Ini eBook m/ Sejarah Muslim Awal

 

Buku ini (edited) gratis diakses tetapi “charitable donation” untuk “opportunity cost” penyiapannya disyukuri penulis.

Here is the link: https://drive.google.com/file/d/1SyDmxwUH9daKWbPRU6gViWeo5tRyy1pt/view?usp=sharing Note: the latest edit, 9 October 2018

$2.00

Advertisements

Hijrah: Landasan Pacu Peradaban Umat

Sumber Gambar: Google

Selamat bagi yang merayakan Tahun Baru Hijriyah!

Mengenai perayaan ini itu layak disisipkan dua catatan berikut:

  • Umat merayakannya secara beragam sesuai tradisi budaya setempat. Atau tidak merayakan sama-sekali. Dengan kata lain, ini soal ekspresi budaya.
  • Perayaan ini tidak dilakukan dalam era Rasul SAW; tidak juga dalam era khalifah pertamanya, Abu Bakar RA. Demikianlah karena sistem kalender Islam yang dikenal sebagai Kalender Hijriyah baru dikenal dalam era Khalifah ke-3, Umar RA.

Istilah Kalender Hijriyah menunjukkan bahwa bahwa sistem penanggalan ini terkait dengan peristiwa Hijrah, peristiwa perpindahan permanen dari Kota mekah ke Kota Yatsrib (kemudian diganti dengan Madinah an-Nabi tetapi kata an-Nabi segera dihapus), oleh Rasul SAW bersama komunitas Muslim yang berjumlah kecil. Peristiwa ini terjadi tahun 620 Masehi atau sekitar 14 abad lalu menurut sistem Kalender Masehi. Umar RA menetapkan peristiwa ini sebagai titik tolak penanggalan sistem Kalender Hijriyah. Pertanyaannya, mengapa?

Kenapa peristiwa Hijrah dipilih sebagai titik tolak peradaban Umat dan bukannya peristiwa lain yang juga bersifat historis dalam Sejarah Islam termasuk kelahiran Rasul SAW (570/571) atau turunnya wahyu pertama (610) Agaknya hanya Umar RA ang dapat memberikan jawaban meyakinkan terhadap pertanyaan ini. Walaupun demikian, kita dapat menduga-duga reasoning beliau berdasarkan beberapa fakta berikut:

  • Populasi komunitas Muslim sebelum-Hijrah masih sangat kecil, terlalu kecil untuk menjadi bibit Umat yang berbobot. (Umat berarti komunitas Muslim atau penganut agama Islam.)
  • Wahyu yang diturunkan sebelum-Hijrah lebih terfokus pada ajaran keyakinan agama (Iman) dan kehidupan akhirat, kehidupan dunia-atas-sana. Karakteristik wahyu ini dapat dikenali melalui surat-surat pendek  Al-Quran. Ajaran Ini tentu belum cukup untuk membangun peradaban di dunia-bawah-sini berdasarkan acuan normatif yang diturunkan dari dunia-atas-sana. Ajaran Islam sangat menghargai kehidupan dunia sebagai satu-satunya kesempatan sarana-amal bagi kehidupan akhirat sekalipun yang pertama bukan tujuan dalam dirinya sendiri. Islam menghendaki Umat tidak mengabaikan kehidupan dunia (QS 28: 77) dan memperoleh kebahagiaan (Arab: hasanah) di akhirat dan kebahagiaan di dunia (QS 2:201).
  • Sebelum-Hijrah Umat tidak memiliki pijakan geografis yang dapat dijadikan sebagai modal dasar “negara” untuk membangun suatu peradaban besar secara bebas tanpa intimidasi kekuasaan seperti yang dialami Umat di Kota Mekah; dan
  • Jika sebelum-Hijrah soko guru Umat hanya kaum Muhajirin yang memiliki karakter luar biasa (QS 59:8), di Madinah soko gurunya diperkuat dengan bergabungnya kaum Ansar yang juga memiliki karakter luar biasa (QS 59:9).

Kombinasi Muhajirin-Ansar melahirkan bibit Umat yang unggul[1]. Bibit ini lolos-uji melalui berbagai perjuangan mempertahankan kelangsungan hidupnya menghadapi kaum kuffar Quraisy (artinya, benar-benar kafir) melalui Perang Badar ( 624 ), Perang Uhud (625) dan perang-perang lainnya. Umat ini juga lolos-uji dari rongrongan internal komunitas Yahudi dan para unsur kaum munafikin (orang-orang munafik) yang tidak kalah bahayanya. Dua kelompok terakhir ini berupaya mati-matian memadamkan “api” Islam yang mulai menyala.

Singkatnya, peradaban Umat dalam panggung dunia secara realistis-historis baru dapat direalisasikan pasca-Hijrah. Dengan kata lain, Hijrah adalah titik tolak, atau lebih tepat landasan pacu. Inilah barangkali landasan pikiran Umar RA, khalifah yang masyhur daya inovatifnya.

Penggunaan analogi landasan pacu dalam paragraf di atas tidak berlebihan mengingat kecepatan penyebaran peradaban Umat. Sebagai ilustrasi, hanya dalam 1.2  abad sejak Hijrah, tepatnya di akhir era khalifah Hisyam (memerintah 724-743) dari Dinasti Umayah, luas kekuasaan kekhalifahan membentang  pantai samudera Atlantik sampai batas-batas Cina sebagaimana diungkapkan Hitti (1961) dalam bukunya Histoy of the Arabs:

Di bawah kekuasaan ʻAbd-al-Malik dan dari empat putra yang menggantikannya, kekuasaan Damaskus mencapai puncak kekuasaan dan kemegahannya. Selama masa pemerintahan al-Walid dan Hisyam, kerajaan Islam mencapai ekspansi terbesarnya, membentang dari pantai Samudra Atlantik dan Pyrenees ke Indus dan batas-batas Cina — suatu tingkat yang sulit disaingi pada zaman kuno dan dilampaui di zaman modern hanya oleh Kerajaan Inggris dan Rusia. Untuk periode megah ini termasuk penaklukan Transoxiana, negara Eropa terbesar yang pernah dimiliki oleh Arab — Spanyol.

Peradaban Umat boleh dibilang paling beruntung bahkan unik dalam perspektif keseluruhan sejarah peradaban umat manusia. Paling ada tiga argumen mengenai hal ini:

  • Umat ini memiliki bibit unggul yang berbobot, kombinasi Muhajirin-Ansar yang masing-masing memiliki karakter luar biasa (bahkan dalam standar moral masa kini).
  • Dalam satu dekade perjalanan sejarahnya Umat dibimbing secara langsung seorang laki-laki pilihan (Arab: mustafa) yang memiliki kapasitas kepemimpinan luar biasa (bahkan dalam standar sekarang); dan
  • Dalam 10 tahun pertama dipandu secara langsung oleh wahyu yang dikenali melalui melalui surat-surat panjang Al-Quran, Surat-syurat Madaniyyah; wahyu yang diterima oleh rasul terakhir, dalam siklus terakhir kerasulan agama-agama langit (Aab: samawi) sejak Nabi Adam AS.

Tabel 1 menyajikan daftar pendek peristiwa perjalanan Umat dalam satu dekade pertamanya. Pada tabel itu tampak betapa sibuknya Rasul SAW dan para sahabat mengurusi isu-isu keumatan mempertahankan kelangsungan hidup Umat serta menorehkan prestasi gemilang, bukan isu-isu ibadah dalam arti sempit.

Ucapan terima kasih layak diberikan oleh Umat yang kini diperkirakan berjumlah 1.8 milyar jiwa[2] kepada Umar RA dengan amal inovatifnya menginisiasi Kalender Hijriyah. Juga untuk banyak amal inovatif lainnya termasuk:

  • Rekomendasi Kepada Rasul SAW untuk menggunakan adzan sebagai cara memanggil salat jamaah bagi Umat;
  • Mengomandoi perluasan wilayahi kekuasaan pemerintah Madinah ke luar Jazirah Arab sehingga mencakup Palestina dan sebagian kawasan Suriah dan Mesir; dan
  • Membangun sistem administrasi pemerintahan dalam kekhalifahannya untuk mengimbangi perluasan wilayah.

Rasul SAW agaknya pembaca karakter luar biasa ketika mengungkapkan kira-kira, “Seandainya bukan Muhammad SAW yang terpilih sebagai rasul maka Umar orangnya”.

Wallahualam…@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge/

 

Sulitnya Mempersatukan Umat

Kalau ada suatu ideal yang dihasratkan oleh Umat tetapi hampir tidak pernah diraih maka itu adalah persatuan Umat, dengan sedikit pengecualian tentunya. Dalam hal ini kata Umat digunakan untuk merujuk pada komunitas Muslim atau penganut Agama Islam.

Titik Keseimbangan

Kata Umat tercantum dalam teks suci Al-Quran Surat ke-2 ayat ke-143 (selanjutnya, QS 2:143) yang mengkarakterisasikan sebagai komunitas yang moderat (Arab: wasatha). Salah satu tafsir ayat ini, Umat (seyogianya) menempatkan diri pada titik keseimbangan tiga pilar agama yaitu Iman, Islam dan Ihsan[1]. Wallahu’alamu bimradih! Dalam milah Ibrahim pilar pertama demikian ditekankan sehingga seolah-olah menyerap dua pilar lainnya. Dalam “agama” Musa AS dan Isa AS pilar ke-2 dan ke-3 yang ditekankan sehingga dua pilar lainnya seolah-oleh terserap. Terkait dengan tafsir ini dapat dirujuk kutipan Schuon (2002:87-88) berikut[2]:

Untuk menunjukkan bagaimana agama Muslim menganggap dirinya sebagai penyelesaian dan sintesis dari monoteisme sebelumnya, pertama-tama kita harus ingat bahwa unsur-unsur konstitutifnya adalah al-Iman, al-Islam, dan al-Ikhsan, istilah-istilah yang dapat dipadankan, tidak secara harfiah tetapi tetap memadai, dengan “Iman” (Faith), “Hukum” (Law) dan “Jalan” (Way). “Iman” berkorespondensi dengan yang pertama dari tiga monoteisme, yaitu dari Abraham; “Hukum” untuk yang kedua, dari Musa, dan “Jalan” dari ke yang ketiga, yaitu Yesus dan Maryam. Dalam Abrahamisme, unsur “Hukum” dan “Jalan” seolah-olah terserap oleh unsur “Iman”; dalam Musaisme, unsur “Hukum” yang mendominasi sehingga menyerap unsur “Iman” dan “Jalan”, dan dalam agama Kristen, “Jalan” yang menyerap dua elemen lainnya. Islam, mengandung ketiga unsur ini secara berdampingan dan membentuk keseimbangan sempurna.

Era Istimewa

Apakah kesatuan Umat mungkin? Ya, karena pernah dibuktikan dalam era Rasul SAW, era 10 tahun pertama peradaban Muslima (622-632). Periode ini adalah model ideal yang dapat dicapai (attainable). Karena dapat dicapai? Karena individu Umat seperti kita, manusia biasa. Lebih dari itu, Rasul SAW adalah juga manusia “seperti kalian” menurut narasi teks suci (QS 18:110); bedanya, beliau memperoleh wahyu.

Tetapi periode itu memang periode istimewa dilihat dalam tiga hal berikut:

  • Peradaban Umat dalam proses pembentukan dan masih dibimbing oleh wahyu (ayat-ayat Madaniyyah).
  • Umat masih dibimbing Rasul SAW yang memiliki kepemimpinan luar biasa serta memiliki “akhlak yang agung” menurut QS (68:4); dan
  • Komposisi utama pembentuk Umat terdiri dua kaum yang memiliki karakter luar biasa yaitu Kaum Muahajirin yang Kaum Ansar[3].

Karakter luar biasa dua kaum ini mereka diabadikan dalam teks suci:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keredaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (QS 59: 8).

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (QS 59:9).

Peradaban Umat dalam 10 tahun pertamanya mewarisi tiga pusaka: Quran, Sunnah Rasul SAW, dan persatuan jazirah Arab. Yang terakhir ini layak disebut pusaka karena ada adagium yang mengatakan bahwa salah satu kemustahilan dunia adalah mempersatukan suku-suku Arab. Capaian era istimewa ini secara apik dinarasikan oleh Amstrong (2002:33):

Kehidupan dan pencapaian Muhammad akan mempengaruhi visi spiritual, politis dan etis Muslim selamnya. Mereka mengekspresikan pengalaman Islami dari “penyelamatan”, yang tidak terdiri dari perbuatan “dosa asal” yang dilakukan Adam dan pengakuan terhadap kehidupan yang abadi, melainkan dalam pencapaian sebuah masyarakat yang mengamalkan kehendak Tuhan untuk ras manusia. Ia bukan hanya membebaskan Muslim dari neraka politis dan sosial yang ada di Arabia pada masa sebelum Islam, tetapi juga memberi mereka sebuah konteks yang di dalamnya mereka bisa dengan mudah tulus memasrahkan diri pada Tuhan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Capaian era istimewa ini sampai tarap tertentu dipertahankan dalam era dua khalifah pertama: Abu Bakar RA (memerintah 632-634) dan Umar RA (memerintah 634-644). Kenapa dua khalifah berhasil? Karena keduanya berpegang teguh pada tiga pusaka warisan Umat, kualitas kepemimpinan yang luar biasa, semangat “menggadaikan diri” pada kepentingan Umat, dan menjalani kehidupan rendah hati dan “super sederhana”.

Khalifah pertama berhasil mengatasi ancaman perpecahan Umat karena banyaknya suku Arab yang murtad; juga mulai merintis perluasan wilayah kekuasaan “negara” Madinah. Oleh Umar RA rintisan dilanjutkan bahkan diperluas sehingga wilayah kekuasaan Madinah mencapai sebagian kawasan Suriah, Irak, Palestina dan Mesir.

Gambaran kualitas kepemimpinan Abu Bakar RA terungkap dalam pidato pelantikannya sebagai khalifah sebagaimana dicantumkan dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Bedasarkan Sumber Klasik::

Aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku, dan jika aku melakukan kesalahan, maka luruskan aku. Bersungguh-sungguh kepada kebenaran adalah kesetiaan, dan pengkhianatan. Orang yang paling lemah di antara kalian akan menjadi kuat di sisiku, hingga aku serahkan haknya, Insya Allah, dan orang yang paling kuat di antara kalian akan menjadi lemah di sisiku, hingga aku ambil harta yang bukan haknya, insya Allah. Taatilah aku selama selama aku menaati Allah dan Rasul-Ny. Namun jika tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keharusan bagi kalian untuk taat kepadaku! Tegakkanlah salat kalian, Tuhan merahmati kalian (Lings, 1991:65).

Era Fitnah

Kesatuan Umat mulai goyah dalam era khalifah ketiga, Utsman RA (memerintah 644-656). Kepemimpinannya dinilai terlalu lemah untuk mengendalikan syahwat kekuasaan dari keluarganya, Bani Umayah, yang sejak turun temurun merasa tersaingi oleh wibawa Bani Hasyim (buyut rasul SAW). Kelemahan “manusiawi” ini mulai merobek kesatuan Umat yang pada akhirnya menimbulkan fitnah pertama yaitu terbunuhnya Utsman RA oleh seorang Muslim, ya seorang Muslim.

Fitnah berlanjut pada era khalifah keempat, Ali RA (memerintah 656-661), bahkan meningkat. Puncaknya, Ali RA terbunuh, juga oleh seorang Muslim. Akibatnya, Umat mulai terkoyak dalam tiga kelompok atau mazhab besar: Sunni (mayoritas), Syiah (pencinta Ali RA) dan Khawarij (berasal dari kelompok Ali RA tetapi keluar dan mengambil sikap ekstrem).

Dalam suasana perpecahan ini berakhir era khulafaur rasyidin, empat khalifah yang memperoleh petunjuk, rightly-guided calips. Apa hikmahnya? Soal kesatuan Umat merupakan masalah pelik bahkan bagi tokoh sekaliber Utsman RA dan Ali RA.

Dengan wafatnya Ali RA, era khulafaur rasyidin berakhir dan mulai dinasti Umayah. Banyak yang menyebut namanya kerajaan Arab (arab Kingdom) sebagai pernyataan protes terhadp gaya kekhalifahannya yang sekuler. Yang jelas, mulai era ini dan seterusnya dalam sejarah peradaban Muslim, suksesi kepemimpinan sudah mengikuti garis keturunan (bloodline), model yang asing dalam tradisi Arab.

Dinasti Umayah didirikan oleh Muawiyah yang juga merupakan khalifah pertamanya. Terlepas dari kualitas pribadinya sebagai seorang Muslim, kepemimpinan diakui luar biasa. Di tengah perpecahan Umat dia berhasil mempertahankan alat pemersatu Umat, kekhalifahan, dan bahkan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah bahkan sampai ke kawasan India, Afrika Utara dan Spanyol.

Keberhasilan kepemimpinan Umayah tidak berarti tidak ada masalah kesatuan Umat. Kelompok sektarian di kalangan internal Umat yang marak pasca era Ali RA tidak pernah benar dapat diatasi oleh dinasti Umayah. Pemberontakan demi pemberontakan mulai marah dan mencapai puncaknya ketika seluruh keluarga Bani Umayah yang ditemui dibantai oleh pemberontak Muslim, ya Muslim.

Ramalan Rasul SAW

Itulah sejarah peradaban Muslim masa lalu dalam konteks persatuan Umat. Jadi, tidak perlu terlalu heran jika sekarang ini kita menyaksikan maraknya perpecahan Umat dalam berbagai bentuknya antara lain:

  • berbagai fitnah (perang sipil) antar faksi-faksi internal Umat di berbagai “negara Muslim” di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara,
  • permusuhan sektarian Sunni-Syiah,
  • perang saudara di Suriah dan Yaman yang menimbulkan berbagai bentuk tragedi kemanusiaan;
  • konflik Arab Saudi-Iran yang sampai sekarang tidak terlihat prospek penyelesaian yang realistis.

Dari peristiwa-peristiwa semacam ini kita memahami ramalan Rasul SAW bahwa Umat akan diperlakukan layaknya santapan lezat yang diperebutkan pihak lain. “Apakah ketika itu kita sedikit?” “Tidak, ketika itu kalian berjumlah banyak tetapi kualitasnya seperti buih yang tidak punya daya”. Demikianlah kira-kira dialog antara Rasul SAW dan para sahabat ketika ramalan itu disampaikan.

Apakah kini Umat sedikit? Tidak! Populasi Muslim kini mencapai sekitar 1.8 milyar[4]. Jadi; jangan-jangan kita tengah menyaksikan terjadinya ramalan Rasul SAW ini….@

[1] https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/

[2] Schuon, F. (2002:87-88), Forms and Substance in the Religion, “Insights into Muhammadan Phenomenon”, World Wisdom, Inc.

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2017/10/13/bibit-umat/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/02/04/sejarah-singkat-muslim/

 

 

Bibit Umat yang Berbobot

Sejarah membuktikan bahwa cikal-bakal atau bibit Umat Islam sangat berkualitas atau berbobot. Bobotnya dapat dianalogikan dengan, mengambil istilah dalam tanaman padi, VUTW (Varitas Unggul Tahan Wereng). Layaknya bibit VUTW, bibit Umat ini bukan saja mampu bertahan dari berbagai faktor yang mengancam kelangsungan hidup, tetapi juga mampu berkembang pesat dalam waktu yang sangat cepat dalam ukuran sejarah peradaban manusia.

Komunitas Kecil yang Berkarakter

Sulit membayangkan bahwa benih Umat berasal dari komunitas Kaum Muhajirin yang sangat kecil jumlahnya, mungkin kurang dari 100 keluarga. Indikasi kecilnya komunitas itu  terlihat menjelang Perang Badar ketika “ada 77 orang muhajirin di Madinah, dan semuanya turut serta kecuali tiga orang: menantunya Utsman, yang diminta menjaga isterinya yang sedang sakit, Thalhah dan Sa’id yang belum kembali dari pesisir” (Ling, 1991:257)[1]. Komunitas kecil ini terusir dari kampung-halamannya karena alasan keyakinan, “karena beriman kepada Allah, Tuhanmu” (al-Mumtahanah:1). Sekali pun kecil karakter mereka luar biasa sehingga memperoleh gelar “shaadiquun”:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (al-Hasyr:8).

Sebenarnya sulit memastikan besarnya komunitas ini karena mereka hijrah secara tersembunyi, dalam kelompok kecil, keluarga atau bahkan sendirian. Bagi sebagian Umat yang memutuskan tidak pindah, mereka terpaksa  melakukan ibadah, dakwah dan bahkan identitas keyakinan secara tersembunyi pula. Dengan alasan inilah–keterpaksaan beribadah dan dakwah secara tersembunyi-—maka konsep Umat sebagai suatu kolektif sosial baru dapat dikenakan secara kongkrit dalam Era Madinah.

Pada awalnya, benih Umat hanya dapat mengandalkan Kaum Muhajirin karena, sesuai Perjanjian Akabah, Kaum Ansar hanya berkewajiban untuk melindungi muhajirin ketika berada di dalam Kota Madinah. Walaupun demikian, menjelang Perang Badar, atas kehendak sendiri Kaum Ansar bergabung dengan pasukan Umat sehingga Rasul saw dapat mengerahkan secara total sekitar 350 anggota pasukan[2]. Mengingat kecilnya jumlah Kaum Muhajirin, maka bergabungnya Kaum Ansar tentunya sangat penting bahkan menentukan bagi kelangsungan hidup Umat, apalagi mengingat karakter mereka juga luar biasa sebagaimana didokumentasikan dalam nash:

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (Al-Hasyr:9).

Dengan bergabungnya Kaum Ansar yang bergelar muflihuun itu, bibit Umat semakin berbobot. Kaum ini merupakan mayoritas dalam formasi pasukan Perang Badar yang secara keseluruhan, menurut suatu riwayat,  berkekuatan 313 prajurit, 70 ekor unta, dan tidak lebih dari 3 ekor kuda. Dalam perang ini pasukan Umat seringkali harus mengendarai tunggangan secara bergantian karena sangat tarbatasnya sarana tunggangan yang tersedia ketika itu. Dalam kalkulasi manusiawi, kekuatan pasukan ini jelas terlalu kecil untuk menghadapi pasukan musuh yang diperkirakan berkekuatan 1,000 pasukan tentara dari Makkah dengan 600 orang pasukan berkuda (kavaleri) dan logistik, dilengkapi dengan 300 orang tentara cadangan yang merangkap sebagai regu musik dan 700 ekor unta[3].

Perang Badar adalah salah satu ujian terberat bagi Umat untuk menunjukkan diri sebagai Umat yang unggul. Tetapi itu bukan satu-satunya. Sejarah mencatat, selama masa kenabiannya Rasul saw terlibat langsung dalam 27 peperangan (besar atau kecil, termasuk semacam operasi militer dalam rangka mempersiapkan suatu peperangan), tujuh di anatarnya dipimpin langsung oleh beliau: Perang Badar Al-Kubra, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Bani Quraidhah, Perang Bani Musthaliq dari Bani Khuza’ah, Perang Khaibar, Perang Fath Makkah, Perang Hunain dan Perang Tabuk[4]. Dalam ajaran Islam perang diizinkan untuk membela diri dan dengan alasan yang tepat (Al-Hajj:39).

Pertolongan Rabb

Kembali ke soal Perang Badar, sekali pun kalah telak dalam hal kekuatan, pasukan Umat yang lemah (Arab: adzillah) ini dapat memenangkan peperangan ini secara meyakinkan. Kenapa menang? Utamanya karena pertolongan Rabb, Allah swt, sebagaimana diabadikan dalam Al-‘Imran (123-125):

Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukurinya.

(Ingatlah) ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apa tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”

“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

Di luar faktor pertolongan Rabb, faktor internal Umat tentunya juga penting, menjadi faktor sababiah (meminjam istilah kaum santri) bagi kemengan itu. Hal ini terlihat dari Ayat 125 yang mengesankan bahwa bantuan malaikat mensyaratkan kesabaran dan ketakwaan dari pihak Umat. Dua kualifikasi ini– kesabaran dan ketakwaan– yang antara lain mencirikan keunggulan dan ketahanan Umat dalam menghadapi ancaman “hama wereng” dalam wujud Kaum Kafir Quraisy, Kaum Kafir Ahli Kitab (khususnya Yahudi), Kaum Munafik, dan suku-suku di jazirah Arabia yang karena kejahilyahnnya bersikap memusuhi Umat. Mengenai Ahli Kitab nash mengingatkan bahwa sebagian mereka sebenarnya tergolong saleh: “membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat)”, “beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegara (mengerjakan) berbagai kebaikan”  (Al-Imran:113-114).

Mengenai unsur kesabaran ini Al-Imran (152) mengesankan bahwa kekalahan Perang Uhud (sekalipun kekalahannya tidak fatal) terkait antara lain dengan ketidaksabaran sebagian pasukan Umat– regu pemanah yang diperintahkan Rasul saw untuk tidak meninggalkan tempat yang ditetapkan—yang tergoda untuk segera mengumpulkan harta rampasan perang padahal pertempuran belum usai. Mengenai hakikat kemenagan ini ayat lain mengungkapkan:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Anfal:17).

Ayat ini sangat penting untuk menjaga kemurnian tauhid (ajaran keesaan Rabb) Umat. Ayat ini juga, seperti ayat lain yang serupa, tak pelak telah membantu membangun sikap rendah hati (humble) di kalangan Umat, suatu sikap yang didorong oleh kesadaran kongkrit bahwa di hadapan Rabb dirinya sangat kerdil[5]. Sikap rendah hati ini lah yang didemonstrasikan oleh Umat ketika terjadi peristiwa pembebasan Kota Mekah yang dramatis pada tahun 8 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun 630 Masehi. Kenapa dramatis? Karena dalam ukuran normal manusia (apalagi pada era itu) tidak masuk akal pasukan pemenang menaklukkan musuh bebuyutan tanpa meneteskan darah. Ini sejarah, bukan fiksi, yang membuktikan bahwa penyelesaian politik tanpa kekerasan bukan merupakan sesuatu yang utopis, melainkan dapat diterpakan dalam dunia nyata. Hal serupa, dalam era modern, juga dibuktikan oleh Mahatma Gandhi di India dan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Sumber: Google

Ekspansi dan Sumbanga Umat terhadap Peradaban

Jika di era awal hijriyah Umat memiliki pijakan konstitutional berupa Piagam Madinah (yang konon merupakan dokumen konstitusional modern yang pertama), maka di Era pembebasan Mekah Umat memiliki pijakan geografis dan demografis sehingga secara leluasa melaksanakan ajaran Islam, dakwah dan ekspansi di seluruh Jazirah Arabia. Yang terakhir ini sudah diinisiasi dalam era Rasul saw tetapi kelanjutannya berlangsung dalam era khulafaur rasyidin, era Khalifah-khalifah Abu Bakar RA, Umar RA, Ustman RA dan Ali RA. Di era-era berikutnya– Era Dinasti Ummayah[6], Abbasyiah, dan Utsmani[7]—perkembangan Umat mencapai sebagian kawasan Afrika, Asia bahkan Eropah. Umat terus berkembang sehingga kini diperkirakan berjumlah sekitar 2.4 milyar jiwa atau 31.5% dari populasi global. Lebih dari separuh dari total ini tinggal di empat negara: Indonesia (15.7%), India (12.5%), Pakistan (12.4%) dan Bangladesh (9.8%)[8].

Melalui pembebasan Mekah, keberadaan Umat sebagai suatu kolektif sosial[9] telah semakin kongkrit dan siap untuk tumbuh, berkembang dan berekspansi[10]. Hal ini dimungkinkan karena beberapa faktor yang unik dalam sejarah peradaban manusia:

  1. Pertama, setelah pembebasan Mekah, Umat masih sempat dibimbing langsung oleh Rasul saw sekitar dua tahun (beliau wafat tahun ke-3 Hijriyyah). Faktor ini krusial karena–dengan akhlaqnya yang agung (Al-Qalam:4) dan bertemparamen lemah-lembut (Al-“Imran:159)– Rasul saw mampu menyatukan suku-suku Arab yang secara historis suka bertikai dan berperang[11].
  2. Kedua, selama sisa hidup beliau masih berlanjut turunnya wahyu surat-surat Madaniyah (surat yang turun sejak era Madinah) yang sarat dengan ajaran-ajaran sosial dalam arti luas, mulai dari soal kehidupan keluarga yang islami, pengaturan harta warisan, sampai pada soal pengaturan penyelenggaraan kebijakan publik. Dengan surat-surat ini Umat beruntung dapat bimbingan “ajaran langit” secara berthap dan sistematis.
  3. Ketiga, Umat berkesempatan berinteraksi dengan wahyu dalam pengertian relatif banyaknya wahyu yang ditujukan langsung kepada mereka dan bersifat edukatif dan intsruktif. Sebagai ilustrasi, ketika sebagian umat merasa bersalah karena merasa tidak berdisiplin dalam mengikuti komando Rasul saw di tengah berlangsungnya Perang Uhud, nash secara tegas memaafkan mereka (Al-‘Imran:155), suatu penegasan yang secara manusiawi sangat penting dalam menjaga moral juang Umat. Sebagai ilustrasi lain, di tengah Perang Uhud ketika Umat berada di puncak kelelahan dan kesedihan, mereka diberi “rasa aman” berupa “kantuk” (Al-‘Imran:154), kantuk yang dapat memulihkan kebugaran mereka sehingga siap melanjutkan petempuran yang urung karena pasukan musuh terlanjur meninggalkan arena peperangan; dan
  4. Keempat, ajaran Islam yang unik dapat diterima dan dapat didakwahkan secara relatif mudah bagi umat-umat lain. Keunikannya antara lain terletak dalam hal: (a) ketegasan doktrin dan kesederhanan perumusannya (doktrin Tauhid), (b) ajaran sosialnya yang praktis, egalitarian dan bias pada kelompok mustadh’afiin (kaum terpinggirkan); dan (c) vitalitas ajaran yang mendorong secara optimal pemanfaatan seluruh fakultas ruhaniah yang khas manusia (inteligensi-hati; cipta-karsa).

Dua yang pertama dapat dilihat sebagai faktor daya tarik luar biasa bagi masyarakat di luar Umat yang selama ini berada dalam tekanan kekuasaan salah satu dua imperium yang sudah sangat mapan yaitu Imperium Romawi dan Imperium Persia. Yang terakhir memungkinkan tumbuh-suburnya perdaban manusia dalam hampir semua bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan dan filsafat, yang mencapai puncaknya dalam era Kahlifah Harus Ar-Rasyid dan anaknya Khalifah Makmun.

Yang layak dicatat di sini adalah bahwa dalam dinasti Ababasyiah energi Umat difokuskan pada upaya-upaya yang terkait dengan perkembangan ilmu dan filsafat. Dalam dinasti inilah hidup Imam-imam madzhab hukum Islam yang empat: Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M). Yang juga layak dicatat, popularitas Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M):

Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun ar-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi[12].

Bobot Umat yang unggul juga terlihat dari sumbangan mereka terhadap perkembangan filsafat yang juga sangat signifikan sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut ini[13]:

Those familiar with this tradition have long recognized its profound influence on medieval Christian and Jewish thought, as well as the pivotal role that Islamic philosophers played in preserving and transmitting the legacy of classical Greek thought to Europe. True as this picture is, it is incomplete, because it overlooks the intrinsic value of Islamic philosophy. This is a vital, flourishing tradition in its own right, one that needs to be approached not just from the perspective of its European beneficiaries, but on its own terms as well (page: ix)

Mereka yang akrab dengan tradisi ini telah lama menyadari pengaruh mendalamnya pada pemikiran Kristen dan Yahudi abad pertengahan, serta peran penting yang dimainkan oleh para filsuf Islam dalam melestarikan dan mentransmisikan warisan pemikiran Yunani klasik ke Eropa. Gambar ini benar tetapi tidak lengkap karena mengabaikan nilai intrinsik filsafat Islam. Ini adalah tradisi yang vital dan berkembang dengan sendirinya, yang perlu didekati tidak hanya dari perspektif penerima manfaat Eropa, namun juga berdasarkan persyaratannya sendiri (halaman: ix).

Kesimpulan dan Pertanyaan

Uraian di atas menujukkan keunggulan Umat yang telah membuktikan diri mampu memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban manusia. Tetapi ini cerita dulu. Kini, sekalipun dengan populasi mencapai 2.4 milyar jiwa, agaknya tidak realistis bagi Umat untuk mengklaim sebagai “umat terbaik” (khaira ummah) (Al-Imran 110) dan berperan sebagai umat penengah (ummatan wasathan) (Al-Baqarah:143) sebagaimana dituntut agamanya[14]. Sebagai ilustrasi, dalam menghadapi tragedi Syria, Yaman dan Rohingya, kita belum melihat respon Umat secara agregat yang memadai bagi Umat terbaik dan Penengah.

Pertanyaan: Apakah sudah tiba masanya bagi Umat untuk menyandang kualitas “seperti buih mengapung” sebagaimana diramalkan oleh Rasul saw?

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Wallahu’alam……@

[1] Menurut Ling (1991: 268), hari H-nya Perang Badar adalah Jum’at 17/3/623M yang bertepatan dengan 17 Ramadhan 2H. Lihat Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din), Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, PT Serambi Ilmu Semesta.

[2] Ibid, halaman 257.

[3] http://islamadalahrahmah.blogspot.co.id/2011/12/perang-yang-pernah-dilalui-rasulullah.html

[4] Ibid

[5] Perasaan kerdil di hadapan Rabb biasanya dibarengi oleh sikap bermartabat (dignity) di hadapan sesama, suatu sikap yang menurut catatan sejarah sangat menonjol di kalangan pimpinan prajurit Umat.

[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Umayyah

[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[8] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[9] Kita belum bisa berbicara mengenai negara karena konsepnya—sebagaimana yang sekarang kita pahami — dalam era itu belum ada.

[10] Sejarah mencatat kemempuan ekspansi Umat yang luar biasa dari sisi waktu dan keluasan wilayah. Dalam era Dinasti Umayah yang menggantikan era khulafaur-rasyidin( Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA dan Ali RA), Umat dapat mencapai Afrika Utara dan masuki wilayah benua Eropa (Sepanyol). Dalam era Dinasti Utsmaniah, Umat menundukkan pusat imperium Romawi Timur (Bizantium) dan bahkan mendekati pusat peradaban Eropa melalui kawasan Eropa Timur, suatu peristiwa yang sudah diramalkan jauh sebelumnya (Ar-Ruum:1).

[11] Mengenai isu serupa lihat https://uzairsuhaimi.blog/2012/02/08/wahai-rasul/

[12] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah

[13] Groff, Peter S. with Oliver Leaman (2007), Islamic Philosophy A–Z, Edinburgh University Press Ltd, 22 George Square, Edinburgh.

[14] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/11/10/ummatan-wasataan/.

Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya

Penulis kerapkali bertanya apakah kita tengah berada dalam Kali Yuga, istilah yang dalam Kitab Suci Sankerta yang merujuk pada titik nadir atau titik terburuk dalam siklus alam yang besar?[1] Atau, seperti keluhan Ebiet G Ade dalam salah satu tembangnya, “Tuhan sedang marah”? Pertanyaan ini dipicu oleh serangkaian bencana kemanusiaan (humanitarian catastrophe) yang melanda kita akhir-akhir ini: Tsunami Aceh, Badai Harvey, Badai Irma, krisis Aleppo, dan Krisis Yaman, dan sebagainya. Sebagian bencana itu terjadi karena “alam”, sebagian karena “buatan-manusia” (man-made).

Kali ini dunia kembali menyaksikan bencana dalam bentuk pembersihan etnis (ethnic cleansing) Rohingya, minoritas etnis dan agama yang tinggal di negara bagian Rakhine, Burma. Berdasarkan laporan dari berbagai media masa, penggunaan istilah pembersihan etnis dalam konteks ini, sekalipun terkesan bombastis, tidak berlebihan karena sesuai fakta lapangan, berdasarkan kesaksian sejumlah korban, sesuai rekaman foto udara mengenai penghangusan ratusan rumah tinggal di kawasan negara bagian Rakhine, serta diverifikasi oleh sejumlah pihak, termasuk Right Groups [2].

Peristiwa penganiyaan Suku Rohigya yang tidak jarang disertai kekerasan sebenarnya bukan hal baru tetapi telah berlangsung lama bahkan beberapa dekade. Walaupun demikian, sejauh ini penganiyaan tidak pernah terjadi dalam skala sedahsyat seperti yang terjadi kali ini:

  • Kelompok hak asasi manusia Amnesty International telah merilis gambar satelit yang menurutnya menunjukkan sebuah “kampanye yang diatur” untuk membakar desa Rohingya di Myanmar barat.
  • Amnesty mengatakan ini adalah bukti bahwa pasukan keamanan berusaha untuk mendorong kelompok minoritas Muslim ke luar negeri.
  • Sedikitnya 30% desa Rohingya di negara bagian Rakhine sekarang kosong, kata pemerintah.
  • Sekitar 389.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan dimulai bulan lalu.[3]

Para korban mengungsi dalam keadaan putus asa sebagian besar kini menyesaki satu wilayah yang termasuk paling miskin Bangladesh yaitu Chittagong. Sebagian pengungsi tidak berhasil mencapai wilayah itu karena terbunuh di perjalanan. Oleh karena itu sebenarnya tidak mengherankan jika lembaga yang paling kredibel dalam kasus semacam ini, PBB, menyebutkan keadaan darurat politik dan kemanusiaan ini sebagai “text book” pembersihan etnis yang, seperti dilaporkan Alam (14 September), “akut, tidak stabil dan bisa menimbulkan ketidakstabilan di Bangladesh dan sekitarnya”[4].

Sumber: http://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2017/09/rohingya-crisis-explained-maps-170910140906580.html

Dari gambaran di atas jelas bahwa tragedi Rohingya memiriskan tetapi juga perlu disadari masalahnya kompleks dan multidimensi. Untuk memahami kompleksitas masalahnya, menurut Alam[5], ada lima hal pokok yang perlu dicermati.

  1. Ketidakseimbangan antara Pemicu dan Respon: Civilians are paying the price for a small, armed insurgency

Tragedi Rohingya dipicu oleh serangan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), satu kelompok pemberontak bersenjata dengan beberapa ratus pejuang, terhadap lebih dari 25 pos polisi militer dan perbatasan. Serangan ini dilaporkan telah membunuh selusin petugas keamanan Burma. Pemimpin kelompok ini, Ata Ullah, berasal dari suku Rohingya kelahiran Pakistan dan dibesarkan oleh kelompok militan di Arab Saudi. ARSA mengklaim bermaksud membentuk negara Muslim otonom untuk Rohingya. Burma mengklasifikasikannya sebagai kelompok teroris. Tidak jelas berapa banyak dukungan suku Rohingya terhadap kelompok ini.

Menghadapi peristiwa semacam ini wajar jika suatu negara melakukan suatu upaya pengamanan, sejauh itu patut dan proporsional. Masalahnya adalah pihak militer Burma meresponnya secara tidak patut dan tidak proporsional dengan cara melancarkan “operasi pembersihan” besar-besaran dan membabi-buta, suatu respon yang yang oleh komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia Zeid Ra’ad al-Hussein disebut “contoh buku teks pembersihan etnis.” (a textbook example of ethnic cleansing.”) Yang terjadi adalah kekerasan selektif (hanya menargetkan suku Rohingya) dan tanpa pandang bulu (termasuk anak-anak, wanita, dan manula) dan dilaporankan disertai pembantaian, pemerkosaan, penggunaan ranjau darat dan pembakaran rumah tinggal di sekitar 80 desa.

  1. Terkait Masalah Agama dan Etnis: “Yes, it’s about religion and ethnicity

Tragedi Rohingnya jelas terkait dengan masalah agama dan etnis yang dapat kita lihat dari sisi target (korban) dan pihak yang mengkapanyekan pembersihan etnis. Dalam tragedi ini yang menjadi target adalah minoritas Muslim dari suku Rohingya yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Burma, sementara pihak yang gencar mengkampanyekan pembersihan etnis adalah ekstremis sayap kanan yang kuat yang dipimpin oleh biksu Buddha. Kaum nasionalis Buddhis ini terorganisasi dengan baik, berpengaruh secara sosial dan sulit dikendalikan. Biarawan sangat aktif di media sosial dalam membentuk opini publik untuk mendukung pembersihan etnis. Mereka mengklaim berusaha membatasi pernikahan antaragama dan memurnikan bangsa Burma; mereka bahkan mempertanyakan keberadaan hak-hak orang non-Buddhis di Burma[6].

  1. Terkait dengan Masalah Sumberdaya Alam: “But it’s also about natural resources — especially land

Tragedi Rohingya bukan hanya sekadar perpecahan etnis dan politik identitas tetapi juga masalah sumber daya alam. Selama berabad-abad (jika bukan ribuan tahun) suku Rohingya telah tinggal di daerah Arakan, suatu wilayah yang terletak antara Burma dan Bangladesh. Secara historis, masyarakat petani bergerak bebas melewati batas wilayah itu tetapi begitu batas negara modern terbentuk, pergerakan itu dibatasi. Karena tanah menjadi aset yang berharga dan menguntungkan, suatu undang-undang mengenai agraria diperkenalkan oleh pemerintah junta militer dan meningkat pada tahun 1990an; sebagai akibatnya, para petani pedesaan kehilangan hak kepemilikan lahan pertanian dan kepemilikannya beralih kepada pihak lain.

Selama 50 tahun terakhir, militer Burma semakin membantu negara dan perusahaan besar dalam merebut tanah yang secara tradisional dikuasai para petani. Negara telah memperluas kontrol atas wilayah dan pasokan air untuk memajukan kepentingan ekonominya di sektor pertambangan, minyak, gas alam, kayu dan pertanian. Terlepas dari reformasi demokrasi baru-baru ini, kepemimpinan militer mempertahankan kekuatan luar biasa atas setiap sektor pemerintahan dan pengembangan bisnis. Dengan jargon ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pihak militer membiarkan investor China, Korea, Jepang dan multinasional lainnya bekerja di daerah-daerah yang dihuni oleh etnis minoritas seperti Rohingya, Karen, Mon dan Shan.

Aung San Suu Kyi telah memperoleh kritik internasional yang meningkat atas kegagalannya menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Yang perlu dicatat adalah bahwa Konstitusi Burma tidak memberikan otoritas yang nyata atas militer kepada “tokoh” itu.

Jadi siapa yang bisa menghentikan tragedi ini? Jawabannya, pemangku kepentingan internasional yang tertarik berbisnis dengan Burma. Catatan penting bagi mereka adalah perlunya mewaspadai biaya reputasi pihak militer serta memberikan tekanan kepada pimpinan militer untuk mengakhiri permusuhan dan kekerasan. Ini sangat mendesak dan bukan hanya untuk kepentingan populasi pengungsi. Kekerasan yang terus berlanjut dan populasi pengungsi yang meledak bisa semakin mengganggu kestabilan kawasan ini.

  1. Keterbatasan Kemampuan Bangladesh Menangani Krisis: “Bangladesh can’t deal with this crisis alone”

Saat ini yang paling banyak menanggung beban pengungsi Rohingya adalah Bangladesh. Yang perlu dicatat adalah bahwa negara itu relatif kecil dilihat dari luas wilayah (hanya seukuran Iowa, Amerika Serikat) tapi padat (berpenduduk sekitar 160 juta orang), PDB-nya hanya sekitar $ 1.500 PDB per kapita, juga sangat rentan terhadap perubahan iklim. Beberapa banjir terburuk dalam beberapa dekade baru saja melanda Bangladesh, negara yang “terbiasa” dengan bencana alam terjadi dan selalu menghadapi masalah pengkikisan daratan di garis pantai selatan.

Untuk saat ini, elit pemerintah Bangladesh dan elit politik menyambut para pengungsi Rohingya. Tapi setengah juta orang terlantar dengan cepat menjadi beban besar bagi negara miskin itu. Penduduk desa dan usaha kecil di Cox’s Bazaar, Teknaf dan daerah-daerah sekitarnya telah mengumpulkan sumber daya, membuka rumah mereka dan bahkan membantu mengubur orang mati.

Tapi berapa lama hal ini dapat bertahan? Bantuan bagi pengungsi dapat memicu berkembangnya kebencian karena persepsi ketidaksetaraan di antara penduduk asli yang kurang terlayani. Rohingya yang tidak berdokumen bepergian ke luar kamp ke daerah pedalaman, mencari peluang. Banyak penelitian dan bukti menunjukkan bahwa hal ini dapat menciptakan konflik dan persaingan baru mengenai sumber daya yang terbatas, terutama karena para pengungsi tinggal lebih lama dan berusaha untuk menetap secara permanen, seperti yang dapat kita lihat di mana-mana dari Timur Tengah sampai Eropa ke Amerika Serikat.

Sebagai catatan lain, Bangladesh adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan pemerintahan sekuler. Negara itu menghadapi ancaman ekstrem kekerasan yang meningkat dari garis keras Islam, beberapa bersekutu dengan jaringan transnasional seperti al-Qaeda atau negara Islam. Liga Awami yang memerintah telah menanggapi dengan menekan para pembangkang dengan taktik seperti penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum. Bergantung pada bagaimana Perdana Menteri Sheikh Hasina mengatasi krisis pengungsi dan tantangan keamanan dan ekonomi yang dihadapinya, kelompok oposisi dapat mencoba memanfaatkan situasi Muslim Rohingya. Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan partai Jamaat-e-Islamii Islam menuduh Liga Awami tidak cukup berbuat cukup untuk mendukung Rohingya. Koalisi yang berkuasa menuduh Jamaat mendukung militan di Rakhine, dan BNP menyebarkan “konspirasi” tentang tanggapan pemerintah terhadap bencana kemanusiaan.

  1. Harapan bagi Aktor Internasional: “No other international actor appears to be stepping in to help solve the political crisis”

Apakah Bangladesh bisa mengharapkan bantuan dari pihak lain di wilayah ini? Mungkin tidak. Sekalipun India secara tradisional adalah sekutu Hasina, Perdana Menteri Narendra Modi telah gagal mengkritik operasi militer Burma terhadap warga sipil. Selain itu, Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menggambarkan Rohingya yang berada di India sebagai imigran ilegal dan ancaman keamanan nasional.

Bagaimana dengan negara lain? Beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim dari Turki ke Malaysia telah mengutuk penganiayaan keras terhadap Rohingya namun belum terlibat dalam membantu mengatasi krisis tersebut. Pekan lalu, menteri luar negeri Indonesia bertemu dengan Suu Kyi dan kemudian mengunjungi rekannya dari Bangladesh untuk menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan krisis Rohingya.

Bagaimana dengan kekuatan regional dan global? SAARC (Asosiasi Asia untuk Kerjasama Regional) atau ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara), dua organisasi antar pemerintah regional telah mengupayakan solusi diplomatik tetapi belum menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa telah berupaya untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan yang mengerikan di lapangan, namun dilaporkan tidak membuat kemajuan dalam memecahkan masalah yang lebih besar yang telah mendorong Rohingya keluar dari rumah mereka. Bagaimana dengan OKI???

Uraian di atas menyajikan gambaran memiriskan dari tragedi Rohingnya dan kompleskitas masalahnya. Upaya-upaya penyelesaian masalah pada tingkat negara, regional dan global sudah dilakukan walaupun sejauh ini belum memberikan hasil yang optimal. Lalu apakah tidak ada cara yang mungkin? Harus ada karena seperti ditekankan Tun Khin, “….dapat dipecahkan jika kemauan politik ada di sana. Itu tidak akan mudah tapi bisa dilakukan. Satu-satunya alternatif adalah membiarkan kita dibunuh…(dan itu) telah menjadi pendekatan masyarakat internasional sejauh ini.

Kutipan di atas berasal dari Tun Khin, Presiden dari Orgnanisasi Rohingya Burma (the Burmese Rohingya Organisation) di Inggris[7]. Ia menyarankan ada perubahan kebijakan sebagaimana diungkapkannya[8]:

Perubahan besar dalam pendekatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat internasional jika kita mau menghentikan siklus kekerasan terhadap Rohingya ini. Pemerintah Burma perlu diberi tahu bahwa dukungan dan keuangan internasional bergantung pada perubahan kebijakan yang besar terhadap Rohingya. Propaganda dan hasutan kebencian dan kekerasan terhadap Rohingya harus dihentikan, undang-undang dan kebijakan yang diskriminatif harus dihilangkan, rekomendasi komisi Kofi Annan harus segera dilaksanakan dan secara penuh…. Sanksi harus dipertimbangkan terhadap perusahaan milik militer.

(A major change in approach is needed by the international community if we are ever going to stop this cycle of violence against the Rohingya. The government of Burma needs to be told that international support and finance is conditional on a major change in policy towards the Rohingya. Propaganda and incitement of hatred and violence against Rohingya must stop, discriminatory laws and policies must go, the recommendations of Kofi Annan’s commission must be implemented immediately and in full…. Sanctions should be considered against military owned companies.)

Semoga suara Tun ini memperoleh tanggapan kongkrit dan layak dari komunitas internasional…. @

Sumber: http://stream.aljazeera.com/story/201709070026-0025502

[1] Mengenai Kali Yuga lihat, misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Kali_Yuga.

[2] Laporan CNN, 16 September 2017 pukul sekitar 19.00.

[3] http://www.bbc.com/news/world-asia-41270891

[4] https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2017/09/14/5-things-you-need-to-know-about-rohingya-crisis-and-how-it-could-roil-southeast-asia/?utm_term=.2a8cc29d064b

[5] Ibid

[6] Dalam suatu wawancara televisi nasional Dubes kita melaporkan bahwa pihak pemerintah Myanmar sebenarnya telah melarang secara resmi kelompok ekstrimis ini. Kita tidak mengetahui secara persis yang terjadi di lapangan; yang jelas tindakan brutal dilaporkan tidak berkurang bahkan meningkat.

[7] http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2017/08/international-pressure-save-rohingya-170830122257236.html

[8] Ibid

Continue reading “Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya”

Sidik Jari Irma

Tidak seperti halnya hantu yang datang secara diam-diam, ia datang secara terang-terangan, bahkan dengan suara gemuruh yang menciutkan; seperti halnya iblis, ia datang meninggalkan sidik jari yang memiriskan. Itulah barangkali gambaran alegoris mengenai ulah Irma, badai yang baru saja meluluh-lantahkan wilayah Karibia dan Florida (AS)[1]. Sidik jari Irma menyakinkan dan terverifikasi: meyakinkan karena dapat dipastikan malapetaka itu dapat dipastikan ulah Irma, bukan yang lain; terverifikasi karena siapa pun dapat melihatnya sendiri wujud malapertaka itu.

Irma sebenarnya telah “melunak”: statusnya telah diturunkan dari badai (hurricance) menjadi sekadar depresi tropis, kecepatan angin menjadi hanya 35mph (mil per jam) dari sebelumnya 50 mph. Status dan kecepatan itu dinilai masih berpotensi membahayakan sehingga layak diwaspadai.

Untuk jejak Irma berikut ini disajikan ringkasan yang diberikan theguardian[2] yang merujuk pada keadaan Selasa pagi pukul 6.30am GMT (2.30am ET):

  1. Akibat Irma 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh Amerika Serikat: 6 di Florida, 3 di Georgia dan 1 di Carolina Selatan. (Catatan: Laporan CNN Rabu pagi WIB, 12 orang tewas.)
  2. Angka kematian di Karibia mencapai 37 setelah kematian pertama di Haiti dikonfirmasi. Menurut Unicef, sumbangan dan bantuan dari masyarakat internasional akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung. Inggris telah menjanjikan bantuan £ 32 juta sementara presiden Prancis, Emmanuel Macron, berangkat pada hari Senin untuk mengunjungi St. Martin.
  3. Skala kerusakan pada Florida Keys akan menjadi lebih jelas pada hari Selasa 7:00 ketika penduduk akan diijinkan masuk. Komunikasi terputus pada hari Senin sehingga arus informasi terbatas. Laporan dari komisaris kota Key West mengatakan bahwa makanan, air dan bahan bakar semakin berkurang, dan ada laporan korban tewas yang belum dikonfirmasi di daerah tersebut, diperkirakan akan terkena dampak parah setelah Irma mendarat di sana pada hari Minggu.
  4. Gubernur Florida, Rick Scott, mengatakan bahwa dia melihat “kehancuran” di Florida Keys, “Saya hanya berharap semua orang selamat,” katanya. “Mengerikan, apa yang kita lihat.”
  5. Rekam banjir bandang menyapu Jacksonville dari Sungai St Johns, sementara sekitar 13 juta orang ditinggalkan tanpa listrik di seluruh negara bagian di Florida.

Apakah ini azab (siksaan) atau balaa (cobaan)? Wallahu’alam. Yang jelas kita hanya dapat merespon akibatnya, bukan mencegah kejadiannya. Dalam konteks ini tampak relevan do’a yang seringkali dilantunkan oleh sebagian muslim: “Ya daafi’al balaa (Wahai Dzat pencegah balaa..),   dst….”, doa yang yang mengekspresikan keyakinan ketidak-berdayaan diri sekaligus sensibilitas ketergantungan kepada yang di Atas dalam menghadapi balaa. Apakah manusia memberikan sumbangsih terhadap kerusakan akibat balaa? Jawabannya “ya” bagi yang percaya akan teks suci berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebbkan karena perbuatan manusia; Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian dari (bukti) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesduahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) (Ar-Ruum, 41-42).

Wallahu’alam….@

Sumber gambar: Google

[1] Catatan awal mengenai Irma lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/09/pelajaran-dari-irma/

[2] https://www.theguardian.com/world/live/2017/sep/10/hurricane-irma-millions-brace-for-impact-as-superstorm-reaches-florida-live

Pelajaran dari Irma

Amerika Serikat (AS) tengah didera bencana alam, lagi. Kali ini Badai Irma yang dinilai dan terbukti “menghancurkan dan mematikan” (devastating and deadly). Sebelumnya, akhir Agustus lalu, negara adidaya ini didera Harvei, badai lain yang telah meninggalkan beragam “sidik jari” di kawasan Tenggara Texas[1]: wilayah Houston, misalnya, berupa guyuran sekitar 20 triliun galon air hujan, volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi Kota New York selama lebih dari lima dekade. Dapat dibayangkan kerusakan material yang diakibatkannya; yang jelas, terkait badai itu dilaporkan sekitar 50 jiwa meninggal.

Sementara upaya pemulihan akibat Badai Harvey masih berlangsung yang diperkirakan memerlukan anggaran sangat besar dan waktu yang lama (bulanan atau bahkan tahun), AS kini tengah sibuk menyiapkan kedatangan Irma yang dinilai lebih dahsyat dari Harvey dan diduga kuat akan mendarat di kawasan Florida. Menghadapi ini Gubernur negara bagian itu menyatakan sudah minta bantuan negara (bagian) lain dan pemerintah Federal[2]. Dia telah mewanti-wanti warganya untuk memfokuskan pada keselamatan jiwa: “rumah yang hancur dapat dibangun kembali tetapi jiwa yang hilang tidak dapat dikembalikan”, ujarnya kira-kira. Menurut laporan CNN, meghadapi bencana ini sekitar 17.000 volunter dibutuhkan di luar sumberdaya yang telah disediakan oleh pemerintah negara bagian dan federal.

Ketika tulisan ini tengah disiapkan, Irma dilaporkan telah meluntuh-lantahkan wilayah Karibia (Caribbian), suatu wilayah yang mencakup luas sekitar 2.8 juta km (daratan: 240.000 km), berpenduduk sekitar 44 juta, kepadatan 151.5/km persegi, dan 30 unit pemerintahan (13 negara merdeka; sisanya negara “jajahan” negara lain termasuk AS, Inggris, Prancis, Belanda). Korban Irma di wilayah Karibia secara keseluruhan mencakup sekitar 1.2 juta jiwa dan 26 juta lainnya dilaporkan memiliki risiko serupa. Di Barbuda saja badai itu telah menghancurkan sekitar 95% infrastruktur[3].

Ketika AS tengah sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi Badai Irma yang berkategori 5 dan sangat dihawatirkan akan memakan banyak korban jiwa (life threatening), Mexico sibuk menagatasi korban dan kerusakan gempa bumi berskala 8.1, terbesar dalam 100 tahun terakhir menurut presidennya. Di luar ini, ada ancaman lain: dua badai serupa tengah aktif “mengintip” wilayah Karibia.

karibia1

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean

Pelajaran apa yang dapat diambil? Yang jelas, bencana alam seperti ini di luar kendali kita. Adakah yang dapat menolong? Kebanyakan kita mungkin menjawab: “tidak ada, ini bencana alam”. Sebagian (kecil) kita yang memiliki kepekaan spiritual di atas rata-rata akan menjawab: “ada, Rabb, definitely! Surat al-Falaq mengingatkan ini[4]. Golongan terakhir ini merasa selalu tidak aman terhadap azab Tuhan: “

… dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azan Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (Al-Ma’arij: 26-28).

Tetapi sayangnya kita “pelupa-berat”, tabiat yang diabadikan dalam teks suci:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamtkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kemudian kamu (kembali) mempersekutukann-Nya (Al-An’aam:63-64).

Wallahu’alam…. @

[1] Mengenai topik ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Mantan Preseiden Bush dan Obama dilaporkan tenagh aktif menghimpun dana untuk membantu korban Harvey.

[3] Lihat misalnya http://www.express.co.uk/news/weather/850317/H.urricane-Irma-path-track-when-Irma-hit-Florida-US-latest-forecast-weather-models

[4] Mengenai relevansi surat ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/08/tragedi-badai-matthew-tragedi-aleppo-dan-jejak-ilahi/