Menianjau-Ulang Makna Ar-Rahman

Maha Pemurah

Kata Ar-Rahman (Arab) umumnya diterjemahkan “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”. Dalam basmalah (QS 1:1) kata ini disandingkan dengan kata Ar-Rahman yang pada umumnya diterjemahkan oleh ahli tafsir “Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan bahwa dua kata ini merujuk secara eksklusif kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini menarik dicermati posisi Shihab. Dalam Tafsirnya Al-Mishbah, Shihab (2006:22) tidak menerjemahkan dua kata ini mungkin karena menganggap tidak ada padanan bahasa Indonesia yang memadai. Beliau menganggap dua kata ini memiliki rumpun kata yang sama (terkait dengan rahmat) walaupun beda timbangan (Arab: wazan): jika Rahman berwazan fa’lan, Rahim fa’il (halaman 34). Mengenai hubungan antar keduanya beliau mengungkapkan:

Dengan kata ar-Rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedangkan dengan ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya (halaman 22).

Terjemahan “Maha Penyayang” untuk Al-Rahim umumnya dinilai tepat; tetapi terjemahan “Maha Pemurah” untuk Ar-Rahim, sekalipun ini merupakan mayoritas, bermasalah. Tulisan ini membahas secara singkat letak masalahnya.

Konteks Penggunaan

Menurut Sister WH dalam Discover True Islam, permasalahan terletak pada pengabaian konteks bagaimana kata Ar-Rahman secara aktual digunakan dalam Al-Quran. Berikut adalah sebagian argumennya:

Dan siapa yang lebih memenuhi syarat untuk menafsirkan nama Al-Rahman daripada Al-Rahman sendiri? (Maksudnya, Allah SWT.) Penggunaan kata, bukan etimologi dan tentu saja bukan kamus, selalu merupakan faktor penentu dalam memaknai suatu kata, dan ini tanpa kecuali. Bagaimana nama digunakan dalam Al-Quran harus menjadi faktor penentu bagi kita untuk memutuskan apa arti nama itu… hal ini terlebih berlaku bagi nama yang disebutkan demikian sering dan dianggap demikian penting dan menonjol seperti nama Ar-Rahman.

Untuk mendukung argumennya dia mengajukan tiga kasus berikut.

1. Kasus Maryam RA

Dalam QS (19:17,18) dikisahkan Maryam RA, ketika didatangi seorang pria (Jibril AS) yang memasuki kamar pribadinya, meminta perlindungan kepada Al-Rahman:

… lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Ar-Rahman, jika engkau orang yang bertakwa”.

Dengan menyebut Al-Rahman, dia tentu meminta perlindungan dari yang “Mahakuasa”, bukan meminta belas kasihan dari yang “Maha Pemurah”. Yang terakhir ini tentu tidak akan menanamkan rasa takut kepada “penyusup” sehingga penggunaannya dalam konteks ini jelas tidak tepat.

2. Kasus Ibrahim AS

QS (19:45) dikisahkan Ibrahim AS berkata kepada ayahnya yang kafir dan penyembah berhala: “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab Ar-Rahman, sehingga engkau menjadi teman bagi setan…”

Menimpakan azab jelas bukan tindakan yang Maha Pemurah (the Merciful) tetapi yang Mahakuasa (the Almighty). Dalam konteks ini Sister WH mengemukakan:

Is this the act of The Merciful, or The Beneficent, or The Most Gracious, to wrathfully leave Satan as the guide of someone? Does this act express His mercy and beneficence? Or is this the act of The Almighty, the Ultimate Authority, the All-Powerful Avenger?

3. Kasus “Anak Tuhan”

Kata Ar-Rahman juga digunakan dalam kasus penghujatan Al-Quran terhadap klaim bahwa Dia SWT memiliki anak (QS 19:88-93):

Dan mereka berkata, Ar-Rahman mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja angit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Karena menganggap Ar-Rahman mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Ar-Rahman mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan dibumi melainkan akan datang kepada Ar-rahman sebagai seorang hamba.

Mengomentari ayat-ayat ini Sister WH menyatakan:

They vividly describe how this blasphemy invokes His wrath. Is this the description of “The Beneficent” or “Most Gracious”? Do these ayat describe a benevolent benefactor (as in “beneficent”) or a generous host (as in “gracious”), “graciously” accommodating His “guests” or the recipients of His largesse, or a kind-hearted ruler forgiving His subjects, or do they describe NONE but THE ALMIGHTY???

(Catatan: huruf kapital dan tanda tanya berasal dari penulis yang bersangkutan.)

Dari tiga kasus di atas jelas bahwa Ar-Rahman tidak tepat jika diterjemahkan sebagai “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”; terjemahan yang tepat adalah Mahakuasa (the Almighty). Jika ini kasusnya maka kata Ar-Rahman tidak serumpun dengan kata Ar-Rahim. Hal ini sejalan dengan QS (25:60) yang mengesankan bahwa Ar-Rahman tidak dikenali oleh penurut Bahasa Arab di era Nabi SAW.

Jika tiga kasus di atas belum meyakinkan, silakan cermati QS (Surat: Ayat) berikut:

1:1, 1:3, 2:163, 13:30, 17:110, 19:18, 19:26, 19:44, 19:45, 19:58, 19:61, 19:69, 19:75, 19:78, 19:85, 19:87, 19:88, 19:91, 19:92, 19:93, 19:96, 20:5, 20:90, 20:108, 20:109, 21:26, 21:36, 21:42, 21:112, 25:26, 25:59, 25:60, 25:60, 25:63, 25:63, 26:5, 27:30, 36:11, 36:15, 36:23, 36:52, 41:2, 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, 43:81, 50:33, 55:1, 59:22, 67:3, 67:19, 67:20, 67:29, 78:37, dan 78:38.

Semua ayat itu mendukung argumen bahwa terjemahan tepat untuk Ar-Rahman adalah yang Mahakuasa (the Almighty).

 

Sumber Gambar: Pinterest

Kesimpulan dan Implikasi

Mahakuasa dan Maha Penyayang. Dua kata ini menunjukkan dua sifat yang berlawanan (saling melengkapi): kekuatan absolut dan belas kasih absolut. Kekuatan pasangan inilah yang “mengendalikan” Alam semesta: Alhamdulillahi rabbil alamin,  Ar-rahman ar-Rahim (QS 1:2-3) [*]. Dalam Al-Quran, Ar-Rahim tercantum dua kali lebih banyak dari pada Ar-Rahman; 114:57. Fakta ini mungkin mengisyaratkan bahwa “satu unit” kekuasaan harus diimbangi oleh “dua unit” kasih sayang.

Memahami hubungan Ar-Rahman dan Ar-Rahim (dalam arti “Maha Kuasa” dan “Maha Penyayang”) penting untuk memahami-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengurus alam raya yang luar biasa dinamis dan kuat, yang secara langsung dan terus menerus berinteraksi dengan segala, secara aktif menciptakan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Untuk jelasnya, silakan renungkan kutipan ini:

Just entering into this understanding, we can clearly see that Allah is not a static provider of mercies and benevolence, as many perhaps unconsciously picture Him, but rather an unfathomably dynamic and powerful Creator and Sustainer and Caretaker of, directly interacting with, all that exists – continuously, actively creating in the past, present and future, not One who created everything only in the past and now leaves everything to just continue along a path pre-set by Him, as some picture it.

Wallahualam…@

[*] Masing-masing unsur dari pasangan ini, seandainya analogi diizinkan, mungkin analog dengan unsur Yang dan Yin dalam filosofi Budha Tibet.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Berkah: Pendalaman Makna

Wajar jika kita berharap mendapatkan satu pohon dari satu benih yang kita tanam. Tapi, bagaimana jika kita mendapatkan 10 pohon? Atau, 10 tahun kemudian, kita mendapatkan hutan kecil sebagai hasilnya? Jika hal itu terjadi, dan itu tidak mustahil, maka tindakan kita menanam satu benih mengandung berkah. Demikianlah kira-kira gambaran Shad Hamid ketika menjelaskan makna berkah (Arab: barakah). Ia menegaskan bahwa itu baru sebagian dari makna berkah. Jadi apa makna berkah? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan singkat ini secara singkat pula.

Makna Lingustik Berkah

Kata barakah kira-kira setara dengan blessing (Inggris) yang umumnya dikaitkan dengan suatu obyek yang dianggap memiliki kualitas atau dapat memberikan pengaruh luar biasa. Obyek itu dapat berupa orang (“orang suci”), bangunan (“bangunan suci atau kramat”), tempat (“tempat suci atau kramat”), dan obyek lainnya. Pemahaman ini sangat problematik karena membatasi kedalaman dan keindahan maknaa berkah; dalam Bahasa Shad, “limits it’s actual deep and beautiful meaning“.

Makna pertama berkah, seperti disinggung sebelumnya, terkait dengan pertumbuhan, penambahan, atau peningkatan. Jadi, sesuatu yang mengandung keberkahan berarti tumbuh. Tetapi pertumbuhan itu melampaui harapan (Arab: fawqa thawaqqu).

Makna kedua dari berkah terkait dengan kesinambungan, bukan bersifat sementara. Sesuatu yang terus bertambah atau tumbuh terlalu cepat– misalnya bangunan yang terus bertambah lantainya, atau pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat– biasanya mengundang risiko terpapar keambrukan (crash). Kata berkah bersifat berkesinambungan sehingga tidak mengandung unsur risiko semacam itu.

Ada makna ketiga berkah dan ini terkait dengan unta. Ini penjelasannya:

… the third part of the meaning of Barakah has something to do with camels. The Arabs call a camel that kneels or sits down as Barakah. This is because anyone who has had any experience with a camel will know that when a camel sits down it’s very difficult to get the camel to stand back up again, and when the camel has sunk in the sand, the camel is extremely stable and stays in its place. Meaning, there is no risk in the camel or the rider falling down, it doesn’t go anywhere.

Similarly, Barakah is something that is stable. It’s not like an economy that rises and crashes, it’s not like the fashion that comes and goes, it is something that stays.

… bagian ketiga dari makna Barakah ada hubungannya dengan unta. Orang-orang Arab menyebut unta yang berlutut atau duduk sebagai Barakah. Ini karena siapa pun yang pernah memiliki pengalaman dengan unta akan tahu bahwa ketika unta duduk, sangat sulit untuk mendapatkan unta untuk berdiri kembali, dan ketika unta tenggelam di pasir, unta sangat stabil dan tetap di tempatnya. Artinya, tidak ada risiko unta atau pengendara jatuh, ia tidak pergi ke mana pun.

Demikian pula, Barakah adalah sesuatu yang stabil. Ini tidak seperti ekonomi yang naik dan turun, tidak seperti mode yang datang dan pergi, itu adalah sesuatu yang tetap.

Singkatnya, menyetarakan berkah dengan blessing sangat problematik. Lebih dari itu, dalam perspektif Islam, juga berbahaya. Kenapa? Karena hanya Dia SWT yang menggenggam kemaslahatan maupu kemudaratan. Buktinya, lihat saja ayat ini “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu” (QS 29:21).

Kata Berkah dalam Al-Quran

Kata berkah bersifat qurani dalam arti tercantum dalam banyak ayat Al-Quran. Sebagian di antaranya ditemukan dalam QS 6:92, 44:3, 25:1, 17:1, 37:113, dan 7:96. Semuanya layak direnungkan. Dalam konteks ini, makna linguistik kata itu sebagaimana dibahas sebelumnya diharapkan dapat meningkatkan apresiasi kita terhadap makna barakah yang tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Ayat terakhir (7:96) mungkin dapat dijadikan contoh kasus uji coba bagi kita:

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan

Pembangunan yang Berkah: Suatu Refleksi

Kesimpulannya: tumbuh, berkesinambungan dan stabil. Trilogi inilah kira-kira yang merangkum makna linguistik berkah. Kalau sekarang populer istilah SDGs– artinya, Sustainable Development Goal atau Sasaran Pembangunan yang Berkelanjutan– maka kita dapat memperkenalkan pembangunan yang berkah. Ini berarti Sasaran Pembangunan yang Berkelanjutan dan Stabil atau Sustainable and Stable Development Goals, SSDGs. [Istilah pembangunan (development) secara implisit mengandung makna pertumbuhan (growth); yang kedua adalah syarat perlu untuk yang kedua, bukan syarat cukup.]

Sumber Gambar: Pinterest

Huruf S kedua dalam SSDG dapat membantu mengingatkan pentingnya aspek stabilitas ekonomi, keamanan, sosial-kultural dalam pembangunan berkelanjutan. Tanpa stabilitas, SDGs tidak dapat termanifestasi dalam realitas bumi. (Dalam hal ini kita perlu belajar dari Pak Harto?) Sisipan S kedua juga dapat membantu kita memiliki balance equation yang tidak hanya mendaftar apa yang harus dilakukan, tetapi juga item apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dengan sisipan itu kita ibarat pasien yang cerdas, tidak hanya melakukan apa diperintahkan dokter, tetapi juga menghindari apa yang dilarangnya.

Mungkin banyak yang keberatan dengan istilah “pembangunan yang berkah” dengan argumen dalam kata “berkesinambungan” terkandung makna “stabil”. Tapi konotasi dua istilah terakhir berbeda. Jika yang pertama erat terkait dengan isu lingkungan alam atau faktor eksternal bagi populasi manusia, maka yang kedua dengan berkonotasi lebih faktor “internal” manusia dalam arti perilaku sosial-politik mereka. Jika mengacu kepada salah satu dokumen SDGs, yang pertama lebih terkait dengan dimensi planet dan people, yang kedua dengan peace. Terkait yang kedua ini dokumen itu mengingatkan:

We are determined to foster peaceful, just and inclusive societies which are free from fear and violence. There can be no sustainable development without peace and no peace without sustainable development.

Make sense?

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Tazakka, Tuzakku dan Kesucian Hati

Kata hati dalam judul merujuk bukan pada sesuatu yang bersifat fisik, melainkan pada– meminjam istilah KH Zezen— “dimensi keilahian dalam diri manusia”. Kata tazakka dan tuzakki (Arab) adalah istilah  qurani yang berbicara mengenai kesucian hati dalam pengertian itu. Yang menarik, dua kata ini berakar kata yang sama (zaka) tetapi memiliki konotasi yang bertentangan: sementara yang pertama positif, yang kedua negatif bahkan tercela. Tulisan ini menelusuri dua kata ini dalam Al-Quran dalam kaitannya dengan kesucian hati. Sebelumnya, berikut adalah analisis bahasa dua kata ini secara singkat.

Kaya Makna

Bahasa Arab kaya makna dengan aturan kebahasaan yang rumit: perubahan bentuk kata atau tanda baca dapat mengubah makna dasar radikal.

Kata zaka adalah kata kerja yang berarti membersihkan, menyucikan, memberikan berkah, menyuburkan, dan mengembangkan. Kata ini dapat dirangkai dengan kata lain secara luas. Sebagai ilustrasi, jika dirangkai dengan kata tanaman dan perniagaan, kita memperoleh kalimat zaka azzar’i berarti “tanaman yang tumbuh subur, sementara zaka attijarah berarti perniagaan yang tumbuh dan berkembang.

Dengan makna ini mudah bagi kita untuk memahami kata zakat yang juga dari kata zaka berkonotasi menyuburkan harta selain membersihkan hati. Membersihkan dari apa? Dari Syuh, potensi kekikiran yang melekat dalam bakat manusia (lihat QS 59:9).

Ayat Tazakka

Dalam Bahasa Arab, huruf ganda (tasydid) mengindikasikan kesungguhan. Jadi, huruf ganda “k” dalam kata tazakka tidak sekadar berarti “menyucikan”, tetapi “menyucikan secara sungguh-sungguh, secara serius, tidak hanya sekadarnya”.

Kata tazakka tercantum paling tidak dalam empat ayat Al-Quran yang digunakan dalam berbagai konteks. Untuk memperoleh gambaran mengenai arti dan konteks penggunaannya, berikut disajikan terjemahan dan catatan dari empat ayat yang dimaksud.

Terjemahan Catatan
QS (20:75-76): …. mereka itulah yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia) (yaitu) surga-surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang menyucikan diri. Kebersihan hati dari dosa (teks: mujrima) yang menyebabkan memperoleh azab akhirat dalam keadaan yang tidak hidup maupun tidak mati (ayat ke-75).
QS (35:18): … Dan orang-orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain… Dan barang siapa menyucikan diri, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan sendiri…. Prinsip pertanggungjawaban individual. Menyucikan diri adalah kegiatan individual, tidak berlaku “kriteria orang ketiga”; artinya, tidak seorang pun dapat melakukannya untuk dan atas nama kita.
QS (79:18): Maka katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan?”
QS (87:14): Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).

Ayat Tuzakku

Kata tuzakku juga mengandung huruf “k” ganda yang mengkonotasikan kesungguhan. Berbeda dengan kata tazakka berkonotasi positif, kata tuzakku berkonotasi negatif bahkan tercela. Arti kata ini, “menganggap dirimu suci”, atau dalam bahasa gaulnya, “sok suci”.

Sejauh penelusuran penulis (melalui aplikasi Lafzi) hanya ada satu ayat yang mencantumkan kata tuzakku yaitu QS (53:32). Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat penting sehingga perlu ditinjau secara agak rinci.

Ayat sebelumnya (ke-31) berbicara mengenai “balasan orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga”). Ayat ke-32 menjelaskan apa yang dimaksud dengan orang yang berbuat baik. Inilah teks ayat yang dimaksud serta artinya:

“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil (teks: allamam). Sungguh Tuhan Maha Luas amnpunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu sejak Dia menjadikan kamu dari tanah, lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah menganggap dirimu suci. Dia mengetahui orang yang bertakwa (QS 53:32).

Dalam ayat ini ada kata menarik yaitu allamam yang berarti “kesalahan-kesalahan kecil”. Berdasarkan ayat ini, “kesalahan-kesalahan kecil” tidak menggugurkan status “orang yang berbuat baik”. Ayat ini juga mengesankan pesan kuat: jangan “sok bersih” karena melihat orang lain melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Wallahualam.

Bahtera Nuh

Terkait dengan pemurnian hati layak dicermati karya Hamza Yusuf (lahir 1958) yang berjudul Purification of the Herat: Signs, Symptoms and Cures of the Spriritual Diseases of the Heart. Dia adalah salah seorang cendekia muslim Amerika Serikat yang mengusung pengajaran klasik mengenai Islam dan sains keislaman ke seluruh dunia.

Dalam bukunya ini Hamza Yusuf mengedepankan arti penting zikir untuk membersihkan hati. Yang menarik, dalam bukunya ini, ia juga menganalogikan zikir dengan bahtera Nuh AS:

We live in the age of Noah (a.s.) in the sense that a flood of distraction accosts us. It is a slow and subtle drowning. For those who notice it, they engage in the remembrance of God. The rites of worship and devotion to God’s remembrance (dhikr) are planks of the ark. When Noah (a.s.) started to build his ark, his people mocked him and considered him a fool. But he kept building. He knew what was coming. And we know too.

Kita hidup di zaman Nuh (a.s.) dalam arti menghadapi prahara banjir besar. Lambat laun dan tidak kentara kita tenggelam. Bagi mereka yang menaruh perhatian, mengingat Allah atau zikir dan zikir berfungsi sebagai bahtera penyelamat ketika bahtera itu berlangsung. Nuh AS ketika mulai membangun bahtera itu ia diejek dan dianggap bodoh. Tetapi dia terus membangunnya. Dia tahu apa yang akan terjadi. Kita juga tahu.

Bahtera Nuh AS dahulu kala adalah zikir masa kini. Pertanyannya: “Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS 6:80, 10:3, 11:24, 11:30, 16:17, 23:85, 37:155, 45:23).

Wallahualam…@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Simbolisme Haji: Belajar dari Syariati

Kini jamaah haji tengah berada di Arafah, suatu wilayah terbuka di timur luar Kota Mekah. Di sana, sekitar 2.3 juta jamaah berkumpul untuk wukuf, salah satu rukun haji.

An aerial view of Mount Arafat, where thousands of Muslim worshippers gather during the Hajj pilgrimage. EPA

Sumber: Ini

Jamaah sudah harus meninggalkan Arah sebelum malam, bergerak ke Mudalifah untuk “bermalam” (di sini ada bukit kecil yang disebut sebagai Masy’aril Haram dalam Al-Quran), sebelum akhirnya sampai di Mina untuk tinggal 2-3 hari di sana. Ketika di Mina inilah jamaah melakukan Jumrah (lempar batu) dan menyembelih hewan korban (umumnya diserahkan kepada Panitia Haji). Dari Mina Jamaah kembali ke Kabah untuk Tawaf Ifadah (Rukun Haji).

Kenapa jamaah melakukan semua itu? Jawaban singkatnya, karena itulah yang dicontohkan Nabi SAW: tindakan jamaah adalah perwujudan kepatuhan kepada ajaran yang dibawanya, tanpa bertanya kenapa? (Arab: bila kaifa).

Terlepas dari soal kepatuhan, semua ritual haji sebenarnya mengandung banyak hikmah atau simbolisme yang layak direnungkan. Salah satu rujukan mengenai ini adalah karya-karya Ali Syariati (1933-1977) mengenai Haji. Beliau adalah seorang sosiolog (ideolog) revolusioner Iran yang sangat dihormati karya-karyanya di bidang sosiologi agama dan masyhur sebagai seorang cendekiawan Iran abad ke-20.

Bagian selanjutnya tulisan ini meninjau secara singkat sebagian kecil dari simbolisme yang dimaksud sebagaimana dikemukakan oleh Syariati dalam salah satu karyanya [1].

Filsafat Hampa

Bagi Syariati ibadah haji adalah bentuk penolakan terhadap filsafat hampa (rejection of an empty philosophy). Kenapa? Karena sehari-hari kita cenderung kehilangan tujuan. Tujuan kita hanya untuk hidup dan apa yang ada dalam tubuh kita yang hidup adalah jiwa yang mati. Baginya itu adalah kondisi yang tidak sehat dan pengalaman haji dapat mengubah kondisi tidak sehat ini. Selanjutnya Syariati mengatakan ini:

Haji adalah antitesis dari ketiadaan tujuan. Ini adalah pemberontakan melawan nasib terkutuk yang dipandu oleh kekuatan Setan. Pelaksanaan Haji akan memungkinkan Anda melarikan diri dari jaringan kerumitan yang kompleks. Tindakan revolusioner ini akan mengungkapkan kepada Anda cakrawala yang jelas dan cara bebas untuk bermigrasi ke keabadian, kepada Allah SWT.

Hajj is the antithesis of aimlessness. It is a rebellion against a damned fate guided by the evil force. The fulfillment of Hajj will enable you to escape from the complex network of fuzzles. This revolutionary act will reveal to you the clear horizon and free way to migration to eternity to the Almighty Allah.

Ibadah Haji dimulai dari miqat, tempat yang sejak era Nabi SAW sudah ditentukan untuk tujuan itu . Di sanalah jamaah menegaskan niat untuk memulai ibadah haji, mengenakan pakaian ihram, serta melepaskan semua pakaian sehari-hari.

Simbolisme Pakaian

Bagi Syraiati ritual melepaskan pakaian sehari-hari kaya dengan simbolisme. Argumennya, kita sehari-hari hakikatnya tidak mengenakan pakaian, tetapi dengan pakaian kita membungkus diri kita yang sebenarnya.

Pakaian kita, lanjutnya, menyimbolkan (simbolizes), memolakan (patterns), dan membedakan (distincts). Pakaian kita menciptakan batas semu (superficial border) yang menyebabkan keterpisahan antar manusia. Dalam kebanyakan kasus, keterpisahan ini melahirkan diskriminasi. Lebih lanjut, lahirlah konsep “Aku”, bukan “Kita”. “Aku” diletakkan dalam konteks sukuku, margaku, keluargaku, posisiku, keluargaku, dan seterusnya; bukan “Aku” sebagai manusia (human being).

Manusia terdiri dari ras, bangsa, kelas, sub-klas, kelompok, dan marga. “Untuk apa?”, tanya Syariati. Untuk menunjukkan “ones-self-but under so much make-up”, jawabnya sendiri. Selanjutnya dia mengatakan ini:

Sekarang bukalah pakaian Anda. Tinggalkan semuanya di miqat. Kenakan Kafan yang terdiri dari bahan putih polos. Anda akan menjadi seperti orang lain. Lihatlah keseragaman tercipta! Jadilah partikel dan menyatulah dengan massa; jadilah setetes air dan masukilah lautan.

Now take off your clothes. Leave then at miqat. Wear the Kafan which consists of plain white material. You will be like everyone else. See the uniformity appear! Be a particle and joint the mass; as drop, enter the ocean.  

Kita dapat merasakan kuatnya bahasa Syariati. Pantaslah jika dia hidup dari satu penjara ke penjara lain karena penguasa pada masanya merasa sangat “gerah” dengan ide-idenya yang revolusioner dan mengancam status quo.

Demikianlah gambaran singkat simbolisme Haji menurut Syariati. Baginya Arafah berasosiasi dengan Pengetahuan dan sains,  Ma’syar atau Muzdalifah dengan Kesadaran dan pemahaman, Mina dengan Cinta dan Iman. Pengetahuan-Kesadaran-Cinta. Trilogi inilah yang dibutuhkan dalam perjalanan untuk menghampiri-Nya yang dilambangkan dengan kembalinya jamaah dari Mina ke Kabah untuk Tawaf Ifadah.

Wallahualam…@

[1] Hajj (the Pilgimage), terjemahan Inggris oleh Ali A. Behzadnia MD & Najla Denny.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Pesan Sufistik Musik Rahman

Kata Rahman dalam judul merujuk pada seorang individu yang bernama  Allahraka Rahman dan populer dengan nama  AR Rahman. Ia adalah komposer dan produser musik ternama kelahiran India. Kelebihannya, mengintegrasikan musik India klasik dengan musik elektronik dan aransemen orkestra tradisional.

Reputasi Rahman

Dalam dunia musik Rahman banyak mendulang penghargaan (Award): 6 National Film Awards, 2 Academy Award, 2 Grammy Award , 1 BAFTA Award, 1 Golden Globe Award, 15 Filmfare Awards, dan 17 Filmfare Awards South. Dengan reputasi semacam iini ia bukan pemusik biasa:

  • Tahun 2009, Time memasukkannya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh;
  • Tahun 2011, majalah musik dunia yang berbasis di Inggris menggelarinya sebagai salah seorang dari Tomorrow’s World Music Icons; 
  • Nama kecilnya, Isai Puyai (Inggris: the Musical Storm) dan Mozart Madras.

Selain sebagai pemusik, Rahman juga dikenal juga sebagai dermawan (filantropis):

Rahman is involved with a number of charitable causes. In 2004 he was appointed as the global ambassador of the Stop TB Partnership, a WHO project. Rahman has supported Save the Children India and … help orphans in Banda Aceh who were affected by the 2004 Indian Ocean Tsunami.

Pengaruh Sufi

Rahman terlahir sebagai seorang Hindu dan masuk Islam ketika umur 20-an. Peralihan agamanya karena dorongan hatinya sendiri. Dia mengakui sufisme mempengaruhi sikap hidupnya sebagaimana terlihat dari cuplikan wawancara berikut:

How has Sufism affected your attitude to life?

It has taught me that just as the rain and the sun do not differentiate between people, neither should we. Only when you experience friendship across cultures, you understand there are many good people in all communities…

Did the peer ask you to embrace Islam?

No, he didn’t. Nobody is forced to convert to the path of Sufism. You only follow if it comes from your heart. A year after we met Qadri Saaheb, in 1987…I was reminded of what Jesus Christ, Peace be upon Him, once said: “I wish that you were cold and hot. So because you are lukewarm and neither hot nor cold, I will spit you out of My mouth.”

What I understood by His words was that it is better to choose one path. The Sufi path spiritually lifted both my mother and me, and we felt it was the best path for us, so we embraced Sufi Islam.

Hasbi Rabbi Jallallah

Rahman memproduksi beberapa musik yang bergenre sufistik yang dua antaranya populer bagi kalangan paduan suara di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi. Dua produksi yang dimaksud berjudul Kun Fa Yakun dan Hasbi Rabbi Jallalah (selanjutnya, Hasbi). Yang pertama agaknya diakrabi ibu-ibu yang suka yasinan. Pesan intinya adalah keniscayaan kekuasan-Nya yang mutlak dan sikap rendah hati di hadapannya. Salah satu syairnya yang sering diulang, “Saya tidak tahu apa-apa”.

Bagaimana dengan yang kedua (Hasbi)? Pesan utamanya adalah zikr yang dinarasikan dalam bahasa yang kuat (Quran: qaulan baliga), aransemen lagu yang apik, serta pesannya yang “mendesak”. Untuk memahami ini, berikut diajikan cuplikan syairnya yang aslinya berbahasa India dan Arab:

——–

Those who addicted to problem of heart,

the Essence of Allah calls you!…

Those who zikr of God from the heart is indeed freed!…

Zikr is peace,

Zikr id the Victory,

Zikr is Healing,

Zikr is the Cure…

——

Hasbi rabbi jallallah,

Maa fii qalbi gaitullah,

Nuri Muhammad shallallah,

Haqq lailaha illallah.

——-

Pesan syair di atas jelas: (1) ajaran tauhid atau ajaran mengenai keesaan-Nya, dan (2) ajakan untuk berzikir atau mengingat-Nya. Ajaran tauhid terlihat pada baris terakhir; ajakan berzikir pada keseluruhan bagian pertama di mana kata zikir disebutkan sampai lima-kali. Yang ditekankan pada bagian pertama bukan definisi zikir, melainkan makna atau nilainya bagi pelaku (Arab: zakir). Itulah kekuatan syair itu!

Sebenarnya baris ke-2 bagian kedua syair di atas berbicara mengenai definisi, tetapi dinarasikan dalam bahasa yang sangat operasional: maa fii qalbi gairullah. Kalimat ini secara sederhana berarti tidak ada apa pun dalam kalbu selain-Nya. “Definisi” ini sejalan dengan penegasan almarhum KH Zezen (wafat 2015) yang disampaikannya dalam suatu  pengajian Al-Hikam bahwa kalbu adalah dimensi ketuhanan dalam diri manusia yang merupakan hak-Nya yang ekslusif

Selain sarat dengan ajaran tauhid dan ajakan berzikir, dalam syair Hasbi banyak disebutkan Nama-nama-Nya-yang-Indah (Arab: Asmaul Husna) termasuk alhayyu, lqayyum, arrahman, almannan, dan dzul jalaal wal-ikram.

Popularitas Rahman

Musik dengan genre sufistik Rahman populer tidak hanya di India tetapi juga di Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan Asia (antara lain Jepang dan Taiwan). Ini berlaku setidaknya bagi kelompok paduan suara di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi, termasuk yang memiliki tradisi kekeristenan yang kental.

Kenapa populer? Hampir dipastikan sebagian karena tingginya kualitas musiknya. Apakah juga karena pesan perdamaian yang dikandung dalam musiknya yang bergenre sufistik? Ini dapat diperdebatkan walaupun penulis cenderung memberikan jawaban positif.

Untuk dapat mengapresiasi musik Rahman yang bergenre sufistik silakan pembaca mengunjungi tautan ini  yang menayangkan Hasbi ketika dibawakan langsung oleh penciptanya (2017). Dari tayangan ini, penulis dapat merasakan kekuatan bahasa yang digunakan, kedalaman penghayatan penciptanya, serta kedalaman dan ke-mendesakan pesan yang ingin disampaikannya.

Atau, pembaca lebih menyukai tayangannya oleh paduan suara mojang-bujang UNPAD yang baru dirilis (May 27, 2019)?  Jika ya silakan kunjungi tautan ini. Dari tayangan ini penulis memperoleh kesan kuat bahwa keindahan musik dan kedalaman pesan sufistik Rahman dapat dinikmati oleh generasi muda.

Semoga….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

 

Haji dan Warisan Ibrahim AS

Ibadah Haji terkait dengan warisan Nabi Ibrahim AS di Arab[1]. Warisan yang dimaksud utamanya adalah ajaran untuk mengesakan Tuhan YME, monoteisme atau tauhid. Nabi AS ini masyhur karena kegigihan dan keberaniannya mengusung prinsip tauhid ini secara murni. Prinsip tauhid inilah yang terungkap dalam talbiyah, bacaan yang dikumandangkan oleh jamaah haji ketika mengenakan pakaian ihram. Dengan mengumandangkan ini jamaah berikrar siap berhaji hanya untuk-Nya dan pengakuan tidak ada sekutu bagi-Nya. Singkatnya, ibadah haji menekankan pemurnian prinsip tauhid.

Sumber Gambar: Google

Bukan Ziarah Biasa

Haji biasa diterjemahkan dengan ziarah (Indonesia) atau pilgrimage (Inggris). Penulis meragukan ketepatan terjemahan ini:

  • Istilah ziarah (pilgrmage) umumnya terkait dengan niatan mengunjungi makam (kuburan), situs atau peninggalan orang yang dianggap suci. Dalam berhaji tidak ada makam yang dikunjungi! Makam Rasul SAW? Tidak juga. Kunjungan ke sana bukan bagian dari ibadah haji.
  • Sebagian jamaah mungkin mengunjungi hudaibiyah, situs di mana Rasul SAW menyelenggarakan perjanjian historis dengan pihak Quraisy Mekkah. Tetapi itu bukan untuk berziarah, melainkan untuk miqat atau mengambil titik mulai haji dan mulai mengenakan pakaian ihram.
  • Masjid Haram dan Kabah jelas situs sejarah tetapi kehadiran jamaah di sana tidak diniatkan untuk ziarah dalam pengertian umum kata itu, melainkan untuk salat, sa’i dan tawaf. Mencium Kabah juga bukan bagian dari ibadah haji. Terkait dengan ini ada ucapan Umar RA otoritatif: “Kalau Rasul SAW tidak melakukan aku pasti tidak melakukannya”.

Singkatnya, haji bukanlah ziarah dalam pengertian umum. Oleh karena itu, memadankan kata haji dengan kata ziarah dalam pengertian umum berisiko mengaburkan makna substantif ibadah haji.

Warisan Ibrahim AS

Seperti ditegaskan sebelumnya, warisan utama Ibrahim AS adalah ajaran tauhid. Di luar ini paling tidak ada enam alasan untuk mengaitkan ibadah haji dengan warisan Nabi AS itu. Hampir semua alasan itu bersifat qurani dalam arti berbasis ayat Al-Quran sebagaimana terlihat pada daftar berikut:

  1. Yang menyerukan ibadah haji adalah Ibrahim AS (QS: 22:27) kira-kira empat milenium yang lalu[2];
  2. Yang membangun (ulang) Kabah adalah Ibrahim AS dan anaknya Ismail (QS 2:125);
  3. Yang memohon petunjuk mengenai tata-cara atau Manasik Haji adalah Ibrahim AS bersama anaknya Ismail AS (QS 2:128);
  4. Ritual Sa’i –lari-lari kecil antara Bukit Marwah dan Bukit Shafa tujuh balik– melestarikan nilai kegigihan seorang ibu (Sarah AS) ketika berjuang mencari air dan meminta pertolongan (di tempat yang tak berpenghuni) bagi bayinya (Ismail AS) yang tengah sekarat karena kepalaparan dan dehidrasi;
  5. Ritual Jumrah melestarikan nilai ketegasan Ibrahim AS menentang desakan Setan untuk melawan perintah-Nya  kembali ke istri pertamanya (Sarah AS) di Palestina dan meninggalkan Hajr AS yang tengah mengandung; dan
  6. Tradisi korban hewan pada Bulan Haji melestarikan nilai kepatuhan-mutlak Ibrahim AS terhadap peritah-Nya untuk mengorbankan satu-satunya anak (ketika itu) yang sudah puluhan tahun di dambakannya yaitu Ismail AS ketika beranjak dewasa (QS 37:102).

QS (37:102) tidak menyebutkan secara eksplisit anak yang dikorbankan Ibrahim AS: Ismail AS sebagaimana diyakini Muslim atau Ishak AS sebagaimana diyakini Yahudi dan Kristen. Dalam konteks ini layak dicatat kesimpulan Dirk (lihat catatan ke-2), berdasarkan kajian cermat terhadap teks biblikal yang relevan, yang lebih mengarah kepada keyakinan Muslim. Selain itu, fakta sosiologis historis bahwa tradisi korban (hewan) dalam Bulan Haji yang mentradisi di wilayah Arab dan lingkungan komunitas Muslim, sejalan dengan kesimpulan Dirk: anak yang dikorbankan oleh Ibrahim AS adalah Ismail AS, leluhur Nabi Muhammad SAW.

Allahumma shalli wa barik ‘alaa Muahmmad waalihi/kama shallaita wa barakta ‘alaa Ibrahim waalilihi/fil’alamin innaka hamidun majid/

[1] Rujukan geografis perlu disebutkan karena wilayah dakwah beliau sangat luas: Irak, Palestina, Mesir dan Arab. Itulah sebabnya beliau diakui sebagai pemimpin besar, imam atau patriarch oleh penganut ketiga agama samawi: Yahudi, Kristen dan Islam.

[2] Dr. Jerald F. Dirk (2002, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan (Tabel 9, 286-290), Serambi.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS

Setiap Jumat pagi HP penulis mengingatkan agar tidak lupa baca Surat Al-Kahfi (QS 18). Penulis tidak sepenuhnya memahami reasoning atau dalil keagamaan dari peringatan ini. Yang penulis sedikit paham, Surat ini berbicara mengenai tiga macam fitnah atau ujian hidup. Melalui tulisan singkat ini penulis ingin berbagai sedikit pemahamannya mengenai topik ini.

Fitnah kelebihan

Fitnah atau ujian hidup yang secara umum dipahami berbentuk ke-serba-kekurangan: kekurangan harta, kekurangan kekuasaan, kekurangan ilmu, atau kekurangan lainnya. Surat al-Kahfi mengingatkan ada cobaan lain yang berbentuk ke-serba-kelebihan. Surat ini juga menegaskan bahwa bentuk cobaan yang kedua ini tidak kalah beratnya dari yang pertama:

Ayat 22-43: kasus gagal ujian orang yang kelebihan harta; sebab kegagalan: sombong dan tidak-pandai-bersyukur. Kasusnya diwakili petani korma dan anggur di atas lahan luas dengan sumber air melimpah.

Ayat 83-94: kasus lulus ujian kelebihan kekuasaan; sebab kelulusan: rendah hati dan proporsional dalam penggunaan kekuasaan. Kasusnya diilustrasikan oleh Zulkarnain yang konon jendral paling hebat sepanjang sejarah.

Bagaimana dengan kasus kelebihan ilmu? Kasus ini diilustrasikan kisah Nabi Musa AS yang berguru kepada Nabi Khidir AS.

Nabi Khidir AS

Menurut riwayat, Nabi Musa AS diperintahkan berguru kepada Nabi Khidir karena “salah ucap” dengan mengatakan dirinya paling pintar. Nabi Musa AS ini pasti pintar karena semua nabi supra-pintar. Tetapi mengucapkan diri paling pintar mencerminkan ketinggian hati. Ucapan ini jelas tidak elok, apalagi bagi seorang nabi.

Tetapi siapa Nabi Khidir AS? Banyak spekulasi mengenai sosok ini. Yang jelas jika beliau seorang nabi maka itu di luar 25 nabi yang namanya tercantum dalam Al-Quran.

Ada spekulasi lain. Kata Khidir berasal dari kata hadhara yang artinya kira-kira menghijaukan. Jika ini diterapkan pada sifat seseorang maka orang itu memiliki kemampuan untuk menghijaukan dalam arti mencerahkan pikiran banyak orang. Sifat ini dapat dimiliki oleh banyak orang, di setiap zaman, di mana pun. Jelasnya, Khidir dalam pengertian ini  bukan merujuk pada seorang individu tertentu.

Analisis bahasa ini sesuai dengan kepercayaan umum bahwa Nabi Khidir sampai sekarang masih hidup (yang bagi kebanyakan tentu tidak sesuai dengan fitrah seorang manusia). Bacaan penulis terhadap Tafsir Al-Azhar Juz 15 mengesankan bahwa Buya Hamka cenderung pada pendapat ini.

Seperti disinggung sebelumnya, nama Khidir tidak tercantum dalam Al-Quran. Dalam kaitannya sebagai “guru” Nabi Musa AS, Al-Quran menyebutnya sebagai “seorang hamba dari hamba-hamba-Kami” (QS 18:65). [Jadi jangan anggap remeh gelar “hamba” yang mungkin terkesan kurang gereget.]

Ujian Luar Biasa

Oleh gurunya Nabi Musa AS sejak awal diingatkan bahwa beliau akan gagal ujian QS (18:67). Peringatan terbukti sebagaimana akan kita lihat.

musa

Sumber gambar: Geogle

Ujian yang diberikan sang guru sebenarnya sederhana: sabar untuk tidak bertanya atau berkomentar mengenai apa pun yang dilakukan sang guru sebelum dijelaskan. Nabi Musa AS berikrar menyanggupi syarat ini (QS 18:69) yang ternyata gagal, bukan sekali, tetapi sampai tiga kali. Dalam kegagalan pertama sang guru mengingatkan:

Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (QS 18:72)

Peringatan yang sama dikatakan sang guru untuk pelanggaran kedua (ayat ke-75).

Menyadari kegagalan ini Nabi Musa AS menyatakan diri akan berhenti berguru jika melakukan kegagalan ketiga kalinya yang ternyata dialaminya. Akibatnya, ia “dipecat” sebagai “murid”:

Ayat 76: Dan (Musa) berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku”.

Ayat 78: Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau, aku akan memberikan kejelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

Tiga Macam Ujian

Musa AS disuguhi  tiga macam yang semuanya luar biasa. Ujian pertama adalah menyaksikan ulah sang guru melubangi perahu yang ditumpangi mereka (ayat 71). Ulah guru ini jelas tidak masuk akal sehingga wajar jika Nabi Musa AS gagal menghadapinya tanpa berta nya.

Ujian kedua berupa tindakan sang guru membunuh seorang anak yang mereka temui (ayat 74). Tindakan ini jelas “kelewatan”  dalam ukuran normal sehingga Nabi Musa AS gagal lagi.

Ujian ketiga berupa tindakan sang guru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh di suatu kampung yang para penghuninya menolak memberikan makanan sekadarnya:

Ayat 77: Maka keduanya berjalan hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu”.

Kalimat terakhir ayat ini adalah bentuk pelanggaran ketiga yang menyebabkan Nabi Musa AS dipecat sebagai “murid”.

Rahasia Tindakan Khidir

Sesuai janji, sang guru menceritakan alasan tindakannya.

Ayat 79: Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka seorang raja yang akan merampok setiap perahu.

Ayat 80: Dan adapun  anak muda (kafir) itu, kedua orang-tuanya mukmin, dan kami khawatir dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.

Ayat 81: Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

Ayat 82: Dan adapun rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri, itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.

Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa tindakan sang guru, bukan dilakukan karena kemauan sendiri, melainkan perintah “Rabb-mu”.

Sumber Gambar: Pinterest

Dua Hikmah

Demikian kisah Nabi Musa AS dan Nabi Hidir AS. Kisah-kisah dalam Al-Quran jelas bukan dongeng  (fairytale) sekadar untuk hiburan, melainkan sarana pengajaran moral-spiritual yang perlu digali hikmahnya, khususnya oleh mereka diberi kelebihan ilmu.

Hemat penulis, hikmah itu paling tidak ada dua.

Pertama, fitnah atau cobaan hidup tidak hanya berbentuk serba-kekurangan tetapi juga serba-kelebihan. Dari tiga kasus yang dikemukakan, dua di antarnya berisi kegagalan. Jika hal ini dapat digeneralisasi maka dapat dikatakan bahwa peluang kegagalan karena kelebihan hanya sepertiga. Peluang lulus ujian bagi penguasa lebih besar ketimbang peluang lulus bagi hartawan maupun ilmuwan. Ini mungkin peringatan keras bagi hartawan dan ilmuwan; sekaligus kabar baik bagi penguasa atau pejabat publik. Kelompok ini berpeluang paling besar untuk– dalam bahasa Obama di tengah mahasiswa Al-Azhar– melayani masyarakat yang berarti pula tiket untuk menjadi “manusia terbaik” yang menurut Hadits didefinsikan sebagai orang “yang paling bermanfaat bagi sesama”.

Kedua, fitnah dapat berbentuk kecenderungan untuk overestimate atau menilai diri lebih dari yang sebenarnya atau megalomania dalam istilah psikologi; juga, kepicikan-diri yang cenderung underestimate mengenai ilmu Tuhan SWT yang luasnya tak-terbatas.

Wallahualam…@