Cahaya Bisa Dihitung Pakai Rumus, Tapi Hati Nggak Bisa

Assalamu’alaikum.

Postingan kemarin kita ngomongin satu cahaya. Sekarang saya pakai kacamata kiai yang dulu kuliah Fisika — meskipun cuma lulusan pondok. Halah. 😅

Ilmuwan bilang, cahaya itu gelombang elektromagnetik. Kecepatannya 300 ribu km/detik. Bisa dihitung pakai rumus Maxwell. Tapi… apakah dengan menghitung kita jadi mengerti kenapa cahaya lilin di makam orang tua bikin nangis? Ora.

Sains itu lensa yang jernih, tapi dingin. Contoh: orang marah bisa dijelaskan dengan hormon adrenalin. Tapi penjelasan itu gak bikin kita nggak marah. Malah bisa bikin makin gregetan: “Lho kok saya yang disuruh redam adrenalin?”

Tapi jangan salah. Sains itu penting. Saya NU, tapi saya nggak anti sains. Wong Gus Dur dulu seneng ngomong:
“Ilmu itu penting, tapi aja nggawe ati dadi atos (jangan bikin hati keras).”

Maka, pakai sains itu ok, tapi jangan lupa cahaya hati. Seperti kata Mbah Hasyim Asy’ari:
الْعِلْمُ بِلاَ دِينٍ جَسَدٌ بِلاَ رُوحٍ
Al-‘ilmu bilaa diin, jasad bilaa ruuh — Ilmu tanpa agama, jasad tanpa ruh.

Jadi, sudahkah kalian memakai kacamata sains untuk hal yang baik? Misalnya: hitung-hitung zakat pakai rumus, atau bikin pupuk kandang pakai metode biologi. Ora usah muluk-muluk.

Wassalam.


Bermula


Bronze sculpture combining scientific and religious symbols entwined in a tree form
A bronze sculpture merging religious and scientific symbols intertwined as a tree of knowledge

One thought on “Cahaya Bisa Dihitung Pakai Rumus, Tapi Hati Nggak Bisa

  1. Tulisan ini ngingetin bahwa sepintar apa pun otak menghitung cahaya, tetap hati yang bikin manusia benar-benar merasa hidup.

Leave a Reply