Refleksi, Spiritual, Stat_Ketahanan_Sosial

Bibit Umat yang Berbobot: Suatu Refleksi

Sejarah membuktikan bahwa cikal-bakal atau bibit Umat Islam sangat berkualitas atau berbobot. Bobotnya dapat dianalogikan dengan, mengambil istilah dalam tanaman padi, VUTW (Varitas Unggul Tahan Wereng). Layaknya bibit VUTW, bibit Umat ini bukan saja mampu bertahan dari berbagai faktor yang mengancam kelangsungan hidup, tetapi juga mampu berkembang pesat dalam waktu yang sangat cepat dalam ukuran sejarah peradaban manusia.

Komunitas Kecil yang Berkarakter

Sulit membayangkan bahwa benih Umat berasal dari komunitas kecil Kaum Muhajirin yang sangat kecil jumlahnya, mungkin kurang dari 100 keluarga. Indikasi kecilnya komunitas itu  terlihat menjelang Perang Badar ketika “ada 77 orang muhajirin di Madinah, dan semuanya turut serta kecuali tiga orang: menantunya Utsman, yang diminta menjaga isterinya yang sedang sakit, Thalhah dan Sa’id yang belum kembali dari pesisir” (Ling, 1991:257)[1]. Komunitas kecil ini terusir dari kampung-halamannya karena alasan keyakinan, “karena beriman kepada Allah, Tuhanmu” (al-Mumtahanah:1). Sekali pun kecil karakter mereka luar biasa sehingga memperoleh gelar “shaadiquun”:

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir dari kaum Muhajirin (yang berhijrah) yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah shaadiquun, orang-orang yang benar (al-Hasyr:8).

Sebenarnya sulit memastikan besarnya komunitas ini karena mereka hijrah secara tersembunyi, dalam kelompok kecil, keluarga atau bahkan sendirian. Bagi sebagian Umat yang memutuskan tidak pindah, mereka terpaksa  melakukan ibadah, dakwah dan bahkan identitas keyakinan secara tersembunyi pula. Dengan alasan inilah–keterpaksaan beribadah dan dakwah secara tersembunyi-—maka konsep Umat sebagai suatu kolektif sosial baru dapat dikenakan secara kongkrit dalam Era Madinah.

Pada awalnya, benih Umat hanya dapat mengandalkan Kaum Muhajirin karena, sesuai Perjanjian Akabah, Kaum Ansar hanya berkewajiban untuk melindungi muhajirin ketika berada di dalam Kota Madinah. Walaupun demikian, menjelang Perang Badar, atas kehendak sendiri Kaum Ansar bergabung dengan pasukan Umat sehingga Rasul saw dapat mengerahkan secara total sekitar 350 anggota pasukan[2]. Mengingat kecilnya jumlah Kaum Muhajirin, maka bergabungnya Kaum Ansar tentunya sangat penting bahkan menentukan bagi kelangsungan hidup Umat, apalagi mengingat karakter mereka juga luar biasa sebagaimana didokumentasikan dalam nash:

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari syukhah (kekikiran), maka mereka itulah muflihuun, orang-orang yang beruntung (Al-Hasyr:9).

Dengan bergabungnya Kaum Ansar yang bergelar muflihuun itu, bibit Umat semakin berbobot. Kaum ini merupakan mayoritas dalam formasi pasukan Perang Badar yang secara keseluruhan, menurut suatu riwayat,  berkekuatan 313 prajurit, 70 ekor unta, dan tidak lebih dari 3 ekor kuda. Dalam perang ini pasukan Umat seringkali harus mengendarai tunggangan secara bergantian karena sangat tarbatasnya sarana tunggangan yang tersedia ketika itu. Dalam kalkulasi manusiawi, kekuatan pasukan ini jelas terlalu kecil untuk menghadapi pasukan musuh yang diperkirakan berkekuatan 1,000 pasukan tentara dari Makkah dengan 600 orang pasukan berkuda (kavaleri) dan logistik, dilengkapi dengan 300 orang tentara cadangan yang merangkap sebagai regu musik dan 700 ekor unta[3].

Perang Badar adalah salah satu ujian terberat bagi Umat untuk menunjukkan diri sebagai Umat yang unggul. Tetapi itu bukan satu-satunya. Sejarah mencatat, selama masa kenabiannya Rasul saw terlibat langsung dalam 27 peperangan (besar atau kecil, termasuk semacam operasi militer dalam rangka mempersiapkan suatu peperangan), tujuh di anatarnya dipimpin langsung oleh beliau: Perang Badar Al-Kubra, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Bani Quraidhah, Perang Bani Musthaliq dari Bani Khuza’ah, Perang Khaibar, Perang Fath Makkah, Perang Hunain dan Perang Tabuk[4]. Dalam ajaran Islam perang diizinkan untuk membela diri dan dengan alasan yang tepat (Al-Hajj:39).

Pertolongan Rabb

Kembali ke soal Perang Badar, sekali pun kalah telak dalam hal kekuatan, pasukan Umat yang lemah (Arab: adzillah) ini dapat memenangkan peperangan ini secara meyakinkan. Kenapa menang? Utamanya karena pertolongan Rabb, Allah swt, sebagaimana diabadikan dalam Al-‘Imran (123-125):

Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukurinya.

(Ingatlah) ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apa tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”

“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

Di luar faktor pertolongan Rabb, faktor internal Umat tentunya juga penting, menjadi faktor sababiah (meminjam istilah kaum santri) bagi kemengan itu. Hal ini terlihat dari Ayat 125 yang mengesankan bahwa bantuan malaikat mensyaratkan kesabaran dan ketakwaan dari pihak Umat. Dua kualifikasi ini– kesabaran dan ketakwaan– yang antara lain mencirikan keunggulan dan ketahanan Umat dalam menghadapi ancaman “hama wereng” dalam wujud Kaum Kafir Quraisy, Kaum Kafir Ahli Kitab (khususnya Yahudi), Kaum Munafik, dan suku-suku di jazirah Arabia yang karena kejahilyahnnya bersikap memusuhi Umat. Mengenai Ahli Kitab nash mengingatkan bahwa sebagian mereka sebenarnya tergolong saleh: “membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat)”, “beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegara (mengerjakan) berbagai kebaikan”  (Al-Imran:113-114).

Mengenai unsur kesabaran ini Al-Imran (152) mengesankan bahwa kekalahan Perang Uhud (sekalipun kekalahannya tidak fatal) terkait antara lain dengan ketidaksabaran sebagian pasukan Umat– regu pemanah yang diperintahkan Rasul saw untuk tidak meninggalkan tempat yang ditetapkan—yang tergoda untuk segera mengumpulkan harta rampasan perang padahal pertempuran belum usai. Mengenai hakikat kemenagan ini ayat lain mengungkapkan:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Anfal:17).

Ayat ini sangat penting untuk menjaga kemurnian tauhid (ajaran keesaan Rabb) Umat. Ayat ini juga, seperti ayat lain yang serupa, tak pelak telah membantu membangun sikap rendah hati (humble) di kalangan Umat, suatu sikap yang didorong oleh kesadaran kongkrit bahwa di hadapan Rabb dirinya sangat kerdil[5]. Sikap rendah hati ini lah yang didemonstrasikan oleh Umat ketika terjadi peristiwa pembebasan Kota Mekah yang dramatis pada tahun 8 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun 630 Masehi. Kenapa dramatis? Karena dalam ukuran normal manusia (apalagi pada era itu) tidak masuk akal pasukan pemenang menaklukkan musuh bebuyutan tanpa meneteskan darah. Ini sejarah, bukan fiksi, yang membuktikan bahwa penyelesaian politik tanpa kekerasan bukan merupakan sesuatu yang utopis, melainkan dapat diterpakan dalam dunia nyata. Hal serupa, dalam era modern, juga dibuktikan oleh Mahatma Gandhi di India dan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Sumber: Google

Ekspansi dan Sumbanga Umat terhadap Peradaban

Jika di era awal hijriyah Umat memiliki pijakan konstitutional berupa Piagam Madinah (yang konon merupakan dokumen konstitusional modern yang pertama), maka di Era pembebasan Mekah Umat memiliki pijakan geografis dan demografis sehingga secara leluasa melaksanakan ajaran Islam, dakwah dan ekspansi di seluruh Jazirah Arabia. Yang terakhir ini sudah diinisiasi dalam era Rasul saw tetapi kelanjutannya berlangsung dalam era khulafaur rasyidin, era Khalifah-khalifah Abu Bakar RA, Umar RA, Ustman RA dan Ali RA. Di era-era berikutnya– Era Dinasti Ummayah[6], Abbasyiah, dan Utsmani[7]—perkembangan Umat mencapai sebagian kawasan Afrika, Asia bahkan Eropah. Umat terus berkembang sehingga kini diperkirakan berjumlah sekitar 2.4 milyar jiwa atau 31.5% dari populasi global. Lebih dari separuh dari total ini tinggal di empat negara: Indonesia (15.7%), India (12.5%), Pakistan (12.4%) dan Bangladesh (9.8%)[8].

Melalui pembebasan Mekah, keberadaan Umat sebagai suatu kolektif sosial[9] telah semakin kongkrit dan siap untuk tumbuh, berkembang dan berekspansi[10]. Hal ini dimungkinkan karena beberapa faktor yang unik dalam sejarah peradaban manusia:

  1. Pertama, setelah pembebasan Mekah, Umat masih sempat dibimbing langsung oleh Rasul saw sekitar dua tahun (beliau wafat tahun ke-3 Hijriyyah). Faktor ini krusial karena–dengan akhlaqnya yang agung (Al-Qalam:4) dan bertemparamen lemah-lembut (Al-“Imran:159)– Rasul saw mampu menyatukan suku-suku Arab yang secara historis suka bertikai dan berperang[11].
  2. Kedua, selama sisa hidup beliau masih berlanjut turunnya wahyu surat-surat Madaniyah (surat yang turun sejak era Madinah) yang sarat dengan ajaran-ajaran sosial dalam arti luas, mulai dari soal kehidupan keluarga yang islami, pengaturan harta warisan, sampai pada soal pengaturan penyelenggaraan kebijakan publik. Dengan surat-surat ini Umat beruntung dapat bimbingan “ajaran langit” secara berthap dan sistematis.
  3. Ketiga, Umat berkesempatan berinteraksi dengan wahyu dalam pengertian relatif banyaknya wahyu yang ditujukan langsung kepada mereka dan bersifat edukatif dan intsruktif. Sebagai ilustrasi, ketika sebagian umat merasa bersalah karena merasa tidak berdisiplin dalam mengikuti komando Rasul saw di tengah berlangsungnya Perang Uhud, nash secara tegas memaafkan mereka (Al-‘Imran:155), suatu penegasan yang secara manusiawi sangat penting dalam menjaga moral juang Umat. Sebagai ilustrasi lain, di tengah Perang Uhud ketika Umat berada di puncak kelelahan dan kesedihan, mereka diberi “rasa aman” berupa “kantuk” (Al-‘Imran:154), kantuk yang dapat memulihkan kebugaran mereka sehingga siap melanjutkan petempuran yang urung karena pasukan musuh terlanjur meninggalkan arena peperangan; dan
  4. Keempat, ajaran Islam yang unik dapat diterima dan dapat didakwahkan secara relatif mudah bagi umat-umat lain. Keunikannya antara lain terletak dalam hal: (a) ketegasan doktrin dan kesederhanan perumusannya (doktrin Tauhid), (b) ajaran sosialnya yang praktis, egalitarian dan bias pada kelompok mustadh’afiin (kaum terpinggirkan); dan (c) vitalitas ajaran yang mendorong secara optimal pemanfaatan seluruh fakultas ruhaniah yang khas manusia (inteligensi-hati; cipta-karsa).

Dua yang pertama dapat dilihat sebagai faktor daya tarik luar biasa bagi masyarakat di luar Umat yang selama ini berada dalam tekanan kekuasaan salah satu dua imperium yang sudah sangat mapan yaitu Imperium Romawi dan Imperium Persia. Yang terakhir memungkinkan tumbuh-suburnya perdaban manusia dalam hampir semua bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan dan filsafat, yang mencapai puncaknya dalam era Kahlifah Harus Ar-Rasyid dan anaknya Khalifah Makmun.

Yang layak dicatat di sini adalah bahwa dalam dinasti Ababasyiah energi Umat difokuskan pada upaya-upaya yang terkait dengan perkembangan ilmu dan filsafat. Dalam dinasti inilah hidup Imam-imam madzhab hukum Islam yang empat: Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafi’i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M). Yang juga layak dicatat, popularitas Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M):

Kekayaan negara banyak dimanfaatkan Harun ar-Rasyid untuk keperluan sosial, dan mendirikan rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi[12].

Bobot Umat yang unggul juga terlihat dari sumbangan mereka terhadap perkembangan filsafat yang juga sangat signifikan sebagaimana tersirat dalam kutipan berikut ini[13]:

Those familiar with this tradition have long recognized its profound influence on medieval Christian and Jewish thought, as well as the pivotal role that Islamic philosophers played in preserving and transmitting the legacy of classical Greek thought to Europe. True as this picture is, it is incomplete, because it overlooks the intrinsic value of Islamic philosophy. This is a vital, flourishing tradition in its own right, one that needs to be approached not just from the perspective of its European beneficiaries, but on its own terms as well (page: ix)

Mereka yang akrab dengan tradisi ini telah lama menyadari pengaruh mendalamnya pada pemikiran Kristen dan Yahudi abad pertengahan, serta peran penting yang dimainkan oleh para filsuf Islam dalam melestarikan dan mentransmisikan warisan pemikiran Yunani klasik ke Eropa. Gambar ini benar tetapi tidak lengkap karena mengabaikan nilai intrinsik filsafat Islam. Ini adalah tradisi yang vital dan berkembang dengan sendirinya, yang perlu didekati tidak hanya dari perspektif penerima manfaat Eropa, namun juga berdasarkan persyaratannya sendiri (halaman: ix).

Kesimpulan dan Pertanyaan

Uraian di atas menujukkan keunggulan Umat yang telah membuktikan diri mampu memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban manusia. Tetapi ini cerita dulu. Kini, sekalipun dengan populasi mencapai 2.4 milyar jiwa, agaknya tidak realistis bagi Umat untuk mengklaim sebagai “umat terbaik” (khaira ummah) (Al-Imran 110) dan berperan sebagai umat penengah (ummatan wasathan) (Al-Baqarah:143) sebagaimana dituntut agamanya[14]. Sebagai ilustrasi, dalam menghadapi tragedi Syria, Yaman dan Rohingya, kita belum melihat respon Umat secara agregat yang memadai bagi Umat terbaik dan Penengah.

Pertanyaan: Apakah sudah tiba masanya bagi Umat untuk menyandang kualitas “seperti buih mengapung” sebagaimana diramalkan oleh Rasul saw?

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Wallahu’alam……@

[1] Menurut Ling (1991: 268), hari H-nya Perang Badar adalah Jum’at 17/3/623M yang bertepatan dengan 17 Ramadhan 2H. Lihat Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din), Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, PT Serambi Ilmu Semesta.

[2] Ibid, halaman 257.

[3] http://islamadalahrahmah.blogspot.co.id/2011/12/perang-yang-pernah-dilalui-rasulullah.html

[4] Ibid

[5] Perasaan kerdil di hadapan Rabb biasanya dibarengi oleh sikap bermartabat (dignity) di hadapan sesama, suatu sikap yang menurut catatan sejarah sangat menonjol di kalangan pimpinan prajurit Umat.

[6] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Umayyah

[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah

[8] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[9] Kita belum bisa berbicara mengenai negara karena konsepnya—sebagaimana yang sekarang kita pahami — dalam era itu belum ada.

[10] Sejarah mencatat kemempuan ekspansi Umat yang luar biasa dari sisi waktu dan keluasan wilayah. Dalam era Dinasti Umayah yang menggantikan era khulafaur-rasyidin( Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA dan Ali RA), Umat dapat mencapai Afrika Utara dan masuki wilayah benua Eropa (Sepanyol). Dalam era Dinasti Utsmaniah, Umat menundukkan pusat imperium Romawi Timur (Bizantium) dan bahkan mendekati pusat peradaban Eropa melalui kawasan Eropa Timur, suatu peristiwa yang sudah diramalkan jauh sebelumnya (Ar-Ruum:1).

[11] Mengenai isu serupa lihat https://uzairsuhaimi.blog/2012/02/08/wahai-rasul/

[12] https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah

[13] Groff, Peter S. with Oliver Leaman (2007), Islamic Philosophy A–Z, Edinburgh University Press Ltd, 22 George Square, Edinburgh.

[14] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/11/10/ummatan-wasataan/.

Advertisements
Standard
Refleksi, Stat_Ketahanan_Sosial

Bencana Kemanusiaan Rohingya: Skala dan Kompleksitasnya

Penulis kerapkali bertanya apakah kita tengah berada dalam Kali Yuga, istilah yang dalam Kitab Suci Sankerta yang merujuk pada titik nadir atau titik terburuk dalam siklus alam yang besar?[1] Atau, seperti keluhan Ebiet G Ade dalam salah satu tembangnya, “Tuhan sedang marah”? Pertanyaan ini dipicu oleh serangkaian bencana kemanusiaan (humanitarian catastrophe) yang melanda kita akhir-akhir ini: Tsunami Aceh, Badai Harvey, Badai Irma, krisis Aleppo, dan Krisis Yaman, dan sebagainya. Sebagian bencana itu terjadi karena “alam”, sebagian karena “buatan-manusia” (man-made).

Kali ini dunia kembali menyaksikan bencana dalam bentuk pembersihan etnis (ethnic cleansing) Rohingya, minoritas etnis dan agama yang tinggal di negara bagian Rakhine, Burma. Berdasarkan laporan dari berbagai media masa, penggunaan istilah pembersihan etnis dalam konteks ini, sekalipun terkesan bombastis, tidak berlebihan karena sesuai fakta lapangan, berdasarkan kesaksian sejumlah korban, sesuai rekaman foto udara mengenai penghangusan ratusan rumah tinggal di kawasan negara bagian Rakhine, serta diverifikasi oleh sejumlah pihak, termasuk Right Groups [2].

Peristiwa penganiyaan Suku Rohigya yang tidak jarang disertai kekerasan sebenarnya bukan hal baru tetapi telah berlangsung lama bahkan beberapa dekade. Walaupun demikian, sejauh ini penganiyaan tidak pernah terjadi dalam skala sedahsyat seperti yang terjadi kali ini:

  • Kelompok hak asasi manusia Amnesty International telah merilis gambar satelit yang menurutnya menunjukkan sebuah “kampanye yang diatur” untuk membakar desa Rohingya di Myanmar barat.
  • Amnesty mengatakan ini adalah bukti bahwa pasukan keamanan berusaha untuk mendorong kelompok minoritas Muslim ke luar negeri.
  • Sedikitnya 30% desa Rohingya di negara bagian Rakhine sekarang kosong, kata pemerintah.
  • Sekitar 389.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan dimulai bulan lalu.[3]

Para korban mengungsi dalam keadaan putus asa sebagian besar kini menyesaki satu wilayah yang termasuk paling miskin Bangladesh yaitu Chittagong. Sebagian pengungsi tidak berhasil mencapai wilayah itu karena terbunuh di perjalanan. Oleh karena itu sebenarnya tidak mengherankan jika lembaga yang paling kredibel dalam kasus semacam ini, PBB, menyebutkan keadaan darurat politik dan kemanusiaan ini sebagai “text book” pembersihan etnis yang, seperti dilaporkan Alam (14 September), “akut, tidak stabil dan bisa menimbulkan ketidakstabilan di Bangladesh dan sekitarnya”[4].

Sumber: http://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2017/09/rohingya-crisis-explained-maps-170910140906580.html

Dari gambaran di atas jelas bahwa tragedi Rohingya memiriskan tetapi juga perlu disadari masalahnya kompleks dan multidimensi. Untuk memahami kompleksitas masalahnya, menurut Alam[5], ada lima hal pokok yang perlu dicermati.

  1. Ketidakseimbangan antara Pemicu dan Respon: Civilians are paying the price for a small, armed insurgency

Tragedi Rohingya dipicu oleh serangan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), satu kelompok pemberontak bersenjata dengan beberapa ratus pejuang, terhadap lebih dari 25 pos polisi militer dan perbatasan. Serangan ini dilaporkan telah membunuh selusin petugas keamanan Burma. Pemimpin kelompok ini, Ata Ullah, berasal dari suku Rohingya kelahiran Pakistan dan dibesarkan oleh kelompok militan di Arab Saudi. ARSA mengklaim bermaksud membentuk negara Muslim otonom untuk Rohingya. Burma mengklasifikasikannya sebagai kelompok teroris. Tidak jelas berapa banyak dukungan suku Rohingya terhadap kelompok ini.

Menghadapi peristiwa semacam ini wajar jika suatu negara melakukan suatu upaya pengamanan, sejauh itu patut dan proporsional. Masalahnya adalah pihak militer Burma meresponnya secara tidak patut dan tidak proporsional dengan cara melancarkan “operasi pembersihan” besar-besaran dan membabi-buta, suatu respon yang yang oleh komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia Zeid Ra’ad al-Hussein disebut “contoh buku teks pembersihan etnis.” (a textbook example of ethnic cleansing.”) Yang terjadi adalah kekerasan selektif (hanya menargetkan suku Rohingya) dan tanpa pandang bulu (termasuk anak-anak, wanita, dan manula) dan dilaporankan disertai pembantaian, pemerkosaan, penggunaan ranjau darat dan pembakaran rumah tinggal di sekitar 80 desa.

  1. Terkait Masalah Agama dan Etnis: “Yes, it’s about religion and ethnicity

Tragedi Rohingnya jelas terkait dengan masalah agama dan etnis yang dapat kita lihat dari sisi target (korban) dan pihak yang mengkapanyekan pembersihan etnis. Dalam tragedi ini yang menjadi target adalah minoritas Muslim dari suku Rohingya yang tidak diakui kewarganegaraannya oleh Burma, sementara pihak yang gencar mengkampanyekan pembersihan etnis adalah ekstremis sayap kanan yang kuat yang dipimpin oleh biksu Buddha. Kaum nasionalis Buddhis ini terorganisasi dengan baik, berpengaruh secara sosial dan sulit dikendalikan. Biarawan sangat aktif di media sosial dalam membentuk opini publik untuk mendukung pembersihan etnis. Mereka mengklaim berusaha membatasi pernikahan antaragama dan memurnikan bangsa Burma; mereka bahkan mempertanyakan keberadaan hak-hak orang non-Buddhis di Burma[6].

  1. Terkait dengan Masalah Sumberdaya Alam: “But it’s also about natural resources — especially land

Tragedi Rohingya bukan hanya sekadar perpecahan etnis dan politik identitas tetapi juga masalah sumber daya alam. Selama berabad-abad (jika bukan ribuan tahun) suku Rohingya telah tinggal di daerah Arakan, suatu wilayah yang terletak antara Burma dan Bangladesh. Secara historis, masyarakat petani bergerak bebas melewati batas wilayah itu tetapi begitu batas negara modern terbentuk, pergerakan itu dibatasi. Karena tanah menjadi aset yang berharga dan menguntungkan, suatu undang-undang mengenai agraria diperkenalkan oleh pemerintah junta militer dan meningkat pada tahun 1990an; sebagai akibatnya, para petani pedesaan kehilangan hak kepemilikan lahan pertanian dan kepemilikannya beralih kepada pihak lain.

Selama 50 tahun terakhir, militer Burma semakin membantu negara dan perusahaan besar dalam merebut tanah yang secara tradisional dikuasai para petani. Negara telah memperluas kontrol atas wilayah dan pasokan air untuk memajukan kepentingan ekonominya di sektor pertambangan, minyak, gas alam, kayu dan pertanian. Terlepas dari reformasi demokrasi baru-baru ini, kepemimpinan militer mempertahankan kekuatan luar biasa atas setiap sektor pemerintahan dan pengembangan bisnis. Dengan jargon ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pihak militer membiarkan investor China, Korea, Jepang dan multinasional lainnya bekerja di daerah-daerah yang dihuni oleh etnis minoritas seperti Rohingya, Karen, Mon dan Shan.

Aung San Suu Kyi telah memperoleh kritik internasional yang meningkat atas kegagalannya menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Yang perlu dicatat adalah bahwa Konstitusi Burma tidak memberikan otoritas yang nyata atas militer kepada “tokoh” itu.

Jadi siapa yang bisa menghentikan tragedi ini? Jawabannya, pemangku kepentingan internasional yang tertarik berbisnis dengan Burma. Catatan penting bagi mereka adalah perlunya mewaspadai biaya reputasi pihak militer serta memberikan tekanan kepada pimpinan militer untuk mengakhiri permusuhan dan kekerasan. Ini sangat mendesak dan bukan hanya untuk kepentingan populasi pengungsi. Kekerasan yang terus berlanjut dan populasi pengungsi yang meledak bisa semakin mengganggu kestabilan kawasan ini.

  1. Keterbatasan Kemampuan Bangladesh Menangani Krisis: “Bangladesh can’t deal with this crisis alone”

Saat ini yang paling banyak menanggung beban pengungsi Rohingya adalah Bangladesh. Yang perlu dicatat adalah bahwa negara itu relatif kecil dilihat dari luas wilayah (hanya seukuran Iowa, Amerika Serikat) tapi padat (berpenduduk sekitar 160 juta orang), PDB-nya hanya sekitar $ 1.500 PDB per kapita, juga sangat rentan terhadap perubahan iklim. Beberapa banjir terburuk dalam beberapa dekade baru saja melanda Bangladesh, negara yang “terbiasa” dengan bencana alam terjadi dan selalu menghadapi masalah pengkikisan daratan di garis pantai selatan.

Untuk saat ini, elit pemerintah Bangladesh dan elit politik menyambut para pengungsi Rohingya. Tapi setengah juta orang terlantar dengan cepat menjadi beban besar bagi negara miskin itu. Penduduk desa dan usaha kecil di Cox’s Bazaar, Teknaf dan daerah-daerah sekitarnya telah mengumpulkan sumber daya, membuka rumah mereka dan bahkan membantu mengubur orang mati.

Tapi berapa lama hal ini dapat bertahan? Bantuan bagi pengungsi dapat memicu berkembangnya kebencian karena persepsi ketidaksetaraan di antara penduduk asli yang kurang terlayani. Rohingya yang tidak berdokumen bepergian ke luar kamp ke daerah pedalaman, mencari peluang. Banyak penelitian dan bukti menunjukkan bahwa hal ini dapat menciptakan konflik dan persaingan baru mengenai sumber daya yang terbatas, terutama karena para pengungsi tinggal lebih lama dan berusaha untuk menetap secara permanen, seperti yang dapat kita lihat di mana-mana dari Timur Tengah sampai Eropa ke Amerika Serikat.

Sebagai catatan lain, Bangladesh adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan pemerintahan sekuler. Negara itu menghadapi ancaman ekstrem kekerasan yang meningkat dari garis keras Islam, beberapa bersekutu dengan jaringan transnasional seperti al-Qaeda atau negara Islam. Liga Awami yang memerintah telah menanggapi dengan menekan para pembangkang dengan taktik seperti penghilangan paksa dan pembunuhan di luar hukum. Bergantung pada bagaimana Perdana Menteri Sheikh Hasina mengatasi krisis pengungsi dan tantangan keamanan dan ekonomi yang dihadapinya, kelompok oposisi dapat mencoba memanfaatkan situasi Muslim Rohingya. Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) dan partai Jamaat-e-Islamii Islam menuduh Liga Awami tidak cukup berbuat cukup untuk mendukung Rohingya. Koalisi yang berkuasa menuduh Jamaat mendukung militan di Rakhine, dan BNP menyebarkan “konspirasi” tentang tanggapan pemerintah terhadap bencana kemanusiaan.

  1. Harapan bagi Aktor Internasional: “No other international actor appears to be stepping in to help solve the political crisis”

Apakah Bangladesh bisa mengharapkan bantuan dari pihak lain di wilayah ini? Mungkin tidak. Sekalipun India secara tradisional adalah sekutu Hasina, Perdana Menteri Narendra Modi telah gagal mengkritik operasi militer Burma terhadap warga sipil. Selain itu, Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh menggambarkan Rohingya yang berada di India sebagai imigran ilegal dan ancaman keamanan nasional.

Bagaimana dengan negara lain? Beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim dari Turki ke Malaysia telah mengutuk penganiayaan keras terhadap Rohingya namun belum terlibat dalam membantu mengatasi krisis tersebut. Pekan lalu, menteri luar negeri Indonesia bertemu dengan Suu Kyi dan kemudian mengunjungi rekannya dari Bangladesh untuk menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan krisis Rohingya.

Bagaimana dengan kekuatan regional dan global? SAARC (Asosiasi Asia untuk Kerjasama Regional) atau ASEAN (Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara), dua organisasi antar pemerintah regional telah mengupayakan solusi diplomatik tetapi belum menunjukkan hasil. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa telah berupaya untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan yang mengerikan di lapangan, namun dilaporkan tidak membuat kemajuan dalam memecahkan masalah yang lebih besar yang telah mendorong Rohingya keluar dari rumah mereka. Bagaimana dengan OKI???

Uraian di atas menyajikan gambaran memiriskan dari tragedi Rohingnya dan kompleskitas masalahnya. Upaya-upaya penyelesaian masalah pada tingkat negara, regional dan global sudah dilakukan walaupun sejauh ini belum memberikan hasil yang optimal. Lalu apakah tidak ada cara yang mungkin? Harus ada karena seperti ditekankan Tun Khin, “….dapat dipecahkan jika kemauan politik ada di sana. Itu tidak akan mudah tapi bisa dilakukan. Satu-satunya alternatif adalah membiarkan kita dibunuh…(dan itu) telah menjadi pendekatan masyarakat internasional sejauh ini.

Kutipan di atas berasal dari Tun Khin, Presiden dari Orgnanisasi Rohingya Burma (the Burmese Rohingya Organisation) di Inggris[7]. Ia menyarankan ada perubahan kebijakan sebagaimana diungkapkannya[8]:

Perubahan besar dalam pendekatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat internasional jika kita mau menghentikan siklus kekerasan terhadap Rohingya ini. Pemerintah Burma perlu diberi tahu bahwa dukungan dan keuangan internasional bergantung pada perubahan kebijakan yang besar terhadap Rohingya. Propaganda dan hasutan kebencian dan kekerasan terhadap Rohingya harus dihentikan, undang-undang dan kebijakan yang diskriminatif harus dihilangkan, rekomendasi komisi Kofi Annan harus segera dilaksanakan dan secara penuh…. Sanksi harus dipertimbangkan terhadap perusahaan milik militer.

(A major change in approach is needed by the international community if we are ever going to stop this cycle of violence against the Rohingya. The government of Burma needs to be told that international support and finance is conditional on a major change in policy towards the Rohingya. Propaganda and incitement of hatred and violence against Rohingya must stop, discriminatory laws and policies must go, the recommendations of Kofi Annan’s commission must be implemented immediately and in full…. Sanctions should be considered against military owned companies.)

Semoga suara Tun ini memperoleh tanggapan kongkrit dan layak dari komunitas internasional…. @

Sumber: http://stream.aljazeera.com/story/201709070026-0025502

[1] Mengenai Kali Yuga lihat, misalnya, https://en.wikipedia.org/wiki/Kali_Yuga.

[2] Laporan CNN, 16 September 2017 pukul sekitar 19.00.

[3] http://www.bbc.com/news/world-asia-41270891

[4] https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2017/09/14/5-things-you-need-to-know-about-rohingya-crisis-and-how-it-could-roil-southeast-asia/?utm_term=.2a8cc29d064b

[5] Ibid

[6] Dalam suatu wawancara televisi nasional Dubes kita melaporkan bahwa pihak pemerintah Myanmar sebenarnya telah melarang secara resmi kelompok ekstrimis ini. Kita tidak mengetahui secara persis yang terjadi di lapangan; yang jelas tindakan brutal dilaporkan tidak berkurang bahkan meningkat.

[7] http://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2017/08/international-pressure-save-rohingya-170830122257236.html

[8] Ibid

Continue reading

Standard
Refleksi, Stat_Ketahanan_Sosial

Sidik Jari Irma

Tidak seperti halnya hantu yang datang secara diam-diam, ia datang secara terang-terangan, bahkan dengan suara gemuruh yang menciutkan; seperti halnya iblis, ia datang meninggalkan sidik jari yang memiriskan. Itulah barangkali gambaran alegoris mengenai ulah Irma, badai yang baru saja meluluh-lantahkan wilayah Karibia dan Florida (AS)[1]. Sidik jari Irma menyakinkan dan terverifikasi: meyakinkan karena dapat dipastikan malapetaka itu dapat dipastikan ulah Irma, bukan yang lain; terverifikasi karena siapa pun dapat melihatnya sendiri wujud malapertaka itu.

Irma sebenarnya telah “melunak”: statusnya telah diturunkan dari badai (hurricance) menjadi sekadar depresi tropis, kecepatan angin menjadi hanya 35mph (mil per jam) dari sebelumnya 50 mph. Status dan kecepatan itu dinilai masih berpotensi membahayakan sehingga layak diwaspadai.

Untuk jejak Irma berikut ini disajikan ringkasan yang diberikan theguardian[2] yang merujuk pada keadaan Selasa pagi pukul 6.30am GMT (2.30am ET):

  1. Akibat Irma 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh Amerika Serikat: 6 di Florida, 3 di Georgia dan 1 di Carolina Selatan. (Catatan: Laporan CNN Rabu pagi WIB, 12 orang tewas.)
  2. Angka kematian di Karibia mencapai 37 setelah kematian pertama di Haiti dikonfirmasi. Menurut Unicef, sumbangan dan bantuan dari masyarakat internasional akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung. Inggris telah menjanjikan bantuan £ 32 juta sementara presiden Prancis, Emmanuel Macron, berangkat pada hari Senin untuk mengunjungi St. Martin.
  3. Skala kerusakan pada Florida Keys akan menjadi lebih jelas pada hari Selasa 7:00 ketika penduduk akan diijinkan masuk. Komunikasi terputus pada hari Senin sehingga arus informasi terbatas. Laporan dari komisaris kota Key West mengatakan bahwa makanan, air dan bahan bakar semakin berkurang, dan ada laporan korban tewas yang belum dikonfirmasi di daerah tersebut, diperkirakan akan terkena dampak parah setelah Irma mendarat di sana pada hari Minggu.
  4. Gubernur Florida, Rick Scott, mengatakan bahwa dia melihat “kehancuran” di Florida Keys, “Saya hanya berharap semua orang selamat,” katanya. “Mengerikan, apa yang kita lihat.”
  5. Rekam banjir bandang menyapu Jacksonville dari Sungai St Johns, sementara sekitar 13 juta orang ditinggalkan tanpa listrik di seluruh negara bagian di Florida.

Apakah ini azab (siksaan) atau balaa (cobaan)? Wallahu’alam. Yang jelas kita hanya dapat merespon akibatnya, bukan mencegah kejadiannya. Dalam konteks ini tampak relevan do’a yang seringkali dilantunkan oleh sebagian muslim: “Ya daafi’al balaa (Wahai Dzat pencegah balaa..),   dst….”, doa yang yang mengekspresikan keyakinan ketidak-berdayaan diri sekaligus sensibilitas ketergantungan kepada yang di Atas dalam menghadapi balaa. Apakah manusia memberikan sumbangsih terhadap kerusakan akibat balaa? Jawabannya “ya” bagi yang percaya akan teks suci berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebbkan karena perbuatan manusia; Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian dari (bukti) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesduahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) (Ar-Ruum, 41-42).

Wallahu’alam….@

Sumber gambar: Google

[1] Catatan awal mengenai Irma lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/09/pelajaran-dari-irma/

[2] https://www.theguardian.com/world/live/2017/sep/10/hurricane-irma-millions-brace-for-impact-as-superstorm-reaches-florida-live

Standard
Refleksi, Spiritual, Stat_Ketahanan_Sosial

Pelajaran dari Irma

Amerika Serikat (AS) tengah didera bencana alam, lagi. Kali ini Badai Irma yang dinilai dan terbukti “menghancurkan dan mematikan” (devastating and deadly). Sebelumnya, akhir Agustus lalu, negara adidaya ini didera Harvei, badai lain yang telah meninggalkan beragam “sidik jari” di kawasan Tenggara Texas[1]: wilayah Houston, misalnya, berupa guyuran sekitar 20 triliun galon air hujan, volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi Kota New York selama lebih dari lima dekade. Dapat dibayangkan kerusakan material yang diakibatkannya; yang jelas, terkait badai itu dilaporkan sekitar 50 jiwa meninggal.

Sementara upaya pemulihan akibat Badai Harvey masih berlangsung yang diperkirakan memerlukan anggaran sangat besar dan waktu yang lama (bulanan atau bahkan tahun), AS kini tengah sibuk menyiapkan kedatangan Irma yang dinilai lebih dahsyat dari Harvey dan diduga kuat akan mendarat di kawasan Florida. Menghadapi ini Gubernur negara bagian itu menyatakan sudah minta bantuan negara (bagian) lain dan pemerintah Federal[2]. Dia telah mewanti-wanti warganya untuk memfokuskan pada keselamatan jiwa: “rumah yang hancur dapat dibangun kembali tetapi jiwa yang hilang tidak dapat dikembalikan”, ujarnya kira-kira. Menurut laporan CNN, meghadapi bencana ini sekitar 17.000 volunter dibutuhkan di luar sumberdaya yang telah disediakan oleh pemerintah negara bagian dan federal.

Ketika tulisan ini tengah disiapkan, Irma dilaporkan telah meluntuh-lantahkan wilayah Karibia (Caribbian), suatu wilayah yang mencakup luas sekitar 2.8 juta km (daratan: 240.000 km), berpenduduk sekitar 44 juta, kepadatan 151.5/km persegi, dan 30 unit pemerintahan (13 negara merdeka; sisanya negara “jajahan” negara lain termasuk AS, Inggris, Prancis, Belanda). Korban Irma di wilayah Karibia secara keseluruhan mencakup sekitar 1.2 juta jiwa dan 26 juta lainnya dilaporkan memiliki risiko serupa. Di Barbuda saja badai itu telah menghancurkan sekitar 95% infrastruktur[3].

Ketika AS tengah sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi Badai Irma yang berkategori 5 dan sangat dihawatirkan akan memakan banyak korban jiwa (life threatening), Mexico sibuk menagatasi korban dan kerusakan gempa bumi berskala 8.1, terbesar dalam 100 tahun terakhir menurut presidennya. Di luar ini, ada ancaman lain: dua badai serupa tengah aktif “mengintip” wilayah Karibia.

karibia1

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean

Pelajaran apa yang dapat diambil? Yang jelas, bencana alam seperti ini di luar kendali kita. Adakah yang dapat menolong? Kebanyakan kita mungkin menjawab: “tidak ada, ini bencana alam”. Sebagian (kecil) kita yang memiliki kepekaan spiritual di atas rata-rata akan menjawab: “ada, Rabb, definitely! Surat al-Falaq mengingatkan ini[4]. Golongan terakhir ini merasa selalu tidak aman terhadap azab Tuhan: “

… dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azan Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (Al-Ma’arij: 26-28).

Tetapi sayangnya kita “pelupa-berat”, tabiat yang diabadikan dalam teks suci:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamtkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kemudian kamu (kembali) mempersekutukann-Nya (Al-An’aam:63-64).

Wallahu’alam…. @

[1] Mengenai topik ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Mantan Preseiden Bush dan Obama dilaporkan tenagh aktif menghimpun dana untuk membantu korban Harvey.

[3] Lihat misalnya http://www.express.co.uk/news/weather/850317/H.urricane-Irma-path-track-when-Irma-hit-Florida-US-latest-forecast-weather-models

[4] Mengenai relevansi surat ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/08/tragedi-badai-matthew-tragedi-aleppo-dan-jejak-ilahi/

 

Standard
Stat_Ketahanan_Sosial

Badai Harvey: Suatu Tinjauan Singkat

Warga Amerika Serikat (AS), khususnya warga di wilayah tenggara Texas dan sekitar, tengah mengalami musibah dahsyat terkait dengan Badai Harvey, badai tropis terbesar yang mendarat di AS sejak Wilma 2005. Kita tentunya turut prihatin dan berempati dengan mereka dan berharap yang terbaik buat mereka. Kita tidak boleh melupakan keprihatinan, empati, simpati serta bantuan dari warga global (termasuk warga AS) kepada kita ketika terjadi bencana tsunami Aceh akhir 2004 lalu. Ketika itu warga AS sempat mengutus salah satu putra terbaiknya, mantan presiden yang sangat dihormati, Jimmy Carter.

Badai Harvey berkembang dari gelombang tropis ke timur Antilles Kecil, yang mencapai status badai tropis pada 17 Agustus. Badai melintasi Kepulauan Windward yang pada keesokan harinya melintas tepat di sebelah selatan Barbados dan kemudian dekat Saint Vincent. Harvey sempat melemah pada awal 19 Agustus karena hembusan angin moderat di utara Kolombia sehingga statusnya menjadi gelombang tropis. Ketika melinatasi Teluk Campeche pada 23-24 Harvey kembali menguat cepat sehigga kembali berstatus badai tropis. Sementara badai bergerak secara umum ke barat laut, fase intensifikasi Harvey terhenti sedikit dalam semalam dari 24-25 Agustus, namun segera melanjutkan penguatan dan menjadi topan Kategori 4 pada akhir Agustus 25. Beberapa jam kemudian, Harvey mendarat di dekat Rockport, Texas, pada intensitas puncak.

Dalam periode empat hari, di beberapa daerah, Badai Harvey mencurahkan hujan lebih dari 40 inci (1.000 mm) dan dengan akumulasi puncak 51,88 in (1,318 mm) sehingga tercatat sebagai “topan tropis terbasah”. Terkait dengan badai itu Direktur FEMA Brock Long menyebut Harvey sebagai bencana terburuk di sejarah Texas dan memperkirakan pemulihan tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun. Perkiraan awal kerugian ekonomi berkisar antara $ 10 miliar sampai $ 160 miliar, sebagian besar kerugian dialami oleh pemilik rumah yang tidak diasuransikan[1].

Akibat badai itu dilaporkan ribuan orang mengungsi (displaced), sekitar 72,000 orang diselamatkan dan 47 jiwa meninggal. Dari sisi korban bencana itu tidak sedahsyat bencana tsunami yang diperkiakan menelan korban sekitar 200,000 jiwa[2]. Walaupun demikian, Badai Harvey jelas tergolong dahsyat sebagaimana terungkap dari beberapa angka berikut ini[3].

Besarnya angka-angka di atas mengilustrasikan signifiknasi masalah yang ditimbulkan oleh Badai Harvey yang oleh CNN dilaporkan bersifat histortical. Ini jelas memprihatinkan. Yang melegakan adalah besarnya dedikasi petugas dalam upaya penyelamatan korban bencana badai itu. Yang juga melegakan adalah bahwa musibah itu tampaknya telah memicu gerakan solidarits sesama warga AS dalam membantu dan meringankan beban penderitaan korban. Dalam kaitan ini dilaporkan banyak voluntir yang terlibat secara spontan, bersemangat dan penuh pengabdian. Ada harapan samar-samar: bencana alam ini mendorong mempersatukan masyarakat AS yang kini oleh beberapa pengamat dinilai “terbelah” dan memicu diskusi publik mengenai global warming.

Apa yang dapat dilakukan menghadapi bencana alam semacam ini? Jelas tidak banyak: kita sama-sekali tidak dapat mencegah terjadinya, kita secara kolektif–bahkan dengan tingkat IPTEK yang paling terkini– hanya dapat mengantisipasi dampaknya dengan mengupayakan agar korban sesedikit mungkin. Bencana semacam ini, untuk kesekian kali, seyogyanya memberikan pelajaran penting bagi kita untuk secara legowo “menghormati” alam: pada dasarnya kita tidak dapat mengendalikan alam, tetapi “dikendalikan alam”[4].

harvey1

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hurricane_Harvey

[2] Penulis aktif terlibat dalam Sensus Penduduk Nangro Aceh dan Nias (SPAN) 2005 yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk menghitung jumlah korban jiwa akibat tsunami. Kegaiatan ini dibayai oleh komunitas global di bawah koordinasi UNFPA.

[3] http://abcnews.go.com/US/hurricane-harvey-wreaks-historic-devastation-numbers/story?id=49529063. Sebagian angka-angka itu masih mungkin berubah karena situasi masih sangat cair ketika tulisan ini disiapkan. Laporan CNN Sabtu (3/9/2017) petang, misalnya, mengungkapkan korban meninggal terkait Harvey menjadi 50 jiwa.

[4] Mengenai yang terakhir ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/12/06/dikuasai-alam/

Standard
Refleksi, Spiritual, Stat_Ketahanan_Sosial

Trump Sang Presiden

Trump Sang Presiden

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Donald J. Trump kini menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) yang ke-45. Kita baru saja menyaksikan pelantikannya yang meriah, walaupun tidak semeriah pelantikan Barrack Obama 8 tahun sebelumnya. Penulis sependapat dengan Bapak Wapres bahwa kita harus menghormati proses demokrasi di negara adidaya itu. Fakta tak-terbantahkan dia memenangkan pemilu sekalipun menyandang daftar panjang kelemahan: bukan pemenang mayoritas, bukan politisi, visi globalnya tidak popuer, tidak didukung oleh partai “pendukung”, “dimusuhi” oleh banyak politikus senior dari Partai Republik maupun Demokrat, tidak populer di kalangan wanita dan kaum muda, dan dinilai luas sebagai rasialis dan tidak memiliki standar moral yang layak bagi seorang pemimpin negara. Daftar itu bisa diperpanjang; demikian panjangnya daftar itu sehingga kalaupun toh dia menang maka hal itu dapat dilihat sebagai, singkatnya, wujud dari “Kersanipun Gusti Allah”.

trump101.png

Sumber Foto: Googgle image

Masalah Sosial

Perspektif Moïsi (2009) dalam memahami fenomena geopolitik boleh dikatakan unik. Bagi dia, kita tidak dapat memahami sepenuhnya dunia di mana kita hidup tanpa mencoba memahami emosinya, dan (2) emosi, seperti kolesterol, ada yang baik dan ada yang jahat[1]. Emosi yang dimaksud dapat berbentuk kekhawatiran (fear), perasaan malu (humiliation) dan harapan (hope).

Dengan menggunakan perspektif Moïsi kita dapat melihat kemenangan Trump secara sederhana sebagai bentuk kekhawatiran dan harapan publik AS, khususnya, pendukung Trump, mengenai sejumah masalah sosial mendasar yang dipersepsikan saat ini menimpa masyarakat AS: pengangguran, kebangkrutan sektor manufaktur, kriminalitas, kemiskinan (kota), rasa aman, “beban” Obamacare, “sistem” kenegaraan yang “korup” dan tidak efektif, ketimpangan ekonomi (diakui oleh Obama), dan sebagainya.

  • Kekhawatiran bahwa masalah-masalah itu tidak akan berakhir dalam sistem yang sudah mapan (established) dan sudah kehilangan trust; dan
  • Harapan bahwa Trump lebih meyakinkan untuki mengakhiri situasi itu dibandingkan Hillary Clinton yang dianggap sebagai bagian dari –atau akan melanggengkan–sistem yang mapan.

Tetapi itu semua adalah persepsi (politik konon soal persepsi), yang belum tentu faktual. Mengenai pengangguran dan kemiskinan, misalnya, angkanya justru turun secara drastis dalam era Obama. Lebih dari itu, masalah-masalah serupa yang bahkan jauh lebih parah dan rumit, bagi sebagian pengamat, justru dihadapi oleh Obama menjelang kepemimpinannya sebagai presiden.

American First

Bahwa Trump bukan seorang politisi (biasa) tarlihat dari pidato inaguralnya sebagai Presiden. Para analis menduga atau berharap, pidato itu akan dimanfaatkan oleh Trump sebagai kesempatan emas untuk mengemukakan rekonsiliasi nasional, given gejala perpecahan masyarakat domestik yang sangat kentara. Para analis juga menduga, sesuai tradisi, pidato inagural akan berisi “basa-basi” untuk tidak memberi kesan buruk kepada out-going Presiden. Itu semua tidak terjadi. Tema pidato inagural ternyata berputar sekitar: (1) “kebobrokan” pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang dianggap sebagai penyebab karnagi, dan (2) American First.

Tema American First bagi penulis sah-sah saja. Trump benar ketika mengatakan bahwa setiap negara berhak mengedepankan kepentingan negara sendiri. Dalam praktek, hemat penulis, semua negara berupaya mempraktekkannya. Ini adalah HDL, kolesterol baik. Masalahnya adalah bahwa karena tema itu dideklarasikan (apalagi dalam pidato inagurasi ketika mata dunia tertuju) maka hal itu diduga kuat diterjemahkan oleh pihak luar sebagai sikap proteksionis yang berlebihan. Ini adalah LDL, koletorel jahat. Indikasi ke arah proteksionisme terlihat dari apa yang dilakukan Trump selama 2-3 hari pertamanya sebagai Presiden.

Bagi penulis, kebijakan proteksinisme justified sejauh tidak berlebihan, tidak mengarah kepada ekslusifieme dan ekspansionisme serta tidak mencerminkan sikap “mau_menang_sendiri”. Penulis tidak memiliki latar belakang ekonomi untuk mengomentari kebijakan itu secara layak. Walaupun demikian penulis memiliki beberapa pertanyaan yang mungkin layak didiskusikan:

  • Apakah kebijakan proteksionisme compatible dengan semangat globalisasi? Bagi penulis, given tingkat teknologi informasi kontemporer, globalisasi tidak dapat dihindari dan merupakan keniscayaan sejarah sehingga we have to live with it.
  • Apakah kebijakan itu harus selalu berlandaskan prinsip zero-sum atau menang sendiri seperti terkesan dalam pidato-pidato Trump selama masa kampanye? Bagi penulis, prinsip “menang bersama” adalah mungkin, lebih realistis dan lebih adil dalam pergaulan internasional sejauh yang menjadi concern adalah kemakmuran global?
  • Apakah kebijakan itu secara ekonomi makro jangka panjang justified dilihat dari sisi penciptaan lapangan kerja (yang merupakan tema besar Trump) maupun pertumbuhan ekonomi? Bagi penulis ini adalah isu masih terbuka untuk diperdebatkan?

Dalam tahun-tahun mendatang tampaknya dunia siap menyaksikan para pemimpin adidaya yang eksklusif dan proteksionis. Mudah-mudahan keduanya tidak mendorong tumbuhnya paham ultra-nasionalisme dan ekspansionisme. Khusus untuk AS, penulis berharap keadaan mendatang sesuai yang dijanjikan Trump: ada perluasan lapangan kerja, ada pengurangan kesenjangan ekonomi, ada peningkatan rasa aman, dan sebagainya yang membawa kemaslahatan riil bagi warga AS. Khusus bagi AS pula, penulis berdoa agar situasi mendatang tidak seperti yang dihawatirkan Obama: AS menjadi magnit bagi terorisme. Semoga … @

[1] Moïsi, Dominique (2009), The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World, Doubleday, halaman x. Kita mengenal istilah HDL (High Density Lipoprotein) untuk kolesterol baik dan LDL (Low Density Lipretein) untuk kolesterol jahat. Tinjauan buku ini dapat diakses dalam blog ini.

Standard
Stat_Ketahanan_Sosial

Wajah Desa Kita: Geografi, Lapangan Usaha dan Akses pada Fasilitas Sosial Dasar

Artikel ini menyajikan Wajah Desa Kita berdasarkan sumber data terkini yaitu Statistik Potensi Desa 2011 (Podes 2011). Isinya mendskripsikan secara singkat keadaan geografis, lapangan usaha, konversi lahan pertanian, dan keberadaan atau aksesibilitas terhadap fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. Jika berminat mangakses artikel lengkap silakan klik: Wajah Desa Kita

Standard