Isu Kerdil yang Besar


Apa masalahnya dengan kerdil? Bukankah itu soal genetis atau turunan orang tua? Apakah itu sesuatu yang dapat dicegah? Daftar pertanyaan semacam ini dapat diperpanjang. Tapi apapun jawabannya, yang jelas pemerintah menilai serius urusan ini. Indikasinya, untuk mengurusi isu ini, pemerintah telah membentuk P2AK: Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil[1]. Secara administrasi Tim ini berada di bawah Sekretariat Kantor Wakil Presiden dan ini menunjukkan besar, serius dan kompleksnya isu ini

Dari kepanjangan TP2AK terlihat beberapa hal berikut: (1) fokus perhatian pada anak, (2) pengerdilan anak diasumsikan dapat dicegah, dan (3) upaya pencegahan itu perlu dipercepat. Tapi apa masalahnya dengan kekerdilan ini? Inilah yang akan dicoba dijawab secara sederhana melalui tulisan singkat ini, sekadar untuk memperoleh gambar besarnya.

Definsi dan Dampak Stunting

Padanan Bahasa Inggris untuk kata kerdil adalah swarf (kata benda) sementara untuk kata pengerdilan adalah stunting (kata kerja). Yang menjadi isu bukan swarf tetapi stunting. Asumsi dasarnya, berbeda dengan swarf yang lebih bersifat genetis atau terjadi karena kelainan hormonal yang tidak dapat dicegah, stunting dapat dicegah. UNICEF menggunakan istilah yang terakhir ini untuk merujuk pada rendahnya tinggi badan anak relatif terhadap umurnya karena kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang dan seringnya infeksi: “Stunting, or low height for age, is caused by long-term insufficient nutrient intake and frequent infections”.

Dampak stunting ternyata luas termasuk lambatnya pertumbuhan motorik dan rusaknya fungsi kognitif anak, kedua hal ini pada gilirannya berakibat  pada buruknya kinerja sekolah anak. Dampak lebih jauh, menurut WHO stunting membawa dampak negatif terhadap produktivitas ekonomi nasional. Yang ‘menakutkan’, menurut UNICEF dampak stunting terhadap pertumbuhan motorik dan kognitif anak bersifat permanen (irreversible).

Prevalensi Stunting

Menurut UNICEF hampir sepertiga anak balita secara global tergolong stunting. Angka ini tidak berbeda jauh dari angka Indonesia yang dalam periode 2010-2019 sekitar 27-35%[2]. Dinyatakan secara berbeda, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa angka stunting Indonesia merepresentasikan angka stunting global.

…. angka stunting Indonesia representasi angka stunting global.

Prevalensi stunting relatif tinggi di negara-negara berkembang. Walaupun demikian, angkanya sangat bervariasi menurut kawasan. Angka untuk kawasan Asia Timur (Pasifk), misalnya, hanya 16%, jauh lebih rendah dari angka kawasan Asia Selatan (46%). Yang layak-catat, angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Highest levels are found in South Asia
Prevalence of stunting in children under five, by region (2000–2006)

Source: UNICEF

Angka stunting Indonesia kira-kira dua kali lipat angka Asia Timur.

Sebagai catatan, proses pengumpulan data untuk menghitung angka pengukuran stunting secara langsung relatif kompleks sehingga sulit diajarkan pada petugas Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Di sisi lain, kuesioner Susenas menyediakan sejumlah variabel yang dapat digunakan untuk membangun variabel penjelas (explanatory variables) bahkan untuk menghitung proksi indikator stunting. Dengan demikian data Susenas secara umum berpotensi untuk digunakan sebagai alat pemantauan status stunting secara berkala.

Tantangannya, rancangan sampel Susenas utamanya dimaksudkan untuk mengukur karakteristik rumah tangga secara umum, bukan karakteristik sub-populasi anggota rumah tangga secara spesifik seperti balita apalagi baduta. Dalam konteks ini, kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan bukan merupakan pilihan tetapi merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

…. kajian mengenai kecukupan sampel Susenas serta kecermatan hasil perhitungan … merupakan keharusan metodologis ketika datanya digunakan untuk mengukur karakteristik terkait stunting.

Faktor Pengaruh

Terkait anak stunting ini catatan pentingnya adalah bahwa kondisinya merupakan akibat dari sejumlah faktor yang terjadi bahkan sebelum anak itu terlahir. Itulah sebabnya upaya penanganannya mencakup 1000 hari pertama termasuk ketika anak itu masih berbentuk janin dalam rahim ibunya. Dengan demikian faktor ibu turut menentukan: asupan gizi dan kesehatan reproduksi ibu ketika mengandung turut menentukan. Jika asupan gizinya buruk atau secara fisik belum siap (akibat pernikahan dini) maka besar kemungkinan dia melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR).

Banyak faktor yang mempengaruhi stunting termasuk sejarah kesakitan neonatal dan kemiskinan. Menurut suatu penelitian (2017) terhadap anak berumur 12-23 bulan, bayi dengan sejarah kesakitan neonatal (neonatal illness) memilki OR=1.23; artinya, memiliki risiko menjadi stunting 23% lebih tinggi dari bayi yang tidak memiliki sejarah itu. Sementara itu, risiko kemiskinan (tidak langsung) memiliki OR=1.3.

Menurut penelitian yang sama, risiko BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan risiko dua faktor sebelumnya. Angka OR-nya sekitar 1.74. Dengan kata lain, bayi yang lahir dengan berat badan rendah atau di bawah normal (<2.5 kg) berisiko 74% lebih tinggi untuk menjadi stunting dibandingkan bayi yang lahir dengan berat badan normal (>=2.5 kg[3]). Yang juga layak-catat dari penelitian ini adalah bahwa bayi laki-laki 27% berisiko lebih tinggi menjadi stunting dari pada bayi perempuan. Apakah angka terakhir menunjukkan bahwa wanita lebih “tangguh” dari pria sejak masih bayi?

Wallahualam…. @

[1] Penulis baru saja kenal istilah TP2AK karena kebetulan beberapa hari lalu (3/6/20) berpartisipasi dalam suatu Zoom Meeting terkait isu ini.

[2] Menurut suatu penelitian (2017), prevalensi stunting anak umur 12-23 bulan di Indonesia sekitar 40.4%.

[3] Angka ini lebih kecil dari 2 standar deviasi median dari standar tinggi badan per umur menurut standar WHO.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.