Visi Indonesia Jokowi: Beberapa Catatan

Beberapa hari yang lalu (14/7/19 malam) Presiden Jokowi menyampaikan pidato pertamanya sebagai presiden terpilih Pilpres 2019 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor. Tulisan ini menyajikan beberapa catatan singkat mengenai pidatonya yang padat dan terfokus itu.

Dari “Kerja!” menjadi “Cepat!”

Durasi pidato itu sangat singkat, sekitar 25 menit. Isinya padat dan terfokus. Fokusnya, bukan pada apa yang menjadi visi beliau, melainkan pada misi bagaimana pembangunan pembangunan Jilid II akan dieksekusi. [Visinya agaknya dianggap sudah jelas dengan sendirinya.]

Berbeda dengan pidatonya lima tahun sebelumnya (Jilid I) yang banyak mengetengahkan aspek-aspek normatif (misalnya, revolusi mental), pidato kali ini (Jilid II) lebih bersifat pragmatis. Pengalaman Jilid I agaknya menguatkan kepercayaan diri dan determinasi beliau untuk membuka Jilid II. Lebih dari itu, jalau moto Jilid I “Kerja, Kerja, Kerja!”, maka moto Jilid II kira-kira “Cepat, Cepat, Cepat!”. Jadi, ada perbedaan aksentuasi.

Isi Pidato

Ada lima butir pokok pikiran yang disampaikan dalam pidato itu: (1) melanjutkan infrastruktur, (2) menekankan pembangunan SDM, (3) meningkatkan investasi, (4) melanjutkan reformasi birokrasi, dan (5) Memastikan penggunaan APBN yang tepat sasaran. [Penggunaan awalan me dalam rumusan di atas menegaskan bahwa isi pidato terkait dengan misi atau objectives, bukan visi atau goals.] Di luar lima butir ini,  pidato juga menyinggung pentingnya stabilitas politik sebagai prasyarat tercapainya sasaran pembangunan, dengan menekankan arti sentral Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa.

Pembaca yang sudah “sepuh” dapat melihat keterfokusan pidato itu kira-kira setara dengan keterfokusan rumusan Pelita I (1969-1973/4) yang hanya mencakup tiga isu:

    1. Memberikan bibit unggul kepada petani dan melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan bibit unggul yang tahan hama tersebut.
    2. Memperbaiki infrastruktur yang digunakan oleh sektor pertanian seperti jalan raya, sarana irigasi sawah dan pasar yang menjadi tempat dijualnya hasil pertanian.
    3. Melakukan transmigrasi agar lahan yang berada di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua dapat diolah agar menjadi lahan yang menghasilkan bagi perekonomian.

Kembali kepada Pidato Presiden.

Karena padat dan terfokus maka isi pidato mudah dicerna oleh kalangan luas, mulai dari emak-emak hingga kalangan peneliti dan akademisi. Walaupun padat dan terfokus, isi pidato secara keseluruhan sudah memadai sebagai policy direction bagi para calon pembantu Presiden, paling tidak untuk beberapa kementrian atau lembaga. Itulah kekuatan dari pidato itu: “Arahnya harus ke sana, fokusnya harus ke sana”, kata Presiden. Tapi kita punya tiga catatan lainnya, catatan kritis.

Isu Pemerataan

Isi pidato dapat diringkas ke tiga kata: pertumbuhan (1 dan 3), SDM (2) dan efisiensi (4 dan 5). Catatan yang layak dikemukakan adalah bahwa isi pidato tidak menyebutkan isu HAM. Kita berprasangka baik saja: hal ini bukan berarti beliau mengabaikan isu HAM, tetapi karena keterbatasan waktu dan ketepatan forum yang menghadiri pidato itu.

Isu pidato juga tidak menyebutkan secara eksplisit isu ketimpangan sosial-ekonomi atau isu pemerataan. Dalam hal ini kita juga berprasangka baik saja: ini karena keterbatasan waktu dan ketepatan forum semata.

Yang pasti ini: isu pemerataan sangat rumit dan kompleks. Demikian rumit dan kompleksnya sehingga dulu, di era Repelita III (1977-1984), isu ini menjadi isu utama kebijakan pembangunan yang dirumuskan secara eksplisit dalam dokumen perencanaan. Ketika itulah dikenal istilah delapan jalur pemerataan yang mencakup:

    1. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat, terutama pangan, sandang, dan perumahan.
    2. Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan.
    3. Pemerataan pembagian pendapatan.
    4. Pemerataan perluasan kesempatan kerja.
    5. Pemerataan usaha, khususnya bagi golongan ekonomi lemah.
    6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
    7. Pemerataan pembangunan antar daerah.
    8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

Bahwa isu pemerataan ini rumit dan kompleks dapat dilihat dari dua reasoning berikut: (1) secara teoretis dan empiris terbukti bahwa antara pertumbuhan (ekonomi) dan pemerataan tidak ada hubungan otomatis, dan (2) keberhasilan pembangunan global melalui MDG (2000-15) dalam menekan angka kemiskinan terpaksa harus disertai catatan serius mengenai kegagalan global dalam menangani isu ketimpangan.

Komponen Manusia

Seperti disinggung sebelumnya, pidato memberikan fokus pada isu SDM. Ini tentu perlu disambut baik. Catatannya di sini adalah “jebakan halus” yang perlu diwaspadai. Ini soalnya. By definition, konsep SDM menempatkan manusia sebagai “komponen” pembangunan yang merupakan bagian dari strategi pertumbuhan. Ini bagus tetapi tidak cukup bagus dilihat dalam perspektif model pembangunan manusia (human development).

Seperti ditegaskan UNDP hampir dua dekade yang lalu, model pembangunan ini menempatkan manusia sebagai sasaran akhir (ultimate ends) pembangunan, bukan sekadar komponennya. Model ini juga menekankan manusia sebagai subyek atau pelaku (aktor) pembangunan, bukan hanya obyek atau sasaran. Model ini juga mengingatkan kita mengenai pentingnya pembangunan watak (character building) manusia dalam kedudukannya sebagai subyek pembangunan.

Pentingnya aspek watak ini dapat diilustrasikan dalam kasus smart city yang by concept jelas sangat cemerlang karena dapat mempermudah akses bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik. Pertanyaannya adalah bagaimana konsep ini dapat direalisasikan jika, misalnya, watak para pejabat publik pelaksana konsep in dikendalikan oleh syahwat kekuasaan dan kekayaan.

Belenggu Short-termism

Seperti disinggung sebelumnya, isi pidato memberikan aksentuasi yang kuat pada isu pertumbuhan. Agaknya tidak ada yang meragukan pentingnya isu ini bagi kesejahteraan rakyat. Dalam bahasa UNDP, pertumbuhan adalah sarana utama (principal means) bagi pembangunan manusia. Tapi di sini juga ada “jebakan halus”: semangat berlebihan pada aspek pertumbuhan dapat membuat kita terbelenggu dalam rencana jangka pendek, tanpa visi jauh ke depan. Inilah potensi penyakit sistem demokrasi yang menawarkan siklus kepemimpinan publik hanya 4-6 tahun.

…. semangat berlebihan pada aspek pertumbuhan dapat membuat kita terbelenggu dalam rencana jangka pendek, tanpa visi jauh ke depan.

Belenggu ini dikenal dengan istilah short-termism, suatu isme yang memberikan fokus berlebihan pada hasil jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang, isme yang cocok dengan mentalitas inversor sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut:

Short-termism refers to an excessive focus on short-term results at the expense of long-term interests. Short-term performance pressures on investors can result in an excessive focus on their parts on quarterly earnings, with less attention paid to strategy, fundamentals and long-term value creation.

Karena belenggu short-termism ini maka isu-isu jangka panjang (yang juga tidak disingung dalam pidato) seperti pemanasan global, perubahan iklim dan erosi garis pantai[1] tampak jauh, buram dan bahkan tidak relevan. Itulah sebabnya demokrasi dituduh merampas hak-hak konstitusional generasi mendatang.

Sumber Gambar: Google

Karena tuduhan ini negara bagian Wales menunjuk  Future Generations Commissioner (Komisioner Generasi Mendatang) (Sophie Howe) sebagai bagian dari Well-being for Future Generation Act (2005). Karena alasan yang sama di Jepang timbul gerakan Future Design (Racangan Mendatang) yang menargetkan terbentuknya Ministry of the Future [2].

*****

Sekalipun tidak disinggung dalam pidatonya, penulis berprasangka baik bahwa ketiga catatan terakhir ini– isu pemerataan, komponen manusia, dan bahaya short-termism— sudah menjadi bagian dari visi Presiden. Penulis juga berprasangka baik ketiganya dipahami oleh beliau, bukan sekadar suatu sektor pembangunan, melainkan sebagai mainstream yang menjiwai kebijakan beliau dalam menyopiri pembangunan Indonesia lima tahun mendatang. Penulis yakin Presiden tidak hanya concern mengenai kuantitas pertumbuhan, tetapi juga kualitasnya. Semoga saja demikian….@

[1] Mengenai perubahan iklim lihat ini; untuk erosi garis pantai lihat ini.

[2] Lihat ini

 

Erosi Garis Pantai Indonesia

Garis pantai (shoreline) dapat menyempit karena erosi dan meluas karena akresi. Erosi dan akresi adalah dua istilah teknis ilmu bumi yang terlalu kompleks untuk dipaparkan secara memadai dalam tulisan singkat ini[1]. Yang  jelas, kedua  istilah ini dalam tulisan ini diterpkan dalam konteks garis pantai dan sederhananya dapat dilihat sebagai faktor alamiah yang menyebabkan perubahan garis pantai.

Tetapi apa relevansi erosi atau akresi bagiku? Ini jawabannya kalau Anda orang Indonesia: (1) Indonesia adalah negara kepulauan sehingga rentan terpapar erosi, dan (2) orang Indonesia– sebagaimana orang rest of the world— dirancang untuk hidup di daratan, bukan di lautan. Lebih dari itu, ada bukti empiris yang menunjuk jari: negara kepulauan ini mengalami erosi dalam skala yang menakutkan, paling tidak demikianlah menurut cita-rasa The Jakarta Post.

Tertanggal 7 Juli 2019 (03.15) Jakarta Post menerbitkan artikel berjudul “Indonesia has lost land equal to size of Jakarta in last 15 years“. Reaksi pertama penulis “apa iya”. Jadi penulis terdorong untuk mencermati angka-angka dalam terbitan itu dan lahirlah tulisan singkat ini.

Lebih Luas dari Kota Medan

Menurut artikel Jakrta Post itu, dalam 15 tahun Indonesia secara nasional telah kehilangan lahan sekitar 29,262 Ha. Angka “nasional” ini tidak termasuk wilayah erosi di enam provinsi: Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Di enam provinsi ini hasil pencitraan satelit dilaporkan tidak jelas.

Angka itu setara dengan 293 Km2. Jika angka ini dibandingkan dengan luas Jakarta yang menurut suatu laporan[2] sekitar 650 Km2, maka angka luas erosi nasional kira-kira setara dengan 45% luas Jakarta secara keseluruhan, bukan equal tosize of Jakarta sebagaimana diklaim Jakarta Post. Tetapi bagaimanapun angka itu mengisyaratkan besarnya masalah erosi di Indonesia.

Untuk “merasakan” besar masalah ini kita dapat membandingkan angka itu dengan luas wilayah secara keseluruahan beberapa kota lain. Hasilnya ini: dalam periode 2000-2014, kawasan yang terpapar erosi secara nasional dalam periode itu (=293 Km2) sedikit kurang luas dibandingkan keseluruhan wilayah Kota Kendari (296 Km2); tetapi sedikit lebih luas dibandingkan keseluruhan wilayah gabungan Jakarta Barat dan Jakrta Selatan (272 Km2), Kota Serang (267 Km2), atau Kota Medan (265 Km2)

….dalam periode 2000-14 kawasan yang terpapar erosi kurang luas dibandingkan keseluruhan wilayah Kendari; tapi lebih luas dibandingkan keseluruhan wilayah (Jakarta Barat + Jakarta Selatan), Serang, atau Medan.

Tebang Pilih

Erosi ternyata menerapkan kebijakan yang tebang pilih. Artinya, ia memiliki preferensi untuk menjarah wilayah-wilayah tertentu. Hal ini terlihat dari distribusi angka erosi nasional (minus 6 provinsi sebagaimana disinggung sebelumnya) yang tidak merata antar provisi sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 1.

Grafik 1: Luas Erosi dan Akresi Garis Pantai menurut Provinsi Hasil Pencitraan Satelit 2000 dan 2014 (Ha)

Sumber: Jakarta Post

Catatan: Angka-angka diperoleh sebagai hasil pencitraan satelit yang tidak mencakup enam provinsi: Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Jawa Timur dan Jawa Tengah

Pada grafik di atas tampak erosi cenderung lebih memilih kawasan Jawa dan Sulawesi. Grafik itu juga menyuguhkan tiga hal yang mencolok berikut ini:

    1. Jawa Tengah dan Jawa Timur menempati rangking pertama dan kedua dalam hal luasnya erosi. Luas erosi di dua provinsi ini masing-masing 5,600Ha (19% angka nasional) dan 4,400Ha (15% angka nasional). Dua provinsi ini memberikan sumbangan lebih dari sepertiga terhadap angka erosi nasional. [Jadi, selamat untuk Pak Ganjar dan Bu Khafifah!.]
    2. Dua provinsi ini juga menempati dua rangking teratas dalam hal akresi walaupun dengan urutan terbalik: dalam hal ini Jawa Timur (4,396 Ha) lebih unggul dari Jawa Tengah (2,171 Ha). [Selamat yang kedua kalinya untuk Bu Khafifah.]
    3. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain, angka akresi Jawa Timur jauh melampau angka erosi. [Selamat yang ketiga kalinya untuk Bu Khafifah.]

Tidak Tahu

Demikianlah cerita singkat mengenai erosi dan akresi di Indonesia. Pertanyaan: Apakah semua ini karena ulah manusia atau kehendak-Nya? Penulis tidak tahu jawabannya tapi setuju dengan ucapan Bunda Teresa ini (dikemukakan dalam konteks berbeda): “I don’t know what God is doing. He knows. We dont’t understand, but one thing I’m sure. He doesn’t make a mistake“.

Wallahualam….. @

[1] Bagi yang berminat mendalami dua istilah ini disarankan untuk merujuk ini untuk erosi dan ini untuk akresi.

[2] Semua angka luas wilayah kota dalam tulisan ini bersumber ini.

 

 

Angka Bunuh Diri Amerika Serikat

Angka bunuh diri di Amerika Serikat (AS) dilaporkan meningkat paling tidak dalam periode 2014-2017. Argumennya sebagaimana disajikan oleh Grafik 1. Tampak meyakinkan.

Angka itu pada periode 2016-17– sebagaimana tampak pada grafik itu– tidak berubah, tetap pada angka 6.2. Angka itu dinyatakan per 100,000 penduduk. Artinya, untuk tahun 2017 misalnya, angka 6.2 diperoleh dari hasil pembagian total kasus bunuh diri tahun 2017 dengan total penduduk pada tahun yang sama, dikalikan dengan 100,000. (Angka perkalian dibubuhkan untuk memudahkan baca angka mengenai sesuatu yang peristiwanya jarang terjadi.)

Grafik 1: Angka Bunuh Diri Amerika Serikat (Per 100,000 Penduduk)

Sumber: Diolah dari Ini

Kalau seorang statistisi secara iseng ditanya apakah angka dalam kurun 2016-17 menunjukkan adanya kenaikan, penurunan atau tidak berubah, maka dia, dengan hanya bermodalkan Grafik 1, tidak akan mampu menjawab. Itulah “bodohnya” seorang statistisi.

“Bodohnya” Statistisi.

Alih-alih menjawab pertanyaan di atas seorang statitisi akan “rewel” dengan mengajukan beberapa pertanyaan:

(1) “Apakah angka-angka pada Grafik 1 merupakan hasil sampel survei?”

Jika dijawab “ya”, “bagaimana dengan tingkat kepercayaan estimasinya?” Dia mungkin curiga jangan-jangan angka angka-angka itu hasil pembulatan (misalnya, 6.20 dan 6.24) dan estimasinya sedemikian cermat. Yang terakhir ini menghasilkan interval estimasinya yang sempit; misalnya:

    • 2016: 6.18-6.22 dan
    • 2017: 6.23-6.25.

Jika kasusnya demikian, si statitisi itu akan menjawab secara meyakinkan, “Terjadi kenaikan signifikan antara tahun 2016 dan 2017, tetapi….”.

(2) “Apakah angka total penduduk di kedua tahun itu dapat dipercaya?”

Pertanyaan ini timbul dari keraguan jangan-jangan angka penyebutnya tidak berbanding secara sempurna; yakni, ada perbedaan tingkat under- overestimation tahun 2016 dan 2017. Jika dijawab dapat dipercaya dan angkanya masing-masing 322,179,605 dan 324,459,463[1] maka dia bersedia menghapus “tetapi” dalam jawaban di atas.

Bagaimana jika dijawab bahwa angka-angka pada Grafik 1 hasil registrasi atau administrasi yang mencakup seluruh populasi? Sang satistisi akan mengajukan pertanyaan ini..

(3) “Apakah tingkat cakupan registrasi tahun 2016 dan tahun 2017 sama?”

Di sini dia curiga perbedaan angka terjadi semata-mata karena perbedaan tingkat cakupan itu. Jika dia diyakinkan “sama” maka dia baru berhenti “tutup mulut”. Lebih dari itu, dia kemungkinan akan berbaik hati dengan menghadiahi sang penanya dengan Tabel 1 dan Grafik 2. Begitulah “baik-hatinya” seorang statistisi.

 

Grafik 2: Perkiraan Total Kasus Bunuh Diri Amerika Serikat 2016-2017

(Hasil Hitungan sendiri)

Perbedaan Antar State

Jika persoalan di atas dianggap tuntas maka pertanyaan berikut adalah apakah ada perbedaan dalam angka bunuh diri antar state? Pertanyaan ini penting karena angka nasional kurang bermakna jika mengabaikan perbedaan angka untuk wilayah yang lebih kecil atau antar state.

…angka nasional kurang bermakna jika mengabaikan perbedaan unit wilayah yang lebih kecil …

Angka bunuh diri ternyata bervariasi antar state sebagaimana disajikan oleh Grafik 3. Angka itu memiliki rentang (interval) antara 0 dan 14.4).

Grafik 3: Angka Bunuh Diri Amerika Serikat menurut State, 2017

Sumber: Diolah dari INI

Angka bunuh diri di atas angka 12 terjadi di tiga states: Lousiana (LA), Alabama (AL) dan Missipi (MS). Hal ini mengindikasikan bahwa rendahnya angka bunuh diri berasosiasi secara statistik dengan derajat kesehatan secara umum. Rangking tiga negara itu masing-masing ke- 50, 48 dan 49 tertinggi (atau ke-1, 3 dan 2 terburuk) dari 50 states di AS (Sumber ini).

…. rendahnya angka bunuh diri berasosiasi secara statistik dengan derajat kesehatan secara umum…

Bagaimana dengan states yang angka bunuh dirinya 0? Kondisi ideal ini terjadi di enam states yaitu Maine (ME, 16), New Hamsphire (NH, 6), (North Dakota, ND, 13) Rhode Island (RI,14), Vefmont (VT, 4), dan Wyoming (WY, 24). Angka dalam kurung menunjukkan rangking  derajat kesehatan dari yang terbaik. Dari rangking itu tampak angka angka bunuh diri juga berasosiasi dengan derajat kesehatan dengan sedikit kekecualian untuk Wyoming.

Demikianlah cerita singkat kasus bunuh diri di AS. Demikianlah kira-kira tanggapan seorang statitisi berdasarkan pengalaman pribadi. Tapi jangan menuding dulu: kemajuan pesat bidang iptek di era modern dimungkinkan antara lain karena ilmu statistik, ilmu orang “bodoh”, “rewel” dan “baik hati”.

… kemajuan pesat bidang iptek di era modern antara lain dimungkinkan karena sumbangan ilmu statistik…

Bagaimana dengan Indonesia? Wallahualam. Yang pasti di negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa– ini, bukan tidak ada kasus bunuh diri. Buktinya, Puteri bungsu penulis tengah menyusun skripsi mengenai topik ini karena, konon, kasusnya lumayan banyak.

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi@gmail.com

Bencana Alam dan Mata-Batin: Catatan Akhir 2018

Anak Luar Biasa

Catatan akhir tahun kali ini sulit mengabaikan musibah yang baru saja terjadi, musibah yang merupakan sidik jari dari karya seorang anak, Anak Krakatau. Sidik jarinya tersebar di mana-mana di sekitar TKP. Sidik jari itu antara lain berupa puing-puing bangunan, reruntuhan pepohonan, sekitar 1,500 saksi mata yang terluka, dan lebih dari 400 jenazah manusia[1]. Singkatnya, sidik jarinya banyak dan kasat mata. Agaknya tidak ada celah bagi anak itu untuk mengelak dari “tuduhan” publik.

“Anak” ini luar biasa. Proses kelahirannya berlangsung lama dari Agustus 1883 sampai Februari 1884, melalui letusan “perut ibu” yang disertai tsunami sehingga menelan korban setidaknya 36,417 jiwa manusia[2]. Letusan ini dianggap paling mematikan dan paling merusak. Tetapi ini dalam sejarah Indonesia sebenarnya kedua terbesar setelah letusan Gunung Tambora yang terjadi tahun 1815 (lihat Tabel).

Dari tabel di atas tampak Indonesia memberikan kontribusi “lumayan”: 2 dari 12 letusan gunung terdahsyat.

Kembali ke karya Anak Krakatau. Karya terakhirnya  diciptakan 22 Desember 2018 yang lalu dengan cara meletuskan diri. Cara ini bagi Anak Krakatau sesuatu yang biasa-biasa saja, normal, alamiah, atau sesuai kodratnya. Letusan ini memicu longsor di bawah laut yang bagi tanah longsor normal sesuai kodratnya. Longsor ini memicu tsunami yang bagi laut juga sesuatu yang normal. Tsunami itulah yang meninggalkan sidik jari yang bermasalah– tepatnya dimasalahkan oleh ras manusia—bagi “kemanusiaan”. Kita menyebutnya tragedi kemanusiaan. (Berhakkah kita menyebut demikian?)

Terlepas dari masalah bahasa, yang jelas “tragedi” ini riil, masif dan dikhawatirkan belum akan segera berakhir[3].  Yang juga jelas, tragedi ini tragedi ini mendorong semua komponen bangsa untuk bersatu-padu berupaya untuk mengatasinya. Kita menyaksikan keseriusan pemerintah, kedermawanan pihak swasta, dan keikhlasan para relawan baik yang bersifat individu maupun yang tergabung dalam NGOs, semuanya berupaya untuk mengatasi tragedi ini. Jangan diabaikan peran remaja dan kaum ibu yang secara spontan menggalang dana untuk membantu para korban. Inilah modal sosial bangsa ini yang besarnya tampak ketika terjadi ketika tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

…. besarnya modal sosial bangsa ini tampak ketika terjadi tragedi tsunami Aceh akhir 2014 yang lalu.

Tragedi ini riil dan masif sehingga memperoleh sorotan media masa internasional secara luas. Demikian riilnya tragedi ini sehingga ia mengundang rasa empati, belasungkawa dan pernyataan siap membantu dari tokoh-tokoh dunia: PM Australia, PM India, Wakil PM Malaysia, Presiden AS, Presiden dan PM Rusia, Ratu Inggris dan Suami, Presiden dan Menlu Turki, dan Presiden Taiwan. Sekadar untuk memberikan gambaran mengenai ucapan belasungkawa mereka, berikut ini ungkapan dari Menlu Turki: “We wish the mercy of Allah be upon those who lost their lives, speedy recovery to the injured and convey our condolences to the brotherly people of Indonesia”.

Bukan Satu-satunya

Tragedi Tsunami Selat Sunda riil dan masif. Tetapi ini bukan satu-satunya bencana yang melanda Indonesia selama 2018. Sebelumnya terjadi dua bencana lainnya yaitu Gempa Lombok dan Tsunami Palu dan Sekitar. Yang pertama berupa gempa darat yang berkekuatan 6,4 SR di Pulau Lombok pada tanggal 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Pusat gempa terletak sekitar 47 kilometer di Timur Laut Kota Mataram dengan kedalaman 24 kilometer. Guncangan gempa ini dirasakan di seluruh Pulau Lombok, Pulau Bali dan Pulau Sumbawa. Korban dilaporkan 20 orang meninggal dunia dan sekitar 10,000 rumah rusak Berat[4].

Bencana kedua dimulai dengan gempa bumi di Semenanjung Sulawesi pada tanggal 28 September 2018. Pusat gempa terletak di kawasan pegunungan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, dengan kekuatan 7.5. diikuti dengan gempa susulan 6.1. Gempa dirasakan di di Samarinda (Kalimantan Timur) dan Tawau (Malaysia). Bencana diikuti dengan tsunami dekat Selat Makassar sekitar 30 menit kemudian. Dahsyatnya bencana ini– gabungan gempa bumi dan tsunami—terlihat dari besarnya korban jiwa manusia: 2,245 meninggal, 4,488 terluka dan 1,075 hilang. Korban ini tersebar di empat kota/kabupaten: Palu, Sigi, Donggala, Parigi Moutong[5] .

Yang perlu dicatat, semua bencana ini mempertontonkan selain tragedi kemanusiaan tetapi juga kebesaran modal sosial Bangsa Indonesia.

Korban dan Anugerah

Kenapa bencana alam sering melanda Indonesia? Karena wilayah geografis Indonesia terletak dalam jalur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Dengan kondisi ini Indonesia termasuk rawan bencana alam. Ini takdir bangsa ini.  Yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bahwa kondisi geologis yang rawan ini tidak hanya meminta korban tetapi juga melimpahi banyak anugerah. Anugerah itu antara lain berupa kesuburan lahan pertanian, kekayaan hutan, aneka-ragam hayati-nabati, kekayaan mineral, dan sebagainya.

Respons budaya berupa “sesajen” bagi gunung atau “tempat keramat” dari masyarakat tradisional dapat dilihat sebagai perwujudan kesadaran kolektif mengenai aspek positif bencana berupa limpahan anugerah alam ini. Agama tentu dapat memberikan kerangka teologis yang sesuai tetapi semangatnya sama yaitu sikap syukur.

Bencana dan Syukur. Apa ada hubungan antara keduanya? Bagi yang memiliki perspektif modern jawabannya negatif: tidak ada hubungan antara keduanya; “ngak nyambung”, istilahnya. Bagi orang beragama jawabannya positif: dalam analisis terakhir setiap peristiwa, termasuk bencana alam, terjadi karena izin-Nya. Dalam bahasa teologis: “Tuhan adalah sebab efisien setiap peristiwa”.

Atas dasar pemikiran semacam itu orang beragama akan melakukan upaya maksimal untuk mengatasi akibat bencana alam tetapi disertai doa memohon perlindungan kepada Penguasa-alam.

Malampaui al-Kaun

Secara teknis geologis kasus Tsunami Palu dan Tsunami Selat Sunda konon berbeda. Dalam kasus pertama tsunami dipicu oleh Gempa Bumi (seperti halnya Tsunami Aceh akhir 2004), sementara yang kedua oleh longsor bawah laut akibat letusan gunung.

  • Kasus Pertama: Gempa Bumi —>Tsunami;
  • Kasus Kedua: Letusan Gunung —> Longsor di Bawah Air —> Tsunami

Pertanyaannya: Apa faktor yang memicu gempa bumi (kasus pertama) atau letusan gunung (kasus kedua)? Sains tidak dapat menjawab pertanyaan ini.

Lalu apa jawabannya?

Penulis tidak dapat menjawabnya tetapi berkeyakinan masing-masing kita dapat menjawabnya, tepatnya merasakannya.

Upaya untuk merasakan adanya faktor yang memicu gempa bumi atau letusan gunung dapat dimulai dengan mencermati istilah al-kaun yang menurut para sufi mencakup semua apa yang dapat kita lihat, kita dapat rasakan dan dapat kita ukur. Jadi termasuk dalam al-kaun ini adalah topik yang kita bicarakan: gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, dan tsunami. Mata fisik hanya mampu menjangkau al-kaun ini; demikian juga Sains.

Tetapi manusia berpotensi melampaui al-kaun ini. Rahasianya, menurut para sufi, kita memiliki selain mata-lahir juga mata-batin (Arab: bashirah). Sayangnya, daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”. Untuk menghalaunya kita perlu cahaya makrifat.

…. daya lihat mata-batin kita sering terhalangi oleh apa yang menurut istilah Al-Hikam “awan-awan al-kaun”.

Agar memperoleh sedikit gambaran mengenai hal berikut ini disajikan terjemahan Hikmah ke-14 dari hikmah ke-14 Al-Hikam karya Ibn Athaillah (Serambi, 2003):

Siapa yang melihat alam namun tidak menyaksikan Tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya, dan ‘surya” makrifat terhalangi baginya oleh “awan” benda-benda ciptaan.

(Faman raa al-kaun walam yasyhad fihi ao ‘indahu ao qablahu ao ba’dahu faad ‘a wazahu wujudul anwar, wahjibatu ‘anhu syumusul al-ma’arifi bisuhubi al-autsar).

Wallahualam….@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sunda_Strait_tsunami.

[2] https://www.liputan6.com/news/read/3855865/letusan-gunung-krakatau-1883-guncangkan-dunia-hingga-bulan-menjadi-biru.

[3] Citra satelit NASA memperkuat kekhawatiran ini.

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Lombok_Juli_2018.

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/2018_Sulawesi_earthquake_and_tsunami..

Memahami Peradaban Muslim Awal

Sumbangan Sukarela (Charitable Donation)

Sumbangan sukarela sangat disyukuri penulis: jazakallahu khaira. Sumbangan dimaksudkan untuk mengganti "opportunity cost" yang telah didekasikan untuk penyiapan buku ini dan untuk menyipakan karya serupa yang tengah berlangsung.

$2.00

 

[For English version Clik HERE}

Untuk pemahaman yang lebih baik tentang sejarah awal peradaban Muslim.

Buku ini memberi Anda bahan bacaan ringan dan enak dibaca untuk memahami asal-usul dan dinamika peradaban Muslim awal.

Dalam buku ini, Anda akan memperoleh gambaran yang jelas-tapi-padat mengenai:

Konteks sejarah kelahiran Agama Islam sebagai siklus terakhir dari tradisi monoteisme Nabi Ibrahim AS;

Penolakan sengit kaum Kuffar Mekah terhadap pesan ajaran tauhid dan kemanusian yang disampaikan oleh agama ini;

Hijrah atau migrasi paksa komunitas Muslim dari Mekah ke Madinah yang menandai munculnya peradaban Muslim (Umat);

Tantangan yang dihadapi oleh Umat awal di Madinah untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan untuk menginisiasi lahirnya peradaban unik dalam sejarah manusia;

Bagaimana Umat awal dipandu oleh Wahyu dan suri teladan Rasul SAW selama sekitar 23 tahun di era Mekah dan Madinah; dan

Warisan Rasul SAW kepada Umat dan refleksi mengenainya.

Jika Anda memiliki komitmen untuk memperluas dan memperdalam pemahaman peradaban Muslim awal dalam waktu singkat serta berbasis referensi yang dapt diandalkan maka BUKU INI adalah tepat untuk Anda.

Hijrah: Landasan Pacu Peradaban Umat

Sumber Gambar: Google

Selamat bagi yang merayakan Tahun Baru Hijriyah!

Mengenai perayaan ini itu layak disisipkan dua catatan berikut:

  • Umat merayakannya secara beragam sesuai tradisi budaya setempat. Atau tidak merayakan sama-sekali. Dengan kata lain, ini soal ekspresi budaya.
  • Perayaan ini tidak dilakukan dalam era Rasul SAW; tidak juga dalam era khalifah pertamanya, Abu Bakar RA. Demikianlah karena sistem kalender Islam yang dikenal sebagai Kalender Hijriyah baru dikenal dalam era Khalifah ke-3, Umar RA.

Istilah Kalender Hijriyah menunjukkan bahwa bahwa sistem penanggalan ini terkait dengan peristiwa Hijrah, peristiwa perpindahan permanen dari Kota mekah ke Kota Yatsrib (kemudian diganti dengan Madinah an-Nabi tetapi kata an-Nabi segera dihapus), oleh Rasul SAW bersama komunitas Muslim yang berjumlah kecil. Peristiwa ini terjadi tahun 620 Masehi atau sekitar 14 abad lalu menurut sistem Kalender Masehi. Umar RA menetapkan peristiwa ini sebagai titik tolak penanggalan sistem Kalender Hijriyah. Pertanyaannya, mengapa?

Kenapa peristiwa Hijrah dipilih sebagai titik tolak peradaban Umat dan bukannya peristiwa lain yang juga bersifat historis dalam Sejarah Islam termasuk kelahiran Rasul SAW (570/571) atau turunnya wahyu pertama (610) Agaknya hanya Umar RA ang dapat memberikan jawaban meyakinkan terhadap pertanyaan ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga-duga reasoning beliau berdasarkan beberapa fakta berikut:

  • Populasi komunitas Muslim sebelum-Hijrah masih sangat kecil, terlalu kecil untuk menjadi bibit Umat yang berbobot. (Umat berarti komunitas Muslim atau penganut agama Islam.)
  • Wahyu yang diturunkan sebelum-Hijrah lebih terfokus pada ajaran keyakinan agama (Iman) dan kehidupan akhirat, kehidupan dunia-atas-sana. Karakteristik wahyu ini dapat dikenali melalui surat-surat pendek  Al-Quran. Ajaran Ini tentu belum cukup untuk membangun peradaban di dunia-bawah-sini berdasarkan acuan normatif yang diturunkan dari dunia-atas-sana. Ajaran Islam sangat menghargai kehidupan dunia sebagai satu-satunya kesempatan sarana-amal bagi kehidupan akhirat sekalipun yang pertama bukan tujuan dalam dirinya sendiri. Islam menghendaki Umat tidak mengabaikan kehidupan dunia (QS 28: 77) dan memperoleh kebahagiaan (Arab: hasanah) di akhirat dan kebahagiaan di dunia (QS 2:201).
  • Sebelum-Hijrah Umat tidak memiliki pijakan geografis yang dapat dijadikan sebagai modal dasar “negara” untuk membangun suatu peradaban besar secara bebas tanpa intimidasi kekuasaan seperti yang dialami Umat di Kota Mekah; dan
  • Jika sebelum-Hijrah soko guru Umat hanya kaum Muhajirin yang memiliki karakter luar biasa (QS 59:8), di Madinah soko gurunya diperkuat dengan bergabungnya kaum Ansar yang juga memiliki karakter luar biasa (QS 59:9).

Kombinasi Muhajirin-Ansar melahirkan bibit Umat yang unggul[1]. Bibit ini lolos-uji melalui berbagai perjuangan mempertahankan kelangsungan hidupnya menghadapi kaum kuffar Quraisy (artinya, benar-benar kafir) melalui Perang Badar ( 624 ), Perang Uhud (625) dan perang-perang lainnya. Umat ini juga lolos-uji dari rongrongan internal komunitas Yahudi dan para unsur kaum munafikin (orang-orang munafik) yang tidak kalah bahayanya. Dua kelompok terakhir ini berupaya mati-matian memadamkan “api” Islam yang mulai menyala.

Singkatnya, peradaban Umat dalam panggung dunia secara realistis-historis baru dapat direalisasikan pasca-Hijrah. Dengan kata lain, Hijrah adalah titik tolak, atau lebih tepat landasan pacu. Inilah barangkali landasan pikiran Umar RA, khalifah yang masyhur daya inovatifnya.

Penggunaan analogi landasan pacu dalam paragraf di atas tidak berlebihan mengingat kecepatan penyebaran peradaban Umat. Sebagai ilustrasi, hanya dalam 1.2  abad sejak Hijrah, tepatnya di akhir era khalifah Hisyam (memerintah 724-743) dari Dinasti Umayah, luas kekuasaan kekhalifahan membentang  pantai samudera Atlantik sampai batas-batas Cina sebagaimana diungkapkan Hitti (1961) dalam bukunya Histoy of the Arabs:

Di bawah kekuasaan ʻAbd-al-Malik dan dari empat putra yang menggantikannya, kekuasaan Damaskus mencapai puncak kekuasaan dan kemegahannya. Selama masa pemerintahan al-Walid dan Hisyam, kerajaan Islam mencapai ekspansi terbesarnya, membentang dari pantai Samudra Atlantik dan Pyrenees ke Indus dan batas-batas Cina — suatu tingkat yang sulit disaingi pada zaman kuno dan dilampaui di zaman modern hanya oleh Kerajaan Inggris dan Rusia. Untuk periode megah ini termasuk penaklukan Transoxiana, negara Eropa terbesar yang pernah dimiliki oleh Arab — Spanyol.

Peradaban Umat boleh dibilang paling beruntung bahkan unik dalam perspektif keseluruhan sejarah peradaban umat manusia. Paling ada tiga argumen mengenai hal ini:

  • Umat ini memiliki bibit unggul yang berbobot, kombinasi Muhajirin-Ansar yang masing-masing memiliki karakter luar biasa (bahkan dalam standar moral masa kini).
  • Dalam satu dekade perjalanan sejarahnya Umat dibimbing secara langsung seorang laki-laki pilihan (Arab: mustafa) yang memiliki kapasitas kepemimpinan luar biasa (bahkan dalam standar sekarang); dan
  • Dalam 10 tahun pertama dipandu secara langsung oleh wahyu yang dikenali melalui melalui surat-surat panjang Al-Quran, Surat-syurat Madaniyyah; wahyu yang diterima oleh rasul terakhir, dalam siklus terakhir kerasulan agama-agama langit (Aab: samawi) sejak Nabi Adam AS.

Tabel 1 menyajikan daftar pendek peristiwa perjalanan Umat dalam satu dekade pertamanya. Pada tabel itu tampak betapa sibuknya Rasul SAW dan para sahabat mengurusi isu-isu keumatan mempertahankan kelangsungan hidup Umat serta menorehkan prestasi gemilang, bukan isu-isu ibadah dalam arti sempit.

Ucapan terima kasih layak diberikan oleh Umat yang kini diperkirakan berjumlah 1.8 milyar jiwa[2] kepada Umar RA dengan amal inovatifnya menginisiasi Kalender Hijriyah. Juga untuk banyak amal inovatif lainnya termasuk:

  • Rekomendasi Kepada Rasul SAW untuk menggunakan adzan sebagai cara memanggil salat jamaah bagi Umat;
  • Mengomandoi perluasan wilayahi kekuasaan pemerintah Madinah ke luar Jazirah Arab sehingga mencakup Palestina dan sebagian kawasan Suriah dan Mesir; dan
  • Membangun sistem administrasi pemerintahan dalam kekhalifahannya untuk mengimbangi perluasan wilayah.

Rasul SAW agaknya pembaca karakter luar biasa ketika mengungkapkan kira-kira, “Seandainya bukan Muhammad SAW yang terpilih sebagai rasul maka Umar orangnya”.

Wallahualam…@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

 

Sulitnya Mempersatukan Umat

Kalau ada suatu ideal yang dihasratkan oleh Umat tetapi hampir tidak pernah diraih maka itu adalah persatuan Umat, dengan sedikit pengecualian tentunya. Dalam hal ini kata Umat digunakan untuk merujuk pada komunitas Muslim atau penganut Agama Islam.

Titik Keseimbangan

Kata Umat tercantum dalam teks suci Al-Quran Surat ke-2 ayat ke-143 (selanjutnya, QS 2:143) yang mengkarakterisasikan sebagai komunitas yang moderat (Arab: wasatha). Salah satu tafsir ayat ini, Umat (seyogianya) menempatkan diri pada titik keseimbangan tiga pilar agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan[1]. Wallahu’alamu bimradih! Dalam milah Ibrahim pilar pertama demikian ditekankan sehingga seolah-olah menyerap dua pilar lainnya. Dalam “agama” Musa AS dan Isa AS pilar ke-2 dan ke-3 yang ditekankan sehingga dua pilar lainnya seolah-oleh terserap. Terkait dengan tafsir ini dapat dirujuk kutipan Schuon (2002:87-88) berikut[2]:

Untuk menunjukkan bagaimana agama Muslim menganggap dirinya sebagai penyelesaian dan sintesis dari monoteisme sebelumnya, pertama-tama kita harus ingat bahwa unsur-unsur konstitutifnya adalah al-Iman, al-Islam, dan al-Ikhsan, istilah-istilah yang dapat dipadankan, tidak secara harfiah tetapi tetap memadai, dengan “Iman” (Faith), “Hukum” (Law) dan “Jalan” (Way). “Iman” berkorespondensi dengan yang pertama dari tiga monoteisme, yaitu dari Abraham; “Hukum” untuk yang kedua, dari Musa, dan “Jalan” dari ke yang ketiga, yaitu Yesus dan Maryam. Dalam Abrahamisme, unsur “Hukum” dan “Jalan” seolah-olah terserap oleh unsur “Iman”; dalam Musaisme, unsur “Hukum” yang mendominasi sehingga menyerap unsur “Iman” dan “Jalan”, dan dalam agama Kristen, “Jalan” yang menyerap dua elemen lainnya. Islam, mengandung ketiga unsur ini secara berdampingan dan membentuk keseimbangan sempurna.

Era Istimewa

Apakah kesatuan Umat mungkin? Ya, karena pernah dibuktikan dalam era Rasul SAW, era 10 tahun pertama peradaban Muslima (622-632). Periode ini adalah model ideal yang dapat dicapai (attainable). Karena dapat dicapai? Karena individu Umat seperti kita, manusia biasa. Lebih dari itu, Rasul SAW adalah juga manusia “seperti kalian” menurut narasi teks suci (QS 18:110); bedanya, beliau memperoleh wahyu.

Tetapi periode itu memang periode istimewa dilihat dalam tiga hal berikut:

  • Peradaban Umat dalam proses pembentukan dan masih dibimbing oleh wahyu (ayat-ayat Madaniyyah).
  • Umat masih dibimbing Rasul SAW yang memiliki kepemimpinan luar biasa serta memiliki “akhlak yang agung” menurut QS (68:4); dan
  • Komposisi utama pembentuk Umat terdiri dua kaum yang memiliki karakter luar biasa yaitu Kaum Muahajirin yang Kaum Ansar[3].

Karakter luar biasa dua kaum ini mereka diabadikan dalam teks suci:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keredaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (QS 59: 8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (QS 59:9).

Peradaban Umat dalam 10 tahun pertamanya mewarisi tiga pusaka: Quran, Sunnah Rasul SAW, dan persatuan jazirah Arab. Yang terakhir ini layak disebut pusaka karena ada adagium yang mengatakan bahwa salah satu kemustahilan dunia adalah mempersatukan suku-suku Arab. Capaian era istimewa ini secara apik dinarasikan oleh Amstrong (2002:33):

Kehidupan dan pencapaian Muhammad akan mempengaruhi visi spiritual, politis dan etis Muslim selamnya. Mereka mengekspresikan pengalaman Islami dari “penyelamatan”, yang tidak terdiri dari perbuatan “dosa asal” yang dilakukan Adam dan pengakuan terhadap kehidupan yang abadi, melainkan dalam pencapaian sebuah masyarakat yang mengamalkan kehendak Tuhan untuk ras manusia. Ia bukan hanya membebaskan Muslim dari neraka politis dan sosial yang ada di Arabia pada masa sebelum Islam, tetapi juga memberi mereka sebuah konteks yang di dalamnya mereka bisa dengan mudah tulus memasrahkan diri pada Tuhan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Capaian era istimewa ini sampai tarap tertentu dipertahankan dalam era dua khalifah pertama: Abu Bakar RA (memerintah 632-634) dan Umar RA (memerintah 634-644). Kenapa dua khalifah berhasil? Karena keduanya berpegang teguh pada tiga pusaka warisan Umat, kualitas kepemimpinan yang luar biasa, semangat “menggadaikan diri” pada kepentingan Umat, dan menjalani kehidupan rendah hati dan “super sederhana”.

Khalifah pertama berhasil mengatasi ancaman perpecahan Umat karena banyaknya suku Arab yang murtad; juga mulai merintis perluasan wilayah kekuasaan “negara” Madinah. Oleh Umar RA rintisan dilanjutkan bahkan diperluas sehingga wilayah kekuasaan Madinah mencapai sebagian kawasan Suriah, Irak, Palestina dan Mesir.

Gambaran kualitas kepemimpinan Abu Bakar RA terungkap dalam pidato pelantikannya sebagai khalifah sebagaimana dicantumkan dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Bedasarkan Sumber Klasik::

Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku, dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskan aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan, dan pengkhianatan. Orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga aku serahkan haknya, Insya Allah, dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga aku ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama selama aku menaati Allah dan Rasul-Ny. Namun jika tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah salat kalian, Tuhan merahmati kalian (Lings, 1991:65).

Era Fitnah

Kesatuan Umat mulai goyah dalam era khalifah ketiga, Utsman RA (memerintah 644-656). Kepemimpinannya dinilai terlalu lemah untuk mengendalikan syahwat kekuasaan dari keluarganya, Bani Umayah, yang sejak turun temurun merasa tersaingi oleh wibawa Bani Hasyim (buyut rasul SAW). Kelemahan “manusiawi” ini mulai merobek kesatuan Umat yang pada akhirnya menimbulkan fitnah pertama yaitu terbunuhnya Utsman RA oleh seorang Muslim, ya seorang Muslim.

Fitnah berlanjut pada era khalifah keempat, Ali RA (memerintah 656-661), bahkan meningkat. Puncaknya, Ali RA terbunuh, juga oleh seorang Muslim. Akibatnya, Umat mulai terkoyak dalam tiga kelompok atau mazhab besar: Sunni (mayoritas), Syiah (pencinta Ali RA) dan Khawarij (berasal dari kelompok Ali RA tetapi keluar dan mengambil sikap ekstrem).

Dalam suasana perpecahan ini berakhir era khulafaur rasyidin, empat khalifah yang memperoleh petunjuk, rightly-guided calips. Apa hikmahnya? Soal kesatuan Umat merupakan masalah pelik bahkan bagi tokoh sekaliber Utsman RA dan Ali RA.

Dengan wafatnya Ali RA, era khulafaur rasyidin berakhir dan mulai dinasti Umayah. Banyak yang menyebut namanya kerajaan Arab (arab Kingdom) sebagai pernyataan protes terhadp gaya kekhalifahannya yang sekuler. Yang jelas, mulai era ini dan seterusnya dalam sejarah peradaban Muslim, suksesi kepemimpinan sudah mengikuti garis keturunan (bloodline), model yang asing dalam tradisi Arab.

Dinasti Umayah didirikan oleh Muawiyah yang juga merupakan khalifah pertamanya. Terlepas dari kualitas pribadinya sebagai seorang Muslim, kepemimpinan diakui luar biasa. Di tengah perpecahan Umat dia berhasil mempertahankan alat pemersatu Umat, kekhalifahan, dan bahkan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah bahkan sampai ke kawasan India, Afrika Utara dan Spanyol.

Keberhasilan kepemimpinan Umayah tidak berarti tidak ada masalah kesatuan Umat. Kelompok sektarian di kalangan internal Umat yang marak pasca era Ali RA tidak pernah benar dapat diatasi oleh dinasti Umayah. Pemberontakan demi pemberontakan mulai marah dan mencapai puncaknya ketika seluruh keluarga Bani Umayah yang ditemui dibantai oleh pemberontak Muslim, ya Muslim.

Ramalan Rasul SAW

Itulah sejarah peradaban Muslim masa lalu dalam konteks persatuan Umat. Jadi, tidak perlu terlalu heran jika sekarang ini kita menyaksikan maraknya perpecahan Umat dalam berbagai bentuknya antara lain:

  • berbagai fitnah (perang sipil) antar faksi-faksi internal Umat di berbagai “negara Muslim” di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara,
  • permusuhan sektarian Sunni-Syiah,
  • perang saudara di Suriah dan Yaman yang menimbulkan berbagai bentuk tragedi kemanusiaan;
  • konflik Arab Saudi-Iran yang sampai sekarang tidak terlihat prospek penyelesaian yang realistis.

Dari peristiwa-peristiwa semacam ini kita memahami ramalan Rasul SAW bahwa Umat akan diperlakukan layaknya santapan lezat yang diperebutkan pihak lain. “Apakah ketika itu kita sedikit?” “Tidak, ketika itu kalian berjumlah banyak tetapi kualitasnya seperti buih yang tidak punya daya”. Demikianlah kira-kira dialog antara Rasul SAW dan para sahabat ketika ramalan itu disampaikan.

Apakah kini Umat sedikit? Tidak! Populasi Muslim kini mencapai sekitar 1.8 milyar[4]. Jadi; jangan-jangan kita tengah menyaksikan terjadinya ramalan Rasul SAW ini….@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/

[2] Schuon, F. (2002:87-88), Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, World Wisdom, Inc.

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/02/04/sejarah-singkat-muslim/