Kependudukan

Estimasi Populasi Muslim 2017

Umat Islam atau muslim baru saja merayakan iedul fitri untuk menandai berakhirnya bulan puasa yang prosesinya menurut ajaran otentik sangat sederhana: salat dua rakaat (tanpa adzan) dan melantuntkan takbir, allahu’akbar, Allah Maha Besar. Takbir ini[1] mengaskan kesadaran individu umat mengenai kebesaran rabb, sekaligus kekerdilan dirinya di hadapan-Nya. Kesederhanaan ajaran ini tidak membelenggu umat untuk mengekspresikan kegembiraan mereka secara kreatif sehigga tumbuh beragam tradisi ied antar kelompok umat. Di Indonesia, misalnya, ada tradisi halal-bi-halal dan “pulang kampung” yang menghebohkan itu semata-mata untuk memeriahkan hari raya itu.

Dalam ied semua diharapkan mampu berpartisipasi, semua, tanpa kecuali, termasuk kelompok mustadh’afin: kaum papa yang serba tidak berkecukupan, anak-anak yatim tidak punya pelindung, dan kaum “terpinggirkan” lain. Ini adalah sebagian hikmah dari kewajiban zakat fitrah yang relatif sangat ringan yaitu setara 2.7 kilogram makanan pokok atau sekitar Rp 40,000. Dengan kewajiban minimalis ini hampir setiap keluarga mampu memenuhi; disisi lain, karena kewajiban ini berlaku bagi hampir setiap jiwa, maka akan segera terkumpul dana komunitas umat dalam jumlah yang cukup untuk memastikan setiap orang, tanpa kecuali, paling tidak memperoleh makanan layak pada hari raya. Ini adalah dimensi sosial dari ibadah puasa, dimensi yang juga melekat pada semua ibadah-ibadah lain dalam Islam.

Pertanyaan yang layak diajukan adalah kira-kira berapa banyak orang yang merayakan ied tahun 2007 ini. Ini jelas bukan pertanyaan yang workable karena kita harus mendefinisikan “merayakan” dalam kasus ini dan tidak ada survei mengenai ini. Oleh karena itu, tulisan ini mengasumsikan semua umat muslim merayakannya. Asumsi ini sepintas lalu tampak overestimate karena kita mungkin perlu mengeluarkan sebagian kelompok umat dalam perhitungan: bayi yang belum tahu apa-apa, mereka yang sudah udzur karena usia, sakit parah, yang berada dalam situasi yang sangat rawan dari sisi keamanan, kaum papa yang tidak berdaya secara ekonomi dan terlupakan, yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kehidupan dasar termasuk mereka kesulitan bahkan untuk mengakses bersih seperti yang banyak ditemukan di kawasan gurun Afrika. Walaupun demikian, overestimasi ini dikompensasikan oleh kelompok non-muslim yang turut merayakan ied yang jumlahnya sulit didefinisikan dan ditebak. Singkatnya, menggunakan estimasi populasi muslim sebagai proksi untuk memperkirakan orang yang ikut merayakan ied tampaknya lumayan realistis. Tetapi ini bukan tanpa tantangan karena data otentik mengenai populasi muslim tidak tersedia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ini.

Estimasi populasi global

Sebagai titik tolak kita dapat mulai menganalisis dengan mencermati estimasi populasi manusia secara keseluruhan. Untuk keperluan ini banyak sumber data yang dapat diakses secara relatif mudah. Tulisan ini mengandalkan  salah satu sumber yang dapat diakses:  http://www.worldometers.info/world-population/.

Menurut sumber ini estimasi populasi manusia global pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 5.3 milyar jiwa. Angka ini sudah memperhitungkan angka kelahiran (komponen pertambahan jumlah penduduk), angka kematian (komponen pengurangan jumlah penduduk), tetapi mengabaikan unsur migrasi (komponen pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk). Kenapa komponen terakhir diabaikan? Karena sejauh ini tidak ada laporan mengenai migrasi antar-planet.

Jumlah penduduk bervariasi antar negara tetapi menonjol di 20 negara sebagaimana disajikan dalam Grafik 1. Dua negara terbesar yaitu China dan India sudah mencakup sekitar 2.7 milyar atau lebih dari sepertiga penduduk global.

Dibandingkan dengan angka tahun 1998[2], total penduduk global bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milyar. Dinyatakan secara berbeda, rata-rata angka pertumbuhan populasi global per tahun sekitar 1.8 persen. Angka terakhir ini diperoleh dari perhitungan menggunakan rumus standar dalam demografi yaitu

r = (1/t) ln (Pt/P0) ……… (1)

dimana

Pt : Populasi tahun 2017

P0: Populasi tahun 1998

r: rata-rata pertumbuhan populasi

t: jarak tahun antara 1998 dan 2017

Persamaan ini diturunkan dari persamaan yang lebih umum:

Pt = P0ert ……… (2)

muslim_gr1

Tidak ada sumber data otentik mengenai populasi muslim secara global pada tahun 2017. Oleh karena itu tulisan ini mengandalkan sumber yang tersedia mengenai populasi muslim global dan itu pun merujuk pada angka tahun 1998[3]. Data ini dilaporkan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia yang sebagai besar adalah CIA[4]. Sumber ini hanya  dapat memanfaatkan sumber data yang “seharusnya” untuk keperluan semacam ini– sensus penduduk atau sumber kredibel lain dari kantor statistik suatu negara– untuk 11 negara: Singapore, Canada, Australia, Hongkong, Hungary, Austria, Macau, Fidlandia dan Barbados. Indonesia tidak termasuk dalam daftar pendek ini padahal dalam kuesioner Sensus Penduduk Indonesia 1990 dan 2000 ada pertanyaan mengenai agama. Ini tampaknya perlu dicatat oleh otoritas statistik yang sebagian besar akan  menyelenggarakan sensus penduduk pada atau sekitar tahun 2020. 

Estimasi Populasi Muslim

Berdasarkan sumber data ini dapat diketahui bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 1998 berjumlah sekitar 1.3 milyar juta jiwa. Mereka tersebar di lima benua sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 2. Pada grafik itu tampak tingginya konsentrasi populasi muslim di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah dan Indonesia. Di kawasan-kawasan ini proporsi muslim mencapai 75%-100% dari total penduduk.

Grafik 2: Persebaran Geografis Populasi Muslim

muslim_gr2

Sumber: http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

Menurut sumber yang sama, persebaran geografis populasi muslim sangat tidak merata. Sekitar dua-pertiga populasi Muslim tinggal hanya di 21 negara “besar”, besar dalam arti berpenduduk muslim di atas 10 juta jiwa. Grafik 3 memperlihatkan hal itu.

Konsentrasi populasi Muslim, diukur dari proporsi terhadap populasi secara keseluruhan di negara yang bersangkutan, juga tidak merata.

  • Proporsi muslim mecapai 100% di enam negara: Arab Saudi, Somalia, Mauitia, Bahrain, Maldives dan Western Sahara.
  • Proporsi di India hanya 14% tetapi totalnya mencapai angka 137,7juta jiwa, lebih besar dari populasi Pakistan secara keseluruhan yaitu 135,1 juta jiwa.
  • Total populasi Muslim di Amerika Serikat (1998) diperkirakan sekitar 5.7 juta jiwa atau hanya 2.1% dari total populasi. Angka proporsi ini lebih kecil dari angka persentase untuk, misalnya, China (3.0%) apalagi Federasi Rusia (4.7%).

Estimasi 2017

Estimasi populasi global dalam 29 terakhir bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milar pada tahun 1998 menjadi 7.5 milyar pada tahun 2017. Dinyatakan secara berbeda, populasi global meningkat sekitar 1.81% per tahun daalm kurun waktu itu. Dalam kurun waktu yang sama populasi di 21 negara “muslim” –disini didefinsikan sebagai negara dengan populasi muslim di atas 10 juta jiwa- meningkat jauh lebih lambat yaitu 1.34% per tahun (lihat Tabel 1). Ini tampaknya tidak mendukung convetional wisdom yang mengkhawatirkan populasi muslim akan segera mendominasi populasi dunia.

Bagi 21 negara muslim (dengan definisi di atas), rata-rata pertumbuhan per tahun populasi secara keseluruhan (bukan hanya muslim) 1.34%, dengan rentang antara  0.61% untuk China dan sampai 3.26% untuk Tanzania (lihat kolom 3 Table 1).

Kita dapat mengestimasi populasi muslim tahun 2017 berdasarkan angka-angka itu. Hasilnya adalah daftar estimasi populasi muslim di negara-negara muslim tadi sebagaimana ditunjukkan oleh kolom 5 Tabel 1. Secara keseluruhan total populasi di negara-negara itu mencapai 1.3 milyar. Dalam hal ini Indonesia “paling unggul” dengan mencakup 15.7% dari total, diikuti India (12.5%) dan Pakistan (12.4%). Di sini kita mengasumsikan pertumbuhan penduduk populasi muslim dan non-muslim di negara yang bersangkutan sama.

Proporsi populasi 21 “negara muslim” –negara dengan populasi di atas 10 juta jiwa– terhadap total populasi global adalah sekitar 4.3 berbanding 7.5 atau 57.2% (lihat angka pada dua baris terakhir kolom 2. Jika kita menggunakan proporsi ini untuk menghitung populasi muslim global maka kita akan memperoleh angka sekitar 2.4 milyar [=(7.5151/4.2984)*1.35545] atau 31.5% dari total populasi global secara keseluruhan. Inilah estimasi populasi muslim global pada tahun 2017. Di sini kita mengasumsikan angka rata-rata pertumbuhan di ke-21 negara itu sama dengan angka untuk negara-negara lainnya.

Kesimpulan dan Pilihan Umat

Sebagai kesimpulan ringkas dapat dikemukakan bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 2017 sekitar 2.4 milyar atau 31.5% dari populasi global secara keseluruhan. Ini merupakan angka yang besar. “Bola” berada di tangan muslim untuk mempersepsikan diri apakah angka ini perlu dilihat sebagai beban atau modal. Selain itu, umat memiliki pilihan untuk menentukan pilihan alternatif ini: apakah berkomitmen untuk menjadi “umat terbaik” (al-Baqarah: al-‘Imran:110) dan menjadi “wasit” (al-Baqarah:143) yang berkemapuan mewasiti pertandingan “permainan global”, atau, menjadi pihak yang diwasiti karena pertentangan internal umat yang timbul dari permasalahan trivial, dengan mempertahankan tradisi kesukuan (sy’ubiah) dan buta terhadap ajaran universal agamanya yang by design diturunkan sebagai rahmat bagi alam (al-Anbiya:107). Terserah!

Sangat tidak realistis berharap mampu berperan sebagai wasit jika kualitas umat seperti “buih” yang tidak punya kendali, atau, berkulitas sebagai “makanan-siap-santap” bagi umat lain.  Ini bukan mengada-ngada tetapi telah diramalkan oleh Rasul saw akan dialami umat melalui salah satu haditsnya, hadits yang agaknya kurang diminati oleh para muballig untuk mempopulerkannya kepada umat……. @

[1] Menurut catatan sejarah, lafal takbir (di-senafas-kan dengan lafal tahlil dan tahmid), bergema ketika peristiwa penaklukan Kota Mekah dari kekuasaan kafir quraisy yang berlangsung secara damai tanpa pertumpahan darah. Ini miracle mengingat tradisi berperang bagi suku-suku Arab saat itu dan mengingat kelompok “penakluk” sebelumya telah diperlakukan secara sangat brutal bahkan dalam standar budaya saat itu. Kekuatan “magis” takbir, selain kehadiran wajah-damai Rasul saw, tampaknya turut membantu mengendalikan efora kemenangan ke arah yang sangat positif, penuh dignity, dan religious.

Wallahu’alam.

[2] Tahun 1998 memperoleh perhatian khusus karena akan digunakan dalam analisis selanjutnya seperti yang akan jelas nanti.

[3] http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

[4] CIA World Factbook Website http://www.odci.gov/cia/publications/factbook/

 

Advertisements
Standard
Evaluasi dan Analisis Data Statistik, Refleksi, Spiritual

Basmalah: Suatu Analisis Kuantitatif

Istilah basmalah merupakan kependekan dari ‘bismillah al-rahman al-rahiem’, ayat pertama dari surat pertama al-Qur’an (al-Fatihah). Basmalah terdiri dari huruf-huruf hijaiyah (huruf dalam Bahasa Arab) yang masing-masing memiliki nilai. Lafadz bismi, misalnya, terdiri dari tiga huruf: b (ba), s (sin) dan m (mim), yang masing-masing memiliki nilai 2, 60 dan 40. Total huruf dari lafadz ini, dengan demikian, adalah 2+60+40=102. Tabel 1 mendaftar nilai dari masing-masing huruf hijaiyyah yang akan kita gunakan dalam analisis. Daftar itu konon sama dengan sistem nilai abjad Rumawi.

Karena memiliki nilai inilah maka analisis kuantitatif ayat a-Qur’an (tidak hanya basmalah) dimungkinkan dan nyatanya telah banyak yang melakukan[1]. Tulisan ini merupakan hasil kajian beberapa literatur yang relevan dan diharapkan dapat membantu mengapresiasi basmalah –seperti halnya ayat-ayat suatu kitab suci (termasuk al-Qur’an)– sebagai wahyu dalam arti berbasis inspirasi langsug[2] dari Yang_Maha_Tinggi, serta memiliki karakter sakral (sacred). Istilah sakral di sini mengacu pada apa yang diungkapkan Schuon (1998:45)[3]: sesuatu yang tersambung dengan tatanan transenden, memiliki karakteristik kepastian yang absolut, dan di luar nalar dan kendali pikiran manusia biasa.

… sacred which in the first place is attached to the trancendent order, secondly possesses the character of absolute certainty, and, thirdly, eludes the comprehension and control the ordinary human beeing.

tab1_basmalah

Secara sederhana komposisi basmalah dapat dilihat sebagai gabungan dari empat lafadz: bismi (b/s/m), allah (a/l/l/h), al-rahman (a/l/r/h/m/n), dan al-rahim (a/l/r/h/i/m). Kita memahami makna masing-masing komposisi basmalah itu tetapi apa yang dikemukakn Schuon[5] tampak sangat kuat-padat dan inspirasional sehingga layak kutip:

Allah: Prinsip Tertinggi sejauh ia memuat segala sesuatu. Misteri mengenai ketuhanan.

Al-Rahman: Prinsip Tertinggi dalam sifat-sifatnya yang ingin menampakkan Ketuhanannya, keindahannya, aksih sayangnya, sejauh itu adalah kekuasaan Tuhan “sebelum” penciptaan dunia. Misteri mengenai Ketuhanan intrinsik.

Al-Rahim: Prinsip Tertinggi sejauh ia memanifestasikan Ketuhanannya “setelah” penciptaan Dunia dan segala sesuatu di dalamnya. Misteri mengenai Ketuhanan ekstrinsik.

Misteri Angka 19

Berdasarkan Tabel 1 kita bisa melihat bahwa huruf yang menyusun lafadz basmalah berjumlah 19 dan ini merupakan penjumlahan dari 3+4+6+6. Seperti yang akan kita lihat nanti, angka 19 ini terkesan “misterius”[4] dan tampak sebagai faktor kunci dalam analisis kuantitatif sistem basmalah (bahkan dalam sistem al-Qur’an secara keseluruhan). Berikut ini disajikan lima fakta relevan terkait dengan angka misterius itu:

Fakta-1: Jumlah surat dalam al-Qur’an, mulai dari al-Fatihan dampai al-Naas, berjumlah 114. Angka ini merupakan kelipatan angka 19: 114=19×6;

Fakta-2: Basmalah tercantum dalam setiap surat, muncul dua kali dalam Surat al-Naml (ayat awal dan ayat ke-30), tetapi tidak muncul sama-sekali dalam Surat al-Baraah. Basmalah sebagai awal dari Surat tak_bernomor kecuali Surat ke-1 (al-Fatihah). Dengan demikian, jika mengabaikan yang tak_bernomor dan mengingat fakta-1, maka total kemunculan basmalah adalah 114 kali: 114=19×6;

Fakta-3: Lafadz Allah, tanpa memperhitungkan basmalah dalam setiap awal surat, tercantum dalam al-Qur’an sebanyak 2,698 kali: 2,2698=19×142;

Fakta-4: Lafadz al-Rahman yang dinisbahkan langsung kepada Allah swt tercantum sebanyak 57 kali: 57=19×3; dan

Fakta-5: Lafadz al-Rahiman yang dinisbahkan langsung kepada Allah swt (sehingga tidak termasuk ayat ke-128 Surat ke-9) tercantum sebanyak 114 kali: 114=19×6.

Peratanyaan retrospektif: Apakah relasi angka-angka atau persamaan dalam fakta 1-5 di atas kebetulan atau random? Seperti yang akan kita lihat nanti, kemungkinan kebetulan dalam persamaan semacam itu mendekati nol.

Misteri Angka 19 Berlanjut

Untuk mendalami misteri angka 19 lebih lanjut kita perlu tabel pembantu yang menyajikan proses dan hasil artimatika sederhana terhadap komposisi huruf yang menyusun basmalah. Tabel 2 dimaksudkan untuk tujuan itu dan akan segera kita analisis[6]. Tetapi sebelumya kita perlu menyisipkan catatan singkat mengenai tabel itu.

Tiga kolom pertama dalam tabel itu tampak jelas dengan sendirinya. Proses perhitungan angka-angka dalam Kolom (5)-(7)tampaknya juga jelas. Yang mungkin perlu penjelasan tambahan adalah Kolom ke-4 dan ke-8:

Kolom ke-4 diperoleh dari akumulasi kolom ke-3: 3 (baris ke-1= 3+0), 7 (baris ke-2= 3+7), 13 (baris ke-3=7+6), dan 19 (baris ke-4=13+6).

Prosedur yang sama berlaku untuk Kolom ke-8 tetapi menggunakan kolom yang berbeda sebagai basis perhitungan yaitu Kolom ke-6.

tab2_basmalah

Sekarang kita siap untuk menaganlisis Tabel 2.

Dalam tabel itu kita dapat melakukan berbagai permainan perhitungan dan bisa mengamati paling tidak empat relasi angka angka berikut ini:

  1. Jika kita mengurutkan kolom kolom (1) dan kolom (3) maka kita sampai kepada angka 1324364 Angka ini terkesan acak (random) tetapi ternyata tidak; ia merupakan kelipatan dari angka 19: 13,243,646 = 19 x 697,034.
  2. Jika prosedur yang sama kita lakukan tetapi kali ini mulai dari bawah niscaya kita akan sampai pada angka 46,362,413: 46,362,413 = 19 x 2,440,127.
  3. Jika prosedur 1) kita ulangi tetapi menggunakan kolom (1) dan kolom (7) niscaya kita angka akan memperoleh angka 110,527,033,354,295: 110,527,033,354,295 = 19 x 5,817,212,281,805.
  4. Jika prosedur 1) kita replikasi menggunakan kolom (1) dan kolom (4) niscaya akan menghasilkan angka 1,327,313,419: 1,327,313,419 = 19 x 69,858,601.

Probabilita relasi angka-angka itu bersifat kebetulan atau random hampir nol. Penjelasan singkatnya kira-kira begini:

Secara statistik kita bisa rumuskan semua relasi angka-angka di atas (kecuali yang ke-3) sebagai:

1k2l3m4n = 19 X a

dimana, k, l, m, n dan a angka bulat (tanpa pecahan atau desimal) yang terdiri dari sejumlah digit.

Rumusan itu berarti, di tempat nilai-nilai k, l, m dan n mesti ada suatu nilai yang berkorespondensi dengannya. Menurut simulasi komputer[7], random odds[8] dari persamaan 1 adalah 1 berbanding 189,753; untuk persamaan 1 dan 3 adalah 1:36 milyar; dan untuk tahap 1, 3, dan 4 dikombinasikan, adalah kurang dari 1:6.8 quadrillion (=10 pangkat 15), suatu perbandingan yang sulit dibayangkan kecilnya.

angka2

Sumber: Youtube

Kesimpulan dan Penutup

Sebagai kesimpulan dapat dimeukakan bahwa relasi angka-angka dalam dalam persamaan 1-4, seperti halnya dalam fakta 1-4 sebagaimana dibahas sebelumnya, hampir nol. Dengan perkataan lain, relasi itu hampir pasti ada yang secara intensional bermaksud menciptakannya. Dalam perspektif iman kesimpulan ini mungkin tidak memadai karena masih menyisakan keraguan.

Agar yakin, kita perlu menghapus kata “hampir” dalam kesimpulan itu. Ini sama saja dengan menyatakan bahwa basmalah adalah wahyu dalam pengertian sebagaimana diungapkan oleh Schuon (dikutip sebelumnya dan kita narasikan-ulang): (1) transenden, misteri yang selamanya tidak akan pernah terungkap secara tuntas, (2) kepastiannya bersifat mutlak, dan (2) tidak akan terjangkau sepenuhnya oleh nalar kita.

Sebagai penutup kita berharap kesimpulan di atas dapat membantu kita memahamai dua ayat berikut:

Al-Isra (17:88):

Katakanlah. “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) AlQur’an ini, merek tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”.

Al-Kahfi (18:109):

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalmat-kalimatTuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.

Wallahu’alam bimuraadih ….@

[1] Untuk rujukan dapat diakses, misalnya, http://www.masjidtucson.org/quran/miracle /simplefacts.html, juga http: //eholyquran.com/Quran/LinksPrime/Mathematical Miracles OfQuran.htm

[2] Mengenai inspirasi langsung dapat dirujuk https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/10/seri-uzair_on_puasa-al-quran-dan-ahli-kitab/

[3] Schuon, F. (1998), Understanding Islam, World Wisdom.

[4] 19 adalah angka prima (tidak memiliki pembagi) dan unik karena terdiri dari angka terkecil (=1) dan terbesar (=9), semacam alpha (=a) dan omega (=w) dari suatu abjad.

[5] Schuon, F. (2002), Transfigurasi Manusia: Refleksi Antrosophia Perennialis, Penerbit Qalam.

[6] Tabel ini dikembangkan dari artikel yang berjudul “Mathematical Miracles of Quran” dalam http://eholyquran.com/ Quran/ LinksPrime /MathematicalMiraclesOfQuran.htm

[7] Lihat http://eholyquran.com/Quran/LinksPrime/MathematicalMiraclesOfQuran.htm

[8] Istilah odds sangat teknis sehingga sulit dijelaskan secara singkat. Walaupun demikian, ia secara sederhana dapat diartikan sebagai perbadingan antara jumlah kasus random (=a) dengan jumlah kasus tidak random (=b). Ini berbeda dengan probabilita yang diperoleh dari a/(a+b).

Standard
Jejak Pemikiran, Ketenagakerjaan

Domestic Workers in Indonesia: A Statistical Perspective

Uzair Suhaimi (uzairsuhaimi.blog)

Domestic workers, or Pembantu Rumah Tangga (PRT) in Bahasa, can be described as individuals who work for private households to undertake such tasks as cleaning the house, cooking, washing and ironing clothes and taking care of children, elderly or sick members of a family. They are generally viewed among the most vulnerable groups of workers: they often face low wages, excessively long hours, have no guaranteed weekly day of rest and at times are vulnerable to physical, mental and sexual abuse or restrictions on freedom of movement[1].

The total population of DWs worldwide has been estimated as at least 53 million. This total did not include child DWs[2]. Graph 1 illustrates that DWs were mostly found in Latin America and Asia (including Indonesia).

Graph 1[3]

This article aims to discus briefly the estimates of total population of DWs in Indonesia and their basic characteristics. Before coming to these topics, for clarity, auxiliary information on definition and data sources of DWs is inserted as follows.

Definition and Data Sources

As stipulated in the Article 1 of ILO Convention 189 on Decent Work for Domestic Workers, the term domestic worker (DW) refers to any person engaged in domestic work –work performed in or for a household or households– within employment relationships. According to the ISIC system, domestic work belongs to category “Activities of private households as employers of domestic staff” coed 9700.

DW may be residing in the household of the employer or living in his or her own residence. While the first case is known as live-in DW (IDW); the second, live-out DW (ODW).

In Indonesia, the National Labour Force Survey or Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) and the National Social and Economic Survey or Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) can provide statistical data on live-in DW through “the relationship with head of household”. One of the items of the variable is pembantu (code 8), which is not other than DW as defined above.

Sakernas can also provide data on live-out DWs through variable “main industry”. Sakernas uses an open question on that variable and the ISIC system is used for coding. As mentioned, DW can be identified if the code is 9700. In order to identify live-out DW, the variable is obviously should be cross-checked with variable “the relationship with head of household”: live-out DW is identified if the code of the variable is not 8; otherwise, live-in DWs. Susenas cannot provide data on live-out DW as the survey uses a close question of the variable of main industry only for major branch of economy (can not be used identify live-out DW). Graph 2 shows how to identify DW from Susenas and Sakernas: Panel A for Susenas and Panel B for Sakernas.

Total Estimate of Domestics Workers

Table 1 show that according Sakernas, total estimate of domestic workers (DWs) aged 15+ in 2008 was about 2.2 million, within 2.1 and 2.3 million of 95 percent confidence interval. The estimate become 2.6 million in 2012 or increased by about 15 percent during 2008-2012 periods. The estimates were highly reliable as measured by their relative standard errors that were less than 3 percent in both years (not shown in the table).

Among other points shown by the first panel of Table 1 are as follows:

  • Much larger proportion of DWs was live-out DWs: more than 1.5 million out of 2.3 million DWs or 69 percent were live-out DWs; in 2012 the proportion was even larger, about 83 percent;
  • Child DWs aged 15-17 was about 170,000 in 2008 and it declined to 111,000 in 2012;
  • Total estimates of employers of live-in DWs (EDWs) was 1,078 million in 2008 and 1,150 million in 2012; and
  • Some EDWs employed more than one live-in DWs: on the average, there were 142 DWs per 100 DW employers in 2012, and 185 DWs per 100 DW employers in 2012

On demographic characteristics  of DWs Table 1 shows that DWs were predominantly young adult females: about three-fourth DWs were females and their ages on the average were between 35 and 37 years old. On employment characteristics the table shows:

  • In most cases DWs worked 7 days and 40 hours or more in a week;
  • The excessive working day and hour were more striking for children aged 15-17; and
  • DWs and child DWs shared the same low level of earning.

The last panel of Table 1 show a high economic status of EDWs as measured by per capita expenditure. In 2008, the median per capita expenditure/month of EDWs was about Rp. 1.1 million. This means, 50 percent of EDWs had per capita expenditure Rp. 1.1 million or more. In 2012 the median was even higher, almost Rp 2.0 million.

[1] http://www.ilo.org/global/docs/WCMS_209773/lang–en/index.htm

[2] As Note 1

[3] As Note 1

Standard
Kemiskinan, Refleksi

Doa Personal

Mengomentari Aksi Demo “Damai” 4/11/16 Ustadz Mansur –dalam suatu acara TV talk show 5/11/16 yang lalu– menekankan arti penting doa, menjelang dan pasca demo. Mengenai relatif amannya demo ini beliau mengatakan kira-kira: “Siapa yang mampu mengendalikan pendemo yang jumlahnya mencapai jutaan (secara nasional) kecuali Dia yang menguasai hati setiap orang”. Selanjutnya, karena menurutnya tidak ada satu pihak pun yang menghendaki kekacauan atau kerusuhan, beliau mengajak semua pihak, termasuk penganut agama lain, untuk memanjatkan doa bagi keamanan Indonesia yang hakikatnya “milik” Tuhan. Beliau sangat meyakini kekuatan doa dan penulis yakin beliau dalam hal ini dia tidak sendirian, apalagi dalam konteks Indonesia yang dikenal religious. Melalui tulisan ini penulis bermaksud berbagai pendapat mengenai doa, khususnya mengenai doa personal.

Mode Berdoa

Dalam bentuknya yang elementer, istilah doa merujuk pada doa personal (personal prayer); artinya, yang menjadi subyek doa adalah seorang individu sehingga yang digunakan adalah kata ganti orang pertama (Saya, Aku). Contoh doa personal: “Ya Allah, karuniakan kepadaku nikmat kesehatan dan keberkahan hidup”. Contoh lain adalah doa Nabi Musa menjelang ketemu Fir’aun (Thaha: 25-26): “… Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku”.

Pernyataan doa di atas berbeda, dengan, misalnya, doa yang dinarasikan dalam al-Fatihah (ayat 5): “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di sini yang menjadi subyek doa bukan seorang individu manusia (such a man), melainkan manusia secara keseluruhan atau sebagai satu ras (man as such). Doa ini wajib dibaca dalam salat sehingga ketika salat sebenarnya kita meng-atas-nama-kan atau mewkili semua orang yang salat, bahkan seluruh umat manusia sebagai satu ras. Salat, berbeda dengan doa personal, merupakan mode berdoa dengan tatacara yang sudah baku atau kanonik. Dalam konteks ini ada dua catatan yang layak dikemukakan:

  • Dalam Bahasa Inggris, istilah prayer berlaku untuk doa personal mapun salat. Karena tatacaranya yang baku (given, canonical), salat dapat dikatakan sebagai doa kanonik (canonical prayer).
  • Jika dalam doa personal masing-masing subyek doa secara bebas dapat menetukan cara dan merumuskan lafalnya; dalam doa kanonik tatacara dan lafal doa sudah baku, sudah ditentukan. Siapa yang “mengarang” ketentuan baku itu dalam doa kanonik? Dalam konteks Islam Tuhan sendiri yang menjadi pengarangya, didemontrasikan oleh Jibril yang dapat dilihat secara sempurna oleh Rasul SAW[1] dan diterima oleh umat secara aklamatif.

Doa kanonik dianggap lebih sempurna dari pada doa personal karena individu manusia secara umum terlalu terbatas kepasitasnya untuk menyatakan keinginannya secara layak di hadapan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Lebih dari itu, karena keterbatasan visinya, yang dimina dalam doa kita sama-sekali tidak mustahil malah merugikan kita. Kita di hadapan Tuhan, karena keterbatasan kita, bisa jadi berprilaku seperti anak kecil yang tengah menderita pilek merengek minta es krim, atau ketika giginya bermasalah minta diberikan premen atau coklat kepada orang tuanya.

Di atas doa kanonik ada lagi mode doa yang dinilai lebih sempurna yaitu menyebut Nama Tuhan atau, mengunakan istilah agama, dzikir; yakni, melafalkan Nama Tuhan secara berulang-ulang, kira-kira seperti japa dalam tradisi Hindu[2]. Kenapa dzikir lebih sempurna? Karena menurut Schuon[3]: (1) Tuhan dan Nama Tuhan identik, dan (2) Tuhan Sendiri (God Himself) yang menyatakan atau melafalkan NamaNya (His Name) dalam diri-Nya (in Himself), dengan demikian, dalam keabadian dan di luar semua ciptaan. Itulah sebabnya keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan (His unique and uncreated Word) merupakan bentuk dasar (purwa-rupa, prototype) dari dzikir dan bahkan, secara kurang langsung, dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan (orison).

Dari uraian singkat di atas terlihat ada tiga cara atau mode berdoa: doa personal, doa kanonik, dan dzikir. Bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana tercermin dari judul, membahas mode doa pertama, doa personal.

Arti Penting Doa Personal

Pernyataan bahwa doa personal kurang sempurna dibandingkan doa kanonik (apalagi dzikir) bukan berarti doa personal tidak penting bagi kita: kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Dia karena Dialah menentukan atau, menggunakan bahasa teologis, sebab efisien dari segalanya. Selain itu, keteguhan atau kebulatan hati (resolution) tidak ada artinya tanpa disertai doa, petisi atau atau permintaan tolong kepada-Nya. Ketika berdoa kita, selaku individu, mengekspresikan secara langsung keinginan dan kehawatiran kita, harapan dan rasa syukur kita.

doa102

Yang sangat mendasar untuk dicatat adalah bahwa tujuan berdoa bukan hanya untuk mengamankan agar keinginan tertentu kita terkabul. Doa seyogyanya juga bertujuan untuk membersihkan jiwa kita karena fungsi doa antara lain melonggarkan simpul-simpul psikis (psichic knots) kita, melarutkan gumpalan-gumpalan yang memenuhi bawah-sadar kita, serta melepaskan berbagai macam racun yang tersembunyi dalam diri kita (bangga, iri, serakah, dan sebagainya). Melalui doa kita mengemukakan di hadapan Tuhan kesulitan-kesulitan kita, kesalahan-kesalahan kita, tekanan-tekanan jiwa yang kita alami, dan semua ini, meminjam istilah Shuon[4] “mengandaikan jiwa yang rendah-hati dan jujur, dan penyingkapan ini, dilakukan di hadapan yang Absolut, perlu untuk membangun kembali keseimbangan dan memulihkan kedamaian; singkatnya, untuk membuka pintu rahmat bagi kita”.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, dalam doa personal, subyek doa dapat merumuskan lafal doa secara bebas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena doa yang tulus perlu diawali permintaan ampun, serta disemangati paling tidak oleh oleh rasa syukur dan rasa pasrah.

  • Permintaan ampun (istigfar): bisa jadi yang kita minta bertentangan dengan kehendak Ilahiah (divine Will);
  • Rasa syukur (thankfulness): kita sadar bahwa setiap pengabulan permitaan yang diinginkan pada dasarnya merupakan rahmat (grace) yang bisa saja tidak kita peroleh; dan
  • Pasrah (tawakkal, resignation): kita perlu mengantisipasi doa yang tidak terkabul, atau lebih tepatnya, belum dikabulkan atau dikabulkan tetapi dalam bentuk lain yang lebih menguntungkan bagi kita.

Sikap Pasrah

Teks suci menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan kita dan pasti mengabulkan doa personal kita (al-Baqarah: 186), Dia sangat lebih dekat urat leher nadi kita; dia sangat dekat dengan kita, lebih dekat bahka dari pada urat leher kita (Qaaf:16). Walaupun demikian, bisa jadi yang diminta dalam doa kita waktunya belum sesuai, atau perlu diganti dengan yang lebih baik. Bukankah orang tua yang bijak akan menunda mengabulkan permintaan anaknya yang merengek minta dibelikan balap padahal umurnya masih balita sampai umur si anak mencapai belasan, atau mengganti apa yang diminta dengan speda beroda tiga? Terkait pendundaan pengabulan doa ini layak direnungkan wejangan ringkas dari syech sufi berikut ini[5]:

doa101

Jangan sampai tertundaya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmy; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

In spite of intense supplication, a delay in the timing of the Gift, let that not be the cause of your despairing. For He has guaranteed you a response in what He chooses for you, not in what you choose for yourself, and at the time He desires, not the time you desire.

 Wallahu’alam …..@

[1] Konon, keungulan Rasul SAW dibandingkan rasul lain adalah kemampuannya untuk melihat. Ayat 1-18 Surat An-Najm hemat penulis mengilustrasikan keunggulan ini.

[2] http://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/japa.asp.

[3] Schuon, Frithjof, Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:60). Nama muslim Schuon adalah   Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an.

[4] Schuon, ibid, halaman 58.

[5] Al-Hikam – Ibnu Attha’illah As-Sakandari, Wali Pustaka, 2016

Standard
Ketenagakerjaan

Tren Terkini Ketenagakerjaan Indonesia

Tren Terkini Ketenagakerjaan Indonesia

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Seorang akademisi spesialis ketenagakerjaan dari perguruan tinggi terkenal di Australia pernah berseloroh kepada penulis: “Jika semua masalah Australia disatukan, maka hasilnya masih lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan dengan masalah ketenagakerjaan di Indonesia”. Ungkapan itu bersifat seloroh karena perbandingannya jelas tidak apple-to-apple: struktur ekonomi dan ketenagakerjaan Australia dan Indonesia sangat berbeda dilihat dari lapangan usaha, okupasi maupun status pekerjaan. Walaupun demikian, ungkapan itu mengungkapkan isu penting: masalah ketenagakerjaan di Indonesia sangat besar dan kompleks; besar dilihat antara lain dari besarnya angkatan kerja, kompleksitasnya dilihat antara lain dari komposisi ketenagakerjaan yang masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian dan sektor informal.

Tren Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja

Berapa besar angkatan kerja Indonesia? Tabel 1 memperlihatkan jumlahnya lebih dari 110 juta jiwa, atau lebih dari tiga kali total penduduk Australia. Mereka adalah penduduk Indonesia yang secara aktual atau potensial (bersedia) memberikan konstribusi terhadap produksi barang dan jasa; bukan “sembarang” barang dan jasa, melainkan yang memenuhi persyaratan sistem neraca nasional (System of National Accounts, SNA). Kenapa angkatan kerja Indonesia begitu besar? Karena supply-nya juga besar: penduduk usia kerja (berumur 15+) berjumlah lebih dari 170 juta jiwa.

Bagimana trennya? Tabel 1 menunjukkan bahwa dalam enam semester terakhir, angkatan kerja maupun penduduk usia kerja cenderung terus naik. Kecenderungan itu juga tampak pada Grafik 1. Tabel maupun grafik itu memperlihatkan paling tidak tiga hal yang menarik untuk dicermati.

1)      Kecenderungan naik penduduk usia kerja sejalan dengan kecenderungan pertambahan total penduduk. Yang agak aneh, angka penduduk usia kerja untuk Februari 2011 “cekung” atau lebih rendah dari angka-angka pada semester sebelum dan sesudahnya. Keanehan ini mungkin terjadi karena angka Februari dan Agustus 2011 menggunakan angka proyeksi penduduk yang berbasis utama hasil Sensus Penduduk 2010; sebelumnya, angka proyeksi berbasis hasil Sensus Penduduk 2000 atau Survey Penduduk Antar Sensus 2005.

2)      Kecenderungan naik angkatan sejalan dengan kecenderungan naiknya penduduk usia kerja. Yang aneh, dan ini tidak dapat dijelaskan oleh penulis, adalah “cekungan” angka untuk Februari 2011; dan

3)      Laju kenaikan penduduk usia kerja lebih lambat dibandingkan dengan laju kenaikan penduduk total (lihat juga Grafik 1). Jika Februari 2009 dijadikan sebagai tahun dasar dan Agustus 2011 sebagai tahun akhir, maka rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun usia kerja hanya 0.98%, lebih rendah dari angka pertumbuhan penduduk total yang mencapai 1.90%. (Dalam hal ini pertumbuhan diasumsikan mengikuti model eksponensial.)

Butir terakhir ini merupakan gejala baru yang tampaknya mendukung dugaan sementara pengamat kependudukan yang “meyakini” bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini penduduk kurang “terkendali” dari sisi kuantitas. Tantangan bagi BKKBN? Gejala baru ini tampaknya tidak mendukung “keyakinan” sejumlah kalangan yang menganggap bahwa Indonesia memilik bonus demografis: struktur umur penduduk tidak lagi “berat” pada usia kerja. Butir terakhir itu di satu sisi “menguntungkan” karena tekanan supply tenaga kerja secara relatif berkurang, tetapi di sisi lain “merugikan” karena berarti kebutuhan untuk menanamkan investasi sosial bagi penduduk usia muda (di bawah 15 tahun) relatif meningkat.

Tren “Penganggur”

Istilah “pengangur” (dengan tanda kutip) dalam artikel ini mencakup dua kelompok penduduk usia kerja. Pertama, penganggur dalam artian teknis yang merujuk pada bagian dari angkatan kerja yang tidak terserap sama-sekali dalam kegiatan ekonomi (juga dikenal sebagai penganggur terbuka, open unemployed). Kedua, setengah penganggur yang merujuk pada bagian penduduk yang bekerja tetapi “secara terpaksa” bekerja dengan jam kerja rendah, kurang dari 35 jam per minggu.

Penganggur

Penganggur pada Agustus 2011 berjumlah sekitar 7.7 juta orang atau 6.6% dari angkatan kerja yang berjumlah sekitar 117.3 juta orang. Trennya dalam enam semester terakhir cenderung turun dan laju penurunannya relatif cepat;dengan asumsi eksponensial, laju penurunan mencapai 7.4% per tahun. Angka itu jelas lebih “tinggi” dari pada angka laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Jika hal ini benar maka agak mengherankan  “laporan” ILO Jakarta yang diluncurkan baru-baru ini yang mengesankan bahwa perekonomian Indonesia kurang “ramah” terhadap ketenagakerjaan[1].

 

Di luar aspek tren, masalah penganggur di Indonesia yang perlu terus dicermati adalah magnitude-nya. Kesan bahwa angka penganggur 6.6% (Agustus 2011) rendah tidak tepat karena seyogyanya lebih rendah. Kenapa? Karena di Indonesia, seperti halnya di negara-negara berkembang lainnya, tidak ada jaminan bagi pengangur sehingga “sangat sedikit orang yang sanggup menjadi penganggur sebagaimana diutarakan dalam salah satu publikasi ILO: “In developing countries the number of workers covered by unemployment insurance or other public relief schemes is usually quite limited. I these conditions very people can afford to be unemployed…. (ILO, 2003:49)[2].

Setengah Penganggur

Setengah pengaggur, sebagaimana disinggung sebelumnya, merupakan bagian penduduk yang bekerja tetapi masih bersedia untuk memperoleh pekerjaan alternatif (lihat Skema di bawah untuk kerangka konseptual).  Pada Agustus 2011 jumlah kelompok ini sekitar 13.5 juta[3] orang atau 12.3% dari penduduk yang bekerja yang jumlahnya sekitar 109.7 juta orang. Trennya relatif stabil pada kisaran angka 168-171 juta jiwa.

Jika penganggur dan setengah penganggur digabungkan maka akan diperoleh suatu angka yang besarnya hampir tiga-kali jumlah pengaggur. Pada Agustus 2011 angkanya mencapai 21.2 juta atau 12.4% dari penduduk usia kerja (lihat Grafik 2).

Isu Ketenagakerjaan Lain

Selain penganggur dan setengah penganggur banyak isu ketenagakerjaan lain yang dihadapi Indonesia antara laian kelangkaan kerja parsial (partial lack of work), pendapatan kerja yang rendah (low income from unemployment), kekurangan pemanfaatan keterampilan (under-utilization of skills) dan produktivitas yang rendah (low productivity). Di luar ini semua itu, masih banyak isu lain yang juga relevan bagi Indonesia khususunya yang terkait dengan pekerja layak (decent work). Yang terakhir mencakup bidang keprihatinan yang sangat luas, jauh lebih luas dari apa yang dicerminkan oleh indikator-indikator ketenagakerjaan yang konvensional seperti angka penganggur. Indikator-indikator pekerja layak konon merakapitulasikan semua konvensi ILO[4]. Di masa mendatang, tema pekerja layak diperkirakan akan memperkaya dan bahkan mungkin “menggeser” isu ketenagakerjaan konvensional yang bagi sebagian terlalu berorientasi pada paradigma “pekerja penuh” (full employment), paradigama yang dilansir sejak 1930-an.

Karena besar, luas dan komlpleks, serta berdampak terhadap berbagai dimensi kesejahteraan masyarakat, maka masalah ketenagakerjaan di Indonesia layak menempati posisi puncak dalam agenda nasional. Dimensi kesejahteraan yang dimaksud mencakup kemiskinan, kambtibmas, eksploitasi buruh dan pekerja seksual, perdagangan manusia (khusunya wanita) dan pekerja anak termasuk yang dieksploitasi secara komersial dan seksual (Commercial Sexual Exploitation of Children, CSEC). Dua isu terakhir kini merupakan keprihatinan global yang juga relevan bagi Indonesia. Bagimana merespon kedua isu itu, apakah memeranginya secara serius atau melakukan pembiaran, konon merupakan semacam batu_uji peradaban (test of civilization). Setuju? …..@


[1] Penulis tidak memiliki akses pada laporan kajian itu dan kesannya semata-mata hasil spekulasi dari laporan media masa. Laporan media masa itu mengesankan bahwa kajian ILO lebih memfokuskan pada disparitas Jawa-Luar Jawa, bukan pada elastisitas tenaga kerja.

[2] ILO, International training compendium on Labor Statistics, Module 1: Statitics on employment, unemployment, underemployment: economically active population.  

[3] Pada Tabel 1 setengah pengaggur didefinisikan sebagai penduduk yang bekerja tetapi jam kerjanya di bawah normal (kurang dari 35 jam seminggu) karena “terpaksa”, bukan atas kehendak sendiri (involuntarily).

[4] Artikel penulis mengenai pekerj layak dalam bentuk umum dan sangat disederhanakan dapat diakses secara bebas dalam di situs ini. Judul artikel: “Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015: Mimpi Organisasi Buruh Dunia”. Dalam artikel ini disajikan antara lain daftar indikator pekerja layak untuk kawasan Asia Pasifik.

Standard
Ketenagakerjaan

Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015: Mimpi Organisasi Buruh Dunia

Pekerja Layak Bagi Semua Tahun 2015:

Mimpi Organisasi Buruh Dunia

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Layaknya suatu organisasi, Organisasi Buruh Dunia atau the International Labour Organization (ILO) mempunya “mimpi” atau visi: pada tahun 2015 semua orang memperoleh pekerjaan yang layak (decent work). Mimpi itu indah sekali sehingga layak dimiliki oleh semua pada tingkat individu, mayarakat, lokal, nasional, regional bahkan internasional. Kenapa? Karena pekerjaan layak dapat mengatasi, atau paling tidak mengurangi, berbagai macam “setan sosial” (social evil) atau persoalan kemanusiaan yang mendasar: kemiskinan, pendidikan rendah, kerawanan sosial_politik_keamanan, semangat berkorupsi, serta persolan rumit dan mengenaskan yang kini mengglobal yaitu perdagangan manusia.

Definisi Pekerja Layak

Apa definisi pekerjaan layak (decent work)? Secara sederhana pekerjaan layak dapat didefinsikan sebagai pekerjaan yang dilakukan atas kemauan atau pilihan sendiri, bergaji atau memberikan penghasilan yang cukup untuk membiayai hidup secara layak dan berharkat, serta terjamin dari keamanan dan keselamatan fisik maupun psikologis. Untuk dapat dikatakan layak, pada tingkat populasi, pekerjaan semacam itu diharapkan memenuhi tiga kondisi berikut:

  • tersedia bagi semua orang pada usia produktif (jadi tidak termasuk usia anak-anak) tanpa kecuali, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, serta tanpa hambatan gender,
  • semua pekerja terlindungi secara sosial, termasuk mereka yang terlibat dalam kegiatan ekonomi informal, dan
  • semua pekerja tersalurkan suara dan aspirasinya melalui mekanisme system dialog sosial yang berharkat secara kemanusiaan.

Kondisi “ideal” itu yang menjadi visi dan komitmen ILO, visi dan komitmen yang juga layak dimiliki semua pemangku kepentingan dan –ini barangkali yang paling penting– layak direalisasikan demi kemanusiaan yang beradab.

Indikator Pekerjaan Layak 

Definisi sederhana pekerjaan layak sebagaimana baru dijelaskan di atas diharapkan dapat memberikan arahan atau oreintasi kepada pemangku kepentingan khsusunya pengambil kebijakan di bidang ketenagakerjaan. Bagaimana mengukurnya? Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian pekerjaan layak pada tingkat populasi ILO menawarkan 21 indikator yang menunjukkan luasnya dimensi yang dicakup (lihat Daftar 1). Sebagaimana terlihat pada daftar itu, ke-21 indikator itu dibagi ke dalam empat kategori yaitu hak bekerja (right at work), ketenagakerjaan (employment), perlindungan sosial (social protection), dan dialog sosial (social dialogue).

Untuk memperoleh gambaran utuh, satu indikator dalam daftar itu terkadang perlu dibaca secara bersamaan dengan indikator lain. Indikator 7b dan 8, misalnya, perlu dibaca secara bersamaan. Kondisi yang ideal jelas: angka penganggur (indikator ke-8) rendah dan tingkat upah buruh industri (indikator ke-7b) tinggi. Pada tingkat kebijakan, kondisi mana yang lebih dikehendaki: (a) keduanya rendah, atau (b) keduanya tinggi? Dibandingkan kondisi (a), kondisi yang ditunjukkan oleh indikator ke-8 yang relatif tinggi dan  indikator ke-7b tinggi, secara umum mungkin lebih dapat diterima.

Apakah “mimpi indah” mengenai pekerjaan layak sudah dapat direalisasikan di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini secara cerdas dapat digunakan 21 indikator sebagaimana ditawarkan ILO. Sayangnya, baru sebagian dari indikator yang tersedia. Melengkapi ketersediaan indikator itu layak diagendakan jika Indonesia ingin dikatakan berpihak kepada penduduk dan cerdas …….@

Daftar 1: Decent Work Indicators for Asia and the Pacific

Rights at work1. Child labour

1a. Economically active children aged 10-14

1b. Child school non-enrolment rate 5-14 years (from UNESCO)

2. Women in the workplace

2a. Female share of employment by 1-digit ISCO

2b. Female share of employment by 1-digit ISIC

2c. Gap between female and male labour force participation rates

3. Complaints/cases brought to labour courts or ILO

Employment

4. Labour force participation rate

5. Employment-to-population ratio

6. The working poor

7. Wages

7a. Number and wages of casual/daily workers

7b. Manufacturing wage indices

8. Unemployment

8a. Total unemployment rate

8b. Unemployment by level of education

9. Youth unemployment

10. Youth unemployment

10a. Youth inactivity rate

10b. Youth not in education and not in employment

11. Time-related underemployment

12. Employment by status of employment and branch of economic activity

13. Labour productivity

14. Real per capita earnings (from national accounts)

Social protection

15. Informality and social protection

15a. Informal employment

15b. Social security coverage (for wages and salary earners)

16. Rates of occupational injuries (fatal/non-fatal)

17. Hours of work

17a. Usual hours of work (in standardized hour bands)

17b. Annual hours worked per person

Social dialogue

18. Trade union membership rate

19. Number of enterprises belonging to employer organizations

20. Collective bargaining coverage rate

21. Strikes and lockouts: Rates of days not worked

Sumber:  ILO-RO Asia and the Pacific (2008), Decent Work Indicators for Asia and the Pacific: A Guidebook for Policy-makers and Researchers (Box: 2.1, halaman 5)

Standard
Kependudukan

Derajat Kesehatan Penduduk Indonesia dalam Dua Dekade Terakhir: Beberapa Pelajaran dari Data Sensus Penduduk

Indonesia –dari sisi ketersediaan data—semakin kaya karena Sensus Penduduk 2010 sudah membuahkan hasil sekalipun yang didiseminasikan baru terbatas pada beberapa variabel pokok, termasuk umur dan jenis kelamin. Artikel ini menganalisis dua variabel pokok sensus itu untuk memotret derajat kesehatan penduduk, menggunakan alat analisis Rasio Kelangsungan Hidup Antarsensus. Hasil analisis menunjukkan bahwa derajat kesehatan penduduk Indonesia dalam kurun 1990-2010 membaik kecuali untuk laki-laki. Bagi yang berminat mengakses silakan klik: Data Sensus Penduduk 2010

Standard