Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS

Setiap Jumat pagi HP penulis mengingatkan agar tidak lupa baca Surat Al-Kahfi (QS 18). Penulis tidak sepenuhnya memahami reasoning atau dalil keagamaan dari peringatan ini. Yang penulis sedikit paham, Surat ini berbicara mengenai tiga macam fitnah atau ujian hidup. Melalui tulisan singkat ini penulis ingin berbagai sedikit pemahamannya mengenai topik ini.

Fitnah kelebihan

Fitnah atau ujian hidup yang secara umum dipahami berbentuk ke-serba-kekurangan: kekurangan harta, kekurangan kekuasaan, kekurangan ilmu, atau kekurangan lainnya. Surat al-Kahfi mengingatkan ada cobaan lain yang berbentuk ke-serba-kelebihan. Surat ini juga menegaskan bahwa bentuk cobaan yang kedua ini tidak kalah beratnya dari yang pertama:

Ayat 22-43: kasus gagal ujian orang yang kelebihan harta; sebab kegagalan: sombong dan tidak-pandai-bersyukur. Kasusnya diwakili petani korma dan anggur di atas lahan luas dengan sumber air melimpah.

Ayat 83-94: kasus lulus ujian kelebihan kekuasaan; sebab kelulusan: rendah hati dan proporsional dalam penggunaan kekuasaan. Kasusnya diilustrasikan oleh Zulkarnain yang konon jendral paling hebat sepanjang sejarah.

Bagaimana dengan kasus kelebihan ilmu? Kasus ini diilustrasikan kisah Nabi Musa AS yang berguru kepada Nabi Khidir AS.

Nabi Khidir AS

Menurut riwayat, Nabi Musa AS diperintahkan berguru kepada Nabi Khidir karena “salah ucap” dengan mengatakan dirinya paling pintar. Nabi Musa AS ini pasti pintar karena semua nabi supra-pintar. Tetapi mengucapkan diri paling pintar mencerminkan ketinggian hati. Ucapan ini jelas tidak elok, apalagi bagi seorang nabi.

Tetapi siapa Nabi Khidir AS? Banyak spekulasi mengenai sosok ini. Yang jelas jika beliau seorang nabi maka itu di luar 25 nabi yang namanya tercantum dalam Al-Quran.

Ada spekulasi lain. Kata Khidir berasal dari kata hadhara yang artinya kira-kira menghijaukan. Jika ini diterapkan pada sifat seseorang maka orang itu memiliki kemampuan untuk menghijaukan dalam arti mencerahkan pikiran banyak orang. Sifat ini dapat dimiliki oleh banyak orang, di setiap zaman, di mana pun. Jelasnya, Khidir dalam pengertian ini  bukan merujuk pada seorang individu tertentu.

Analisis bahasa ini sesuai dengan kepercayaan umum bahwa Nabi Khidir sampai sekarang masih hidup (yang bagi kebanyakan tentu tidak sesuai dengan fitrah seorang manusia). Bacaan penulis terhadap Tafsir Al-Azhar Juz 15 mengesankan bahwa Buya Hamka cenderung pada pendapat ini.

Seperti disinggung sebelumnya, nama Khidir tidak tercantum dalam Al-Quran. Dalam kaitannya sebagai “guru” Nabi Musa AS, Al-Quran menyebutnya sebagai “seorang hamba dari hamba-hamba-Kami” (QS 18:65). [Jadi jangan anggap remeh gelar “hamba” yang mungkin terkesan kurang gereget.]

Ujian Luar Biasa

Oleh gurunya Nabi Musa AS sejak awal diingatkan bahwa beliau akan gagal ujian QS (18:67). Peringatan terbukti sebagaimana akan kita lihat.

musa

Sumber gambar: Geogle

Ujian yang diberikan sang guru sebenarnya sederhana: sabar untuk tidak bertanya atau berkomentar mengenai apa pun yang dilakukan sang guru sebelum dijelaskan. Nabi Musa AS berikrar menyanggupi syarat ini (QS 18:69) yang ternyata gagal, bukan sekali, tetapi sampai tiga kali. Dalam kegagalan pertama sang guru mengingatkan:

Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (QS 18:72)

Peringatan yang sama dikatakan sang guru untuk pelanggaran kedua (ayat ke-75).

Menyadari kegagalan ini Nabi Musa AS menyatakan diri akan berhenti berguru jika melakukan kegagalan ketiga kalinya yang ternyata dialaminya. Akibatnya, ia “dipecat” sebagai “murid”:

Ayat 76: Dan (Musa) berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku”.

Ayat 78: Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau, aku akan memberikan kejelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

Tiga Macam Ujian

Musa AS disuguhi  tiga macam yang semuanya luar biasa. Ujian pertama adalah menyaksikan ulah sang guru melubangi perahu yang ditumpangi mereka (ayat 71). Ulah guru ini jelas tidak masuk akal sehingga wajar jika Nabi Musa AS gagal menghadapinya tanpa berta nya.

Ujian kedua berupa tindakan sang guru membunuh seorang anak yang mereka temui (ayat 74). Tindakan ini jelas “kelewatan”  dalam ukuran normal sehingga Nabi Musa AS gagal lagi.

Ujian ketiga berupa tindakan sang guru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh di suatu kampung yang para penghuninya menolak memberikan makanan sekadarnya:

Ayat 77: Maka keduanya berjalan hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu”.

Kalimat terakhir ayat ini adalah bentuk pelanggaran ketiga yang menyebabkan Nabi Musa AS dipecat sebagai “murid”.

Hikmah dati tindakan Khidir

Sesuai janji, sang guru menceritakan alasan tindakannya.

Ayat 79: Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka seorang raja yang akan merampok setiap perahu.

Ayat 80: Dan adapun  anak muda (kafir) itu, kedua orang-tuanya mukmin, dan kami khawatir dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.

Ayat 81: Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

Ayat 82: Dan adapun rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri, itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.

Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa tindakan sang guru, bukan dilakukan karena kemauan sendiri, melainkan perintah “Rabb-mu”.

Dua Hikmah

Demikian kisah Nabi Musa AS dan Nabi Hidir AS. Kisah-kisah dalam Al-Quran jelas bukan dongeng  (fairytale) sekadar untuk hiburan, melainkan sarana pengajaran moral-spiritual yang perlu digali hikmahnya, khususnya oleh mereka diberi kelebihan ilmu.

Hemat penulis, hikmah itu paling tidak ada dua. Pertama, fitnah atau cobaan hidup tidak hanya berbentuk serba-kekurangan tetapi juga serba-kelebihan. Dari tiga kasus yang dikemukakan, dua di antarnya berisi kegagalan. Jika hal ini dapat digeneralisasi maka dapat dikatakan bahwa peluang kegagalan karena kelebihan hanya sepertiga. Peluang lulus ujian bagi penguasa lebih besar ketimbang peluang lulus bagi hartawan maupun ilmuwan. Ini mungkin peringatan keras bagi hartawan dan ilmuwan; sekaligus kabar baik bagi penguasa atau pejabat publik. Kelompok ini berpeluang paling besar untuk– dalam bahasa Obama di tengah mahasiswa Al-Azhar– melayani masyarakat yang berarti pula tiket untuk menjadi “manusia terbaik” yang menurut Hadits didefinsikan sebagai orang “yang paling bermanfaat bagi sesama”.

Kedua, fitnah dapat berbentuk kecenderungan untuk overestimate atau menilai diri lebih dari yang sebenarnya atau megalomania dalam istilah psikologi; juga, kepicikan-diri yang cenderung underestimate mengenai ilmu Tuhan SWT yang luasnya tak-terbatas.

Wallahualam…@

 

Mengingat Hari Alastu

Kalau ada hari yang harus diingat, maka itu adalah Hari Alastu. Kalau ada kewajiban yang harus ditunaikan, maka itu adalah implementasi prinsip dan nilai yang terkandung dalam momen yang terjadi pada Hari itu dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ada larangan yang harus dijauhi, maka itu adalah hilangnya ingatan pada Hari itu. Kalau ada kesetiaan yang harus dijunjung tinggi, maka itu adalah konsistensi pada prinsip dan nilai Hari itu. Kalau ada filsafat pendidikan yang perlu diacu, maka substansinya adalah pengenalan dan penguatan ingatan peserta-didik pada Hari Alstu itu.

Demikianlah arti penting Hari Alastu.

Karena demikian penting maka seluruh misi kenabian– sejak Adam AS sampai Muhammad SAW–  dapat dikatakan terkait dengan prinsip dan nilai Hari Alstu itu. Misi mereka, jika harus dirumuskan secara padat, kira-kira begini: menyampaikan kabar gembira akan pahala bagi yang konsisten dengan prinsip dan nilai Hari Alastu, dan memberikan peringatan akan kerasnya siksa balasan bagi yang mencederai prinsip dan nilai Hari itu. Dalam hal konteks ini misi Nabi SAW agaknya plus ini: memberikan keteladanan bagaimana menerapkan prinsip dan nilai Hari Alstu itu dalam dunia nyata.

Jadi, apa Hari Alstu itu?

Hari Alastu tidak lain dari hari ketika semua Anak Adam (baca: manusia, tanpa kecuali) memberikan kesaksian dan membuat perjanjian dengan Rabb SWT, Rabb mereka. Perjanjian dan kesaksian ini diabadikan dalam QS (7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan menera dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (Teks: Alastu birabbikum.) Mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami), kami bersaksi…

Ingatan pada Hari Kesaksian dan Perjanjian purba itu terpatri dalam lubuk-hati-paling-dalam setiap manusia. Tetapi kita memiliki bakat kuat untuk menjadi pelupa. Itulah sebabnya dalam Islam ada ibdah Salat “untuk meningat-Ku” (QS 20:14), kata Rabb SWT. (Anjuran untuk banyak berzikir perlu dilihat dalam monteks ini.)

Menurut banyak sufi, ingatan pada Hari Alastu berbentuk cahaya, Cahaya Ilahi, yang akan tetap menyala (sekalipun redup) dalam sanubari manusia.

    • Cahaya itu pendorong inteligensi para pencari kebenaran (veracity) termasuk para filsuf, sufi dan ilmuan. Karena itulah kita sering menyaksikan dedikasi para ilmuan yang luar biasa bahkan ketika harus melalui pengorbanan dan mahabahnya. Tapi tanpa bimbingan “langit”, mereka rentan terhadap penyakit BangEgo: bangga diri (pride) dan egosentris (self-centered); juga terhadap sedotan labirin-gelap-tanpa ujung, tanpa kejelasan manfaat bagi kemanusiaan.
    • Cahaya Ilahi pendorong kehendak perbuatan baik atau kebajikan (virtue), termasuk oleh mereka tidak percaya pada Tuhan (atheist) atau meragukan-Nya (agnostic). Catatannya, tanpa bimbingan “langit”, perbuatan baik rentan terhadap serangan penyakit BangEgo yang merusak.
    • Cahaya Ilahi juga penarik hati para pencinta keindahan (beauty), termasuk para petualang cinta sufistik yang lebih meminati hubungan vertikal dengan Rabb SWT, serta cenderung tenggelam dalam keindahan-Nya dalam berbagai cara: kontemplasi (zikir), meditasi (tafakur), pendalaman teks suci, dan pengamatan “ayat” alamiah. Tetapi tanpa bimbingan Rasul SAW, mereka dapat cenderung mengabaikan urusan hubungan horizontal antar-sesama, urusan kekhalifahan “memakmurkan bumi” dan urusan sosial “menyejahterakan manusia”, urusan-urusan yang sentral dalam risalah Muhammad SAW.

Dinyatakan secara padat dan agak berbeda, Cahaya Ilahi menjadi sumber energi bagi inteligensi, kehendak dan hati manusia untuk berfungsi sesuai dengan wilayah kerja masing-masing: mengetahui Rabb SWT atau Absolut, bertindak sejalan dengan pengetahuan itu, dan melakukannya sesempurna dan seindah mungkin..

Cahaya Ilahi menjadi sumber energi bagi inteligensi, kehendak dan hati manusia untuk mengetahui yang Absolut, bertindak sejalan dengan pengetahuan itu, dan melakukannya sesempurna dan seindah mungkin.

Bagi Muslim, kesadaran Hari Alastu itu dalam (deep), mendalam (profound), dan berdampak jauh (far reaching impact): mengalasi peradaban Muslim sepanjang sejarah, melatari perilaku kehidupan sehari-hari, dan mendasari konsepsi mereka mengenai manusia, khususnya yang terkait dengan gagasan mengenai fithrah (fitra). Mengenai yang terakhir ini Tariq Ramadan mengatakannya begini:

The original testimony is of the fundamental importance for the formation of the Islamic conception of humanity. … the human being has within it an almost instinctive longing for a dimension that is “beyond”. This idea of fitra, which has given rise to numerous exegetical, mystical, and philosophical commentaries, so central is it to the Islamic conception of human being, faith and sacred[1]

Wallahualam…. @

[1] Tariq Ramadan (2004:16), Western Muslim and the Future Islam. Oxford University Press.

 

 

Khotbah Jumat yang Luar Biasa

Pada Jumat 15/3/2019 yang lalu Imam Gamal Fouda menyampaikan Khotbah Salat Jumat yang luar biasa.

Keluarbiasaan khotbah ini terletak pada setidaknya dua faktor. Pertama, khotbah disampaikan di suatu lokasi dekat Masjid Al-Noor New Zealand (NZ) di mana seminggu sebelumnya terjadi teror penembakan masal. Dalam teror ini korban meninggal dunia dilaporkan 50 orang yang kebanyakan berasal dari jamaah Masjid Al-Noor (lihat Peta di bawah).

Sumber Gambar: INI

Kedua, “target” khotbah tidak hanya jamaah Salat Jumat tetapi juga ratusan orang non-jamaah yang secara sengaja menyaksikan pelaksanaan Salat itu. Termasuk dalam non-jamaah adalah PM NZ, Jacinda Ardern, yang mendengarkan khotbah secara khusyu dan memeproleh pujian dari khatib. Lebih dari itu, dilihat dari “pesan politik” (terkait supremasi Kulit Putih) yang disinggung khatib, target itu khotbah adalah pemirsa di seluruh dunia khususnya kalangan para politisi.

Singkatnya, dilihat dari lokasi, waktu dan targetnya, kotbah itu luar biasa.

Bagi penulis ada faktor lain menjadikan khotbah itu luar biasa– dalam arti sangat jarang ditemukan dalam suatu Khotbah Jumat– yaitu kecermatan bahasa yang digunakan.

Keseluruhan narasi khotbah disampaikan dalam waktu yang relatif singkat dan ini sesuai dengan tradisi Rasul SAW. Ini layak ditiru dan digugu oleh para khatib.

Yang juga layak digugu dan ditiru adalah penggunaan bahasa yang sangat efektif karena menggunakan kosakata yang mudah dipahami dan lembut. Alquran menggunakan istilah qaulan baliga (QS 4:63) untuk yang pertama dan qaulan layyina (QS 20:44) untuk yang kedua.

Istilah qaulan layyina merujuk pada perkataan yang lembut dalam arti tidak menyakitkan hati bagi lawan bicara, tetapi sekaligus tajam dalam arti mengena kepada sasaran tanpa menyembunyikan kebanaran. Istilah ini digunakan Al-Quran sebagai bagian dari bekal Nabi Musa AS ketika harus berhadapan dengan Firaun, raja Kerjaan Mesir Kuno yang sangat tiran bahkan mengaku sebagai “tuhanmua yang paling tinggi” (QS 79:24).

Dalam konteks khotbah ini, qaulan layyina digunakan khatib untuk mengritik politik kebencian dan ideologi supremasi kulit putih. Khatib melancarkan kritik ini dalam bahasa yang masih dalam batas-batas kesantunan tetapi sekaligus tajam serta tidak menyembunyikan kebenaran.

Sumber Gambar: INI

Bacaan Imam Salat ini (dari rekaman video tampaknya bukan Imam Gamal Fouda) patut digugu dan ditiru. Dalam Salat ini Imam membacakan ayat/surat pendek dan cara ini bersifat qurani. Maksudbya, secara ekplisit Al-Quran menganjurkan untuk membacakan ayat/surat yang “mudah” ketika mengimami Salat karena harus mempertimbangkan keragaman kesibukan jamaah (lihat QS 73:20). Aspek “kemudahan” ini agaknya kurang mendapat perhatian dari para khatib kita di tanah air. (Mudah-mudahan penulis keliru.)

Sebagai catatan akhir, ayat yang dibacakan dalam rakaat pertama terkesan diarahkan kepada ahli mushibah (keluarga korban teror) yaitu mengenai kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Sementara dalam rakaat kedua ayat yang dibacakan adalah surat pendek (ke-112, al-ikhlas) yang terkesan diarahkan kepada Umat Islam  secara keseluruhan agar konsisten dallam bertauhid, khusuanya ketika tengah berada dalam komunitas yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Singkatnya, ayat/surat yang dibawakan sangat relevan dengan jamaah. Aspek “relevansi” Ini agaknya juga kurang mendapat perhatian dari khatib kita. (Mudah-mudahan penulis keliru.)

Mengingat luar biasanya khotbah ini pembaca dianjurkan untuk melihat teksnya secara lengkap yang dapat diakses di SINI.

 

 

Obama dan Teror New Zaeland

Terkait dengan teror New Zaeland (NZ)[1]  Obama menyatakan belasungkawa melalui tweeter  singkatnya (15/3/19):

Michelle dan saya mengirimkan belasungkawa kami kepada orang-orang Selandia Baru. Kami berduka dengan Anda dan komunitas Muslim. Kita semua harus melawan kebencian dalam segala bentuknya:

Michelle and I send our condolences to the people of New Zealand. We grieve with you and the Muslim community. All of us must stand against hatred in all its forms.

Yang menarik untuk dicatat, lebih dari 100 orang me-retweet dan lebih 650,000 orang menyukai tweet itu. Hampir semuanya berisi pujian, terima kasih, dan dukungan, dan … harapan.

Sebagian yang merespons tweeter itu menyatakan harapan agar Obama berbicara dengan Jacinda Ardern, PM NZ:

I bet Prime Minister Jacinda Ardern wishes she could talk to you at a time like this. Come to think of it…bet she has.

Sebagian membandingkan PM itu dengan POTUS (Preseident of the United States) dalam hal menangani tragedi penembakan masal:

Cara PM itu menangani teror NZ dinilai oleh hampir semua kalangan sangat terpuji. Belum seminggu setelah teror itu PM sudah mengeluarkan kebijaksanaan untuk melarang penggunaan senjata model militer oleh masyarakat umum. PM itu agaknya menganut filsafat: “Kalau mau membengkokkan baja maka lakukan itu ketika membara”.

Ia juga berjanji melakukan perubahan mendasar dalam undang-undang penggunaan senjata bagi masyarakat sipil. (Untuk merealisasikan ini tentu saja perlu waktu karena memerlukan persetujuan parlemen sekalipun diperkirakan akan memperoleh dukungan penuh termasuk dari kelompok opisisi.)

Singkatnya, apa yang dilakukan PM itu kontras dengan apa yang dilakukan POTUS.

Demikian terpujinya cara PM itu menangani teror sehingga salah seorang yang merespons tweet Obama berharap dukungan Obama untuk mencalonkan PM NZ sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian:

Kia Barack, thanks for the message and support, from a Christchurch-born Kiwi. I have a request I hope you may consider… I believe NZ Prime Minister, Jacinda Ardern should be nominated for a Nobel Peace Prize for her leadership and handling of the situation…

Harapan itu tidak berlebihan. Lihat saja apa yang dikatakan dan dilakukannya sepenuh hati terkait teror NZ. Lihat saja kiprahnya ketika mengunjungi lokasi sekitar Masjid saat ribuan Muslim melaksanakan Salat Jumat pertamakali setelah tragadi itu. Masjidnya masih belum dapat diguanakan, masih dipasangi garis polisi.

[1] Posting mengenai teror ini dapat dikases di SINI….. @

 

Entin dan Taplak Meja

Entin[1], usai Salat Asar, menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk mulai “proyek” kecilnya yaitu membordir taplak meja hasil rancangannya sendiri. Entin menyadari perlu waktu paling tidak seminggu untuk menyelesaikan proyeknya ini: meja di ruang tamu di mana ia akan bermaksud meletakannya relatif besar. Tetapi dia tidak merasa perlu tergesa-gesa. Baginya proyek itu untuk mengisi waktu luang sambil menunggu suami-tercinta pulang kantor.

Begitu suami tiba Entin membereskan dengan sigap peralatan rendanya dan segera menyambut suami dengan hangat: mengambilkan tas, menyiapkan teh dan penganan kecil, dan menawarkan obrolan ringan. Biasanya Sang Suami merasa kurang nyaman ngobrol lama karena merasa dirinya tidak sebersih dan sewangi istri: “Biar habis magrib obrolannya di lanjutkan” bisiknya dalam hati. Keluarga ini dianugerahi berkah yang agaknya langka dan semakin langka: hubungan suami-istri yang dilimpahi kasih-sayang-tulus.

Sang Suami memiliki kesan mendalam. Ketika pulang kerja ia selalu menemui istrinya tengah mencurahkan perhatian pada pekerjaan renda itu, sepenuh hati, penuh passion.

Taplak meja-bordiran  itu kini sudah berada di tempat sesuai peruntukan pembuatnya. Tetapi Entin sudah tiada. Dan suasana kehidupan dan rutinitas Sang Suami jauh berbeda.

 

Sumber Gambar: Google

Ia pulang kerja masih pada jam biasanya. Bedanya, kini tidak ada lagi yang menyambut. Tidak ada lagi yang menyiapkan teh dan penganan hangat. Tidak ada lagi senyum-tulus. Tidak ada lagi kehangatan obrolan-ringan yang secara efektif mampu melepaskan kepenatan kantor.

Kini, pulang kerja ia duduk lunglai di sofa. Sambil menatapi taplak meja di depannya. Tatapan kosong. Ia selalu melakukan hal yang sama. Setiap hari. Pada jam-jam yang sama.

Taplak meja itu baginya bukan taplak meja biasa. tetapi representasi Entin. Lebih dari itu. Baginya taplak meja itu “menghadirkan Entin”–atau dalam bahasa lain– “tajalli Entin”. Itulah arti kata tajalli, sesederhana itu.

Bagi Sang Suami, demikian riil tajalli itu– atau dengan kata lain demikian intens “kesadaran kehadiran” itu– sehingga ia tidak jarang menangis sambil menciumi taplak meja itu dan menyebut-nyebut nama Entin. “Sudah gila”, pikir anaknya yang mendapati Sang Bapak berperilaku demikian.

Pertanyaan (1): Apakah Sang anak salah? “Tidak, dia obyektif”. Apakah Sang Suami salah? “Tidak juga, dia mampu melihat dimensi batiniah dalam sesuatu yang bersifat lahiriah”.

Pertanyaan (2): “Sudah mampukah kita melihat tajaliat Rabb SWT pada semua makhluk-Nya (Al-HUkam: al-Kaun)?

Jika belum maka itu terjadi karena daya pandang kita terlalu lemah di tengah kelimpahan cahaya-Nya. Kita layaknya kelelawar di siang hari yang tidak mampu melihat segala sesuatu di sekitar, bukan karena sesuatu itu tidak ada, tetapi karena daya pandangnya terlalu lemah di tengah terangnya cahaya matahari.

Wallahualam…..@

[1] Cerita ini diadaptasi dari Cermah Kiai Zezen ZA dalam pengajian Al-Hikam yang rekamannya dapat diakses di SINI.

 

Faktor Pengali Kebaikan dan Permutasi Kebajikan

Seharusnya kita lebih bergairah untuk melakukan kebaikan (Arab: hasanat) dari pada kejahatan (Arab: sayyiat).

Paling tidak ada dua argumen mengenai ini. Pertama, bagi manusia kebaikan secara spiritual bersifat alami. Tidak ada keraguan mengenai ini karena merupakan pengetahuan-langsung-bawaan. Kedua, bagi yang percaya Kitab Suci, rasio faktor pengali antara kebaikan dan keburukan sangat besar yaitu 10:1. Ajaran ini bukan berasal dari nasihat Ustaz, wejangan Kiai, atau bahkan Sabda Nabi SAW; ia bersumberkan Firman Ilahi.

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (QS 6:160).

Kalimat terakhir merujuk pada balasan kejahatan yang ditegaskan sebagai konsekuensi dari kezaliman diri-sendiri atau tanggung jawab individu; jadi, tidak perlu mencari “kambing hitam”. (Ayat ke-164 menegaskan tanggung jawab individu ini.)

Rabb SWT tentu lebih mengetahui maksud sebenarnya dari rasio 10:1 ini. Walaupun demikian kita mungkin diizinkan untuk berilustrasi mengenainya melalui skenario sederhana berikut.

Misalkan hari ini Anda melakukan 5 kebaikan dan 10 kejahatan. Misalkan juga, untuk mudahnya, bobot kebaikan dan keburukan sama (=1, tetapi beda tanda). Dalam kasus ini skor Anda adalah 45, angka yang diperoleh dari: 5×10(+1) + 10x(-1). Jika Anda melakukan kebaikan dan kejahatan dengan frekuensi yang sama (=10), maka skor Anda itu menjadi 90 = 10×10(+1) + 10×1(-1).

Sekali lagi, skenario di atas sekadar ilustrasi, sekadar upaya untuk memudahkan memaknai ayat yang bersangkutan. Lebih dari itu, jika dikehendaki-Nya, faktor pengali balasan kebaikan dapat tak terhingga (QS 40:40), sementara faktor pengali balasan kejahatan dapat NOL karena terhapus oleh kebaikan (QS 11:114).

Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga (QS 40:40).

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Ruang lingkup kebaikan sangat luas, tidak hanya mencakup apa yang jelas-jelas merupakan kewajiban agama seperti salat, zakat, taklim dan sebagainya. Kebaikan termasuk perilaku dan kegiatan kongkret sehari-hari yang dimotivasi, dibimbing dan diarakan oleh kebajikan spiritual yang fundamental. Artinya, perilaku dan kegiatan yang berbasis kebenaran (veracity), serta mencerminkan kebersahajaan (humility) dan kemurahan hati (generosity).

Kebenaran, kebersahajaan, kemurahan hati. Inilah trilogi kebajikan fundamental.

Permutasi dua logi dari trilogi ini akan menghasilkan enam kebajikan turunan yang dapat memperjelas makna serta kualifikasi masing-masing logi: (1) Kemurahan-hati yang bersahaja, (2) Kebenaran yang bersahaja,  (3) Kebersahajaan yang murah-hati, (4) Kebenaran yang dermawan, (5) Kebersahajaan yang benar, dan (6) Kemurahan-hati yang benar. Penjelasan mengenai masing-masing kebajikan turunan ini dapat diakses di SINI, juga di SINI.

 

Sumber Gambar: Google

Salat yang Sempurna

Sumber Gambar: Google

Ibadah Istimewa

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari kiamat, adalah Salat Wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna Salatnya, dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan Salat Sunat! Jika ia mengerjakan Salat Sunat, maka kekurangan dalam Salat Wajib wajib disempurnakan dengan Salat Sunatnya”. Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. (HR. Khamsah dalam Nailul Authar Juz I halaman 345)[1].

Hadits di atas menyiratkan keistimewaan Salat. Keistimewaannya juga tersirat dari banyaknya ayat Al-Quran yang berbicara mengenai Salat.

Penelusuran ayat dengan Lafzi mengantarkan kita pada lebih dari 100 ayat Al-Quran mengenai Salat yang diletakkan dalam berbagai konteks. Salah satu ayat yang dimaksud adalah ini:

Dan laksanakanlah Salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Analisis Bahasa

Kata laksanakanlah dalam kutipan atas merupakan terjemahan dari kata aqimi yang berbentuk kata kerja perintah (Arab: fi’il amr). Kata ini berasal dari kata aqama (bukan qama) yang memiliki timbangan (Arab: wazan) af’ala (bukan fa’ala).

Seperti diungkapkan Shihab[2], kata af’ala berarti ’melaksanakan sesuatu pada waktunya, berbentuk, tertib urutan-urutannya, menghasilkan sesuatu, sungguh-sungguh, serta penuh kekhidmatan; singkatnya, melakukan sesuatu secara sempurna. Jadi, kalimat aqimi al-shalah (dalam ayat di atas) terjemahan lebih lengkapnya kira-kira laksanakanlah Salat secara sempurna yang berbeda dari terjemahan yang sering ditemukan yaitu “dirikanlah Salat”[3] .

Salat Sempurna

Dari analisis singkat di atas kita dapat mengidentifikasi paling lima ciri Salat yang sempurna sebagai berikut.

1. Pada Waktunya.

Salat– maksudnya lima Salat Wajib yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya– dilakukan pada waktu yang ditetapkan. Mengenai waktu Salat ini Nash (ayat Al-Quran) mencantumkannya secara eksplisit (QS 4:103).

Rentang waktu Salat Wajib menetapkan batasan kapan dimulai dan kapan berakhir waktu Salat. Sebagai contoh, Salat Subuh dimulai dari waktu fajar dan berakhir ketika matahari terbit. Rentang waktu itu relatif panjang tetapi para Ulama agaknya sepakat untuk menyegerakannya atau di awal waktu.

2. Mematuhi Tata Cara yang Baku

Salat harus dilaksanakan dengan mematuhi tata cara yang sudah baku. Tata cara ini termasuk menghadapkan diri ke arah Kiblat, melafalkan Al-Fatihah dan bacaan wajib lainnya,  dan melakukan gerakan tubuh sesuai yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Mengenai yang terakhir Hadits Nabi SAW menyatakannya secara eksplisit: “Salatlah sebagaimana kalian melihatku Salat.” (HR. Bukhari 631, 5615, 6008)

3. Menaati Tata Tertib

Menurut definisi Salat dimulai dengan mengucapkan Takbir dan diakhiri dengan Salam. Ucapan takbir ‘membuka komunikasi sangat pribadi dengan Allah SWT’ dan merupakan ‘lambang dari iman, dari taqwa, dari ikhlas, dan dari segala sesuatu yang bersifat pribadi’. Tetapi itu tidak cukup karena Salat harus diakhiri dengan ucapan Salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ucapan dan tindakan ini ‘menandakan bahwa setelah khusyuk berkomunikasi dengan Allah, kita tidak boleh melupakan komunikasi kita dengan lingkungan sosial kita’ (Majid, 2000:82)[4].

Di antara Takbir dan Salam ini terdapat gerak tubuh (dan bacaan) yang harus dilakukan secara tertib atau urutan yang ditentukan. Menaati tata tertib ini bersifat mutlak dalam arti menentukan keabsahan Salat.

4. Berdampak Sosial Positif

Salat dapat dikatakan berhasil-guna jika berhasil “menghadirkan” Rabb SWT ke dalam hati pelaku Salat. Al-Quran menggunakan istilah mengingat-Nya untuk maksud yang sama (QS 20:14):

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah dan laksanakanlah Salat untuk mengingat-Ku.

Dalam konteks yang lebih luas, Salat dikatakan sempurna jika melahirkan dampak sosial yang positif. Mengenai hal ini paling tidak ada dua argumen. Pertama, dalam Al-Quran perintah Salat hampir selalu diikuti oleh perintah berzakat yang jelas berdimensi sosial. Kedua, dalam salah satu Surat (ke-107), Al-Quran secara eksplisit mengecam orang Salat– bahkan menuduhnya sebagai pendusta agama– tetapi mengabaikan anak yatim dan orang miskin.

5. Serius

Untuk dikatakan sempurna Salat perlu dilakukan secara serius dalam arti terbebas dari perilaku negatif termasuk malas, ria, dan lalai. Al-Quran mencirikan orang munafik dengan orang yang Salat tetapi menyandang perilaku-perilaku negatif semacam itu (QS 4:142):

Sesungguhnya orang munafik hendak menipu Allah, tetapi Allah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk Salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.

Na’udzu billah min dzalik.

Demikianlah catatan singkat mengenai kesempurnaan Salat. Sebagai catatan akhir, Salat idealnya difungsikan juga sebagai wahana “Latihan Mati” sebagaimana terungkap dalam posting INI.

Wabillahit taufiq wal hidayah…  @

 

[1] https://www.fiqihmuslim.com/2015/09/kumpulan-hadist-nabi-tentang-sholat.html.

[2] Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume I (2002:176).

[3] Yang terakhir ini tidak tepat secara kebahasaan karena menggunakan timbangan fa’ala, bukan af’ala .

[4] Majid, Nurholish, Perjalanan Religius ‘Umrah Haji, PARAMADINA.

 

[Versi pdf dapat dakses di SINI]