Kinerja Ekonomi Indonesia: Catatan Kecil

Seperti orang, negara juga bisa miskin atau kaya. Tidak ada hubungan niscaya antara keduanya. Artinya, orang yang hidup di negara kaya belum tentu kaya. Terkait dengan hubungan ini seorang teman dari Singapore pernah bercerita:

Orang dari kalangan menengah Indonesia mampu pergi ke Singapura; orang dari kalangan menengah Singapura mampu pergi ke Jakarta. Tapi tujuan kepergian berbeda: yang pertama ke Singapura untuk mengeluarkan uang (berlibur, santai, belanja, dsb), yang lainnya ke Jakarta untuk mencari uang.

Tidak jelas apakah cerita itu hasil pengamatan sehari-hari (casual observation) atau berbasis-pengetahuan (knowledge-based). Apa pun kasusnya, bagi penulis cerita itu memberikan ilustrasi yang menarik karena kekayaan Singapore jauh di atas kekayaan Indonesia. Pada tahun 2017, misalnya, pendapatan per kapita untuk yang pertama sekitar 90,000 sementara untuk yang kedua hanya 12,000. Dalam hal ini indikatornya adalah Pendapatan Nasional Bruto per kapita atau GNI per capita, PPP (current international $)[1]. Label PPP (Purchasing Power Parity) menggaransi bahwa datanya dapat dibandingkan antar waktu dan antar negara atau kelompok negara. Untuk penyederhanaan, dalam tulisan ini indikator itu disingkat GNI/Cap.

Dengan menggunakan indikator ini sebagai ukuran kinerja ekonomi, kira-kira bagaimana kinerja ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Inilah pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh tulisan singkat ini. Sumber data diperoleh dari UN Data[2].

Indonesia dalam kancah global

Grafik 1 meringkas gambaran kinerja ekonomi Indonesia dalam kancah global. Grafik itu menyajikan tren GNI/Cap berdasarkan kelompok pendapatan dalam periode 1999-2017. Layak dicatat, di tahun 1999 kinerja politik dan ekonomi Indonesia tengah terpuruk sehingga jika dijadikan titik awal analisis maka logis jika berharap memperoleh gambaran perkembangan kinerja yang mencolok bagi Indonesia di tahap awal. Harapan itu tidak terungkap oleh grafik itu.

Grafik 1: GNI/Cap Indonesia dalam Lingkup Global

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Grafik 1 adalah sebagai berikut:

  • Sepanjang periode 1999-2017, kinerja kelompok negara-negara berpendapatan tinggi (high income, HI) sangat terisolir dalam arti jauh di atas kelompok-kelompok berpendapatan lain, termasuk dengan “tetangga terdekatnya” yaitu kelompok negara-negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income, UM-I). Kinerja HI tahun 1999 kira-kira 1.5 kali kinerja UM-I tahun 2017.
  • Perkembangan kinerja HI relatif lebih cepat walaupun kecepatannya diimbangi oleh perkembangan kinerja UM-I.
  • Posisi Indonesia selalu terletak antara rata-rata UM-I dan LM- I selama periode perbandingan.
  • Perkembangan kinerja Indonesia lebih lambat dibandingkan dengan kinerja rata-rata UM-I. Indikasinya ini: di 1999 GNI/Cap Indonesia mendekati GNI/Cap rata-rata UM-I, tetapi sejalan dengan perjalanan waktu perbedaannya angkanya terus melebar .

Perkembangan kinerja Indonesia lebih lambat dibandingkan perkembangan kinerja rata-rata UM-I.

Indonesia dan negara  berpendapatan menengah

Bagaimana kinerja ekonomi Indonesia dalam kancah negara-negara berpendapat menengah (mencakup UM-I dan LM-I) dan bagaimana pula kecenderungannya antar waktu? Dalam konteks ini HI tidak diikutsertakan karena kinerjanya terlalu tinggi bagi negara sekelas Indonesia. Grafik 2 mengilustrasikan jawaban terhadap dua pertanyaan itu.

Grafik 2: GNI/Cap Indonesia dalam Lingkup Negara Berpendapatan Menengah

Banyak yang dapat disimak dari Grafik 2 tetapi dua hal berikut agaknya layak digarisbawahi:

  • Posisi Indonesia di antara UM-I dan LM-I patut diduga masih akan berlanjut paling tidak dalam 10 tahun mendatang (mulai dari 2017). Kenapa patut diduga? Karena model ekstrapolasi linear yang ditunjukkan oleh Grafik 2 menunjukkan keandalannya dilihat dari R2 yang hampir mendekati angka sempurna, 100%.
  • Kecepatan perbaikan kinerja Indonesia tinggi dari (kecepatan kinerja rata-rata) LM-I tetapi lebih rendah dari UM-1. Dari mana kita tahu ini? Dari angka koefisien regresi. Dari angka ini terlihat tidak ada peluang bagi Indonesia mengejar kinerja rata-rata UM-1.

Jika model itu dilanjutkan sampai ke tahun 2050 (tidak ditampilkan dalam grafik), maka kinerja Indonesia tahun 2050 kira-kira setara kinerja HI tahun 2000. Dengan kata lain, Indonesia tertinggal 50 tahun dari kinerja negara-negara berpendapatan tinggi.

…. Indonesia tertinggal 50 tahun dari kinerja negara-negara berpendapatan tinggi.

Indonesia dalam kancah negara-negara ASEAN

Grafik 3 mengilustrasikan gambaran kinerja Indonesia di antara negara-negara ASEAN. Dalam hal ini Brunei dan Singapura tidak diikutsertakan karena kinerja keduanya “beda kelas” atau terlalu tinggi dibandingkan dengan kinerja negara-negara lainnya di kawasan ini.

Patut dicatat, unit analisis pada Grafik 3 ini jelas yaitu negara. Kasusnya berbeda dengan dua grafik sebelumnya yang homogenitas unit analisisnya dapat dipertanyakan. Jelasnya, kita tidak tahu secara pasti bagaimana UN Data memperlakukan negara-negara yang “berubah status ” selama periode perbandingan.  Sebagai ilustrasi, bagaimana memperlakukan Zimbabwe dan Senegal yang akhir-akhir ini berubah status dari LI ke LM-I? Juga Sri Lanka dan Argentina yang berubah status dari LM-I ke UM-I? [3]

Kembali ke Grafik 3. Grafik itu menunjukkan secara jelas bahwa selama periode 2003-2017 posisi Indonesia selalu di atas Cambodia, Philippines, tetapi selalu di bawah Thailand apalagi Malaysia. (Urutan itu tidak berubah jika GNI/Cap/Atlas tahun 2018 yang digunakan sebagai indikator.)

Grafik 3: GNI/Cap Beberapa Negara ASEAN

… posisi Indonesia selalu di atas Cambodia, Philippines, tetapi selalu di bawah Thailand apalagi Malaysia..

*****

Catatan kecil dalam tulisan singkat ini bermuara pada satu pertanyaan besar: “Apakah rasionalitas di balik optimisme sebagian pihak yang meyakini Indonesia akan mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang lebih maju dalam waktu dekat?” Konteksnya jelas: yang dikejar berlari lebih cepat, paling tidak demikianlah yang terjadi selama ini.

Wallahualam…@

[1] Besarnya perbedaan yang mencolok ini tidak berubah jika indikator yang digunakan adalah GNI per capita dengan metode lain yaitu Metode Atlas (World Bank).  Indikator ini untuk 2018 menghasilkan angka 56,770 untuk Singapore dan hanya 3,840 untuk Indonesia.

[2] http://data.un.org/Data.aspx?d=WDI&f=Indicator_Code%3ANY.GNP.PCAP.PP.CD

[3] https://datahelpdesk.worldbank.org/knowledgebase/articles/906519-world-bank-country-and-lending-groups

Postur Penduduk Indonesia

Postur penduduk dibentuk oleh susunan penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin yang dimulai dari kelompok paling muda  (=P(0-5)) sebagai alas, diikuti P(5-10), P(10-15), dan seterusnya[1]. Hasilnya semacam piramida dengan alas yang lebar dan terus memendek (mengerucut) sejalan dengan bertambahnya usia. Itu gambaran piramida yang sempurna yang tidak selalu atau bahkan jarang ditemui dalam susunan penduduk sebenarnya karena adanya dinamika penduduk akibat faktor alamiah (kelahiran dan kematian) maupun non-alamiah (migrasi).

Postur penduduk dalam sajian piramida menarik untuk dipelajari karena mudah dibaca selain karena mengindikasikan banyak hal antara lain: (1) sejarah kelahiran masa lalu dan perkiraannya ke depan, (2) besaran pasokan tenaga kerja masa kini dan perkiraannya di masa depan, dan (3) besaran wanita usia subur (WUS) yang menentukan “penciptaan generasi baru” untuk masa kini dan perkiraannya ke depan. Selain itu, postur penduduk, sampai taraf tertentu, dapat membedakan kemajuan ekonomi suatu negara. Demikian karena negara maju dapat dikenali dari tingginya proporsi usia tua, sementara negara-negara berkembang dari tingginya proporsi usia muda.

Tulisan ini memotret postur penduduk Indonesia pada tahun-tahun 1950, 2000, 2050 dan 2100 berdasarkan data PBB. Dua tahun pertama didasarkan pada proyeksi standar[2], sisanya pada proyeksi probabilitas[3].

Postur 1950

Pada tahun 1950 RI belum memiliki data sensus penduduk (SP) sehingga postur penduduk hanya dapat diperkirakan secara kasar berdasarkan sumber data yang terserak. Sumber data lain seperti catatan administrasi dan registrasi dengan kualitas yang dapat diandalkan mampir dapat dipastikan tidak tersedia. Implikasinya, postur 1950 perlu dilihat sebagai perkiraan kasar tanpa mengurangi maknanya serta apresiasi kepada PBB.

Menurut perkiraan PBB, total penduduk Indonesia 1950 sekitar 69,5 juta atau sekitar 2.7% dari total penduduk global. Posturnya disajikan pada Paramida 1.

Piramida 1: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 1950.

Piramida 1 menunjukkan antara lain:

  • Postur penduduk sangat kokoh dalam arti memiliki alas yang sangat lebar untuk mendukung batang bangunan di atasnya yang semakin pendek.
  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) mendominasi penduduk. Di lain pihak, penduduk usia lanjut (warna paling gelap) memainkan peran yang sangat kecil dalam membangun piramida itu.
  • Lebar alas piramida, P(0-5)[4], mengindikasikan besarnya peristiwa kelahiran dalam 5 tahun[5] terakhir. Dalam kaitannya dengan indikator kelahiran, lebar alas itu tentu bersifat indikatif karena sebagian dari penduduk kelahiran 5 tahun terakhir sudah meninggal sehingga tidak terdata sebagai penduduk.
  • Lebarnya alas piramida juga mengisyaratkan besarnya tekanan 15 tahun mendatang terhadap pasar kerja, juga terhadap tambahan pasokan wanita usia subur (WUS).

Dengan  postur semacam itu penduduk Indonesia 1950 tergolong masih sangat muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) hampir 40% (tepatnya 39%) sementara proporsi P(65+) baru 4%.

Postur 2000

Bagaimana postur 2000? Yang jelas, pada tahun itu RI telah diperkaya dengan lima 5 set data data SP: 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000 sehingga gambaran postur penduduknya meyakinkan.

Piramida 2 menyajikan postur 2000 yang mengungkapkan antara lain:

  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) masih mendominasi bangunan piramida.
  • Kelompok usia lanjut (berwarna paling gelap) sudah bertambah dibandingkan dengan keadaan 50 tahun sebelumnya 1950 tetapi masih relatif kecil.
  • Berbeda dengan postur 1950, postur piramida kurang kokoh dalam arti alasnya harus menunjang tiga kelompok umur di atasnya yang lebih besar. Pertambahan lebar empat batang pertama dalam piramida mengindikasikan penurunan angka fertilitas yang terus menerus selama 20 tahun terakhir (1980-2000).

Pertambahan lebar empat batang pertama piramida mengindikasikan penurunan terus menerus angka fertilitas 20 tahun terakhir.

Piramida 2: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2000.

Postur penduduk Indonesia 2000 masih tergolong muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) masih 31% sementara proporsi penduduk tua (65+) baru 5%. Sisanya, 64% adalah penduduk usia produktif dan usia reproduktif (bagi wanita)

Postur 2050

Seperti disinggung sebelumnya, postur 2050 dan 2100 didasarkan pada hasil proyeksi probabilitas yang tentunya mempertimbangkan berbagai faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Postur 2050 diungkapkan oleh Piramida 3 yang mengisyaratkan berlanjutnya penurunan angka fertilitas[6] dan proses penuaan penduduk. Postur penduduk sudah mulai tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 19%, proporsi P(65+) 16%. Walaupun demikian, usia produktif (P(15-64) masih mayoritas (66%).

Piramida 3: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2050.

 

Postur 2100

Seperti postur 2050, postur 2100 juga didasarkan model proyeksi probabilitas. Selain itu, rentang interval proyeksi 2100 jauh lebih yang luas dari rentang proyeksi 2050. Ini berarti tingkat akurasi postur 2100 jauh lebih rendah dari pada tingkat akurasi 2050. Tetapi semua ini tidak mengurangi makna bagi perencanaan pembangunan jangka panjang. Selain itu, sumber PBB ini mungkin salah satu sumber informasi utama yang dapat diandalkan mengenai megatrend penduduk global.

Postur 2100 disajikan pada Piramida 4. Seperti ditunjukkan oleh piramida itu  postur penduduk Indonesia 2050 sudah semakin tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 15%, proporsi P(65+) 24%. Ini berarti proporsi usia produktif masih dominan, 61%. Hal ini tentu menguntungkan dari sisi ekonomi sebagaimana diilustrasikan secara dalam bagian akhir tulisan ini.

Piramida 4: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2100.

Belum Terlalu Tua

Seperti disinggung sebelumnya, postur penduduk Indonesia 2050 terlihat dari relatif besarnya proporsi P(65) yaitu 19% dan relatif kecilnya proporsi P(0-15) yaitu yaitu 16%. Dari dua angka proporsi ini dapat dihitung rasio ketergantungan lanjut usia [=P(65+)/P(15-64)] dan hasilnya adalah 25%. Rasio ketergantungan ini yang lazim digunakan sebagai ukuran “ketuaan” suatu populasi: semakin tinggi rasio, semakin tua.

Dengan rasio ketergantungan lanjut usia 25% penduduk Indonesia 2050 dapat dikatakan sudah tua. Tapi seberapa tua? Yang jelas, angka itu  sebenarnya lebih rendah dari angka-angka untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat (USA), Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang seperti yang ditunjukkan oleh Grafik 1. Grafik itu menyajikan angka rasio ketergantungan lanjut usia beberapa negara maju 2020 dan Indonesia 2050. Apa yang terlihat dari grafik itu sangat jelas: penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum terlalu tua, belum setua negara-negara maju tahun 2020.

… penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum setua penduduk negara-negara maju tahun 2020.

Grafik 1: Rasio Ketergantungan Usia Lanjut (%)

Paradoks Pembangunan

Tingginya rasio ketergantungan lanjut usia menunjukkan rendahnya barisan usia produktif. Ini berarti pula rendahnya barisan penduduk yang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif yang pada gilirannya menyulitkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini agaknya paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

…. paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

Wallahualam…@

[1] Dalam tradisi demografi, pencatatan umur dibulatkan ke bawah. Penduduk berumur 11 tahun, misalnya, mencakup yang berumur 11 tahun 11 bulan. Penulisan P(0-5) perlu dibaca sebagai penduduk “dari 0 sampai 5”, bukan ” dari 0 sampai dengan 5″ karena 5 tidak dicakup. Analog, P(5-10) tidak mencakup penduduk umur 10.

[2] https://population.un.org/wpp/Download/Standard/Population/

[3] https://population.un.org/wpp/Download/Probabilistic/Population/. Lihat juga Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/28/total-penduduk-indonesia-masa-depan/

[4] Lihat catatan kaki 1.

[5] Tepatnya, 4.99…<5 tahun. Lihat catatan kaki 1

[6] Postur penduduk lebih ditentukan oleh angka fertilitas dari pada oleh mortalitas

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Total Penduduk Indonesia Masa Depan

Berapa total penduduk Indonesia 10, 30, atau 80 tahun mendatang? Dugaan penulis tidak ada yang berani memastikannya. Siapa yang berani memastikan peristiwa masa depan?

Masalahnya, kita tidak dapat hidup dalam kegelapan mutlak mengenai masa depan kita. Kita perlu tahu sekarang, mengenai gambar besar 10-30 tahun mendatang berbasis ilmiah perkiraan, misalnya, ratus-jutaan mulut yang harus diberi makan, jutaan balita yang perlu dimonitor berat badannya, puluhan juta penduduk usia muda yang siap membanjiri pasar kerja, puluhan juta angkatan kerja terdidik dalam usia prima, dan jutaan wanita usia subur yang siap memasok generasi penerus. Kita perlu sedikit titik terang– sekalipun tidak benderang– mengenai semua isu itu untuk memberikan sedikit kelegaan serta memandu kita menata masa depan.

Dalam konteks ini para ahli demografi menyandang tugas profesional untuk memberikan titik terang yang dimaksud. Berdasarkan dua data sensus penduduk terakhir (2000 dan 2010), misalnya, mereka mampu menawarkan gambar besar profil penduduk ke depan. Caranya sederhana yaitu dengan menghitung rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun (=r) dalam periode 2000-2010 dan mengekstrapolasikan total penduduk ke masa depan berdasarkan angka itu dan total penduduk tahun dasar. Hasilnya, proyeksi penduduk berbasis suatu model matematik.

Tapi mereka juga mengingatkan bahwa model itu terlalu sederhana untuk membuat gambar masa depan, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, terlalu menyederhanakan persoalan jika angka r suatu populasi diasumsikan tidak berubah (konstan) di masa depan, apalagi masa depan yang jauh. Kedua, r mencerminkan berbagai kekuatan yang belum tentu searah gerakannya: kekuatan positif (faktor penambah) yaitu kelahiran (B, birth) dan Migrasi Masuk (I, immigrant), serta kekuatan negatif (pengurang) yaitu kematian (D, death) dan migrasi keluar (E, emigrant). Singkatnya, Pt=P0+(B-I)-(D+E) di mana Pt=populasi tahun t dan P0 populasi dasar dan Pt. Semua “kekuatan” ini logisnya perlu dipertimbangkan dalam kalkulus perkiraan penduduk masa depan. Model perkiraan masa depan (proyeksi, prediksi) dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan itu yang umumnya dipraktikkan oleh para ahli demografi dalam kapasitasnya sebagai perorangan atau mewakili lembaga termasuk PBB.

Bagaimana dengan alasan ketiga?

Perkiraan penduduk masa depan, seperti halnya perkiraan mengenai apa pun, perlu mempertimbangkan secara cermat faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Mengenai faktor ini berlaku rumus umum: semakin panjang rentang waktu perkiraan semakin besar faktor itu, atau, dengan perkataan lain, semakin tidak akurat perkiraan itu. Perkiraan total penduduk 2050, misalnya, lebih akurat dengan perkiraan total penduduk 2100.

“Hebatnya”, PBB “berani” membuat perkiraan penduduk global yang dirinci menurut negara dan karakteristik wilayah sampai 2100 dalam publikasinya berjudul “World Population Prospects: Highlight[1]. Yang perlu dicatat, dalam perkiraannya, PBB menggunakan faktor “kekuatan” postif maupun negatif sebagaimana dibahas sebelumnya serta telah mempertimbangkan faktor ketidakpastian.

PBB tentu memiliki alasan yang cukup untuk mempublikasikan perkiraannya: PBB berkepentingan untuk memperoleh gambar besar masa depan penduduk global dan juga –dugaan penulis– untuk memfasilitasi banyak pihak yang tengah bersemangat dalam arti positif membuat apa yang dikenal mega-trends dengan berbagai variannya. CSIRO, misalnya, menerbitkan buku dengan judul yang provokatif secara intelektual: Our Future World: Global megatrends that will change the way we live[2].

Bagaimana gambar masa depan penduduk global menurut PBB? Penduduk global masih akan bertambah sehingga pada tahun 2100 totalnya diperkirakan akan mencapai 10.9 milyar jiwa. Menurut PBB, sebenarnya pertumbuhan penduduk di semua wilayah telah mencapai puncaknya sehingga terus berkurang, tetapi dalam hal ini Afrika adalah satu-satunya kekecualian: penduduk di benua itu akan terus tumbuh bahkan setelah akhir abad 21. Gambaran lebih rinci dapat dilihat di sini[3].

Bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya disajikan pada Grafik di bawah:

  • Total penduduk Indonesia pada tahun 1950 sekitar 30 juta.
  • Total itu menjadi sepuluh kali pada tahun 2030, sekitar 300 juta.
  • Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Skenario di atas menggunakan model perkiraan moderat dalam arti mengacu pada estimasi titik atau median dalam interval probabilitas estimasi yang lebar dan melebar.

Wallahualam…@

[1] https://population.un.org/wpp/Publications/Files/WPP2019_Highlights.pdf

[2] https://publications.csiro.au/rpr/download?pid=csiro:EP126135&dsid=DS2

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/18/world-population-trend-forecasts/

World Population: Trends and Forecasts

What is the big picture of the world population? How are its past trends look like? What is the probable future trend of it? How significant the relative contribution of the major regions in shaping the profile of the world population in the past and in the coming years throughout the 21st century? These all part of the questions that this article is aimed at dealing with. The term of the past trend as used in this article is initiated from the 1950s, the era when the majority of the nations in Asia and Africa liberated themselves from European colonialism. Asia and Africa are of special interest here as the population of these two major regions– as will be clearer later– had shaped the past trends significantly and will probably determine crucially the future profile of the world population.

With regard to the past trends, Graph 1 shows that along the second half of the 20th century, Asia’s population strikingly outnumbered the population of other regions[1]. In addition, the pace of increase of the first as suggested by the graph was more rapid than that of its counterpart. This was implying the increasing share of Asia’s population to the world population: 55.4% in 1945 and 60.1% in 2018.

Graph 1: World population by Region 1950-2000 (000)

As obviously shown by the graph, the second most important region in shaping the world population was Europe. However, its position surpassed by Africa in 1996. In fact, the increasing share of Africa’s population between 1995 and 2000 was more striking than that of Asia: 9.0% in 1950 and 13.2% in 2000.

As also suggested by the graph, the share of the overall regions other than Asia and Africa during the 1995-2000 period was relatively small. However, the graph shows no clear picture of the share of the individual regions other than Asia. Graph 2 shows a clearer picture of it.

Graph 2: World population by Region 1950-2000 (000) (Asia is excluded)

Graph 2 shows clearly the year when Africa’s population exceed Europe’s population; that was in 1996. The graph also shows (but perhaps not very clear) that Europe’s population reached its peak in 1995 with a total population of about 727 million. Following the year, Europe’s declining until 2000 and even until the end of the 21st century. In line with this trend, the share of Europe’s population to the world population respectively in 1995, 2000 and 2100 were (or forecasted) 21.7%. 11.8 and 9.6%.

…. Europe’s population reached its peak in 1995 with a total population of about 727 million

Graph 3 suggests that Asia’s population is forecasted to reach its peak in 2055 when its total population will be about 5.3 billion. On Africa’s population growth, the graph also shows, as PEW Research Center[2] describes it, “is projected to remain strong throughout this century”. Based on the graph, it is apparently sensible to expect that Africa’s population would be the only population that will have sufficient momentum to grow positively, at least until the first decades of the 22nd century.

…. Asia’s population is forecasted to reach its peak in 2055 when its total population will be about 5.3 billion

Graph 3: World population by Region 1950-2100 (billion)

 

*********

According to a UN estimate (see footnote 1), the world population is estimated increasing from about 7.8 billion in 2020 to 10.9 billion in 2100. This means an annual increase of growth of 0.42%, r=0.42%[3]. This means also the additional population of about 33 million in a year. The question is what the impact of that upon the carrying capacity of the planet to support human lives living on the environment where soil for agriculture has been continuously lacking and increasingly less fertile? And or on already highly competitive labour market especially for the young amid the increasing labour supply due to natural demographic transition notably in the developing nations?

 

[1] United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Division, “World Population Prospects 2019”. This data source is used throughout this article unless stated otherwise.

[2] https://www.pewreseach.org/fact-tank/2019/06/17/world-popuylation-is-projected-to-nearly-stop-growing-by-the-end-of-the-year.

[3] This number comes from this formula: r=(1/80)*ln (10.9/7.8)*100

Menimbang Popularitas Trump

Sang Presiden yang satu ini pasti populer dalam arti umum kata itu. Betapa tidak. Ia adalah presiden satu negara yang paling kuat dari sisi ekonomi (walaupun terus dibayangi China), maupun dalam hal pengaruh global (sekalipun semakin diimbangi oleh Rusia). Ada faktor lain yang mendukung popularitasnya: keunikannya dalam hal rekor pribadi, gaya bicara, kepemimpinan, dan perspektif (soal kancah internasional), serta kecerdikan.

Banyak yang mencela Trump termasuk dari para (eks) pendukung utamanya, tetapi tidak sedikit yang memuji serta mendukungnya secara mati-matian. Pendukung Trump dengan karakter semacam itu dikecam oleh Hillary menggunakan kata deplorable (tercela). Trump secara sigap memanfaatkan kata itu mengompori pendukungnya yang “sudah panas”. Itulah salah satu tanda kecerdikan Trump. Keberadaan pendukung “tercela” ini sebagian menjelaskan kenapa Trump– sekalipun kalah populer dari Hillary dalam perolehan jumlah suara– memenangkan perebutan kursi kepresidenan. Keberadaan mereka juga sebagian menjelaskan kenapa dia masih bertahan di kursinya– paling tidak saat ini– sekalipun di dera oleh hiruk pikuk isu terkait impeachment yang semakin heboh.

Dalam konteks semacam itulah kata populer digunakan secara umum. Kata ini, dalam bagian tulisan ini selanjutnya, digunakan dengan konotasi yang berbeda, lebih terkait dengan pencitraan. Yang ingin dijawab ini: Apakah orang percaya (confidence) Trump melakukan hal yang benar dalam hal urusan dunia (world affairs)? Karena isunya “urusan dunia” maka kita membandingkan Trump dengan beberapa tokoh dunia yang lain.

Untuk menjawab pertanyaan ini kita memanfaatkan hasil kajian PEW Research Center mengenai topik ini. PEW dipilih karena penulis tidak sempat mengakses sumber lain. Selain itu, pencermatan terhadap aspek metodologi, kajiannya secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan.

Kalah dari Putin

Dalam surveinya PEW mengajukan pertanyaan yang kira-kira artinya begini: “Apakah Anda percaya Merkel (Jerman), Macron (Prancis) , Xi (China), Putin (Rusia), atau Trump (AS) melakukan hal benar terkait urusan dunia?” Hasil survei menunjukkan Trump kalah bahkan oleh Putin. Ini mengejutkan karena survei mencakup kawasan luas di 25 negara, termasuk kawasan Eropa Barat (Inggris, Jerman, Prancis dan Spanyol) yang secara umum mempersepsikan Putin negatif bahkan musuh. Lebih mengejutkan lagi, secara kesejarahan, Eropa Barat adalah aliansi AS yang sangat dekat. Yang terakhir mengisyaratkan Barat melihat Trump berbeda secara signifikan (dalam konotasi negatif) dengan presiden-presiden AS sebelumnya.

Hasil survei itu memberikan skor 30 untuk Putin; artinya, 30% responden mengiyakan Putin melakukan “hal benar”. Berapa skor untuk Trump? Ternyata hanya 27. PEW dalam laporannya menyebutkan perbedaan angka itu signifikan. (Ini mengisyaratkan hasil survei relatif sangat akurat, atau margin kesalahannya relatif sangat kecil.)

Siapa yang memperoleh skor tertinggi? Ternyata Merkel. Ini juga mengejutkan karena survei ini belum lama dilakukan (2018) ketika popularitas Merkel di negaranya sendiri mulai merosot. Citra Merkel secara internasional memang bagus bahkan di mata Obama yang pernah mengatakan “history in your side” dalam hal kebijakan migrasi internasional. Seperti ditunjukkan oleh Grafik 1, popularitas Macron menempati urutan kedua (skor 46) setelah Merkel (skor 52), sementara Presiden Xi di urutan ketiga (skor 34). Bagaimana citra Trump dibandingkan dua presiden AS pendahulunya?

Grafik 1: Citra Trump dibandingkan Tokoh Dunia yang Lain

Bush, Obama dan Trump

Hasil survei menunjukkan citra Obama sangat positif dengan skor popularitas sekitar 75. Pada era awal kepresidenan jilid pertama, skor Obama bahkan sekitar 90, paling tidak bagi Jerman dan Prancis.

Citra Obama agak merosot sejalan dengan periode ke presidennya sekalipun skor masih relatif sangat tinggi. Kemerosotan citra yang lebih kentara dalam kasus Bush dengan skor sedikit lebih tinggi dari skor Trump. Yang terakhir citranya kira-kira setara dengan citra Bush ketika berada dalam titik nadir popularitasnya. Grafik 2 mengilustrasikan semua cerita ini.

Grafik 2: Citra Trump dibandingkan Dua Presiden AS pendahulunya

Demikianlah citra Trump menurut survei PEW yang diselenggarakan pada musim panas tahun lalau. Hasil survei patut diduga dapat berbeda jika survei serupa diselenggarakan sekarang ketika kursi kepresidenannya tengah digoyang keras oleh Kongres AS melalui upaya ke arah impeachment.

Hasil sementara upaya itu serta pemberitaan media mengenainya mengisyaratkan nasib Trump ke depan sulit diduga sehingga tidak ada yang berani meramalkan hasil akhirnya dengan argumen yang meyakinkan. Siapa berani berani menjawab pertanyaan ini:

  • Trump akan segera jatuh kepresidenannya?
  • Bertahan sampai akhir masa kepresidenan jilid 1?,
  • Melenggang sebagai kandidat presiden dalam Pemilu Presiden tahun depan, atau
  • Merebut jatah kepresidenan jilid ke-2.

Itulah serunya cerita Trump.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Prolog dari Prolog

Tulisan ini mengenai prolog kisah anak-cucu Adam, kisah manusia, kisah kita semua, di dunia-bawah-sini. Tulisan ini juga mengenai prolog dari prolog itu,

Prolog Kisah Manusia

Prolog kisah manusia di dunia, dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam), ditandai dengan kisah kejatuhan Adam-Hawa AS dari surga. Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa ini? Jawabannya berbeda antar tradisi agama samawi.

Posisi Yahudi tidak terlalu jelas. Mungkin karena Yahudi lebih fokus pada sukunya sendiri daripada pada “supra suku”, anak-cucu Adam secara keseluruhan. Posisi Kristen jelas: Adam-Hawa AS yang bertanggung jawab sehingga anak-cucunya menyandang dosa keturunan. Kristen secara khusus menyalahkan Hawa As atau Eve dalam bahasa Inggrisnya. Hal ini tersirat dari kata evil atau devil– diturunkan dari kata Eve– yang selalu berkonotasi negatif, jahat dan bahkan merusak[1].

Bagaimana dengan Islam? Posisinya juga jelas: iblis paling bertanggung jawab. Itulah sebabnya Al-Quran sering mengingatkan setan, anak cucu-iblis, sebagai musuh manusia. Ini tidak berarti Adam-Hawa tidak bersalah: keduanya, dalam porsi yang sama, divonis bersalah tetapi kesalahannya dimaafkan. Kesalahan mereka bukan saja melanggar perintah-Nya untuk tidak mendekati “pohon ini” (hadzihi al-syajarah), lebih dari itu mereka berdua makan buah yang berasal dari pohon terlarang itu. Lihat QS (2:34-35):

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir (34).

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tapi) janganalah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim (35).

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai batas yang ditentukan (36).

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia menerima tobatnya. Sungguh Allah Maja Penerima tobat, Maha Penyayang (37).

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (38).

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (39).

Semua ayat di atas mengisahkan “proses” kejatuhan Adam-Hawa dari surga, “warisan” anak-cucu mereka, tentunya bagi yang memenuhi “syarat”. Persyaratan itu adalah mengikuti petunjuk-Nya (ayat ke-35).

Persyaratan yang dimaksud menegaskan perbedaan pandangan Islam yang sangat berbeda dengan pandangan Kristen dalam hal keselamatan (salvation): bagi Kristen keselamatan hanya mungkin melalui Juru Selamat (Savior), bagi Islam itu tergantung pada ketaatan individu (“barang siapa”, ayat ke-38) mengikuti petunjuk-Nya. Dalam konteks ini, rahmat-Nya tentu menentukan karena seperti diungkapkan Schuon (2007:82)[2]: “… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue“.

… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue.

Demikianlah kisah singkat “kejatuhan” manusia dari surga-atas-sana ke dunia-bawah sini. Pertanyaannya, bagaimana kisahnya sebelum kejatuhan itu?

Sebelum Kejatuhan

Sebelum kejatuhan mereka Adam-Hawa AS tinggal di “kampung” surga yang penuh kenikmatan, kemuliaan, dan keredaan-Nya. Sejumlah ayat Al-Quran mengisyaratkan gambaran kehidupan di kampung itu.

a. Kenikmatan

Gambaran kenikmatan hidup di surga disajikan dalam QS (2:35) yang mengisyaratkan ketersediaan sumber pangan dalam jumlah melimpah dan dapat dinikmati sepuas-puasnya. Gambaran yang luar biasa disajikan dalam sejumlah ayat Surat ke-56, Surat Al-Waqiah:

berlokasi di antara pohon bidara yang tidak berduri (ayat ke-28), dipenuhi pohon pisang yang buahnya bersusun-susun (29), di bawah naungan yang luas (30), difasilitasi air yang terus mengalir (31), dipenuhi buah-buahan yang tak-terlarang untuk menikmatinya dan pohonnya tidak berhenti berbuah (32-33), dilengkapi kasur-kasur yang tebal lagi empuk (34), dilayani para bidadari yang sebaya, penuh cinta dan terus dibuat perawan (35-37)…

Itulah gambaran surga bagi “ahli kanan” (teks: ashabul yamin) yang bagi banyak komentator “lebih wah” dari yang dapat dibayangkan oleh pikiran yang paling liar sekalipun. Tetapi gambaran itu masih di bawah kelas “surga kenikmatan” (teks: jannatun naim, ayat ke12) yang disiapkan untuk “orang-orang dekat ” (teks: muqarrabun) yang “wah”-nya sukar di bayangkan.

b. Kemuliaan

QS (2: 234) sebagaimana dikutip di atas mengisyaratkan kehidupan Adam AS sangat mulia, demikian mulianya sehingga para malaikat bersujud kepadanya. “Malaikat bersujud”: Adakah kemuliaan yang lebih agung dari ini?

Tetapi kemuliaan itu bukan hak eksklusif Adam AS. Kemuliaan itu juga disandang oleh semua manusia, anak-cucu Adam: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam QS (17:70).

c. Reda dan Diredai

Anak cucu Adam yang memasuki surga-Nya berarti menerima undangan-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang reda dan diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Kua, dan masuklah ke alam surga-Ku  QS (89:27-30).

Kata kunci ayat ini: jiwa tenang (teks: an-Nafs al-Muthmainnah)[3], reda, dan diredai-Nya.

*****

Kenikmatan, kehormatan, dan diredai-Nya. Adakah anugerah yang lebih besar dari ini? Kisah anugerah inilah yang menjadi prolog dari prolog kisah manusia di dunia-bawah-sini sebelum jatuh dari sugra-atas-sana.

Wallahualam….@

[1] Ini adalah pandangan eksternal seorang non-Yahudi dan non-Kristen yang belum tentu sesuai atau memadai dari persepsi internal penganut dua agama samawi ini.

[2] Frithjof Schuon (2007), Spiritual Perspectives and Human Facts, World Wisdom.

[3] Mengenai jiwa tenang lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/10/07/jiwa-tenang/.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Pertumbuhan Alamiah Populasi Global

Kelahiran dan Kematian. Hanya  dua faktor alamiah inilah yang menentukan populasi manusia secara global. Dinyatakan secara berbeda, dinamika populasi global adalah fungsi dari surplus atau defisit peristiwa kelahiran (=B) terhadap kematian (=D): jika (B-D)>0 maka populasi  bertambah, jika (B-D)<0 populasi berkurang. Seperti yang akan segera terlihat, kecuali terjadi peristiwa luar bisa yang mempengaruhi kelangsungan hidup populasi global secara signifikan, populasi global patut diduga masih akan tumbuh karena (B-D)>0.

Menurut PEW Research Center[1], selama kurun 2010-2015, (B-D) bernilai positif sekitar 388.6 juta jiwa. Jika angka ini diasumsikan berlaku selama 15 tahun mendatang (dari 2015), maka selama kurun 2015-2030 populasi global akan bertambah 3×388.6 juta = 1,165.8 juta atau sekitar 1.2 milyar jiwa. Angka ini: (1) 200 juta lebih rendah dari populasi Cina sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 1,435,328,900)[2], atau (2) 117 juta lebih tinggi dari populasi Indonesia sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 271,431,139)[3].

Perbedaan Regional

Dinamika populasi regional lebih kompleks dari pada dinamika populasi total. Pasalnya, faktor pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh (B-D), tetapi juga oleh faktor migrasi, migrasi masuk [=M(I)] atau migrasi keluar [=M(O)]. Populasi Jakarta atau kawasan Asia Pasifik, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh surplus atau defisit B terhadap D di provinsi atau kawasan itu, tetapi juga ditentukan oleh apakah M(I)-M(0) positif atau negatif. Ini masalah kompleks, apalagi jika fokusnya pada faktor pertumbuhan alamiah. Untungnya, PEW Research Center telah menghitungkan untuk kita sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1: Selisih Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Kawasan (Ribuan)[4]

Selisih Kelahiran-Kematian

%

Distribution

Asia Pacific

202,790

52.2

Europe

-1,750

-0.5

Middle East and North Africa (MENA)

33,890

8.7

North America

9,150

2.4

Sub-Saharan Africa

108.450

27.9

Total

388.610

100.0

Tabel 1 menunjukkan pertumbuhan alamiah positif di semua wilayah kecuali Eropa. Populasi di benua ini defisit sekitar 1,75 juta kelahiran terhadap kematian. Artinya, jika keadaan seperti ini terus berlangsung maka populasi Eropa akan terus menyusut. Secara ekonomi hal ini tidak menguntungkan karena bagaimanapun total GDP adalah fungsi penduduk[5].

Jika keadaan ini tidak dikehendaki, maka satu-satunya penyelesaian logis bagi Eropa adalah mendatangkan migrasi masuk dari luar dalam jumlah yang secara signifikan lebih besar dari total migrasi keluar. Jika migran masuk dipilih yang berusia reproduktif dan produktif maka cara ini lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan “memanjakan” pasangan usia produktif dengan berbagai kemudahan subsidi untuk menambah anak yang belum tentu dan sejauh ini terbukti tidak  efektif (selain kemungkinan juga mahal).

Bagi Eropa, mendatangkan migran usia produktif dan reproduktif dari luar akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya untuk mengatasi defisit kelahiran.

Tabel itu juga menunjukkan bahwa masa depan pertumbuhan populasi global patut diduga akan tergantung pada kawasan Asia-Pacific:  kawasan ini menyumbangkan lebih dari separuh pertumbuhan populasi global. Dalam konteks ini ada tiga negara “raksasa” yang memainkan peranan menentukan: Cina, India dan Indonesia. Yang menarik untuk dicatat, ciri kependudukan ketiganya berbeda: yang pertama dicirikan oleh relatif rendahnya angka kelahiran dan angka kematian, sementara yang kedua oleh relatif tingginya kedua angka itu. Posisi Indonesia berada di tengah-tengah dua “raksasa” itu dalam hal angka kelahiran dan kematian[6].

Perbedaan menurut Afiliasi Agama

Populasi berbeda dalam hal afiliasi agama yang dianut dan perbedaan semacam ini agaknya adalah alamiah bagi populasi[7]. Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan alamiah berbeda menurut afiliasi agama.

Mudah diduga pertumbuhan alamiah populasi (dalam artian absolut) sangat ditentukan oleh dua populasi agama terbesar yaitu Muslim dan Kristen. Data PEW mengkonfirmasi dugaan ini ini sebagaimana terlihat pada Grafik 1. Dari 388.6 juta faktor pertumbuhan alamiah, sebanyak 267 juta atau 70% merupakan sumbangan populasi dari dua agama ini.

Grafik 1: Selisih Jumlah Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Afiliasi Agama Penduduk (Juta)[8]

Grafik itu juga menegaskan populasi Muslim lebih subur secara aktual (atau memiliki angka fertilitas lebih tinggi) dari pada populasi Kristen. Penegasan ini justified karena secara absolut pada level global, populasi Kristen lebih besar dari pada populasi global dan ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai 2050.

Grafik 2: Defisit Kelahiran terhadap Kematian Eropa 2010-2015

Catatan: Populasi Agama Yahudi tidak diperhitungkan karena kasusnya kurang dari 10,000.

Grafik 1 menunjukkan sumbangan positif populasi Kristen terhadap pertumbuhan alamiah populasi global. Gambarannya sangat berbeda jika fokus diberikan khusus pada kawasan Eropa. Khusus di kawasan ini, seperti ditunjukkan oleh Grafik 2, sumbangan populasi Kristen defisit sekitar 5.64 juta kelahiran terhadap kematian. Demographic wise, fakta ini mengisyaratkan akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa untuk mengatasi defisit kelahiran terhadap kematian.

Demographic wise akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa…

Kesimpulan dan Pertanyaan

Sebagai kesimpulan, ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global akan banyak dipengaruhi dinamika penduduk di kawasan Asia Pacific. Juga ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global juga dipengaruhi oleh populasi Muslim. Pertanyaannya, apakah yang terakhir ini, dengan mengingat ajaran Islam yang secara eksplisit mengusung nilai-nilai keadilan sosial (QS 107) dan keikhlasan dalam berderma ( QS 76:9)[9], akan membawa masa depan populasi global ke arah yang lebih adil?

Wallahualam…@

[1] Appendix A,  https://www.pewforum.org/2015/04/02/religious-projections-2010-2050/

[2] https://www.worldometers.info/world-population/china-population/

[3] https://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

[4] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[5]  GDP adalah singkatan dari  “Gross Domestic Product” dan mewakili total nilai moneter dari semua produksi final barang dan jasa dalam suatu periode (biasanya setahun). GDP adalah ukuran yang paling umum dipakai untuk menghitung aktivitas ekonomi. Seperti halnya total produksi padi yang merupakan fungsi dari produktivitas (per HA) dan luas panen, demikian juga total GDP merupakan oleh produktivitas (GDP/kapita dan penduduk.

[6] Pengamatan seorang teman di ADB menarik untuk dicatat. Menurutnya, posisi Indonesia juga berada di tengah dua negara raksasa itu dalam hal demokrasi dan birokrasi: tidak semurni India dalam hal demokrasi, tidak seefektif Cina dalam hal birokrasi pemerintahan. Dia tidak mampu menjawab ketiga penulis bertanya: “Apakah keduanya harus saling melemahkan?”

[7] Itulah sebabnya dalam Islam ada larangan memaksakan agama (QS 2:256).

[8] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[9] Keikhlasan dalam konteks ini lebih dari sekadar kedermawanan sosial (philanthropy) yang masih rentan terpapar “agenda” pribadi yang kurang terpuji. “Agenda” yang dimaksud, pada tataran negara, dapat berbentuk kebijakan luar negeri yang tampilan luarnya saja terkesan dermawan, tetapi dengan rumus tidak ada “makan siang gratis”,  menyembunyikan motivasi mengeruk keuntungan lebih besar dari pihak yang dibantu.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com