Sepuluh-Perintah-Tuhan dalam Al-Quran

Bagi Muslim Al-Quran menyajikan panduan lengkap apa yang harus dikerjakan (DOs) dan apa yang terlarang (DONTs). Dari sumber ini mereka dapat menyusun semacam daftar DOs dan DONTs. Dalam konteks ini QS(17:22-36) menarik untuk disimak karena mengisyaratkan sejumlah DOs yang utama dan di sisi lain sekitar 10-DONTs yang sangat “dibenci” Rabb SWT. QS(17:36) menggunakan istilah DONTs ini sebagai kejahatan yang “kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu”[11. Melakukan kejahatan dalam kategori ini tentu merupakan dosa besar. Oleh karena itu dalam tulisan ini istilah 10 DONTs diganti dengan istilah 10-Dosa-Besar, sekadar untuk memudahkan ingatan. Yang menarik untuk dicatat, dalam tradisi dua agama samawi lain yaitu Yahudi dan Kristen dikenal apa yang disebut 10-Perintah-Tuhan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan kesamaan dan perbedaan substansi ajaran dua “10” ini: 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar.

Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan

Substansi 10-Perintah-Tuhan patut diduga diakrabi oleh Umat Yahudi dan Kristen karena tercantum dalam Kitab Keluaran (Exodus ) dan Kitab Ulangan (Deuteronomy). Kedua Umat Agama Samawi ini juga patut diduga mengenali berbagai tradisi keagamaan mereka termasuk Talmud (Jewish Talmud, T), Kristen Reformasi (Reformed Christian, R), Septuagint (LXX). Philo (P), Lutheran (L), Samaritan (Samaritan Pentateuch, S), Augustine (A), dan Gereja Katolik (Catechism of the Catholic Church), C).

Sekalipun ada perbedaan narasi, substansi 10-Perintah-Tuhan dalam semua tradisi itu konsisten satu sama lain. Ada sedikit perbedaan mengenai penomoran. Angka 10 agaknya lebih merupakan alat bantu mengingat ketimbang masalah teologis[2].

Tabel 1: Daftar 10 Perintah-Tuhan[3] menurut Kitab Keluaran dan Kitab Ulangan (Sumber: Wikipedia)

Lima catatan mengenai Tabel 1 perlu disisipkan di sini:

  1. Nomor pertama jelas menunjukkan Subjek pemberi perintah, bukan jenis perintah.
  2. No. terakhir tidak tercantum dalam semua tradisi kecuali Gereja Katolik (C) yang agaknya baru diintroduksi oleh Pop John Paul 2 pada 1992.
  3. Dalam 3 tradisi (S,L,A,C), No. 2-3 dianggap sebagai satu perintah.
  4. Hampir semua perintah dalam kolom (2) bersifat larangan.
  5.  Redaksi ayat QS( 24:27) mengenai No. 11 berbicara umum mengenai larangan memasuki rumah orang lain sebelum memperoleh izin dan mengucapkan salam. Secara makna ini mungkin juga termasuk No. 12-13 dalam tabel tetapi secara harfiah tidak eksplisit.

Tabel 1 menunjukkan hampir semua dari 10-Perintah-Tuhan (Kolom 2) ada padanannya dalam Al-Quran (Kolom 3). Tiga perintah pertama (No 2-4) tidak lain dari pada ajaran Keesaan Tuhan atau ajaran Tauhid dalam terminologi Islam. Selain ajaran tauhid, Kolom 3 menunjukkan ada enam perintah lainnya yang ada padananya dalam Al-Quran. Fakta ini– kesamaan ajaran Tauhid dan enam ajaran lainya– selayaknya menjadi pijakan bersama, common denominator, atau kalimatun sawa (dalam istilah Al-Quran) bagi Umat agama-agama samawi yaitu Umat Yahudi, Umat Kristen, dan Umat Islam. Gelar Al-Quran untuk dua Umat yang pertama adalah ahli kitab, suatu gelar terhormat.

… kesamaan ajaran Tauhid dan enam ajaran lainnya sudah selayaknya menjadi pijakan bersama Umat agama-agama samawi …

Versi Al-Quran

Kolom (3) Tabel 1 menyajikan ayat Al-Quran yang relevan dengan kolom sebelumnya. Narasi ayat pada Kolom (3) sangat eksplisit dan kuat dari sisi kebahasaan. Berikut adalah beberapa ilustrasinya.

Terkait No. 1-3 (Keesaan Tuhan), redaksi Al-Quran mengacu pada cuplikan dialog antara Musa AS (leluhur Umat Yahudi) dengan Allah SWT: “Sungguh, Aku in Allah, tidak adalah tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku”. Redaksi ini jelas berbentuk dialog: pihak pertama (Arab: mutkallim) adalah Allah SWT, pihak kedua atau orang yang diajak bicara (Arab: mukhatabah) adalah Musa AS. Karena posisi mukhatabah ini maka Musa AS bergelar Kalimullah.

Terkait No. 6, perintah “menghormati orang tua”, narasi Al-Quran terkesan “senapas” dengan larangan menyekutukan-Nya karena keduanya tercantum dalam ayat yang sama (ayat ke-23). Mengenai perintah menghormati orang tua Al-Quran malah menambahkan satu ayat dengan bahasa yang sangat tegas tetapi juga elegan (ayat ke-24):

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan mengatakan kepada kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ungkapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (ayat ke-23).

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil” (ayat ke-24).”

Mengenai larangan mencuri (No. 9) narasi Al-Quran sangat spesifik dan relevan bahkan dalam konteks dunia masa kini: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan dengan timbangan yang benar. Itulah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS 17:33).

Irisan

Pada Tabel 1 tampak beberapa perintah bertanda (*) karena tidak tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran. Di sisi lain, menggunakan rumpun ayat yang sama dalam Surat Al-Isra, ada empat larangan yang tidak tercantum dalam 10-Perintah-Tuhan. Ke empat larangan itu adalah (1) tindakan mubazir (ayat 36), (2) berperilaku pelit dan murah-hati berlebihan (ayat 29), (3) bertindak bodoh (tanpa ilmu) karena pendengaran, penglihatan dan gerak-hati, semuanya akan dimintakan pertanggungjawaban (ayat 36) dan (4) bersikap sombong (ayat 37). Mengenai yang terakhir berikut terjemahannya:

Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.

Singkatnya, dalam perspektif Al-Quran, kikir, boros, mubazir, bodoh dan sombong, bukan hanya buruk secara moral, tetapi merupakan bagian dari dosa besar dalam arti “sangat dibenci di sisi Tuhanmu” (teks: kana sayyiuhu ‘inda rabbika makruha).

… dalam perspektif Al-Quran, kikir, boros, mubazir, bodoh dan sombong, bukan hanya buruk secara moral, tetapi merupakan bagian dari dosa besar….

Berdasarkan diskusi di atas, dapat dikatakan bahwa 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar tidak persis identik. Artinya; ada bagian yang sama antara keduanya, ada bagian yang berbeda. Jika A = {10-Perintah-Tuhan} dan B= {10-Dosa-Besar} maka irisan antara A dan B menggambarkan kesamaan dua himpunan ini (lihat Gambar 1).

*****

Terhadap pertanyaan yang mungkin timbul kenapa 10-Perintah-Tuhan dan 10-Dosa-Besar diperbandingkan, jawabannya adalah semangat ayat dalam QS (3:64):

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada suatu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan bahwa kita tidak tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, katakanlah kepada (mereka), ” Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim” (QS 3:64).

Wallahualam….. @

[1] Catatan kaki ayat ini dalam Al-Quran: Disertai Terjemahan dan Transliterasi, Mizan (2008) mendaftar 10 kejahatan yang dimaksud untuk merujuk kejahatan-kejahatan yang dirujuk oleh ayat-ayat sebelumnya sampai ayat ke-22.

[2] “Some suggest that the number ten is a choice to aid memorization rather than a matter of theology” (Wikipedia). Analog dengan 10-Dosa-Besar.

[3] Sengaja tidak diterjemahkan untuk menghindari salah-terjemah.

Renungan Puasa (5): Idul Fitri

Hari ini (23/5/20) adalah hari terakhir Umat Islam Sejagat melaksanakan Ibadah Puasa, besok Hari Lebaran, Lebaran Idul Fitri. Ada kedalaman dalam istilah Idul Fitri dan tulisan ini mencoba mengulas secara sekilas.

Memaknai Ulang Kata Fitrah

Secara kebahasaan, istilah Idul Fitri berarti “kembali ke fitrah”. Kata fitrah kira-kira setara dengan kata suci, asli, murni, atau otentik. Dengan demikian, istilah Idul Fitri dapat diartikan sebagai kembali menjalani kehidupan otentik tanpa dibuat-buat. Artinya, selama ini kita menjalani kehidupan yang tidak otentik. Demikianlah karena kita hidup sebagai person.

Dalam peradaban Romawi Kuno kata person persona (Latin) or prosopon (πρόσωπον; Greek)” digunakan untuk merujuk pada kata topeng, topeng yang digunakan aktor ketika bermain di atas panggung sandiwara. Topeng yang berbeda mewakili “personae” yang berbeda. Jika topeng itu dilepas maka tidak relevan lagi istilah penguasa-rakyat atau tuan-budak. Maksudnya, sekalipun diperlukan, pasangan-kontras itu perlu dimaknai sebagai perbedaan peran yang bersifat situasional tetapi tetap dalam hubungan horizontal antar sesama. Pemaknaan ini sejalan dengan semangat kesetaraan harkat manusiawi, semangat kerja-sama tanpa paksa atau eksploitasi.

Bacaan sejumlah ayat Al-Quran mengindikasikan bahwa istilah Idul Fitri dalam pengertian di atas mengisyaratkan beberapa fundamenta ajaran Islam: (a) manusia pada dasarnya suci, (b) Puasa atau ibadah lain memungkinkan penyucian dilakukan sendiri, dan (3) terkait dengan butir b, pertanggungjawaban keagamaan bersifat individual (lihat, misalnya, QS 19:95).

Takbir dan Sejarah Luar Biasa

Yang khas dalam Idul Fitri adalah kumandang takbir: Allahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar. Para Ulama sepakat menambah dzikir dalam takbir adalah suatu kebaikan. Atas dasar ini Imam Syafii menggunakan lafal takbir sebagai berikut:

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن، لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر

Allâhu akbar kabîran wal hamdu lillâhi katsîra wa subhânallâhi bukratan wa ashîla, lâ ilâha illallâhu wa lâ na’budu illâ iyyâh, mukhlishîna lahuddîna wa law karihal kâfirun, lâ ilâha illallâhu wahdahu shadaqa wa’dahu wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzâba wahdahu, lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar”

“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan(yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke-Esa-an-Nya, Dia Dzat yang menepati janji, Dzat yang menolong hambaNya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan ke Esa anNya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar.”

Menurut catatan sejarah, lafal yang di garis-bawahi dikumandangkan oleh pasukan Nabi SAW menaklukkan Mekah dari genggaman pasukan Musyrikin-Mekah tanpa pertumbuhan darah. Ini sejarah, sejarah yang dapat dikatakan luar biasa mengingat dua hal: (1) pengalaman pihak penakluk mengenai kekejaman luar biasa pasukan Kaum Musyrikin dalam peperangan sebelumnya, dan (2) tradisi “balas-dendam” merupakan norma umum pada era sekitar abad ke-7M, apalagi bagi masyarakat jahiliyah Arab.

Penaklukan Mekah dan Revolusi Perancis

Sejarah penaklukan Mekah dan Revolusi Prancis adalah sejarah kemenangan. Yang terakhir ini bahkan diklaim secara luas sebagai simbol kemenangan kemanusian era modern. Yang jarang disadari adalah perbedaan mencolok antara keduanya. Jika penaklukan Mekah tanpa pertumbuhan darah, maka revolusi Perancis bersimpuh darah dalam arti harfiah. Terkait yang terakhir ini, dua fakta sejarah berikut layak disimak

  • Revolusi Prancis diikuti oleh kekacauan sosial yang menimbulkan apa yang dikenal sebagai Great Fear (la Grande peur). Majelis Konstituen Nasional di Prancis, pada 4/8/1789, menandatangani penghapusan orde kerajaan yang oleh sejarawan George Lefebvre sebagai “sertifikat kematian orde lama” (death certificate of the old order)”
  • Revolusi Prancis diikuti gerakan radikal yang tidak masuk akal: (a) menyatakan perang terhadap Austria dan Prusia yang dipercayai, (b) para ekstrimis yang dipimpin Jacobins menyerang istana, menahan raja (10/8/1792), menuduhnya penghianat negara (21/1/1793), serta mengeksekusi permaisuri Marie-Antionetter ke tiang guletin , dan (3) Revolusi Perancis berakhir dengan munculnya rezim Napoleon yang membawa jenis kekacauan baru bagi masyarakat Eropa.

Mengenai Great Fear, History mengemukakan ini: “Did you know? Over 17,000 people were officially tried and executed during the Reig of Terror, and unknown number of others dies in prison or without trial”.

*****

Demikian makna Idul Fitri secara kebahasaan dan kesejarahan. Pelajarannya, pelaku Puasa– yang telah meraih prestasi dengan melakukan pekerjaan yang mungkin paling berat yaitu mengendalikan hawa nafsu– berhak dikategorikan ‘aidin-al-faizin yang berarti mereka yang kembali ke fitrah serta membawa kemenangan. Idul Fitri perlu disertai kumandang takbir sebagai pernyataan kesadaran mengenai kebesaran-Nya serta kekerdilan-diri, kesadaran yang diteladankan oleh para penakluk Kota Mekah belasan abad lalu.

Wallahualam….@

Pandemi Covid-19: Tujuh Rekomendasi Endcoronavirus

Konteks

Perang melawan pandemi Covid-19. Tidak banyak negara yang sudah berhasil memenangkan peperangan ini; lebih banyak yang “baru akan” menang, lebih banyak lagi yang perlu “bertindak cepat” agar berpeluang menang. Masing-masing kategori ini bisa dilabeli Zona Hijau, Kuning, dan Merah, tergantung status kemenangannya. Sejauh ini tidak ada daftar lengkap negara berdasarkan label Hijau, Kuning dan Merah. Walaupun demikian, Endcoronavius berhasil mendaftar sekitar 60 negara berdasarkan label itu dan menawarkan tujuh rekomendasi yang relevan. Tulisan ini meringkas daftar dan rekomendasi yang dimaksud.

Zona Hijau-Kuning-Merah

Endcoronavius mendaftar 15 negara yang dinilai berada pada zona Hijau: Australia, Austria,  Kamboja, Cina, Kroasia, Estonia, Yunani, Islandia, Yordania, Lebanon, Luxembourg, Mauritius, New Zealand, Norwegia, Slovakia, Slovenia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Endcoronavirus agaknya melabel Hijau suatu negara jika berhasil membentuk kurva kasus baru Covid-19 sudah membentuk secara ajeg pola U terbalik, topi atau lonceng. Pola itu diilustrasikan oleh kasus Australia, Austria, Cina, Thailand dan Vietnam. Lima negara ini, termasuk dua negara ASEAN di dalamnya, termasuk negara yang berhasil memenangkan peperangan melawan Covid-19 versi Endcoronavirus.

Australia_05_06.pngCambodia_05_06.png

China_05_07.pngThailand_05_06.png

Vietnam_05_06.png

Endcornavirus mendaftar 17 negara dalam Zona Kuning: Azerbaijan, Belgia, Costa Rica, Kroasia, Denmark, Prancis, Jerman, Iran, Irlandia, Israel, Italia, Jepang, Kyrgyzstan, Malaysia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swiss, Tunisia, Turki dan Uzbekistan. Terlihat satu negara ASEAN masuk daftar ini. Kurva Kuning menyerupai Kurva Hijau tetapi belum ajeg. Hal ini diilustrasikan oleh lima negara berikut.

Dalam dua daftar di atas tidak tercantum Indonesia. Negara ini pasti berada di zona sisa, Zona Merah, bersama 31 negara lainnya versi Endcoronavirus. Daftar ke-32 negara yang berada Zona Merah adalah Argentina, Bahrain, Bangladesh, Belorusia, Brasil, Kanada, Chili, Kolombia, Ekuador, Mesir, Finlandia, Hongaria, India, Indonesia, Irak, Mali, Meksiko, Pakistan, Panama, Peru, Filipina, Polandia, Qatar, Romania, Rusia, Singapura, Swedia, UEA, Ukraina, Inggris dan Amerika Serikat.

Kurva Zona Merah secara umum belum membentuk pola Huruf U terbalik sebagaimana diilustrasikan oleh lima negara berikut. Pada kelompok ini, ini di luar dugaan, termasuk AS. Yang layak dicatat adalah kurva Irak yang mengilustrasikan pengalaman arus-balik-arah atau lonjakan-kedua (second spike) kasus baru Covid-19, pengalaman yang konon sudah diingatkan ada kemungkinan dialami oleh AS.

Tujuh Rekomendasi

Rekomendasi  endcoronavius berlaku untuk semua negara terlepas dari Zona Hijau, Kuning atau Merah. Walaupun demikian, rekomendasi tentu lebih serius bagi Zona Merah dan Zona Kuning dari pada bagi Zona Hijau. Berikut adalah tujuh rekomendasi yang dimaksud.

1) CEPATLAH BERTINDAK

Jangan menunggu “lebih banyak data” atau hasil dari model yang rumit. Belum terlambat untuk memulai sekarang. Semakin dini Anda bertindak; hal-hal sebelumnya dapat kembali normal.

2) SIAPKAN FASILITAS ISOLASI INDIVIDU

Siapkan fasilitas untuk mengisolasi individu yang terinfeksi dari anggota keluarga mereka. Sekitar 80% transmisi di Wuhan ada di dalam rumah.

3) PERKETAT PEMBATASAN PERJALANAN

Jika Anda berada di zona hijau dengan sedikit atau tanpa transmisi komunitas, lakukan pembatasan perjalanan dan buka kembali ekonomi lokal. Untuk zona merah, batasi perjalanan keluar agar tidak menulari orang lain. Untuk perjalanan penting, miliki karantina wajib untuk menghindari penyebaran virus.

4) TINGKATKAN JANGKAUAN PENGUJIAN

Pengujian memungkinkan Anda mengidentifikasi individu yang terinfeksi dan memisahkan mereka dari komunitas yang lain.

5) MINTA AGAR SEMUA ORANG MEMAKAI MASKER

Mengurangi penularan dengan meminta setiap orang memakai masker wajah itu sederhana, murah, dan sangat efektif.

6) LANJUTKAN PRAKTEK JARAK SOSIAL

Jauhi area yang ramai dan jaga jarak sejauh mungkin antara tetangga terdekat. Mereka yang memiliki komorbiditas (orang tua, kelebihan berat badan, immunocompromised, dll.) harus menjadi orang terakhir yang diperkenalkan kembali ke masyarakat, karena mereka yang paling rentan.

7) SABARLAH, JANGAN BUKA-KEMBALI TERLALU DINI

Buka-kembali (reopening) terlalu dini berisiko memicu pertumbuhan eksponensial lagi. Ini mungkin menghapus semua manfaat yang diperoleh dari penguncian sejauh ini. Ini dapat meningkatkan jumlah total kematian, membanjiri sistem medis, dan membuat skenario di mana penguncian lain diperlukan.

*****

Demikian tujuh rekomendasi endcoronavius. Rekomendasi itu berlaku bagi semua negara terlepas apakah berada dalam Zona Hijau, Kuning atau Merah. Yang Hijau perlu bersyukur dengan tetap waspada, yang Kuning perlu bersabar untuk tidak buru-buru reopening, yang Merah perlu “beristighfar” serta disiplin tinggi. Syukur, sabar dan istighfar. Trilogi ini yang dalam pandangan para bijak-bestari ampuh untuk menghadapi suatu bencana kemanusiaan. Dalam pandangan mereka, cobaan hidup merupakan suatu keniscayaan eksistensial[1] bagi manusia (QS 2:155) . Pandangan mereka mengena jika tekanan psikologis (psychological distress) masuk dalam kalkulus dampak Covid-19[2], gejala yang kabarnya mulai bermunculan.di Amerika Serikat (AS)

Wallahualam….@

[1]Tulisan mengenai keniscyaan ini dapat dilihat diakses di  https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/26/covid-19-spiritual-reflection/

[2] Menurut Endcoronavius, “Lockdowns hurt the economy, which in turn can cause many problems. Unemployment, psychological distress….” (garis bawah tambahan).

Renungan Puasa (2): Konsistensi Doa

Muslim yang saleh meyakini setiap doa akan terkabul. Dalilnya dapat ditemukan dalam QS(2:186). Masalahnya penulis belum Muslim saleh, Muslim kebanyakan, sehingga keyakinan itu tipis. Sedikit penjelasan rasional diharapkan dapat mempertebal sedikit keyakinan. Inilah misi tulisan ini: diarahkan terutama untuk kepentingan pribadi, di-share karena ada kemungkinan ada yang lain yang dapat mengambil manfaat. Sebagai catatan awal, ayat itu disisipkan dalam rangkaian ayat Puasa QS (2: 182-187). Ini memberi kesan kuat bahwa bulan puasa adalah bulan yang tepat untuk berdoa. Agaknya semua ulama menyepakati hal ini.

Dalam ayat itu terlihat ketegasan bahwa setiap doa terkabul dan hal itu dinyatakan secara eksplisit. Yang penulis baru sadar, ayat itu juga menegaskan dua persyaratan: (1) perilaku atau amal; yakni, memenuhi perintah-Nya, dan (2) iman. (Jadi, memenuhi perintah dikemukakan terlebih dulu.) Tanpa pemenuhan syarat itu akan terjadi semacam inkonsistensi. Dengan kata lain, konsistensi doa-amal diperlukan agar janji-Nya berlaku.

Konsistensi ini doa-perilaku ini dikemukakan secara indah oleh seorang Sufi Besar abad ke 8 Masehi yaitu  Ibrahim Ibn Adham. Ketika itu kepada Sang Sufi diajukan pertanyaan sangat sulit: “Jika Allah mengabulkan semua doa (agaknya dia merujuk pada QS (2:186), kenapa dia tidak pernah mengabulkan doa-doaku selama ini”. Tapi bukan seorang Mursyid (guru Sufi) jika tidak mampu menjawab sesuai kualitas batin dan kapasitas ilmu si penanya. Sang Mursyid tidak mengemukakan jawabannya “teoretis”,  tetapi praktis, dan –ini yang mungkin kelebihan seorang Sufi– bersifat edukatif. Inilah kira-kira jawaban beliau.

1)       You know Allah,

Yet you do not obey him.

2)       You recite the Quran,

Yet you do not according to it.

3)       You know the Satan,

Yet you have agreed with him.

4)       You proclaim to love the messenger of Allah,

Yet you abandon his Sunnah.

5)       You proclaim your love for paradise,

Yet you do not act to gain it.

6)       You proclaim you fear the fire,

Yet you don not prevent yourselves from sins.

7)       You say “Indeed death is true”,

Yet you don not prepare of it.

8)       You busy yourselves with finding faults with others,

Yet you do not look your own fault.

9)       You eat that which Allah has provide for you,

Yet you don not thanks Him.

10)You bury your dead,

Yet you do not take a lesson from it.

1)       Anda mengenal Allah,

Namun Anda tidak mematuhinya.

2)       Anda membaca Quran,

Namun Anda tidak sesuai dengan itu.

3)       Anda tahu Setan,

Namun Anda telah setuju dengannya.

4)       Anda menyatakan untuk mencintai utusan Allah,

Namun Anda meninggalkan Sunahnya.

5)       Anda menyatakan cinta Anda untuk surga,

Namun Anda tidak bertindak untuk mendapatkannya.

6)       Anda mengatakan takut api neraka,

Namun kamu tidak mencegah dirimu dari perbuatan dosa.

7)       Anda mengatakan “Memang kematian itu benar”,

Namun Anda tidak mempersiapkannya.

8)       Anda sibuk sendiri dengan menemukan kesalahan dengan orang lain,

Namun Anda tidak melihat kesalahan Anda sendiri.

9)       Anda memakan apa yang disediakan Allah untuk Anda,

Namun Anda tidak berterima kasih kepada-Nya.

10)Anda menguburkan mayat,

Namun Anda tidak mengambil pelajaran darinya.

Berikut adalah terjemahan dan teks QS (2:186) sebagaimana dirujuk di atas:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu kepadamu (Muhamad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dari terjemahan di atas jelas bagian awal ayat adalah mengenai dialog antara Allah SWT sebagai pihak pertama atau “pembicara” (Arab: mutakallim) dan Muhammad SAW sebagai pihak kedua atau “lawan bicara” (Arab: mukhatab). Dalam konteks ini hamba yang berdoa sebagai pihak ketiga.

Yang layak catat, dalam bagian bagian akhir ayat adalah perubahan posisi pihak ketiga menjadi pihak kedua dalam lanjutan ayat: “Aku dekat… dan seterusnya”. Perubahan ini tak pelak memberikan kesan kuat bahwa dalam hal doa, tidak ada perantara antara hamba dengan Rabb SWT. Ini agaknya khas Islam yang menegaskan kedekatan Rabb SWT dengan hamba, “lebih dekat dari urat nadi” manusia (QS 50:16).

Demikianlah penjelasan singkat mengenai doa. Dalam hal ini istilah doa merujuk pada apa yang dikenal sebagai doa personal, doa petisi, mode komunikasi vertikal ke Rabb SWT. Tulisan mengenai doa personal dapat diakses di SINI. (Silakan klik jika berminat baca.)

Wallahualam…@

Pandemi Covid-19: Indonesia sebagai Negara Paling Terinfeksi

Istilah negara paling terinfeksi dalam tulisan menggunakan angka total kasus Covid-19 dengan batas bawah empat digit. Artinya, suatu negara dikategorikan paling terinfeksi jika memiliki total kasus (kumulatif) 10,000 ke atas. Dengan batasan ini Indonesia termasuk dalam kategori ini, di atas Denmark, Korea Selatan dan Bangladesh. Amerika Serikat (AS) menempati urutan pertama diikuti Spanyol, Italia, dan Prancis. Dari bawah, termasuk Korea Selatan, Bangladesh dan Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk meninjau secara singkat posisi Indonesia dalam kancah negara dengan kategori paling terinfeksi dengan batasan di atas.

Tulisan ini dibagi dua bagian: (1) fokus pada Indonesia dengan memantau tren kasus baru dan kasus kematian baru terkait Covid-19, dan (2) membandingkan “angka” kematian Covid-19  Indonesia dibandingkan negara-negara setara. Sumber data Worldmeter tertanggal 5/5/20 pukul 22 GMT

Indonesia: Tren Kasus Baru dan Kematian

Grafik 1 menunjukkan tren kasus baru Indonesia masih berfluktuasi dengan kecenderungan umum masih naik. Kecenderungan naik ini kemungkinan terkait dengan meningkatnya pemeriksaan[1] terhadap suspect (=S) atau populasi yang dicurigai terinfeksi Covid-19 (=I). Jika ini benar maka kenaikan kasus baru, sekalipun semakin membebani infrastruktur medis, tidak terlalu menghawatirkan. Logikanya, semakin banyak S dikenali sebagai I, semakin besar kemungkinan mengisolasi dan merawat I. Pada gilirannya, isolasi dan perawatan itu akan memperkecil S dan ini berarti mengurangi populasi yang berpotensi menularkan Covid-19[2]. Singkatnya, kenaikan kasus baru tidak selalu berarti berita buruk dalam perspektif jangka panjang.

….. kenaikan kasus baru tidak selalu berarti berita buruk dalam perspektif jangka panjang.

 

Grafik 1: Tren Kasus Baru dan Kematian Covid-19 Indonesia

Begitu I dikenali maka ‘bola” berada di tangan tenaga medis. Inilah situasi yang sangat menantang: sejauh ini belum ada obat yang terbukti dan diakui secara luas di kalangan medis dapat mengatasi infeksi Covid-19. Dalam situasi ini agaknya daya tahan atau imunitas individu pasien yang menentukan hasil perlakuan medis[3].

Grafik 1 juga menyajikan kabar baik: kasus kematian Covid-19 di Indonesia cenderung bertahan pada level yang relatif rendah (dibandingkan dengan kasus baru). Untuk menilai “seberapa baik” kabar baik ini tentu perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dengan membandingkan dengan negara-negara yang setara yang dalam hal ini terkategorikan sebagai negara paling terinfeksi.

“Angka” Kematian Covid-19

Kata “angka” diberi tanda kutip ganda untuk menunjukkan ukuran yang sangat kasar. Kata angka di sini terjemahan dari rate (Inggris) yang berarti rasio antara suatu insiden dengan populasi terpaparnya. Idealnya angka ini perbandingan antara total kasus kematian dengan total kasus (yang pada akhir pandemi identik dengan kasus ditutup). Tetapi angka ini belum dapat dihitung karena pandemi masih berlangsung. Untuk Cina, sebagai kasus ekstrem, kasus baru terkadang masih muncul dalam angka puluhan bahkan ratusan.

Grafik 2 menyajikan angka-sangat kasar kematian Covid-19 di 40 negara terpilih yang semuanya masuk dalam kategori paling terinfeksi.  Urutan dimulai dengan yang paling “paling terinfeksi” (AS) sampai yang paling kurang terinfeksi dalam kelasnya (Denmark). Pada grafik itu tampak Indonesia “mengejar” Denmark dan Korea Selatan yang secara “historis” paling terinfeksi (di bawah Cina).

Grafik 2: Angka Kematian Kasus Covid-19 per Sejuta Penduduk

Penyebut dari angka kematian sebagaimana disajikan pada Grafik 2 adalah total penduduk (milyaran). Ini jelas bukan ukuran yang cermat karena Covid-19 “selektif” dalam memilih induk semang yaitu, yang dalam konteks ini penduduk, kasarnya, di atas 20 tahun. Tetapi karena rumusnya diperlakukan sama bagi semua negara yang diperbandingkan maka hasil perbandingan relatif aman.

Tiga hal layak-catat dari Grafik 2:

  • Angka kematian Indonesia relatif sangat rendah dan ini berkat populasinya yang besar.
  • Angka Indonesia relatif rendah dibandingkan angka AS padahal dari sisi populasi keduanya beda-tipis.
  • Tingginya angka kematian di Belgia, Spanyol, Italia dan Inggris, tentunya juga Swedia dan Islandia, dapat dijelaskan dengan populasi masing-masing yang relatif rendah (dibandingkan Indonesia).

Singkatnya, diukur dengan kematian per juta penduduk, angka kematian Covid-19 di Indonesia relatif rendah bahkan jika dibandingkan angka AS.

… diukur dengan kematian per juta penduduk, angka kematian Indonesia relatif rendah bahkan jika dibandingkan angka AS.

Keadaan berbeda jika yang digunakan sebagai ukuran adalah proporsi kasus yang ditutup dan gagal tersembuhkan atau berakhir dengan kematian. Grafik 3 menunjukkan hal itu secara jelas. Catatannya, ukuran ini masih sangat kasar dan overestimate; kasar karena penyebutnya tidak memasukkan kasus aktif (atau belum ditutup), overestimate karena berdasarkan data yang tersedia sejauh ini, proporsi kasus aktif jauh lebih besar untuk yang tersembuhkan dari pada yang meninggal.

Grafik 3: Proporsi Kasus Ditutup Karena Kematian (%)

Dengan catatan teknis itu Grafik 3 menunjukkan angka kematian Covid-19 di Indonesia sebenarnya relatif tinggi, lebih tinggi dari angka-angka Korea Selatan, Iran, bahkan AS, Italia dan Spanyol. Angka Indonesia lebih rendah dibandingkan angka-angka Swedia, Belgia, Portugal, dan Prancis. Pada grafik itu tampak angka Swedia paling tinggi. Hal ini mungkin terkait dengan santainya negara itu dalam menghadapi Covid-19; di sana tidak diberlakukan kebijakan lock down, yang tentunya sudah diperhitungkan oleh petinggi kerajaan itu.

…. diukur dengan proporsi kasus ditutup karena kematian, angka kematian Indonesia relatif tinggi.

Wallahualam.…@

[1] “Dengan meningkatnya pemeriksaan ini kita perlu bersiap panen kasus”, kira-kira demikian ungkapan seorang teman yang paham epidemiologi. Upaya memperkecil S secara masif dan aman adalah dengan memberikan vaksin Covid-19 yang sejauh ini belum tersedia.

[2] Di sini diasumsikan, yang terbukti terinfeksi memiliki peluang lebih besar menyebabkan penularan dari pada yang belum teridentifikasi. Asumsi ini sebenarnya agak lemah karena yang belum menunjukkan simtom (masih dalam masa inkubasi) dapat menularkan kepada orang lain.

[3] Hal ini pernah dikemukakan seorang ahli epidemiologi Korea Selatan yang sangat berpengalaman menangani kasus penyakit menular.

Covid-19 Indonesia: Gambar Besar

Konteks

Sekitar sebulan lalu penulis, melalui tulisan di blog ini, pernah mengemukakan data Covid-19 Indonesia terlalu dini untuk dianalisis. Argumennya ketika itu seri datanya masih pendek dan polanya belum dapat terbaca. Ketika itu total kasus terakhir sekitar 2,000, masih jauh dari “angka psikologis 4 digit”, puluhan ribu. Angka psikologis ini kini tercapai: menurut Worldmeter, per 2/5/20 pukul 23 GMT, angkanya 10,083 kasus. Jadi dalam sebulan terakhir ini kasusnya meningkat sekitar lima kali lipat, suatu pertumbuhan kasus yang cepat tetapi agaknya normal dalam kasus Covid-19.

Kini, setelah seri data bertambah panjang, agaknya tepat waktu untuk melihat-ulang data Covid-19 Indonesia. Tulisan  ini menyajikan hasil penglihatan-ulang yang dimaksud. Yang ingin dipotret adalah gambar besarnya: status terkini dan tren masa lalunya. Data yang digunakan bersumber Worldmeter.

Perkembangan Kasus

Grafik 1 menunjukkan kasus baru Covid-19 di Indonesia terkesan masih naik-turun atau berfluktuasi. Sebagai ilustrasi, dalam periode 12-14 April angkanya turun tetapi trennya diikuti kenaikan selama 3 hari berturut-turut. Kecenderungan umumnya, sebagaimana ditunjukkan oleh angka rata-rata bergerak (5 titik) yang berwarna merah, masih naik walaupun melambat. Berdasarkan grafik ini masih sulit menduga (paling tidak bagi penulis) apakah titik puncak tertinggi (universal extreme) sudah melampaui, atau jika belum, kapan.

Grafik 1: Tren Kasus Baru Per Hari

Berbeda dengan tren kasus baru, tren kasus kematian per hari mengindikasikan adanya penurunan. Grafik 2 menunjukkan hal itu. Berdasarkan grafik itu tampak agak realistis berharap angka kematian 60 untuk 14/4/20 sudah merupakan angka tertinggi. Tapi waktu masih akan menguji harapan ini.

Grafik 2: Tren Kasus Kematian Per Hari

Perkembangan situasi juga dapat dilihat dari tren kasus aktif atau komplemennya yaitu kasus ditutup. Grafik 3 menunjukkan tren kasus aktif maupun kasus ditutup masih cenderung naik.

Grafik 3: Tren Total Kasus, Kasus Aktif dan Kasus Ditutup

Sebagai catatan, kasus aktif dan kasus ditutup masing-masing dapat dilihat sebagai komponen indikator komposit kasus total: Kasus total = Kasus aktif + Kasus ditutup. Idealnya, tren kasus aktif turun mendekati angka Nol sementara kasus ditutup naik mendekati angka total kasus. Jadi, arahnya berlawanan. Oleh karena itu angka kasus total dapat membingungkan atau bahkan menyesatkan untuk menilai perkembangan situasi.

Idealnya, proporsi kasus ditutup dengan kesembuhan. Grafik 4 menunjukkan kecenderungan meningkatnya kasus itu. Grafik 5 memberikan indikasi yang lebih langsung: proporsi kasus ditutup yang berakhir kesembuhan cenderung turun sampai 26/3/20 tetapi selanjutnya cenderung naik.

Grafik 4: Tren Kasus Ditutup, Tersembuhkan dan Kematian

Grafik 5: Proporsi Kasus Ditutup dengan Kesembuhan (%)

Ringkasan dan Diskusi

Tren angka kasus baru masih berfluktuasi dengan kecenderungan sedikit kenaikan (Grafik 1). Adalah soal selera (subyektif) memaknai ini sebagai kabar baik atau kabar buruk. Bagi penulis, kabar “agak melegakan” jika angkanya mulai turun yang berarti angkanya telah mencapai titik paling puncak. Jika angkanya telah mendekati angka nol, katakanlah 1-2% dari angka puncak universal, maka bagi penulis itu sudah layak disebut “kabar baik”.

Cina mengalami situasi ketika angka kasus baru terus bermunculan di sekitar angka yang sudah rendah. Berdasarkan pengalaman agaknya tidak realistis berharap kasus baru akan terhenti mutlak. Bagi penulis, inilah normal baru (a new normal) yang perlu diantisipasi.

Tren kasus aktif yang masih cenderung naik. Ini mendukung kesimpulan bahwa situasi belum mencapai taraf “agak melegakan” walaupun mengarah ke sana. “Agak melegakan” jika trennya mulai turun dan berubah menjadi “kabar baik” jika angkanya mendekati angka kasus total. Situasi ini identik dengan situasi ketika tren angka kasus ditutup mulai naik sebelum akhirnya mendekati angka kasus total. Situasi idealnya tentu didekati jika proporsi kasus ditutup karena tersembuhkan mendekati angka100%.

Ada indikator lain yang lebih padat dan lebih meyakinkan untuk mengevaluasi perkembangan pandemi yaitu angka reproduksi virus, R0. Pandemi masih masih memburuk atau “kabar buruk” jika R0>1, mereda atau “agak melegakan” R0=1 dan akan segara berakhir atau “kabar baik” jika R0<1. Angka ini R0 mengukur transmisi kedua (second transmission); artinya, mengukur banyaknya kasus baru yang ditulari oleh seorang yang terinfeksi. Berapa angka untuk Indonesia? Penulis tidak berani menghitung karena pandemi masih berlangsung entah sampai kapan. Selain itu, ukuran ini terlalu teknis untuk dibahas lebih lanjut dalam tulisan singkat ini. Bagi yang berminat mempelajari logika dasarnya dapat mengakses di SINI.

Demikianlah gambar besar Covid-19 di Indonesia….@

Pandemi Covid-19: Refleksi (4)

Boleh jadi kita secara kolektif tergolong kufur dalam arti tidak pandai bersyukur. Walaupun demikian, sebagian kita, sekecil apa pun proporsinya, pasti ada yang masih dikaruniai kegemaran minta ampun kepada-Nya, amalan utama waktu sahur (QS 51:18). Kelompok ini layak bergelar elite mustagfirun (meminjam istilah Qurani) yang kita semua orang berhutang budi. Argumennya, sesuai firman-Nya, kita secara kolektif masih terlindungi dari azab-Nya karena elite ini: “Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka (masih) memohon ampun” (QS 8:33).

Boleh jadi Pandemi Covid-19 mengharu-buru masyarakat global terutama karena efek dominonya. Walaupun demikian, sejalan dengan ayat yang baru saja dikutip, pandemi ini belum masuk kategori azab menurut terminologi Qurani.

Jika bukan azab lalu apa? Bisa musibah atau bala; keduanya juga istilah Qurani. Jika bala maka itu suatu keniscayaan manusiawi, bahkan melatarbelakangi tragedi kosmis kematian-kehidupan manusia menurut QS(67: 2). (Ayat ini menyebutkan kematian terlebih dahulu.) Lebih dari itu, menurut ayat yang sama, bala mengandung unsur edukasi agar manusia terdorong melakukan amal terbaik, amal terindah, ahsanu ‘amala.

Di tengah pandemi Covid-19 banyak kabar yang menunjukkan kemuliaan manusia dalam arti mampu melakukan amal terindah. Dari Italia terkabarkan sekelompok volunter tenaga medis, muda dan tua, yang mendedikasikan diri untuk membantu menolong korban Covid-19. Sebagaimana terungkap dalam Wawancara CNN, yang muda bilang “Aku tahu risiko pekerjaan ini dapat menulariku dan orang-orang terkasih di rumah. Tapi yang penting bagiku saat ini bagaimana berkontribusi sesuatu kepada sesama”. Yang tua bilang “Aku tahu apa yang dapat aku lakukan dan kalau tidak sekarang kapan”.

Cerita serupa banyak dari belahan bumi yang lain, khususnya tetapi tidak terbatas pada, mengenai dedikasi para tenaga medis yang bekerja luar biasa intensif dan sangat melelahkan, jauh dari keluarga serta berisiko tinggi, demi menolong korban Covid-19 . Di Indonesia ada cerita semacam ini. Di Indonesia juga ada kabar seorang anak SD yang mengaku menabung beberapa lama agar dapat membelikan masker bagi pak polisi.

Semua cerita di atas  membuktikan manusia dapat melakukan ahsnu ‘amala, amalan ikhlas, bentuk amalan konkret untuk  merealisasikan prinsip kasih-tanpa-pamrih. Itulah sebabnya manusia as such dimuliakan (QS 17:70). Boleh jadi bentuk amalan mereka setara dengan bentuk amalan para mustagfirun dalam konteks kekinian. Boleh jadi amalan para pahlawan-harian (daily heroes, istilah Cuomo) yang menjadi subjek cerita di setara dengan amalan elite mustagfirun.

Jika dugaan di atas benar maka para subjek cerita  layak memperoleh doa terbaik dari kita semua, serta memperoleh insentif yang layak dari para empunya dan pemegang kekuasaan. Mereka menolong korban Covid-19 sekaligus, boleh jadi, memainkan peran penolong kita semua sehingga terhindar dari azab-Nya.

Wallahualam…..@