Covid-19, Ekonomi dan Penganggur: Kasus Amerika Serikat

Konteks

Covid-19, ekonomi dan penganggur. Tiga kata ini merefleksikan krisis global masa kini. Dampak buruk Covid-19 terhadap ekonomi jelas dan terdokumentasikan secara relatif memadai: statistik untuk menilai secara objektif relatif mudah diakses. Dampak buruk terhadap ketenagakerjaan juga jelas tetapi statistik yang relevan masih langka. Sejauh ini penulis hanya mampu mengakses data Amerika Serikat (AS) yang melalui tulisan ini dimanfaatkan untuk menilai dampak buruk Covid-19 terhadap ketenagakerjaan, menggunakan ukuran angka pengangguran.

Klaim Berlebihan

Bagi AS– tidak mustahil juga bagi negara lain– dampak negatif Covid-19 terhadap ketenagakerjaan luar biasa. Angka penganggur negara ini menembus dua digit (10% ke atas) sebagaimana disajikan dalam laporan thebalance berikut:

The current U.S. unemployment rate fell slightly to 13.3% after reaching 14.7% in April 2020. More than 20 million workers were let go from their jobs in response to the coronavirus pandemic. The forecast for second-quarter 2020 is 14% as the economy recovers from the shut-down.

Untuk melihat dimensi sejarahnya dapat dilihat tren angka pengangguran selama 70 tahun terakhir sebagaimana disajikan oleh Grafik 1. Dari grafik ini ada tiga catatan yang layak dikemukakan. Pertama, sejak 1950, angka pengangguran selalu satu digit kecuali pada 1981 (11%) ketika krisis moneter (angka inflasi yang hiper) dan 2009 (10%) ketika terjadi krisis ekonomi. Kedua, pada 2020 angka pengangguran melonjak luar biasa padahal sebelumnya terus turun sejak 2010. Ketiga penurunan angka penganggur sampai 2019 berlangsung sejak 2010.

Catatan terakhir menunjukkan penurunan angka pengangguran berlangsung sejak era Obama, bukan baru terjadi di era Trump sebagaimana sering diklaim oleh Administrasi Trump. Dinyatakan secara berbeda, klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Grafik 1: Tren Angka Pengangguran AS, 1950-2020

Sumber: thebalance

….. klaim bahwa penurunan angka pengangguran di AS dalam dekade terakhir karena faktor Trump sebenarnya berlebihan.

Pertanyaan Moral

Angka pengangguran 14% (kuartal II 2020) bagi AS luar biasa tinggi karena yang biasa sejak 1942 angkanya hanya satu digit (4-6%). Dalam konteks ini, peristiwa pada 1942 dan 1945 layak dibubuhi catatan khusus:

  • Tahun 1942 adalah tahun ke-3 Perang Dunia II (PD II). Pada tahun ini angka pengangguran AS hanya 5%. Yang menarik, angka itu cenderung turun pada tahun-tahun berikutnya: 2% (1943), 1% (1944) dan 2% (1945).
  • Pada 1945 PD II berakhir. Angka pengangguran hanya 2% sementara angka pertumbuhan ekonomi minus 1%. Yang menarik, tahun berikutnya angka penganggur masih masih relatif rendah (4%) padahal angka pertumbuhan ekonomi minus 12%.

Dari catatan itu dapat ditarik pelajaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu terkait secara langsung dengan angka pengangguran[1]. Pelajaran lainnya, industri terkait perang “bagus” untuk menekan angka penganggur. Catatan kedua menimbulkan pertanyaan moral: Apakah menekan angka pengangguran melalui pembangunan industri “perang” dapat dibenarkan secara moral? Pertanyaan analog: Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Apakah benar secara moral mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan protokol kesehatan?

Tidak Sederhana

Gambaran menyeluruh tren angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi (GDP growth) dalam periode 1930-50 disajikan pada Grafik 2. Pada grafik ini tampak kecenderungan penurunan angka pengangguran di era PD II walaupun angka pertumbuhan ekonomi berfluktuasi bahkan negatif.

Grafik 3 menyajikan hal serupa tetapi untuk periode 1951-2000. Pada grafik ini tampak dalam periode 1993-2000, misalnya, kecenderungan umum penurunan angka penganggur sejalan dengan kenaikan angka pertumbuhan ekonomi. Pola serupa juga terjadi dalam dekade terakhir sejak 2011 sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 4.

Grafik 2: Tren Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1930-1950

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 3: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 1950-2000

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Grafik 4: Angka Pertumbuhan GDP dan Pengangguran AS 201-2019

Sumber: Sama dengan sumber Grafik 1

Dari tiga grafik ini tampak hubungan yang tidak sederhana antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi: ada hubungan negatif antara keduanya tetapi tidak selalu. Di sini letaknya arti penting intervensi pemerintah.

…. antara angka pengangguran dan angka pertumbuhan ekonomi ada hubungan negatif tetapi tidak selalu.

Intervensi Pemerintah

Melabeli AS sebagai negara liberal secara ekonomi mungkin menyesatkan. Fakta sejarah menunjukkan pemerintah AS seringkali melakukan intervensi terhadap kegiatan ekonomi “pasar-bebas” untuk melindungi kepentingan umum termasuk dalam bidang ketenagakerjaan. Pihak eksekutif tertinggi AS pada umumnya memprakarsai intervensi yang dimaksud seperti terlihat dalam beberapa kasus berikut.

  • Inisiatif Presiden Roosevelt (1933) untuk mengamankan sistem jaminan Bank untuk mengatasi Depresi Besar yang dipicu oleh rontoknya pasar saham (1929).
  • Inisiatif Presiden Truman yang menginstruksikan George yang (diakui sebagai arsitek kemenangan PD II) untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelesuan ekonomi akibat perang yang melahirkan apa yang dikenal sebagai Marshall Plan (1947).
  • Obama tax cut (2010) untuk keluar dari krisis ekonomi 2009, dan
  • Tumpt tax cut (2018) untuk memberikan dorongan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi dan menekan angka pengangguran

Yang terakhir secara luas dinilai berhasil dan keberhasilan ini merupakan andalan Trump dalam memenangkan Pilpres mendatang. Yang layak-catat, inisiatif menambah sekitar $1 triliun utang negara dalam 10 tahun mendatang.

Kebijakan Trump hampir selalu menuai kontroversi khususnya antara kalangan Republik dan kalangan Demokrat. Tapi dalam kasus jaminan penganggur hampir tidak ada yang mengkritik. Langkah ini secara ekonomi memang dinilai paling efektif untuk menggerakkan ekonomi dan mengurang dampak pengangguran. Logikanya sederhana: Uang jaminan pengangguran yang diberikan akan segera dibelanjakan oleh penerima untuk memperoleh kebutuhan pokok. Ini berarti kegiatan ekonomi penyedia barang dan jasa kebutuhan pokok bergerak. Pada gilirannya, ini akan berdampak positif terhadap lapangan kerja jasa keamanan di pasar, jasa transportasi, dan petani. Singkatnya, uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

….. uang jaminan pengangguran akan segera berdampak positif bagi lapangan kerja termasuk bagi petani.

******

Kebijakan Trump terkait jaminan bagi penganggur, karena efektivitas dan kecepatan dampaknya, layak dipertimbangkan oleh pemerintah mana pun termasuk Indonesia. Untuk Indonesia belum tersedia data resmi yang dapat diakses oleh publik) pengangguran akibat Covid-19. Angkanya beredar antara 2-6 juta[2]. Katakanlah angkanya 4 juta dan pemerintah bermaksud memberikan jaminan Rp 1 juta/kepala/bulan maka kebutuhan per bulan hanya Rp 4 triliun. Hemat penulis angka ini relatif kecil terutama jika dilihat sebagai umpan untuk menggerakkan ekonomi.

Wallahualam.…. @

[1] (Orang ekonomi bilang angka penganggur adalah lag variable; artinya variabel itu akan terdampak secara positif (turun) jika pertumbuhan ekonomi terlalu berlangsung beberapa lama.)

[2] Perbedaannya terlalu besar untuk mengandalkan salah satu.

Dampak Ekonomi Covid-19: Lebih Buruk dari Dugaan

Konteks

Kapan pandemi Covid-19 akan berakhir? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Kasusnya di sebagian kawasan menurun secara meyakinkan tetapi di sebagian kawasan lainnya naik juga secara meyakinkan. Isyarat lonjakan kasus baru kini semakin memprihatinkan. Kasus semacam ini dilaporkan dialami, misalnya, di 36 negara bagian AS. Di Yaman yang dua bulan lalu memiliki kasusnya paling rendah (hanya 1 kasus), sebagai misal lain, kini mengalami lonjakan kasus yang cenderung meningkat. Yaman kini menjadi easy target (istilah penyiar BBC-TV) bagi pandemi Covid-19. Yang layak-catat, di luar dugaan sebelumnya, Covid-19 kini cenderung menyasar kelompok usia muda: median umur korban pandemi cenderung turun. Menurut laporan Wapres AS, sekitar 50% kasus baru di AS berusia kurang dari 35 tahun.

Yang menambah komplikasi, pandemi Covid-19 ini berdampak sangat negatif terhadap sektor ekonomi yang pada gilirannya menyulitkan semua sektor lainnya. Pertanyaannya bukan ya atau tidak tetapi seberapa besar dampak buruk itu. Isu inilah yang dicoba diulas secara sekilas dalam tulisan ini.

Tertolong China

World Economic Outlook (WEO) menduga ekonomi global akan mengalami kontraksi. Lembaga ini menaksir pertumbuhan Real GDP global pada 2020 bukan hanya turun tetapi negatif atau minus. Jika Real GDP dianalogikan dengan kue maka pertumbuhan negatif berarti berkurangnya ukuran kue (global) yang pada gilirannya berarti semakin kecil ukuran kue yang dapat dinikmati masyarakat global. Demikianlah halnya karena populasi global diproyeksikan masih akan tumbuh sampai akhir abad 21 ini[1]. Ini isu kompleks. Untuk menambah kompleksitas, pembagian jatah kue antar negara sepanjang sejarah selalu timpang dan bias ke arah negara-negara maju.

Menurut sumber yang sama pertumbuhan “kue” global minus  3.0% pada 2020 dan diharapkan plus 5.8% pada 2021. Ini taksiran April 2020. Taksiran ini dinilai terlalu optimistis sehingga WEO merevisinya Juni ini: real GDP global minus -4.9% pada 2020 dan plus 5.4% pada 2021. Dinyatakan secara berbeda, dampak pandemi Covid-19[2] terhadap ekonomi global lebih buruk dan pemulihannya lebih lambat dari yang diduga sebelumnya.

Global growth is projected at –4.9 percent in 2020, 1.9 percentage points below the April 2020 World Economic Outlook (WEO) forecast. The COVID-19 pandemic has had a more negative impact on activity in the first half of 2020 than anticipated, and the recovery is projected to be more gradual than previously forecast. In 2021 global growth is projected at 5.4 percent. Overall, this would leave 2021 GDP some 6½ percentage points lower than in the pre-COVID-19 projections of January 2020. The adverse impact on low-income households is particularly acute, imperiling the significant progress made in reducing extreme poverty in the world since the 1990s.

Angka global itu sebenarnya tertolong kinerja ekonomi China yang pada 2020 real GDP-nya masih diduga masih akan positif, plus 1%. Dari 30 negara yang dilaporkan WEO, hanya dua negara yang dalam 2020 pertumbuhannya positif, China dan Mesir (plus 2%).

The COVID-19 pandemic has had a more negative impact on activity in the first half of 2020 than anticipated, and the recovery is projected to be more gradual than previously forecast (WEO).

Kinerja Indonesia

Sebagaimana dilaporkan WEO, angka kontraksi ekonomi 2020 bervariasi antar negara. Di lima negara angka kontraksi (diukur dengan pertumbuhan real GDP) mencapai dua digit: Italia dan Spanyol; masing-masing minus 12.8%; Prancis, Inggris dan Mexico masing-masing minus 12.5%, 10.5% dan 10.2%. Tabel 1 menunjukkan angka lebih lengkap dan Grafik menyajikan gambaran visual untuk 2020

Seperti terlihat pada Grafik 1, angka untuk Indonesia paling rendah dibandingkan dengan angka dari 30 negara yang dibandingkan (kecuali China dan Mesir yang angkanya positif). Dengan angka minus 0.3% Indonesia sebenarnya  “lebih tangguh” dari tiga negara jiran yaitu Thailand, Malaysia dan Filipina yang mengalami kontraksi ekonomi (dikur dengan pertumbuhan real GDP) masing-masing 7.7%, 3.8% dan 3.6%. Yang layak-catat, WEO menaksir pertumbuhan real GDP Indonesia pada 2021 sekitar 6.1%, lebih rendah dari angka-angka Malaysia (6.3%) maupun Filipina (6.8%).

…. Dengan angka minus 0.3% Indonesia sebenarnya “lebih tangguh” dari Thailand, Malaysia dan Filipina yang mengalami kontraksi ekonomi masing-masing 7.7% 3.8% dan 3.6%.

Tabel 1: Pertumbuhan Negatif Real GDP di 30 Negara Terpilih

(2020 dan 2021 Angka Proyeksi)

Sumber: WEOA Crisis like No Other, An Uncertain Recovery”

 

Grafik 1: Proyeksi Pertumbuhan Real GDP di 30 Negara Terpilih 2020

Sumber: WEOA Crisis like No Other, An Uncertain Recovery”

 

*****

Semua angka pada Grafik 1 tidak perlu dibaca secara harfiah tetapi layak dicermati sebagai probable arah dalam waktu dekat ini. Argumennya, sebagaimana layaknya semua taksiran manusiawi, taksiran WEO mengandung faktor ketidakpastian (uncertainty). Dalam hal ini WEO mengakuinya secara terbuka sebagaimana terungkap dalam judul artikelnya: A Crisis like No Other, An Uncertain Recovery. Catatan ini sejalan dengan kekhawatiran global mengenai kemungkinan merebaknya gelombang ke-2 pandemi Covid-19 yang gejala-gejalanya terus bermunculan dan rajin diwanti-wanti oleh WHO. Pada analisis terakhir, siapa yang dapat memastikan apa yang akan terjadi hari besok (QS 18:23)?

Wallahualam.…. @

[1] Mengenai isu ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/06/22/global-population-21th-century/

[2] Faktor lain tentu berkontribusi termasuk melemahnya “wibawa” WTO sebagaimana terlihat dari nasehatnya yang diabaikan dalam kasus Brexit Inggris dan perseteruan AS-China.

Covid-19: Indonesia, Malaysia, dan Filipina

Data WHO menunjukkan bahwa sampai pada 7/6/2020 secara global ada sekitar 7.09 juta total kasus yang terkonfirmasi terjangkit Covid-19. Ini hampir mendekati angka 1 per mil penduduk (total populasi global sekitar 7.75 milyar). Ini mungkin pandemi terluas dalam sejarah kemanusiaan. Pertanyaannya bagaimana angka dan perkembangan terkini di Indonesia. Tulisan ini mencoba menjawab secara singkat pertanyaan ini. Agar lebih bermakna, angkanya dibandingkan dengan dua negara ASEAN yaitu Malaysia dan Filipina. Menurut Worldmeter per 7/6/20, total kasus di tiga negara ini relatif terbanding. Dilihat dari total kasus, misalnya; Indonesia: Malaysia: Filipina = 31,186: 8,222: 21,895. Sementara dari sisi total kematian Indonesia: Malaysia: Filipina = 1,851: 117 : 1,003. Jelas terlihat Malaysia paling unggul: total kasus dan total kematian yang paling rendah.

Tujuh negara ASEAN lainnya “terlalu baik” untuk dibandingkan. Sebagai ilustrasi, total kasus di Vietnam dan Kamboja masing-masing hanya 329 dan 126 kasus, masing-masing tanpa kasus kematian. Sebagai ilustrasi lain, Singapura sekalipun memiliki kasus total yang lebih tinggi dari Indonesia yaitu 37,910, total angka kematiannya hanya 25 kasus (Indonesia: 1,851 kasus).

Data Laporan dan Masalahnya

Bagian selanjutnya tulisan ini, kecuali disebutkan lain, menggunakan data WHO[1] sebagai sumber data utama. Sumber ini mungkin paling kredibel untuk perbandingan semacam ini. Yang perlu dicatat, data WHO bersifat sekunder; artinya, berdasar data laporan dari negara-negara anggota. Akibatnya, kualitas datanya tergantung pada kualitas data serta akuntabilitas administrasi pelaporan dari masing-masing negara anggota.

Dalam konteks ini, kecepatan laporan menjadi penting. Artinya, jarak waktu antara terjadinya infeksi (onset) dengan pelaporan idealnya tidak tertunda terlalu lama. Inilah masalah umum negara-negara berkembang. Menurut seorang ahli data epidemiologi FKM-UI (komunikasi personal), untuk kasus Indonesia, jarak waktu itu adalah 1-2 minggu. Ini berarti laporan hari h sebenarnya menunjukkan keadaan (t-7) atau (t-14) yang lalu. “Celakanya”, pola penundaan laporan tidak bersifat acak sehingga tidak bisa diabaikan secara statistik.

Bagian selanjutnya tulisan diarahkan untuk memotret gambar besar tren kasus baru (harian) di Indonesia dalam perbandingannya dengan Malaysia dan Filipina menggunakan data laporan (WHO) dengan segala keterbatasan sebagaimana baru saja dibahas. Agar bermakna, tulisan ini didasarkan pada dua asumsi. Pertama, masalah penundaan laporan tidak mempengaruhi secara signifikan pola (bukan angka atau level) dan arah tren angka yang menjadi perhatian. Kedua, konsep, definisi, dan metode penghitungan data tidak berbeda antar negara secara signifikan; demikian halnya sistem dan akuntabilitas pelaporan serta akuntabilitas administrasi pelaporan.

Kasus Baru (Harian)

Grafik 1 menunjukkan tren kasus baru (harian) Covid-19 di Indonesia, Malaysia dan Filipina. Sebagai catatan, periode data yang dibandingkan disesuaikan dengan data Indonesia yang baru tersedia 2/3/20. (Data Malaysia tersedia sejak 25/1/20; Filipina sejak 30/1/20.) Ada tiga catatan mengenai Grafik 1 yang layak memperoleh perhatian:

  • Di tiga negara yang diperbandingkan angka kasus baru Covid-19 berfluktuasi atar waktu. Hal ini terutama berlaku untuk Indonesia dan Filipina. Fluktuasi ini patut diduga sebagian terjadi karena masalah penundaan laporan yang tidak bersifat acak sebagaimana di bahas sebelumnya.
  • Sejak minggu pertama Maret 2020, angka Malaysia selalu lebih rendah dari pada angka-angka di dua negara lainnya.
  • Dibandingkan dengan angka Filipina, angka Indonesia selalu lebih tinggi. Sedikit kekecualian terjadi dalam periode awal Maret dan awal April, serta akhir Mei 2020. Angka Filipina pada akhir Mei relatif sangat tinggi.

Grafik 1: Tren Kasus Baru Covid-19 di Indonesia, Malaysia dan Filipina

Demikian tiga catatan penting mengenai Grafik 1. Catatan penting lainnya, untuk Indonesia, ada perbedaan pola yang mencolok antara Jakarta dan Luar Jakarta (lihat Grafik 2, Sumber: Kompas). Angka Jakarta relatif stabil pada angka relatif rendah, di bawah angka 100-an, mirip dengan pola Malaysia sebagaimana akan terlihat nanti.

Grafik 2: Kasus Harian Kasus Positif Covid-19, Indonesia VS Jakarta

Penghalusan Data

Pergerakan angka pada Grafik 1 sulit dibaca karena faktor fluktuasi antar waktu. Untuk mengatasi ini diperlukan penghalusan data (data smooting) agar dimungkinkan melihat pola umum serta trennya.

Grafik 3 menyajikan menyajikan pola umum dan tren yang dimaksud menggunakan metode LOWESS (locally weighted scatterplot smoothing). Sebagai catatan, LOWESS (seperti halnya LOESS) adalah metode penghalusan data dengan menggabungkan model regresi ganda menggunakan data “tetangga terdekat” (k-nearest-neigbor). Karena menggunakan data tetangga maka secara logis metode ini dapat mengurangi sebagian dampak penundaan laporan [2]

Grafik 3: Tren Kasus Baru Covid-19 di Indonesia , Malaysia dan Filipina

(Lowess Smoother)

Bacaan Grafik 3 perlu difokuskan pada pola dan tren umum sebagaimana ditunjukkan oleh garis berwarna merah. Berdasarkan garis itu terkesan masih sulit untuk mengklaim total kasus di negara itu sudah “aman” dalam arti turun secara meyakinkan:

  • Filipina terkesan masih naik malah meningkat kecepatannya;
  • Malaysia terkesan mengarah pada gelombang peningkatan kedua (second wave), model spiral fungsi Sinus (?); dan
  • Indonesia jelas masih naik walaupun terkesan melambat.

Semua itu tentu interpretasi pribadi sekalipun berbasis data empiris. Interpretasi lebih cermat pasti lebih mungkin jika datanya dibagi per sub-nasional. Sebagai ilustrasi, untuk kasus Indonesia, Grafik 2 menunjukkan perbedaan pola nasional dan Jakarta. Selain itu, Grafik 4 memberikan kesan kasus di Jakarta cenderung turun sekalipun masih dibayangi second wave (lihat paruh kedua kurva hasil LOWESS smoothing), mirip Malaysia.

Grafik 4: Tren Kasus Baru (Harian) dan Total Kasus Jakarta

Sumber: M.N. Farid dan Tim FKMI-UI (mimeo, komunikasi personal); disajikan di sini setelah memperoleh izin yang bersangkutan.

*****

Kasus Covid-19 di Indonesia seperti halnya di Malaysia dan Filipina masih sulit dikatakan telah turun secara mantap. Ini analisis antar negara. Patut diduga ada variasi antar sub-nasional. Untuk Indonesia, misalnya, tren kasus baru (harian) di Jakarta cenderung turun sejak awal April. Walaupun demikian, bayang-bayang second wave masih mengintai. Jadi, masih memerlukan kewaspadaan semua pihak.

Wallahualam….. @

[1] Menurut wilayah kerja WHO, Malaysia, Filipina dan Vietnam termasuk kawasan Pasifik Barat (WPRO); Indonesia, Thailand, Myanmar dan Timor Leste, seperti halnya India dan Maldives misalnya, termasuk kawasan Asia Tenggara (SEARO).

[2] Pendapat berbeda dikemukakan oleh salah seorang ahli epidemiologi (komunikasi personal).

Isu Kerdil yang Besar

Apa masalahnya dengan kerdil? Bukankah itu soal genetis atau turunan orang tua? Apakah itu sesuatu yang dapat dicegah? Daftar pertanyaan semacam ini dapat diperpanjang. Tapi apapun jawabannya, yang jelas pemerintah menilai serius urusan ini. Indikasinya, untuk mengurusi isu ini, pemerintah telah membentuk P2AK: Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil[1]. Secara administrasi Tim ini berada di bawah Sekretariat Kantor Wakil Presiden dan ini menunjukkan besar, serius dan kompleksnya isu ini

Dari kepanjangan TP2AK terlihat beberapa hal berikut: (1) fokus perhatian pada anak, (2) pengerdilan anak diasumsikan dapat dicegah, dan (3) upaya pencegahan itu perlu dipercepat. Tapi apa masalahnya dengan kekerdilan ini? Inilah yang akan dicoba dijawab secara sederhana melalui tulisan singkat ini, sekadar untuk memperoleh gambar besarnya.

Definsi dan Dampak Stunting

Padanan Bahasa Inggris untuk kata kerdil adalah swarf (kata benda) sementara untuk kata pengerdilan adalah stunting (kata kerja). Yang menjadi isu bukan swarf tetapi stunting. Asumsi dasarnya, berbeda dengan swarf yang lebih bersifat genetis atau terjadi karena kelainan hormonal yang tidak dapat dicegah, stunting dapat dicegah. UNICEF menggunakan istilah yang terakhir ini untuk merujuk pada rendahnya tinggi badan anak relatif terhadap umurnya karena kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang dan seringnya infeksi: “Stunting, or low height for age, is caused by long-term insufficient nutrient intake and frequent infections”.

Dampak stunting ternyata luas termasuk lambatnya pertumbuhan motorik dan rusaknya fungsi kognitif anak, kedua hal ini pada gilirannya berakibat  pada buruknya kinerja sekolah anak. Dampak lebih jauh, menurut WHO stunting membawa dampak negatif terhadap produktivitas ekonomi nasional. Yang ‘menakutkan’, menurut UNICEF dampak stunting terhadap pertumbuhan motorik dan kognitif anak bersifat permanen (irreversible).

Prevalensi Stunting

Menurut UNICEF hampir sepertiga anak balita secara global tergolong stunting. Angka ini tidak berbeda jauh dari angka Indonesia yang dalam periode 2010-2019 sekitar 27-35%[2]. Dinyatakan secara berbeda, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa angka stunting Indonesia merepresentasikan angka stunting global.

…. angka stunting Indonesia representasi angka stunting global.

Prevalensi stunting relatif tinggi di negara-negara berkembang. Walaupun demikian, angkanya sangat bervariasi menurut kawasan. Angka untuk kawasan Asia Timur (Pasifk), misalnya, hanya 16%, jauh lebih rendah dari angka kawasan Asia Selatan (46%). Yang layak-catat, angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Highest levels are found in South Asia
Prevalence of stunting in children under five, by region (2000–2006)

Source: UNICEF

Angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Sebagai catatan, proses pengumpulan data untuk menghitung angka pengukuran stunting secara langsung relatif kompleks sehingga sulit diajarkan pada petugas Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Di sisi lain, kuesioner Susenas menyediakan sejumlah variabel yang dapat digunakan untuk membangun variabel penjelas (explanatory variables) bahkan untuk menghitung proksi indikator stunting. Dengan demikian data Susenas secara umum berpotensi untuk digunakan sebagai alat pemantauan status stunting secara berkala.

Tantangannya, rancangan sampel Susenas utamanya dimaksudkan untuk mengukur karakteristik rumah tangga secara umum, bukan karakteristik sub-populasi anggota rumah tangga secara spesifik seperti balita apalagi baduta. Dalam konteks ini, kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan bukan merupakan pilihan tetapi merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

…. kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan … merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

Faktor Pengaruh

Terkait anak stunting ini catatan pentingnya adalah bahwa kondisinya merupakan akibat dari sejumlah faktor yang terjadi bahkan sebelum anak itu terlahir. Itulah sebabnya upaya penanganannya mencakup 1000 hari pertama termasuk ketika anak itu masih berbentuk janin dalam rahim ibunya. Dengan demikian faktor ibu turut menentukan: asupan gizi dan kesehatan reproduksi ibu ketika mengandung turut menentukan. Jika asupan gizinya buruk atau secara fisik belum siap (akibat pernikahan dini) maka besar kemungkinan dia melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR).

Banyak faktor yang mempengaruhi stunting termasuk sejarah kesakitan neonatal dan kemiskinan. Menurut suatu penelitian (2017) terhadap anak berumur 12-23 bulan, bayi dengan sejarah kesakitan neonatal (neonatal illness) memilki OR=1.23; artinya, memiliki risiko menjadi stunting 23% lebih tinggi dari bayi yang tidak memiliki sejarah itu. Sementara itu, risiko kemiskinan (tidak langsung) memiliki OR=1.3.

Menurut penelitian yang sama, risiko BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan risiko dua faktor sebelumnya. Angka OR-nya sekitar 1.74. Dengan kata lain, bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau di bawah normal (<2.5 kg) berisiko 74% lebih tinggi untuk menjadi stunting dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan normal (>=2.5 kg[3]). Yang juga layak-catat dari penelitian ini adalah bahwa bayi laki-laki 27% berisiko lebih tinggi menjadi stunting dari pada bayi perempuan. Apakah angka terakhir menunjukkan bahwa wanita lebih “tangguh” dari pria sejak masih bayi?

Wallahualam…. @

[1] Penulis baru saja kenal istilah TP2AK karena kebetulan beberapa hari lalu (3/6/20) berpartisipasi dalam suatu Zoom Meeting terkait isu ini.

[2] Menurut suatu penelitian (2017), prevalensi stunting anak umur 12-23 bulan di Indonesia sekitar 40.4%.

[3] Angka ini lebih kecil dari 2 standar deviasi median dari standar tinggi badan per umur menurut standar WHO.

Ihsan Kepada Orang Tua

Hampir semua (kalau tidak semua) agama mengandung ajaran untuk menghormati orang tua. Jadi tidak aneh jika Islam juga mengandung ajaran yang sama. Yang khas dalam Islam adalah ajaran ini demikian ditekankan dan ajarannya berasal langsung dari sumber tertinggi yaitu Al-Quran. Kitab Suci ini mengajarkan bahwa kita tidak cukup hanya berbuat baik kepada orang tua (Arab: al-birr); kita diperintahkan ber-ihsan kepada mereka.

…. kita tidak cukup hanya berbuat baik kepada orang tua; kita diperintahkan ber-ihsan kepada mereka.

Tulisan ini menyajikan refleksi mengenai sikap ihsan kepada orang tua berbasis beberapa ayat Kitab Suci itu. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini dibahas sekilas perbedaan dua istilah qurani ini yang baru saja disinggung: al-birr dan ihsan.

Perbedaan al-Birr dan Ihsan

Istilah al-birr merujuk pada kebaikan dalam pengertian umum sementara istilah ihsan pada al-birr tetapi dengan kualifikasi yang lebih dalam (deep) dan mendalam (profound). Perbedaan kedua istilah ini diilustrasikan secara sederhana oleh Ustaz Yazid Muttaqin:

Ketika tetangga Anda memberikan semangkuk opor ayam lalu keesokan harinya Anda membalas dengan juga memberinya semangkuk opor ayam, maka apa yang Anda lakukan itu adalah perbuatan baik namun tidak pada makna ihsan. Kebaikan yang Anda lakukan itu hanyalah kebaikan sepadan untuk membalas kebaikan yang Anda terima. Namun bila Anda membalas pemberian itu dengan opor ayam seekor utuh maka itulah yang disebut kebaikan dalam makna ihsan.

Untuk memperjelas, ilustrasi berikut ini mungkin dapat membantu.

Jika Anda berkomitmen mengalokasikan katakanlah 10-25% dari pendapatan Anda untuk orang tua maka itu adalah al-birr, Insya Allah. Anda telah melakukan apa yang dalam bahasa santri birrul walidain. Tetapi jika proporsi yang dialokasikan katakanlah 70% atau lebih tinggi maka Insya Allah Anda telah berbuat ihsan kepada orang tua.

Terkait dengan definisi ihsan, Sang Ustaz itu mengutip salah satu karya ulama besar, Syekh Nawawi Banten, sebagai berikut:

ليس الإحسان أن تحسن إلى من أحسن إليك ذلك مكافأة، إنما الإحسان أن تحسن إلى من أساء إليك

Artinya: “Ihsan bukanlah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan. Hanya dikatakan ihsan bila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Marâh Labîd, Beirut: Darul Fikr, juz I).

Perintah Kedua

Semua agama samawi menempatkan perintah ber-tauhid atau mengesakan Dia SWT sebagai perintah pertama dan utama. Dalam Agama Islam, hal itu tercermin dari rukun atau prinsip pertama dalam Rukun Islam maupun Rukun Iman. Dalam Agama Yahudi dan Kristen, hal yang sama juga berlaku jika mengacu pada 10-Perintah-Tuhan yang tercantum secara eksplisit dalam Kitab Keluaran maupun Kitab Ulangan. Dinyatakan secara berbeda, dalam semua agama samawi, ber-tauhid merupakan kebajikan utama yang menjadi basis bagi semua kebajikan yang lain.

…. ber-tauhid merupakan kebajikan utama yang menjadi basis bagi semua kebajikan yang lain.

Jika dalam 10-Perintah-Tuhan perintah kedua adalah mengingat dan menyucikan Hari Sabat, maka dalam Islam perintah kedua adalah ber-ihsan kepada orang tua. Hal ini menunjukkan demikian pentingnya perintah ihsan kepada orang tua:

Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun, ber-ihsan kedua orang ibu bapak, dan janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar”. QS (6:151).

Dari kutipan itu jelas perintah ber-ihsan kepada orang tua menempati urutan kedua setelah perintah ber-tahuid, sebelum perintah atau larangan yang lain termasuk membunuh. Perintah ber-ihsan itu sering diulang dalam Al-Quran dan secara konsisten menempati urutan kedua setelah perintah ber-tauhid. Dalam beberapa ayat perintah itu dinyatakan secara rinci sebagaimana tercantum dalam (Qs 31:13-15):

وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍۢ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar ber-ihsan) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah kamu menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Kebajikan Fundamental

Kenapa ihsan kepada orang tua demikian ditekankan dalam Al-Quran? Jawabannya, wallahualam. Yang jelas, secara biologis-normal, hubungan orang tua dan anak adalah hubungan niscaya, sine qua non: keberadaan anak menghendaki adanya keberadaan orang tua. Hubungan serupa dalam pengertian yang lebih subtil berlaku antara manusia dengan Dia SWT. Hubungan niscaya semacam itu adalah haqq (Arab) yang berarti kebenaran sekaligus realitas. Sebagai catatan, para sufi terbiasa menggunakan istilah Al-Haqq untuk merujuk pada Realitas tertinggi, Allah SWT.

Kebenaran dan realitas atau haqq (truth, veracity) adalah kebajikan fundamental yang mendasari dua kebajikan fundamental lainnya yaitu murah hati (Inggris: charity, charitable) dan rendah hati (Inggris: humility, humble). Dinyatakan secara berbeda, murah hati dan rendah hati ini secara spiritual tidak bermakna jika tidak didasari kebenaran.

Murah hati dan rendah hati ini secara spiritual tidak bermakna jika tidak didasari kebenaran.

*****

Jika kebenaran tercermin dalam perintah bertauhid dan ihsan kepada orang tua (QS 17:22-25), maka murah-hati dalam perintah “memberikan hak-hak orang-orang terdekat, miskin, dsb.” (QS 17: 26-28), sementara rendah hati dalam larangan “berjalan di muka bumi secara sombong” (QS (17: 37). Yang menarik, tiga ayat ini semuanya tercantum dalam Surat ke-17 (Al-Isra). Yang juga menarik, rangkaian ayat 22-37 dalam surat yang sama mencakup 10 jenis larangan keras termasuk berzinah, membunuh, praktik bisnis yang curang, dan mengeksploitasi anak yatim (sebagai representasi kelompok masyarakat yang rentan tanpa perlindungan).

Semua dari 10-larangan ini merupakan antitesis dari kebajikan-kebajikan yang terbingkai dalam tiga kebajikan fundamental yaitu  realitas atau kebenaran, murah hati, dan rendah hati.  Realitas atau kebenaran dalam konteks ini merujuk pada realitas hakiki dalam kebijakan abadi (perennial wisdom), bukan kebenaran realitas palsu (pseudo-reality):

…. spokesmen of the philosophia perennis… always have the freshness and perfect “timeliness” that comes from truth …, real wisdom does not fade with age …Conceptualist relativism abolished truth in order to set in its place a blind and heavy biological pseudo-reality (Schuon, Spiritual Perspectives & Human Facts, 2007:13).

Wallahualam…. @