Khotbah Jumat yang Luar Biasa

Pada Jumat 15/3/2019 yang lalu Imam Gamal Fouda menyampaikan Khotbah Salat Jumat yang luar biasa.

Keluarbiasaan khotbah ini terletak pada setidaknya dua faktor. Pertama, khotbah disampaikan di suatu lokasi dekat Masjid Al-Noor New Zealand (NZ) di mana seminggu sebelumnya terjadi teror penembakan masal. Dalam teror ini korban meninggal dunia dilaporkan 50 orang yang kebanyakan berasal dari jamaah Masjid Al-Noor (lihat Peta di bawah).

Sumber Gambar: INI

Kedua, “target” khotbah tidak hanya jamaah Salat Jumat tetapi juga ratusan orang non-jamaah yang secara sengaja menyaksikan pelaksanaan Salat itu. Termasuk dalam non-jamaah adalah PM NZ, Jacinda Ardern, yang mendengarkan khotbah secara khusyu dan memeproleh pujian dari khatib. Lebih dari itu, dilihat dari “pesan politik” (terkait supremasi Kulit Putih) yang disinggung khatib, target itu khotbah adalah pemirsa di seluruh dunia khususnya kalangan para politisi.

Singkatnya, dilihat dari lokasi, waktu dan targetnya, kotbah itu luar biasa.

Bagi penulis ada faktor lain menjadikan khotbah itu luar biasa– dalam arti sangat jarang ditemukan dalam suatu Khotbah Jumat– yaitu kecermatan bahasa yang digunakan.

Keseluruhan narasi khotbah disampaikan dalam waktu yang relatif singkat dan ini sesuai dengan tradisi Rasul SAW. Ini layak ditiru dan digugu oleh para khatib.

Yang juga layak digugu dan ditiru adalah penggunaan bahasa yang sangat efektif karena menggunakan kosakata yang mudah dipahami dan lembut. Alquran menggunakan istilah qaulan baliga (QS 4:63) untuk yang pertama dan qaulan layyina (QS 20:44) untuk yang kedua.

Istilah qaulan layyina merujuk pada perkataan yang lembut dalam arti tidak menyakitkan hati bagi lawan bicara, tetapi sekaligus tajam dalam arti mengena kepada sasaran tanpa menyembunyikan kebanaran. Istilah ini digunakan Al-Quran sebagai bagian dari bekal Nabi Musa AS ketika harus berhadapan dengan Firaun, raja Kerjaan Mesir Kuno yang sangat tiran bahkan mengaku sebagai “tuhanmua yang paling tinggi” (QS 79:24).

Dalam konteks khotbah ini, qaulan layyina digunakan khatib untuk mengritik politik kebencian dan ideologi supremasi kulit putih. Khatib melancarkan kritik ini dalam bahasa yang masih dalam batas-batas kesantunan tetapi sekaligus tajam serta tidak menyembunyikan kebenaran.

Sumber Gambar: INI

Bacaan Imam Salat ini (dari rekaman video tampaknya bukan Imam Gamal Fouda) patut digugu dan ditiru. Dalam Salat ini Imam membacakan ayat/surat pendek dan cara ini bersifat qurani. Maksudbya, secara ekplisit Al-Quran menganjurkan untuk membacakan ayat/surat yang “mudah” ketika mengimami Salat karena harus mempertimbangkan keragaman kesibukan jamaah (lihat QS 73:20). Aspek “kemudahan” ini agaknya kurang mendapat perhatian dari para khatib kita di tanah air. (Mudah-mudahan penulis keliru.)

Sebagai catatan akhir, ayat yang dibacakan dalam rakaat pertama terkesan diarahkan kepada ahli mushibah (keluarga korban teror) yaitu mengenai kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Sementara dalam rakaat kedua ayat yang dibacakan adalah surat pendek (ke-112, al-ikhlas) yang terkesan diarahkan kepada Umat Islam  secara keseluruhan agar konsisten dallam bertauhid, khusuanya ketika tengah berada dalam komunitas yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Singkatnya, ayat/surat yang dibawakan sangat relevan dengan jamaah. Aspek “relevansi” Ini agaknya juga kurang mendapat perhatian dari khatib kita. (Mudah-mudahan penulis keliru.)

Mengingat luar biasanya khotbah ini pembaca dianjurkan untuk melihat teksnya secara lengkap yang dapat diakses di SINI.

 

 

Obama dan Teror New Zaeland

Terkait dengan teror New Zaeland (NZ)[1]  Obama menyatakan belasungkawa melalui tweeter  singkatnya (15/3/19):

Michelle dan saya mengirimkan belasungkawa kami kepada orang-orang Selandia Baru. Kami berduka dengan Anda dan komunitas Muslim. Kita semua harus melawan kebencian dalam segala bentuknya:

Michelle and I send our condolences to the people of New Zealand. We grieve with you and the Muslim community. All of us must stand against hatred in all its forms.

Yang menarik untuk dicatat, lebih dari 100 orang me-retweet dan lebih 650,000 orang menyukai tweet itu. Hampir semuanya berisi pujian, terima kasih, dan dukungan, dan … harapan.

Sebagian yang merespons tweeter itu menyatakan harapan agar Obama berbicara dengan Jacinda Ardern, PM NZ:

I bet Prime Minister Jacinda Ardern wishes she could talk to you at a time like this. Come to think of it…bet she has.

Sebagian membandingkan PM itu dengan POTUS (Preseident of the United States) dalam hal menangani tragedi penembakan masal:

Cara PM itu menangani teror NZ dinilai oleh hampir semua kalangan sangat terpuji. Belum seminggu setelah teror itu PM sudah mengeluarkan kebijaksanaan untuk melarang penggunaan senjata model militer oleh masyarakat umum. PM itu agaknya menganut filsafat: “Kalau mau membengkokkan baja maka lakukan itu ketika membara”.

Ia juga berjanji melakukan perubahan mendasar dalam undang-undang penggunaan senjata bagi masyarakat sipil. (Untuk merealisasikan ini tentu saja perlu waktu karena memerlukan persetujuan parlemen sekalipun diperkirakan akan memperoleh dukungan penuh termasuk dari kelompok opisisi.)

Singkatnya, apa yang dilakukan PM itu kontras dengan apa yang dilakukan POTUS.

Demikian terpujinya cara PM itu menangani teror sehingga salah seorang yang merespons tweet Obama berharap dukungan Obama untuk mencalonkan PM NZ sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian:

Kia Barack, thanks for the message and support, from a Christchurch-born Kiwi. I have a request I hope you may consider… I believe NZ Prime Minister, Jacinda Ardern should be nominated for a Nobel Peace Prize for her leadership and handling of the situation…

Harapan itu tidak berlebihan. Lihat saja apa yang dikatakan dan dilakukannya sepenuh hati terkait teror NZ. Lihat saja kiprahnya ketika mengunjungi lokasi sekitar Masjid saat ribuan Muslim melaksanakan Salat Jumat pertamakali setelah tragadi itu. Masjidnya masih belum dapat diguanakan, masih dipasangi garis polisi.

[1] Posting mengenai teror ini dapat dikases di SINI….. @

 

Entin dan Taplak Meja

Entin[1], usai Salat Asar, menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk mulai “proyek” kecilnya yaitu membordir taplak meja hasil rancangannya sendiri. Entin menyadari perlu waktu paling tidak seminggu untuk menyelesaikan proyeknya ini: meja di ruang tamu di mana ia akan bermaksud meletakannya relatif besar. Tetapi dia tidak merasa perlu tergesa-gesa. Baginya proyek itu untuk mengisi waktu luang sambil menunggu suami-tercinta pulang kantor.

Begitu suami tiba Entin membereskan dengan sigap peralatan rendanya dan segera menyambut suami dengan hangat: mengambilkan tas, menyiapkan teh dan penganan kecil, dan menawarkan obrolan ringan. Biasanya Sang Suami merasa kurang nyaman ngobrol lama karena merasa dirinya tidak sebersih dan sewangi istri: “Biar habis magrib obrolannya di lanjutkan” bisiknya dalam hati. Keluarga ini dianugerahi berkah yang agaknya langka dan semakin langka: hubungan suami-istri yang dilimpahi kasih-sayang-tulus.

Sang Suami memiliki kesan mendalam. Ketika pulang kerja ia selalu menemui istrinya tengah mencurahkan perhatian pada pekerjaan renda itu, sepenuh hati, penuh passion.

Taplak meja-bordiran  itu kini sudah berada di tempat sesuai peruntukan pembuatnya. Tetapi Entin sudah tiada. Dan suasana kehidupan dan rutinitas Sang Suami jauh berbeda.

 

Sumber Gambar: Google

Ia pulang kerja masih pada jam biasanya. Bedanya, kini tidak ada lagi yang menyambut. Tidak ada lagi yang menyiapkan teh dan penganan hangat. Tidak ada lagi senyum-tulus. Tidak ada lagi kehangatan obrolan-ringan yang secara efektif mampu melepaskan kepenatan kantor.

Kini, pulang kerja ia duduk lunglai di sofa. Sambil menatapi taplak meja di depannya. Tatapan kosong. Ia selalu melakukan hal yang sama. Setiap hari. Pada jam-jam yang sama.

Taplak meja itu baginya bukan taplak meja biasa. tetapi representasi Entin. Lebih dari itu. Baginya taplak meja itu “menghadirkan Entin”–atau dalam bahasa lain– “tajalli Entin”. Itulah arti kata tajalli, sesederhana itu.

Bagi Sang Suami, demikian riil tajalli itu– atau dengan kata lain demikian intens “kesadaran kehadiran” itu– sehingga ia tidak jarang menangis sambil menciumi taplak meja itu dan menyebut-nyebut nama Entin. “Sudah gila”, pikir anaknya yang mendapati Sang Bapak berperilaku demikian.

Pertanyaan (1): Apakah Sang anak salah? “Tidak, dia obyektif”. Apakah Sang Suami salah? “Tidak juga, dia mampu melihat dimensi batiniah dalam sesuatu yang bersifat lahiriah”.

Pertanyaan (2): “Sudah mampukah kita melihat tajaliat Rabb SWT pada semua makhluk-Nya (Al-HUkam: al-Kaun)?

Jika belum maka itu terjadi karena daya pandang kita terlalu lemah di tengah kelimpahan cahaya-Nya. Kita layaknya kelelawar di siang hari yang tidak mampu melihat segala sesuatu di sekitar, bukan karena sesuatu itu tidak ada, tetapi karena daya pandangnya terlalu lemah di tengah terangnya cahaya matahari.

Wallahualam…..@

[1] Cerita ini diadaptasi dari Cermah Kiai Zezen ZA dalam pengajian Al-Hikam yang rekamannya dapat diakses di SINI.

 

Faktor Pengali Kebaikan dan Permutasi Kebajikan

Seharusnya kita lebih bergairah untuk melakukan kebaikan (Arab: hasanat) dari pada kejahatan (Arab: sayyiat).

Paling tidak ada dua argumen mengenai ini. Pertama, bagi manusia kebaikan secara spiritual bersifat alami. Tidak ada keraguan mengenai ini karena merupakan pengetahuan-langsung-bawaan. Kedua, bagi yang percaya Kitab Suci, rasio faktor pengali antara kebaikan dan keburukan sangat besar yaitu 10:1. Ajaran ini bukan berasal dari nasihat Ustaz, wejangan Kiai, atau bahkan Sabda Nabi SAW; ia bersumberkan Firman Ilahi.

Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (QS 6:160).

Kalimat terakhir merujuk pada balasan kejahatan yang ditegaskan sebagai konsekuensi dari kezaliman diri-sendiri atau tanggung jawab individu; jadi, tidak perlu mencari “kambing hitam”. (Ayat ke-164 menegaskan tanggung jawab individu ini.)

Rabb SWT tentu lebih mengetahui maksud sebenarnya dari rasio 10:1 ini. Walaupun demikian kita mungkin diizinkan untuk berilustrasi mengenainya melalui skenario sederhana berikut.

Misalkan hari ini Anda melakukan 5 kebaikan dan 10 kejahatan. Misalkan juga, untuk mudahnya, bobot kebaikan dan keburukan sama (=1, tetapi beda tanda). Dalam kasus ini skor Anda adalah 45, angka yang diperoleh dari: 5×10(+1) + 10x(-1). Jika Anda melakukan kebaikan dan kejahatan dengan frekuensi yang sama (=10), maka skor Anda itu menjadi 90 = 10×10(+1) + 10×1(-1).

Sekali lagi, skenario di atas sekadar ilustrasi, sekadar upaya untuk memudahkan memaknai ayat yang bersangkutan. Lebih dari itu, jika dikehendaki-Nya, faktor pengali balasan kebaikan dapat tak terhingga (QS 40:40), sementara faktor pengali balasan kejahatan dapat NOL karena terhapus oleh kebaikan (QS 11:114).

Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga (QS 40:40).

Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Ruang lingkup kebaikan sangat luas, tidak hanya mencakup apa yang jelas-jelas merupakan kewajiban agama seperti salat, zakat, taklim dan sebagainya. Kebaikan termasuk perilaku dan kegiatan kongkret sehari-hari yang dimotivasi, dibimbing dan diarakan oleh kebajikan spiritual yang fundamental. Artinya, perilaku dan kegiatan yang berbasis kebenaran (veracity), serta mencerminkan kebersahajaan (humility) dan kemurahan hati (generosity).

Kebenaran, kebersahajaan, kemurahan hati. Inilah trilogi kebajikan fundamental.

Permutasi dua logi dari trilogi ini akan menghasilkan enam kebajikan turunan yang dapat memperjelas makna serta kualifikasi masing-masing logi: (1) Kemurahan-hati yang bersahaja, (2) Kebenaran yang bersahaja,  (3) Kebersahajaan yang murah-hati, (4) Kebenaran yang dermawan, (5) Kebersahajaan yang benar, dan (6) Kemurahan-hati yang benar. Penjelasan mengenai masing-masing kebajikan turunan ini dapat diakses di SINI, juga di SINI.

 

Sumber Gambar: Google

Salat yang Sempurna

Sumber Gambar: Google

Ibadah Istimewa

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama perbuatan manusia yang dihisab pada hari kiamat, adalah Salat Wajib. Maka apabila ia telah menyempurnakannya (maka selesailah persoalannya). Tetapi apabila tidak sempurna Salatnya, dikatakan (kepada malaikat), “Lihatlah dulu, apakah ia pernah mengerjakan Salat Sunat! Jika ia mengerjakan Salat Sunat, maka kekurangan dalam Salat Wajib wajib disempurnakan dengan Salat Sunatnya”. Kemudian semua amal-amal yang wajib diperlakukan seperti itu”. (HR. Khamsah dalam Nailul Authar Juz I halaman 345)[1].

Hadits di atas menyiratkan keistimewaan Salat. Keistimewaannya juga tersirat dari banyaknya ayat Al-Quran yang berbicara mengenai Salat.

Penelusuran ayat dengan Lafzi mengantarkan kita pada lebih dari 100 ayat Al-Quran mengenai Salat yang diletakkan dalam berbagai konteks. Salah satu ayat yang dimaksud adalah ini:

Dan laksanakanlah Salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah) (QS 11:114).

Analisis Bahasa

Kata laksanakanlah dalam kutipan atas merupakan terjemahan dari kata aqimi yang berbentuk kata kerja perintah (Arab: fi’il amr). Kata ini berasal dari kata aqama (bukan qama) yang memiliki timbangan (Arab: wazan) af’ala (bukan fa’ala).

Seperti diungkapkan Shihab[2], kata af’ala berarti ’melaksanakan sesuatu pada waktunya, berbentuk, tertib urutan-urutannya, menghasilkan sesuatu, sungguh-sungguh, serta penuh kekhidmatan; singkatnya, melakukan sesuatu secara sempurna. Jadi, kalimat aqimi al-shalah (dalam ayat di atas) terjemahan lebih lengkapnya kira-kira laksanakanlah Salat secara sempurna yang berbeda dari terjemahan yang sering ditemukan yaitu “dirikanlah Salat”[3] .

Salat Sempurna

Dari analisis singkat di atas kita dapat mengidentifikasi paling lima ciri Salat yang sempurna sebagai berikut.

1. Pada Waktunya.

Salat– maksudnya lima Salat Wajib yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya– dilakukan pada waktu yang ditetapkan. Mengenai waktu Salat ini Nash (ayat Al-Quran) mencantumkannya secara eksplisit (QS 4:103).

Rentang waktu Salat Wajib menetapkan batasan kapan dimulai dan kapan berakhir waktu Salat. Sebagai contoh, Salat Subuh dimulai dari waktu fajar dan berakhir ketika matahari terbit. Rentang waktu itu relatif panjang tetapi para Ulama agaknya sepakat untuk menyegerakannya atau di awal waktu.

2. Mematuhi Tata Cara yang Baku

Salat harus dilaksanakan dengan mematuhi tata cara yang sudah baku. Tata cara ini termasuk menghadapkan diri ke arah Kiblat, melafalkan Al-Fatihah dan bacaan wajib lainnya,  dan melakukan gerakan tubuh sesuai yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Mengenai yang terakhir Hadits Nabi SAW menyatakannya secara eksplisit: “Salatlah sebagaimana kalian melihatku Salat.” (HR. Bukhari 631, 5615, 6008)

3. Menaati Tata Tertib

Menurut definisi Salat dimulai dengan mengucapkan Takbir dan diakhiri dengan Salam. Ucapan takbir ‘membuka komunikasi sangat pribadi dengan Allah SWT’ dan merupakan ‘lambang dari iman, dari taqwa, dari ikhlas, dan dari segala sesuatu yang bersifat pribadi’. Tetapi itu tidak cukup karena Salat harus diakhiri dengan ucapan Salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ucapan dan tindakan ini ‘menandakan bahwa setelah khusyuk berkomunikasi dengan Allah, kita tidak boleh melupakan komunikasi kita dengan lingkungan sosial kita’ (Majid, 2000:82)[4].

Di antara Takbir dan Salam ini terdapat gerak tubuh (dan bacaan) yang harus dilakukan secara tertib atau urutan yang ditentukan. Menaati tata tertib ini bersifat mutlak dalam arti menentukan keabsahan Salat.

4. Berdampak Sosial Positif

Salat dapat dikatakan berhasil-guna jika berhasil “menghadirkan” Rabb SWT ke dalam hati pelaku Salat. Al-Quran menggunakan istilah mengingat-Nya untuk maksud yang sama (QS 20:14):

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah dan laksanakanlah Salat untuk mengingat-Ku.

Dalam konteks yang lebih luas, Salat dikatakan sempurna jika melahirkan dampak sosial yang positif. Mengenai hal ini paling tidak ada dua argumen. Pertama, dalam Al-Quran perintah Salat hampir selalu diikuti oleh perintah berzakat yang jelas berdimensi sosial. Kedua, dalam salah satu Surat (ke-107), Al-Quran secara eksplisit mengecam orang Salat– bahkan menuduhnya sebagai pendusta agama– tetapi mengabaikan anak yatim dan orang miskin.

5. Serius

Untuk dikatakan sempurna Salat perlu dilakukan secara serius dalam arti terbebas dari perilaku negatif termasuk malas, ria, dan lalai. Al-Quran mencirikan orang munafik dengan orang yang Salat tetapi menyandang perilaku-perilaku negatif semacam itu (QS 4:142):

Sesungguhnya orang munafik hendak menipu Allah, tetapi Allah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk Salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.

Na’udzu billah min dzalik.

Demikianlah catatan singkat mengenai kesempurnaan Salat. Sebagai catatan akhir, Salat idealnya difungsikan juga sebagai wahana “Latihan Mati” sebagaimana terungkap dalam posting INI.

Wabillahit taufiq wal hidayah…  @

 

[1] https://www.fiqihmuslim.com/2015/09/kumpulan-hadist-nabi-tentang-sholat.html.

[2] Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume I (2002:176).

[3] Yang terakhir ini tidak tepat secara kebahasaan karena menggunakan timbangan fa’ala, bukan af’ala .

[4] Majid, Nurholish, Perjalanan Religius ‘Umrah Haji, PARAMADINA.

 

[Versi pdf dapat dakses di SINI]

Early Muslim Civilization

 

Charitable donations

Hard work in months had been invested to prepare this book. Voluntary donations, as little as USD $2, accordingly are highly valued to compensate; jazakallah khaira.

$2.00

 

[Untuk versi Bahasa Indonesia klik INI}

For better comprehension of the early history of Muslim civilization.

This book gives you a quick and easy reading material to understand the origin and dynamic of early Muslim civilization.

In this book, you will learn:

  1. Historical context that shaped the rise of Islam as the last cycle of Abrahamic monotheistic tradition;
  2. Hostile rejection by the Mecca infidel to the radical monotheistic message of Islam;
  3. Hijrah or forced migration of small and vulnerable Muslim community from Mecca to Medina that marked the
    the emergence of Muslim civilization;
  4. Challenges faced by early Ummah in Medina to maintain survival and to develop civilization;
  5. How early Ummah was guided by Revelation for roughly 23 years in Mecca and Medina eras; and
  6. The legacy inherited by the Prophet Muhammad-PBUH to the Ummah.

If you have the commitment to broaden and deepen comprehension of early Muslim civilization in a short time, TIHIS BOOK is for you. 

 

Gunung, Gua dan Hati

Jika kita mendengar cerita orang-orang dulu yang pergi untuk bersemadi atau bertapa ke gunung atau gua, maka sikap kita– karena latar belakang pendidikan modern dan arogansi intelektual– kemungkinan cenderung mencemoohkan. Sikap ini kurang elok karena alasan yang akan segera jelas.

Dikisahkan Rasul SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Dikisahkan pula Musa AS menerima wahyu Taurat di Gunung at-Thur. Gua dan gunung ini adalah fakta fisik-geografis; atinya, kita dapat memverifikasinya. Di luar fakta ini, keduanya tentu istimewa karena dipilih-Nya untuk menyampaikan wahyu yang menurut Guénon berarti “pengungkapan ilahiah atau supernatural kepada manusia mengenai sesuatu yang terkait dengan eksistensi manusia atau dunia”[1]. Dalam tafsirnya yang terkenal Jalalyan ketika mengartikan kata at-Thur (QS 52:1) “bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa”.

Di luar tradisi agama-agama samawi, gua maupun gunung secara historis dikenakan makna simbolis; keduanya merepresentasikan pusat spiritual.

Dalam Bahasa Sanskerta kata gua (guhā) berasal dari akar kata guh yang berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Kata itu seakar dengan kata gup; karenanya, istilah gupta digunakan untuk apa pun yang bersifat rahasia dan tidak tampak di permukaan.

Dalam Bahasa Latin kata itu sinonim dengan kata “crypt” yang  yang juga berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Ide dari kata-kata itu terkait dengan pusat, sejauh itu dilihat sebagai paling batini (inward) dan karenanya merupakan titik yang tersembunyi (hidden point).

Ide yang sama juga merujuk pada inisiasi (mistis) yang bersifat rahasia dalam kaitannya dengan peristiwa itu sendiri maupun dengan tempat di mana inisiasi itu berlangsung. Keduanya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan yang masih berjiwa duniawi (profane) .

Dalam artian simbolis, gua dilihat sebagai tempat yang terletak di bawah atau di dalam gunung sehingga keduanya saling melengkapi. Walaupun demikian, menurut Guénon (ibid), gunung secara simbolis lebih purba (primordial) dibandingkan gua.

Berbeda dengan gunung yang dapat terlihat secara kasat mata dari semua sisi, gua pada dasarnya tempat tersembunyi dan tertutup. Dari pengamatan ini Guénon (ibd) menyimpulkan bahwa representasi pusat spiritual dari gunung terkait dengan periode di mana “kebenaran seluruhnya dapat diakses oleh semua”; pada periode sesudahnya kebenaran itu hanya dapat diakses oleh segelintir kalangan elite. Untuk memperoleh gambaran agak lengkap mengenai pikiran Guénon (ibid), berikut ini disajikan ungkapannya secara langsung :

… that the mountain is more “primordial” in its significance than the cave: it is so in virtue of being outwardly visible, we might even say of being the most visible object from all sides, whereas the cave is, on the contrary, an essentially hidden and closed place. It can easily be deduced from this that the representation of the spiritual center by the mountain corresponds to the original period of earthly humanity, during which the truth was wholly accessible to all …; but when owing to the downward march of the cycle, this truth was no longer within the scope of more than a fairly restricted “élite” …. and had become hidden from the majority, the cave was a more fitting symbol of the spiritual center and therefore of the initiatic sanctuaries which are its images.

… gunung lebih “primordial” signifikansinya dari gua: demikianlah karena gunung secara lahiriah terlihat, kita bahkan mungkin mengatakan menjadi objek yang paling terlihat dari semua sisi, sedangkan gua adalah, sebaliknya, pada dasarnya tersembunyi dan tertutup. Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa representasi dari pusat spiritual oleh gunung sesuai dengan periode awal manusia di bumi ketika kebenaran sepenuhnya dapat diakses oleh semua; pada masa selanjutnya, karena siklus yang mengarah ke ke bawah, kebenaran ini tidak hanya dapat diakses hanya oleh kalangan “elite” yang cukup terbatas …. dan telah menjadi tersembunyi dari mayoritas, gua adalah simbol lebih pas dari pusat spiritual dan karenanya menggambarkan tempat inisiasi suci.

Ungkapan di atas tidak berarti gunung berubah atau pindah tempat; yang terjadi adalah “puncaknya” seolah-olah menyembunyikan diri ke bagian dalam. Bagi Guénon perubahan yang tampak terbalik ini (reversal) tidak berarti  “dunia lebih tinggi dan lebih lebih dalam” (higher and inner world) telah berubah; yang berubah adalah “dunia luar” (external world), demikian juga hubungan antara keduanya.

Oleh Guénon gunung diilustrasikan oleh segitiga yang mengarah ke atas, sementara gua segitiga lebih kecil yang mengarah ke bawah. Gambar 1 merujukkan hubungan “terbalik” sekaligus “saling melengkapi” antara keduanya.

Bagaimana agar segitiga yang di bawah dimasukkan ke dalam segitiga yang di atasnya sedemikian rupa sehingga menutupi yang pertama secara sempurna. Menurut Guénon (ibid), yang juga ahli matematika, caranya adalah dengan menarik satu garis tengah secara horizontal pada segitiga yang di atas dan menjadikan garis tengah itu sebagai “alas” bagi segitiga yang mengarah ke bawah. Hasilnya adalah “klop” dengan 4 segitiga: satu mengarah ke bawah, yang lainnya ke atas sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Guénon (ibid)  memaknai hasilnya ini sebagai simbol “Segel Sulaiman” (“Seal of Solomon”).

Guénon mengungkapkan bahwa segitiga terbalik juga melambangkan hati (heart) dan cawan (cup), khususnya dalam kaitannya dengan misteri Cawan Suci (Holy Grail). Selain itu dia mengungkapkan bahwa segitiga yang di bawah lebih kecil dibandingkan dengan yang di atas tetapi dalam kaitan ini kata kecil sekaligus bermakna besar, jauh lebih besar:

… in connection with the relationship between the cave and the heart, the text of the Upanishads where it is said that the Principle, which resides at “the center of the being”, is “smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a grain of mustard, smaller than a grain of millet, smaller than the seed that is in a grain of millet”, but also at the same time “larger than the earth, larger than the atmosphere (or the intermediary world), larger than the heavens, larger than all the worlds together”…

…. sehubungan dengan hubungan antara gua dan hati, teks Upanishad mengungkapkan bahwa Prinsip, yang berada di “pusat wujud”, “lebih kecil dari sebutir beras, lebih kecil dari sebutir gandum, lebih kecil dari sebutir mustar, lebih kecil dari sebutir jawawut, lebih kecil dari benih yang ada di sebutir jawawut “, tetapi juga di saat yang sama “lebih besar dari bumi, lebih besar dari atmosfer (atau dunia perantara), lebih besar dari langit, lebih besar dari semua dunia bersama-sama.

Terkait dengan kutipan di atas kita dapat menganalogikan makna “besar-kecil” dengan misteri hati seorang Mukmin yang sekalipun fisik kecil tetapi menurut satu Hadits qudsi dapat menampung Tuhan: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”

Masing-masing kita punya hati yang dimaksud oleh Hadits itu. Artinya, kita menyandang ruang sempit yang dapat menampung-Nya. Lokus ini yang dinasihatkan Rumi agar dikunjungi secara reguler. Wallahualam….@

[1] http://www.studiesincomparativereligion.com/Public/articles/The_Mountain_and_the_Cave-by_Rene_Guenon.aspx