Normandia 75 Tahun Lalu: Suatu Refleksi

75 tahun lalu Negara Indonesia masih dalam rahim ibu, Bangsa Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia sudah eksis yang keberadaannya ditegaskan melalui Sumpah Pemuda 1928. Jadi faktanya, Indonesia adalah Negara-Bangsa: ada bangsa dulu, baru dibentuk negara. Tidak banyak negara-bangsa dalam pengertian ini, negara yang menurut bangsa ini eksis karena ‘Rahmat Tuhan…”.

75 tahun lalu, tepatnya 6 Juni 1944, terjadi peristiwa yang menentukan sejarah dan peta politik dunia masa kini. Peristiwa itu adalah pendaratan laut pasukan Kekuatan Sekutu di Normandia (Normandy) [1] untuk membebaskan Prancis dari pendudukan Nazi Jerman yang mengomandoi Kekuatan Poros. Peristiwa ini pada waktunya diikuti oleh pembebasan keseluruhan Eropa, mengakhiri Perang Dunia II, dan pembebasan negara-negara jajahan .

Pendaratan laut yang bersejarah itu adalah terbesar dalam sejarah manusia. Ia melibatkan hampir 5,000 kapal pendarat dan penyerang, 280 kapal pengawal, 277 kapal penyapu ranjau. Tentara yang mendarat: 160,000 pada hari pertama dan 875,000 pada akhir Juni. Korban: 1,000 pihak Poros dan paling tidak 10,000 pihak Sekutu.

Sumber: INI

Yang penting bagi kita adalah menarik pelajaran dari peristiwa terkait-sejarah itu. Pelajaran itu antara lain:

  • Kita hidup dalam dunia-bawah-sini yang tidak akan pernah sempurna. Perang Dunia– seperti halnya Perang Salib yang terjadi sekitar satu milenium sebelumnya– menunjukkan bahwa ras manusia bisa dapat sangat konyol.
  • Kita memiliki kapasitas untuk menjadi sangat biadab. Ini ditunjukkan antara lain oleh  Tragedi Holocaust 1941-1945 menelan kobran sekitar 6 juta penduduk Yahudi atau 2/3 total populasi mereka di Eropa.
  • Kita memiliki heroisme luar biasa serta kapasitas untuk berkorban untuk sesuatu nilai yang diyakini, antara lain nilai kemerdekaan. Ini ditunjukkan oleh jutaan martir dalam Perang Salib, Perang Dunia dan Perang Kemerdekaan.

Memori kolektif Anak Adam dalam dua milenium terakhir dipenuhi– sadar atau di-bawah-sadar– oleh kenangan dan persepsi mengenai tiga peristiwa itu: Perang Salib, Perang Dunia, dan Holocaust. Kenangan ini mengajarkan bahwa kita suka menumpahkan darah (seperti ramalan Malaikat), ingin menang sendiri, berbakat sangat-konyol dan sangat-biadab. Itulah pelajarannya.

Apakah ancaman itu sudah berakhir? Jawabannya meragukan. Kenapa? Karena seperti seorang bijak (Schuon, 2006:3, Gnosis, Divine Wisdom) ungkapkan, Zaman Now adalah zaman ketika:

(1) Religions are separated from each other by barriers of mutual incomprehension…, and

(2)… the interpenetration of civilization gives rise to many problems– not new, it is true, but singularly: “timely” and “urgent”–  

Sumber Gambar: Google

Terapinya? Salah satunya mungkin tarbiyyah tazkiyatun nafs seperti shaum itu lho!. Wallahualam.

[1] Normandia adalah bagian ujang-barat-utara wilayah Prancis dengan luas sekitar 12,000 km2 dan populasi sekitar 5% dari total populasi negara itu.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Lebaran: Estimasi Populasi yang Merayakan

Sumber Gambar: Google

Umat Muslim tengah menyongsong lebaran, suatu momen yang layak mereka rayakan setelah menuntaskan puasa selama sebulan penuh. Pertanyaannya: (1) Apakah Umat Non-Muslim berhak merayakan? (2) Apakah “bayi” termasuk yang merayakan? dan (3) Apakah definisi merayakan? Tanpa definisi mustahil menghitung populasi. Tetapi memperkirakannya, atau menggunakan proksi indikator, adalah mungkin. Dengan asumsi tentunya. Tulisan ini mengasumsikan L=M di mana

L: perkiraan populasi yang merayakan lebaran, dan

M: perkiraan populasi Muslim

Asumsi ini akan menghasilkan perkiraan yang underestimate jika jawaban terhadap pertanyaan (1) positif; artinya, Non-Muslim berhak merayakan lebaran. Tetapi hal ini akan di-compensate jika jawaban terhadap pertanyaan (2) negatif; artinya, bayi dikeluarkan dalam perhitungan. Jadi, asumsinya agaknya lumayan masuk akal.

Dengan asumsi ini maka L atau perkiraan total populasi yang merayakan secara global sekitar 1.8 milyar jiwa (Untuk sumber lihat INI). Di mana saja mereka tinggal? Tersebar di lima benua tetapi sekitar 1.4 milyar atau 77% dari mereka tinggal di 15 “negara” Muslim:  Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair, Sudan Irak, Maroko, Ethiopia, Afganistan dan Arab Saudi. Dalam konteks ini ada empat catatan yang layak dikemukakan:

    1. Daftar ini diurutkan dari terbesar dan menujukan Indonesia “merajai” angkanya sementara Arab Saudi paling kecil.
    2. India termasuk dalam daftar karena definisi “negara” Muslim dalam tulisan ini adalah besar populasi Muslim.
    3. Sekalipun secara proporsional Muslim di India hanya mencakup 14.2% dari total penduduknya, jumlahnya pada 2019 diperkirakan mencapai 1889 juta.
    4. Dengan populasi sekitar 1.33 milyar dan pola pertumbuhan penduduknya maka India diperkirakan akan menggeser posisi Indonesia pada tahun 2050. Selamat India!

Tabel 1 merinci total penduduk dan populasi muslim di 15 negara yang dimaksud.

Sumber: INI.

Catatan: (*)  Estimasi penduduk Muslim dilaporkan dalam bentuk interval dan yang dsajikan dalam tabel ini merupakan nilai tengahnya.