Domestic Workers in Indonesia: A Statistical Perspective

Uzair Suhaimi (uzairsuhaimi.blog)

Domestic workers, or Pembantu Rumah Tangga (PRT) in Bahasa, can be described as individuals who work for private households to undertake such tasks as cleaning the house, cooking, washing and ironing clothes and taking care of children, elderly or sick members of a family. They are generally viewed among the most vulnerable groups of workers: they often face low wages, excessively long hours, have no guaranteed weekly day of rest and at times are vulnerable to physical, mental and sexual abuse or restrictions on freedom of movement[1].

The total population of DWs worldwide has been estimated as at least 53 million. This total did not include child DWs[2]. Graph 1 illustrates that DWs were mostly found in Latin America and Asia (including Indonesia).

Graph 1[3]

This article aims to discus briefly the estimates of total population of DWs in Indonesia and their basic characteristics. Before coming to these topics, for clarity, auxiliary information on definition and data sources of DWs is inserted as follows.

Definition and Data Sources

As stipulated in the Article 1 of ILO Convention 189 on Decent Work for Domestic Workers, the term domestic worker (DW) refers to any person engaged in domestic work –work performed in or for a household or households– within employment relationships. According to the ISIC system, domestic work belongs to category “Activities of private households as employers of domestic staff” coed 9700.

DW may be residing in the household of the employer or living in his or her own residence. While the first case is known as live-in DW (IDW); the second, live-out DW (ODW).

In Indonesia, the National Labour Force Survey or Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) and the National Social and Economic Survey or Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) can provide statistical data on live-in DW through “the relationship with head of household”. One of the items of the variable is pembantu (code 8), which is not other than DW as defined above.

Sakernas can also provide data on live-out DWs through variable “main industry”. Sakernas uses an open question on that variable and the ISIC system is used for coding. As mentioned, DW can be identified if the code is 9700. In order to identify live-out DW, the variable is obviously should be cross-checked with variable “the relationship with head of household”: live-out DW is identified if the code of the variable is not 8; otherwise, live-in DWs. Susenas cannot provide data on live-out DW as the survey uses a close question of the variable of main industry only for major branch of economy (can not be used identify live-out DW). Graph 2 shows how to identify DW from Susenas and Sakernas: Panel A for Susenas and Panel B for Sakernas.

Total Estimate of Domestics Workers

Table 1 show that according Sakernas, total estimate of domestic workers (DWs) aged 15+ in 2008 was about 2.2 million, within 2.1 and 2.3 million of 95 percent confidence interval. The estimate become 2.6 million in 2012 or increased by about 15 percent during 2008-2012 periods. The estimates were highly reliable as measured by their relative standard errors that were less than 3 percent in both years (not shown in the table).

Among other points shown by the first panel of Table 1 are as follows:

  • Much larger proportion of DWs was live-out DWs: more than 1.5 million out of 2.3 million DWs or 69 percent were live-out DWs; in 2012 the proportion was even larger, about 83 percent;
  • Child DWs aged 15-17 was about 170,000 in 2008 and it declined to 111,000 in 2012;
  • Total estimates of employers of live-in DWs (EDWs) was 1,078 million in 2008 and 1,150 million in 2012; and
  • Some EDWs employed more than one live-in DWs: on the average, there were 142 DWs per 100 DW employers in 2012, and 185 DWs per 100 DW employers in 2012

On demographic characteristics  of DWs Table 1 shows that DWs were predominantly young adult females: about three-fourth DWs were females and their ages on the average were between 35 and 37 years old. On employment characteristics the table shows:

  • In most cases DWs worked 7 days and 40 hours or more in a week;
  • The excessive working day and hour were more striking for children aged 15-17; and
  • DWs and child DWs shared the same low level of earning.

The last panel of Table 1 show a high economic status of EDWs as measured by per capita expenditure. In 2008, the median per capita expenditure/month of EDWs was about Rp. 1.1 million. This means, 50 percent of EDWs had per capita expenditure Rp. 1.1 million or more. In 2012 the median was even higher, almost Rp 2.0 million.

[1] http://www.ilo.org/global/docs/WCMS_209773/lang–en/index.htm

[2] As Note 1

[3] As Note 1

Advertisements

Tren Terkini Ketenagakerjaan Indonesia

Tren Terkini Ketenagakerjaan Indonesia

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Seorang akademisi spesialis ketenagakerjaan dari perguruan tinggi terkenal di Australia pernah berseloroh kepada penulis: “Jika semua masalah Australia disatukan, maka hasilnya masih lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan dengan masalah ketenagakerjaan di Indonesia”. Ungkapan itu bersifat seloroh karena perbandingannya jelas tidak apple-to-apple: struktur ekonomi dan ketenagakerjaan Australia dan Indonesia sangat berbeda dilihat dari lapangan usaha, okupasi maupun status pekerjaan. Walaupun demikian, ungkapan itu mengungkapkan isu penting: masalah ketenagakerjaan di Indonesia sangat besar dan kompleks; besar dilihat antara lain dari besarnya angkatan kerja, kompleksitasnya dilihat antara lain dari komposisi ketenagakerjaan yang masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian dan sektor informal.

Tren Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja

Berapa besar angkatan kerja Indonesia? Tabel 1 memperlihatkan jumlahnya lebih dari 110 juta jiwa, atau lebih dari tiga kali total penduduk Australia. Mereka adalah penduduk Indonesia yang secara aktual atau potensial (bersedia) memberikan konstribusi terhadap produksi barang dan jasa; bukan “sembarang” barang dan jasa, melainkan yang memenuhi persyaratan sistem neraca nasional (System of National Accounts, SNA). Kenapa angkatan kerja Indonesia begitu besar? Karena supply-nya juga besar: penduduk usia kerja (berumur 15+) berjumlah lebih dari 170 juta jiwa.

Bagimana trennya? Tabel 1 menunjukkan bahwa dalam enam semester terakhir, angkatan kerja maupun penduduk usia kerja cenderung terus naik. Kecenderungan itu juga tampak pada Grafik 1. Tabel maupun grafik itu memperlihatkan paling tidak tiga hal yang menarik untuk dicermati.

1)      Kecenderungan naik penduduk usia kerja sejalan dengan kecenderungan pertambahan total penduduk. Yang agak aneh, angka penduduk usia kerja untuk Februari 2011 “cekung” atau lebih rendah dari angka-angka pada semester sebelum dan sesudahnya. Keanehan ini mungkin terjadi karena angka Februari dan Agustus 2011 menggunakan angka proyeksi penduduk yang berbasis utama hasil Sensus Penduduk 2010; sebelumnya, angka proyeksi berbasis hasil Sensus Penduduk 2000 atau Survey Penduduk Antar Sensus 2005.

2)      Kecenderungan naik angkatan sejalan dengan kecenderungan naiknya penduduk usia kerja. Yang aneh, dan ini tidak dapat dijelaskan oleh penulis, adalah “cekungan” angka untuk Februari 2011; dan

3)      Laju kenaikan penduduk usia kerja lebih lambat dibandingkan dengan laju kenaikan penduduk total (lihat juga Grafik 1). Jika Februari 2009 dijadikan sebagai tahun dasar dan Agustus 2011 sebagai tahun akhir, maka rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun usia kerja hanya 0.98%, lebih rendah dari angka pertumbuhan penduduk total yang mencapai 1.90%. (Dalam hal ini pertumbuhan diasumsikan mengikuti model eksponensial.)

Butir terakhir ini merupakan gejala baru yang tampaknya mendukung dugaan sementara pengamat kependudukan yang “meyakini” bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini penduduk kurang “terkendali” dari sisi kuantitas. Tantangan bagi BKKBN? Gejala baru ini tampaknya tidak mendukung “keyakinan” sejumlah kalangan yang menganggap bahwa Indonesia memilik bonus demografis: struktur umur penduduk tidak lagi “berat” pada usia kerja. Butir terakhir itu di satu sisi “menguntungkan” karena tekanan supply tenaga kerja secara relatif berkurang, tetapi di sisi lain “merugikan” karena berarti kebutuhan untuk menanamkan investasi sosial bagi penduduk usia muda (di bawah 15 tahun) relatif meningkat.

Tren “Penganggur”

Istilah “pengangur” (dengan tanda kutip) dalam artikel ini mencakup dua kelompok penduduk usia kerja. Pertama, penganggur dalam artian teknis yang merujuk pada bagian dari angkatan kerja yang tidak terserap sama-sekali dalam kegiatan ekonomi (juga dikenal sebagai penganggur terbuka, open unemployed). Kedua, setengah penganggur yang merujuk pada bagian penduduk yang bekerja tetapi “secara terpaksa” bekerja dengan jam kerja rendah, kurang dari 35 jam per minggu.

Penganggur

Penganggur pada Agustus 2011 berjumlah sekitar 7.7 juta orang atau 6.6% dari angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.3 juta orang. Trennya dalam enam semester terakhir cenderung turun dan laju penurunannya relatif cepat;dengan asumsi eksponensial, laju penurunan mencapai 7.4% per tahun. Angka itu jelas lebih “tinggi” dari pada angka laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Jika hal ini benar maka agak mengherankan  “laporan” ILO Jakarta yang diluncurkan baru-baru ini yang mengesankan bahwa perekonomian Indonesia kurang “ramah” terhadap ketenagakerjaan[1].

 

Di luar aspek tren, masalah penganggur di Indonesia yang perlu terus dicermati adalah magnitude-nya. Kesan bahwa angka penganggur 6.6% (Agustus 2011) rendah tidak tepat karena seyogyanya lebih rendah. Kenapa? Karena di Indonesia, seperti halnya di negara-negara berkembang lainnya, tidak ada jaminan bagi pengangur sehingga “sangat sedikit orang yang sanggup menjadi penganggur sebagaimana diutarakan dalam salah satu publikasi ILO: “In developing countries the number of workers covered by unemployment insurance or other public relief schemes is usually quite limited. I these conditions very people can afford to be unemployed…. (ILO, 2003:49)[2].

Setengah Penganggur

Setengah pengaggur, sebagaimana disinggung sebelumnya, merupakan bagian penduduk yang bekerja tetapi masih bersedia untuk memperoleh pekerjaan alternatif (lihat Skema di bawah untuk kerangka konseptual).  Pada Agustus 2011 jumlah kelompok ini sekitar 13.5 juta[3] orang atau 12.3% dari penduduk yang bekerja yang jumlahnya sekitar 109.7 juta orang. Trennya relatif stabil pada kisaran angka 168-171 juta jiwa.

Jika penganggur dan setengah penganggur digabungkan maka akan diperoleh suatu angka yang besarnya hampir tiga-kali jumlah pengaggur. Pada Agustus 2011 angkanya mencapai 21.2 juta atau 12.4% dari penduduk usia kerja (lihat Grafik 2).

Isu Ketenagakerjaan Lain

Selain penganggur dan setengah penganggur banyak isu ketenagakerjaan lain yang dihadapi Indonesia antara laian kelangkaan kerja parsial (partial lack of work), pendapatan kerja yang rendah (low income from unemployment), kekurangan pemanfaatan keterampilan (under-utilization of skills) dan produktivitas yang rendah (low productivity). Di luar ini semua itu, masih banyak isu lain yang juga relevan bagi Indonesia khususunya yang terkait dengan pekerja layak (decent work). Yang terakhir mencakup bidang keprihatinan yang sangat luas, jauh lebih luas dari apa yang dicerminkan oleh indikator-indikator ketenagakerjaan yang konvensional seperti angka penganggur. Indikator-indikator pekerja layak konon merakapitulasikan semua konvensi ILO[4]. Di masa mendatang, tema pekerja layak diperkirakan akan memperkaya dan bahkan mungkin “menggeser” isu ketenagakerjaan konvensional yang bagi sebagian terlalu berorientasi pada paradigma “pekerja penuh” (full employment), paradigama yang dilansir sejak 1930-an.

Karena besar, luas dan komlpleks, serta berdampak terhadap berbagai dimensi kesejahteraan masyarakat, maka masalah ketenagakerjaan di Indonesia layak menempati posisi puncak dalam agenda nasional. Dimensi kesejahteraan yang dimaksud mencakup kemiskinan, kambtibmas, eksploitasi buruh dan pekerja seksual, perdagangan manusia (khusunya wanita) dan pekerja anak termasuk yang dieksploitasi secara komersial dan seksual (Commercial Sexual Exploitation of Children, CSEC). Dua isu terakhir kini merupakan keprihatinan global yang juga relevan bagi Indonesia. Bagimana merespon kedua isu itu, apakah memeranginya secara serius atau melakukan pembiaran, konon merupakan semacam batu_uji peradaban (test of civilization). Setuju? …..@


[1] Penulis tidak memiliki akses pada laporan kajian itu dan kesannya semata-mata hasil spekulasi dari laporan media masa. Laporan media masa itu mengesankan bahwa kajian ILO lebih memfokuskan pada disparitas Jawa-Luar Jawa, bukan pada elastisitas tenaga kerja.

[2] ILO, International training compendium on Labor Statistics, Module 1: Statitics on employment, unemployment, underemployment: economically active population.  

[3] Pada Tabel 1 setengah pengaggur didefinisikan sebagai penduduk yang bekerja tetapi jam kerjanya di bawah normal (kurang dari 35 jam seminggu) karena “terpaksa”, bukan atas kehendak sendiri (involuntarily).

[4] Artikel penulis mengenai pekerj layak dalam bentuk umum dan sangat disederhanakan dapat diakses secara bebas dalam di situs ini. Judul artikel: “Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015: Mimpi Organisasi Buruh Dunia”. Dalam artikel ini disajikan antara lain daftar indikator pekerja layak untuk kawasan Asia Pasifik.

Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015: Mimpi Organisasi Buruh Dunia

Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015:

Mimpi Organisasi Buruh Dunia

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Layaknya suatu organisasi, Organisasi Buruh Dunia atau the International Labour Organization (ILO) mempunya “mimpi” atau visi: pada tahun 2015 semua orang memperoleh pekerjaan yang layak (decent work). Mimpi itu indah sekali sehingga layak dimiliki oleh semua pada tingkat individu, mayarakat, lokal, nasional, regional bahkan internasional. Kenapa? Karena pekerjaan layak dapat mengatasi, atau paling tidak mengurangi, berbagai macam “setan sosial” (social evil) atau persoalan kemanusiaan yang mendasar: kemiskinan, pendidikan rendah, kerawanan sosial_politik_keamanan, semangat berkorupsi, serta persolan rumit dan mengenaskan yang kini mengglobal yaitu perdagangan manusia.

Definisi Pekerja Layak

Apa definisi pekerjaan layak (decent work)? Secara sederhana pekerjaan layak dapat didefinsikan sebagai pekerjaan yang dilakukan atas kemauan atau pilihan sendiri, bergaji atau memberikan penghasilan yang cukup untuk membiayai hidup secara layak dan berharkat, serta terjamin dari keamanan dan keselamatan fisik maupun psikologis. Untuk dapat dikatakan layak, pada tingkat populasi, pekerjaan semacam itu diharapkan memenuhi tiga kondisi berikut:

  • tersedia bagi semua orang pada usia produktif (jadi tidak termasuk usia anak-anak) tanpa kecuali, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, serta tanpa hambatan gender,
  • semua pekerja terlindungi secara sosial, termasuk mereka yang terlibat dalam kegiatan ekonomi informal, dan
  • semua pekerja tersalurkan suara dan aspirasinya melalui mekanisme system dialog sosial yang berharkat secara kemanusiaan.

Kondisi “ideal” itu yang menjadi visi dan komitmen ILO, visi dan komitmen yang juga layak dimiliki semua pemangku kepentingan dan –ini barangkali yang paling penting– layak direalisasikan demi kemanusiaan yang beradab.

Indikator Pekerjaan Layak 

Definisi sederhana pekerjaan layak sebagaimana baru dijelaskan di atas diharapkan dapat memberikan arahan atau oreintasi kepada pemangku kepentingan khsusunya pengambil kebijakan di bidang ketenagakerjaan. Bagaimana mengukurnya? Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian pekerjaan layak pada tingkat populasi ILO menawarkan 21 indikator yang menunjukkan luasnya dimensi yang dicakup (lihat Daftar 1). Sebagaimana terlihat pada daftar itu, ke-21 indikator itu dibagi ke dalam empat kategori yaitu hak bekerja (right at work), ketenagakerjaan (employment), perlindungan sosial (social protection), dan dialog sosial (social dialogue).

Untuk memperoleh gambaran utuh, satu indikator dalam daftar itu terkadang perlu dibaca secara bersamaan dengan indikator lain. Indikator 7b dan 8, misalnya, perlu dibaca secara bersamaan. Kondisi yang ideal jelas: angka penganggur (indikator ke-8) rendah dan tingkat upah buruh industri (indikator ke-7b) tinggi. Pada tingkat kebijakan, kondisi mana yang lebih dikehendaki: (a) keduanya rendah, atau (b) keduanya tinggi? Dibandingkan kondisi (a), kondisi yang ditunjukkan oleh indikator ke-8 yang relatif tinggi dan  indikator ke-7b tinggi, secara umum mungkin lebih dapat diterima.

Apakah “mimpi indah” mengenai pekerjaan layak sudah dapat direalisasikan di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini secara cerdas dapat digunakan 21 indikator sebagaimana ditawarkan ILO. Sayangnya, baru sebagian dari indikator yang tersedia. Melengkapi ketersediaan indikator itu layak diagendakan jika Indonesia ingin dikatakan berpihak kepada penduduk dan cerdas …….@

Daftar 1: Decent Work Indicators for Asia and the Pacific

Rights at work1. Child labour

1a. Economically active children aged 10-14

1b. Child school non-enrolment rate 5-14 years (from UNESCO)

2. Women in the workplace

2a. Female share of employment by 1-digit ISCO

2b. Female share of employment by 1-digit ISIC

2c. Gap between female and male labour force participation rates

3. Complaints/cases brought to labour courts or ILO

Employment

4. Labour force participation rate

5. Employment-to-population ratio

6. The working poor

7. Wages

7a. Number and wages of casual/daily workers

7b. Manufacturing wage indices

8. Unemployment

8a. Total unemployment rate

8b. Unemployment by level of education

9. Youth unemployment

10. Youth unemployment

10a. Youth inactivity rate

10b. Youth not in education and not in employment

11. Time-related underemployment

12. Employment by status of employment and branch of economic activity

13. Labour productivity

14. Real per capita earnings (from national accounts)

Social protection

15. Informality and social protection

15a. Informal employment

15b. Social security coverage (for wages and salary earners)

16. Rates of occupational injuries (fatal/non-fatal)

17. Hours of work

17a. Usual hours of work (in standardized hour bands)

17b. Annual hours worked per person

Social dialogue

18. Trade union membership rate

19. Number of enterprises belonging to employer organizations

20. Collective bargaining coverage rate

21. Strikes and lockouts: Rates of days not worked

Sumber:  ILO-RO Asia and the Pacific (2008), Decent Work Indicators for Asia and the Pacific: A Guidebook for Policy-makers and Researchers (Box: 2.1, halaman 5)

Besarnya Penduduk yang Tidak Bekerja Sama-sekali: Hasil Survey Terkini

Istilah ‘tidak bekerja sama sekali’ merujuk pada istilah teknis ‘penganggur’ (unemployed) yaitu bagian angkatan kerja tidak bekerja atau terserap dalam pasar kerja. Artikel ini memotret seberapa besar penduduk Indonesia yang tidak bekerja sama sekali menurut survey terkini yang tersedia yaitu  Sakernas 2010 (February), dirinci menurut jenis kelamin dan provinsi.

Bagi yang berminat mengakses artikel yang dimaksud silakan klik: Nganggur (edit terakhir: 17 September 2010)

Pertumbuhan Tak-Berkualitas

Petumbuhan tak-berkualitas  dapat diukur antara lain dari daya ungkitnya terhadap perluasan lapangan kerja. Tanpa daya ungkit ini pertumbuhan menjadi jobless, tak-berkualitas. Bangka Belitung, Gorontalo, Jakarta, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tenggara, masing-masing merupakan contoh kasus yang ideal dalam arti memiliki pertumbuhan  tinggi dan tidak jobless. Sebaliknya, Jambi dan Sumatera Utara merupakan contoh kasus yang memiliki pertumbuhan tak-berkualitas jobless. Dua propinsi ini, dalam skala nasional, memiliki angka pertmbuhan yang relatif tinggi tetapi angka pertumbuhan tenaga kerjanya relatif rendah.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap (revisi terakhir: 9/5/2010) silakan klik: GDP_Kualitas1Rev

Pekerja Anak: Hand-Out Seminar

ILO-BPS mendiseminasikan hasil Survey Pekerja Anak (SPA) melalui seminar setengah hari, 11 Februari 2010, di Hotel Borobudur. Hasil survey itu antara lain menunjukkan bahwa dari sekitar 58.8 juta anak umur 5-17, sekitar 4.05 juta atau 6.9 persen tergolong sebagai anak yang bekerja (children in employment). Dari total anak yang bekerja, 1.76 juta atau 43.3 persen tergolong pekerja anak (child workers).

Gambaran umum mengenai materi seminar disajikan antara lain dalam bentuk hand-out. Bagi yang berminat mengakses hand-out (versi Bahasa Inggris) itu silakan klik: PointersSeminar

Anak yang Bekerja dan Pekerja Anak

Sebagai warga negara yang baik kita harus peduli mengenai aset negara yang mungkin paling berharga bagi dan menentukan nasib masa depan bangsa yaitu anak. Itulah sebabnya negara memberikan perlindungan hukum yang cukup—bahkan dalam standar internasional—kepada aset negara yang tak ternilai ini.  Tetapi perlindungan semacam itu sulit dilakukan jika anak berada dalam pasar kerja baik sebagai ‘anak yang bekerja’ maupun ‘pekerja anak’.

Pada pertengahan tahun 2009 total anak pada kelompok umur 5-17 tahun diperkirakan mencapai 58.8 juta jiwa atau hamir sekitar  25% dari total penduduk. Tetapi yang menjadi fokus keperhatinan global, regional maupun nasional adalah pekerja anak, bukan anak yang bekerja secara keseluruhan. Menurut SPA,  total pekerja anak mencapai angka sekitar 1.8 juta jiwa, setara dengan 3.0 % dari total anak 5-17 tahun atau 43.3% dari total  anak yang bekerja.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap (diedit tetakhir 22/2/2010)  silakan klik: pekerjaanak01-4