah, seperti haji”. Dia agaknya berprasangka baik kepada penulis. (Orang ini biasa memanggil penulis “Ji”, panggilan akrab, singkatan dari haji. Dia sendiri sudah haji setelah konon 17 tahun menabung.)

Dalam perjalanan pulang penulis sempat merenung apakah suasana-batin orang itu merepresentasikan suasana-batin Umat pada umumnya ketika menyadari bahwa siklus Ramadhan akan segera berakhir. Jika jawabannya “ya” maka dapat diduga bahwa bagi Umat, Bulan Ramadhan, berbeda dengan bulan lain, adalah bulan yang kedatangannya disambut gembira dan kepergiannya diiringi kesedihan khas yang membahagiakan, katakanlah kesedihan spiritual. Istilah ini tidak berlebihan karena pada bulan ini Umat menyandang kewajiban agama yang sekalipun ‘menyengsarakan” secara fisik tetapi menggairahkan secara spiritual. Lebih dari pada bulan-bulan lainnya, pada bulan ini Umat lebih serius menjalin hubungan positif baik secara vertikal dengan-Nya maupun secara horizontal antar-sesama; mudahnya, lebih rajin ibadah dan lebih gemar bersedekah. Rajin beribadah dan gemar bersedekah mungkin indikasi dari perasaan “manisnya Iman”. Wallahualam.

Sambutan gembira oleh Umat atas kedatangan Ramadhan terungkap dalam frase populer ‘Marhaban ya Ramadhan”; kesedihan mereka karena ditinggalkannya terungkap dalam narasi doa: “Rabb panjangkan umur hamba setahun lagi agar dapat bertemu dengan Ramadhan tahun depan”. Doa ini diajarkan Rasul SAW yang agaknya hanya dapat diungkapkan secara tulus oleh mereka yang menyadari bahwa umurnya secara hakiki berada di “jari”-Nya. Selain itu, doa semacam ini sangat realistis bagi kelompok lanjut usia yang secara demografis memiliki peluang lebih kecil untuk dapat bertemu Ramadhan tahun depan, dibandingkan dengan kelompok yang lebih muda.

Ketika berdoa seorang hamba wajar jika berharap dapat “jatah hidup” lebih dari setahun asalkan niatnya tulus sebagaimana diajarkan oleh Abdul Malik Mujahid dalam butir terakhir “doa malam terakhir Lailatul Qadr”[1]:

  1. Ya Allah, Engkau adalah perwujudan pengampunan, Engkau suka mengampuni, Tolong abaikan kekurangan hamba, O Pengampun, Ghafur, Tuhan yang Maha Pengampun.
  2. Ya Allah, mudahkanlah hamba berbuat baik dan tolong hamba mampu menghindari perbuatan buruk dalam segala situasi.
  3. Ya Allah, berilah hamba kesuksesan dalam semua urusan hidup ini dan yang urusan Selanjutnya.
  4. Tolong tingkatkan pengetahuan hamba dan berkatilah hamba dengan para guru yang luar biasa.
  5. Ya Allah, biarkan hamba meninggal dalam keadaan Iman yang paling mantap.
  6. Ya Allah, berkatilah umat ini, bimbinglah kami, dan satukan hati kami.
  7. Ya Allah, angkat hati hamba, lepaskan beban-beban hamba, dan jadikan hamba termasuk orang-orang yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Mu dalam semua urusan.
  8. Ya Allah, tolong berkati hamba dengan kesempatan untuk melihat lebih banyak Ramadhan dan untuk melakukan ibadah yang jauh lebih baik dari pada yang telah hamba lakukan tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Amin…@

[1] https://www.soundvision.com/article/duas-for-the-last-day-of-ramadan-and-eid.

 

Standard