Covid-19: Lima Fakta yang Menakutkan

Di sini kita bicara fakta, bukan opini. Tetapi agar bermakna, fakta tentu perlu interpretasi. Fakta yang dimaksud dalam tulisan ini terkait dengan pandemi Covid-19 yang menakutkan. Apa yang menakutkan? Apakah ini bukan hanya semacam sensasional media pemberitaan?  Jawabannya mungkin “ya” bagi sebagian yang mengedepankan keuntungan ekonomi dari pada harkat manusia. Yang jelas ketakutan itu berdasar, faktual, banyak faktanya. Tulisan ini menyajikan lima fakta yang dimaksud dan mungkin paling menakutkan.

1)       Kasusnya terus meningkat

Fakta pertama adalah bahwa kasus Covid-19 secara global masih terus meningkat. Menurut Worldmeter kini totalnya mencapai 7 digit atau jutaan, tepatnya 1,015,531 kasus. Seperti halnya kekayaan atau rezeki, kasus Covid-19 tidak merata. Dari sumber yang sama diketahui total itu didominasi 5 negara: Amerika Serikat (245,794),  Italia (115,242 kasus), Spanyol (112,065), Jerman (84,794) dan China (81,620). Kelima negara ini secara bersamaan menyumbang sekitar 63% dari kasus global.

Yang menarik, China sudah bergeser ke posisi ke-5. Yang juga menarik, Korea dengan 10,062 kasus tidak lagi terdaftar dalam urutan itu dan menduduki posisi ke-15 setelah negara kecil Austria dengan 11,129 kasus. Dari sebaran kasus itu sulit untuk mengabaikan fakta peralihan kasus dari Timur ke Barat.

Yang-wajib-segera-catat, angka-angka di atas, masih sangat kerendahan dibandingkan dengan angka sebenarnya[1]. Argumennya sederhana: angka-angka itu adalah kasus yang dilaporkan berdasarkan hasil medis, padahal tidak semua orang yang patut-diduga terinfeksi menjalani uji media. Kasus yang sebenarnya tidak diketahui dan patut diduga lebih besar.

The total number of COVID-19 cases is not known. It is however certain that the total number of COVID-19 cases is higher than the number of known confirmed cases. This is mainly due to limited testing (worldindata).

2)       Sangat Mudah Tertular

Fakta kedua yang menakutkan adalah Covid-19 ini sangat mudah tertular. Indikasinya terlihat dari banyaknya kasus petugas medis yang secara langsung berhubungan dengan pasien Covid-19 yang tertular dan bahkan wafat. Sulit penjelasan lain mengingat mereka secara profesional terlatih dan tersedia protokoler baku dari WHO terkait penanganan pasien Covid-19.

Kemudahan tertular ini menjelaskan kenapa kasus Covid-19 mudah meroket.  Sebagai ilustrasi, untuk Amerika Serikat, menurut Worldmeter, pada 2/3/ 2020 total kasusnya hanya 124 kasus. Sebulan kemudian (2/4/2020), angkany mencapai 248,887 kasus atau meningkat sekitar 200,000% dalam sebulan. Cara sederhana untuk mengukur kecepatan penyebaran adalah waktu-ganda (doubling time) penyebaran kasusnya: semakin pendek waktu-ganda, semakin cepat semakin cepat, dan sebaliknya[2].

3)       Dampak Negatifnya Luar Biasa

Dampak negatif pandemi terhadap ekonomi dan ketenagakerjaan sudah diduga akan sangat besar. Tetapi yang terjadi jauh lebih besar dari dugaan para ahli. Menurut pemberitaan CNN (3/3/2002), dalam dua minggu terakhir di Amerika Seriat tercatat ada sekitar 10 juta penganggur baru. Beberapa analisis pasar kerja menyebut angka itu monstrous.

4)       Ketidaktahuan Kita

Yang mungkin paling menakutkan dari yang paling menakutkan adalah ketidaktahuan kita secara kolektif mengenai sifat-sifat dasar Covid-19. Kerendahhatian kita diuji di sini.

Para ahli konon sudah mengenali susunan genetis Covid-19 yang sangat mirip dengan SARS tetapi kenapa sampai sekarang belum dapat diproduksi obat atau vaksin untuk menangani Covid-19. Seorang ahli pandemi Korea yang sudah sangat berpengalaman dalam menangani wabah menular sampai pada kesimpulan bahwa satu-satunya faktor yang dapat diandalkan agar pasien yang terinfeksi dapat bertahan hidup adalah daya imunitas dari pasien yang bersangkutan. Ini menjelaskan kenapa angka kematian pasien usia lanjut relatif sangat tinggi.

Para ahli sejauh ini meyakinkan kita bahwa penyebaran Covid-19, bukan melalui udara, tetapi melalui media cairan (melalui batuk atau bersin). Rekomendasi resmi masih berdasarkan pemahaman ini. Tetapi penelitian di Amerika Serikat baru-baru ini menunjukkan bahwa Covid-19 dapat menular melalui pembicaraan bahkan pernafasan. Jika ini benar maka keyakinan para ahli selama ini dapat sangat dipertanyakan.

5)       Populasi yang Triliunan

Menurut seorang pakar virologi yang terkenal, Vincent Racaniello, habitat manusia di muka planet ini dipenuhi oleh triliunan virus. Bagi Racaniello “More Viruses in a liter of coastal seawater than people on Earth“. Jika ini benar maka pertanyaannya adalah  apakah realistis bagi kita untuk merasa aman sepenuhnya dari infeksi virus? Lebih dari itu, menurut dia, sekali kita terinfeksi suatu virus, kita selalu bersamanya selama hidup.

Kabar baik dari Raceniello adalah bahwa kebanyakan virus tidak berbahaya bagi manusia. Hampir semuanya berlalu saja melalui tubuh kita tanpa meninggalkan efek negatif. Tetapi siapa yang mampu mencegah suatu saat yang tidak diketahui kapan dan bagaimana caranya virus itu tidak berperilaku “nakal”?

*****

Pertanyaan dalam alinea terakhir mendorong pertanyaan lebih lanjut: (1) Jika selama ini kita aman dari virus, apakah ini karena “campur tangan” Entitas yang lebih besar dan lebih berkuasa dari kita, Entitas pencipta dan pengendali virus? (2) Jika Entitas itu, dalam situasi entah bagaimana, berkehendak virus itu “nakal” bagi manusia, apakah ini mungkin? (3) Jika pertanyaan ke-2 positif, apakah kehendak Entitas itu disertai maksud tertentu,  (purposeful), dan (4) Apakah virus itu, seperti dikemukakan Shihab, analog dengan tahi lalat pada paras rupawan yang kita, secara bodoh, mengabaikan keindahan paras itu?

Pertanyaan terakhir terkait dengan “kebodohan” kita mengabaikan konteks ketika melihat suatu isu. Akibatnya, kita kehilangan kepekaan untuk menarik pelajaran atau memetik hikmah dari isu itu[3]. Bagi penulis, pandemi Covid-19 berpotensi mencerahkan spiritual seperti halnya tahi lalat dapat mencerahkan paras pemilik keindahan, malikil jamal menurut istilah tembang klasik Arab-Andalusia.

Wabillahi taufiq walhidayah….@

[1] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/04/01/covid-19-case-death/

[2] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/03/27/covid-19-idonesia-accelerating/

[3] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2020/03/30/pandemi-covid-19-lessons-learned/

Pandemi Covid-19: Merenungi Beberapa Hikmahnya

Kasus Covid-19, tepatnya kasus yang dilaporkan (reported cases), masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Di beberapa negara Amerika Latin kasusnya bahkan meroket; artinya, berganda dalam hitungan hari; di Italia angkanya telah melampaui kasus China. Kasus yang meninggal di beberapa negara  juga meningkat pesat: di Spanyol kasusnya telah melampaui angka psikologis, 10,000; di Amerika Serikat berganda dalam dua hari.

Kasus Covid-19 tak pelak telah menyengsarakan kehidupan luas bagi masyarakat global, entah sampai kapan. Kesengsaraan ini dalam bahasa agama dapat dikatakan sebagai bala atau cobaan (mushibah) (Inggris: pain and calamity, trial) bagi kemanusian secara kolektif.  Dalam perspektif Al-Quran, bala adalah peristiwa alamiah yang terjadi karena kehendak Tuhan YME atau Rabb SWT. Yang perlu dicatat, kehendak-Nya bukan tanpa maksud karena semua kehendak-Nya pasti berlaku dan bertujuan. Dengan kata lain, bala dan cobaan ini, bagi orang yang beragama, pasti mengandung hikmah atau pembelajaran.

Tulisan ini adalah undangan untuk merenungi beberapa hikmah yang dimaksud. Sebelumnya, berikut disajikan catatan singkat mengenai konteks primordial dari isu ini.

Konteks Primordial

Pertanyaan mendasar bagi kita adalah kenapa bala atau cobaan bisa menimpa umat manusia sedemikian masif. Jawabannya wallahualam. Argumennya dapat ditelusuri dari kisah penciptaan manusia (QS 2:30):

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Aku hendak menjadi khalifah (baca: manusia) di muka bumi””.

Secara spontan para malaikat memberikan reaksi:

“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Reaksi para malaikat itu tentu tidak dimaksudkan untuk mempertanyakan kebijaksanaan-Nya. Mereka terlalu suci untuk itu. Para malaikat sekadar mengungkapkan rasa ingin tahu serta berharap sedikit penjelasan atau rasional di balik rencana-Nya itu. Yang penting untuk konteks tulisan ini adalah jawaban singkat dan tegas dari Rabb SWT:

“Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Paling tidak ada dua pelajaran yang dapat kita simak dari dialog singkat ini. Pertama, Rabb SWT tidak mengungkapkan rasionalitas penciptaan manusia kepada malaikat (apalagi kepada manusia), walaupun di ayat lain, tujuannya ditegaskan untuk menghambakan-diri kepada-Nya (QS 51:56). Kehambaan inilah alasan keberadaan kita di bumi ini. Kedua, manusia memiliki potensi atau kapasitas untuk membuat kerusakan di muka bumi ini, bahkan untuk saling-membunuh. Hemat penulis, fungsi ajaran semua agama diarahkan untuk “menjinakkan” potensi destruktif ini.

Hikmah Pandemi Covid-19

Tema hikmah dari pandemi Covid-19 sempat disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi, seorang cendekiawan Muslim Amerika Serikat, dalam suatu khotbah Jumat yang diselenggarakan dalam akhir Maret ini dan sangat sepi jamaah. Menurut Yasir, paling tidak ada empat hikmah yang dimaksud:

(1) Untuk mendemonstrasikan rububiyyah-Nya

Menurut pengamatan Yasir, dalam sejarah umat manusia baru di zaman kita sikap memposisikan diri sebagai Tuhan sudah sedemikian masal. Karakteristiknya antara lain sikap tinggi hati (takabbur) dan merasa tidak perlu yang lain (alghaniyyu). Sikap ini bagi Yasir merampok hak eksklusif-Nya sebagai Rabb SWT, pencipta, pengendali dan pemelihara alam raya.

Referensi: QS (3:181).

(2) Untuk menyadarkan posisi kehambaan manusia

Bagi Yasir, baru di zaman kita ini manusia secara masif melupakan karakter dirinya sebagai hamba Rabb SWT. Indikasinya, bagi mayoritas kita sikap rendah hati (tawadhu’) dan merasa miskin di hadapan-Nya (faqir) semakin langka. Dalam bahasa agama (Islam) ini berarti mengingkari perjanjian-purba kita dengan-Nya di zaman azali, di hari alastu.

Referensi: QS (51:56, 7:55, 3:181, 7:172).

(3) Untuk merestorasi religiusitas kita

Bagi Yasir, religiusitas atau perasaan, sikap dan praktik keagamaan kita secara kolektif makin memburuk. Indikasinya, fahsya atau perbuatan buruk yang dilakukan semakin terbuka dan semakin masif. Yang perlu dicatat, korbannya fahsya (di dunia ini) melanda semua pihak, tidak hanya pelaku atau yang terlibat.

Bagi Yaser, meluasnya fahsya sejalan dengan semakin meluasnya gaya dan filsafat hidup hedonisme, rakus, konsumtif dan bermewah-mewah. Di sisi lain, kita menyaksikan dekadensi akhlak dan kelemahan karakter semakin melanda semua kalangan. Cirinya antara lain menganggap enteng ajaran moral agama, serta miskin-sabar ketika menghadapi kesulitan.

Referensi: QS (6:32, 57:20, 47:31).

(4) Sebagai teguran keras terhadap sikap nafsi-nafsi kita

Bagi Yasir, mayoritas kita sekarang ini sudah semakin tidak peduli kepada orang lain (nafsi-nafsi, selfness). Baginya, malapetaka ini merupakan teguran keras untuk meninggalkan sikap itu serta untuk semakin peduli kepada g orang lain, dengan pengorbanan jiwa jika perlu. Kesiapan pengorbanan jiwa sudah banyak dicontohkan oleh para petugas medis.

Referensi: QS (2:3, 69:34).

Peringatan ini tampaknya efektif, Insyaallah. Terkait wabah ini akhir-akhir ini kita menyaksikan semangat saling-berbagi muncul di mana-mana: Klub Sepakbola Raksasa Roma membagikan bingkisan bagi para pendukungnya, sepasang keluarga di Inggris menyiapkan makanan untuk para pekerja kesehatan yang tengah berjuang,  beberapa perusahaan/pengusaha besar di banyak negara termasuk di Indonesia memberikan donasi untuk keperluan penanganan kasus Covid-19.

****

Bahwa manusia membawa kerusakan di bumi ditegaskan dalam salah satu ayat Al-Quran (QS 30:41): “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Yang perlu dicatat, ayat itu diturunkan jauh sebelum era industrialisasi, era ketika kita mulai berkontribusi terhadap apa kini dikenal sebagai perubahan iklim atau pemanasan global dalam skala yang eksponensial.

Pertanyaannya, apakah ini ada hubungan antara perubahan iklim dengan Covid-19? Menurut para ahli lingkungan hubungannya, kalaupun ada, kecil dalam jangka pendek. Walaupun demikian, respons kita secara kolektif dalam menghadapi pandemi Covid-19 terbukti secara ilmiah membawa perubahan positif terhadap iklim global; artinya, kualitas udara membaik akibat berkurangnya pencemaran karena CO2 dan Nitrogen. Jika ini benar maka bala ini mengungkapkan hikmahnya atau peringatan bagi kita agar serius mengenai isu pemanasan global, isu yang terbukti sangat mendesak tetapi cenderung kita abaikan[2].

Wallahualam…..@

[1] Istilah bala oleh penutur Bahasa Arab umumnya merujuk pada wabah (plague).

[2] Tulisan mengenai alasan kenapa kita secara kolektif mengabaikan isu perubahan iklim dapat diakses di sini:

https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

 

 

Wahyu Pertama Al-Quran dalam Perspektif Seorang Agnostik

Para ulama sepakat wahyu pertama Al-Quran adalah sebagaimana diabadikan dalam QS (96:1-5). Para ulama juga sepakat proses pewahyuan itu sangat memberatkan bagi Nabi SAW: “Ia (Malaikat Jibril) pun memegangku (Nabi SAW) dan mendekapku dengan erat untuk yang ketiga kalinya hingga aku pun sangat kepayahan”. Dasar pandangan para ulama adalah sejumlah Hadits yang dapat diandalkan termasuk yang diriwayatkan oleh Muslim (No.: 2277) dan Bukhari (No.:6982).

Lanjutan tulisan ini bukan mengenai substansi wahyu pertama, tetapi mengenai bagaimana respons Nabi SAW ketika dan setelah menerimanya; bukan menurut pandangan ulama, tetapi dari perspektif seorang cendekiawan Yahudi yang juga mengaku seorang psikolog dan agnostik. Cendekiawan yang dimaksud adalah Hazelton Lesly. Sebagai catatan, agnostik adalah orang yang beranggapan tidak ada bukti yang cukup untuk mengakui atau tidak mengakui adanya Tuhan. “Agama” agnostik bersama ateis tergolong kelompok yang mengaku tidak menganut agama tertenru (unaffiliated) yang menurut PEW Research Center adalah agama terbesar ke-3 setelah Kristen dan Islam. Untuk rujukan lihat antara lain tautan ini: https://uzairsuhaimi.blog/2018/05/27/muslim_pop_challenge.

Bagi Hazelton peristiwa pewahyuan adalah “sesuatu di luar pemahaman manusia, hanya bisa disebut kekaguman yang mengerikan (a terrible awe)” dan ketakutan adalah “satu-satunya respons yang waras, satu-satunya respons manusiawi”. Hal itu dikemukakan Hazelton dalam suatu ceramah umum. Dia agaknya fokus pada sisi manusiawi dari sosok Nabi SAW, sisi yang juga ditegaskan dalam QS (18:110): “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa seperti kamu, yang telah menerima wahyu)””.

Dalam ceramah yang sama ia mengemukakan pandangannya mengenai bagaimana kira-kira suasana psikologis Nabi SAW ketika turun dari gunung (Goa Hira) setelah menerima wahyu pertama:

…. Muhammad tidak turun dari gunung (Goa Hira) seolah berjalan di udara. Dia tidak berlari sambil berteriak, “Haleluya!” dan “Berkatilah Tuhan!” Dia tidak memancarkan cahaya dan sukacita. Tidak ada paduan suara malaikat, tidak ada musik, tidak ada kegembiraan, tidak ada ekstasi, tidak ada aura emas yang mengelilinginya, tidak ada perasaan mutlak, peran yang ditahbiskan sebelumnya sebagai utusan Allah…

… Muhammad did not come floating off the mountain as though walking on air. He did not run down shouting, “Hallelujah!” and “Bless the Lord!” He did not radiate light and joy. There were no choirs of angels, no music of the spheres, no elation, no ecstasy, no golden aura surrounding him, no sense of an absolute, fore-ordained role as the messenger of God…

Demikian gaya retorika Hazelton. Dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dapat diantisipasi terjadi, tetapi dengan apa yang tidak terjadi sekalipun mungkin diharapkan. Selanjutnya ia menambahkan:

… Dalam kata-katanya sendiri yang dilaporkan, dia pada awalnya yakin bahwa apa yang terjadi tidak mungkin nyata. Paling-paling, pikirnya, itu pasti halusinasi – tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri bekerja melawannya.

… In his own reported words, he was convinced at first that what had happened couldn’t have been real. At best, he thought, it had to have been a hallucination — a trick of the eye or the ear, perhaps, or his own mind working against him.

Yang layak dicatat, pandangan Hazelton ini sejalan dengan Hadits Bukhari (No.: 6982):

… Beliaupun pulang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: ‘wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?’ Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alami kemudian mengatakan, ‘aku amat khawatir terhadap diriku’. Maka Khadijah mengatakan, ‘sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran….

Wallahualam…@

 

Pengetahuan Primordial

Istilah primordial dalam tulisan ini mengacu pada pengetahuan sesuatu sudah pernah dan selalu kita ketahui: sudah pernah, karena kita ketahui sejak zaman azali, era pra-ada kita, atau mungkin sesaat sebelum kita ada; selalu karena pengetahuan itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Sudah Lupa

Tetapi kita sudah melupakan zaman itu karena kejadiannya sudah sangat lama. Dalam hal ini Aivanhov menarasikannya secara apik sebagai berikut:

You already know many things, but you do not know that you know. This knowledge comes from a very long time ago, when you still dwelt in the bosom of the Eternal, in light, love and beauty.

Anda sudah tahu banyak hal, tetapi Anda tidak tahu bahwa Anda tahu. Pengetahuan ini berasal dari waktu yang sangat lama, ketika Anda masih berdiam di pangkuan Abadi, dalam cahaya, cinta dan keindahan.

Substansi Pengetahuan

Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, Aivanhop menyebut asal-usul ilaihan dan misi kita di bumi ini:

There you learned everything about your divine origin, your predestination, the work you would have to do on earth to give expression to all the powers of your soul and your spirit.

Di sana Anda mempelajari segala sesuatu tentang asal usul ilahi Anda, takdir Anda, pekerjaan yang harus Anda lakukan di bumi untuk memberikan ekspresi kepada semua kekuatan jiwa dan roh Anda.

Kenapa Lupa

Bagi Aivanhop, alasan kita melupakan pengetahuan primordial adalah bahwa kita terlalu fokus pada pengetahuan yang tidak akan bertahan lama:

True, there are so many interesting things in the world to see, hear, read and so on. But try, all the same, not to focus too much on subjects that cannot help you change your life; apply yourself instead to improving the way you live. For that is the way you will attract true knowledge. Otherwise, what will happen is this: you will spend your time accumulating knowledge by all the means at your disposal – books, radio, cinema, television – but what you take in you will not retain for long.

“Benar, ada begitu banyak hal menarik di dunia untuk dilihat, didengar, dibaca, dan sebagainya. Tetapi cobalah… untuk tidak terlalu fokus pada mata pelajaran yang tidak dapat membantu Anda mengubah hidup Anda; terapkan diri Anda sebagai gantinya untuk meningkatkan cara hidup Anda. Karena itulah cara Anda akan menarik pengetahuan sejati. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah ini: Anda akan menghabiskan waktu mengumpulkan pengetahuan dengan segala cara yang Anda inginkan – buku, radio, bioskop, televisi – tetapi apa yang Anda peroleh tidak akan bertahan lama.

Weltanshauung Al-Quran

Pandang-dunia, world view atau tepatnya (secara epistemologi) Weltanshauung (Bahasa Jerman, dengan huruf W kapital) Al-Quran terkait pengetahuan primordial dapat dikatakan khas. Terkait dengan zaman azali ketika pengetahuan primordial itu kita kuasai, misalnya, Al-Quran mengilustrasikan kita ketika bahkan belum punya bahkan telinga (samii’an) dan mata (bashira) (QS (76:1). Terkait dengan substansi pengetahuan primordial, sebagai ilustrasi lain, Al-Quran menyebut pengetahuan mengenai Rabb SWT dan kesaksian bahwa se. iap kita memberikan kesaksian mengenai posisi kehambaan kita di hadapan-Nya (QS 7:172):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku in Tuhanmu”? Mereka menjawab “Betul (engkau Tuhan kami), kami bersasi”. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”.

Bagaimana mengenai alasan kita melupakan primordial? Al-Quran mengisyaratkan antara lain  ketebalan daki di hati kita karena kedurhakaan (Arab: fujjar) kepada-Nya.

Wallahualam…@

Pandang-Dunia Jahili dan Qurani

Masyarakat global tengah waswas karena epidemi Coronavirus yang mengglobal, menjangkiti (per tanggal 11 Februari 2020) sebanyak 43,101 jiwa, dan sebanyak 1,107 di antaranya meninggal[1]. Epidemi ini dilaporkan melumpuhkan kegiatan ekonomi tidak hanya di Wuhan-Cina di mana episentrum epidemi terletak, tetapi juga di kawasan Cina lainnya, bahkan dilaporkan mulai menganggu aktivitas ekonomi Dubai–Uni Emirat Arab. Yang terakhir ini menambah waswas banyak pihak karena Dubai merupakan salah satu pusat persinggahan lalu-lintas global. Demikianlah gambaran singkat mengenai kenyataan obyektif situasi-terkait virus corona.

Pertanyanya adalah apa artinya semua itu bagi kita secara subyektif. Ini adalah pertanyaan eksistensialis model Kierkegaard. Jawabannya tergantung pada cara pandang-dunia (world view, Weltanschauung), cara pandang melihat dunia secara keseluruhan. Bagi Kierkegaard semua fenomena alam yang dapat kita amati dan persepsi adalah tanda (Arab: ayat). Sayangnya dia tidak mengelaborasi lebih lanjut tanda apa.

Ada banyak cara pandang-dunia dan dua di antaranya yang utama adalah cara-pandang jahili dan cara-pandang qurani. Tulisan ini membahas secara singkat dua cara-pandang ini.

Pandangan Jahili

Istilah jahili dalam tulisan ini merujuk pada cara-pandang arus-utama Bangsa Arab sebelum kedatangan Islam awal abad ke-7. Ada empat ciri utama cara-pandang ini: (1) Ada ilah (Tuhan) lain selain Allah, (2) Tuhan tidak campur-tangan dalam urusan dunia, (3) Waktu (al-Dahr) menentukan kehidupan dunia, (4) tidak mempercayai keabadian jiwa atau kehidupan akhirat[2]. Semua ciri itu diabadikan secara ringkas dalam QS (45:24):

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (teks: al-Dhar). Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanya menduga-duga saja.

Pandang-dunia jahili ini sangat suram serta mendorong sikap dan perilaku fatalisme dan kehidupan hedonisme. Yang menarik untuk dicatat, pandangan ini sangat mirip (kalau tidak persis sama) dengan konsep nihilisme dan absurditas hidup sebagaimana dikembangkan oleh para sesepuh eksistensialisme[3]:

The notion of the absurd contains the idea that there is no meaning in the world beyond what meaning we give it. This meaninglessness also encompasses the amorality or “unfairness” of the world. This conceptualization can be highlighted in the way it opposes the traditional Abrahamic religious perspective, which establishes that life’s purpose is about the fulfillment of God’s commandments. Such a purpose is what gives meaning to people’s lives. To live the life of the absurd means rejecting a life that finds or pursues specific meaning for man’s existence since there is nothing to be discovered.

Pertanyaan: Apakah Zaman Now masih banyak penganut atau pemrakarsa cara-pandang jahili atau filsafat nihilis atau absurditas dunia?

Pandangan Qurani

Al-Quran, seperti halnya kitab-kitab berbasis wahyu lainnya (Taurat, Injil, dsb.), pada prinsipnya menegaskan dua ajaran pokok: (1) semua fenomena hidup di dunia-bawah-sini ini (the here-lower World) adalah tanda atau ayat keberadaan-Nya, (2) kehidupan abadi di Dunia-Atas-Sana (upper-hereafter World), dunia di mana semua jiwa akan mempertanggungkan kiprahnya di dunia ini secara adil. Ajaran kedua jelas mendorong kehidupan yang bertanggung jawab. Ajaran pertama mengingatkan bahwa Dia-SWT campur tangan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Al-Quran, meminjam istilah Izutsu, Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara lingustik (melalui wahyu) maupun non-lingustik (melalui fenomena alam). Dengan demikian, bagi mereka yang meyakini Kitab Suci berbasis wahyu, memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan. Fenomena alam yang dimaksud mencakup aneka macam peristiwa alamiah (qurani: sunnatullah), termasuk epidemi Coronavirus, ledakan dahsyat bintang raksasa di suatu galaksi sehingga menimbulkan supernova, dan merekahnya kelopak bunga lily of the valey karena terpapar hangat matahari pagi.

… memaknai fenomena alam sebagai ayat, “cara”, “modus” Dia SWT berkomunikasi dengan manusia secara keseluruhan.

Ayat non-lingustik ini “diturunkan” (istilah qurani: tanzil) oleh-Nya dan manusia dapat memahaminya (qurani: aqala, fahima, dsb.) Kenapa? Karena manusia memiliki organ yang dibutuhkan yaitu hati (qurani: lubb (pl. albab), qalb (fuad)).

Ayat itu dapat berbentuk khabar gembira (qurani: tabasshir) termasuk nikmat dan rahmat atau kabar buruk atau peringatan (qurani: indhar) termasuk azab. Respons manusia dua macam, membenarkan (qurani: tashdiq) atau mendustakan (qurani: takzib). Respons ini menentukan secara kategori apakah manusia tergolong beriman atau kafir.

Terima kasih layak ditujukan pada Izutsu telah membuat sistematika alur pikir Weltanschauung[4] Al-Quran mengenai ayat non-linguistik ini. Sebagian kecil dari sistematika itu disajikan pada Tabel berikut dengan harapan dapat mempermudah bacaan mengenai alur pikir itu.

Tabel: Ayat Non-Lingustik dan Respons Manusia

Divine Part God “send down” the ayat Tanzil
 

 

 

 

 

 

Human Part

Man understands the meaning of ayat aqala, fahima. faqiha, tafkkara, tadzakkara, tawassama, etc
The organ of understanding lubb (pl. albab), qalb (fuad)
The meaning of ayat A: ni’mah, rahmah, etc. (tabasshir)

B: intiqam, ‘iqab. ‘adzab, sakhat, etc (indhar)

The human response (a) tashdiq

(b) takdzib

The immediate consequence I: shukr (A+a)

II: taqwa (B+a)

III. kufr ((A,B)+b)

The final result Iman (I,II),

kufr (III)

Sumber: Diadaptasi dari Izutsu (1964:147).

Sikap Taqwa

Mereka yang memilik cara-pandang qurani tidak menapikan kemungkinan fenomena alam– termasuk tetapi tidak hanya epidemi Coronavirus– sebagai azab (=B) serta membenarkannya (=a) sebagai bentuk capur tangan Dia SWT. Cara pandang ini akan menghasilkan sikap taqwa (=B+a) dalam arti takut akan azab-Nya. Inilah arti dasar taqwa. Orang yang berpandangan ini selain berusaha menghenatikan penyebaran virus lebih lanjut (ini bagian manusia) juga akan menggantungkan harapan akan campur tangan-Nya (ini bagian ilahiah). Mereka akan berharap agar pademi black death–yang menelan korban jiwa 75-200 juta jiwa manusia Eurasia dan Eropa (puncaknya 1347-1351)– tidak terulang dalam sejarah manusia [5] berkat rahmat-Nya.

Mereka tidak membutuhkan bukti logis yang canggih untuk sampai kepada kesimpulan dan sikap itu karena bagi mereka kebutuhan semacam itu berbanding lurus dengan ketidaktahuan (ignorance), bukan pengetahuan (knowledge). Pandangan mereka tercermin dalam ungkapan Schuon (2007:4) yang padat: For the sage every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite [6]; yakni, Dia SWT. “Rahasia” mereka terletak pada penggunaan hati (heart) sebagai organ pemahaman (lihat Tabel), bukan pikiran (mind) yang ranahnya terbatas pada alam terikat ruang dan waktu dunia-bawah-sini (spatio-temporal realm).

For the sage, every star, every flower, is metaphysically a proof of the Infinite

Wallahualam….@

[1] https://edition.cnn.com/asia/live-news/coronavirus-outbreak-02-11-20-intl-hnk/index.html

[2] Lihat Izutsu (1964), God and Man in Quran, Koeio University.

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Existentialism

[4] Penutur Bahasa Inggris menggunakan istilah ini (dengan hruf awal Kapital) dalam dikursus filsafat kognitif yang serius karena padanannya world view dianggap mengambang (vague) bahkan tidak memadai.

 [5] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Death.

[6]Schuon, F. Spiritual Perspective & Human Facts, World Wisdom.

Air: Apa Kata Al-Quran?

Kita sebagai makhluk hidup ditakdirkan memiliki ketergantungan terhadap air[1]. Kita butuh air karena 60-70% berat tubuh kita berupa air. Demikian vitalnya fungsi air bagi tubuh sehingga kekurangannya akan memaksa tubuh secara otomatis mengambil sumber cairan lain dalam tubuh yaitu darah. Akibatnya darah mengental dan ini mengganggu fungsi darah mendistribusikan oksigen dan sari makanan ke seluruh bagian tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air itu maka kita perlu minum. Masalahnya, karena minum merupakan urusan sehari-hari, kita cenderung bersikap tidak peduli terhadap sumber air yang minum kita sehari-hari, suatu sikap yang kurang elok (QS 56: 68-70):

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkan dari awan atau Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Kutipan di atas, dalam bentuk narasi restrospektif, mengilustrasikan gaya khas Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Dia SWT dan ketergantungan kita secara mutlak kepada-Nya. Gaya ini khas dalam arti– mungkin berbeda dengan gaya Kitab-Kitab suci lain– menggunakan contoh kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diverifikasi (verifiable), bukan melalui penjelasan filosofis-abstrak atau cerita mengenai entitas atau peristiwa luar biasa yang adi manusiawi.

Yang menarik untuk dicatat, kata air (Arab: ٱلْمَآءَ), sangat sering disebutkan dalam Al-Quran selain yang dikutip di atas. Catatan penulis paling tidak ada ada 20-an ayat yang menyebutkan secara eksplisit kata air, tiga di antaranya adalah sebagai berikut:

  • “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha Mengetahui” (QS 22:63).
  • Tidakkah engkau melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya[2] (QS 35:27).
  • Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS 39:21).

Kutipan di atas menegaskan paling tidak dua hal. Pertama, air sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Sains dapat menjelaskan hal ini secara gamblang dan tak-terbantahkan. Kedua, air itu diturunkan-Nya (Arab: anzala) dari langit. Jadi, subyeknya jelas: Dia SWT.

Dengan iptek manusia dapat mengupayakan hujan buatan yang untuk keperluan jangka pendek, upaya yang dapat memberikan manfaat kepada manusia tetapi pasti dalam skala terbatas. Iptek mustahil dapat menggantikan fungsi matahari menguapkan air laut untuk membentuk awan dan mendistribusikannya secara alamiah pada tataran global. Selain itu perlu dicatat bahwa hujan buatan juga membawa dampak negatif yang merugikan antara lain dalam bentuk hujan asam dan pencemaran tanah[3].

Singkat kata, kita butuh air dan untuk memperolehnya kita perlu “campur tangan” langit. Dalam kontkes ini layak disisipkan di sini penuturan Lings[4] yang kaya makna terkait dengan simbolisme air:

In the Qoran the ideas of Mercy and water—in particular, rain—are in a sense inseparable. With them must be included the idea of Revelation, tanzīl, which means literally “a sending down.” The Revelation and the rain are both “sent down” by the All-Merciful, and both are described throughout the Qoran as “mercy,” and both are spoken of as “life-giving.” … rain might even be said to be an integral part of the Revelation which it prolongs, as it were, in order that by penetrating the material world the Divine Mercy may reach the uttermost confines of creation; and to perform the rite of ablution is to identify oneself, in the world of matter, with this wave of Mercy, and to return with it as it ebbs back towards the Principle, for purification is a return to our origins. Nor is Islam—literally “submission”—other than non-resistance to the pull of the current of this ebbing wave.

Dalam Al-Quran, gagasan tentang Rahmat dan air — khususnya hujan — dalam arti tertentu tidak dapat dipisahkan. Bersama mereka harus dimasukkan gagasan Wahyu, tanzil, yang secara literal berarti “mengirim turun.” Wahyu dan hujan keduanya “diturunkan” oleh Yang Maha Penyayang, dan keduanya digambarkan di seluruh Alquran sebagai “rahmat,” dan keduanya disebut sebagai “pemberian hidup.” … hujan bahkan dapat dikatakan sebagai bagian integral atau kelanjutan dari Wahyu yang … seolah-olah menembus dunia material, Rahmat Ilahi dapat mencapai batas-batas penciptaan yang paling tinggi; dan melaksanakan ritual wudu berarti mengidentifikasi diri sendiri, di dunia materi, dengan gelombang rahmat ini, dan untuk kembali bersamanya ketika ia kembali ke Prinsip, karena pemurnian adalah kembalinya ke asal usul kita. Islam yang secara literal “tunduk” tidak bearti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali-ke-asal.

Kutipan di atas mengaitkan air dengan rahmat karena keduanya sama-sama menggunakan kata tanzīl atau anzala. Jelasnya, kata ini dalam Al-Quran hampir semuanya digunakan untuk merujuk kepada rahmat dalam pengertian luas termasuk kitab, quran, ayat, tempat yang diberkati, dan ketenangan yang “diturunkan” ke dalam hati seseorang atau sekelompok orang. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk antara lain QS (48:18).

Islam yang secara literal berarti “tunduk” tidak berarti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali ke asal-usul kita.

Walalhualam…@

[1] Istilah “bumi yang hijau” menarik untuk dicatat karena setara dengan istilah ilmiah “blue planet” yang digunakan berdasarkan fakta ilmiah bahwa sekitar 72% permukaan bumi tertutup oleh air[1]. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Air

[2] Terkait dengan aneka jenis buah-buahan penulis teringat cerita seorang teman warga Jerman keturunan Argentina yang ingin ke Indonesia. Ketika ditanya apakah bermaksud mengunjungi Bali atau Candi Borobudur ia mengiyakan tetapi yang utama adalah ingin banyak menikmati buah manggis yang katanya tidak tumbuh di kawasan Amerika Latin.

[3] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/hujan-buatan

[4] Martin Lings “The Qoranic Symbolism of Water”, Studies in Comparative Religion, Vol. 2, No. 3. (Summer, 1968) © World Wisdom, Inc.www.studiesincomparativereligion.com

 

Banjir, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia

Warga Jabodetabek dan sekitar kali ini memperoleh “hadiah” tahun baru yang luar biasa: kepungan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Singkatnya, bencana. Kepada para korban kita turut prihatin, berempati serta dituntut untuk membantu meringankan beban kesulitan mereka: para korban perlu diyakinkan bahwa negara “hadir” dan solidaritas sosial di antara warga bangsa masih kental[1].

Bencana alam seperti banjir terkait dengan faktor cuaca yang sebagian di luar kendali manusia: “Cuaca di bumi juga dipengaruhi oleh hal-hal lain yang terjadi di angkasa, di antaranya adanya angin matahari atau disebut juga star’s corona[2]. Oleh karena itu, untuk menyikapinya, selain wajib melakukan segala upaya manusiawi untuk mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim dan cuaca[3], sikap pasrah untuk menerima takdir-Nya adalah suatu sikap sehat dan terpuji, paling tidak dari sisi agama.

Banjir kali ini dilaporkan tidak hanya melanda kawasan ‘langganan” banjir musiman, tetapi juga beberapa wilayah yang sebelumnya ‘bebas” banjir. Kasus banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Lebak dilaporkan baru pertama kali terjadi. Laporan semacam ini mendukung dugaan bahwa bencana kali ini terkait dengan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang bersifat global.

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Terkait dengan perubahan iklim global ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, kesadaran penduduk mengenai seriusnya isu itu semakin meningkat (Grafik1).

Grafik 1: Persentase Responden yang Menganggap Perubahan Iklim sebagai Ancaman Utama Negaranya

Sumber: INI

Kabar buruknya, tingkat kerusakan ekologis yang diakibatkan sudah sedemikian parah sehingga tindakan jamaah warga planet bumi bukan pilihan tetapi keharusan serta tidak dapat ditunda[4]. Urgensi masalahnya diabadikan dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet.

Ulah Manusia

Selain faktor alamiah yang di luar kendali, faktor ulah manusia juga berpengaruh terhadap bencana atau kerusakan alam. Bukti ilmiah mengenai hal itu boleh dikatakan melimpah. Dengan kata lain, dalil aklinya meyakinkan. Demikian juga dalil naqlinya, dalil berbasis Quran atau Sunah. Sebagai ilustrasi, QS(30:41) menunjuk langsung hidung manusia sebagai pelaku kerusakan “di darat dan di laut”:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41)

Ada dua catatan menarik dari ayat ini. Pertama, ayat itu diturunkan lebih dari satu milenium lalu ketika manusia belum mengenal teknologi “perusak” alam dalam skala yang kita kenal sekarang. Kedua, ayat itu memastikan pelaku kerusakan merasakan akibat sebagian perlakukannya terhadap alam.

Selain itu ada ayat lain yaitu QS (2:9-11) yang menengarai “perusak bumi” sebagai ciri orang-orang munafik:

dan di antara manusia ada yang berkata “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman (ayat ke-8).

Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), Janganlah berbuat kerusakan di bumi“. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan” (ayat ke-11).

Ingatlah sesungguhnya merekalah orang yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari” (ayat ke-12)

Ada kesan ayat ini ditujukan pada para perencana dan pelaku pembangunan fisik (katakanlah atas nama pertumbuhan ekonomi) yang tidak memiliki visi pembangunan berkelanjutan.

Wallahualam…@

[1] Kentalnya solidaritas ini terungkap dari pemberitaan media masa terkait penanganan korban bencana di sekitar Jakarta. Hal serupa (kalau tidak lebih mengesankan) terkait upaya bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir bandang di sebagian wilayah Lebak yang medannya dilaporkan sangat sulit dijangkau. Informasi mengenai yang terakhir diperoleh dari lapangan langsung melalui beberapa pegiat kemanusiaan yang kebetulan masih keluarga dekat penulis.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca

[3] Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang sangat luas dalam periode waktu yang sangat lama (11-30 tahun) yang disebabkan oleh letak geografis dan topografi suatu wilayah yang mempengaruhi posisi matahari terhadap daerah di bumi. Lihat https://www.padamu.net/pengertian-cuaca-dan-iklim-dan-perbedaannya

[4] Posting mengenai perubahan iklim dapat diakses di sini https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/