Pandemi Covid-19: Merenungi Beberapa Hikmahnya

Kasus Covid-19, tepatnya kasus yang dilaporkan (reported cases), masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Di beberapa negara Amerika Latin kasusnya bahkan meroket; artinya, berganda dalam hitungan hari; di Italia angkanya telah melampaui kasus China. Kasus yang meninggal di beberapa negara  juga meningkat pesat: di Spanyol kasusnya telah melampaui angka psikologis, 10,000; di Amerika Serikat berganda dalam dua hari.

Kasus Covid-19 tak pelak telah menyengsarakan kehidupan luas bagi masyarakat global, entah sampai kapan. Kesengsaraan ini dalam bahasa agama dapat dikatakan sebagai bala atau cobaan (mushibah) (Inggris: pain and calamity, trial) bagi kemanusian secara kolektif.  Dalam perspektif Al-Quran, bala adalah peristiwa alamiah yang terjadi karena kehendak Tuhan YME atau Rabb SWT. Yang perlu dicatat, kehendak-Nya bukan tanpa maksud karena semua kehendak-Nya pasti berlaku dan bertujuan. Dengan kata lain, bala dan cobaan ini, bagi orang yang beragama, pasti mengandung hikmah atau pembelajaran.

Tulisan ini adalah undangan untuk merenungi beberapa hikmah yang dimaksud. Sebelumnya, berikut disajikan catatan singkat mengenai konteks primordial dari isu ini.

Konteks Primordial

Pertanyaan mendasar bagi kita adalah kenapa bala atau cobaan bisa menimpa umat manusia sedemikian masif. Jawabannya wallahualam. Argumennya dapat ditelusuri dari kisah penciptaan manusia (QS 2:30):

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Aku hendak menjadi khalifah (baca: manusia) di muka bumi””.

Secara spontan para malaikat memberikan reaksi:

“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Reaksi para malaikat itu tentu tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan kebijaksanaan-Nya. Mereka terlalu suci untuk itu. Para malaikat sekadar mengungkapkan rasa ingin tahu serta berharap sedikit penjelasan atau rasional di balik rencana-Nya itu. Yang penting untuk konteks tulisan ini adalah jawaban singkat dan tegas dari Rabb SWT:

“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Paling tidak ada dua pelajaran yang dapat kita simak dari dialog singkat ini. Pertama, Rabb SWT tidak mengungkapkan rasionalitas penciptaan manusia kepada malaikat (apalagi kepada manusia), walaupun di ayat lain, tujuannya ditegaskan untuk menghambakan-diri kepada-Nya (QS 51:56). Kehambaan inilah alasan keberadaan kita di bumi ini. Kedua, manusia memiliki potensi atau kapasitas untuk membuat kerusakan di muka bumi ini, bahkan untuk saling-membunuh. Hemat penulis, fungsi ajaran semua agama diarahkan untuk “menjinakkan” potensi destruktif ini.

Hikmah Pandemi Covid-19

Tema hikmah dari pandemi Covid-19 sempat disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi, seorang cendekiawan Muslim Amerika Serikat, dalam suatu khotbah Jumat yang diselenggarakan dalam akhir Maret ini dan sangat sepi jamaah. Menurut Yasir, paling tidak ada empat hikmah yang dimaksud:

(1) Untuk mendemonstrasikan rububiyyah-Nya

Menurut pengamatan Yasir, dalam sejarah umat manusia baru di zaman kita sikap memposisikan diri sebagai Tuhan sudah sedemikian masal. Karakteristiknya antara lain sikap tinggi hati (takabbur) dan merasa tidak perlu yang lain (alghaniyyu). Sikap ini bagi Yasir merampok hak eksklusif-Nya sebagai Rabb SWT, pencipta, pengendali dan pemelihara alam raya.

Referensi: QS (3:181).

(2) Untuk menyadarkan posisi kehambaan manusia

Bagi Yasir, baru di zaman kita ini manusia secara masif melupakan karakter dirinya sebagai hamba Rabb SWT. Indikasinya, bagi mayoritas kita sikap rendah hati (tawadhu’) dan merasa miskin di hadapan-Nya (faqir) semakin langka. Dalam bahasa agama (Islam) ini berarti mengingkari perjanjian-purba kita dengan-Nya di zaman azali, di hari alastu.

Referensi: QS (51:56, 7:55, 3:181, 7:172).

(3) Untuk merestorasi religiusitas kita

Bagi Yasir, religiusitas atau perasaan, sikap dan praktik keagamaan kita secara kolektif makin memburuk. Indikasinya, fahsya atau perbuatan buruk yang dilakukan semakin terbuka dan semakin masif. Yang perlu dicatat, korbannya fahsya (di dunia ini) melanda semua pihak, tidak hanya pelaku atau yang terlibat.

Bagi Yaser, meluasnya fahsya sejalan dengan semakin meluasnya gaya dan filsafat hidup hedonisme, rakus, konsumtif dan bermewah-mewah. Di sisi lain, kita menyaksikan dekadensi akhlak dan kelemahan karakter semakin melanda semua kalangan. Cirinya antara lain menganggap enteng ajaran moral agama, serta miskin-sabar ketika menghadapi kesulitan.

Referensi: QS (6:32, 57:20, 47:31).

(4) Sebagai teguran keras terhadap sikap nafsi-nafsi kita

Bagi Yasir, mayoritas kita sekarang ini sudah semakin tidak peduli kepada orang lain (nafsi-nafsi, selfness). Baginya, malapetaka ini merupakan teguran keras untuk meninggalkan sikap itu serta untuk semakin peduli kepada g orang lain, dengan pengorbanan jiwa jika perlu. Kesiapan pengorbanan jiwa sudah banyak dicontohkan oleh para petugas medis.

Referensi: QS (2:3, 69:34).

Peringatan ini tampaknya efektif, Insyaallah. Terkait wabah ini akhir-akhir ini kita menyaksikan semangat saling-berbagi muncul di mana-mana: Klub Sepakbola Raksasa Roma membagikan bingkisan bagi para pendukungnya, sepasang keluarga di Inggris menyiapkan makanan untuk para pekerja kesehatan yang tengah berjuang,  beberapa perusahaan/pengusaha besar di banyak negara termasuk di Indonesia memberikan donasi untuk keperluan penanganan kasus Covid-19.

****

Bahwa manusia membawa kerusakan di bumi ditegaskan dalam salah satu ayat Al-Quran (QS 30:41): “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Yang perlu dicatat, ayat itu diturunkan jauh sebelum era industrialisasi, era ketika kita mulai berkontribusi terhadap apa kini dikenal sebagai perubahan iklim atau pemanasan global dalam skala yang eksponensial.

Pertanyaannya, apakah ini ada hubungan antara perubahan iklim dengan Covid-19? Menurut para ahli lingkungan hubungannya, kalaupun ada, kecil dalam jangka pendek. Walaupun demikian, respons kita secara kolektif dalam menghadapi pandemi Covid-19 terbukti secara ilmiah membawa perubahan positif terhadap iklim global; artinya, kualitas udara membaik akibat berkurangnya pencemaran karena CO2 dan Nitrogen. Jika ini benar maka bala ini mengungkapkan hikmahnya atau peringatan bagi kita agar serius mengenai isu pemanasan global, isu yang terbukti sangat mendesak tetapi cenderung kita abaikan[2].

Wallahualam…..@

[1] Istilah bala oleh penutur Bahasa Arab umumnya merujuk pada wabah (plague).

[2] Tulisan mengenai alasan kenapa kita secara kolektif mengabaikan isu perubahan iklim dapat diakses di sini:

https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

 

 

Covid-19 Indonesia: Seberapa Cepat Penularannya?

Kasus Coivid-19 di Indonesia kemarin (26/3/2020) dilaporkan bertambah sebanyak 103 kasus dibandingkan dengan hari sebelumnya; akibatnya, total kasus (kumulatif) sampai pada tanggal itu menjadi 809 kasus. Pertanyaannya, seberapa cepat penularannya. Tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan ini untuk kasus Indonesia berdasarkan data dari sumber yang dapat dipercaya.

Masih terus meningkat

Grafik 1 menyajikan gambar besar perkembangan kasus Convid-19 di Indonesia selama 25 hari terakhir: 2-26 Maret 2020. Pesannya jelas: kasusnya terus meningkat setiap hari. Kasus hanya 2 pada 2/3/2020, angkanya terus meningkat sehingga pada 25/3/2020 jadi 893 kasus. Dengan kata lain, selama periode itu terjadi peningkatan kasus hampir 450 kali atau pertambahan 18 kasus per harinya. Yang terakhir adalah angka rata-rata.

Grafik 1: Kasus Covid-19 di Indonesia, 2-26 Maret 2020

Yang perlu dicatat, angka rata-rata ini (18 kasus per hari) dapat menyesatkan karena pertambahan kasus tidak merata. Sebagai contoh ekstrem, dalam tiga hari terakhir, pertambahan per hari lebih dari 100 kasus.  Selain itu, seperti tampak pada grafik itu, perkembangan kasus antar hari tidak linear atau non-linear. Karena pola non-linear ini maka perkiraan kasusnya di masa depan sulit diprediksi dan perlu dibaca ekstra hati-hati. Walaupun sadar akan kesulitan itu, penulis mencoba membuat model prediksi dan hasilnya disajikan pada Grafik 2.

Grafik 2: Model Prediksi Kasus Covid-19 di Indonesia

Dalam grafik 2, x merujuk pada satuan waktu (hari): x=1 bertepatan dengan 2/3/2020, x=25 dengan 26/3/2020. Angka 81.127 merujuk pada nilai prediksi ketika x=0.

Seperti yang diperlihatkan grafik, prediksi ini sangat overestimate untuk x<3 dan sedikit underestimate untuk x>23. Walaupun demikian, sejauh pengalaman penulis dengan berbagai skenario lain, model itu paling cocok dengan data, the best-fiited model kata orang statistik. Indikasinya nilai R2 yang mendekati angka 1.

Model ini dapat digunakan untuk prediksi. Jadi, jika x=50 (hari ke-50 mulai dari 2/3/2020), misalnya, dengan asumsi tidak ada intervensi, maka kasus Covid-19 diprediksi berjumlah sekitar 4,800.

Waktu Ganda

Cara sederhana untuk menghitung seberapa cepat penyebaran suatu virus adalah dengan menghitung waktu ganda (double time) penyebaran kasusnya. Logikanya, semakin pendek waktu-ganda, semakin cepat penularannya, dan sebaliknya. Untuk menelisik waktu ganda ini kita dapat memilah kasus sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 1 Covid-19 ke dalam beberapa periode waktu.

  • 10-12 Maret, kasus berganda (2.0 kali) dari 34 ke 69 kasus; waktu-ganda 2 hari.
  • 12-14 Maret, kasus “berganda” (1.7 kali) dari 69 ke 117 kasus; “waktu-ganda” 2 hari.
  • 14-17 Maret, kasus “berganda” (1.9 kali) dari 117 ke 227 kaus; waktu-ganda 3 hari.
  • 17-20 Maret, kasus berganda (2.0 kali) dari 227 ke ke 450 kasus; waktu-ganda 3 hari, dan.
  • 20-25 Maret, kasus meningkat (2.0) dari 453 ke 893 kasus; waktu-ganda 5 hari.

Jika pola ini berlanjut maka kesimpulan logisnya ini: waktu-ganda makin lama dan ini berarti laju kenaikan (pace of increase) melambat. Yang perlu ditegaskan, perlambatan laju kenaikan tidak berarti penurunan jumlah kasus.

Apakah perlambatan waktu-ganda merefleksikan keberhasilan relatif kebijakan social distancing?

Wallahualam….@

 

Pandemi Covid-19: Seberapa Mematikan

Kita mengetahui banyak kasus terinfeksi Covid-19 yang meninggal. Kita juga mengetahui banyak kasus itu yang dapat disembuhkan. Pertanyaannya, seberapa mematikan kasus ini. Secara teknis pertanyaannya berarti, berapa rasio atau peluang bagi yang terinfeksi Covic-19 berakhir dengan kematian. Rasio ini dikenal sebagai angka fatalitas kasus (case fatality rate, CFR):

CFR = death/cases ….(1)

dimana

death: kasus terinfeksi Covid-19 yang berakhir kematian dan

cases: adalah total kasus yang diidentifikasi terinfeksi Covic-19.

Dalam tulisan ini penulis mencoba menghitung angka ini sekadar untuk memenuhi keingintahuan pribadi dan pembaca budiman yang “penasaran”.

Masih Cair

Rumus CFR (1) jelas sederhana. Pertanyaannya kenapa tidak ada angka resmi? Kenapa, misalnya, WHO tidak mengeluarkan angka itu. Jawabannya sederhana: pandemi Covic-19 masih “cair”, masih berlangsung. Akibatnya, rumus (1) tidak dapat tanpa dihitung; sekalipun dapat dihitung, hasilnya dapat naif dan bahkan menyesatkan. Dalam bahasa Worldmeter:

But while an epidemic is still ongoing, as it is the case with the current novel coronavirus outbreak, this formula is, at the very least, “naïve” and can be misleading if, at the time of analysis, the outcome is unknown for a non negligible proportion of patients.

Kasus Aktif

Untuk memberikan ilustrasi kenapa Rumus 1 dapat “naif dan menyesatkan” kita dapat menggunakan data  Worldmeter, per tanggal 23 Maret 2020 (pukuli 05.23 GMT). Menurut sumber ini, secara global total kasus Covid-19 yang tercatat sebanyak 339,026 kasus, 14, 698 di antaranya dinyatakan meninggal. Dengan angka ini, Rumus 1 akan menghasilkan angka ini:

CFR = 14,698/339,026 = 4.3%

Isunya, angka ini belum memperhitungkan kasus yang masih aktif, kasus yang nasibnya belum ketahuan apakah akan berakhir kesembuhan atau kesembuhan. Selain itu, hasil penghitungan menggunakan data ketika pandemi masih baru tahap awal dapat overestimate karena sangat bias kepada kasus yang serius atau kritis. Dalam bahasa Worldmeter:

…. these estimates should be treated with great caution because not all patients have concluded their illness (i.e., recovered or died) and the true number of infections and full disease spectrum are unknown. Importantly, in emerging viral infection outbreaks the case-fatality ratio is often overestimated in the early stages because case detection is highly biased towards the more severe cases.

Kata kunci dalam kutipan di atas adalah kasus aktif, pasien yang belum pasien jelas nasibnya, sembuh atau meninggal, yang sekarang ini masih sangat besar sebagaimana akan segera jelas.

Menurut data Worldmeter, dari 378,496 total kasus global, sebanyak 260,398 kasus atau sekitar 66% masih aktif (lihat Skema). Ini berarti, angka CFR untuk tingkat global masih belum dapat dihitung.

Skema Kasus Covid-19:

Rumus 1 hanya “sempurna” (dalam arti dapat memberikan angka yang kredibel) jika kasus aktif itu sudah 0. Ini berarti semua kasus sudah ditutup  (closed cases) dan ceses = closed cases.

Hanya China

Tabel 1 menunjukkan bahwa di 10 negara terbesar (dilihat dari kasus Covid-19) persentase kasus aktif masih sangat tinggi. (Sebagai catatan, kasus di 10 negara ini telah mencakup lebih dari 85% kasus global.) Untuk USA dan UK, misalnya, kasus aktif masih sekitar 98% dan 92%. Yang merupakan kekecualian adalah China. Di negara ini kasus aktif relatif sudah sangat rendah, tinggal 6.3%. Bagi penulis, ini berarti bahwa angka CFR untuk China (=4%), Kolom (7), sudah mendekati angka sebenarnya. Untuk negara lain, termasuk angka global, angka CFR masih dapat sangat menyesatkan. (Itulah alasan kenapa angka-angkanya berwarna merah.)

Tabel: Kasus Covid-19 di 10 Negara Terbesar

Catatan:

Kolom (6): Kolom(5)/Kolom(2)*100

Kolom (7) = Kolom(3)/Kolom(2) * 100

Kolom 8 = Kolom(3) + (Kolom(3)*Kolom(7)/100)

Kolom (9)= Kolom(8)/Kolom (2)*100

Angka Perbaikan

Yang sedikit mengganggu dari Kolom (7), termasuk untuk kasus China, adalah bahwa rumusnya masih mengabaikan kemungkinan bahwa kasus aktif, khususnya dengan kondisi serius atau kritis, dapat berakhir dengan kematian atau meninggal. Dilihat dalam konteks ini, CFR pada Kolom (7) cenderung underestimate. CFR pada Kolom (8) mempertimbangkan kemungkinan itu. Dalam hal ini kasus kematian, Kolom (3) ditambah dengan perkiraan kematian kasus dengan kondisi serius atau kritis yang kemungkinan meninggalnya menggunakan angka CFR pada Kolom (7).

Hasil akhir adalah angka CFR yang diperbaiki, adjusted CFR atau CFR(adj) yang angkanya untuk China adalah 4.1%. Perlu diingatkan, angka CFR(adj) untuk negara lain dapat menyesatkan karena alasan sebagaimana dibahas sebelumnya.

CFR=4.1 bagi penulis realistis sebagai ukuran seberapa mematikan Covid-19. Lebih dari itu, bagi penulis, angka ini juga merefleksikan keadaan umum (global), bukan hanya China. Alasannya– seperti dikemukakan seorang ahli epidemiologi (biostatistics) FKM-UI (tidak bisa disebutkan namanya) melalui komunikasi personal– CFR secara umum mestinya tidak terlalu bervariasi antar negara. Hal ini terutama berlaku bagi Covid-19 di mana: (1) semua negara memiliki akses pada protokol standar yang disiapkan WHO mengenai tata-cara menangani wabah Covic-19 secara menyeluruh, dan (2) semua negara belum memiliki vaksin Covid-19 yang dilaporkan masih dalam proses uji coba klinis dan perlu waktu lebih dari setahun untuk dapat diaplikasikan secara aman.

Konektivitas Spiritual

Jika angka CFR=4.1% benar, maka ini seharusnya tidak membuat kita terlalu panik: sekalipun terinfeksi Covid-19, kemungkinan tersembuhkan sangat besar, 95.9%. Tentu saja ini tidak berarti menggugurkan tanggung jawab sosial kita sebagai individu untuk menghindari sejauh mungkin kemungkinan menularkan virus ini kepada orang lain, sekalipun sejauh ini belum terinfeksi. Singkatnya, penjarakan sosial (social distancing) bukan pilihan, tetapi keharusan. Pertanyaannya: “Bagaimana agar keterjarakan sosial meningkatkan konektivitas spiritual antar sesama?” (Cuomo).

Wallahualam…@

 

Covid-19: Hukum Matilda dan PAUSE

Istilah Hukum Matilda dan PAUSE dikenalkan oleh Andrew Cuomo, Gubernur Negara Bagian New York, Amerika Serikat (USA). Konteksnya, New York telah dinyatakan oleh Cuomo sebagai episentrum Covid-19. Pernyataan ini bukan tanpa dasar: per 23/3/2010, pukul 02.20 GMT, sekitar 23% kasus baru kasus Covid-19 global terjadi di USA, dan 86% kasus baru nasional (USA) terjadi di New York.

Yang perlu dicatat, bagi Cumo kasus baru Covid-19 lebih merefleksikan frekuensi pemeriksaan dari pada gambaran penyebarannya di lapangan. Tetapi itu tidak berarti kasus baru tidak mengindikasikan keadaan lapangan. Cuomo agaknya juga sependapat mengenai ini. Buktinya, atas dasar itu dia melancarkan kampanye Hukum Matilda dan PAUSE secara tegas dan konsekuen. Tulisan singkat ini terkait dengan semangat dan isu kampanye ini,

Dilema Etis

Menurut pengakuan Cuomo, gagasan Hukum Matilda timbul dari pengalaman pribadinya berhubungan dengan ibunya, Matilda. Tidak dijelaskan apakah ibunya ini suspect atau terinfeksi Covid-19 tetapi terkesan sudah berusia lanjut. Yang dijelaskan, Cuomo telah mendiskusikan dengan saudara-saudaranya cara terbaik memperlakukan ibu.

Diskusi itu tanpa diduga telah menimbulkan dilema etis. Di satu sisi, mereka ingin berkhidmat pada ibunda dengan cara normal: datang beramai-ramai untuk menghibur ibu yang agaknya kesepian. Di sisi lain, Cuomo tahu persis cara itu berisiko besar bagi ibunya untuk tertular Covid-19.

Untuk keluar dari dilema itu Cuomo minta nasehat seorang ahli kesehatan yang dipercaya dan dikenal baik. Ahli itu agaknya meyakinkan Cuomo untuk “mengalahkan” pertimbangan etis dan mengedepankan tindakan rasional. Bagi Cumo nasehat ahli ini sangat realistis dan mengilhaminya untuk diterapkannya untuk memerangi penyebaran virus ini dalam kedudukannya selaku gubernur.

Delapan Pasal

Hukum Matilda dapat dikatakan penjabaran dari kebijakan Cuomo yang pada dasarnya diarahkan untuk memastikan agar semua orang selamat dari Covid-19. Kebijakan itu dikenalkan dengan singkatan PAUSE: Policies Assure Uninformed Safety Everyone. Pesan dasar kebijakan ini adalah tanggung jawab sosial seorang individu. Argumen dasarnya adalah pengaruh timbal-balik antara satu sama lain: “What I do affects you, what you do affects me”, kata Cumo.

Hukum Matilda — istilah hukum di sini tepat karena disertai law enforcement yang diberlakukan secara tegas dan tanpa pandang buku– terdiri dari delapan butir atau pasal aturan dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami (sehingga tidak perlu diterjemahkan). Ke delapan pasal itu adalah:

  • Remain indoor.
  • Can go outside for isolatory exercise.
  • Pre-screen all visitors and aides by taking their temperature.
  • Do not visit households with multiple people.
  • All vulnerable persons should wear a mask when in the company of others.
  • To greater possible, everyone in the presence vulnerable people should wear a mask.
  • Always stay at least six feet away from individuals.
  • Do not take public transportation unless urgent and absolutely necessary.

Butir ke-8 agaknya belum dapat diterapkan di Indonesia termasuk Jabodetabek. Butir ke-2 agaknya sesuai dengan budaya kita punya “bakat” menyepi, paling tidak dahulu kala.

Upaya Kongkret

Oleh Cuomo, delapan pasal Hukum Matilda itu diterjemahkan dalam berbagai upaya kongkret dengan pengawasan ketat dan transparan. Upaya itu termasuk:

  • memperkuat kapasitas rumah sakit,
  • menutupi kelangkaan medical supply khususnya ventilasi yang ternyata sangat serius bagi USA (ini di luar dugaan penulis),
  • meningkatkan ketersediaan tempat tidur rumah sakit,
  • meningkatkan frekuensi uji gejala terinfeksi Covid-19,
  • memastikan ketersediaan kebutuhan hidup yang esensial bagi masyarakat,
  • kampanye untuk mengabaikan rumor tak-berdasar, dan
  • (ini yang dia sangat tegaskan) memupus kepercayaan keliru dari kalangan muda bahwa mereka imun dan tidak akan menularkan virus.

Mengenai yang terakhir ini dia mengemukakan argumen ilmiah: 54% pasien Covid-19 di rumah sakit New York berusia 18-49 tahun.

Pujian dan Himbauan Bagi Warga

Selain melakukan upaya kongkret sebagaimana diilustrasikan di atas, Cuomo dalam salah satu siaran pers tidak lupa untuk memuji serta menyatakan terima kasih tulus kepada kelompok masyarakat yang digelarinya pahlawan sehari-hari (everyday heroes). Mereka termasuk pekerja kesehatan, grosir, pekerja apotek, pekerja transportasi publik, pemadam kebakaran, dan pengasuh anak.

Kepada warga Cuomo mengajak untuk merenungkan bagaimana mulia dan indahnya jiwa para pahlawan ini. Dia juga mengajak warganya untuk melakukan apa yang disebutnya praktik kemanusiaan (practice humanity): murah senyum, murah hati, rendah hati, peduli orang lain, bersikap lembut dan banyak sabar

Ini baru gubernur!

*****

Catatan: Tabulasi dan grafik sederhana mengenai sebaran geografis kasus Covid-19– antar negara untuk level global dan antar negara-bagian untuk USA — dapat diakses di sini.

COVID-19 dan Angka Fatalitas

COVID-19: Coronavirus Disease 2019. Masyarakat global kini tengah memprihatinkan kasus penjangkitan jenis virus ini yang juga dikenal sebagai nCoV-Novel Coronavirus. Seperti halnya MERS-CoV[1] dan SARS-CoV[2], COVID19 tertular ke manusia melalui hewan[3]: unta bagi MERS-CoV dan musang bagi SARS-CoV. Bagi COVID-19 belum jelas; yang jelas, penyebarannya berawal dari suatu pasar hewan dan unggas di Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei, RRC, yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa[4].

Yang paling mengkhawatirkan dari COVID-19 adalah kecepatan penyebarannya. Dilihat dari kecepatannya, agaknya tidak ada yang berani mengabaikan kemungkinan penjangkitan COVID-19 menjadi pandemik dalam arti mewabah secara nasional, regional bahkan global. Kuncinya terletak pada kemampuan RRC menghentikan penyebaran itu.

Belum Melambat

Besar masalah COVID-19 tercermin dalam laporan WHO per 18 Februari 2020[5] berikut ini:

  • Global: 73,332 kasus terkonfirmasi (1901 baru), 1,873 meninggal (101 baru), dan penilaian risiko[6] tinggi; dan
  • Cina: 72,528 kasus terkonfirmasi (1891 baru), 1870 meninggal (3 baru), dan penilaian risiko sangat tinggi.

Besarnya angka-angka itu sudah memprihatinkan. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah perkembangannya per hari. Angka 73,442 (total kasus), sebagai contoh, 27 hari sebelumnya kurang dari 1000. Grafik 1 menunjukkan perkembangan itu selama 27 hari terakhir sampai 18 Februari 2020.

Grafik 1: Total Kasus COVID-19

Grafik 1 juga menyiratkan terus bertambahnya kasus baru dan belum menunjukkan adanya perlambatan. Grafik 2 menunjukkan hal itu secara lebih langsung.

Grafik 2: Kasus COVID-19 Baru

Hasil studi menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara umur dengan paparan COVID-19; artinya, semakin tua seseorang, semakin besar risikonya terpapar COVID-19, ceteris paribus. Tidak ada laporan kasus bayi atau anak-anak terpapar COVID-19. Pertanyaannya, apakah ini semacam bentuk involuntary check (meminjam istilah Malthus) untuk mengoreksi struktur umur populasi yang semakin membesar ke umur-umur tua?

Angka Fatalitas

Berapa yang meninggal karena COVID-19? Pertanyaan ini sangat menggoda sehingga banyak orang yang memprediksi angkanya, angka fatalitas (case fatality rate, CFR). Upaya semacam ini tentu sah-sah saja. Yang perlu dicatat, saat ini prediksi semacam itu dapat menghasilkan angka yang menyesatkan. Masalahnya, proses penjangkitan masih berlangsung dan arahnya sukar untuk diprediksi.

CFR pada prinsipnya menyajikan proporsi kasus suatu penyakit  yang pada akhirnya meninggal karena penyakit itu. Rumusnya sederhana:

CFR = death/cases …..(1)

di mana death menunjukkan jumlah kasus yang meninggal, dan ceses adalah total kasus.

Tetapi rumusnya itu hanya berlaku jika epidemi COVID-19 telah berakhir. Karena epideminya masih berlangsung maka penerapan rumus itu, istilah WHO, paling tidak naif (“naïve”) dan sangat menyesatkan[7].

Jika kasusnya masih berlangsung maka rumusnya menjadi:

CFR = deaths at day (x) / cases at day (x-{T}) …..(2)

dimana T= rata-rata periode waktu antara kasus dikonfirmasi dan meninggal.

Kita dapat menerapkan ke dua rumus di atas pada data WHO per 8 Februari 2012. Menurut data itu secara global tercatat ada 813 kematian (total kumulatif) dan 37,552 kasus (total kumulatif).

Dengan rumus (1) yang menyesatkan itu kita dapat menghitung

CFR = 813/37,552 = 2.2%.

Kita bisa terapkan rumus (2) dengan T=7, rata-rata periode waktu antara kasus terkonfirmasi dan meninggal yang berarti merujuk pada kasus terkonfirmasi pada 1 Februari 2012 yang dilaporkan sebanyak 14,381. Hasilnya:

CFR = 813/1,438 = 5.7%.

Jadi hasil perhitungan kedua rumus itu sangat berbeda. Sebagai catatan, CFR adalah ukuran keparahan kematian (death severity) yang berbeda dengan angka insiden kematian (death incidence) yang biasa diukur dengan angka mortalitas atau mortality rate.

Lebih Rendah

Jika kita percaya pada angka CFR=5.7% maka kita dapat menyimpulkan angka CFR COVID-19 sebenarnya relatif rendah dibandingkan dengan, misalnya, CFR untuk SARS (CFR sekitar 10%) maupun MERS (CFR=34%)[8]:

At a briefing on 17 February WHO’s director general, Tedros Adhanom Ghebreyesus, said that more than 80% of patients with covid-19 have a “mild disease and will recover” and that it is fatal in 2% of reported cases. In comparison, the 2003 outbreak of severe acute respiratory syndrome (SARS) had a case fatality rate of around 10% (8098 cases and 774 deaths), while Middle East respiratory syndrome (MERS) killed 34% of people with the illness between 2012 and 2019 (2494 cases and 858 deaths).12

However, despite the lower case fatality rate, covid-19 has so far resulted in more deaths (1871) than SARS and MERS combined (1632).

Lebih Bijak

Menyikapi angka-angka itu, khususnya terkait COVID-19, mungkin akan lebih bijak jika kita mencermati peringatan Heyyman bahwa semua hasil perhitungan masih bersifat sementara, “They aren’t truth[9]:

Various epidemiological models estimate that the real number of cases is 100,000 or even more. Experts urged caution in interpreting those estimates.

“These are very early models that make several assumptions based on what evidence is available,” said David Heymann, an epidemiologist at the London School of Hygiene and Tropical Medicine. “They aren’t truth — they’re just one step in trying to better understand this outbreak.”

Singkatnya, kita harus mengakui belum tahu banyak mengenai COVID-19. Pertanyaannya, apakah lebih bijak lagi jika menilai penjangkitan penyakit ini sebagai suatu misteri, misteri bukan berarti sesuatu yang sukar atau mustahil dipahami atau dijelaskan, tapi, meminjam istilah Schuon (2007:119)[10], sesuatu yang “something God“?

By “mystery” we do not mean something incomprehensible in principle– unless on the purely rational level– but something that opens on the Infinite or envisage in this respect, so that intelligibility becomes limitless and humanly inexhaustible. A mystery is “something of God”.

Wallahualam…@

Coronavirus, MERS, SARS, CFR, pandemi COVID-19, Wuhan

[1] Middle East Respiratory Syndrome.

[2]  Severe Acute Respiratory Syndrome.

[3] . https://www.who.int/health-topics/coronavirus

[4] https://en.wikipedia.org/wiki/Wuhan

[5] https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf

[6] WHO risk assessment

[7] https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf

[8] https://www.bmj.com/content/368/bmj.m641

[9] https://www.nytimes.com/interactive/2020/world/asia/china-wuhan-coronavirus-maps.html

[10] F. Schuon, Spiritual Perspectives & Human Facts, World Wisdom.

Postur Penduduk Indonesia

Postur penduduk dibentuk oleh susunan penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin yang dimulai dari kelompok paling muda  (=P(0-5)) sebagai alas, diikuti P(5-10), P(10-15), dan seterusnya[1]. Hasilnya semacam piramida dengan alas yang lebar dan terus memendek (mengerucut) sejalan dengan bertambahnya usia. Itu gambaran piramida yang sempurna yang tidak selalu atau bahkan jarang ditemui dalam susunan penduduk sebenarnya karena adanya dinamika penduduk akibat faktor alamiah (kelahiran dan kematian) maupun non-alamiah (migrasi).

Postur penduduk dalam sajian piramida menarik untuk dipelajari karena mudah dibaca selain karena mengindikasikan banyak hal antara lain: (1) sejarah kelahiran masa lalu dan perkiraannya ke depan, (2) besaran pasokan tenaga kerja masa kini dan perkiraannya di masa depan, dan (3) besaran wanita usia subur (WUS) yang menentukan “penciptaan generasi baru” untuk masa kini dan perkiraannya ke depan. Selain itu, postur penduduk, sampai taraf tertentu, dapat membedakan kemajuan ekonomi suatu negara. Demikian karena negara maju dapat dikenali dari tingginya proporsi usia tua, sementara negara-negara berkembang dari tingginya proporsi usia muda.

Tulisan ini memotret postur penduduk Indonesia pada tahun-tahun 1950, 2000, 2050 dan 2100 berdasarkan data PBB. Dua tahun pertama didasarkan pada proyeksi standar[2], sisanya pada proyeksi probabilitas[3].

Postur 1950

Pada tahun 1950 RI belum memiliki data sensus penduduk (SP) sehingga postur penduduk hanya dapat diperkirakan secara kasar berdasarkan sumber data yang terserak. Sumber data lain seperti catatan administrasi dan registrasi dengan kualitas yang dapat diandalkan mampir dapat dipastikan tidak tersedia. Implikasinya, postur 1950 perlu dilihat sebagai perkiraan kasar tanpa mengurangi maknanya serta apresiasi kepada PBB.

Menurut perkiraan PBB, total penduduk Indonesia 1950 sekitar 69,5 juta atau sekitar 2.7% dari total penduduk global. Posturnya disajikan pada Paramida 1.

Piramida 1: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 1950.

Piramida 1 menunjukkan antara lain:

  • Postur penduduk sangat kokoh dalam arti memiliki alas yang sangat lebar untuk mendukung batang bangunan di atasnya yang semakin pendek.
  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) mendominasi penduduk. Di lain pihak, penduduk usia lanjut (warna paling gelap) memainkan peran yang sangat kecil dalam membangun piramida itu.
  • Lebar alas piramida, P(0-5)[4], mengindikasikan besarnya peristiwa kelahiran dalam 5 tahun[5] terakhir. Dalam kaitannya dengan indikator kelahiran, lebar alas itu tentu bersifat indikatif karena sebagian dari penduduk kelahiran 5 tahun terakhir sudah meninggal sehingga tidak terdata sebagai penduduk.
  • Lebarnya alas piramida juga mengisyaratkan besarnya tekanan 15 tahun mendatang terhadap pasar kerja, juga terhadap tambahan pasokan wanita usia subur (WUS).

Dengan  postur semacam itu penduduk Indonesia 1950 tergolong masih sangat muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) hampir 40% (tepatnya 39%) sementara proporsi P(65+) baru 4%.

Postur 2000

Bagaimana postur 2000? Yang jelas, pada tahun itu RI telah diperkaya dengan lima 5 set data data SP: 1961, 1971, 1980, 1990 dan 2000 sehingga gambaran postur penduduknya meyakinkan.

Piramida 2 menyajikan postur 2000 yang mengungkapkan antara lain:

  • Kelompok usia muda (berwarna paling terang) masih mendominasi bangunan piramida.
  • Kelompok usia lanjut (berwarna paling gelap) sudah bertambah dibandingkan dengan keadaan 50 tahun sebelumnya 1950 tetapi masih relatif kecil.
  • Berbeda dengan postur 1950, postur piramida kurang kokoh dalam arti alasnya harus menunjang tiga kelompok umur di atasnya yang lebih besar. Pertambahan lebar empat batang pertama dalam piramida mengindikasikan penurunan angka fertilitas yang terus menerus selama 20 tahun terakhir (1980-2000).

Pertambahan lebar empat batang pertama piramida mengindikasikan penurunan terus menerus angka fertilitas 20 tahun terakhir.

Piramida 2: Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2000.

Postur penduduk Indonesia 2000 masih tergolong muda. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) masih 31% sementara proporsi penduduk tua (65+) baru 5%. Sisanya, 64% adalah penduduk usia produktif dan usia reproduktif (bagi wanita)

Postur 2050

Seperti disinggung sebelumnya, postur 2050 dan 2100 didasarkan pada hasil proyeksi probabilitas yang tentunya mempertimbangkan berbagai faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Postur 2050 diungkapkan oleh Piramida 3 yang mengisyaratkan berlanjutnya penurunan angka fertilitas[6] dan proses penuaan penduduk. Postur penduduk sudah mulai tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 19%, proporsi P(65+) 16%. Walaupun demikian, usia produktif (P(15-64) masih mayoritas (66%).

Piramida 3: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2050.

 

Postur 2100

Seperti postur 2050, postur 2100 juga didasarkan model proyeksi probabilitas. Selain itu, rentang interval proyeksi 2100 jauh lebih yang luas dari rentang proyeksi 2050. Ini berarti tingkat akurasi postur 2100 jauh lebih rendah dari pada tingkat akurasi 2050. Tetapi semua ini tidak mengurangi makna bagi perencanaan pembangunan jangka panjang. Selain itu, sumber PBB ini mungkin salah satu sumber informasi utama yang dapat diandalkan mengenai megatrend penduduk global.

Postur 2100 disajikan pada Piramida 4. Seperti ditunjukkan oleh piramida itu  postur penduduk Indonesia 2050 sudah semakin tua. Sumber datanya mengungkapkan proporsi P(0-15) 15%, proporsi P(65+) 24%. Ini berarti proporsi usia produktif masih dominan, 61%. Hal ini tentu menguntungkan dari sisi ekonomi sebagaimana diilustrasikan secara dalam bagian akhir tulisan ini.

Piramida 4: Perkiraan Struktur Umur-Jenis Kelamin Penduduk Indonesia 2100.

Belum Terlalu Tua

Seperti disinggung sebelumnya, postur penduduk Indonesia 2050 terlihat dari relatif besarnya proporsi P(65) yaitu 19% dan relatif kecilnya proporsi P(0-15) yaitu yaitu 16%. Dari dua angka proporsi ini dapat dihitung rasio ketergantungan lanjut usia [=P(65+)/P(15-64)] dan hasilnya adalah 25%. Rasio ketergantungan ini yang lazim digunakan sebagai ukuran “ketuaan” suatu populasi: semakin tinggi rasio, semakin tua.

Dengan rasio ketergantungan lanjut usia 25% penduduk Indonesia 2050 dapat dikatakan sudah tua. Tapi seberapa tua? Yang jelas, angka itu  sebenarnya lebih rendah dari angka-angka untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat (USA), Inggris, Prancis, Jerman dan Jepang seperti yang ditunjukkan oleh Grafik 1. Grafik itu menyajikan angka rasio ketergantungan lanjut usia beberapa negara maju 2020 dan Indonesia 2050. Apa yang terlihat dari grafik itu sangat jelas: penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum terlalu tua, belum setua negara-negara maju tahun 2020.

… penduduk Indonesia 2050 sebenarnya belum setua penduduk negara-negara maju tahun 2020.

Grafik 1: Rasio Ketergantungan Usia Lanjut (%)

Paradoks Pembangunan

Tingginya rasio ketergantungan lanjut usia menunjukkan rendahnya barisan usia produktif. Ini berarti pula rendahnya barisan penduduk yang dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif yang pada gilirannya menyulitkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ini agaknya paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

…. paradoks pembangunan (development paradox): pembangunan menuakan penduduk yang pada gilirannya menyulitkan pertumbuhan ekonomi.

Wallahualam…@

[1] Dalam tradisi demografi, pencatatan umur dibulatkan ke bawah. Penduduk berumur 11 tahun, misalnya, mencakup yang berumur 11 tahun 11 bulan. Penulisan P(0-5) perlu dibaca sebagai penduduk “dari 0 sampai 5”, bukan ” dari 0 sampai dengan 5″ karena 5 tidak dicakup. Analog, P(5-10) tidak mencakup penduduk umur 10.

[2] https://population.un.org/wpp/Download/Standard/Population/

[3] https://population.un.org/wpp/Download/Probabilistic/Population/. Lihat juga Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/28/total-penduduk-indonesia-masa-depan/

[4] Lihat catatan kaki 1.

[5] Tepatnya, 4.99…<5 tahun. Lihat catatan kaki 1

[6] Postur penduduk lebih ditentukan oleh angka fertilitas dari pada oleh mortalitas

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Total Penduduk Indonesia Masa Depan

Berapa total penduduk Indonesia 10, 30, atau 80 tahun mendatang? Dugaan penulis tidak ada yang berani memastikannya. Siapa yang berani memastikan peristiwa masa depan?

Masalahnya, kita tidak dapat hidup dalam kegelapan mutlak mengenai masa depan kita. Kita perlu tahu sekarang, mengenai gambar besar 10-30 tahun mendatang berbasis ilmiah perkiraan, misalnya, ratus-jutaan mulut yang harus diberi makan, jutaan balita yang perlu dimonitor berat badannya, puluhan juta penduduk usia muda yang siap membanjiri pasar kerja, puluhan juta angkatan kerja terdidik dalam usia prima, dan jutaan wanita usia subur yang siap memasok generasi penerus. Kita perlu sedikit titik terang– sekalipun tidak benderang– mengenai semua isu itu untuk memberikan sedikit kelegaan serta memandu kita menata masa depan.

Dalam konteks ini para ahli demografi menyandang tugas profesional untuk memberikan titik terang yang dimaksud. Berdasarkan dua data sensus penduduk terakhir (2000 dan 2010), misalnya, mereka mampu menawarkan gambar besar profil penduduk ke depan. Caranya sederhana yaitu dengan menghitung rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun (=r) dalam periode 2000-2010 dan mengekstrapolasikan total penduduk ke masa depan berdasarkan angka itu dan total penduduk tahun dasar. Hasilnya, proyeksi penduduk berbasis suatu model matematik.

Tapi mereka juga mengingatkan bahwa model itu terlalu sederhana untuk membuat gambar masa depan, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, terlalu menyederhanakan persoalan jika angka r suatu populasi diasumsikan tidak berubah (konstan) di masa depan, apalagi masa depan yang jauh. Kedua, r mencerminkan berbagai kekuatan yang belum tentu searah gerakannya: kekuatan positif (faktor penambah) yaitu kelahiran (B, birth) dan Migrasi Masuk (I, immigrant), serta kekuatan negatif (pengurang) yaitu kematian (D, death) dan migrasi keluar (E, emigrant). Singkatnya, Pt=P0+(B-I)-(D+E) di mana Pt=populasi tahun t dan P0 populasi dasar dan Pt. Semua “kekuatan” ini logisnya perlu dipertimbangkan dalam kalkulus perkiraan penduduk masa depan. Model perkiraan masa depan (proyeksi, prediksi) dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan itu yang umumnya dipraktikkan oleh para ahli demografi dalam kapasitasnya sebagai perorangan atau mewakili lembaga termasuk PBB.

Bagaimana dengan alasan ketiga?

Perkiraan penduduk masa depan, seperti halnya perkiraan mengenai apa pun, perlu mempertimbangkan secara cermat faktor ketidakpastian (uncertainty factors). Mengenai faktor ini berlaku rumus umum: semakin panjang rentang waktu perkiraan semakin besar faktor itu, atau, dengan perkataan lain, semakin tidak akurat perkiraan itu. Perkiraan total penduduk 2050, misalnya, lebih akurat dengan perkiraan total penduduk 2100.

“Hebatnya”, PBB “berani” membuat perkiraan penduduk global yang dirinci menurut negara dan karakteristik wilayah sampai 2100 dalam publikasinya berjudul “World Population Prospects: Highlight[1]. Yang perlu dicatat, dalam perkiraannya, PBB menggunakan faktor “kekuatan” postif maupun negatif sebagaimana dibahas sebelumnya serta telah mempertimbangkan faktor ketidakpastian.

PBB tentu memiliki alasan yang cukup untuk mempublikasikan perkiraannya: PBB berkepentingan untuk memperoleh gambar besar masa depan penduduk global dan juga –dugaan penulis– untuk memfasilitasi banyak pihak yang tengah bersemangat dalam arti positif membuat apa yang dikenal mega-trends dengan berbagai variannya. CSIRO, misalnya, menerbitkan buku dengan judul yang provokatif secara intelektual: Our Future World: Global megatrends that will change the way we live[2].

Bagaimana gambar masa depan penduduk global menurut PBB? Penduduk global masih akan bertambah sehingga pada tahun 2100 totalnya diperkirakan akan mencapai 10.9 milyar jiwa. Menurut PBB, sebenarnya pertumbuhan penduduk di semua wilayah telah mencapai puncaknya sehingga terus berkurang, tetapi dalam hal ini Afrika adalah satu-satunya kekecualian: penduduk di benua itu akan terus tumbuh bahkan setelah akhir abad 21. Gambaran lebih rinci dapat dilihat di sini[3].

Bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya disajikan pada Grafik di bawah:

  • Total penduduk Indonesia pada tahun 1950 sekitar 30 juta.
  • Total itu menjadi sepuluh kali pada tahun 2030, sekitar 300 juta.
  • Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Pertumbuhan penduduk mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan total penduduk sekitar 325 juta; selanjutnya akan terus menurun.

Skenario di atas menggunakan model perkiraan moderat dalam arti mengacu pada estimasi titik atau median dalam interval probabilitas estimasi yang lebar dan melebar.

Wallahualam…@

[1] https://population.un.org/wpp/Publications/Files/WPP2019_Highlights.pdf

[2] https://publications.csiro.au/rpr/download?pid=csiro:EP126135&dsid=DS2

[3] https://uzairsuhaimi.blog/2019/11/18/world-population-trend-forecasts/