Menimbang Popularitas Trump

Sang Presiden yang satu ini pasti populer dalam arti umum kata itu. Betapa tidak. Ia adalah presiden satu negara yang paling kuat dari sisi ekonomi (walaupun terus dibayangi China), maupun dalam hal pengaruh global (sekalipun semakin diimbangi oleh Rusia). Ada faktor lain yang mendukung popularitasnya: keunikannya dalam hal rekor pribadi, gaya bicara, kepemimpinan, dan perspektif (soal kancah internasional), serta kecerdikan.

Banyak yang mencela Trump termasuk dari para (eks) pendukung utamanya, tetapi tidak sedikit yang memuji serta mendukungnya secara mati-matian. Pendukung Trump dengan karakter semacam itu dikecam oleh Hillary menggunakan kata deplorable (tercela). Trump secara sigap memanfaatkan kata itu mengompori pendukungnya yang “sudah panas”. Itulah salah satu tanda kecerdikan Trump. Keberadaan pendukung “tercela” ini sebagian menjelaskan kenapa Trump– sekalipun kalah populer dari Hillary dalam perolehan jumlah suara– memenangkan perebutan kursi kepresidenan. Keberadaan mereka juga sebagian menjelaskan kenapa dia masih bertahan di kursinya– paling tidak saat ini– sekalipun di dera oleh hiruk pikuk isu terkait impeachment yang semakin heboh.

Dalam konteks semacam itulah kata populer digunakan secara umum. Kata ini, dalam bagian tulisan ini selanjutnya, digunakan dengan konotasi yang berbeda, lebih terkait dengan pencitraan. Yang ingin dijawab ini: Apakah orang percaya (confidence) Trump melakukan hal yang benar dalam hal urusan dunia (world affairs)? Karena isunya “urusan dunia” maka kita membandingkan Trump dengan beberapa tokoh dunia yang lain.

Untuk menjawab pertanyaan ini kita memanfaatkan hasil kajian PEW Research Center mengenai topik ini. PEW dipilih karena penulis tidak sempat mengakses sumber lain. Selain itu, pencermatan terhadap aspek metodologi, kajiannya secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan.

Kalah dari Putin

Dalam surveinya PEW mengajukan pertanyaan yang kira-kira artinya begini: “Apakah Anda percaya Merkel (Jerman), Macron (Prancis) , Xi (China), Putin (Rusia), atau Trump (AS) melakukan hal benar terkait urusan dunia?” Hasil survei menunjukkan Trump kalah bahkan oleh Putin. Ini mengejutkan karena survei mencakup kawasan luas di 25 negara, termasuk kawasan Eropa Barat (Inggris, Jerman, Prancis dan Spanyol) yang secara umum mempersepsikan Putin negatif bahkan musuh. Lebih mengejutkan lagi, secara kesejarahan, Eropa Barat adalah aliansi AS yang sangat dekat. Yang terakhir mengisyaratkan Barat melihat Trump berbeda secara signifikan (dalam konotasi negatif) dengan presiden-presiden AS sebelumnya.

Hasil survei itu memberikan skor 30 untuk Putin; artinya, 30% responden mengiyakan Putin melakukan “hal benar”. Berapa skor untuk Trump? Ternyata hanya 27. PEW dalam laporannya menyebutkan perbedaan angka itu signifikan. (Ini mengisyaratkan hasil survei relatif sangat akurat, atau margin kesalahannya relatif sangat kecil.)

Siapa yang memperoleh skor tertinggi? Ternyata Merkel. Ini juga mengejutkan karena survei ini belum lama dilakukan (2018) ketika popularitas Merkel di negaranya sendiri mulai merosot. Citra Merkel secara internasional memang bagus bahkan di mata Obama yang pernah mengatakan “history in your side” dalam hal kebijakan migrasi internasional. Seperti ditunjukkan oleh Grafik 1, popularitas Macron menempati urutan kedua (skor 46) setelah Merkel (skor 52), sementara Presiden Xi di urutan ketiga (skor 34). Bagaimana citra Trump dibandingkan dua presiden AS pendahulunya?

Grafik 1: Citra Trump dibandingkan Tokoh Dunia yang Lain

Bush, Obama dan Trump

Hasil survei menunjukkan citra Obama sangat positif dengan skor popularitas sekitar 75. Pada era awal kepresidenan jilid pertama, skor Obama bahkan sekitar 90, paling tidak bagi Jerman dan Prancis.

Citra Obama agak merosot sejalan dengan periode ke presidennya sekalipun skor masih relatif sangat tinggi. Kemerosotan citra yang lebih kentara dalam kasus Bush dengan skor sedikit lebih tinggi dari skor Trump. Yang terakhir citranya kira-kira setara dengan citra Bush ketika berada dalam titik nadir popularitasnya. Grafik 2 mengilustrasikan semua cerita ini.

Grafik 2: Citra Trump dibandingkan Dua Presiden AS pendahulunya

Demikianlah citra Trump menurut survei PEW yang diselenggarakan pada musim panas tahun lalau. Hasil survei patut diduga dapat berbeda jika survei serupa diselenggarakan sekarang ketika kursi kepresidenannya tengah digoyang keras oleh Kongres AS melalui upaya ke arah impeachment.

Hasil sementara upaya itu serta pemberitaan media mengenainya mengisyaratkan nasib Trump ke depan sulit diduga sehingga tidak ada yang berani meramalkan hasil akhirnya dengan argumen yang meyakinkan. Siapa berani berani menjawab pertanyaan ini:

  • Trump akan segera jatuh kepresidenannya?
  • Bertahan sampai akhir masa kepresidenan jilid 1?,
  • Melenggang sebagai kandidat presiden dalam Pemilu Presiden tahun depan, atau
  • Merebut jatah kepresidenan jilid ke-2.

Itulah serunya cerita Trump.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Prolog dari Prolog

Tulisan ini mengenai prolog kisah anak-cucu Adam, kisah manusia, kisah kita semua, di dunia-bawah-sini. Tulisan ini juga mengenai prolog dari prolog itu,

Prolog Kisah Manusia

Prolog kisah manusia di dunia, dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam), ditandai dengan kisah kejatuhan Adam-Hawa AS dari surga. Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa ini? Jawabannya berbeda antar tradisi agama samawi.

Posisi Yahudi tidak terlalu jelas. Mungkin karena Yahudi lebih fokus pada sukunya sendiri daripada pada “supra suku”, anak-cucu Adam secara keseluruhan. Posisi Kristen jelas: Adam-Hawa AS yang bertanggung jawab sehingga anak-cucunya menyandang dosa keturunan. Kristen secara khusus menyalahkan Hawa As atau Eve dalam bahasa Inggrisnya. Hal ini tersirat dari kata evil atau devil– diturunkan dari kata Eve– yang selalu berkonotasi negatif, jahat dan bahkan merusak[1].

Bagaimana dengan Islam? Posisinya juga jelas: iblis paling bertanggung jawab. Itulah sebabnya Al-Quran sering mengingatkan setan, anak cucu-iblis, sebagai musuh manusia. Ini tidak berarti Adam-Hawa tidak bersalah: keduanya, dalam porsi yang sama, divonis bersalah tetapi kesalahannya dimaafkan. Kesalahan mereka bukan saja melanggar perintah-Nya untuk tidak mendekati “pohon ini” (hadzihi al-syajarah), lebih dari itu mereka berdua makan buah yang berasal dari pohon terlarang itu. Lihat QS (2:34-35):

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir (34).

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tapi) janganalah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim (35).

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai batas yang ditentukan (36).

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia menerima tobatnya. Sungguh Allah Maja Penerima tobat, Maha Penyayang (37).

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (38).

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (39).

Semua ayat di atas mengisahkan “proses” kejatuhan Adam-Hawa dari surga, “warisan” anak-cucu mereka, tentunya bagi yang memenuhi “syarat”. Persyaratan itu adalah mengikuti petunjuk-Nya (ayat ke-35).

Persyaratan yang dimaksud menegaskan perbedaan pandangan Islam yang sangat berbeda dengan pandangan Kristen dalam hal keselamatan (salvation): bagi Kristen keselamatan hanya mungkin melalui Juru Selamat (Savior), bagi Islam itu tergantung pada ketaatan individu (“barang siapa”, ayat ke-38) mengikuti petunjuk-Nya. Dalam konteks ini, rahmat-Nya tentu menentukan karena seperti diungkapkan Schuon (2007:82)[2]: “… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue“.

… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue.

Demikianlah kisah singkat “kejatuhan” manusia dari surga-atas-sana ke dunia-bawah sini. Pertanyaannya, bagaimana kisahnya sebelum kejatuhan itu?

Sebelum Kejatuhan

Sebelum kejatuhan mereka Adam-Hawa AS tinggal di “kampung” surga yang penuh kenikmatan, kemuliaan, dan keredaan-Nya. Sejumlah ayat Al-Quran mengisyaratkan gambaran kehidupan di kampung itu.

a. Kenikmatan

Gambaran kenikmatan hidup di surga disajikan dalam QS (2:35) yang mengisyaratkan ketersediaan sumber pangan dalam jumlah melimpah dan dapat dinikmati sepuas-puasnya. Gambaran yang luar biasa disajikan dalam sejumlah ayat Surat ke-56, Surat Al-Waqiah:

berlokasi di antara pohon bidara yang tidak berduri (ayat ke-28), dipenuhi pohon pisang yang buahnya bersusun-susun (29), di bawah naungan yang luas (30), difasilitasi air yang terus mengalir (31), dipenuhi buah-buahan yang tak-terlarang untuk menikmatinya dan pohonnya tidak berhenti berbuah (32-33), dilengkapi kasur-kasur yang tebal lagi empuk (34), dilayani para bidadari yang sebaya, penuh cinta dan terus dibuat perawan (35-37)…

Itulah gambaran surga bagi “ahli kanan” (teks: ashabul yamin) yang bagi banyak komentator “lebih wah” dari yang dapat dibayangkan oleh pikiran yang paling liar sekalipun. Tetapi gambaran itu masih di bawah kelas “surga kenikmatan” (teks: jannatun naim, ayat ke12) yang disiapkan untuk “orang-orang dekat ” (teks: muqarrabun) yang “wah”-nya sukar di bayangkan.

b. Kemuliaan

QS (2: 234) sebagaimana dikutip di atas mengisyaratkan kehidupan Adam AS sangat mulia, demikian mulianya sehingga para malaikat bersujud kepadanya. “Malaikat bersujud”: Adakah kemuliaan yang lebih agung dari ini?

Tetapi kemuliaan itu bukan hak eksklusif Adam AS. Kemuliaan itu juga disandang oleh semua manusia, anak-cucu Adam: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam QS (17:70).

c. Reda dan Diredai

Anak cucu Adam yang memasuki surga-Nya berarti menerima undangan-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang reda dan diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Kua, dan masuklah ke alam surga-Ku  QS (89:27-30).

Kata kunci ayat ini: jiwa tenang (teks: an-Nafs al-Muthmainnah)[3], reda, dan diredai-Nya.

*****

Kenikmatan, kehormatan, dan diredai-Nya. Adakah anugerah yang lebih besar dari ini? Kisah anugerah inilah yang menjadi prolog dari prolog kisah manusia di dunia-bawah-sini sebelum jatuh dari sugra-atas-sana.

Wallahualam….@

[1] Ini adalah pandangan eksternal seorang non-Yahudi dan non-Kristen yang belum tentu sesuai atau memadai dari persepsi internal penganut dua agama samawi ini.

[2] Frithjof Schuon (2007), Spiritual Perspectives and Human Facts, World Wisdom.

[3] Mengenai jiwa tenang lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/10/07/jiwa-tenang/.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Pertumbuhan Alamiah Populasi Global

Kelahiran dan Kematian. Hanya  dua faktor alamiah inilah yang menentukan populasi manusia secara global. Dinyatakan secara berbeda, dinamika populasi global adalah fungsi dari surplus atau defisit peristiwa kelahiran (=B) terhadap kematian (=D): jika (B-D)>0 maka populasi  bertambah, jika (B-D)<0 populasi berkurang. Seperti yang akan segera terlihat, kecuali terjadi peristiwa luar bisa yang mempengaruhi kelangsungan hidup populasi global secara signifikan, populasi global patut diduga masih akan tumbuh karena (B-D)>0.

Menurut PEW Research Center[1], selama kurun 2010-2015, (B-D) bernilai positif sekitar 388.6 juta jiwa. Jika angka ini diasumsikan berlaku selama 15 tahun mendatang (dari 2015), maka selama kurun 2015-2030 populasi global akan bertambah 3×388.6 juta = 1,165.8 juta atau sekitar 1.2 milyar jiwa. Angka ini: (1) 200 juta lebih rendah dari populasi Cina sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 1,435,328,900)[2], atau (2) 117 juta lebih tinggi dari populasi Indonesia sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 271,431,139)[3].

Perbedaan Regional

Dinamika populasi regional lebih kompleks dari pada dinamika populasi total. Pasalnya, faktor pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh (B-D), tetapi juga oleh faktor migrasi, migrasi masuk [=M(I)] atau migrasi keluar [=M(O)]. Populasi Jakarta atau kawasan Asia Pasifik, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh surplus atau defisit B terhadap D di provinsi atau kawasan itu, tetapi juga ditentukan oleh apakah M(I)-M(0) positif atau negatif. Ini masalah kompleks, apalagi jika fokusnya pada faktor pertumbuhan alamiah. Untungnya, PEW Research Center telah menghitungkan untuk kita sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1: Selisih Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Kawasan (Ribuan)[4]

Selisih Kelahiran-Kematian

%

Distribution

Asia Pacific

202,790

52.2

Europe

-1,750

-0.5

Middle East and North Africa (MENA)

33,890

8.7

North America

9,150

2.4

Sub-Saharan Africa

108.450

27.9

Total

388.610

100.0

Tabel 1 menunjukkan pertumbuhan alamiah positif di semua wilayah kecuali Eropa. Populasi di benua ini defisit sekitar 1,75 juta kelahiran terhadap kematian. Artinya, jika keadaan seperti ini terus berlangsung maka populasi Eropa akan terus menyusut. Secara ekonomi hal ini tidak menguntungkan karena bagaimanapun total GDP adalah fungsi penduduk[5].

Jika keadaan ini tidak dikehendaki, maka satu-satunya penyelesaian logis bagi Eropa adalah mendatangkan migrasi masuk dari luar dalam jumlah yang secara signifikan lebih besar dari total migrasi keluar. Jika migran masuk dipilih yang berusia reproduktif dan produktif maka cara ini lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan “memanjakan” pasangan usia produktif dengan berbagai kemudahan subsidi untuk menambah anak yang belum tentu dan sejauh ini terbukti tidak  efektif (selain kemungkinan juga mahal).

Bagi Eropa, mendatangkan migran usia produktif dan reproduktif dari luar akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya untuk mengatasi defisit kelahiran.

Tabel itu juga menunjukkan bahwa masa depan pertumbuhan populasi global patut diduga akan tergantung pada kawasan Asia-Pacific:  kawasan ini menyumbangkan lebih dari separuh pertumbuhan populasi global. Dalam konteks ini ada tiga negara “raksasa” yang memainkan peranan menentukan: Cina, India dan Indonesia. Yang menarik untuk dicatat, ciri kependudukan ketiganya berbeda: yang pertama dicirikan oleh relatif rendahnya angka kelahiran dan angka kematian, sementara yang kedua oleh relatif tingginya kedua angka itu. Posisi Indonesia berada di tengah-tengah dua “raksasa” itu dalam hal angka kelahiran dan kematian[6].

Perbedaan menurut Afiliasi Agama

Populasi berbeda dalam hal afiliasi agama yang dianut dan perbedaan semacam ini agaknya adalah alamiah bagi populasi[7]. Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan alamiah berbeda menurut afiliasi agama.

Mudah diduga pertumbuhan alamiah populasi (dalam artian absolut) sangat ditentukan oleh dua populasi agama terbesar yaitu Muslim dan Kristen. Data PEW mengkonfirmasi dugaan ini ini sebagaimana terlihat pada Grafik 1. Dari 388.6 juta faktor pertumbuhan alamiah, sebanyak 267 juta atau 70% merupakan sumbangan populasi dari dua agama ini.

Grafik 1: Selisih Jumlah Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Afiliasi Agama Penduduk (Juta)[8]

Grafik itu juga menegaskan populasi Muslim lebih subur secara aktual (atau memiliki angka fertilitas lebih tinggi) dari pada populasi Kristen. Penegasan ini justified karena secara absolut pada level global, populasi Kristen lebih besar dari pada populasi global dan ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai 2050.

Grafik 2: Defisit Kelahiran terhadap Kematian Eropa 2010-2015

Catatan: Populasi Agama Yahudi tidak diperhitungkan karena kasusnya kurang dari 10,000.

Grafik 1 menunjukkan sumbangan positif populasi Kristen terhadap pertumbuhan alamiah populasi global. Gambarannya sangat berbeda jika fokus diberikan khusus pada kawasan Eropa. Khusus di kawasan ini, seperti ditunjukkan oleh Grafik 2, sumbangan populasi Kristen defisit sekitar 5.64 juta kelahiran terhadap kematian. Demographic wise, fakta ini mengisyaratkan akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa untuk mengatasi defisit kelahiran terhadap kematian.

Demographic wise akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa…

Kesimpulan dan Pertanyaan

Sebagai kesimpulan, ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global akan banyak dipengaruhi dinamika penduduk di kawasan Asia Pacific. Juga ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global juga dipengaruhi oleh populasi Muslim. Pertanyaannya, apakah yang terakhir ini, dengan mengingat ajaran Islam yang secara eksplisit mengusung nilai-nilai keadilan sosial (QS 107) dan keikhlasan dalam berderma ( QS 76:9)[9], akan membawa masa depan populasi global ke arah yang lebih adil?

Wallahualam…@

[1] Appendix A,  https://www.pewforum.org/2015/04/02/religious-projections-2010-2050/

[2] https://www.worldometers.info/world-population/china-population/

[3] https://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

[4] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[5]  GDP adalah singkatan dari  “Gross Domestic Product” dan mewakili total nilai moneter dari semua produksi final barang dan jasa dalam suatu periode (biasanya setahun). GDP adalah ukuran yang paling umum dipakai untuk menghitung aktivitas ekonomi. Seperti halnya total produksi padi yang merupakan fungsi dari produktivitas (per HA) dan luas panen, demikian juga total GDP merupakan oleh produktivitas (GDP/kapita dan penduduk.

[6] Pengamatan seorang teman di ADB menarik untuk dicatat. Menurutnya, posisi Indonesia juga berada di tengah dua negara raksasa itu dalam hal demokrasi dan birokrasi: tidak semurni India dalam hal demokrasi, tidak seefektif Cina dalam hal birokrasi pemerintahan. Dia tidak mampu menjawab ketiga penulis bertanya: “Apakah keduanya harus saling melemahkan?”

[7] Itulah sebabnya dalam Islam ada larangan memaksakan agama (QS 2:256).

[8] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[9] Keikhlasan dalam konteks ini lebih dari sekadar kedermawanan sosial (philanthropy) yang masih rentan terpapar “agenda” pribadi yang kurang terpuji. “Agenda” yang dimaksud, pada tataran negara, dapat berbentuk kebijakan luar negeri yang tampilan luarnya saja terkesan dermawan, tetapi dengan rumus tidak ada “makan siang gratis”,  menyembunyikan motivasi mengeruk keuntungan lebih besar dari pihak yang dibantu.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Abu Dzarr, Abu Hanifah, dan Kekuasan Publik

Presiden terpilih kita dalam waktu dekat akan memilih pembantunya, bukan sembarang pembantu, tetapi pembantu dalam jabatan publik, sebagai menteri atau kepala lembaga. Secara hukum Presiden memiliki hak prerogatif untuk memilih pembantunya. Tapi dalam realitas politik, hak itu menjadi ajang tarik-menarik berbagai kelompok kekuatan politik yang minta “jatah”, eksplisit maupun implisit. Kita berbaik sangka saja: permintaan itu wujud semangat untuk turut membangun bangsa. Kita serahkan pada ahli untuk menilai “motivasi” permintaan semacam itu. Tulisan ini, sedikit terkait dengan topik kekuasaan publik, menyoroti secara sepintas dua tokoh historis dalam sejarah Islam yaitu Abu Dzarr dan Imam Hanafi

Abu Dzarr

Abu Dzarr (wafat 652M) adalah orang ke-4 atau ke-5 yang memeluk Islam. Beliau adalah sahabat dekat Nabi SAW yang dikenal karena kesalehannya dan daya kritisnya: di era Kekhalifahan Usman RA, Abu Dzarr RA populer karena kritik tajamnya yang dialamatkan kepada Muawiyah I, pendiri Dinasti Umayah). Mungkin karena kesalehannya, beliau sering memperoleh ajaran langsung dari Nabi SAW, di antaranya berupa tujuh wasiat berikut ini:

Dari Abu Dzar RA, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) SAW berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan la haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) Beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia[1].

Isi wasiat ini jelas sarat dengan ajaran moral pribadi dan moral sosial sehingga tidak mengherankan jika sebagian ahli– termasuk Ali Shariati, Muhammad Sharqawi dan Sami Ayad Hanna– mengakrakterisasikan Abu Dzarr RA sebagai “… anteseden utama sosialisme Islam, sosialis Islam pertama, atau sosialis pertama sekaligus… Ia memprotes penumpukan kekayaan oleh kelas penguasa selama kekhalifahan Utsman dan mendesak redistribusi kekayaan yang adil”[2].

Tapi apa hubungannya dengan kekuasaan publik? Konon suatu saat Abu Dzarr “protes” karena tidak diberikan kekuasaan. Menanggapi protes ini Nabi SAW bersabda:

“Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825).

Hadits ini menujukan bahwa kekuasaan itu amanah dan Abu Dzarr RA oleh Nabi SAW dinilai terlalu “lemah” untuk memegang amanah itu.

Abu Hanifah

Abi Hanifah RA (wafat: 676M), atau lengkapnya Abū Ḥanīfa an-Nu‘man ibn Thābit, adalah Imam Besar pendiri mazhab Hanifiah, satu dari empat mazhab hukum Islam yang paling berpengaruh di kalangan tradisi Sunni. Tiga Imam Besar pendiri mazhab lainnya adalah Maliki RA, Syafi’i RA, dan Hanbali RA. Dari sisi pengikut Mazhab Hanafiah adalah paling besar dan dominan di negara-negara yang pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman yang bersejarah, Kekaisaran Mughal dan Kesultanan penguasa Turki di Asia Selatan, Cina barat laut dan Asia Tengah. Di era modern, Mazhab Hanafiah lazim di daerah berikut: Turki, Balkan, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina, Mesir, sebagian Irak, sebagian Iran, sebagian Rusia, Turkmenistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan, Afghanistan, Pakistan, sebagian India dan Cina, dan Bangladesh

Seperti semua mazhab lainnya, Abu Hanifah RA sangat tegas memosisikan Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber utama pengambilan hukum. Di luar dua sumber ini beliau juga menggunakan lima sumber hukum lain: konsensus komunitas sahabat (ijma dari para sahabat Nabi SAW), pendapat individu dari para sahabat, qiyas (analogi), Istihsan (preferensi hukum), dan akhirnya urf lokal (adat setempat) orang). Penggunaan tiga prinsip yang terakhir (qiyas, istihsan dan ‘urf) boleh dikatakan karya otentik (ijtihad) Imam besar ini yang sampai sekarang dijadikan alat intelektual untuk menjawab persoalan Umat kontemporer, termasuk “fiqh minoritas”  (al Fiqh al Akhliyya).

Kepakarannya dalam bidang prinsip-prinsip pengambilan hukum (Ushul fiqh) membuat Abu Hanifah RA sangat populer serta disegani oleh semua pihak. Tapi ini tidak membuatnya kehilangan sisi kejenakaan. Konon pada suatu hari beliau ditanya: “Kalau aku mandi di sungai, apakah aku harus menghadap Kibat?” Jawaban beliau: “Tidak, kamu harus menghadap ke tepi sungai sambil mengawasi pakaianmu”. Dengan sisi kemanusiaan itu beliau sangat dekat dengan Umat kebanyakan.

Bagaimana dengan penguasa?

Popularitas kepakaran beliau membuat para penguasa dan politisi “gerah”. Pada 766 M, Khalifah al Mansur meminta beliau menjadi ketua hakim (Kad) di Baghdad dengan harapan dapat mengendalikan pengaruh beliau di kalangan rakyat banyak. Ulama besar ini menolak tawaran jabatan tinggi itu. Konsekuensinya, beliau dipenjara– bahkan sering memperoleh ganjaran cambukkan, sekalipun diizinkan tetap mengajar–  sebelum  menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 767 Masehi.

Tragis? Mungkin. Yang jelas, dalam sejarah peradaban Islam yang panjang lumrah jika para ulama besar dan para aulia menolak bantuan yang ditawarkan oleh pemegang kekuasaan. Kenapa? Untuk mempertahankan kemerdekaan berkiprah, serta untuk mengendalikan syahwat harta dan kuasa dunia. Tapi itu dulu….@

 

[1] https://islam.nu.or.id/post/read/70141/ini-tujuh-wasiat-rasulullah-kepada-abu-dzar

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Dhar_al-Ghifari

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Jiwa yang Tenang

Kalau ada kesempatan memohon hanya satu hal kepada-Nya, apakah doa itu? Jawaban dapat bermacam-macam sesuai dengan kedewasaan emosional, kapasitas intelektual, dan kepekaan spiritual yang bersangkutan. Bagi penulis, doa itu adalah jiwa yang tenang (Quran: al-nafsu al-muthmainnah). Argumennya, hanya yang berhati tenang yang memperoleh undangan memasuki surga-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku, (QS 89:28-30)

Dalam ayat itu jelas yang berjiwa tenang tidak hanya masuk surga-Nya, tetapi memasukinya dengan rida dan rida-Nya. Adakah yang lebih beruntung dari memperoleh undangan ini? Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara memperoleh status atau stasiun spiritual berjiwa tenang?

Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan ini tetapi hampir semuanya terkait dengan sikap merespons karunia-Nya. Dia SWT memiliki kebebasan mutlak untuk memberikan atau tidak memberikan karunia-Nya. Ini pasti. Yang juga pasti, karunia-Nya dapat sesuai atau tidak seusai keinginan. Dari dua kepastian ini terbentuk semacam matriks 2×2, katakanlah X(i,j), yang masing-masing bersifat dikotomi. Artinya, hanya dua kemungkinan nilai i atau j: 1 (ya) atau 0 (tidak). Dalam konteks ini masing-masing isi matriks itu dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • X(1,1): memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, memperoleh rezeki “nomplok”, lebih besar dari biasanya. Contoh lain, lulus ujian akhir dengan predikat yang memuaskan bagi pelajar atau mahasiswa. Ajaran agamanya, syukur: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS 14:7).
  • X(1,0): memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, sakit yang berkepanjangan atau kena stroke. Contoh lain, usaha bangkrut sehingga rencana kuliah anak urung. Ajaran agamanya, sabar: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas “(QS 39:10; juga 2:155).
  • X(0,1): tidak memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, belum memperoleh kelebihan rezeki sehingga niatan mengajak istri umrah belum kesampaian. Ajaran agamanya, qanaah: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki”(QS 13:26).
  • X(0,0): tidak memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, urung di PHK padahal perusahaan tempat kerja sedang dililit hutang: Ajaran agamanya, syukur.

Berikut adalah matriks dengan isi semacam itu:

Kesesuaian dengan keinginan
Ya Tidak
Karunia-Nya  

Diberikan

Syukur

Contoh: Memperoleh rezeki “nomplok”

Sabar

Contoh: Kena stroke

Tidak diberikan

Qanaah

Contoh: Belum mampu mengajak istri umrah

Syukur

Contoh: Tidak jadi di PHK

Kesimpulannya, jiwa tenang terkait dengan beberapa kebajikan spiritual yang lain antara lain syukur, sabar dan qanaah: jiwa tenang dapat direalisasikan jika hati dipenuhi rasa syukur ketika menerima karunia-Nya, sabar ketika memperoleh cobaan hidup, serta qanaah, menerima dengan rasa syukur “jatah” rezekinya sekecil sekalipun. Semua kebajikan spiritual hanya mungkin lahir dari keyakinan mantap terhadap kebenaran ayat ini:

Apa saja di antara rahmat Allah kepada manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup melepaskan setelah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (QS 35:2)

Wallahualam….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Hamba ar-Rahman dan Kesalahen Sosial

Pasrah, Yakin dan Serius

Pasrah, yakin dan serius. Trilogi ini merupakan tuntutan normatif semua agama. Dalam istilah Islam, trilogi ini adalah Islam, Iman dan Ihsan. Unsur terakhir ini konotasinya adalah keseriusan dalam dua unsur pertama. Semua unsur ini terdapat dalam ajaran semua agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) walaupun terdapat perbedaan penekanan. Dalam konteks ini Islam menghendaki  keseimbangan ketiga unsur itu[1]. Mengenai hubungan tiga unsur trilogi ini layak direnungi penegasan Schuon (2005:70)[2] :

There is no iman (unitary faith) without islam (submission to the Law), and there is neither one nor the other without ihsan (spiritual virtue), that is without profound understanding or realization; whereas accepting the One has already given himself (aslama) to Him…

Gelar Ganda

Pada tataran normatif, masing-masing unsur dari trilogi itu itu saling mencakup sehingga seorang individu yang (ber)Islam atau Muslim, juga (ber)Iman atau Mukmin, sekaligus (ber)Ihsan atau Muhsin. Mukminun (kata benda, jamak) yang berasal dari kata Mukmin dalam  Al-Quran merujuk pada kolektif dari individu yang dimaksud (Umat). Istilah ini artinya benar-benar beriman[3] sehingga bersifat inklusif dalam arti menyandang unsur keislaman dan keihsanan. Singkatnya, mukminun (mukminin), muslimun (muslimin) dan muhsinun (muhsinin) adalah gelar-ganda yang disandang oleh Umat.

Ada lagi satu gelar bagi Umat yang disebutkan dalam Al-Quran tetapi agaknya kurang populer yaitu ‘ibadul ar-Rahman atau, untuk mudahnya, hamba-hamba ar-Rahman. Istilah ini menarik karena, misalnya, kenapa tidak disebutkan hamba-hamba Allah. Analog dengan ini, ketika Siti Maryam RA didatangi “seorang pria” di kamar pribadinya beliau “berlindung kepada ar-Rahman”, bukan “berlindung kepada Allah”.

Ar-Rahman adalah salah satu nama-Nya yang sangat kaya makna sehingga di sini tidak diterjemahkan[4]. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan hamba-hamba ar-Rahman?

Ragam Karakter

Istilah hamba ar-Rahman dapat ditemukan dalam QS (25:63-68). Ayat-ayat ini memberikan banyak ciri atau kualifikasi dari hamba ini antara lain rajin salat malam (63), sangat mengkhawatirkan siksa neraka (65-6), dan hemat tetapi tidak kikir (67).

Terkait dengan banyaknya kualifikasi ini menarik untuk dikemukakan komentar Nouman Ali Khan, seorang pakar Bahasa Arab dan juru dakwah Muslim Amerika Serikat yang menurut catatan Wikipedia termasuk dalam 500 orang Muslim yang paling berpengaruh di dunia. Bagi Khan, banyaknya kualifikasi itu menunjukkan ragam karakter dari individu Umat sehingga seorang hamba ar-Rahman tidak harus memenuhi semuanya. Baginya, sudah bagus kalau satu atau beberapa dari ciri itu sudah disandang. Argumennya, dalam dunia nyata sangat sulit seseorang menyandang semua ciri-ciri itu.

Pandangan Khan layak dipertimbangkan karena dia terkenal keahliannya dalam memahami struktur ayat suatu Surat dalam Al-Quran: dia meyakini dan sering memberikan ilustrasi mengenai kuat dan indahnya struktur ayat Al-Quran, sama-sekali tidak acak sebagaimana pandangan kebanyakan. Jika kita tidak mampu melihat kekuatan dan keindahan struktur itu maka itu semata-mata menunjukkan ketidakmampuan kita.

Untuk memahami jalan pikiran Khan, lirik lirik lagu “tombo ati” dapat digunakan sebagai ilustrasi. Lagu ini mendaftar lima keutamaan agar hidup kita mencukupi: (1) baca Quran dan maknanya, (2) salat malam, (3) berkumpul bersama orang saleh, (4) rajin puasa, dan (5) zikir tengah malam. Berapa banyak yang bisa melakoni itu semua? Jawaban yang patut diduga: langka. Itulah sebabnya, satu saja cukup sebagaimana terungkap dalam lirik lagu itu: “salah saawijine sopo bisa ngelakoni mugi-mugi gusti Allah nyembadani“.

Rendah Hati lagi Santun

Kembali ke topik hamba ar-Rahman (ibad ar-rahman).

Sebagaimana disinggung sebelumnya, hamba berkualifikasi “khusus” ini memiliki banyak ciri. Tetapi ada satu ciri istimewa karena disebutkan pertama dan penyebutannya melekat atau satu ayat dengan kata “ibad ar-Rahman”. Ciri itu adalah rendah hati (teks: hauna) dan bicara santun bahkan terhadap orang-orang bodoh yang menghina sekali pun (teks: jahilun). Ini ayatnya:

“Dan adapun hamba-hamba ar-Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila menyapa orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”.

Jadi, mengikuti pola pikir Khan, sekalipun Anda tergolong kurang rajin puasa sunat Senin-Kamis, bangun malam, baca Al-Quran, atau mengikuti pengajian, agaknya sudah berhak bergelar hamba ar-Rahman sejauh memiliki dua ciri ini: rendah hati dan berakhlak (berperilaku spontan) santun ketika berkomunikasi dengan sesama. Dua ciri yang satu nafas ini (dalam satu ayat) terkesan digarisbawahi Al-Quran ketika menjelaskan hamba ar-Rahman, serta mencerminkan akhlak yang dapat menyuburkan kesalehan sosial yang sayangnya masih kurang disemangati oleh Umat.

Wallahualam…@

[1] Mengenai perbedaan penekanan ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/.

[2] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, World Wisdom.

[3] Kualifikasi “benar-benar” perlu untuk membedakan dengan amanu (kata kerja) yang artinya juga “orang-orang beriman”.

[4] Kata ar-Rahman tidak diterjemahkan karena kedalaman maknanya. Mengenai hal ini lihat INI.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Menianjau-Ulang Makna Ar-Rahman

Maha Pemurah

Kata Ar-Rahman (Arab) umumnya diterjemahkan “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”. Dalam basmalah (QS 1:1) kata ini disandingkan dengan kata Ar-Rahman yang pada umumnya diterjemahkan oleh ahli tafsir “Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan bahwa dua kata ini merujuk secara eksklusif kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini menarik dicermati posisi Shihab. Dalam Tafsirnya Al-Mishbah, Shihab (2006:22) tidak menerjemahkan dua kata ini mungkin karena menganggap tidak ada padanan bahasa Indonesia yang memadai. Beliau menganggap dua kata ini memiliki rumpun kata yang sama (terkait dengan rahmat) walaupun beda timbangan (Arab: wazan): jika Rahman berwazan fa’lan, Rahim fa’il (halaman 34). Mengenai hubungan antar keduanya beliau mengungkapkan:

Dengan kata ar-Rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedangkan dengan ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya (halaman 22).

Terjemahan “Maha Penyayang” untuk Al-Rahim umumnya dinilai tepat; tetapi terjemahan “Maha Pemurah” untuk Ar-Rahim, sekalipun ini merupakan mayoritas, bermasalah. Tulisan ini membahas secara singkat letak masalahnya.

Konteks Penggunaan

Menurut Sister WH dalam Discover True Islam, permasalahan terletak pada pengabaian konteks bagaimana kata Ar-Rahman secara aktual digunakan dalam Al-Quran. Berikut adalah sebagian argumennya:

Dan siapa yang lebih memenuhi syarat untuk menafsirkan nama Al-Rahman daripada Al-Rahman sendiri? (Maksudnya, Allah SWT.) Penggunaan kata, bukan etimologi dan tentu saja bukan kamus, selalu merupakan faktor penentu dalam memaknai suatu kata, dan ini tanpa kecuali. Bagaimana nama digunakan dalam Al-Quran harus menjadi faktor penentu bagi kita untuk memutuskan apa arti nama itu… hal ini terlebih berlaku bagi nama yang disebutkan demikian sering dan dianggap demikian penting dan menonjol seperti nama Ar-Rahman.

Untuk mendukung argumennya dia mengajukan tiga kasus berikut.

1. Kasus Maryam RA

Dalam QS (19:17,18) dikisahkan Maryam RA, ketika didatangi seorang pria (Jibril AS) yang memasuki kamar pribadinya, meminta perlindungan kepada Al-Rahman:

… lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Ar-Rahman, jika engkau orang yang bertakwa”.

Dengan menyebut Al-Rahman, dia tentu meminta perlindungan dari yang “Mahakuasa”, bukan meminta belas kasihan dari yang “Maha Pemurah”. Yang terakhir ini tentu tidak akan menanamkan rasa takut kepada “penyusup” sehingga penggunaannya dalam konteks ini jelas tidak tepat.

2. Kasus Ibrahim AS

QS (19:45) dikisahkan Ibrahim AS berkata kepada ayahnya yang kafir dan penyembah berhala: “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab Ar-Rahman, sehingga engkau menjadi teman bagi setan…”

Menimpakan azab jelas bukan tindakan yang Maha Pemurah (the Merciful) tetapi yang Mahakuasa (the Almighty). Dalam konteks ini Sister WH mengemukakan:

Is this the act of The Merciful, or The Beneficent, or The Most Gracious, to wrathfully leave Satan as the guide of someone? Does this act express His mercy and beneficence? Or is this the act of The Almighty, the Ultimate Authority, the All-Powerful Avenger?

3. Kasus “Anak Tuhan”

Kata Ar-Rahman juga digunakan dalam kasus penghujatan Al-Quran terhadap klaim bahwa Dia SWT memiliki anak (QS 19:88-93):

Dan mereka berkata, Ar-Rahman mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja angit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Karena menganggap Ar-Rahman mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Ar-Rahman mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan dibumi melainkan akan datang kepada Ar-rahman sebagai seorang hamba.

Mengomentari ayat-ayat ini Sister WH menyatakan:

They vividly describe how this blasphemy invokes His wrath. Is this the description of “The Beneficent” or “Most Gracious”? Do these ayat describe a benevolent benefactor (as in “beneficent”) or a generous host (as in “gracious”), “graciously” accommodating His “guests” or the recipients of His largesse, or a kind-hearted ruler forgiving His subjects, or do they describe NONE but THE ALMIGHTY???

(Catatan: huruf kapital dan tanda tanya berasal dari penulis yang bersangkutan.)

Dari tiga kasus di atas jelas bahwa Ar-Rahman tidak tepat jika diterjemahkan sebagai “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”; terjemahan yang tepat adalah Mahakuasa (the Almighty). Jika ini kasusnya maka kata Ar-Rahman tidak serumpun dengan kata Ar-Rahim. Hal ini sejalan dengan QS (25:60) yang mengesankan bahwa Ar-Rahman tidak dikenali oleh penurut Bahasa Arab di era Nabi SAW.

Jika tiga kasus di atas belum meyakinkan, silakan cermati QS (Surat: Ayat) berikut:

1:1, 1:3, 2:163, 13:30, 17:110, 19:18, 19:26, 19:44, 19:45, 19:58, 19:61, 19:69, 19:75, 19:78, 19:85, 19:87, 19:88, 19:91, 19:92, 19:93, 19:96, 20:5, 20:90, 20:108, 20:109, 21:26, 21:36, 21:42, 21:112, 25:26, 25:59, 25:60, 25:60, 25:63, 25:63, 26:5, 27:30, 36:11, 36:15, 36:23, 36:52, 41:2, 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, 43:81, 50:33, 55:1, 59:22, 67:3, 67:19, 67:20, 67:29, 78:37, dan 78:38.

Semua ayat itu mendukung argumen bahwa terjemahan tepat untuk Ar-Rahman adalah yang Mahakuasa (the Almighty).

 

Sumber Gambar: Pinterest

Kesimpulan dan Implikasi

Mahakuasa dan Maha Penyayang. Dua kata ini menunjukkan dua sifat yang berlawanan (saling melengkapi): kekuatan absolut dan belas kasih absolut. Kekuatan pasangan inilah yang “mengendalikan” Alam semesta: Alhamdulillahi rabbil alamin,  Ar-rahman ar-Rahim (QS 1:2-3) [*]. Dalam Al-Quran, Ar-Rahim tercantum dua kali lebih banyak dari pada Ar-Rahman; 114:57. Fakta ini mungkin mengisyaratkan bahwa “satu unit” kekuasaan harus diimbangi oleh “dua unit” kasih sayang.

Memahami hubungan Ar-Rahman dan Ar-Rahim (dalam arti “Maha Kuasa” dan “Maha Penyayang”) penting untuk memahami-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengurus alam raya yang luar biasa dinamis dan kuat, yang secara langsung dan terus menerus berinteraksi dengan segala, secara aktif menciptakan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Untuk jelasnya, silakan renungkan kutipan ini:

Just entering into this understanding, we can clearly see that Allah is not a static provider of mercies and benevolence, as many perhaps unconsciously picture Him, but rather an unfathomably dynamic and powerful Creator and Sustainer and Caretaker of, directly interacting with, all that exists – continuously, actively creating in the past, present and future, not One who created everything only in the past and now leaves everything to just continue along a path pre-set by Him, as some picture it.

Wallahualam…@

[*] Masing-masing unsur dari pasangan ini, seandainya analogi diizinkan, mungkin analog dengan unsur Yang dan Yin dalam filosofi Budha Tibet.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com