Mengenal Rumi

Rumi was a messenger of truth with high clarity of vision. And the only way we can truly honor him is to be as truthful and clear about his life as possible[1].

Kutipan di atas menggambarkan sosok Rumi sebagai utusan atau pembawa pesan kebenaran. Tapi siapa Rumi? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan ini secara singkat.

Sosok dengan Banyak Keahlian

Rumi adalah seorang Persia abad ke-13 (30/9/ 1207–17/12/1273). Nama lengkapnya, Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī. Ia  dikenal juga sebagai Jalāl ad-Dīn Muhammad Balkhī, atau Mevlânâ/Mawlānā (“master kita “), Mevlevî/Mawlawī (“masterku”). Gelar master mencerminkan kepakarannya, khususnya di bidang Hukum Islam. Seperti bapak dan kekeknya, Rumi pernah berprofesi sebagai mufti atau pemberi fatwa dalam bidang Hukum Islam.

Pada umur 30-an, sejak bertemu tokoh misterius Syam, Rumi menanggalkan profesinya sebagai mufti. Tokoh ini yang mengubah orientasi hidup Rumi secara radikal, paling tidak dari tampilan luar. Tokoh ini pula yang mentransformasikan Rumi menjadi penyair Sufi yang mungkin paling produktif dan populer.

Selain sebagai mufti dan penyair Rumi juga populer sebagai sarjana Islam, ahli teologi, dan Sufi mistis[2]; bukan kelas kebanyakan, tetapi tingkat ahli. Singkatnya, Rumi adalah sosok dengan banyak keahlian.

Sebagai catatan, sebutan “Rumi” berarti “orang Roma”. Sebutan ini melekat karena Rumi tinggal di wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari kekuasaan Romawi Timur atau Bizantium.

Popularitas Rumi

Sejak muda Rumi sudah populer. Pengaruh pemikirannya melampaui batas-batas negara dan suku termasuk  Iran, Tajikistan, Yunani, Pashtun, Asia Tengah, Asia Selatan.

Sampai kini Rumi tetap populer, paling tidak sebagai penyair. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia dan ditransformasikan ke dalam berbagai format. Beberapa pengamat mencitrakan Rumi sebagai penyair paling populer yang karyanya paling di Amerika Serikat (AS)[3].

Popularitas Rumi pada masa kini terbentuk antara lain karena keberhasilan upaya gigih Barks, seorang ahli bahasa berkebangsaan AS. Pada suatu hari (1976) konon ia disodori terjemahan AJ Abbery mengenai karya Rumi. Komentarnya ketika itu, “Puisi-puisi ini perlu dilepaskan dari kerangkengnya”.

Sejak itu Barks menghabiskan waktu 33 tahun untuk menerjemahkan karya Rumi dengan gaya bebas, gaya yang dinilainya sesuai dengan selera kontemporer. Hasilnya, 22 jilid terjemahan karya Rumi dengan gaya-bebas, termasuk The Essential Rumi, A Year with Rumi, Rumi: The Big Red Book and Rumi’s father’s spiritual diary, The Drowned Book, semuanya dipublikasikan oleh HarperOne. Karyanya telah terjual dari dua milyar kopi dan diterjemahkan dalam 23 bahasa.

Kekuatan Puisi Rumi

Apa yang membuat puisi Rumi dapat diterima secara luas? Banyak teori mengenai ini. Barks menyarikannya sebagai berikut[4]:

“Seperti Perkataan Yesus (Injil Thomas), mereka (maksudnya karya-karya Rumi) telah disembunyikan selama berabad-abad… tidak dalam guci merah yang dimakamkan di Mesir, tetapi dalam komunitas darwis dan perpustakaan Turki dan Iran. Selama beberapa tahun terakhir para sarjana telah mulai mengorganisasikan mereka dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris”.

“Baru-baru ini,” lanjut Barks “saya merasakan adanya gerakan global yang kuat, sebuah dorongan yang ingin membubarkan batas-batas yang telah dibuat oleh agama dan mengakhiri kekerasan sektarian. Dikatakan bahwa orang-orang dari semua agama datang ke pemakaman Rumi pada tahun 1273. Karena, kata mereka, ia memperdalam iman kita siapa pun kita…”.

Dalam koteks ini Barks bukan satu-satunya. Anne Walden, seorang penyair yang juga profesor puisi, pada suatu hari melihat satu baris pusi Rumi ini: “Out beyond ideas of wrongdoing and right doing there is a field. I’ll meet you there.” (Di luar batas benar salah ada ladang. Di sanalah kita bertemu”.) Bagi Anne puisi ini luar biasa provokatif sekaligus mengilhami. Dia menyimpulkan bahwa puisi Rumi itu misterius, provokatif dan tokoh dalam era kita, ketika kita tengah bergulat untuk memahami tradisi Sufi dan sifat ekstasi, pengabdian dan kekuatan suatu puisi.

“Sepanjang waktu, di semua tempat dan lintas budaya, puisi-puisi RumI mengartikulasikan bagaimana rasanya hidup”. Itu kata Lee Bricceti, direktur eksekutif Poets House. Puisi Rumi, menurutnya, “membantu kita memahami pencarian kita akan cinta dan ekstasi dalam pergulatan hidup sehari-hari”. Sang direktur ini membandingkan karya Rumi dengan karya Shakespeare dalam hal resonansi dan keindahan.

Singkatnya, dalam era kontemporer banyak “penggemar” Rumi di berbagai belahan bumi ini.

Menyerempet Bahaya

Kita dapat merasakan karya-karya Rumi sarat dengan sifat esoterik dalam arti lebih menekankan sisi batiniah, esensi atau isi bagian dalam suatu ajaran agama. Pendekatan esoterik ini dapat dikatakan lebih terkagum-kagum oleh Keagungan Ilahi SWT, sifat jamal-Nya.

Secara analitis, pendekatan esoterik berbeda dengan pendekatan eksoterik yang lebih mengedepankan sisi lahiriah, formal atau tampilan luar. Pendekatan yang kedua ini lebih terpesona (dalam beberapa kasus “tersihir”) oleh Keindahan Ilahi SWT, sifat jamal-Nya. Sayangnya, kedua pendekatan ini sering kali dipertentangkan secara tajam. Kasus martir Al-Hallaj (858-922M) atau Syech Siti Jenar (untuk kasus Indonesia) dapat dipahami dalam konteks ini.

Kehebatan Rumi adalah bahwa karya-karyanya dapat diterima oleh para tokoh-tokoh (besar) penganut pendekatan eksoterik. Mereka sering kali “tersenyum” melihat “kejenakaan” Rumi karena melihat kandungan “wisdom” mendalam di dalamnya.

Fakta ini menarik disimak karena karya-karya Rumi secara sepintas lalu terkesan “menyerempet bahaya” dalam perspektif umum para eksoterik. Lihat saja puisinya ini:

Not Christian or Jew or Muslim, not Hindu, Buddhist, sufi, or zen. Not any religion or cultural system. I am not from the East or the West, not out of the ocean or up from the ground, not natural or ethereal, not composed of elements at all. I do not exist, am not an entity in this world or the next, did not descend from Adam or Eve or any origin story. My place is placeless, a trace of the traceless. Neither body or soul. I belong to the beloved, have seen the two worlds as one and that one call to and know, first, last, outer, inner, only that breath breathing human being[5].

“Rahasia” Rumi mungkin karena ia, seperti Busthami[6], dikenal sangat taat dalam memraktikkan ajaran agama sehingga tidak membuat gusar kaum eksoterik.

Seperti disinggung, perbedaan esoterik dan eksoterik hanya berguna pada tingkat analisis. Pada tingkat praktis, keduanya dapat dipadukan seperti yang diteladankan oleh kebanyakan sufi besar. Dan ini yang ideal. Bukankah yang Ilahi SWT menyandang sifat Jalal sekaligus Jamal?

Hati, Cinta dan Kejenakaan

Bagi Rumi hati (qalb) adalah sumber pengetahuan hakiki dan cinta. Inilah salah satu tema utama karyanya. Ia sangat menganjurkan kita untuk secara berkala mengunjungi hati masing-masing secara berkala. Tema ini yang dicoba direfleksikan dalam Dialog Imajiner dengan Rumi.

Tema utama lain karyanya adalah cinta, cinta sufistik. Baginya hanya cinta yang dapat diandalkan untuk mendekati-Nya. Kedua tema ini—hati dan cinta—oleh Rumi dinarasikan melalui karyanya dengan gaya spontan dan jenaka sehingga dapat diterima khalayak sambil tersenyum….@

[1]  http://www.rumi.net/about_rumi_main.htm

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Rumi.

[3] http://www.bbc.com/culture/story/20140414-americas-best-selling-poet.

[4] Ibid.

[5] https://www.azquotes.com/author/12768-Rumi/tag/religion

[6] https://mistikus-sufi.blogspot.com/2011/04/bayazid-al-bistami.html

Advertisements

Imaginary Dialogue with Rumi (2)

 

Dialog 2: Dust

 

[Looking out the window without expression Rumi mumble slowly …]

Rumi: Do Antum[1] recognize various paths out there?

Disciple: Just a little, Master.

Rumi: Use your heart’s eyes! Antum can see a lot of paths out there. There are big ones, some small ones. Some are straight, some are twisting. Some are safe, many are vulnerable. There are even many sham paths out there.

[The disciple just kept quiet but prepared his heart to receive the teachings from his master. He knows that his master likes to use “bird language”[2] which can only be understood by heart ears.]

Rumi: Do you know, the biggest, the straightest forward and the safest road is the Path of Al-Mustafa[3].

[Because the disciple is just silent then Rumi continues.]

Rumi: Antum knows my degree?

Disciple: Not very clear, Master.

Rumi: I am just dust on the Al-Mustafa path. But I was lucky as blessed with a little fragrance. Only slightly. Can you smell it?

Disciple: Very, Master.

Rumi: Antum knows who loves Al-Mustafa the most?

Disciple: Uncertain, master.

Rumi: Bilal. After being left by her lover, she was no longer willing to call people for prayer. When the caliph persuaded him he dodged: “Let me become a Muezzin for the Apostle only,” he said. There was no way to force him. Because, if forced, he will only be able to arrive at this part: “waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasulullah“.

[Hearing this the disciple was just stunned, trying to imagine the situation. Seeing the students stay silent, Rumi continued].

Rumi: Antum knows what is most loved and loved by Al-Mustafa?

Disciple: Just a little but uncertain, Master.

Rumi: Mustadhafin[4], and orphans.

Disciple: But …

[The disciple failed to continue his protest because he saw the Master sink into contemplation.]

[1] Antum is a familiar phrase for “you”.

[2] The term bird language (Arabic: mantiq al-thair) is used by holy texts to convey higher truths. The sacred text alludes to Solomon as a prophet who understands this language.

[3] Al-Mustafa (Arabic) means chosen (the chosen one). Rumi used to use this term to refer to the Prophet SAW.

[4] This term refers to marginalized groups in society, including the needy and the poor.

[back to dialog 1]

Dialogue Imaginaire avec Rumi (2)

 

Dialogue 2: La poussière

 

[Regardant par la fenêtre sans expression, Rumi murmure lentement …]

Rumi : Antum reconnaît-il différents chemins?

Un disciple : Juste un peu, Maître.

Rumi : Utilisez les yeux de votre coeur! Antum peut voir beaucoup de chemins là-bas. Il y en a de grands, certains petits. Certaines sont droites, d’autres sont tordues. Certains sont en sécurité, beaucoup sont vulnérables. Il y a même beaucoup de faux chemins là-bas.

[Le disciple se taisait mais préparait son cœur à recevoir les enseignements de son maître. Il sait que son maître aime utiliser un “langage d’oiseau” qui ne peut être compris que par des oreilles de coeur.]

Rumi : Savez-vous que le chemin le plus droit, le plus droit et le plus sûr est le Chemin d’Al-Mustafa.

[Parce que le disciple est juste silencieux alors Rumi continue.]

Rumi: Antum sait mon diplôme?

Un disciple: Pas très clair, Maître.

Rumi: Je ne suis que poussière sur le sentier Al-Mustafa. Mais j’ai eu la chance d’avoir un peu de parfum. Seulement un peu. Pouvez-vous le sentir?

Disciple : Très, Maître.

Rumi : Antum sait qui aime le plus Mustafa?

Disciple : Incertain, maître.

Rumi : Bilal. Après avoir été laissée par son amant, elle ne souhaitait plus appeler les gens pour la prière. Quand le calife l’a convaincu, il a esquivé: “Laissez-moi devenir un muezzin pour l’apôtre uniquement”, a-t-il déclaré. Il n’y avait aucun moyen de le forcer. Parce que, s’il est forcé, il ne pourra arriver qu’à cette partie: “waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasuilullah”.

[En entendant cela, le disciple était stupéfait, essayant d’imaginer la situation. Voyant les étudiants rester silencieux, continua Rumi].

Rumi: Antum sait ce qui est le plus aimé et aimé par Al-Mustafa?

Un disciple : Juste un peu mais incertain, Maître.

Rumi: Mustadhafin et les orphelins.

Disciple : Mais ….

[Le disciple a omis de continuer sa protestation parce qu’il a vu le Maître sombrer dans la contemplation].

[retour au dialogue 1]

 

Dialog Imajiner dengan Rumi (5)

Dialog 5: Makrifat

[Rumi tampak cerah di hari cerah itu. “Petanda baik”, bisik sang murid dalam hati.]

Rumi: Kemarilah, kita berbincang, bawa kopimu!

Murid: Siap, Master.

Murid: Apakah antum mengenal Siti Zahro? [Selanjutnya, Siti.]

[Murid heran dengan pertanyaan ini. “Siapa yang tidak mengenal wanita itu”, membatin. Dia tahu Siti tinggal berjarak ratusan mil dari kompleks Rumi, tetapi “apa arti jarak itu bagi popularitas Siti karena kecantikan paras dan keluhuran budinya”, pikir sang murid.]

Rumi: Begini. Aku baru saja melakukan survei mengenai popularitas Siti di kota ini. Sampelnya empat orang pemuda sebaya denganmu: Asep (A), Budi (B), Cecep (C) dan Dudi (D). Jangan salah, sampel dipilih secara random sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

[Murid makin heran. Masternya melakukan survei? Mengenai popularitas Siti? Master mengenal random? Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan.]

Rumi: Kesimpulan surveiku, Siti ternyata populer di kita ini. Semua, jadi 100%, pemuda yang kuwawancarai mengenal Siti.

[Sang murid tidak kaget dengan hasil “survei” itu dan mulai menduga-duga arah pembicaraan.]

Murid: Bagaimana dengan rincian hasil survei itu, Master.

Rumi: Nah itu baru muridku. Dalam membaca angka statistik kita tidak cukup mengandalkan angka proporsi, rata-rata, atau ukuran kecenderungan nilai tengah lainnya. Variasi jawaban responden perlu diperhitungkan agar bermakna.]

[Sang murid hanya tersenyum. “Dari mana Master belajar statistik”, bisiknya dalam hati.]

Rumi: Hasil survei begini (*):

A: Mengenal Siti dari ibunya yang ternyata bibinya; dia tidak pernah melihat bibinya itu;

B: Pernah berpapasan sekali dengan Siti; baginya Siti murah-senyum;

C: Beberapa kali ke rumahnya bahkan sering disuguhi makanan dan kopi oleh Siti; menurutnya, “Kopi buatan Siti mantap”.

[Karena masternya tiba-tiba berhenti, Murid bertanya.]

Murid: Bagaimana dengan D?

Rumi: Siti ternyata janda D selama tujuh tahun; punya keturunan lagi.

Rumi: Antum tahu arti makrifat?

[“Kok jadi belok begini?”, pikir Murid.]

Murid: Hanya sedikit, Master.

Rumi: Jangan antum kira makrifat itu kata sakral yang dapat dipahami secara ekslusif hanya oleh kalangan elit-khusus”. Sederhananya, kata itu berarti mengenal.

Murid: Tetapi apa hubungannya dengan Siti?

Rumi: Begini. Dengan memahami arti kata itu kita dapat katakan A, B, C dan D sama-sama memiliki makrifat mengenai Siti.

Murid: Benar, Master. Tetapi levelnya berbeda, kan?

Rumi: Nah itu baru muridku. Jadi kita lihat ada tingkatan makrifat: Makrifat Nama, Makrifat Sifat, Makrifat Perbuatan, dan Makrifat Pengalaman. Bagaimana jika kata Siti diganti dengan Tuhan? Ini PR serius untuk antum. Jelasnya, denga menggunakan konteks cerita ini, PR antum adalah berdiam-diri sambil merenungkan arti makrifat kepada Tuhan. Laporkan hasilnya besok pagi, sambil ngopi.

Murid: Siap, Master.

(*) Cerita ini diadaptasi dari Pengajian Al-Hikan Kiai Zezen yang rekamannya dapat diakses di SINI.

 

[Lanjut]

Dialog Imajiner dengan Rumi (4)

Dialog 4: Musuh

[Sang murid merasa aneh-ganda. Pertama, masternya tampak murung padahal biasanya riang. Kedua, kemurungan itu muncul justru ketika masternya baru saja dianugerahi anak yang telah lama didambakannya. Perasaan aneh ini membuat Murid berani bertanya.]

Murid: Master tampak murung. Boleh tahu kenapa?

[Master tak bergeming; sang murid termangu. Tidak memperoleh jawaban, sang murid alih-alih mendengar bacaan-tartil dari  Master yang masih terpejam. “Ah Surat 64 Ayat 14”, bisik sang murid dalam hati.]

Murid: Maaf, apakah Master khawatir  si anak kelak akan menjadi musuh Master?

[Murid menduga demikian berdasarkan ayat yang baru saja diperdengarkan. Mendengar “tuduhan” ini Master menatap sang murid serius.]

Rumi:

(1) Apakah Antum tahu cerita Jenderal A yang pernah mengomandoi selaksa bala tentara kehkahlifahan? Ia jatuh karena ulah anaknya melindungi bandar narkoba;

(2) Apakah Antum tahu kisah Wazir B yang pernah mengdalikan kekuasaan birokrasi kekhalifahan? Ia  terpuruk karena anaknya terbukti sering memalaki sejumlah kementerian-gemuk;

(3) Antum tahu konlomerat C yang sedemikain kaya sehingga kekuasaan uangnya dapat membeli kasus hukum untuk kepentingan jaringan bisnisnya?

Murid: Saya tahu sedikit-sedikit, Master. Bagaimana dengan pengusaha C? Apa yang terjadi?

Rumi: Ia dihukum pancung karena melindungi anak-tunggalnya yang terbukti telah menjual rahasia negara yang sangat sensitif, juga sering kedapatan bermain mata dengan beberapa selir khalifah.

[Setelah jeda sesaat Master melanjutkan.]

Rumi: Itulah ganjaran mereka dunia. Ganjaran di akhirat siapa yang tahu. Kalau Rabb-SWT memberikan azab maka itu pantas karena mereka itu hamba-Nya; kalau Dia mengampuni mereka maka itu bisa saja karena Dia Maha Pengampun[1].

Murid: Tetapi master kan bukan jenderal, pejabat negara atau pengusaha. Saya yakin anak Master tidak akan seperti anak-anak para pembesar itu. Jadi, kekhawatiran Master bagi saya berlebihan.

[Dilihatnya masternya hanya diam si murid melanjutkan.]

Murid: Saya menyaksikan pengajian Master semakin membeludak, halakah zikir Master semakin ramai, dan nasehat Master selalu diperhatikan para penguasa kekhalifahan. Jadi, saya tetap berpendapat kekhawatiran Master mengenai anak berlebihan…

[Murid kaget ketika masternya merespons dengan nada sengit…]

Rumi: Semua yang Engkau kemukakan itu tidak relevan! Engkau kira ayat yang Aku bacakan tadi tidak berlaku bagiku. Engkau kira Aku sanggup mengontrol jiwaku yang sepenuhnya di bawah kendali “jari”-Nya? Bagaimana kalau Dia menyusupkan sifat ria dalam jiwaku ketika aku berdakwah? Bagaimana kalau Dia menyisipkan sifat sok-suci[2] ketika aku memimpin jamaah zikir? Bagaimana kalau Dia menghidupkan dalam diriku sifat gila-hormat ketika menasihati para pembesar kekhalifahan?

[Rumi melanjutkan setelah menarik nafas sesaat, masih sengit.]

Rumi: Engkau ingat ini. Yang relevan adalah kebersihan sumber nafkah keluarga. Jadi, tantangannya adalah memastikan sumber itu terbebas dari jeratan syubhat[3] apalagi haram. Engkau kira ini soal enteng?

[Melihat muridnya diam-menunduk akhirnya Rumi melunak.]

Rumi: Yang penting, renungkanlah ayat yang Aku bacakan tadi. Itu PR-mu. Itu serius.

Murid: Siap, master.

[Sesampainya di rumah Murid membuka mushaf dan mencari ayat yang dimaksudkan oleh masternya. Ia setuju dengan masternya: “ancaman” ayat itu (Quran 64:14) serius:

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

َـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَـٰدِكُمْ عَدُوًّۭا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

Wallahualam bimuradih….@

[1] Quran (5:119).

[2] Sok-suci atau menganggap diri suci (Arab: tuzakku), (Quran 53:32).

[3] Perbuatan yang status hukumnya abu-abu antara halal dan haram.

 

[Lanjut ke Dialog 5]

Dialog Imajiner dengan Rumi (3)

Dialog 3: Konsistensi

Murid: Matster, saya yakin dengan kebenaran teks suci ini: “Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (2:186). Oleh karena itu saya selalu berdoa setiap habis salat khususnya mengenai keluasan rezeki. Tetapi rezekiku begini-begini saja, tetap sempit. Kenapa Master?

Rumi: Insya Allah Dia-SWT akan mengabulkan doamu. Tetapi caranya Dia yang menentukan dan waktunya Dia yang pilih. Demi kebaikanmu. Jadi, tenanglah. Lakukanlah apa yang menjadi bagianmu: terus berdoa.

[Rumi menanap mata Murid dengan lembut, agak lama seolah-olah mau menembus kedalaman hati Muridnya.]

Rumi: Tetapi Antum punya masalah. [Murid kaget mendengar ini.]

Murid: Apakah masalahnya, Master?

Rumi: Jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Tanyakanlah itu padanya.

[Murid berupaya menerka masalah yang dimaksud, tetapi gagal.]

Murid: Maaf, Master. Saya sudah mencoba tetapi buntu.

Rumi: Begini masalahnya:

Antum ingin dekat dengan-Nya tetapi sering mengabaikan seruan azan,

Antum ingin hidup berkah tetapi jarang bersedekah, dan

Antum ingin meneladani Nabi-SAW tetapi tidak memiliki kepekaan mengenai nasib orang lemah dan anak yatim.

[Melihat Murid hanya termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum lebih banyak menuntut hak dari pada memenuhi kewajiban; Antum masih gemar cekcok karena masalah sepele, padahal mengerti arti penting persaudaraan; Antum mengerti hak tetangga, tetapi kerap mengabaikannya.

[Karena Murid masih termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum mohon Ampunan-Nya tetapi berperilaku mengundang murka-Nya, Antum menuntut kebahagiaan akhirat tetapi lebih mendahulukan dunia, Antum mengetahui Dia-Maha-Baik tetapi terus berburuk sangka kepada-Nya.

[Rumi mengakhiri nasihatnya dengan ujaran singkat.]

Rumi: Jadi, masalah Antum tidak konsisten. Dan itu serius. Tetapi Dia Maha Pengampun….]

[Murid termangu menerima pelajaran keras kali ini. Tetapi dia ingat masternya pernah mengatakan” “Truth hurts”; jadi, dia maklum dan menerima secara legowo. “Ternyata dia lebih mengenalku dari pada diriku sendiri”, bisiknya dalam hati. ] 

[Ia menatap wajah lembut dan terkaget ketika terdengar lantunan ayat (Azzumar 53) dari masternya yang matanya terpejam]:

۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dilah yang Mah Pengampun dan Maha Penyayang”.

.

Wallahualam bi muradih…@

[Lanjut ke Dialog 4]

Dialog Imaginer dengan Rumi (2)

Dialog 2: Debu

 

[Sambil memandang ke luar jendela Rumi berkata perlahan…]

Rumi: Apakah antum[1] mengenali jalan-jalan di luar sana?

Murid: Sedikit, Master.

Rumi: Gunakan mata-hati. Antum lihat banyak sekali jalan di sana. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang lurus, ada yang berkelok. Ada yang aman, banyak yang rawan. Bahkan ada yang bertanda kutip: “jalan”.

[Murid hanya diam dan segera menyiapkan telinga-hatinya untuk menerima ajaran pagi ini. Dia maklum Master suka menggunakan “bahasa burung”[2] yang hanya dapat dipahami  melalui telinga-hati.]

Rumi:  Ketahuilah, jalan terbesar, lurus dan teraman adalah jalan Al-Mustafa[3].

[Karena lawan bicara hanya diam maka Rumi melanjutkan.]

Rumi: Antum mengetahui martabatku?

Murid: Samar-samar, Master.

Rumi: Aku adalah debu di jalan Al-Mustafa. Tetapi aku beruntung karena terberkati sedikit wewangiannya. Hanya sedikit. Kau bisa menciumnya?

Murid: Sangat, Master.

Rumi: Antum tahu siapa yang paling mencintai Al-Mustafa?

Murid: Tidak ada ide, Master.

Rumi: Bilal. Setelah ditinggal kekasihnya dia tidak lagi bersedia mengumandangkan azan. Ketika khalifah membujuknya ia mengelak: “Biar aku jadi Muazin Rasul saja”, katanya. Tidak bisa dipaksa. Sebab, jika dipaksa, ia hanya sanggup sampai pada bagian ini:”waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasuilullah”.

[Mendengar ini Si Murid hanya termangu, mencoba membayangkan situasinya. Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan].

Rumi: Antum tahu apa yang paling dicintai dan disayangi Al-Mustafa?

Murid: Samar-samar, Master.

Rumi: Kaum Mustadhafin[4], dan anak-anak yatim.

Murid: Tapi…

[Murid urung melanjutkan protesnya karena dilihatnya Sang Master tenggelam dalam kontemplasi].

 

[1] Arti antum dapat dilihat dalam Dialog 1.

[2] Istilah bahasa burung (Arab: mantiq al-thair) digunakan teks suci untuk menyampaikan kebenaran lebih tinggi, higher truth. Teks suci menyinggung Sulaiman AS sebagai nabi yang memahami bahasa burung dalam pengertian ini. Posting mengenai bahasa burung dapat diakses di SINI.

[3] Al-Mustafa (Arab) artinya yang terpilih (the chosen one). Rumi biasa menggunakan istilah ini untuk merujuk kepada Nabi SAW.

[4] Maksudnya, kelompok masyarakat yang terpinggirkan (marginalized), termasuk kaum fakir-miskin.

 

Sumber Gambar: Google

 

[Lanjut ke Dialog 3]