Struktur Manusia: Gambar Besar

Mengenal diri sendiri

“Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya”. Ungkapan ini menegaskan pentingnya mengenal diri sendiri dalam rangka mengenal Tuhan. Ungkapan ini biasa dianggap sebagai Hadits (ucapan Rasul SAW) yang dikutip oleh Imam Gazali dalam salah satu bukunya. Belakangan para ahli Hadits mengungkapkan bahwa kutipan ini bukan Hadits atau Hadits palsu. Artinya, penelusuran riwayatnya tidak sampai pada Rasul SAW. Secara teknis Ilmu Hadits, ini berarti ada masalah sanad. Para ahli di bidang ini memang terkenal sangat ketat dalam menerapkan metodologi pemeriksaan keabsahan atau tingkat kepercayaan suatu Hadits dengan menelisik rangkaian periwayat dan isinya. (Metodologinya konon diadopsi oleh—atau paling tidak memperngaruhi– para ahli sejarah modern.)

Terlepas dari masalah keabsahan sanad, kandungan makna “Hadits” ini tidak dapat diabaikan. Alasannya antara lain ada ungkapan para ahli agama samawi (jadi bukan hanya Islam) bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra-Nya. Lebih dari itu, bagi Muslim, banyak sekali nash (ayat Quran) yang sejalan ungkapan ini. Nash yang dimaksud terdapat, misalnya, dalam Quran (51:20-21). Nash lain yang terkait secara lebih langsung dapat dilihat dalam Quran (41:53) yang terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.

Misteri Manusia

Sesuatu dikatakan misteri tidak berarti absurd; ia ada tetapi tidak sepenuhnya diketahui oleh manusia, “sesuatu yang sukar atau mustahil diketahui atau dijelaskan” (Google Translate). Manusia adalah misteri karena pengetahuan manusia mengenai dirinya parsial dan tidak total. Upaya untuk mengungkap misteri ini telah berlangsung secara dahulu kala sejak era Yunani Kuno. Walaupun demikian, hasilnya tetap parsial: bagi banyak ahli, pengetahuan manusia mengenai dirinya tidak banyak berubah sejak era Yunani Kuno itu.

Alasan utama “kegagalan” memahami manusia secara total adalah karena struktur manusia memang kompleks. Manusia bukan kera, bukan malaikat, dan pasti bukan Tuhan; walaupun demikian, anehnya, manusia terkait dengan semua ini. Mengenai kompleksitas ini berikut rumusan Browne (1982:9) dalam bukunya Personal Dignity (Philosophical Library, New York) layak disimak:

Apakah manusia adalah kera yang tidak berambut yang mengira dia malaikat dan ingin menjadi tuhan? Kera? Malaikat? Penyandang ke-Ilahiah? Terkait dengan semua hal ini jawabannya tidak sederhana.

Anehnya, secara paradoks, secara misterius, manusia adalah semua ini dan pada saat yang suma bukan salah satunya. Dia bukan seekor kera; namun secara tertentu ya. Ia bukan Malaikat namun memiliki sesuatu yang bersifat kemalaikatan….. Dan ia bukan Tuha n— ini pasti — tetapi dalam kerinduannya yang paling dalam ia tahu bahwa takdirnya yang sesungguhnya, entah bagaimana, terkait dengan kehidupan Tuhan.

Mengatakan manusia itu kera tidak terlalu keliru karena secara biologis manusia maupun kera adalah sama-sama binatang, terpatnya termasuk kerajaan binatang (Inggris: animal kingdom). Inilah definisi biologi mengenai binatang yang manusia termasuk di dalamnya[1]:

Binatang adalah organisme multiseluler yang tidak mampu membuat makanan sendiri. Untuk mengamankan energi yang dibutuhkan untuk hidup, mereka mengandalkan organisme lain seperti tanaman dan fungi. (Animals are multicellular organisms that are unable to make their own food. They rely on eating other organisms, such as plants and fungi, to secure the energy required to survive.)

Definisi ini menegaskan ketergantungan hidup manusia pada makhluk lain. Inilah barangkali salah satu argumen yang meyakinkan mengenai perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Definisi yang sama juga menegaskan bahwa manusia masih satu kelompok dengan binatang yang bertulang-belakang (burung, reptil, ikan, kera, dsb) maupun yang tidak-bertulang-belakang (serangga, ubur-ubur, bunga karang, cacing, dsb). Singkatnya, secara biologis manusia berada dalam satu kelompok dengan binatang sekelas kera atau bahkan cacing.

Naluri Kebinatangan

Bahwa manusia termasuk binatang tercermin dalam ungkapan naluri kebinatangan. Islam mengakui aluri kebinatangan manusia. Sebagai ilustrasi, kecintaan terhadap wanita dan harta diakui sebagai “kecintaan bawaan” (Quran 3:14). Karena naluri ini maka normal jika manusia memiliki nafsu makan dan dorongan berhubungan seksual, misalnya. Tetapi dalam dua kasus ini ada yang “khas” manusiawi:

  • Jika binatang makan sesuai kebutuhan, maka manusia makan sesuai keinginan (kecuali terpaksa).
  • Berbeda dengan bintang yang percaya pada kemurahan alam dalam hal pasokan makanan, manusia merasa waswas kalau tidak memiliki kelebihan sumber daya untuk memastikan pemenuhan keperluan makan untuk sebulan, setahun, seumur hidup, bahkan untuk tujuh turunan.

Karena perasaan waswas semacam ini maka manusia memiliki kecenderungan “memperbanyak harta” dan kecenderungan berlaku semumur hidup sampai mereka “masuk liang kubur” (Quran 102:1-2).

Bagaimana dengan dorongan hubungan seksual? Binatang memiliki nafsu itu ketika sudah musim kawin dan melakukannya sebagai naluri untuk mempertahankan spesies mereka. Apakah manusia mengenal musim kawin dan melakukan hubungan seksual sekadar untuk memeroleh keturunan? Naluri kebinatangan semua itu alamiah bagi manusia sebagai bagian dari dunia binatang. Tugas masyarakat adalah menentukan norma agar naluri kebinatangan anggotanya diekspresikan secara beradab. Demikian halnya, antar lain, fungsi negara dan “fungsi” agama. Terkait dengan masalah makanan, misalnya, agama memerintahkan manusia secara keseluruhan untuk menyantap makanan yang halal dan baik (Quran 2:168) dan kepada orang beriman untuk memakan makanan selain yang baik juga bersyukur (Quran 2:172).

Modern VS Tradisional

Bahwa manusia adalah binatang juga terungkap dalam definisi yang populer bahwa manusia adalah binatang yang berakal. Pertanyaannya: Apakah itu akal? Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan jawabannya mencirikan pandang-dunia (worldview) atau mazhab pemikiran seseorang.

Bagi mazhab Modern, misalnya, akal adalah bagian dari organ jiwa (soul) yang memiliki fungsi yang sama dengan pikiran (mind, reason). Bagi mazhab pemikiran Tradisional[2], pandangan modern ini keliru: bagi mereka, akal tidak identik dengan pikiran dan akal bukan bagian dari jiwa. Sebagai catatan, istilah Tradisional dalam tulisan ini merujuk pada semua mazhab di luar mazhab Modern. Sementara, Mazhab Modern (termasuk Pasca Modern) merujuk pada semua mazhab yang berkembang dimulai dari masa akhir Abad Pertengahan –yang mencakup pemikiran dari Descartes sampai Kant—sampai kini.

Metafora Kerucut

Untuk melihat perbedaan dua mazhab ini dapat digunakan metafora kerucut. Mazhab Tradisional selalu mempertahankan hubungan antara titik puncak kerucut dengan lingkaran yang mendasari kerucut itu. Sebaliknya, Mazhab Modern, dalam bahasa Stoddart (2008:47), “hanya memperhatikan lingkaran dasar kerucut tanpa, atau sedikit, masukan transendental dalam pemikiran mereka”[3].

Yang membedakan mazhab Tradisional dan Modern sebenarnya tidak hanya terkait dengan definisi akal. Perbedaan keduanya sangat mendasar karena menyangkut persepsi mengenai struktur manusia. Bagi mazhab Modern, struktur manusia hanya terdiri dari dua yaitu organ tubuh (body) dan jiwa (soul). Bagi mazhab Tradisional, di atas dua organ itu ada Intelek (Ruh) yang sangat menentukan persepsi kita mengenai manusia. Dalam istilah sehari-hari Ruh dipahami sebagai unsur yang menentukan keberfungsian organ tubuh maupun jiwa: seorang manusia tanpa Ruh berubah status menjadi almarhum atau almarhumah.

Mazhab Modern tidak atau enggan mengakui Ruh sebagai bagian dari struktur manusia. Bagi mereka, Ruh hanya salah satu fungsi dari jiwa dan sesuatu mengenainya hanya dogma dan takhayul (Stoddart, 2008:47).

Model Tradisional

Menurut model Tradisional struktur manusia terdiri dari tiga level: (1) tubuh, (2) jiwa, dan (3). Tabel 1 menyajikan ketiga level itu dalam beberapa bahasa.

Tabel 1: Tiga Level Struktur Manusia
Indonesia Inggris Latin Yunani Arab
Intelek Spirit (Intellect) Spiritus (Intellectus) Pneuma (Nous) Ruh (‘Aql)
Jiwa Soul Anima Psyche Nafs
Tubuh Body Corpus Soma jism
Sumber: William Suddort (2008:46), Remembering in a Word of Forgetting

Level Tubuh (Body)

Dalam level tubuh, bentuk manusia dapat dikenali dengan mudah: tubuh adalah manifestasi formal manusia. Dalam level ini manusia tidak banyak berbeda dengan binatang walaupun bentuknya, istilah teks suci, “paling sempurna” (Quran 95:4). Tetapi dari sisi kehebatan atau kekuatan, dalam banyak kasus, manusia kalah jauh dari binatang. Sebagai contoh, manusia kalah jauh dari cheetah dalam hal kecepatan berlari, dari anjing pelacak atau beruang dalam hal daya penciuman, dan dari elang dalam hal daya penglihatan.

Level Jiwa (Soul)

Seperti halnya manusia, binatang juga memiliki organ jiwa. Level jiwa ini juga termasuk manifestasi formal manusia. Tetapi jiwa bukan unik milik manusia. Sampai taraf tertentu binatang juga memiliki semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran (mind), kehendak (will), imajinasi (imagination), perasaan (sentiment), dan ingatan (memory).

Level Intelek (Intellect)

Berbeda dengan level tubuh dan level jiwa yang termasuk manifestasi formal, level intelek ini tergolong manifestasi supra-formal manusia. Tetapi apa itu intelek? Untuk memperoleh gambaran agak menyeluruh berikut disajikan kutipan Stoddart (2008:45-46) yang mewakili mazhab Tradisional:

Di atas segalanya, intelek adalah fakultas yang memungkinkan manusia memahami Yang Mutlak dan mengetahui Kebenaran. Ini adalah sumber dari kapasitasnya untuk objektivitas, kemampuannya – dalam kontradiksi dari binatang – untuk membebaskan dirinya dari penjara dalam subjektivitas.

Istilah intelek digunakan sebagai terjemahan dari Bahasa Inggris Spirit (Intellect). Istilah Spirit dan Intellect ini mengacu pada substansi yang sama tetapi dengan fungsi yang berbeda. Mengenai ini kutipan berikut layak disimak (Stoddarts, 2008:46).

Intelek dan Roh adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yang pertama berkaitan dengan teori atau doktrinal, dan yang belakangan berkaitan dengan praktis atau realisasi. Mereka berhubungan dengan mode obyektif (atau diskriminatif) dan subyektif (atau unitif) untuk mengetahui.

Seperti tampak pada Tabel 1, istilah intelek dalam Bahasa Arab adalah Ruh (‘Aqal). Mengenai Ruh tidak banyak yang dapat dikatakan karena Dia SWT hanya memberikan sedikit ilmu mengenainya (Quran 17:85). Tetapi mengenai ‘aqal, banyak teks suci yang menyinggungnya dalam berbagai konteks.

Dalam konteks tulisan ini, istilah lain yang relevan untuk disisipkan adalah ulul albab yang biasanya diterjemahkan sebagai “orang yang berakal”. Teks suci menggunakan istilah ulul albab untuk merujuk pada orang memiliki kemampuan berpikir (aktivitas nalar) tetapi juga berzikir (aktivitas hati). Hal ini tersirat dalam kutipan teks suci berikut:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (teks: ulul albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allalh sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bum (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka (Quran, 3:190-191).

Dari terjemahan di atas jelas bahwa akal lebih luas atau melampaui pikiran.

Nestapa Dunia Modern

Seperti disinggung sebelumnya, mazhab Modern enggan atau menolak mengakui keberadaannya oleh mazhab modern. Hal ini sengaja dikondisikan agar sesuai dengan arus utama mazhab modern yang pada dasarnya menganggap segala sesuatu yang bersifat ilahiah tidak relevan bagi kehidupan manusia. Dugaan ini membawa dampak sangat luas dan mendalam bagi arus utama alam pikir dunia modern yang menurut mazhab Tradisional, telah menyebabkan kekacauan dan kerusakan yang “tidak terhitung” (incalculable). Mazhab ini menunjuk hidung Jung sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab. “Jung, tidak seperti Freud dianggap sebagai ramah terhadap agama! Ini adalah contoh klasik “serigala berbaju domba”” (Stoddart, 2008:47)

Keengganan atau penolakan ini menyebabkan mereka menyederhanakan kata intelek sebagai sekadar fungsi pikiran (mind, reason). Hal ini terlihat antara lain dalam dari definisi intelek yang menurut Google translate: “fakultas penalaran dan pemahaman secara obyektif”. (Bandingkan ini dengan definisi intelek dalam kutipan sebelumnya.)

Keengganan atau penolakan ini juga telah menjadi akar pemicu nestapa dunia modern yang “aneh”: merasa asing di tengah keramaian, kehilangan sensibilitas rasa kekaguman (sense of wonder), rasa kesucian (sense of holy), dan rasa keterpusatan (sense of center), dan dahaga hebat tetapi tidak mengetahui dahaga akan apa (thirst for what?), dan sebagainya. Wallahualam….@

[1] https://basicbiology.net/biology-101/tree-of-life

[2] Arti Tradisonal (dengan huruf T besar) dan tradisional (dengan huruf t kecil) berbeda. Mengenai hal ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/18/beda-tradisi_tradisi/.

[3] William Stoddart, Remembering in a Word of Forgetting, World Wisdom.

 

Advertisements

Beda Antara tradisi dan Tradisi

Sumber Gambar: Google

Dulu ada iklan biskuit yang menutup iklannya dengan dua kata: “Sudah Tradisi”. Ini iklan bagus paling tidak karena dua hal. Pertama, dari sisi bahasa, kombinasi dua kata itu efektif dalam menyampaikan pesan panjang: “Biskuit ini enak lho. Kami sekeluarga, dari generasi ke generasi, sudah mengonsumsi biskuit ini”. Kedua, entah disadari atau tidak oleh perancangnya, penggunaan kata tradisi dalam konteks ini, membantu menetralkan konotasi negatif kata tradisi.

Sebagaimana dipahami secara umum, kata tradisi mengesankan semacam ketertinggalan, kebodohan, kesederhanaan, dan statis. Kesan ini jelas jika disandingkan dengan lawan katanya yaitu modern yang memberikan kesan sebaliknya: kemajuan, kecerdasan, kecanggihan, dan dinamis. Demikianlah pengertian umum mengenai tradisi. Melanjutkan sukses iklan biskuit itu, tulisan singkat ini dimaksudkan untuk menetralkan konotasi negatif kata tradisi, serta menunjukkan bahwa pengertian umum mengenai kata ini terlalu sederhana dan bahkan sampai taraf tertentu menyesatkan.

Definisi, Asal Kata dan Makna Tradisi

Kamus Webster[1] mendefinisikan tradisi sebagai “tubuh pengetahuan, kebiasaan, dan sebagainya yang ditransmisikan antar generasi” (“the body of knowledge, custom, etc. transmitted down through generations”). Termasuk ‘dan sebagainya’ dalam definisi ini adalah unsur-unsur budaya non-material mode berpikir, kepercayaan, gaya hidup atau filsafat. Secara etimologis kata ini berasal dari bahasa Latin trãdere yang antara lain berarti menyerahkan (hand over) dan mengirimkan (to deliver)[2]. Jadi, penekanannya terletak pada transmisi, bukan pada antar generasi.

Dilihat dari kandungan maknanya, tradisi (dengan huruf kecil t) dapat dibedakan dengan Tradisi (dengan huruf t besar). Seperti yang dikemukakan Lakhani[3], jika tradisi terkait dengan etiket (custom), kebiasaan (habit) atau suatu cara konvensional dalam melakukan atau melihat sesuatu, maka Tradisi terkait dengan cara pandang dunia (worldviewatau keberadaan (a way of being). Selain itu, tradisi berbicara mengenai masa lalu yang bersifat konvensional, atau mengenai cara umum yang dapat diterima. Ini berbeda dengan Tradisi yang berbicara mengenai sesuatu yang Nir-waktu (timeless) dan Kebenaran (dengan huruf besar K).

Untuk mendalami makna tradisi lebih jauh, berikut disajikan pandangan beberapa tokoh tradisionalisme. Istilah tradisionalisme di sini digunakan untuk merujuk pada mazhab pemikiran yang fokusnya adalah adalah Kebenaran (dengan huruf besar K) atau Truth (dengan huruf besar T). Bagi mazhab ini Kebenaran itu Mutlak (Inggris: the Absoulte), nir-waktu (Inggris: perennial) dan universal dalam arti berlaku pada atau mendasari semua agama dan tradisi yang autentik. Dalam istilah kesufian, istilah kebenaran semacam ini dikenal dengan kebijaksanaan-abadi (Arab: hikmah al-khalidiyyah).

Yang perlu dicatat adalah bahwa mazhab ini oleh penganutnya ditegaskan bukan agama dan mereka malah mengklaim kebanaran ini hanya dapat didekati melalui praktik keagamaan agama-agama atau tradisi yang autentik. Yang juga perlu dicatat adalah bahwa mazhab ini sangat konsisten menantang peradaban modern yang mereka nilai melalaikan nilai-nilai kesucian.

Pandangan Mazhab Tradisional

Dua tokok utama mazhab tradisionalisme yang diakui secra luas adalah Coomaraswamy dan Guenon. Pandangan mereka mengenai tradisi terwakili dalam kutipan Lakhani berikut:

Tradisi tidak ada hubungannya dengan “usia”, apakah “gelap”, “purba”, atau sebaliknya. Tradisi mewakili doktrin tentang prinsip-prinsip pertama, yang tidak berubah. (Tradition has nothing to do with “ages”, whether “dark”, “primeval”, or otherwise. Tradition represents doctrine about first principles, which do not change) [Ananda K. Coomaraswamy, Correspondence, 1946]

. … tidak ada yang benar-benar tradisional yang tidak mengandung beberapa elemen atau tatanan super-manusia. Ini titik mendasar karena mencakup inti definisi tradisi apa adanya dan semua yang berkaitan dengannya. ( there is nothing and can be nothing truly traditional that does not contain some element or super-human order. This indeed is the essential point, containing as it were the very definition of tradition and all that appertains to it) [René Guénon, The Reign of Quantity.]

Dari kutipan di atas tampak Coomaraswamy mengaitkan tradisi dengan prinsip-prinsip pertama yang tidak berubah sementara Guenon dengan tatanan super-manusiawi. Guenon tidak menjelaskan istilah ini tetapi para penerusnya di kemudian hari mengungkapkannya secara lebih eksplisit dan mengaitkan tradisi dengan akar atau sumber ilahiah (divine source).

Pandangan dua tokoh di atas menyiratkan pentingnya upaya redefinisi kata tradisi. Hal ini sering ditegaskan oleh Nasr, juga seorang tokoh utama mazhab ini, dalam berbagai kesempatan. Bagi Nasr (1997: 74-75)[4], tradisi atau ajaran tradisional memilik makna luas dan mendalam:

  • semacam kompensasi kosmik, karunia dari Tahta Ilahi yang merahmati,
  • pernyataan kembali Kebenaran yang menggambarkan setiap pusat dan esensi tradisi.
  • respons terhadap Kesucian yang merupakan awal dan akhir kehidupan manusia,
  • “obat” bagi kerentanan malapetaka kelalaian manusia modern mengenai kesucian, dan
  • “seperti rekapitulasi semua kebenaran yang dimanifestasikan dalam peredaran sejarah manusia yang ada…”.

Schuon: Kritik terhadap Peradaban Modern

Mengutip tokoh-tokoh mazhab tradisionalisme agaknya belum sempurna sebelum mengutip tokohnya yang paling utama daei mazhab ini yaitu Schuon. Dalam konteks ketokohan mazhab ini menarik untuk disipkan pandangan Azevedo mengeai Guenon dan Schuon: “Guénon was the pioneer and Schuon the consummation; Guénon was like a river and Scuon like an ocean— so profound and diversified are metaphysical doctrines which he expounded[5].

Pandangan Schuon mengenai tradisi dapat dirujuk salah satu bukunya The Play of Masks (1991)[6]. Untuk memperoleh gambaran gambaran isi buku ini terkait dengan tradisi berikut disajikan kutipan Valodia yang agak panjang (terjemahan bebas penulis):

Tradisi berbicara kepada setiap orang menggunakan bahasa yang dia bisa mengerti asalkan mau mendengarkan; jaminan ini sangat penting, karena tradisi, kita ulangi, tidak bisa bangkrut, yang bangkrut adalah manusia karena telah kehilangan intuisi dari supranatural dan perasaan kudus. Kutipan di atas menegaskan ‘daya tahan’ Tradisi dan ‘kebangkrutan’ manusia karena kehilangan intuisi terhadap supernatural dan rasa kudus, intuisi yang dibutuhkan untuk memahami Tradisi secara proporsional.

Yang terakhir ini jelas merupakan kritik tajam terhadap pandang-dunia dari peradaban ‘modern’ masa kini. Kritik ini lebih jelas dalam lanjutan kutipan berikut:

Manusia telah membiarkan dirinya tergoda oleh penemuan dan invensi suatu pengetahuan totaliter yang tidak valid, yaitu ilmu yang tidak mengakui batas-batas sendiri dan karenanya tidak menyadari apa yang ada di belakang mereka. Terpesona dengan fenomena ilmiah serta kesimpulan yang salah yang diambil dari pengetahuan itu [otoriter dan tidak valid-], manusia akhirnya tenggelam dalam kreasi sendiri sehingga tidak siap untuk menyadari bahwa pesan tradisional ini terletak di tingkat yang sama sekali berbeda; dan betapa banyaknya tingkat (yang berbeda) ini.

Dalam lanjutan kutipannya Schuon mengkritik saintisme (Inggris: scientism) sebagai pemicu pandang-dunia yang cenderung menghindari yang Absolut. Manusia membiarkan dirinya mudah terpesona oleh temuan ilmu pengetahuan totaliter dan tidak valid karena saintisme memberi mereka semua alasan yang ingin dicari pembenaran keterikatan terhadap dunia tampilan dan dengan demikian menjauh dari kehadiran Mutlak dalam bentuk apa pun.

Penutup

Demikianlah keluasan dan kedalaman makna tradisi menurut pandangan mazhab tradisionalisme. Kebenaran yang dibicarakan oleh mazhab ini agaknya sejalan dengan semangat istilah qurani addin hanifa dan dînul qayyim (Quran 30:30):

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) (teks: addin hanif); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus (teks: addinul qayyim), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Wallâhualam bimurâdih …..@

[1] The New International Webster’s Dictionary of the English Language, New Revised Edition, 2002.

[2] http://www.answers.com/topic/tradition.

[3] M. Ali Lakhani; http://www.sacredweb.com\online_articles\sw9_editorial.html.

[4] Sayyed Hossein Nasr, 1997, Pengetahuan dan Kesucian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

[5] Soares de Azevedo, “Frithjof Schuon and Sri Ramana Maharshi: A survey of the spiritual masters of the 20th century”, http://www.sacred web\online_articels\sw10_azevedo.html.

[6] Terbitan Bloomington, World Wisf

 

om Book.

 

Menjadi Guru dan Murid yang Baik

Suka atau tidak, kita selalu memainkan peran guru sekaligus murid, paling tidak guru bagi anak-cucu dan murid dari para cerdik-cendekia yang masyhur. Karena kita tidak pernah sempurna maka upaya untuk menjadi guru dan murid yang baik merupakan tugas seumur hidup. Tulisan ini menyajikan catatan singkat mengenai upaya ke arah ini dengan menengok sejarah komunitas Muslim awal yang memang diberkati, khas dan unik[1]. Sebelumnya, demi kejelasan, berikut ini disajikan tinjauan sepintas mengenai arti dan fungsi guru.

Arti dan Fungsi Guru

Guru secara umum didefinisikan sebagai pribadi yang layak digugu dan ditiru atau diteladani. Oleh siapa? Oleh orang yang berguru atau murid. Gugu (Jawa) artinya mempercayai, menuruti, dan mengindahkan[2]. Jadi digugu artinya dipercaya, dituruti dan diindahkan. Sementara aspek gugu lebih terkait dengan unsur materi ilmu, aspek tiru dengan keteladanan.

Dalam definisi ini jelas unsur kepercayaan (Inggris: trust, Arab: amanah) sangat penting, kalau tidak paling penting. Seorang guru yang baik, dengan demikian, selain dituntut untuk menguasai materi ajar-didik serta teknik penyampaiannya, juga diwajibkan berperilaku yang layak dipercaya (Inggris: tustworthy, Arab: amin).

Dari sisi profesionalitas, fungsi guru mencakup fungsi-fungsi dosen, pembimbing, teladan, mentor, pelatih (coach), konsultan, dan sebagainya. Fungsi-fungsi ini tentu saja lebih menitik beratkan aspek gugu dari pada tiru. Dalam hal kredibilitas guru tentu beragam: ada yang layak digugu sekaligus ditiru semua ilmu dan perilakunya, ada layak digugu dan ditiru sebagian perilakunya, ada pula yang hanya dapat digugu tetapi tetapi layak ditiru. Dalam konteks ini murid yang baik dituntut memiliki daya kritis dan kreativitas.

Guru dan Murid Terbaik

Tetapi siapa guru dan murid terbaik? Menurut Matta (2010:30) murid terbaik adalah Nabi SAW dan murid terbaik adalah para sahabatnya:

Tidak ada guru sehebat nabi Muhammad Saw dan tidak ada murid sehebat sahabat radiallaahuanhum. Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat baik generasi pertamanya itu. Nabi sebagai guru terbaik tidak berkata-kata, bersikap dan bertindak kecuali dengan bimbingan dari Allah Swt. Sedangkan para sahabat mengisi hari-harinya selama dua puluh tahun dengan semua keteladanan gurunya itu secara kreatif dan independen.

Dari kutipan di atas tampak bahwa Nabi SAW menjadi guru terbaik karena dibimbing Rabb SWT dan sahabat menjadi murid terbaik karena meneladani Nabi SAW.

Bimbingan Rabb SWT menyebabkan Nabi SAW terbebas dari kesalahan (Arab: maksum), paling tidak demikianlah menurut keyakinan Muslim. Materi bimbingan-Nya sangat beragam. Nabi SAW dibimbing Rabb SWT, sebagai ilustrasi, soal identitas keagamaan terkait dengan Ahli Kitab. Dalam hal ini Rabb SWT menegaskan adanya bidang kesamaan (Arab: kalimatun sawa) antara Islam dengan dua agama samawi lainnya (Yahudi dan Kristen). Pada saat yang ditegaskan mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk Yahudi dan Nasrani dan mengenai perbedaan orientasi keagamaan (teks: qiblah) dengan kedua pemeluk agama ini. Nabi SAW diingatkan mengenai perlunya ajakan untuk kembali kepada bidang kesamaan ketika berdialog dengan mereka, sekaligus diingatkan mengenai sia-sianya memaksakan kesamaan orientasi keagamaan (lihat Quran 2:145).

Bimbingan Rabb SWT tidak hanya terbatas pada urusan keimanan tetapi juga menyangkut perilaku beliau sebagaimana tersirat dalam dua peristiwa berikut:

  • Ketika Nabi SAW mengharamkan madu untuk dirinya akibat provokasi beberapa istrinya yang “cemburu”, Rabb SWT langsung menegur beliau melalui ayat ke-1 Surat At-Tahrim (ke-66). Surat ini juga mengingatkan kedudukan khusus istri Nabi SAW dan ancaman khusus (berlipat ganda) bagi mereka jika melakukan maksiat kepada Nabi SAW.
  • Ketika didatangi secara tiba-tiba oleh salah seorang sahabat yang buta dan menanyakan soal agama Nabi SAW sempat bermuka asam. Dalam ukuran normal sikap ini manusiawi karena ketika itu Nabi SAW tengah berada dalam suatu forum penting (high level meeting) dengan petinggi Kaum Quraisy dalam upaya untuk mengislamkan mereka. Tetapi dalam pandangan Rabb SWT sikap itu tercela sehingga Nabi SAW memperoleh teguran keras melalui Surat ‘Abasa (ke-80).

Nabi SAW bahkan dibimbing soal menggunakan kata-kata yang tepat (Arab: qaulan sadida, Quran 33:70) ketika berdakwah dan kata-kata yang halus tetapi tajam ketika berdebat (Arab: qaulan layyinan, Quran 20: 44). Yang terakhir ini dicontohkan melalui dialog antara Nabi Musa AS dan Fir’aun yang dinarasikan secara lugas oleh Natsir (2008:212-3).

Singkatnya, Nabi SAW memperoleh bimbingan Rabb SWT dalam semua bidang kehidupan Bimbingan itulah yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik.

Sebenarnya ada faktor lain yang membuat Nabi SAW menjadi guru terbaik. Faktor itu adalah kemampuannya membangun “hubungan rasa” (meminjam istilah Natsir, terjemahan dari mawaddah fil qurba) antara beliau sebagai pembawa Risalah Islam dan Umat sebagai sasaran Risalah itu.

Jika Nabi SAW guru terbaik maka sahabat adalah terbaik karena “meneladani” Nabi SAW sebagaimana terlihat dalam kutip Matta di atas. Kata “meneladani alam konteks ini sebenarnya terlalu sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari di era Rasul SAW sering turun Wahyu yang berisi pendidikan bagi para sahabat bahkan menjadikan mereka sebagai lawan bicara (Arab: mukhatabah). Mereka “diajari” oleh wahyu menegani hakikat dan penyebab kemenangan dan kekalahan mereka dalam Perang Badar dan Uhud, misalnya. Jadi, para sahabat dalam bebrapa hal dapat dikatakan memperoleh bimbingan Wahyu, tidak hanya meneladani Rasul SAW[3].

Bidang dan Materi Pendidikan

Sistem yang hebat membutuhkan manusia yang hebat. Sistem yang hebat tidak akan terwujud tanpa dukungan manusia hebat. “Hukum” sosial ini yang agaknya sangat dihayati oleh Nabi SAW. Oleh karena itu beliau mencurahkan perhatian yang sangat serius pada bidang pendidikan komunitas Muslim. Kebijaksanaan beliau membebaskan tahanan perang dengan cara mengajarkan baca-tulis kepada Komunitas itu mencerminkan besarnya perhatian itu.

Bidang pendidikan (tarbiyah) yang diajarkan Nabi SAW sangat luas. Luasnya bidang itu mungkin yang tercermin dari apa yang menjadi bidang keprihatinan  seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (lahir di Damaskus 691H). Bidang itu dirangkum oleh Hasan bin Ali al-Hijaz sebagaimana dikutip Matta (2010: 30-36: keimanan (taribyah Imaniayah), ruhiyah (ruh), fikriyah (pikiran), athifiah (persaan), akhlak (khuluqiyah), kemasyarakatan (ijtimaiyah), cita-cita (iradiyah), jasmani, dan seks (jinsiyah).

Dalam bahasa populer, apa saja yang materi bimbingan Nabi SAW kepada para sahabat?

Secara umum dapat dikatakan … mencakup semua aspek dan makna kehidupan: kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan bertetangga, kehidupan bermasyarakat, makna dan tujuan hidup, keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Allah SWT dengan hubungan horizontal antar sesama, nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai ilmu, dan nilai keindahan. Quran mengajarkan semua materi itu Nabi SAW menjelaskan lebih lanjut dan bahkan mencontohkannya[4].

Daftar materi itu cukup lengkap untuk dijadikan modal membangun peradaban luhur (high civilization) sebagaimana dibuktikan dalam panggung sejerah oleh komunitas Muslim pasca generasi sahabat.

Sikap Kritis dan Pintu Ijtihad

Kembali kepada kutipan Matta di atas. Yang menarik untuk disimak ungkapan “kreatif dan independen” dalam kalimat terakhir. Tidak diketahui persis maksud ungkapan ini. Walaupun demikian dapat diduga ini terkait dengan daya kritis para sahabat mengenai masalah-maslah teknis operasional bidang muamalah (non-ibadah) dan di luar masalah keimanan. Artinya, para sahabat memiliki kemampuan untuk dapat membedakan ucapan dan perilaku Nabi SAW yang berasal dari bimbingan Rabb SWT dan mana yang bersifat perilaku pribadi.

Mengenai sifat kritis ini dapat dirujuk kasus Prang Parit (627) dan Perjanjian Hudaibiyah (628). Dalam kasus pertama Nabi SAW berpendapat untuk menyerang musuh di luar Kota Madinah. Pendapat ini bersifat pribadi sehingga dikoreksi oleh Salman Al-Farisi yang menyarankan untuk bertahan dalam Kota dengan cara menggali parit. Dalam kasus kedua, Umar RA protes berat karena menganggap perjanjian itu sangat merugikan Madinah. Bagaimana tidak merugikan karena dalam perjanjian itu ada klausul untuk mengembalikan orang Mekah yang pindah ke Madinah tetapi membiarkan orang Madinah yang pindah ke Mekah. Umar RA pada akhirnya menatai perjanjian itu setelah ditegaskan bahwa isi perjanjian itu berdasarkan Wahyu.

Dalam konteks lain, ilustrasi sikap kritis, “kreatif serta independen” seorang murid dicontohkan oleh Aristoteles (484-322 SM) dan Imam Syafii RA (767-819). Mereka sangat patuh dan menghormati guru mereka– Plato (424/3-348/7 SM) dan Imam Malik (711-795)– tetapi tetap bersikat kritis dan independen. Sikap ini yang memampukan mereka mengembangkan mazhab atau sistem pemikiran sendiri yang berbeda secara signifikan dengan mazhab guru mereka.

Sikap kritis ini diperlukan untuk membuka pintu ijtihad– “Mata Air Peradaban” menurut istilah istilah Matta (2010:41)– di bidang peradaban yang jelas-jelas tidak diatur dalam sumber primer (Wahyu-Sunnah). Penggunaan ijtihad sebagai sumber pengambilan hukum diberkati Nabi SAW (HR Abu Daud dan Tirmidzi). Ijtihad tentu mensyaratkan pemahaman agama yang mendalam, tafaqquh fid din, istilah Natsir (2008:165).

Singkatnya, sahabat sebagai “murid yang terbaik” Nabi SAW memiliki sikap kritis. Mereka mengisi supra-struktur Negara Madinah yang sistemnya adalah Islam (istilah Matta). Negara ini memiliki struktur layaknya suatu negara: tanah (Kota Madinah), jaringan sosial (persaudaraan Kaum Muhajirin dan Ansar) dan nota kesepakatan yang mengatur hubungan hidup bersama semua komponen masyarakat Madinah (Konstitusi Madinah). Tetapi bahan dasarnya adalah Islam dan Muslim: Islam sebagai sistem yang given dan Muslim yang mengoperasionalkan sistem itu. Sikap kritis memampukan mereka berijtihad sehingga membuat sistem itu berkibar dalam panggung sejarah.

Wallahualam….@

Referensi

Matta, M.H. Anis (2010), Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani.

Natsir, M. (2008), Fiqhud Da’wah, Cerkan XIII, Yayasan Cipta Selecta dan Media Da’wah.

[1] Mengenai keunikan komunitas ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[2] https://www.kamusbesar.com/gugu

[3] Uraian lebih lanjut dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

[4] https://uzairsuhaimi.blog/2018/10/02/3841/

Agus Sang PNS

jibril1

Agus menatapi paras Si-kecil (6 bulan) yang tengah tidur lelap di samping putri sulungnya (3  tahun) yang juga lelap. Sore tadi Si-kecil terpapar demam yang mencemaskan. Ibunya dengan sigap membawanya ke dokter spesialis swasta yang bagi Agus bertarif terlalu mahal. Buktinya semalam ia mengeluarkan sepertiga honor bulanannya untuk sang dokter. Tetapi dalam hal dokter ini istrinya fanatik sehingga Agus hanya bisa mengurut dada. “Urusan kesehatan anak kok coba-coba”, argumen istrinya ketika Agus menyarankan untuk mencoba dokter umum atau Puskesmas. Di dua jenis pelayanan ini Agus dapat memanfaatkan BJPS Kesehatan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya berarti.

“Sudah turun panasnya”.

Agus kaget mendengar suara istrinya yang dikira masih di belakang. Tetapi dia lega melihat istri terkesan lega.

“Jam tiga tadi dia baru tidur”, lanjut istrinya.

Agus membayangkan istrinya bergadang dan mungkin juga menggendong si kecil sesekali. Ia tidak tahu persis karena lagi “pisah ranjang”. Maksudnya, akhir-akhir ini dia biasa tidur di ranjang terpisah, bahkan di kamar berbeda.

Paling tidak ada empat alasan kenapa dia pisah ranjang. Pertama, Agus sering menerima telepon malam hari soal pekerjaan kantor dari atasan langsungnya, seorang ibu separuh baya yang terkenal taft. Agus tidak keberatan karena menganggapnya sebagai risiko kerja. Kedua, dia terkadang bangun malam untuk salat sunat yang dikhawatirkan mengganggu tidur istri dan anak-anaknya. Ketiga, ranjang di kamar tidur utama terlalu sempit untuk empat kepala. Keempat, istrinya tidak keberatan.

Setelah pamit kepada istri Agus dengan tenang mengendarai motor menuju stasiun KA terdekat. “Paling menelepon ibunya”, pikir Agus ketika mengantisipasi istrinya repot karena sakitnya di-kecil. Dia merasa beruntung punya mertua yang masih cekatan, memiliki waktu bebas setelah suaminya (mantan pejabat satu BUMN) meninggal, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan sayang cucu. “Sayang berlebihan”, pikir Agus.

Menekan Pengeluaran

“Masih pagi”, pikir Agus ketika melihat jam dinding stasiun KA masih merujuk pada angka 5.30. Dia terbiasa memanfaatkan Commuter Line pada jam ini menuju kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Pagi ini ia beruntung berkesempatan duduk.

Sambil menikmati duduk dengan mata terpejam-agak-kantuk ia membayangkan paras si-kecil yang tadi sempat ditatapnya. Diam-diam dia berdoa agar si-kecil dikaruniai nikmat kesehatan. Harapannya, anak-anaknya tidak perlu terlalu sering ke dokter spesialis swasta yang mahal. “Naluri protektif keibuan yang berlebihan”, bisiknya dalam hati menilai istrinya.

Bagi Agus yang bergelar S2 dan sudah berkarier sebagai PNS hampir 10 tahun membayar dokter spesialis anak identik dengan pengurangan signifikan tabungannya yang tipis. Tahun ini, tabungannya menipis drastis karena dua macam pengeluaran: (1) biaya kelahiran si-kecil, dan (2) donasi sukarela biaya kuliah keponakan yang sudah yatim sejak usia SD. Yang terakhir ini jumlahnya lumayan besar tetapi dilakukan antara lain karena dorongan istri. Dalam hal kepekaan sosial istrinya layak diacungi jempol.

Walaupun tabungannya tipis Agus masih berharap tahun depan mampu menunaikan zakat. Tahun ini, untuk pertama kali dalam 5 tahun terakhir, ia tidak berzakat karena tabungannya di akhir waktu penghitungan tidak memenuhi nisab atau batas minimal untuk berkewajiban zakat.

Jam masih menunjukkan pukul 6.35 ketika Agus turun dari kereta di stasiun terakhir dan segera menyusuri trotoar jalan kaki ke kantor yang masih dalam rentang walking distance.

Kebiasaan jalan kaki dari stasiun terakhir ke kantor sudah dimulai setahun lalu. (Kebiasaan sebelumnya ngojeg.) Bagi Agus ini bagian upayanya untuk menekan pengeluaran. Upaya lainnya termasuk beberapa jenis pengurangan frekuensi: (1) frekuensi minum jus sirsak yang merupakan hobi beratnya, (2) frekuensi mentraktir istri makan bakso, dan (3) frekuensi menikmati double espresso di Starbucks Coffee yang juga merupakan hobi beratnya.

Menyempurnakan Tugas

Ketika memasuki ruang kerjanya dan baru menyalakan komputer Agus dipanggil menghadap Bos (besar). Ia segera melapor singkat ke atasan langsungnya. Kebetulan ia berada di kantor padahal pada jam itu bisanya belum hadir karena kesibukan luar. Agus melapor ke Ibu karena tahu itulah etika dan prosedur standar kantor.

Ketika menghadap Bos dia memperoleh  perintah singkat: “Ihsan, Bapak lusa akan menghadiri rapat antar-kementerian bertemakan B di Kementerian A. Kamu siapkan bahannya. Besok jam 8 sudah siap ya”. Agus merespons, “Siap Pak”. “Mohon izin bertanya Pak. Nama saya Agus, bukan Ihsan. Apa Bapak tidak salah panggil”.  Bos menjawab: “Oh tidak, tidak. Yang Bapak maksud memang kamu, tadi hanya salah sebut nama. Tadi pagi Bapak baru baca artikel bagus mengenai Ihsan, jadi keceplosan memanggilmu Ihsan”.

Agus lega mendengar penjelasan Bos. Sambil menuju ruang kerjanya ia mulai membayangkan rencana kerja untuk menyelesaikan tugas barunya ini. Sebelum mulai mengerjakannya ia melapor ke Ibu yang kali ini berbaik hati memberikan arahan singkat: “Untuk keperluan Bos kamu cukup menyiapkan pointers dan catatan ringkas, jangan bertele-tele”. “Siap Bu”, respons Ahmad.

Setelah melapor Agus langsung googling mencari informasi yang relevan mengenai Kementerian A dan Tema B. Maklum dia merasa awam soal keduanya. Ia menghabiskan sekitar satu jam untuk kegiatan ini sebelum akhirnya merasa memiliki bahan cukup.

Selesai googling dia mulai menyusun pointers sesuai arahan Ibu dan menggunakan waktu 90 menit untuk menyelesaikannya. Ia segera melapor ke Ibu yang menerimanya datar-datar saja. Ibu sempat memberikan sedikit koreksi walaupun kebanyakan (seperti biasanya) trivial, tidak substantif. Ia kembali ke komputernya untuk mengakomodasikan arahan Ibu walaupun menyadari sudah kehilangan sepertiga waktu istirahatnya.

Ketika menuntaskan pointers (dalam Words) sebenarnya ia telah menyelesaikan tugasnya menurut ukuran normal kantornya. Walaupun demikian ia merasa yang dilakukannya belum sempurna dan berniat untuk menyiapkan versi Power Point setelah makan siang. Dia bermaksud mengonsultasikan dengan Ibu mengenai idenya ini tetapi yang bersangkutan sudah keluar. “Tidak akan kembali sampai besok pagi”, kata sekretarisnya.

Ia melanjutnya niatnya menyiapkan Power Point yang dilengkapi logo kantor dan aksesori sederhana tetapi apik: “Biar besok pagi dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya.

Usai menyelesaikan Power Point Agus masih belum puas. (Ia terkenal kreatif dan sedikit perfectionist.) Ia dapat membayangkan dalam rapat nanti Bos memiliki peluang memberikan sumbangan pikiran substantif. Agus meyakini kantornya memiliki ladang subur untuk menanam kebaikan bagi kepentingan masyarakat luas. Keyakinan ini yang selalu menyalakan semangatnya mengabdi sepenuh hati.

Didorong oleh pikiran ini ia berpikir untuk menyiapkan artikel singkat sebagai pelengkap Power Point: “Biar besok pagi hasilnya dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Ia mulai menggarap artikel itu walaupun tidak selancar dugaannya. Penulisan artikel ternyata perlu diselingi googling untuk memperoleh evidence-based yang kuat dan argumen yang meyakinkan untuk menghasilkan artikel kredibel. Ia menyadari Bos-nya yang menyandang gelar PhD itu akrab dengan model artikel ilmiah.

Agus menyelesaikan artikelnya satu jam setelah jam-pulang-kantor sehingga harus berdesak-ria dalam kereta. ia tidak keberatan dengan situasi tidak nyaman itu karena menyadari sudah menjadi risiko kerja. Sebelum pulang ia sempat mem-print artikelnya. Niatnya, malam nanti kan memeriksa artikel agar lebih sempurna.

Paginya dia bersyukur memeriksa artikel karena ternyata masih mengandung beberapa kekurangan. Dia berangkat kerja lebih pagi untuk menyelesaikan penyempurnaan yang ternyata hanya butuh waktu 15 menit. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini waktu menunjukkan pukul 7.30. “Masih ada waktu mengonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Sayangnya yang bersangkutan belum ada di kantor. Ia menunggu sampai sekretaris menginformasikan Ibu baru siang nanti di kantor. Karena informasi ini ia menyerahkan seluruh hasil kerjanya langsung ke Bos karena sudah mendekati tenggang waktu yang diberikan.

Sabar, sabar

Setelah menyerahkan tugas ia merasa lega dan berniat untuk santai sejenak. Niatnya urung: ia dipanggil Ibu yang baru tiba dan di luar dugaan marah berat karena merasa dilangkahi: “Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja ke Bos sebelum Aku periksa?, dst., dst., ..,,” Agus sempat terenyak dan hampir marah. Tetapi segera menyadari ia tengah berhadap dengan atasan. Amarahnya pun segera mereda: “Ya Bu”, responsnya pendek. Dengan lunglai ia kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya sempat terpikir oleh Agus bagaimana dirinya sering diperlakukan tidak adil oleh Ibu. Dua teman seangkatannya yang juga anak buah Ibu memperoleh promosi jabatan dua tahun lalu padahal “kinerjanya biasa-biasa saja” menurut teman sejawat. Tetapi Agus segera menyadari pikirannya itu berasal dari Setan sehingga ia segera bersistigfar. Ia merasa hampir menghujat kebijaksanaan Tuhan sehingga segera menangkan diri: “Sabar, sabar. Apa yang menjadi nasibmu adalah izin Tuhan dan ini berati yang terbaik bagimu”, bisiknya dalam hati.

Agus populer di kalangan teman-teman antara lain karena dinilai terlalu lama di posisinya sekarang. Normalnya, tiga tahun lalu ia sudah memperoleh promosi jabatan. Agus mengetahui penilaian koleganya tetapi sama-sekali tidak merasa terganggu. Ia tetap bermuka jernih ketika bekerja dan bergaul di lingkungan kantor.

Di lingkungan kantor Agus juga populer sebagai PNS yang baik: hampir tidak pernah terlambat tiba di kantor, rajin bekerja dan produktif-kreatif, selalu bermuka jernih dan tidak pernah melawan atasan.

Agus-Ahmad-Ihsan

Sebenarnya label “PNS yang baik” untuk sosok Agus terlalu sederhana. Ia mewakili sosok “PNS yang terpuji”. Label terpuji sesuai bagi Agus yang bernama lengkap Ahmad Agus: Ahmad (Arab) artinya terpuji.

Selain berlabel Ahmad, sosok Agus sebenarnya juga layak dilabeli Ihsan. Alasannya, Agus terbisa menyelesaikan tugas lebih dari yang dituntut secara formal yang menurut para ustaz merupakan ciri Ihsan. Kata ustaz Ihsan adalah “puncak kebaikan”; Ihsan tidak hanya melakukan pekerjaan secara sempurna menurut aturan, tetapi melakukannya dengan mengerahkan inteligensi (Inggris: intelligence, lebih luas dari pada mind), dan jiwa (Inggris: soul). Juga menurut ustaz, Ihsan memiliki kemampuan untuk memberikan donasi sukarela dalam keadaan sulit dan untuk menahan amarah. Semua ciri-ciri ini ada pada Agus bahkan sudah merupakan akhlak atau kebiasaan spontannya.

Demikianlah Agus, sang PNS. Dalam populasi PNS banyak Agus-agus lain yang jumlahnya cenderung meningkat. Walaupun demikian, kelompok ini tetap minoritas dan umumnya tidak berbakat untuk menarik perhatian atasan. Bagi mereka, mengasah bakat ini identik dengan mengaburkan nilai profesionalisme sejati….@

Khotbah Haji Perpisahan dan Pesan Kemanusiaan

Dalam hitungan hari, diperkirakan lebih dari dua juta muslim akan melaksanakan Ibadah Haji tahun ini, ibadah yang merupakan rukun (prinsip) Islam yang kelima bagi yang mampu. Mereka semua akan mencapai puncak ibadah yaitu berkumpul di Arafah (wukuf) pada hari yang sama yaitu tanggal 9 Julhijah. Dalam puncak ibadah inilah disampaikan Khotbah Haji dalam bahasa yang dapat dipahami oleh jamaah.

Dalam tulisan ini kita memfokuskan pada isi khotbah haji yang disampaikan sekitar 1.5 milenium yang lalu ketika berlangsung haji perpisahan (Arab: Haji Wada’)[1]. Haji kali ini dikatakan haji perpisahan karena merupakan haji terakhir yang diikuti Rasul SAW. Beliau wafat pada tahun yang sama. Ketika melaksanakan haji in Rasul SAW terkesan sudah memiliki firasat akan segera meninggalkan Umat yang mencintai dan dicintainya. Tidak lama setelah haji itu turun teks suci yang menyatakan Islam sebagai suatu agama telah sempurna (QS 5:3). Turunnya ayat ini sempat membuat salah satu sahabat senior Rasul SAW, Umar RA, menangis. situasi yang terkesan agak aneh karena sahabat yang satu ini terkenal tegar dan tegas, tetapi sekaligus menggambarkan kejauhan visi dan kecerdasan sahabat yang kelak akan menjadi “bos” orang beriman (Arab: Amirul Mukminin). Ketika ditanya kenapa beliau menangis, beliau hanya merespons dalam bahasa yang kira-kira berarti “setelah kesempurnaan hanya ada ke-tidak-sempurna-an”, suatu respons yang cerdas.

Didorong oleh firasat akan segera pamit kepada Umat, Rasul SAW menyiapkan narasi pidato yang dapat “merangkum” esensi atau ajaran-ajaran pokok dari risalah yang di bawanya. Tetapi isinya yang utama ternyata bukan mengenai ibadah dalam arti sempit, melainkan isu-isu terkait dengan Hak-hak Azasi Manusia (HAM).

Khotbah Haji Perpisahan sangat menekankan arti penting penghormatan terhadap hidup (darah) dan hak milik seseorang. Ini adalah pesan revolusioner bagi era itu, tidak hanya bagi masyarakat arab jahiliah. Isu khotbah lainnya terkait degan masalah kehidupan sosial kemasyarakatan dalam arti luas: kewajiban menyempurnakan amanah, penghapusan riba, hak-hak dan kewajiban wanita (termasuk hak dan kewajiban timbal-balik suami-istri), ukhuwah islamiah dan persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang bangsa dan warna kulit. Kita dapat merasakan kedalaman dan keluasan isi khotbah, serta relevansinya bahkan bagi peradaban kontemporer. Dan itu disampaikan 1.5 milenium yang lalu!

Layak disisipkan catatan di sini bahwa khotbah itu disampaikan dalam bentuk dialog dan setiap kali selesai menyampaikan satu topik, beliau selalu berseru: ‘Apakah aku sudah sampaikan?’ Umat yang hadir secara spontan akan meresponsnya: “Betul, sudah engkau sampaikan. Mendengarkan respons spontan itu Rasul SAW segera melanjutkan dengan munajat: ‘Wahai Tuhanku, persaksikanlah’. Dengan munajat ini seolah-olah Rasul SAW ingin menegaskan bahwa dia telah menyampaikan misinya, mission accomplished! Untuk memperoleh gambaran lebih cermat dan menyeluruh, berikut disajikan sebagian isi khotbah sebagaimana yang dinarasikan oleh Natsir (2008:111-118)[2].

Rasul (R): “Wahai manusia! Dengar kataku, agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tak tahu, barangkali aku tak akan bertemu lagi denganmu sesudah tahun ini, di tempat pemberhentian ini untuk selamanya’. ‘Wahai orang banyak! Tahukah kamu, bulan apakah sekarang?”

Umat yang hadir (U): “Bulan haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu, darah sesamamu, sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya bulan ini’. ‘Tahukah kamu daerah apakah ini?”

U: ‘Daerah Haram”

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu dan harta sesamamu; sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu; seperti haramnya daerahmu ini”. “Tahukah kamu hari apakah sekarang?”

U: ‘Hari haram’

R: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu darah sesamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya haramnya hari ini di bulanmu ini, di daerahmu ini. Sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan Tuhanmu, dan akan ditanya akan segala perbuatanmu’. “Wahai! Apakah aku sudah sampaikan? (Alä hal balagtu?)

U: ‘Allahumma, betul, sudah engkau sampaikan’

R: “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah”.

Sebagai catatan akhir, dalam khotbahnya Rasul SAW memanggil hadirin dengan ungkapan “Wahai Manusia” (bukan Wahai Umatku”), suatu ungkapan yang mencerminkan universalitas ajaran risalahnya. Wallahualam. Pertanyaan: Sejauh mana Muslim kontemporer menginternalisasikan pesan moral khotbah haji perpisahan?

[1] Urian lebih lengkap dpat diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2009/10/27/tablig-haji-wada-dan-hak-azasi-manusia/

[2] M. Natsir, Fiqhud Da’wah, PT Abadi, Cetakan ke-13, 2008.

Sumber: https://www.aljazeera.com/topics/country/yemen.html

Gong: Makna Simbolisnya Bagi Masyarakat Tradisional Jawa

[Diperbaharui: 19/10/2018]

Sumber Gambar: Wikipedia

Bukan khas Indonesia

Kita mengenal gong sebagai salah satu alat musik gamelan, musik tradisional masyarakat Jawa dan Bali. Gong sesungguhnya bukan khas Indonesia; ia dikenal juga di berbagai negara di Asia termasuk China, Jepang, Vietnam, Myanmar dan Filipina. Pemukulan gong dimaksudkan tidak hanya untuk keperluan musik tetapi juga untuk keperluan lain termasuk menandai pembukaan upacara “kantor” (Indonesia) atau olahraga Sumo (Jepang).

Di China gong –dengan berbagai jenis dan ukuran—konon sudah dikenal selama ribuan tahun dan difungsikan sebagai alat panggil bagi petani untuk mulai bekerja; maklum, suara dari sebagian gong dapat didengar dalam diameter 8 kilometer[1]. Tetapi tulisan ini bukan mengenai gong semata, melainkan mengenai makna simbolismenya dalam budaya Jawa.

Bukan Sekadar Alat Musik

Dalam perspektif budaya tradisional Jawa, gong memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam dari sekadar alat musik. Dalam budaya ini, bentuk dan materi gong, peran yang dimainkan dalam musik gamelan, serta energi yang diciptakan ketika dipukul, masing-masing melambangkan filsafat mengenai waktu dan masyarakat Jawa yang unik.

Seperti yang dikatakan Miatke (2009)[2], bentuk bundar gong melambangkan keabadian dan keseimbangan; pukulan gong merefleksikan koinsidensi antara permulaan dan akhir, antara kelahiran dan kematian, atau antara lahir dan batin. Agar memperoleh gambaran agak lengkap, berikut ini dikutip sebagian apa yang dikatakan Miatke[3]:

The gong as an expression of a Unified Being or “Divine Oneness,” expresses Java’s unique organisation of time and society. It represents harmony in a number of ways. Firstly, in form: the circle shape symbolises eternity and balance, and its single-material body bears the quality of uniformity. Secondly, in the role that it plays within the music of the gamelan, which symbolises both time and timelessness. The gong’s strike indicates the coincidence of start and end, birth and death, or, as the Indonesians say, lahir batin, that is, body and soul. Thirdly, in the actual energy that it creates: a self-perpetuating vibration which produces an undifferentiated and complex dissonance.

Ungkapan bahwa “gong sebagai ekspresi dari Kesatuan Wujud (Unified Being) atau Keesaan yang Ilahi (Divine Oneness)” menarik untuk dicermati lebih lanjut. Jika ungkapan ini menggambarkan keadaan yang sebenarnya maka kita memperoleh kesan kuat bahwa konsep tauhid (Keesaan Tuhan) sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Jawa tradisional, sekalipun mereka menggunakan istilah Tuhan yang bagi Muslim-literalis mungkin kurang nyaman yaitu Sang Hiyang Widi.

Lingkaran: Metafora Filosofis

Bentuk lingkaran Gong adalah lingkaran yang secara universal diakui mengandung metafora filosofis. Suatu lingkaran memiliki titik pusat yang menggambarkan titik-awal dan prinsip, menyimbolkan realitas non-spasial dan Keabadian. Ia juga menggambarkan partisipasi waktu-mengalir dan Keabadian dalam alam. Suatu lingkaran juga memiliki dimensi garis lingkaran yang terdiri dari titik-titik yang jumlahnya tak-terhingga dan berjarak sama terhadap titik pusat sehingga terharmonisasi dengan merujuk pada titik itu.

Bagi masyarakat tradisional Jawa, sebagaimana diungkapkan Miatke[4], citra spasial lingkaran secara memadai melambangkan gagasan waktu siklik yang mendukung cara-cara masyarakat tradisional Jawa untuk memahami alam semesta. Dalam konteks ini, konsep harmoni melekat di dalamnya karena adanya persatuan atau keseimbangan antara awal dan akhir: ia memulai dari mana ia berakhir, mewujudkan kedua ekstrem itu, mengandung kedua ekstrem itu dan menyeimbangkan keduanya.

Bentuk lingkaran juga menunjukkan roda, Cakra Manggilingan dalam istilah Jawa, yang mengekspresikan filsafat Jawa tentang putaran konstan dari proses kehidupan. Dalam proses perputaran kehidupan ini konsep harmoni bagi masyarakat tradisional Jawa sangat penting sebagaimana diungkapkan oleh Miatke[5]:

For the Javanese, it is the obligation of man to maintain the harmony of reality. This is expressed in the ancient high Javanese language as the virtue of mamayu hayuning bawono or “preserving the beauty of the world.” Harmony is the primary pillar of Kejawen, the indigenous mystic religion of Java.

Bagi orang Jawa, adalah kewajiban manusia untuk menjaga keharmonisan realitas. Ini diekspresikan dalam bahasa Jawa kuno yang tinggi dalam istilah mamayu hayuning bawono atau “melestarikan keindahan dunia.” Harmoni adalah pilar utama Kejawen, agama mistik pribumi Jawa.

Wallahualam…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Gong

[2] Rebecca Miatke, “The Gong: Harmony in the religion of Java” dalam EYE of the HEART: A Journal of Traditional Wisdom, Issue 4, halaman 41-60.

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

Jalan Spiritual dan Meditasi: Suatu Tinjauan Singkat

“The greatest disease in the West today is not TB or leprosy; it is being unwanted, unloved, and uncared for. We can cure physical diseases with medicine, but the only cure for loneliness, despair, and hopelessness is love. There are many in the world who are dying for a piece of bread but there are many more dying for a little love. The poverty in the West is a different kind of poverty — it is not only a poverty of loneliness but also of spirituality. There’s a hunger for love, as there is a hunger for God.”
Mother Teresa, A Simple Path: Mother Teresa

Semua agama atau tradisi keagamaan besar menawarkan berbagai jalan spiritual (spiritual ways) yang memungkinkan agama relevan bagi semua orang dengan berbagai kecenderungan alamiah atau temperamen. Dalam Tradisi Hindu, misalnya, kita mengenal istilah-istilah karma (Jalan Aksi, the Way of Action), bhakti (Jalan Cinta, bhakti, the Way of Devotion) dan jñãna (Jalan Pengetahuan, the Way of Knowledge or Gnosis). Dalam tradisi Krsiten, Jalan Aksi srupa dikenal dengn Jalan Martha (Way of Martha) sedangkan Jalan Kontemplasi– gabungan Jalan Cinta dan Jalan Pengetahuan– dikenal dengan Jalan Maria (Way of Mary). Bagaimana dengan tradisi Islam? Dalam tradisi ini kita mengenal padanannya dalam istilah makhaffah (Jalan Takut, Fear of God), mahabbah (Jalan Cinta, Love of God), dan ma’rifah (Knowledge of God, Gnosis).

Apa yang menarik untuk dicatat dari uraian di atas adalah bahwa pada tataran spiritual atau batiniah (esoteric), kita dapat menemukan titik-temu (Arab: kalimatun sawa) antar agama atau tradisi keagamaan. Titik-temu serupa hampir selalu kita temukan dalam bidang yang terkait dengan kebajikan sosial (social virtue) seperti dalam hal keprihatinan mengenai masalah kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan alam. Dengan alur pemikiran semacam ini maka kita sebenarnya kita memiliki pijakan bersama (common ground) untuk melaksanakan agenda pembangunan global seperti yang dicanangkan dalam Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs).

Masing-masing jalan spiritual itu, dengan bantuan meditasi, dapat menghasilkan kebajikan yang dihargai oleh semua tradisi keagamaan sejak dahulu kala; kecuali, dunia modern yang berperlaku menyimpang, spirtually-speaking. Sebagai ilustrasi, Jalan Cinta dapat mendorong sifat murah hati (generosity) jika menggunakan mode meditasi aktif dan rasa syukur (gratitude) jika menggunakan mode meditasi pasif. Istilah sufi fana (Inggris: extinction) dan baqa (Inggris: union) dapat kita lihat sebagai cerminan Jalan Pengetahuan, masing-masing dengan mode meditasi yang pasif dan aktif. Bagan di bawah menyajikan beberapa kebajikan spiritual yang dapat dilahirkan dari perkawinan Jalan Spiritual dengan meditasi.

Jalan Spiritual dan Mode Meditasi
Jalan Spiritual Meditasi Mode Pasif Meditasi Mode Aktif
Takut (Makhafah) Pelepasan-diri dari hal-hal duniawi (renunciation), berpantang-diri (abstention). Tindakan aktif (act), ketekunan (persevernce).
Cinta (Mahabbah) Pengunduran-diri (resignation), syukur (garitude). semangat (himmah, fervor), percaya (trust), murah hati (generosity)
 Pengetahuan (Ma’rifah) fana (extinction), kebenaran (truth). baqa (union)
Sumber: Diadaptasi dari W. Stoddart (2008:60), Remembering in a World of Forgetting.

Sebagai penutup layak dibubuhkan dua catatan berikut. Pertama, bersama konsentrasi dan salat, meditasi meringkas inti ajaran semua agama yang menuntut partisipasi semua fakultas wujud kita. Yang pertama melibatkan kegiatan inteligensi (intelligence), sementara yang kedua dan ketiga masing-masing bidang kegiatan kehendak (the will) dan jiwa (the soul). Kajian agak rinci mengenai meditasi-konsentrasi-salat dapat dilihat dalam diakses dalam https://uzairsuhaimi.blog/2012/07/26/meditasi-konsentrasi-dan-salat/

Kedua, ini mungkin berbeda dengan pemahaman umum, meditasi tidak dapat melahirkan pencerahan; fungsinya utamanya adalah menyingkirkan kotoran-kotoran pada dinding batin-kita yang menghalangi masuknya cahaya ilahiah yang selalu hadir “di sana” (omnipresence) ke dalam ruang terdalam jati-diri kita:

Contrary to what is too often stated, meditation cannot of itself provoke illumination; rather, its object is negative in the sense that it has to inner obstacles that stand in the way, not of new, but a pre-existed and “innate” knowledge of which it has to become aware. Thus meditation may be compare not so much to light kindles in a dark room, as to opening made in the wall of the room to allow the light enter…. (Schuon, sebagaimana dikutip oleh Deon Valodia dalam Glossary of Terms Used by Fritjhof Schuon).

 Wallahualam….@