Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Cahaya Bisa Dihitung Pakai Rumus, Tapi Hati Nggak Bisa
Postingan kemarin kita ngomongin satu cahaya. Sekarang saya pakai kacamata kiai yang dulu kuliah Fisika — meskipun cuma lulusan pondok. Halah. 😅
Ilmuwan bilang, cahaya itu gelombang elektromagnetik. Kecepatannya 300 ribu km/detik. Bisa dihitung pakai rumus Maxwell. Tapi… apakah dengan menghitung kita jadi mengerti kenapa cahaya lilin di makam orang tua bikin nangis? Ora.
Sains itu lensa yang jernih, tapi dingin. Contoh: orang marah bisa dijelaskan dengan hormon adrenalin. Tapi penjelasan itu gak bikin kita nggak marah. Malah bisa bikin makin gregetan: “Lho kok saya yang disuruh redam adrenalin?”
Tapi jangan salah. Sains itu penting. Saya NU, tapi saya nggak anti sains. Wong Gus Dur dulu seneng ngomong: “Ilmu itu penting, tapi aja nggawe ati dadi atos (jangan bikin hati keras).”
Maka, pakai sains itu ok, tapi jangan lupa cahaya hati. Seperti kata Mbah Hasyim Asy’ari: الْعِلْمُ بِلاَ دِينٍ جَسَدٌ بِلاَ رُوحٍ Al-‘ilmu bilaa diin, jasad bilaa ruuh — Ilmu tanpa agama, jasad tanpa ruh.
Jadi, sudahkah kalian memakai kacamata sains untuk hal yang baik? Misalnya: hitung-hitung zakat pakai rumus, atau bikin pupuk kandang pakai metode biologi. Ora usah muluk-muluk.
Intellectual Profile/
Uzair Suhaii is a thinker dedicated to bridging rigorous analytical frameworks with the depths of Islamic spirituality./ His unique perspective is forged at the intersection of a three-decade career as a government statistician and a lifelong immersion in perennial philosophy and Islamic esoteric sciences (tasawwuf)/. This synergy allows him to explore spiritual themes with a rare combination of structural clarity and profound reflective insight./
Professional & Analytical Foundation: /•Central Statistics Agency (BPS), Indonesia: Served for over thirty years as a Statistician, with extensive training in discerning patterns, analyzing complex structures, and deriving meaning from multidimensional data. /•International Labour Organization (ILO), Asia-Pacific Region: Applied this expertise as a Senior Statistician, working on regional labor market analysis./Literary Work & Authorial Focus:/He channels his analytical precision into exploring the intellectual and spiritual treasures of Islam./ His published works in English demonstrate a consistent methodology: deconstructing core Islamic concepts to reconstruct their relevance for the modern seeker./Selected Publications:/•Triad of Spiritual / Excellence: Al-Fatihah, Taqwa and Ihsan (2025)/ Ihsan: The Way of Beauty and Excellence in Islam (2024)/•Taqwa: The Master Key to Spiritual Excellence (2024)/ •Linguistic Miracle of Al-Fatihah (2024)/ All titles are available globally via Amazon KDP.
View all posts by Uzair Suhaimi
Published
One thought on “Cahaya Bisa Dihitung Pakai Rumus, Tapi Hati Nggak Bisa”
Tulisan ini ngingetin bahwa sepintar apa pun otak menghitung cahaya, tetap hati yang bikin manusia benar-benar merasa hidup.
Tulisan ini ngingetin bahwa sepintar apa pun otak menghitung cahaya, tetap hati yang bikin manusia benar-benar merasa hidup.