Populasi Muslim: Besar, Pertumbuhan dan Tantangan

Menurut PEW Research Center, total populasi Muslim pada 2010 sekitar 1.6 milyar dan proyeksinya pada 2050 sekitar 2.8 milyar. Kontribusinya terhadap populasi global secara keseluruhan meningkat dari 23.2% pada 2010 menjadi 29.7% pada 2050.

Menurut sumber yang sama, kecuali untuk Buddhis, populasi pemeluk semua agama non-Muslim diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan selama kurun 2010-20150,  tetapi pertumbuhannya relatif lambat. Akibatnya, kontribusi terhadap populasi global secara keseluruhan berkurang: hanya populasi Muslim yang kontribusinya meningkat (lihat Grafik).

Besar, pertumbuhan dan tantangan populasi Muslim bukan tanpa tantangan dan ini patut diduga terkait soal kualitas. Dalam konteks ini agaknya layak disimak Hadits Nabi SAW yang semangatnya kira-kira begini:

The time will come when you are very large, but the impact to the world is nothing…

[“Besar tapi nggak ngepek“, dalam bahasa gaul.]

Semangat itu penulis tangkap dari sela-sela ceramah Tariq Ramadan yang agaknya merujuk pada satu Hadits berikut:

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Hadits ini bagi penulis menegaskan ajaran mengenai keunggulan kualitas terhadap kuantitas (*). Pertanyaannya adalah apakah Hadits itu merujuk pada situasi masa kini?

  1. Apakah tragedi dalam bentuk perang saudara yang kini berlangsung di Syria, Yaman, Irak, Afganistan, Lybia dan belahan lain muka bumi ini, merupakan petanda dari ramalan Nabi SAW yang tersirat dalam Hadits di atas?
  2. Apakah posisi wasit (QS 2:143) yang dimainkan Barat dalam tragedi di atas petanda yang sama? dan
  3. Apakah inferior complex yang menghinggapi Umat dalam bidang ilmu pengetahuan dan sains– seperti diungkapkan Tariq Ramadan dalam suatu ceramahnya– merupakan petanda serupa?

Jika jawaban terhadap salah satu pertanyaan di atas positif, maka pertanyaan selanjutnya yang layak diajukan adalah “Siapa (faktor eksternal) yang menzalimi Umat?”, atau “Kesalahan apa yang dilakukan oleh Umat (faktor internal)?”

Pertanyaan pertama sangat “nyaman” untuk diajukan karena sesuai dengan mentalitas “semut di seberang lautan terlihat jelas, gajah di kelopak mata tidak kelihatan”. Sebaliknya, pertanyaan kedua “berat” karena selain tidak sesuai dengan mentalitas itu juga menunut tindak lanjut berupa reformasi besar-besaran hampir dalam semua aspek kehidupan; paling tidak, demikianlah yang dikemukakan Chapra[1], dalam salah satu bukunya.

Terlepas dari mana pertanyaan yang benar, dalam konteks ini QS (13:11) agaknya layak direnungkan: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Ayat ini dikutip oleh Chapra sebagai bagian dari argumennya dalam menjelaskan kemunduran peradaban Muslim kontemporer.

Wallahualam…. @

[1] Buku yang dimaksud berjudul Muslim Civilization: The Causes of Decline and the Need for Reform. Oleh banyak ahli buku ini dinilai otoritatif dan layak baca.

(*) Dalam kontkes ini menarik dicatat fakta sejarah Dinati Umayah. Posisi populasi Muslim di kekhalifahan ini di Damascus (661-750) minoritas; juga di keemaratan (756-929) dan kehlaifahan Cordoba (929-1031) dari dinasti ini. Di dua wilayah terakhir ini populasi Muslim dilaporkan sedikit lebih kecil dibandingkan populasi Yahudi (yang tergolong minoritas).

  

Populasi Muslim: Profil dan Proyeksi

Sinopsis: Tulisan ini membahas profil dan proyeksi populasi Muslim global. Topik-topik yang dibahas: pertumbuhan, proyeksi dan komponen pertumbuhan populasi Muslim, dalam perbandingannya dengan populasi global dan populasi Kristen. Istilah populasi (bukan Umat) digunakan untuk menegaskan bahwa analisis menggunakan pendekatan sosiologis (bukan teologis).

Sumber Gambar: Google

Semua penganut agama-agama samawi– Yahudi, Kristen dan Islam– mengaku keturunan Nabi Ibrahim AS dalam arti meyakini agama mereka adalah kelanjutan dari tradisi (milah) nabi itu. Dalam tradisi alkitabiah (biblical) terdapat narasi mengenai janji Tuhan SWT akan mengaruniai Ibrahim AS berupa keturunan sebanyak “bintang di langit”[1]. Janji ini agaknya telah terpenuhi jika diukur dari populasi penganut agama-agama samawi yang semakin mendominasi populasi global.

Tema tulisan adalah populasi Muslim global. Topik yang dibahas antara lain pertumbuhan, proyeksi dan komponen pertumbuhan populasi Muslim, dalam perbandingannya dengan populasi global dan populasi Kristen. Istilah populasi (bukan Umat) digunakan untuk menegaskan bahwa analisis menggunakan pendekatan sosiologis (bukan teologis). Dengan pendekatan ini penganut agama didasarkan  pada pengakuan yang bersangkutan (self declaration) mengenai agama yang dianut.

Populasi Agama Samawi

Populasi Agama Samawi terus meningkat jumlahnya. Pernyataan sesuai dengan data World Religion Project berikut:

  • Populasi global pada tahun 1945 –atau 74 tahun lalu– berjumlah sekitar 2.25 milyar. Dari jumlah itu, sebanyak 873 juta atau 39% adalah populasi Agama Samawi.
  • Pada tahun 2010– atau 74 tahun berikutnya– total populasi global adalah 6.84 milyar dan 54% di antaranya populasi Agama Samawi.

Singkatnya, dalam 1945-2010 terjadi kenaikan proporsi penduduk Agama Samawi dari 39% menjadi 54%.

  • Pada tahun 1945 populasi Muslim diperkirakan 159 juta. Ini berarti sekitar 7.7% dari populasi global. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, proporsi untuk populasi Kristen sekitar 31.2%.
  • Pada tahun 2010 populasi Muslim sekitar 1.6 milyar milyar atau 23.2% dari populasi global. Pada tahun yang sama total dan proporsi populasi Kristen masing-masing 2.1 milyar dan 30.9%.

Singkatnya, dalam periode 2010-2010 terjadi penurunan proporsi populasi Kristen terhadap populasi global turun dari 31.2% menjadi 30.9%.

Bagaimana perkiraannya ke depan? Gambarannya dapat disimak dari proyeksi periode 2010-2050 yang dipublikasikan oleh PEW Research Center:

  • Penduduk global meningkat dari 6.90 milyar pada tahun 2010 menjadi 9.31 milyar pada tahun 2050, atau tumbuh sekitar 0.77% per tahunnya. Jika angka pertumbuhan ini berlaku setelah 2050 maka populasi global memerlukan waktu sekitar 90 tahun untuk menjadi dua kali lipat[2].
  • Dalam periode yang sama proporsi penduduk Agama Samawi naik dari 54.8% menjadi 58.3%. Sebagai catatan, kenaikan proporsi ini terjadi hanya untuk Muslim (dari 23.2% ke 26.7) dan tidak terjadi untuk Kristen maupun Yahudi.

Periset dalam lembaga ini menggunakan dan menganalisis sekitar 2,500 sumber data termasuk sensus penduduk, survei demografi, dan survei kependudukan secara umum. Terkait dengan identitas keagamaan, lembaga ini merumuskannya begini:

The measure of religious identity in this study is sociological rather than theological. In order to have statistics that are comparable across countries, the study attempts to count individuals who self-identify with each religion. This includes people who hold beliefs that may be viewed as unorthodox or heretical by others who claim the same religion. It also includes people who do not regularly practice the behaviors prescribed by their religion, such as those who seldom pray or attend worship services.

Proyeksi Populasi Muslim

Terkait proyeksi populasi Muslim, dapat dicermati proyeksi PEW Research Center berikut:

  • Populasi Muslim meningkat dari 1.60 milyar pada tahun 2010 menjadi 2.76 milyar pada tahun 2050. Dengan demikian, rata-rata angka pertumbuhan per tahun sekitar 1.38%.
  • Proporsi populasi Muslim (terhadap populasi global) dalam periode yang sama meningkat dari 23.2% menjadi 27.9%. [Sebagai perbandingan, proporsi untuk populasi Kristen tetapi pada tingkat 31.4%.]

Semua angka-angka di atas dapat diamati pada Gambar 1.

Gambar 1: Proyeksi Populasi Global 2010-2050

Sumber: PEW Research Center

Gambar di atas menegaskan beberapa hal termasuk berikut ini:

  • Selama empat dekade (2010-2050) populasi Muslim tumbuh lebih cepat dari agama-agama lain.
  • Populasi Muslim dan populasi Kristen memberikan sumbangan yang relatif sama terhadap populasi global.
  • Populasi yang mengaku bukan penganut agama tumbuh hampir 10% tetapi sumbangannya terhadap populasi global turun dari 16.4% pada tahun 2010 menjadi 13.2% pada tahun 2050.

Komponen Pertumbuhan Populasi

Angka Kelahiran

Pada level global, komponen pertumbuhan populasi secara keseluruhan  bersifat alamiah. Artinya, dalam suatu periode, penduduk bertambah karena kelahiran dan berkurang karena kematian. Jadi komponennya adalah kelahiran (B, dari Birth) dan kematian (D, dari Death). [Faktor lain yaitu migrasi (M, dari Migration) karena sejauh ini tidak ada laporan migrasi masuk maupun keluar dari planet bumi.]

Faktor utama yang menjelaskan relatif tingginya angka pertumbuhan populasi Muslim. Data PEW Research Center menunjukkan adanya penurunan rata-rata kelahiran anak per wanita (TFR, dari total fertility rate) dalam periode 2010-50: Muslim: turun dari 3.1 ke 2.3. Untuk populasi Kristen penurunanya  dari 2.7 ke 2.3, sementara untuk populasi global:  dari 2.5 ke 2.1. Yang layak dicatat, sekalipun tahun 2050 TFR untuk Muslim dan Kristen sama (2.3),  titik awalnya (2010) jauh lebih tinggi untuk Muslim dari pada untuk Kristen. Ini berdampak pada momentum pertumbuhan penduduk (yang lebih besar untuk Muslim dari pada Kristen.

Struktur Umur

TFR suatu populasi mungkin rendah tetapi struktur umur muda memberikan momentum bagi populasi secara keseluruhan untuk tumbuh cepat. Inilah yang terjadi dengan populasi Muslim.

Struktur umur muda secara sederhana ditunjukkan oleh rendahnya median umur: semakin rendah, semakin muda. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2010 median umur adalah 23 tahun untuk populasi Muslim dan 30 tahun untuk populasi Kristen.

Struktur umur yang “tua” (aging) membawa konsekuensi pertumbuhan ekonomi. Faktor ini melatarbelakangi fenomena sulitnya bagi negara-negara maju (termasuk Jepang) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Logikanya sederhana: bagi populasi “tua”, penduduk produktif proporsnya rendah sehingga nilai produksi secara keseluruhan sulit meningkat  (betapa pun tinggi tingkat produktivitas mereka).

Perpindahan Agama

Populasi global suatu agama tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alamiah tetapi juga oleh faktor perpindahan agama. Faktor ini menjelaskan relatif tingginya pertumbuhan populasi Muslim. Data xx menujukan bahwa dalam periode 2010-20150, populasi yang masuk Islam sekitar 12.6 juta sementara yang keluar Islam sekitar 9.4 juta. Artinya, ada perpindahan agama neto sekitar plus 3.2 juta.

Sebagai perbandingan, untuk Kristen, perpindahan agama neto adalah minus 66.0 juta: yang masuk 40.1 juta, yang keluar 106.1 juta

Ringkasan

Populasi Muslim secara global terus bertambah dengan dengan tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi. Ini terlihat dari rata-rata angka pertumbuhan per tahun (=r) yaitu 1.8%. Untuk populasi global dan Kristen angka r sama yaitu 0.77%. Jika angka-angka ini berlangsung pasca 2050 maka populasi global (juga Kristen) perlu waktu sekitar 90 tahun untuk menjadi dobel jumlahnya. Bagi populasi Muslim waktu itu hanya 50 tahun.

Relatif tingginya angka r untuk populasi Muslim terkait dengan relatif tinginya angka kelahiran, relatif mudanya struktur umur, dan relatif besarnya perpindahan agama dari agama lain.

[1] Analogi “bintang di langit”– yang mengonotasikan jumlah yang sangat banyak– mudah dipahami karena dapat diamati. Alusi semacam ini normal digunakan dalam Bahasa Agama yang tidak dapat dimaknai secara harfiah.

[2] Angka ini diperoleh dari persamaan t = ln(2)/r di mana t adalah tahun yang diperlukan untuk menjadi dobel dan r adalah rata-rata pertumbuhan per tahun.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Nilai Anak, Migrasi dan Rahmat Tersembunyi

Sumber Gambar: Google

Cara sederhana untuk mengenali kemajuan suatu negara adalah dengan mencermati karakteristik penduduknya. Negara-negara maju bercirikan angka kelahiran dan angka kematian yang rendah; sebaliknya, negara-negara berkembang pada umumnya– tidak selalu– bercirikan angka kelahiran dan angka kematian tinggi.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi keadaan ini terkait dengan nilai anak (value of children) bagi orang tua. Di negara-negara maju anak dinilai lebih sebagai beban dari pada sumber daya sehingga bagi orang tua yang penting kualitas anak, bukan kuantitasnya. Bagi mereka arus ke kayaan (flow of wealth) dari arah orang tua ke anak.

Pandangan orang tua di negara-negara berkembang berbeda. Bagi mereka anak berfungsi sebagai buruh-murah dan jaminan hari-tua. Jadi, arus kekayaan dari anak ke orang tua. Dengan cara-pandang ini orang tua menilai memiliki banyak anak menguntungkan, “banyak anak, banyak rezeki”.

Tapi perbedaan pandangan mengenai nilai anak pada level global kini tidak terlalu signifikan. Ini sebagian terkait dengan proses penerimaan nilai-nilai “Barat” secara umum pada level global.  Sejalan dengan ini, profil kependudukan global kini boleh dikatakan banyak dipengaruhi oleh profil kependudukan dua negara “raksasa” yang memiliki angka kelahiran dan angka kematian yang rendah yaitu Cina dan Indonesia.

Di negara-negara maju angka-angka kelahiran sudah lebih rendah dari “tingkat-pergantian” (replacement level). Artinya? Artinya, anak perempuan yang akan menggantikan fungsi reproduksi ibunya jumlahnya lebih sedikit dari jumlah ibu mereka. Dampaknya? Dampaknya, jika keadaan ini dibiarkan,  jumlah penduduk akan terus berkurang sebelum akhirnya habis.

Karena memiliki angka kelahiran yang rendah, negara-nega maju (termasuk Jepang dan Korea) kini menghadapi masalah struktur umur penduduk. Masalah ini ditandai oleh berkurangnya proporsi usia muda dan meningktnyua proporsi usia tua.  Ageing. Ini berarti meningkatnya rasio-ketergantungan-tua (old-dependency-ratio) yang harus ditanggung oleh penduduk usia kerja. Ini jelas tidak menguntungkan secara ekonomi: sulitnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, bukan karena salah-kelola governance atau kurang produktifnya tenaga kerja, tetapi karena tinginya angka rasio-ketergantungan-tua itu. Jadi, agaknya, tidak ada solusi-ekonomi dalam pengertian umum kata ini.

Penyelesaiannya? Solusi demografi: datangkan migran-masuk berusia produktif dalam arti-ekonomi maupun reproduksi dalam jumlah yang signifikan. Sesederhana itu!

Arus migrasi yang dimaksud kini tengah melanda kawasan negara-negara maju di Eropa Barat. Migran terutama dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang mayoritas Muslim, tapi juga dari kawasan Eropa Timur yang relatif miskin secara ekonomi. Sayangnya, Eropa Barat melihat arus migrasi ini lebih sebagai sumber masalah, khususnya atas nama keamanan dan ketahanan identitas nasional yang memicu hidup-suburnya ideologi nasionalise sempit dan ekslusif. Mungkin dengan sedikit kekecualian termasuk Kanselir Jerman dan PM Kanada, para petinggi “Barat” enggan melihat arus imigrasi ini sebagai “rahmat tersembunyi” yang dapat mengatasi secara efektif dan efisien masalah kependudukan mereka.

Bagi Eropa masalah ini serius sebagaimana diingatkan Tariq Ramadan:

In its haste to bolster nationalism, in its obsession with security, Europe is losing its soul.

Every country in Europe needs immigrants for their economic survival.

Wallhualam….@

 

 

 

Wallahualam… @

Beberapa Tema Kependudukan

Isu kependudukan mengadung banyak tema: data, besaran (size), struktur umur-jenis kelamin, pertumbuhan, sebaran geografis, kaitannya dengan isu-isu masyarakat (population and society), hubungannya dengan isu-isu pembangunan (population and development), penduduk dan lingkungan (planet), dan sebagainya.

Kumpulan tulisan ini mencakup sebagian kecil dari tema-tema ini yang masing-masing disajikan dalam bentuk tulisan ringkas-padat dan (harapannya) mudah dibaca. Data yang yang digunakan bukan yang terkini tetapi diharapkan masih tetap layak-baca. 

Sensus Penduduk 2010 (SP2010): Beberapa Pelajaran

  1. Konsep Penduduk
  2. Jurnal SP2010
  3. SP2010: Proyek Ambisius
  4. Besaran Penduduk
  5. Struktur Umur-Jenis Kelamin

Analisis

  1. Ledakan Penduduk?
  2. Derajat Kesehatan menurut Data Sensus
  3. Cohort-Period Fertility
  4. Fertility in West Java (MA-Thesis)

Topik Khusus:

  1. Populasi Muslim Global: Estimasi 2017
  2. Populasi Muslim Global: Sebaran Geografis
  3. Profil Kependudukan Timur Leste

Sumber Gambar: Google

 

 

Populasi Muslim: Besar, Sebaran Geografis dan Tantangan

Jika —kakakanlah saat bersantai menikmati secangkir kopi di suatu Cafe bandara internasional– Anda bertemu dengan tiga orang non-muslim, maka patut diduga Anda adalah seorang Muslim. Dinyatakan secara berbeda, secara rata-rata, satu-dari-empat populasi global adalah Muslim. Dugaan ini bukan tanpa dasar ilmiah karena dihitung berdasarkan teori peluang dan hasil kajian suatu lembaga riset yang dapat diandalkan.

Muslim: Urutan Kedua

Dugaan bahwa satu-dari-empat penduduk global  Muslim didasarkan pada hasil suatu analisis demografis oleh PEW Research Center (selanjutnya PEW) yang menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ada sekitar 7.3 milyar penduduk global dan 1.8 milyar atau 24.1% di antarnya adalah Muslim[1]. Angka-angka ini menempatkan Islam pada urutan kedua agama terbesar dilihat dari jumlah pengikutnya, setelah Kristen yang diperkirakan memiliki pengikut sekitar 2.3 milyar atau 31.2% dari populasi global[2]. Menurut proyeksi PEW, sekitar tahun 2070 Muslim diperkirakan akan mengungguli Kristen karena alasan demografis: rata-rata anak per keluarga 2.2 bagi rumah tangga Kristen dan 2.7 bagi rumah tangga Muslim. Dengan angka kelahiran seperti itu maka Islam adalah agama tercepat pertumbuhan populasi penganutnya.

Ada tiga catatan yang layak disisipkan mengenai riset PW ini. Pertama, penentuan agama dalam studi ini didasarkan pada pengakuan responden (self identification).  Kedua, dalam penelitian ini istilah Muslim mencakup mazhab Suni maupun Syiah. Penggabungan dalam satu kategori (Islam) tepat karena perbedaan antara kedua mazhab dapat diabaikan karena tidak terkait dengan perbedaan teologis yang mendasar. Ketiga, istilah Kristen mencakup Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Kristen lainnya. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar, diikuti oleh Protestan dan Ortodoks; populasi masing-masing, satu milyar, 850 juta dan 260 juta[3]. Penggabungan dalam satu kategori (Kristen) mungkin kurang tepat karena perbedaan antar kelompok ini sifatnya mendasar dilihat dari aspek perumusan teologis maupun praktik keagamaan[4].

Setelah Kristen dan Islam, “agama” apa yang terbesar dilihat dari populasi penganutnya? Jawabannya mungkin di luar dugaan kebanyakan: Tak-Beragama (Inggris: Unaffiliated). Mereka pada umumnya menagaku sebagai ateis, sekuler atau agnostik. Berapa jumlah mereka? Diperkirakan sekitar 1.2 milyar, atau hanya kurang 600 ribu dibandingkan populasi Muslim.

Urutan agama terbesar lainnya setelah kelompok Tak-Beragama adalah Hindu, Budha dan lainnya. Proporsi mereka terhadap populasi global masing-masing 15.1% dan 6.9% (lihat Grafik 1).

Sebaran Geografis Populasi Muslim

Secara geografis populasi Muslim tersebar: sebagai mayoritas di lebih dari 50 negara, sebagai minoritas di hampir setiap benua (lihat Grafik2).  Sekitar 20%: populasi Muslim global tinggal di kawasan MENA (Middle East and North Africa) atau Timur Tengah dan Afrika Utara, lebih dari 60% di Asia Tenggara, dan sekitar 20% di negara-negara non-Muslim utamanya India dan China

Dengan populasi Muslim sekitar 209 juta jiwa saat ini Indonesia merupakan negara Muslim terbesar. Posisi ke-2 dan ke-3 terbesar diduduki masing-masing oleh Pakistan dan India. Populasi Muslim di kedua negara itu masing-masing 176 juta dan 167 juta jiwa. Yang menarik untuk dicatat, diperkirakan pada tahun 2050 India akan menggeser posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar. Pada tahun itu India diperkirakan akan menampung paling tidak 300 juta Muslim. Setelah India, dua urutan negara Muslim terbesar berikutnya adalah Bangladesh dan Nigeria dengan populasi Muslim masing-masing sekitar 134 juta dan 77 juta jiwa (Lihat Grafik 3).

Tantangan

Perkembangan teknologi komunikasi kontemporer semakin meningkatkan hubungan antar sesama. Pertanyaan bagi internal komunitas muslim adalah apakah hubungan ini memperkuat gairah mereka terhadap kesatuan ummah (Arab: ummatan wahidah) atau semakin membuka mata terhadap realitas keragaman ekspresi keislaman. Inilah pertanyaan yang mengenai “otentitas” dan “hibriditas” ekspresi keislaman. Bagi Riaz Hassan, perjuangan antara keduanya “menyajikan tantangan yang mungkin paling penting bagi globalisasi Umat Islam” ( represents perhaps the most important challenge of globalisation for the Muslim ummah[5]). Mengenai hibriditas ekspresi keislaman Riaz Hassan menulis:

Unlike in the past, when limitations of transport and communication technologies made it difficult for Muslims worldwide to acknowledge the cultural and social diversity of the ummah, the introduction of satellite television, internet, international travel, and access to books and magazines and increasing literacy is now making Muslims aware of their cultural and social diversity[6].

Wallahualam….@

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/04/05/christians-remain-worlds-largest-religious-group-but-they-are-declining-in-europe/. Hasil analisis ini berbeda dengan hasil perhitungan penulis sebagaimana disajikan di SINI

[2] https://uzairsuhaimi.blog/2017/06/27/muslim_popn/

[3] http://www.suarakristen.com/2015/02/22/statistik-tentang-kekristenan-sedunia-saat-ini/

[4] Lihat https://www.kaskus.co.id/thread/563ad0bc1cbfaa444a8b456e/perbedaan-kristen-dan-katolik/; juga, https://tuhanyesus.org/perbedaan-agama-kristen-dan-katolik.

[5] https://yaleglobal.yale.edu/content/globalizations-challenge-islam

[6] Ibid

[Untuk kembali ke Daftar Isi klik INI]

 

Populasi Muslim: Estimasi 2017

Tulisan ini disiapkan ketika Umat Islam atau muslim baru saja merayakan iedul fitri 2017. Perayaan ini menandai berakhirnya bulan puasa yang prosesinya menurut ajaran otentik sangat sederhana: salat dua rakaat (tanpa adzan) dan melantuntkan takbir, allahu’akbar, Allah Maha Besar. Takbir ini[1] mengaskan kesadaran individu umat mengenai kebesaran Rabb SWT, sekaligus kekerdilan dirinya di hadapan-Nya.

Kesederhanaan ajaran ini tidak membelenggu umat untuk mengekspresikan kegembiraan mereka secara kreatif sehigga tumbuh beragam tradisi ied antar kelompok umat. Di Indonesia, misalnya, ada tradisi halal-bi-halal dan “pulang kampung” yang menghebohkan itu semata-mata untuk memeriahkan hari raya itu.

Dalam ied semua diharapkan mampu berpartisipasi, semua, tanpa kecuali, termasuk kelompok mustadh’afin: kaum papa yang serba tidak berkecukupan, anak-anak yatim tidak punya pelindung, dan kaum “terpinggirkan” lain. Ini adalah sebagian hikmah dari kewajiban zakat fitrah yang relatif sangat ringan yaitu setara 2.7 kilogram makanan pokok atau sekitar Rp 40,000.

Dengan kewajiban minimalis ini hampir setiap keluarga mampu memenuhi; disisi lain, karena kewajiban ini berlaku bagi hampir setiap jiwa, maka akan segera terkumpul dana komunitas umat dalam jumlah yang cukup untuk memastikan setiap orang, tanpa kecuali, paling tidak memperoleh makanan layak pada hari raya. Ini adalah dimensi sosial dari ibadah puasa, dimensi yang juga melekat pada semua ibadah-ibadah lain dalam Islam.

Mengisi kekosongan

Pertanyaan yang layak diajukan adalah kira-kira berapa banyak orang yang merayakan ied tahun 2007 ini. Ini jelas bukan pertanyaan yang workable karena kita harus mendefinisikan “merayakan” dalam kasus ini dan tidak ada survei mengenai ini. Oleh karena itu, tulisan ini mengasumsikan semua umat muslim merayakannya.

Asumsi ini sepintas lalu tampak overestimate karena kita mungkin perlu mengeluarkan sebagian kelompok umat dalam perhitungan: bayi yang belum tahu apa-apa, mereka yang sudah udzur karena usia, sakit parah, yang berada dalam situasi yang sangat rawan dari sisi keamanan, kaum papa yang tidak berdaya secara ekonomi dan terlupakan, yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kehidupan dasar termasuk mereka kesulitan bahkan untuk mengakses bersih seperti yang banyak ditemukan di kawasan gurun Afrika. Walaupun demikian, overestimasi ini dikompensasikan oleh kelompok non-muslim yang turut merayakan ied yang jumlahnya sulit didefinisikan dan ditebak.

Singkatnya, menggunakan estimasi populasi muslim sebagai proksi untuk mengestimasi orang yang ikut merayakan ied tampaknya lumayan realistis. Tetapi ini bukan tanpa tantangan karena data otentik mengenai populasi muslim tidak tersedia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan ini.

Estimasi Populasi Global

Sebagai titik tolak kita dapat mulai menganalisis dengan mencermati estimasi populasi manusia secara keseluruhan. Untuk keperluan ini banyak sumber data yang dapat diakses secara relatif mudah. Tulisan ini mengandalkan  salah satu sumber yang dapat diakses:  http://www.worldometers.info/world-population/.

Menurut sumber ini estimasi populasi manusia global pada tahun 2017 diperkirakan sekitar 5.3 milyar jiwa. Angka ini sudah memperhitungkan angka kelahiran (komponen pertambahan jumlah penduduk), angka kematian (komponen pengurangan jumlah penduduk), tetapi mengabaikan unsur migrasi (komponen pertambahan atau pengurangan jumlah penduduk). Kenapa komponen terakhir diabaikan? Karena sejauh ini tidak ada laporan mengenai migrasi antar-planet.

Jumlah penduduk bervariasi antar negara tetapi menonjol di 20 negara sebagaimana disajikan dalam Grafik 1. Dua negara terbesar yaitu China dan India sudah mencakup sekitar 2.7 milyar atau lebih dari sepertiga penduduk global.

Dibandingkan dengan angka tahun 1998[2], total penduduk global bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milyar. Dinyatakan secara berbeda, rata-rata angka pertumbuhan populasi global per tahun sekitar 1.8 persen. Angka terakhir ini diperoleh dari perhitungan menggunakan rumus standar dalam demografi yaitu

r = (1/t) ln (Pt/P0) ……… (1)

dimana

Pt : Populasi tahun 2017

P0: Populasi tahun 1998

r: rata-rata pertumbuhan populasi

t: jarak tahun antara 1998 dan 2017

Persamaan ini diturunkan dari persamaan yang lebih umum:

Pt = P0ert ……… (2)

muslim_gr1

Tidak ada sumber data otentik mengenai populasi muslim secara global pada tahun 2017. Oleh karena itu tulisan ini mengandalkan sumber yang tersedia mengenai populasi muslim global dan itu pun merujuk pada angka tahun 1998[3]. Data ini dilaporkan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia yang sebagai besar adalah CIA[4].

Sumber ini hanya  dapat memanfaatkan sumber data yang “seharusnya” untuk keperluan semacam ini– sensus penduduk atau sumber kredibel lain dari kantor statistik suatu negara– untuk 11 negara: Singapore, Canada, Australia, Hongkong, Hungary, Austria, Macau, Fidlandia dan Barbados. Indonesia tidak termasuk dalam daftar pendek ini padahal dalam kuesioner Sensus Penduduk Indonesia 1990 dan 2000 ada pertanyaan mengenai agama. Ini tampaknya perlu dicatat oleh otoritas statistik yang sebagian besar akan  menyelenggarakan sensus penduduk pada atau sekitar tahun 2020. 

Estimasi Populasi Muslim

Berdasarkan sumber data ini dapat diketahui bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 1998 berjumlah sekitar 1.3 milyar juta jiwa. Mereka tersebar di lima benua sebagaimana diperlihatkan oleh Grafik 2. Pada grafik itu tampak tingginya konsentrasi populasi muslim di kawasan Afrika Utara, Timur Tengah dan Indonesia. Di kawasan-kawasan ini proporsi muslim mencapai 75%-100% dari total penduduk.

Grafik 2: Persebaran Geografis Populasi Muslim

muslim_gr2

Sumber: http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

Menurut sumber yang sama, persebaran geografis populasi muslim sangat tidak merata. Sekitar dua-pertiga populasi Muslim tinggal hanya di 21 negara “besar”, besar dalam arti berpenduduk muslim di atas 10 juta jiwa. Grafik 3 memperlihatkan hal itu.

Konsentrasi populasi Muslim, diukur dari proporsi terhadap populasi secara keseluruhan di negara yang bersangkutan, juga tidak merata.

  • Proporsi muslim mecapai 100% di enam negara: Arab Saudi, Somalia, Mauitia, Bahrain, Maldives dan Western Sahara.
  • Proporsi di India hanya 14% tetapi totalnya mencapai angka 137,7juta jiwa, lebih besar dari populasi Pakistan secara keseluruhan yaitu 135,1 juta jiwa.
  • Total populasi Muslim di Amerika Serikat (1998) diperkirakan sekitar 5.7 juta jiwa atau hanya 2.1% dari total populasi. Angka proporsi ini lebih kecil dari angka persentase untuk, misalnya, China (3.0%) apalagi Federasi Rusia (4.7%).

Estimasi 2017

Estimasi populasi global dalam 29 terakhir bertambah sekitar 2.2 milyar dari sekitar 5.3 milar pada tahun 1998 menjadi 7.5 milyar pada tahun 2017. Dinyatakan secara berbeda, populasi global meningkat sekitar 1.81% per tahun daalm kurun waktu itu. Dalam kurun waktu yang sama populasi di 21 negara “muslim” –disini didefinsikan sebagai negara dengan populasi muslim di atas 10 juta jiwa- meningkat jauh lebih lambat yaitu 1.34% per tahun (lihat Tabel 1). Ini tampaknya tidak mendukung convetional wisdom yang mengkhawatirkan populasi muslim akan segera mendominasi populasi dunia.

Bagi 21 negara muslim (dengan definisi di atas), rata-rata pertumbuhan per tahun populasi secara keseluruhan (bukan hanya muslim) 1.34%, dengan rentang antara  0.61% untuk China dan sampai 3.26% untuk Tanzania (lihat kolom 3 Table 1).

Kita dapat mengestimasi populasi muslim tahun 2017 berdasarkan angka-angka itu. Hasilnya adalah daftar estimasi populasi muslim di negara-negara muslim tadi sebagaimana ditunjukkan oleh kolom 5 Tabel 1. Secara keseluruhan total populasi di negara-negara itu mencapai 1.3 milyar. Dalam hal ini Indonesia “paling unggul” dengan mencakup 15.7% dari total, diikuti India (12.5%) dan Pakistan (12.4%). Di sini kita mengasumsikan pertumbuhan penduduk populasi muslim dan non-muslim di negara yang bersangkutan sama.

Proporsi populasi 21 “negara muslim” –negara dengan populasi di atas 10 juta jiwa– terhadap total populasi global adalah sekitar 4.3 berbanding 7.5 atau 57.2% (lihat angka pada dua baris terakhir kolom 2. Jika kita menggunakan proporsi ini untuk menghitung populasi muslim global maka kita akan memperoleh angka sekitar 2.4 milyar [=(7.5151/4.2984)*1.35545] atau 31.5% dari total populasi global secara keseluruhan. Inilah estimasi populasi muslim global pada tahun 2017. Di sini kita mengasumsikan angka rata-rata pertumbuhan di ke-21 negara itu sama dengan angka untuk negara-negara lainnya.

Kesimpulan dan Catatan Internal

Sebagai kesimpulan ringkas dapat dikemukakan bahwa estimasi populasi muslim pada tahun 2017 sekitar 2.4 milyar atau 31.5% dari populasi global secara keseluruhan. Ini merupakan angka yang besar. Tetapi ada catatan penting bagi internal Umay atau komunitas Muslim.

“Bola” berada di tangan Umat untuk mempersepsikan diri apakah angka ini perlu dilihat sebagai beban atau modal. Selain itu, umat memiliki pilihan untuk menentukan pilihan alternatif ini: apakah berkomitmen untuk menjadi “umat terbaik” (al-Baqarah: al-‘Imran:110) dan menjadi “wasit” (QS 2:143) yang berkemapuan mewasiti pertandingan “permainan global”, atau, menjadi pihak yang diwasiti karena pertentangan internal umat yang timbul dari permasalahan trivial, dengan mempertahankan tradisi kesukuan (sy’ubiah) dan buta terhadap ajaran universal agamanya yang by design diturunkan sebagai rahmat bagi alam (al-Anbiya:107). Terserah!

Sangat tidak realistis berharap mampu berperan sebagai wasit jika kualitas umat seperti “buih” yang tidak punya kendali, atau, berkulitas sebagai “makanan-siap-santap” bagi umat lain.  Ini bukan mengada-ngada tetapi telah diramalkan oleh Rasul saw akan dialami umat melalui salah satu haditsnya, hadits yang agaknya kurang diminati oleh para muballig untuk mempopulerkannya kepada umat.

Wallahualam….@

[1] Menurut catatan sejarah, lafal takbir (di-senafas-kan dengan lafal tahlil dan tahmid), bergema ketika peristiwa penaklukan Kota Mekah dari kekuasaan kafir quraisy yang berlangsung secara damai tanpa pertumpahan darah. Ini miracle mengingat tradisi berperang bagi suku-suku Arab saat itu dan mengingat kelompok “penakluk” sebelumya telah diperlakukan secara sangat brutal bahkan dalam standar budaya saat itu. Kekuatan “magis” takbir, selain kehadiran wajah-damai Rasul saw, tampaknya turut membantu mengendalikan efora kemenangan ke arah yang sangat positif, penuh dignity, dan religious.

[2] Tahun 1998 memperoleh perhatian khusus karena akan digunakan dalam analisis selanjutnya seperti yang akan jelas nanti.

[3] http://www.jannah.org/popstatistics/muslimpopworld.html

[4] CIA World Factbook Website http://www.odci.gov/cia/publications/factbook/

 

[Daftar posting bertemakan kependudukan dapat diakses di SINI]