Substansi Puasa

Sumber gambar: Google

Umat Islam sedunia tengah berada dalam bulan puasa yang semaraknya terasa di mana-mana.

    • Hampir semua masjid menyediakan buka gratis. Ini dimungkinkan karena Umat “tengah” dermawan.
    • Hampir semua masjid ramai dibanjiri jamaah khsususnya untuk Salat sunat tarawih, sekali pun trennya bisanya berkurang sesuai dengan perjalanan waktu.
    • Pembaca Al-Quran banyak ditemukan bahkan di ruang publik.
    • Ceramah-ceramah keagamaan dalam berbagai corak, bentuk dan gaya semarak.

Semua itu, dalam perspektif sosial-politik-keagamaan, tentu positif dan patut disyukuri. Pertanyaannya, apakah dari sisi kualitas trennya meningkat?

    • Apakah semangat berbagi sudah semakin merefleksikan akhlak Umat dalam arti dilakukan melampaui hasrat pahala yang dijanjikan?
    • Apakah semarak tarawih semakin menumbuhkan kesadaran Umat mengenai keberadaan Rabb SWT yang senantiasa hadir mengawasi, kekerdilan-diri di hadapan-Nya, dan ketergantungan akan rahmat-Nya?
    • Apakah semarak baca Al-Quran meningkatkan pemahaman Umat mengenai isi serta pesan moral-spiritual Kitab Suci itu? Umat semakin mendekati akhlak qurani? Umat semakin menyadari keterbatasan akal di hadapan Wahyu?
    • Apakah semarak ceramah keagamaan semakin dimuati ajaran-ajaran yang lebih substantif dalam arti melampaui topik kaifiat (tata cara berpuasa) dan pahala puasa?

Daftar pertanyaan, masih dapat diperpanjang,  menggambarkan suasa batin dan keprihatinan penulis. Dalam hal ini penulis bisa jadi subyektif tetapi bukan sendirian. Tariq Ramadan, sebagai contoh, telah lama mengeluhkan keprihatinannya mengenai praktik puasa oleh Umat. Baginya puasa pada Bulan Ramadan ini paling meluas tetapi ajarannya diminimalkan bahkan dikhianati oleh Umat. Ini katanya:

The month of Ramadan is the world’s most widespread fast and yet its teachings are minimised, neglected and even betrayed (through literal application of rules that overlooks their ultimate objective).

Dari kutipan di atas tampak bahwa aspek puasa, menurut Tariq Ramadan, yang kurang disadari Umat adalah tujuan akhir dari puasa. Sebagai catatan, Tariq Ramadan (lahir 1962) adalah seorang akademisi, penulis, ahli filsafat dan profesor berkebangsaan Swiss yang juga cucu Hassan al-Banna, pendiri Ihkawanul Muslimin (Mesir).

Intelektual muda ini mengajak Umat untuk melihat ibadah puasa lebih sebagai wahana untuk latihan spiritual dalam arti luas. Ajakan ini ditegaskannya dalam kutipan-kutipan berikut yang layak direnungkan:

    1. Ramadan is, in its essence, a month of humanist spirituality.
    2. The philosophy of fasting calls upon us to know ourselves, to master ourselves, and to discipline ourselves the better to free ourselves. To fast is to identify our dependencies, and free ourselves from them.
    3. Instead of looking outside of ourselves and counting potential enemies, fasting summons us to turn our glance inward, and to take the measure of our greatest challenge: the self, the ego, in our own eyes and as others see us.
    4. Fasting is, first and foremost, an exercise for identifying and managing adversity in all its forms. With faith, in full conscience, fasting calls women and men to an extra degree of self-awareness.
    5. We must master our egoism, and through this mastery, step outside ourselves and educate ourselves in giving. Fasting requires that we rediscover all that is alive around us, and reconcile ourselves with our environment.
    6. The month of Ramadan is the world’s most widespread fast and yet its teachings are minimised, neglected and even betrayed (through the literal application of rules that overlooks their ultimate objective).

Posting lain mengenai puasa dapat diakses di SINI.

Wallahualam….@

 

 

Menengok Dunia Makna Bersama Rumi

Sumber gambar: Google

Dalam satu kesempatan kongkow-santai, seorang teman yang ahli perilaku binatang buas menjelaskan perbedaan respons anjing dan singa ketika kita melemparkan sesuatu ke arah mereka. Anjing sangat bersemangat untuk segera mengetahu apa dilemparkan, makanan atau batu, misalnya. Singa tidak terlalu peduli dengan benda yang dilemparkan, ia alih-alih fokus pada “air muka” pelempar untuk memahami tujuannya melemparkan sesuatu ke arahnya. Bagi penulis penjelasan ini memukau. Tetapi yang lebih memukau lagi adalah ungkapan teman tadi: “Anjing bernafsu dengan dunia bentuk, singa fokus dengan dunia makna”.

Ungkapan itu jelas berlebihan: bagaimana mungkin singa memahami makna. Tapi ungkapan berlebihan itu jelas bukan tanpa maksud. Ia bermaksud menjelaskan substansi hakikat segala sesuatu yang mengandung dua unsur berpasangan: siang-malam, bumi-langit, pria-wanita, gelap-terang, lahir-batin, pandangan eksoterik-esoterik, dan sebagainya.

Contoh terakhir, pandangan eksoterik-esoterik, terkait dengan pandangan keagamaan. Kebanyakan kita, menurut teman tadi, memiliki pandangan eksoterik sehingga “merasa puas” jika telah menunaikan ajaran agama yang telah memenuhi syarat dan kaifiat (tata-cara) yang sesuai hukum syar’i. Kalau wudu, misalnya, paling tidak dia membasuh muka tangan dan kaki paling tidak sekali.

Bagi yang berpandangan esoterik, praktik wudu semacam itu sudah memenuhi “syarat yang perlu” tetapi “tidak cukup”. Ia memandang fungsi wudu jauh lebih dalam dan mendalam (deep and profound) dari sekadar persoalan Fiqh. Baginya, wudu merupakan prosesi membangun kesiapan-spiritual dalam rangka menghadapi Rabb SWT yang Mahasuci serta melepaskan diri dan terbebas dari semua hal yang bersifat duniawi.

Dengan perspektif semacam itu orang yang berpandangan esoterik mampu melihat makna-batin, dimensi sosial serta makna spiritual dari setiap ajaran agama.

…. makna-batin, dimensi sosial serta makna spiritual dari setiap ajaran agama

Dalam konteks ini, Iman Al-Gazali melalui karya monumentalnya Ihya ulumuddin, dapat dilihat sebagai bentuk ajakan untuk “menghidupkan” ilmu-ilmu agama dengan muatan spiritual. Agaknya, Imam ini melihat praktik ibadah oleh Umat dalam eranya terlalu bersifat mekanik. Wallahualam.

Dengan alur pikir serupa, Rumi melalui karya-karyanya juga mengajak pembacanya ke arah yang sama. Nikmati saja sebagian karyanya berikut ini:

Lupakanlah yang tampak, masuklah ke dalam yang tak-tampak. Di sana kalian akan menemukan perbendaharaan yang tiada tara (Matsnawi I 683).

Jika hakikat segala sesuatu telah tersingkap, maka Nabi– yang diberkati dengan ketajaman mata hati, yang disinari dan menyinari– tidak pernah mengajukan permohonan ini, “Ya Tuhan, tunjukkan pada kami segala sesuatu sebagaimana hakikatnya yang tersembunyi (Fihi-ma-fihi 5/8).

Di hadapan makna, apa arti bentuk! Sangat tak sepadan. makna langit tetap tersembunyi di tempat persemayamanannya…. (Matsnawi I 3330).

Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang kasatmata adalah fana, tetapi Dunia Makna tak akan pernah sirna.

Sampai kapan engkau akan terpikat oleh bentuk bejana? Tinggalkanlah ia: Pergi: airlah yang harus engkau cari!

Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan. Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang (Matsnawi II 1020-22).

Sebagai kutipan akhir, silakan simak gaya unik Rumi untuk mengajak kita merenungi dunia makna melalu pengamatan dunia bentuk melalui karyanya ini :

Nabi bersabda, “Lihatlah langit dan bumi, dan temukan Makna Universal melalui bentuk keduanya, perputaran yang dijalankan oleh Roda Langit, pergantian musim dan perubahan Masa. Kalian lihat betapa segalanya berjalan sedemikian rupa, selalu dengan alur masing-masing. Lebih dari itu, betapa awan tahu bahwa ia harus mengirim hujan di setiap musim? Kalian lihat bumi, betapa ia memelihara tanaman-tanaman dan menumbuhkan yang satu dari sepuluh. Siapa pun tahu  semua itu. Jumpailah Dia melalui dunia ini, dan ambillah kesempurnaan dari-Naya, sebagaimana kalian temukan makna dari wujud manusia melalui jasad. Temukan makna dunia dari penampakan-luar dunia (Fihi-ma-fihi 39/51).

Wabillahitaufiq wal hidayah…..@

 

Puasa dan Perjuangan Spiritual

Sumber Gambar: Google

Dalam hitungan jam Umat Islam akan memulai ibadah Puasa selama sebulan penuh. Mereka tersebar di seluruh pelosok bumi yang secara keseluruhan berjumlah sekitar 1.8 milyar jiwa atau 21.4% dari penduduk global[1]. Mereka sudah lama menunggu momen ini karena meyakini Bulan Puasa, lebih dari pada bulan-bulan lainnya, dipenuhi rahmat dan ampunan-Nya.

Mereka mengetahui dasar hukum dan tujuan puasa, tata cara pelaksanaannya, amalan-amalan unggulan yang dianjurkan, dan sebagainya. Boleh dikatakan tidak ada perbedaan paham mengenai ini

  • Dasar hukumnya Al-Quran dan tujuannya meraih takwa (Kitab QS 2:183).
  • Pelaksaan: siang hari dengan cara tidak makan, minum dan apa pun yang membatalkan, serta dianjurkan beritikaf atau tinggal atau menetap (Arab: al-muzamalat) di Masjid dengan niat untuk ibadah. Kata itikaf dalam pengertian ini dapat ditemukan dalam teks suci (Quran 2: 125 dan 127).
  • Ibadah unggulan: baca Al-Quran, Salat Malam (termasuk Tarawih) dan bersedekah (termasuk bagi yang berbuka puasa).

Seperti baru disinggung, itikaf mensyaratkan niat. Demikian juga Puasa dan ibadah lain. Unsur niat ini sangat penting dan sedemikian pentingnya sehingga– menurut suatu Hadits– menentukan hasil yang diperoleh.

Karena urusan niat adalah urusan hati maka kemampuan mengelola hati menjadi sangat penting. Kemampuan ini dibutuhkan untuk memenangkan perjuangan spiritual (mujahadah), perjuangan sepanjang hidup yang diintensifkan melalui Puasa. Perjuangan ini menghadapi dua front yaitu hawa nafsu dan kelalaian. Yang pertama– menurut Hadist– lebih berat dari pada melawan musuh fisik berupa bala tentara musuh, kaum kuffar Quraisy saat itu. Yang kedua, dalam perspektif sufi,  tergolong  dosa (dzunub) yang perlu disucikan.

Dua front perjuangan spiritual: hawa nafsu dan kelalaian

Istilah hati dalam konteks ini bukan hati dalam pengertian fisik melainkan merujuk pada– meminjam istilah KH Zezen[2]— dimensi abstrak, batin atau ketuhanan yang tertanam dalam diri manusia. Hati dalam pengertian ini dinilai sebagai hak eksklusif bagi Rabb SWT sehingga terlarang bagi yang lain yang bersifat duniawi. Hati diciptakan secara ekslusif sebagai lokus kehadiran-Nya dalam diri manusia, semua manusia, tanpa pandang bulu. Ia merupakan– juga meminjam istilah KH Zezen–  “Kabah” atau “Rumah Tuhan” yang ter-intall dalam setiap individu manusia.

Hati diciptakan secara ekslusif sebagai lokus kehadiran-Nya dalam diri manusia.

Dalam praktik, tentu sangat sulit (manusiawi) bagi hati untuk mencegah kedatangan akwan tadi. Inilah antara lain fungsi zikir: “mengusir” akwan keluar dari wilayah eksklusif ini. Hati perlu dibuat terbebas dari akwan sehingga dapat bercahaya .

Tapi upaya untuk membuat hati bercahaya bukan perkara yang mudah. Upaya ini pertama-tama menuntut syarat agar hati diperlakukan secara adil atau sesuai dengan peruntukannya yaitu “Rumah Tuhan”. Konsekuensinya sangat menantang: semua hal yang bersifat duniawi, gambaran saja, harus diusir dari tempat eksklusif itu[3]. Inilah salah satu aspek dalam Hikmah ke-13 Al-Hikam:

  1. Bagaimana hati seseorang akan bercahaya jika padanya terpapar gambaran apa pun yang bersifat duniawi (akwan)?
  2. Bagaimana perjalanan menuju Allah SWT akan dapat dimulai jika masih terbelenggu oleh nafsu syahwat?
  3. Bagaimana akan dapat masuk menjumpai Allah SWT jika belum bersih dari kelalaian (mengingat-Nya, dzikir)?
  4. Bagaimana berharap akan mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi jika belum taubat dari kekeliruannya?

(Diadaptasi dari Ibnu Ahailah As-Sakandari, Al-Hikam, Hikmah ke-13).

Dari teks di atas terlihat jelas bahwa mengusir gambar akwan, tasyriq-qlab-shuarul-akwan, merupakan syarat perlu dalam perjuangan spiritual. Tapi itu tidak cukup. Ada tiga syarat lainnya:

  1. Terbebas dari belenggu syahwat– mukabbalun bi syhawatih
  2. Suci dari junub karena melalaikan-Nya– jinabah-gaflatih; dan
  3. Taubat– yatub min hawatih.

Kiatnya? Berzikir Tanpa Henti! Pray Without Cession!

Wallahualam….@

[1] Mengenai populasi Muslim dapat di akses di SINI.

[2] Lihat, misalnya, INI.

[3] Ini tidak berarti kekayaan duniawi terlarang dalam Islam. Justru sebaliknya sebagaimana terlihat dengan adanya ibadah zakat dan haji. Yang menjadi masalah di sini di mana “gambar”-nya harus diletakkan. Ia “terlarang” diletakkan dalam hati, tetapi cukup di tangan atau di otak saja.

Yang Terkasih

Sumber Gambar: Google
Dengarlah, wahai yang terkasih.
Akulah realitas dunia.
Akulah pusat lingkaran, bagian dan keseluruhan.
Akulah kehendak antara Surga dan Bumi.
….
Engkau tidak dapat memperlakukan-Ku dengan adil, karena jika engkau mendekati-Ku, itu karena Aku mendekatimu.
Aku lebih dekat denganmu daripada dirimu sendiri.
Lebih dekat dari jiwamu, lebih dekat dari nafasmu.
…..
Akulah Cinta!
Akulah Rahmat!
Cintailah Aku!
Cintailah Aku Sendiri!
Cintailah dirimu di dalam Aku, hanya di dalam Aku!
*****
Listen, O dearly beloved,
I am the reality of the world.
The center of the circumstance, I am the part and the whole.
I am the will established between Heaven and the Earth.
…..
You cannot treat Me fairly, for if you approach Me, it is because I have approached you.
I am nearer to you than yourself.
Than your soul, than your breath.
…..
I Am Beauty!
I AM Grace!
Love me!
Love Me alone!
Love yourself in Me, in Me alone!
Sumber: Ibn’ Arabi – ‘Alone with the Alone’: Henry Corbin.

Puasa dan Rebus Kubis

Sumber gambar: Google

 

Rasa manis yang tersembunyi ditemukan dalam perut yang kosong ini!

Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat bersuara, nada rendah maupun nada tinggi.

Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, api mereka akan mengeluarkan ratapan dalam dadamu.

Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus tabir– kau akan mendaki seribu seribu derajat di atas Jalan dan di dalam hasratmu.

Kosongkan perutmu! Merataplah seperti sebuah kecapi dan sampaikan keinginanmu pada Tuhan! Kosongkan perutmu dan bicaralah tentang misteri bagi ilalang.

Jika kau biarkan perutmu penuh, ia akan menjadi Setan bagimu di saat Kebangkitan, sebagai ganti akalmu, menjelma berhala sebagai bentuk Kabah.

Ketika kau puasa, amal-amal baik mengelilingimu bagaikan hamba sahaya, budak-budak, dan bergerombol.

Teruskan puasamu, karena ia adalah stambuk Sulaiman. Jangan kau berikan stambuk itu pada Setan, jangan kacaukan kerajaanmu.

Dan jika kerajaan dan pasukanmu hendak lari darimu, pasukanmu akan kembali, dan berilah dia perintah!

Hidangan telah datang dari surga bagi mereka yang berpuasa, karena Isa anak Maryam memanggilnya turun dengan doa[1].

Tunggulah Hidangan Rahmah dengan puasamu– ia lebih baik daripada kubis rebus.

Sumber: Rumi, Diwan 1793.

Demikianlah cara Rumi menggambarkan puasa: mudah dicerna, kaya-makna, tidak terkesan menggurui, dan … jenaka. Konon, karena kejenakaan ini maka pesan sufistik Rumi dapat diterima dengan mesem-mesem oleh para ulama besar yang kurang sreg dengan Sufi.

Juga terkait kejenakaan ini, siapa yang mampu berpikir untuk mengaitkan puasa[2] dengan kubis rebus, misalnya. Menariknya lagi, dalam Diwan ini Rumi mengontraskan “kubis rebus” dengan “Hidangan Rahmah” tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah ini. Dugaan penulis istilah ini merujuk pada “Hidangan dari Langit” sebagaimana yang tercantum dalam doa Nabi Isa Ibnu Maryam:

Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkan kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi bagi orang yang sekarang bersama kami maupun bagi datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berikanlah kepada kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baiknya pemberi rezeki (QS 5:114).

Wallahualam bi muradih.

[1] Lihat QS (5:114)

[2] Beberapa tulisan lain mengenai puasa dapat diakses di SINI.

 

Kecukupan Sampel Survei Hitungan Cepat Pilpres 2019

Sumber Gambar: Google

Sebagian pembaca hasil Hitung Cepat (quick count) Pilpres 2019 mempertanyakan kecukupan sampel TPS. Pertanyaan ini muncul karena tidak tersedanya di ruang publik informasi yang memadai mengenai rancangan sampel survei yang bersangkutan. Terkait dengan isu ini penulis, sebagai ilustrasi, hanya mengetahui bahwa besar sampelnya sekitar 2,000 TPS (=n) yang diambil dari sekitar 800,000 TPS (=N).

Pertanyaan risetnya  “Apakah sampel n itu sudah mewakili populasi N itu?” Pertanyaan semacam mencerminkan suatu keraguan positif yang layak dihargai. Penulis yakin para perancang survei Hitung Cepat sudah mengkaji masalah ini. Walaupun demikian, keyakinan agar mantap, seperti nasehat para  ustaz, perlu diuji. Tulisan ini dimaksudkan untuk keperluan uji semacam itu.

Soal Heterogenitas

Pertanyaan riset di atas sebenarnya tidak tepat. Kenapa? Karena penetapan besar sampel tidak dipengaruhi oleh besar populasi; kalau pun ada, pengaruhnya sangat kecil sehingga bisa dan biasa diabaikan. Ilustrasi mengenai pengaruh ini disajikan di bawah. Untuk sementara dapat dikatakan bahwa sampel tidak harus that big, tetapi big enough untuk mewakili populasi, ada batas minimum.

Kenapa sampel tidak harus selalu besar? Penjelasannya sederhana. Ketika memeriksakan diri  untuk mengetahui kadar gula darah Anda, misalnya, Anda cukup memberikan kurang dari setetes darah Anda, terlepas dari apakah Anda tergolong gemuk-basah atau kurus-kering. Ya kan? “Kurang dari setetes darah” sudah sudah mewakili keseluruhan darah yang mengalir dalam tubuh Anda. That is the beauty of sampling.

Tapi nanti dulu. Contoh di atas mengasumsikan homogenitas populasi. Artinya, dari bagian badan mana pun darah diambil, hasilnya diasumsikan sama saja. Jika dianalogikan dengan Pilpres, teknik ini mengasumsikan kesamaan kecenderungan preferensi para pemilih di semua TPS. Jadi, preferensi pemilih di Kota Bandung atau Kota Padang, misalnya, diasumsikan sama dengan Kabupaten Sidoarjo atau Kota Kupang.

Asumsi semacam ini layak dipertanyakan. Demikian halnya dengan teknik “pengambilan acak sederhana” (Simple Random Sampling, SRS) yang mengasumsikan homogenitas populasi.

[Selain itu, dalam dunia nyata teknik SRS ini bisa sangat tidak nyaman dan sangat mahal. Bisa saja dari 2,000 TPS yang terpilih, lebih separuh menyebar di kawasan timur Indonesia termasuk Papua.]

Apa hubungannya dengan besar sampel? Hubungannya sederhana: semakin heterogen suatu populasi, semakin besar kebutuhan akan sampel yang besar. Jadi, hubungan antara keduanya berbanding lurus.

Proporsi dan Koefisien Variasi

Perhitungan besar sampel minimal (=n) menghendaki antara lain agar perencana sampel menetapkan indikator utama yang ingin dihitung, memperkirakan angkanya (=p), dan memperkirakan koefisien variasinya (=CV). Jadi logikanya agak berputar. Tujuan survei adalah menghitung angka proporsi populasi (=P), tetapi belum apa-apa sudah diminta macam-macam. Tetapi itulah rumusnya: n berbanding lurus dengan p dan CV.

Untungnya, angka-angka perkiraan itu tidak dituntut sangat cermat, sejauh masuk akal. Sebagai ilustrasi, jika indikator utama yang ditetapkan adalah proporsi suara Merah[1] (=p) dan angka perkiraannya 0.5 atau 50%, maka cara penetapan itu boleh dibilang excellent. Kenapa? Karena: (1) sederhana, (2) terkesan netral, dan (3) berdasar. Apa dasarnya? Hasil Pemilu 2014 yang menghasilkan angka sekitar itu.

Cara itu selain excellent sebenarnya juga cerdas. Kenapa? Karena dengan menetapkan p sebagai indikator maka variannya sudah dapat diketahui sejak dini yaitu p*(1-p). Juga dengan menetapkan p=0.5 maka koefisien variannya (=CV) relatif mudah diingat yaitu 2:

p/[p*(1-p)] = (0.5)/ [(0.5)*(1-0.5)] = 2

Komponen Pembentuk Sampel

Menurut salah satu buku pintar[2], ada lima faktor yang mempengaruhi besar sampel (n). Ini daftarnya:

  1. Tingkat keyakinan (confidence interval) yang diukur dengan skor z dalam distribusi normal,
  2. Efek rancangan sampel (=deff), dan
  3. Perkiraan awal indikator utama, misalnya, proporsi yang memilih Merah (=p).
  4. Margin kesalahan (margin error, e)
  5. Angka respons (response rate: RR)

Dua faktor yang terakhir dalam daftar di atas  mempengaruhi n secara berbanding terbalik sedangkan yang lainnya berbanding lurus. Faktor yang ke-2 (deff) agak sulit dijelaskan dalam tulisan singkat dan bahkan diakui “sulit diputuskan”[3]:

It is much more difficult to decide what the design effect should be when a cluster sample design is planned and there is no prior knowledge of the effect of clustering on the sampling variance. In this case, a design effect of at least 2 might be used, although the design effect of a highly clustered design may be as high as 6 or 7.1 for a stratified sample design and deff ≥ 1 for a cluster sample design.

Contoh penghitungan

Uraian di atas bagi sebagian mungkin terkesan jelimet walaun sebenarnya tidak, apalagi jika diilustrasikan melalui contoh konkret dan secara bertahap. Berikut disajikan ilustrasi yang dimaksud menggunakan skenario yang dibuat serealistis mungkin.

Diketahui: Total TPS (=N)= 800,000.

Pertanyaan: Berapa jumlah minimal TPS yang diperlukan untuk mengintimasi proporsi yang memilih Merah (=P)?

Diasumsikan: (a) Tingkat keyakinan (confidence interval): 95% atau z=1.96, (b) e= 5%, (c) RR=95%, (d) deff=2, dan (e) p=0.5.

Jawab:

Penetapan sampel awal (=n1):.

n1= [(z*z)*(p*(1-p))]/(e*e)

= [(1.96*1.96)*(0.5*0.5)]/(.05*.05)

= 384.16

Penyesuaian (adjustment) karena relativitas besar sampel terhadap populasi (=n2):

n2 = n1 * [N/ (N+n1)]

= 384.16 * [800,000 / (800,000+384.16)]

= 383.98

Penyesuaian karena pengaruh rancangan sampling (=deff) (=n3):

n3 = deff * n2

= 2*383.98

= 768.32

Penyesuaian arena RR (=n4):

n4 = n3/0.95

= 808.75

Itulah angka akhir, 800 TPS. (Pada tahapan sekarang sudah boleh pembulatan agar kelihatan elok.) Kesimpulannya ini:

Sampel 2,000 TPS sudah lebih dari cukup bahkan berlebihan untuk mewakili 800,000 TPS.

Tapi nanti tunggu dulu. Kesimpulan itu kondisional:

Angka 800 adalah angka minimum untuk satu domain estimasi. Jadi, jika “nian ingsun” hanya untuk estimasi nasional maka kesimpulan di atas berlaku. Tapi jika ingin estimasi provinsi maka kesimpulan tidak berlaku karena kebutuhan sampel menjadi (800*34) atau sekitar 27,000.

Diskusi di atas terakit dengan besar sampel (sample size). Bagaimana dengan alokasi sampel? Ini isu lain yang lebih kompleks tetapi dapat tergambar dalam daftar pertanyaan berikut:

  1. “Apakah alokasi sampel sudah memenuhi prinsip acak?”
  2. “Adakah jenjang dalam pemilihan sampelnya?”: (a) “Ujug-ujug milih TPS?”, atau (b) “Dipilih dulu kab./kota, kecamatan, lalu desa?”, atau (c) “Bagimana?”
  3. “Jika ada jenjang, apakah probabilitas terpilihnya setiap jenjang sudah memperhitungkan weighting?”
  4. “Apakah estimasi akhir mempertimbangkan weighting?”

Pusing toh? Yo wis!

[1] Mengenai simbolisme Merah dan Hijau lihat INI.

[2] Statistics Canada (2010), Survey Methods and Practices

[3] Ibid, halaman 168.

Labour Underutilization: Concept and Measurement (2/3)

Preliminary notes:

The concept of labour underutilization as discussed in the first section is the product of the resolution of  ICLS-19 hosted by ILO aimed mainly to be used as global guidelines in the area of labour statistics.  However, as a product of an ILO resolution, the concept is not binding for the participating countries of ILO. They might not be able to promptly follow the guidelines for practical reasons and hence need some time to apply in their actual survey. Part of the reasons for the participating countries are: (1) the need to “harmonize” the concept with actual situation of labour market they face, (2) the need to maintain “consistency” (as opposed to “validity”) of labour statistics between years to avoid confusion among data users, (3) the need test carefully the practicality of the concept in actual survey, and (4) the need to follow their own priorities in statistical activities. 

 

Section 2: Data Availability

At first glance, it appears to be that all the proposed components of “labour underutilization” as outlined in Section 1 are readily produced by a standard labour force survey. However, that is not fully the case, at least in the case of Indonesia. Here is a brief description on that issue.

Until 2015[1], the questionnaire of Sakernas, or Indonesia Labour Force Survey (ILFS) has no question on “the availability of work”. (What is available is a question on “the readiness to accept an offer for more job” that is intended to capture “time-related underemployment” as discussed in Section 1.)

In order to produce official statistics on unemployment, Sakernas defines unemployment put simply as:

(“Not in employment”) & ((“Seeking work”) OR (“Not seeking work due “Future start”” OR “Discouraged”)).

The above definition results in the figure of unemployment as mentioned in Section 1. The definition clearly shows that “availability for work” is ignored in defining “unemployment”.

The above definition “correctly” includes “future start” (not seeking because of having a job already) but “wrongly” includes “discouraged” (not seeking because of feeling there is no opportunity) in the unemployment. According to ICLS-19, “discourage” job seeker belongs to “outside labour fore” category, not “unemployment” (hence not in “labour force” category). In other word the official statistics of unemployment of Indonesia has in fact already included “discouraged” component of “outside labour force” (per ICLS-19 standard). As will be shown soon in Section 3, this component is relatively big, roughly 31% of the unemployment in 2012.

[1] Since 2016 BPS has initiated to improve the Sakernas questionnaire in order to address most of the issues raised by ICLS-19. Processes to refine the questionnaire toward this direction are still in place, until now.

[Proceed to Section 3: Sekernas’ Lessons]

 

Source: Google