Pembangunan Manusia 2019

United Nations Development Programme (UNDP)[1] baru saja merilis Laporan Pembangunan Manusia 2019 (Human Development Report 2019, HDR19). Keluasan dan kedalaman isinya membuat laporan ini layak-baca bagi kalangan luas mulai dari politisi, akamedisi samapai statitisi. Temanya jelas: Inequalities in Human Development in the 21st Century. Kerangka analasisinya juga jelas: Beyond income, beyond averages, beyond today. Tulisan ini meninjau secara singkat tema dan kerangka analisis itu, juga memotret pringkat Indonesia dari sisi status pembangunan manusia.

Ketimpangan Pembangunan Manusia

Dalam laporan ini tema ketimpangan diberi keterangan waktu yaitu abad ke-21. Kenapa? Apakah UNDP ingin menyampaikan pesan bahwa isu ketimpangan akan bertahan selama abad ke-21? Mungkin. Yang jelas, UNDP melihat ketimpangan “ada di mana-mana” dan “semuanya prihatin”:

Inequalities. The evidence is everywhere. So is the concern. People across the world, of all political persuasions, increasingly believe that income inequality in their country should be reduced (HDR 2019:1)

Paling tidak ada tiga alasan lain untuk memprihatinkan ketimpangan. Pertama, 15 tahun pertama abad ke-21 tidak hanya menyaksikan peningkatan kemampuan dasar manusia, tetapi juga ketimpangan yang bertahan kalau tidak memburuk. Kedua, dalam bayangan krisis iklim dan serbuan perubahan teknologi, bentuk ketimpangan baru diduga kuat akan mewarnai abad ke-21. Ketiga, ketimpangan dalam pembangunan manusia dapat bertahan sepanjang hidup.

Kerangka Analisis

Melalui HDR19 UNDP menawarkan perspektif yang luas untuk memahami isu ketimpangan pembangunan manusia: melampaui pendapatan, melampaui rata-rata dan melampaui hari ini.

Melampaui Pendapatan

Perspektif ini dapat dilihat sebagai soft reminder bagi para pemangku kebijakan publik agar tidak terlalu terfokus pada pendapatan (ekonomi) dan mengabaikan komponen kunci pembangunan manusia. Argumennya kira-kira begini. Disparitas variabel non-ekonomi dapat menjelaskan atau melatarbelakangi terjadinya atau meluasnya disparitas pendapatan. Argumen lain, antara variabel ekonomi dan variabel non-ekonomi terdapat hubungan saling-pengaruh: di satu sisi, dibandingkan anak dari keluarga berada, anak dari keluarga miskin berpeluang lebih kecil memperoleh pendidikan tinggi dan pekerjaan layak; di sisi lain, karena pendidikan rendah, anak dari keluarga miskin berpeluang lebih kecil untuk memperoleh pekerjaan dan pendapatan yang layak.

Perspektif ini juga pengingat bahwa tujuan akhir pembangunan adalah manusia. Ini tidak berarti pembangunan ekonomi tidak penting; sebaliknya, justru pembangunan ekonomi merupakan sarana utama (principal means) bagi pembangunan ekonomi (HDR 2000).

Melampaui rata-rata

Yang ini pengingat bagi para akademisi mengenai keterbatasan analisis mereka karena terlalu menyederhanakan persoalan ketika berdebat mengenai ketimpangan, terlalu bergantung pada ukuran ringkasan ketimpangan, serta terlalu mengandalkan data yang tidak lengkap yang memberikan gambaran parsial dan bahkan terkadang menyesatkan. Dalam kaitannya dengan ketimpangan, generasi pengukuran baru, bahkan “revolusi metrik” diperlukan:

… assessing inequalities in human development demands a revolution in metrics. Good policies start with good measurement, and a new generation of inequalities requires a new generation of measurement. Clearer concepts tied to the challenges of current times, broader combinations of data sources, sharper analytical tools—all are needed.

Melampaui Hari Ini

Yang ini pengingat semua pihak agar tidak terlalu fokus pada persoalan “di sini” dan “hari ini” dan melupakan masa depan:

Much analysis focuses on the past or on the here and now. But a changing world requires considering what will shape inequality in the future. Existing—and new—forms of inequality will interact with major social, economic and environmental forces to determine the lives of today’s young people and their children.

Kutipan ini menyinggung masalah lingkungan dan nasib generasi muda dan anak-anak mereka di masa depan. Narasinya mungkin memadai bagi kalangan tua tetapi hampir dipastikan menuang kritik dari Greta Thunberg (pejuang isu perubahan iklim) dan teman-temannya yang menuntut action now! Selain itu dokumen SDGs juga mengingatkan kalangan “orang tua” bahwa: We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet[2].

Peringkat Indonesia

Seperti laporan sebelumnya sejak 2000, laporan kali ini dilengkapi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mengurutkan peringkat setiap negara dalam hal pencapaian pembangunan manusia. Laporan ini menempatkan Norwegia di peringkat pertama (IPM tertinggi: 0.954) diikuti diikuti Swiss (0.945), Irlandia (0.942) dan Jerman (0.942), masing-masing di peringkat ke 2, 3 dan 4. Dari kawasan Asia Tenggara (ASEAN) tercantum Singapura (0.935) yang menempati peringkat ke-9 terbaik. Yang menarik untuk dicatat, Singapura sebenarnya unggul dari Norwegia dalam hal angka harapan hidup (=e0) dan GNI per kapita; Singapura hanya tertinggal dalam hal pendidikan.

Indonesia dengan IPM=0.707 berada dalam peringkat ke-111 dari 189 dalam kancah global dan ke-6 dari 10 dalam kancah ASEAN di bawah Filipina (0.712) dan di atas Vietnam (0.693). Seperti ditunjukkan oleh Tabel 1, Indonesia tertinggal dari Filipina hanya dalam hal rata-rata lama sekolah (MYS). Juga seperti yang ditunjukkan oleh tabel itu Indonesia sebenarnya tertinggal dari Vietnam dalam hal angka harapan hidup dan partisipasi sekolah (EYS).

Tabel 1: IPM dan Komponen IPM Negara-negara ASEAN 2018

Indonesia tertinggal dari Filipina hanya dalam hal rata-rata lama sekolah…  tertinggal dari Vietnam dalam hal angka harapan hidup rata-rata lama sekolah

Yang juga patut dicatat dari Tabel 1 adalah kolom 8 yang menyajikan selisih peringkat negara berdasarkan IPM dan GNI per capita (pendapatan nasional kasar per kapita). Untuk Indonesia angkanya minus 14, sementara untuk Vietnam plus 10; artinya, berdasarkan GNI per kapita peringkat Indonesia adalah ke-97 (=111-14) sementara peringkat Vietnam adalah ke-128 (=118+10). Dinyatakan secara agak berbeda, berbeda dengan Vietnam, peringkat Indonesia relatif lebih baik jika menggunakan ukuran GNI per capita  dibandingkan dengan jika  menggunakan ukuran IPM.

…. peringkat Indonesia relatif lebih baik jika menggunakan ukuran GNI per capita  (dibandingkan dengan jika menggunakan ukuran IPM).

Sebagai catatan akhir, dengan peringkat ke-97 (menurut GNI per capita), Indonesia kira-kira berada pada titik median; artinya, 50% negara di bawah peringkat Indonesia, 50% sisanya di atasnya. Dinyatakan secara berbeda, kinerja ekonomi Indonesia dapat dilihat sebagai summary index kinerja ekonomi global.

Wallahualam….@

[1] http://hdr.undp.org/sites/default/files/hdr2019.pdf. Sumber data dalam tulisan ini, kecuali disebutkan lain, berasal dari tautan itu.

[2] Untuk  memperoleh urian yang agak lebih menyeluruh mengenai isu lingkungan hidup dan perubahan iklim silakan kunjungi ini: https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

Kinerja Ekonomi Indonesia dalam ASEAN

Banyak indikator yang bisa digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi yang salah satunya adalah pendapatan nasional bruto (selanjutnya GNI; nama baru untuk GNP). Tulisan ini menggunakan indikator GNI per kapita (selanjutnya GNI-Cap) untuk menjawab dua pertanyaan ini: (1) Dari sisi kinerja ekonomi, bagaimana posisi Indonesia di tengah negara-negara ASEAN? dan (2) Bagaimana trennya selama periode 2000-2015?

GNI-Cap yang digunakan dalam tulisan ini diperoleh dari Bank Dunia yang menghitungnya menggunakan Metode Atlas. GNI dengan metode ini dipilih karena dua pertambangan. Pertama, dibandingkan GDP (atau PDB), GNI telah mengabaikan nilai produk perusahaan asing yang profitnya mengalir ke luar negeri sehingga lebih realistis dalam mengukur kinerja ekonomi suatu negara, ketimbang GDP. Kedua, ini serius dari sisi teknis statistik, Metode Atlas telah “menghaluskan” dua faktor yang umumnya menggangu perbandingan neraca nasional yaitu “fluktuasi harga dan nilai tukar”[1]:

To smooth fluctuations in prices and exchange rates, a special Atlas method of conversion is used by the World Bank. This applies a conversion factor that averages the exchange rate for a given year and the two preceding years, adjusted for differences in rates of inflation between the country, and through 2000, the G-5 countries (France, Germany, Japan, the United Kingdom, and the United States). From 2001, these countries include the Euro area, Japan, the United Kingdom, and the United States.

Variasi dan Ketimpangan

Tabel 1 memotret kinerja ekonomi 10 negara ASEAN selama 15 tahun pertama abad ke-21, 2000-2015, periode MDGs. Tabel itu menunjukkan besarnya variasi dan lebarnya kesenjangan kinerja ekonomi antar negara. Sebagai ilustrasi, rasio GNI-Cap Singapura/ Vietnam 2000 angka hampir mencapai 58. Angka ini mencerminkan sangat lebarnya variasi kinerja ekonomi negara-negara ASEAN. Ini Sebagai ilustrasi lain, rasio GNI-Cap Indonesia/Malaysia 2015 angkanya lebih dari 3. Ilustrasi kedua ini menegaskan lebarnya kesenjangan kinerja karena telah mengabaikan kinerja dari dua negara “raksasa” ASEAN yaitu Brunei dan Singapura.

Tabel 1: GNI-Cap 10 Negara ASEAN 2000-2015 (Metode Atlas) (Ribuan US$)

Tabel 1 juga memperlihatkan semua negara ASEAN mengalami peningkatan kinerja selama periode 2000-2015 tetapi dengan tiga catatan:

  • Brunei dan Indonesia mengalami sedikit penurunan kinerja dalam kurun 2013-15,
  • Penurunan serupa dialami Malaysia, Singapura dan Thailand, selama kurun 2014-15, dan
  • Penurunan agak drastis dialami Timor-Leste periode 2013-14, membaik dalam tahun berikutnya tetapi belum mencapai level 2013.

Singkatnya, pada tahun 2013 atau 2014, semua negara ASEAN mengalami sedikit penurunan kinerja ekonomi kecuali Kamboja, Laso, Filipina dan Vietnam.

Pada tahun 2013 atau 2014, semua negara ASEAN mengalami sedikit penurunan kinerja ekonomi kecuali Kamboja, Lao, Filipina dan Vietnam.

Kinerja ekonomi Singapura (SGP) dan Brunei (BRN) relatif sangat tinggi, terlalu tinggi untuk ASEAN secara keseluruhan. Hal ini tercermin dari, misalnya, angka rata-rata dengan GNP-Cap ASEAN 2015 yang mencapai angka lebih dari US$12,000 jika kedua negara itu diikutsertakan, dan hanya sedikit di atas US$ 3,000 jika keduanya diabaikan. Singkatnya, GNI-Cap kedua negara itu memberikan kesan berlebihan mengenai kinerja ekonomi ASEAN secara keseluruhan.

Tanpa Negara “Raksasa”

Gambaran kinerja ASEAN terkesan lebih realistis tanpa dua negara “raksasa” (SGP dan BRN) sebagaimana diilustrasikan oleh Grafik 1. Pada grafik ini, kinerja Indonesia dijadikan rujukan dengan cara memberikan nilai tetap 100 untuk setiap tahunnya. Ini berarti kinerja ekonomi Indonesia selama 2000-15 diasumsikan konstan relatif terhadap perubahan kinerja ekonomi negara lainnya yang diperbandingkan. Grafik itu menunjukkan paling tidak tiga hal:

  • Indonesia (IDN) selalu di atas Kamboja (KHM), Laos (LAO), Vietnam (VNW) dan Timor-Leste (TLS),
  • IDN selalu di bawah Malaysia (MYS) dan Thailand (THI) selalu di atas Indonesia, dan
  • Perkembangan kinerja ekonomi MYS dan THI relatif lebih lambat dibandingkan dengan kinerja IDN.

Grafik 1: Indeks GNI-Cap Negara-negara ASEAN (Indonesia=100)

Grafik itu juga mengisyaratkan kinerja IDN tidak akan melampaui kinerja MYS dalam beberapa dekade mendatang. Bagaimana dengan THI dan PHL? Grafik 2 menyajikan prediksi bahwa kinerja IDN tidak akan mampu  melampaui kinerja THI paling tidak sampai tahun 2030,  melampaui PHL mulai 2011 dan terkejar lagi di 2015. Sebagai catatan, koefisien regresi negatif pada Grafik 2 menegaskan penurunan kinerja THI relatif terhadap perkembangan kinerja IDN. Selain itu, dalam persamaan nilai x=0 untuk 2000, x=1 untuk 2011, dan seterusnya.

… kinerja IDN tidak akan mampu mengejar kinerja THI paling tidak sampai tahun 2030, melampaui PHL mulai  2011 tetapi terkejar lagi di 2015.

Grafik 2: Indeks GNI-Cap Indonesia, Filipina dan Thailand (Indonesia=100)

Pertanyaan: Apakah investasi infrastruktur di luar Jawa selama ini akan berdampak terhadap kinerja IDN sedemikian rupa sehingga mampu mengejar THI sebelum era SDGs berakhir?

Wallahualam...@

[1] https://databank.worldbank.org/indicator/NY.GDP.MKTP.KD.ZG/1ff4a498/Popular-Indicators

Kinerja Ekonomi Indonesia: Catatan Kecil

Seperti orang, negara juga bisa miskin atau kaya. Tidak ada hubungan niscaya antara keduanya. Artinya, orang yang hidup di negara kaya belum tentu kaya. Terkait dengan hubungan ini seorang teman dari Singapore pernah bercerita:

Orang dari kalangan menengah Indonesia mampu pergi ke Singapura; orang dari kalangan menengah Singapura mampu pergi ke Jakarta. Tapi tujuan kepergian berbeda: yang pertama ke Singapura untuk mengeluarkan uang (berlibur, santai, belanja, dsb), yang lainnya ke Jakarta untuk mencari uang.

Tidak jelas apakah cerita itu hasil pengamatan sehari-hari (casual observation) atau berbasis-pengetahuan (knowledge-based). Apa pun kasusnya, bagi penulis cerita itu memberikan ilustrasi yang menarik karena kekayaan Singapore jauh di atas kekayaan Indonesia. Pada tahun 2017, misalnya, pendapatan per kapita untuk yang pertama sekitar 90,000 sementara untuk yang kedua hanya 12,000. Dalam hal ini indikatornya adalah Pendapatan Nasional Bruto per kapita atau GNI per capita, PPP (current international $)[1]. Label PPP (Purchasing Power Parity) menggaransi bahwa datanya dapat dibandingkan antar waktu dan antar negara atau kelompok negara. Untuk penyederhanaan, dalam tulisan ini indikator itu disingkat GNI/Cap.

Dengan menggunakan indikator ini sebagai ukuran kinerja ekonomi, kira-kira bagaimana kinerja ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Inilah pertanyaan kunci yang ingin dijawab oleh tulisan singkat ini. Sumber data diperoleh dari UN Data[2].

Indonesia dalam kancah global

Grafik 1 meringkas gambaran kinerja ekonomi Indonesia dalam kancah global. Grafik itu menyajikan tren GNI/Cap berdasarkan kelompok pendapatan dalam periode 1999-2017. Layak dicatat, di tahun 1999 kinerja politik dan ekonomi Indonesia tengah terpuruk sehingga jika dijadikan titik awal analisis maka logis jika berharap memperoleh gambaran perkembangan kinerja yang mencolok bagi Indonesia di tahap awal. Harapan itu tidak terungkap oleh grafik itu.

Grafik 1: GNI/Cap Indonesia dalam Lingkup Global

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Grafik 1 adalah sebagai berikut:

  • Sepanjang periode 1999-2017, kinerja kelompok negara-negara berpendapatan tinggi (high income, HI) sangat terisolir dalam arti jauh di atas kelompok-kelompok berpendapatan lain, termasuk dengan “tetangga terdekatnya” yaitu kelompok negara-negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income, UM-I). Kinerja HI tahun 1999 kira-kira 1.5 kali kinerja UM-I tahun 2017.
  • Perkembangan kinerja HI relatif lebih cepat walaupun kecepatannya diimbangi oleh perkembangan kinerja UM-I.
  • Posisi Indonesia selalu terletak antara rata-rata UM-I dan LM- I selama periode perbandingan.
  • Perkembangan kinerja Indonesia lebih lambat dibandingkan dengan kinerja rata-rata UM-I. Indikasinya ini: di 1999 GNI/Cap Indonesia mendekati GNI/Cap rata-rata UM-I, tetapi sejalan dengan perjalanan waktu perbedaannya angkanya terus melebar .

Perkembangan kinerja Indonesia lebih lambat dibandingkan perkembangan kinerja rata-rata UM-I.

Indonesia dan negara  berpendapatan menengah

Bagaimana kinerja ekonomi Indonesia dalam kancah negara-negara berpendapat menengah (mencakup UM-I dan LM-I) dan bagaimana pula kecenderungannya antar waktu? Dalam konteks ini HI tidak diikutsertakan karena kinerjanya terlalu tinggi bagi negara sekelas Indonesia. Grafik 2 mengilustrasikan jawaban terhadap dua pertanyaan itu.

Grafik 2: GNI/Cap Indonesia dalam Lingkup Negara Berpendapatan Menengah

Banyak yang dapat disimak dari Grafik 2 tetapi dua hal berikut agaknya layak digarisbawahi:

  • Posisi Indonesia di antara UM-I dan LM-I patut diduga masih akan berlanjut paling tidak dalam 10 tahun mendatang (mulai dari 2017). Kenapa patut diduga? Karena model ekstrapolasi linear yang ditunjukkan oleh Grafik 2 menunjukkan keandalannya dilihat dari R2 yang hampir mendekati angka sempurna, 100%.
  • Kecepatan perbaikan kinerja Indonesia tinggi dari (kecepatan kinerja rata-rata) LM-I tetapi lebih rendah dari UM-1. Dari mana kita tahu ini? Dari angka koefisien regresi. Dari angka ini terlihat tidak ada peluang bagi Indonesia mengejar kinerja rata-rata UM-1.

Jika model itu dilanjutkan sampai ke tahun 2050 (tidak ditampilkan dalam grafik), maka kinerja Indonesia tahun 2050 kira-kira setara kinerja HI tahun 2000. Dengan kata lain, Indonesia tertinggal 50 tahun dari kinerja negara-negara berpendapatan tinggi.

…. Indonesia tertinggal 50 tahun dari kinerja negara-negara berpendapatan tinggi.

Indonesia dalam kancah negara-negara ASEAN

Grafik 3 mengilustrasikan gambaran kinerja Indonesia di antara negara-negara ASEAN. Dalam hal ini Brunei dan Singapura tidak diikutsertakan karena kinerja keduanya “beda kelas” atau terlalu tinggi dibandingkan dengan kinerja negara-negara lainnya di kawasan ini.

Patut dicatat, unit analisis pada Grafik 3 ini jelas yaitu negara. Kasusnya berbeda dengan dua grafik sebelumnya yang homogenitas unit analisisnya dapat dipertanyakan. Jelasnya, kita tidak tahu secara pasti bagaimana UN Data memperlakukan negara-negara yang “berubah status ” selama periode perbandingan.  Sebagai ilustrasi, bagaimana memperlakukan Zimbabwe dan Senegal yang akhir-akhir ini berubah status dari LI ke LM-I? Juga Sri Lanka dan Argentina yang berubah status dari LM-I ke UM-I? [3]

Kembali ke Grafik 3. Grafik itu menunjukkan secara jelas bahwa selama periode 2003-2017 posisi Indonesia selalu di atas Cambodia, Philippines, tetapi selalu di bawah Thailand apalagi Malaysia. (Urutan itu tidak berubah jika GNI/Cap/Atlas tahun 2018 yang digunakan sebagai indikator.)

Grafik 3: GNI/Cap Beberapa Negara ASEAN

… posisi Indonesia selalu di atas Cambodia, Philippines, tetapi selalu di bawah Thailand apalagi Malaysia..

*****

Catatan kecil dalam tulisan singkat ini bermuara pada satu pertanyaan besar: “Apakah rasionalitas di balik optimisme sebagian pihak yang meyakini Indonesia akan mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang lebih maju dalam waktu dekat?” Konteksnya jelas: yang dikejar berlari lebih cepat, paling tidak demikianlah yang terjadi selama ini.

Wallahualam…@

[1] Besarnya perbedaan yang mencolok ini tidak berubah jika indikator yang digunakan adalah GNI per capita dengan metode lain yaitu Metode Atlas (World Bank).  Indikator ini untuk 2018 menghasilkan angka 56,770 untuk Singapore dan hanya 3,840 untuk Indonesia.

[2] http://data.un.org/Data.aspx?d=WDI&f=Indicator_Code%3ANY.GNP.PCAP.PP.CD

[3] https://datahelpdesk.worldbank.org/knowledgebase/articles/906519-world-bank-country-and-lending-groups

Postur Penduduk Indonesia

Postur penduduk dibentuk oleh susunan penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin yang dimulai dari kelompok paling muda  (=P(0-5)) sebagai alas, diikuti P(5-10), P(10-15), dan seterusnya[1]. Hasilnya semacam piramida dengan alas yang lebar dan terus memendek (mengerucut) sejalan dengan bertambahnya usia. Itu gambaran piramida yang sempurna yang tidak selalu atau bahkan jarang ditemui dalam susunan penduduk sebenarnya karena adanya dinamika penduduk akibat faktor alamiah (kelahiran dan kematian) maupun non-alamiah (migrasi).

Postur penduduk dalam sajian piramida menarik untuk dipelajari karena mudah dibaca selain karena mengindikasikan banyak hal antara lain: (1) sejarah kelahiran masa lalu dan perkiraannya ke depan, (2) besaran pasokan tenaga kerja masa kini dan perkiraannya di masa depan, dan (3) besaran wanita usia subur (WUS) yang menentukan “penciptaan generasi baru” untuk masa kini dan perkiraannya ke depan. Selain itu, postur penduduk, sampai taraf tertentu, dapat membedakan kemajuan ekonomi suatu negara. Demikian karena negara maju dapat dikenali dari tingginya proporsi usia tua, sementara negara-negara berkembang dari tingginya proporsi usia muda.

Tulisan ini memotret postur penduduk Indonesia pada tahun-tahun 1950, 2000, 2050 dan 2100 berdasarkan data PBB. Dua tahun pertama didasarkan pada proyeksi standar[2], sisanya pada proyeksi probabilitas[3].

Postur 1950

Pada tahun 1950 RI belum memiliki data sensus penduduk (SP) sehingga postur penduduk hanya dapat diperkirakan secara kasar berdasarkan sumber data yang terserak. Sumber data lain seperti catatan administrasi dan registrasi dengan kualitas yang dapat diandalkan mampir dapat dipastikan tidak tersedia. Implikasinya, postur 1950 perlu dilihat sebagai perkiraan kasar tanpa mengurangi maknanya serta apresiasi kepada PBB.

Menurut perkiraan PBB, total penduduk Indonesia 1950 sekitar 69,5 juta atau sekitar 2.7% dari total penduduk global. Posturnya disajikan pada Paramida 1.

Piramida 1: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 1950.

Piramida 1 menunjukkan antara lain:

  • Postur penduduk sangat kokoh dalam arti memiliki alas yang sangat lebar untuk mendukung batang bangunan di atasnya yang semakin pendek.
  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) mendominasi penduduk. Di lain pihak, penduduk usia lanjut (warna paling gelap) memainkan peran yang sangat kecil dalam membangun piramida itu.
  • Lebar alas piramida, P(0-5)[4], mengindikasikan besarnya peristiwa kelahiran dalam 5 tahun[5] terakhir. Dalam kaitannya dengan indikator kelahiran, lebar alas itu tentu bersifat indikatif karena sebagian dari penduduk kelahiran 5 tahun terakhir sudah meninggal sehingga tidak terdata sebagai penduduk.
  • Lebarnya alas piramida juga mengisyaratkan besarnya tekanan 15 tahun mendatang terhadap pasar kerja, juga terhadap tambahan pasokan wanita usia subur (WUS).

Dengan  postur semacam itu penduduk Indonesia 1950 tergolong masih sangat muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) hampir 40% (tepatnya 39%) sementara proporsi P(65+) baru 4%.

Postur 2000

Bagaimana postur 2000? Yang jelas, pada tahun itu RI telah diperkaya dengan lima 5 set data data SP: 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000 sehingga gambaran postur penduduknya meyakinkan.

Piramida 2 menyajikan postur 2000 yang mengungkapkan antara lain:

  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) masih mendominasi bangunan piramida.
  • Kelompok usia lanjut (berwarna paling gelap) sudah bertambah dibandingkan dengan keadaan 50 tahun sebelumnya 1950 tetapi masih relatif kecil.
  • Berbeda dengan postur 1950, postur piramida kurang kokoh dalam arti alasnya harus menunjang tiga kelompok umur di atasnya yang lebih besar. Pertambahan lebar empat batang pertama dalam piramida mengindikasikan penurunan angka fertilitas yang terus menerus selama 20 tahun terakhir (1980-2000).

Pertambahan lebar empat batang pertama piramida mengindikasikan penurunan terus menerus angka fertilitas 20 tahun terakhir.

Piramida 2: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2000.

Postur penduduk Indonesia 2000 masih tergolong muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) masih 31% sementara proporsi penduduk tua (65+) baru 5%. Sisanya, 64% adalah penduduk usia produktif dan usia reproduktif (bagi wanita)

Postur 2050

Seperti disinggung sebelumnya, postur 2050 dan 2100 didasarkan pada hasil proyeksi probabilitas yang tentunya mempertimbangkan berbagai faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Postur 2050 diungkapkan oleh Piramida 3 yang mengisyaratkan berlanjutnya penurunan angka fertilitas[6] dan proses penuaan penduduk. Postur penduduk sudah mulai tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 19%, proporsi P(65+) 16%. Walaupun demikian, usia produktif (P(15-64) masih mayoritas (66%).

Piramida 3: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2050.

 

Postur 2100

Seperti postur 2050, postur 2100 juga didasarkan model proyeksi probabilitas. Selain itu, rentang interval proyeksi 2100 jauh lebih yang luas dari rentang proyeksi 2050. Ini berarti tingkat akurasi postur 2100 jauh lebih rendah dari pada tingkat akurasi 2050. Tetapi semua ini tidak mengurangi makna bagi perencanaan pembangunan jangka panjang. Selain itu, sumber PBB ini mungkin salah satu sumber informasi utama yang dapat diandalkan mengenai megatrend penduduk global.

Postur 2100 disajikan pada Piramida 4. Seperti ditunjukkan oleh piramida itu  postur penduduk Indonesia 2050 sudah semakin tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 15%, proporsi P(65+) 24%. Ini berarti proporsi usia produktif masih dominan, 61%. Hal ini tentu menguntungkan dari sisi ekonomi sebagaimana diilustrasikan secara dalam bagian akhir tulisan ini.

Piramida 4: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2100.

Belum Terlalu Tua

Seperti disinggung sebelumnya, postur penduduk Indonesia 2050 terlihat dari relatif besarnya proporsi P(65) yaitu 19% dan relatif kecilnya proporsi P(0-15) yaitu yaitu 16%. Dari dua angka proporsi ini dapat dihitung rasio ketergantungan lanjut usia [=P(65+)/P(15-64)] dan hasilnya adalah 25%. Rasio ketergantungan ini yang lazim digunakan sebagai ukuran “ketuaan” suatu populasi: semakin tinggi rasio, semakin tua.

Dengan rasio ketergantungan lanjut usia 25% penduduk Indonesia 2050 dapat dikatakan sudah tua. Tapi seberapa tua? Yang jelas, angka itu  sebenarnya lebih rendah dari angka-angka untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat (USA), Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang seperti yang ditunjukkan oleh Grafik 1. Grafik itu menyajikan angka rasio ketergantungan lanjut usia beberapa negara maju 2020 dan Indonesia 2050. Apa yang terlihat dari grafik itu sangat jelas: penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum terlalu tua, belum setua negara-negara maju tahun 2020.

… penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum setua penduduk negara-negara maju tahun 2020.

Grafik 1: Rasio Ketergantungan Usia Lanjut (%)

Paradoks Pembangunan

Tingginya rasio ketergantungan lanjut usia menunjukkan rendahnya barisan usia produktif. Ini berarti pula rendahnya barisan penduduk yang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif yang pada gilirannya menyulitkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini agaknya paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

…. paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

Wallahualam…@

[1] Dalam tradisi demografi, pencatatan umur dibulatkan ke bawah. Penduduk berumur 11 tahun, misalnya, mencakup yang berumur 11 tahun 11 bulan. Penulisan P(0-5) perlu dibaca sebagai penduduk “dari 0 sampai 5”, bukan ” dari 0 sampai dengan 5″ karena 5 tidak dicakup. Analog, P(5-10) tidak mencakup penduduk umur 10.

[2] https://population.un.org/wpp/Download/Standard/Population/

[3] https://population.un.org/wpp/Download/Probabilistic/Population/. Lihat juga Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/28/total-penduduk-indonesia-masa-depan/

[4] Lihat catatan kaki 1.

[5] Tepatnya, 4.99…<5 tahun. Lihat catatan kaki 1

[6] Postur penduduk lebih ditentukan oleh angka fertilitas dari pada oleh mortalitas

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Total Penduduk Indonesia Masa Depan

Berapa total penduduk Indonesia 10, 30, atau 80 tahun mendatang? Dugaan penulis tidak ada yang berani memastikannya. Siapa yang berani memastikan peristiwa masa depan?

Masalahnya, kita tidak dapat hidup dalam kegelapan mutlak mengenai masa depan kita. Kita perlu tahu sekarang, mengenai gambar besar 10-30 tahun mendatang berbasis ilmiah perkiraan, misalnya, ratus-jutaan mulut yang harus diberi makan, jutaan balita yang perlu dimonitor berat badannya, puluhan juta penduduk usia muda yang siap membanjiri pasar kerja, puluhan juta angkatan kerja terdidik dalam usia prima, dan jutaan wanita usia subur yang siap memasok generasi penerus. Kita perlu sedikit titik terang– sekalipun tidak benderang– mengenai semua isu itu untuk memberikan sedikit kelegaan serta memandu kita menata masa depan.

Dalam konteks ini para ahli demografi menyandang tugas profesional untuk memberikan titik terang yang dimaksud. Berdasarkan dua data sensus penduduk terakhir (2000 dan 2010), misalnya, mereka mampu menawarkan gambar besar profil penduduk ke depan. Caranya sederhana yaitu dengan menghitung rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun (=r) dalam periode 2000-2010 dan mengekstrapolasikan total penduduk ke masa depan berdasarkan angka itu dan total penduduk tahun dasar. Hasilnya, proyeksi penduduk berbasis suatu model matematik.

Tapi mereka juga mengingatkan bahwa model itu terlalu sederhana untuk membuat gambar masa depan, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, terlalu menyederhanakan persoalan jika angka r suatu populasi diasumsikan tidak berubah (konstan) di masa depan, apalagi masa depan yang jauh. Kedua, r mencerminkan berbagai kekuatan yang belum tentu searah gerakannya: kekuatan positif (faktor penambah) yaitu kelahiran (B, birth) dan Migrasi Masuk (I, immigrant), serta kekuatan negatif (pengurang) yaitu kematian (D, death) dan migrasi keluar (E, emigrant). Singkatnya, Pt=P0+(B-I)-(D+E) di mana Pt=populasi tahun t dan P0 populasi dasar dan Pt. Semua “kekuatan” ini logisnya perlu dipertimbangkan dalam kalkulus perkiraan penduduk masa depan. Model perkiraan masa depan (proyeksi, prediksi) dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan itu yang umumnya dipraktikkan oleh para ahli demografi dalam kapasitasnya sebagai perorangan atau mewakili lembaga termasuk PBB.

Bagaimana dengan alasan ketiga?

Perkiraan penduduk masa depan, seperti halnya perkiraan mengenai apa pun, perlu mempertimbangkan secara cermat faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Mengenai faktor ini berlaku rumus umum: semakin panjang rentang waktu perkiraan semakin besar faktor itu, atau, dengan perkataan lain, semakin tidak akurat perkiraan itu. Perkiraan total penduduk 2050, misalnya, lebih akurat dengan perkiraan total penduduk 2100.

“Hebatnya”, PBB “berani” membuat perkiraan penduduk global yang dirinci menurut negara dan karakteristik wilayah sampai 2100 dalam publikasinya berjudul “World Population Prospects: Highlight[1]. Yang perlu dicatat, dalam perkiraannya, PBB menggunakan faktor “kekuatan” postif maupun negatif sebagaimana dibahas sebelumnya serta telah mempertimbangkan faktor ketidakpastian.

PBB tentu memiliki alasan yang cukup untuk mempublikasikan perkiraannya: PBB berkepentingan untuk memperoleh gambar besar masa depan penduduk global dan juga –dugaan penulis– untuk memfasilitasi banyak pihak yang tengah bersemangat dalam arti positif membuat apa yang dikenal mega-trends dengan berbagai variannya. CSIRO, misalnya, menerbitkan buku dengan judul yang provokatif secara intelektual: Our Future World: Global megatrends that will change the way we live[2].

Bagaimana gambar masa depan penduduk global menurut PBB? Penduduk global masih akan bertambah sehingga pada tahun 2100 totalnya diperkirakan akan mencapai 10.9 milyar jiwa. Menurut PBB, sebenarnya pertumbuhan penduduk di semua wilayah telah mencapai puncaknya sehingga terus berkurang, tetapi dalam hal ini Afrika adalah satu-satunya kekecualian: penduduk di benua itu akan terus tumbuh bahkan setelah akhir abad 21. Gambaran lebih rinci dapat dilihat di sini[3].

Bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya disajikan pada Grafik di bawah:

  • Total penduduk Indonesia pada tahun 1950 sekitar 30 juta.
  • Total itu menjadi sepuluh kali pada tahun 2030, sekitar 300 juta.
  • Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Skenario di atas menggunakan model perkiraan moderat dalam arti mengacu pada estimasi titik atau median dalam interval probabilitas estimasi yang lebar dan melebar.

Wallahualam…@

[1] https://population.un.org/wpp/Publications/Files/WPP2019_Highlights.pdf

[2] https://publications.csiro.au/rpr/download?pid=csiro:EP126135&dsid=DS2

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/18/world-population-trend-forecasts/

World Population: Trends and Forecasts

What is the big picture of the world population? How are its past trends look like? What is the probable future trend of it? How significant the relative contribution of the major regions in shaping the profile of the world population in the past and in the coming years throughout the 21st century? These all part of the questions that this article is aimed at dealing with. The term of the past trend as used in this article is initiated from the 1950s, the era when the majority of the nations in Asia and Africa liberated themselves from European colonialism. Asia and Africa are of special interest here as the population of these two major regions– as will be clearer later– had shaped the past trends significantly and will probably determine crucially the future profile of the world population.

With regard to the past trends, Graph 1 shows that along the second half of the 20th century, Asia’s population strikingly outnumbered the population of other regions[1]. In addition, the pace of increase of the first as suggested by the graph was more rapid than that of its counterpart. This was implying the increasing share of Asia’s population to the world population: 55.4% in 1945 and 60.1% in 2018.

Graph 1: World population by Region 1950-2000 (000)

As obviously shown by the graph, the second most important region in shaping the world population was Europe. However, its position surpassed by Africa in 1996. In fact, the increasing share of Africa’s population between 1995 and 2000 was more striking than that of Asia: 9.0% in 1950 and 13.2% in 2000.

As also suggested by the graph, the share of the overall regions other than Asia and Africa during the 1995-2000 period was relatively small. However, the graph shows no clear picture of the share of the individual regions other than Asia. Graph 2 shows a clearer picture of it.

Graph 2: World population by Region 1950-2000 (000) (Asia is excluded)

Graph 2 shows clearly the year when Africa’s population exceed Europe’s population; that was in 1996. The graph also shows (but perhaps not very clear) that Europe’s population reached its peak in 1995 with a total population of about 727 million. Following the year, Europe’s declining until 2000 and even until the end of the 21st century. In line with this trend, the share of Europe’s population to the world population respectively in 1995, 2000 and 2100 were (or forecasted) 21.7%. 11.8 and 9.6%.

…. Europe’s population reached its peak in 1995 with a total population of about 727 million

Graph 3 suggests that Asia’s population is forecasted to reach its peak in 2055 when its total population will be about 5.3 billion. On Africa’s population growth, the graph also shows, as PEW Research Center[2] describes it, “is projected to remain strong throughout this century”. Based on the graph, it is apparently sensible to expect that Africa’s population would be the only population that will have sufficient momentum to grow positively, at least until the first decades of the 22nd century.

…. Asia’s population is forecasted to reach its peak in 2055 when its total population will be about 5.3 billion

Graph 3: World population by Region 1950-2100 (billion)

 

*********

According to a UN estimate (see footnote 1), the world population is estimated increasing from about 7.8 billion in 2020 to 10.9 billion in 2100. This means an annual increase of growth of 0.42%, r=0.42%[3]. This means also the additional population of about 33 million in a year. The question is what the impact of that upon the carrying capacity of the planet to support human lives living on the environment where soil for agriculture has been continuously lacking and increasingly less fertile? And or on already highly competitive labour market especially for the young amid the increasing labour supply due to natural demographic transition notably in the developing nations?

 

[1] United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Division, “World Population Prospects 2019”. This data source is used throughout this article unless stated otherwise.

[2] https://www.pewreseach.org/fact-tank/2019/06/17/world-popuylation-is-projected-to-nearly-stop-growing-by-the-end-of-the-year.

[3] This number comes from this formula: r=(1/80)*ln (10.9/7.8)*100

Pertumbuhan Alamiah Populasi Global

Kelahiran dan Kematian. Hanya  dua faktor alamiah inilah yang menentukan populasi manusia secara global. Dinyatakan secara berbeda, dinamika populasi global adalah fungsi dari surplus atau defisit peristiwa kelahiran (=B) terhadap kematian (=D): jika (B-D)>0 maka populasi  bertambah, jika (B-D)<0 populasi berkurang. Seperti yang akan segera terlihat, kecuali terjadi peristiwa luar bisa yang mempengaruhi kelangsungan hidup populasi global secara signifikan, populasi global patut diduga masih akan tumbuh karena (B-D)>0.

Menurut PEW Research Center[1], selama kurun 2010-2015, (B-D) bernilai positif sekitar 388.6 juta jiwa. Jika angka ini diasumsikan berlaku selama 15 tahun mendatang (dari 2015), maka selama kurun 2015-2030 populasi global akan bertambah 3×388.6 juta = 1,165.8 juta atau sekitar 1.2 milyar jiwa. Angka ini: (1) 200 juta lebih rendah dari populasi Cina sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 1,435,328,900)[2], atau (2) 117 juta lebih tinggi dari populasi Indonesia sekarang (keadaan Jumat, 11 Oktober 2019: 271,431,139)[3].

Perbedaan Regional

Dinamika populasi regional lebih kompleks dari pada dinamika populasi total. Pasalnya, faktor pertumbuhan tidak hanya ditentukan oleh (B-D), tetapi juga oleh faktor migrasi, migrasi masuk [=M(I)] atau migrasi keluar [=M(O)]. Populasi Jakarta atau kawasan Asia Pasifik, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh surplus atau defisit B terhadap D di provinsi atau kawasan itu, tetapi juga ditentukan oleh apakah M(I)-M(0) positif atau negatif. Ini masalah kompleks, apalagi jika fokusnya pada faktor pertumbuhan alamiah. Untungnya, PEW Research Center telah menghitungkan untuk kita sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1: Selisih Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Kawasan (Ribuan)[4]

Selisih Kelahiran-Kematian

%

Distribution

Asia Pacific

202,790

52.2

Europe

-1,750

-0.5

Middle East and North Africa (MENA)

33,890

8.7

North America

9,150

2.4

Sub-Saharan Africa

108.450

27.9

Total

388.610

100.0

Tabel 1 menunjukkan pertumbuhan alamiah positif di semua wilayah kecuali Eropa. Populasi di benua ini defisit sekitar 1,75 juta kelahiran terhadap kematian. Artinya, jika keadaan seperti ini terus berlangsung maka populasi Eropa akan terus menyusut. Secara ekonomi hal ini tidak menguntungkan karena bagaimanapun total GDP adalah fungsi penduduk[5].

Jika keadaan ini tidak dikehendaki, maka satu-satunya penyelesaian logis bagi Eropa adalah mendatangkan migrasi masuk dari luar dalam jumlah yang secara signifikan lebih besar dari total migrasi keluar. Jika migran masuk dipilih yang berusia reproduktif dan produktif maka cara ini lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya dibandingkan dengan, misalnya, kebijakan “memanjakan” pasangan usia produktif dengan berbagai kemudahan subsidi untuk menambah anak yang belum tentu dan sejauh ini terbukti tidak  efektif (selain kemungkinan juga mahal).

Bagi Eropa, mendatangkan migran usia produktif dan reproduktif dari luar akan lebih efisien dari sisi waktu dan biaya untuk mengatasi defisit kelahiran.

Tabel itu juga menunjukkan bahwa masa depan pertumbuhan populasi global patut diduga akan tergantung pada kawasan Asia-Pacific:  kawasan ini menyumbangkan lebih dari separuh pertumbuhan populasi global. Dalam konteks ini ada tiga negara “raksasa” yang memainkan peranan menentukan: Cina, India dan Indonesia. Yang menarik untuk dicatat, ciri kependudukan ketiganya berbeda: yang pertama dicirikan oleh relatif rendahnya angka kelahiran dan angka kematian, sementara yang kedua oleh relatif tingginya kedua angka itu. Posisi Indonesia berada di tengah-tengah dua “raksasa” itu dalam hal angka kelahiran dan kematian[6].

Perbedaan menurut Afiliasi Agama

Populasi berbeda dalam hal afiliasi agama yang dianut dan perbedaan semacam ini agaknya adalah alamiah bagi populasi[7]. Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan alamiah berbeda menurut afiliasi agama.

Mudah diduga pertumbuhan alamiah populasi (dalam artian absolut) sangat ditentukan oleh dua populasi agama terbesar yaitu Muslim dan Kristen. Data PEW mengkonfirmasi dugaan ini ini sebagaimana terlihat pada Grafik 1. Dari 388.6 juta faktor pertumbuhan alamiah, sebanyak 267 juta atau 70% merupakan sumbangan populasi dari dua agama ini.

Grafik 1: Selisih Jumlah Kelahiran dan Kematian Penduduk Global 2010-2015 menurut Afiliasi Agama Penduduk (Juta)[8]

Grafik itu juga menegaskan populasi Muslim lebih subur secara aktual (atau memiliki angka fertilitas lebih tinggi) dari pada populasi Kristen. Penegasan ini justified karena secara absolut pada level global, populasi Kristen lebih besar dari pada populasi global dan ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai 2050.

Grafik 2: Defisit Kelahiran terhadap Kematian Eropa 2010-2015

Catatan: Populasi Agama Yahudi tidak diperhitungkan karena kasusnya kurang dari 10,000.

Grafik 1 menunjukkan sumbangan positif populasi Kristen terhadap pertumbuhan alamiah populasi global. Gambarannya sangat berbeda jika fokus diberikan khusus pada kawasan Eropa. Khusus di kawasan ini, seperti ditunjukkan oleh Grafik 2, sumbangan populasi Kristen defisit sekitar 5.64 juta kelahiran terhadap kematian. Demographic wise, fakta ini mengisyaratkan akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa untuk mengatasi defisit kelahiran terhadap kematian.

Demographic wise akan lebih efisien bagi Eropa jika mendatangkan migrasi Muslim dari luar Eropa…

Kesimpulan dan Pertanyaan

Sebagai kesimpulan, ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global akan banyak dipengaruhi dinamika penduduk di kawasan Asia Pacific. Juga ada alasan untuk menduga bahwa masa depan penduduk global juga dipengaruhi oleh populasi Muslim. Pertanyaannya, apakah yang terakhir ini, dengan mengingat ajaran Islam yang secara eksplisit mengusung nilai-nilai keadilan sosial (QS 107) dan keikhlasan dalam berderma ( QS 76:9)[9], akan membawa masa depan populasi global ke arah yang lebih adil?

Wallahualam…@

[1] Appendix A,  https://www.pewforum.org/2015/04/02/religious-projections-2010-2050/

[2] https://www.worldometers.info/world-population/china-population/

[3] https://www.worldometers.info/world-population/indonesia-population/

[4] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[5]  GDP adalah singkatan dari  “Gross Domestic Product” dan mewakili total nilai moneter dari semua produksi final barang dan jasa dalam suatu periode (biasanya setahun). GDP adalah ukuran yang paling umum dipakai untuk menghitung aktivitas ekonomi. Seperti halnya total produksi padi yang merupakan fungsi dari produktivitas (per HA) dan luas panen, demikian juga total GDP merupakan oleh produktivitas (GDP/kapita dan penduduk.

[6] Pengamatan seorang teman di ADB menarik untuk dicatat. Menurutnya, posisi Indonesia juga berada di tengah dua negara raksasa itu dalam hal demokrasi dan birokrasi: tidak semurni India dalam hal demokrasi, tidak seefektif Cina dalam hal birokrasi pemerintahan. Dia tidak mampu menjawab ketiga penulis bertanya: “Apakah keduanya harus saling melemahkan?”

[7] Itulah sebabnya dalam Islam ada larangan memaksakan agama (QS 2:256).

[8] Sumber, lihat catatan kaki 1.

[9] Keikhlasan dalam konteks ini lebih dari sekadar kedermawanan sosial (philanthropy) yang masih rentan terpapar “agenda” pribadi yang kurang terpuji. “Agenda” yang dimaksud, pada tataran negara, dapat berbentuk kebijakan luar negeri yang tampilan luarnya saja terkesan dermawan, tetapi dengan rumus tidak ada “makan siang gratis”,  menyembunyikan motivasi mengeruk keuntungan lebih besar dari pihak yang dibantu.

 

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com