Prolog dari Prolog

Tulisan ini mengenai prolog kisah anak-cucu Adam, kisah manusia, kisah kita semua, di dunia-bawah-sini. Tulisan ini juga mengenai prolog dari prolog itu,

Prolog Kisah Manusia

Prolog kisah manusia di dunia, dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam), ditandai dengan kisah kejatuhan Adam-Hawa AS dari surga. Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa ini? Jawabannya berbeda antar tradisi agama samawi.

Posisi Yahudi tidak terlalu jelas. Mungkin karena Yahudi lebih fokus pada sukunya sendiri daripada pada “supra suku”, anak-cucu Adam secara keseluruhan. Posisi Kristen jelas: Adam-Hawa AS yang bertanggung jawab sehingga anak-cucunya menyandang dosa keturunan. Kristen secara khusus menyalahkan Hawa As atau Eve dalam bahasa Inggrisnya. Hal ini tersirat dari kata evil atau devil– diturunkan dari kata Eve– yang selalu berkonotasi negatif, jahat dan bahkan merusak[1].

Bagaimana dengan Islam? Posisinya juga jelas: iblis paling bertanggung jawab. Itulah sebabnya Al-Quran sering mengingatkan setan, anak cucu-iblis, sebagai musuh manusia. Ini tidak berarti Adam-Hawa tidak bersalah: keduanya, dalam porsi yang sama, divonis bersalah tetapi kesalahannya dimaafkan. Kesalahan mereka bukan saja melanggar perintah-Nya untuk tidak mendekati “pohon ini” (hadzihi al-syajarah), lebih dari itu mereka berdua makan buah yang berasal dari pohon terlarang itu. Lihat QS (2:34-35):

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir (34).

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tapi) janganalah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim (35).

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai batas yang ditentukan (36).

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia menerima tobatnya. Sungguh Allah Maja Penerima tobat, Maha Penyayang (37).

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (38).

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (39).

Semua ayat di atas mengisahkan “proses” kejatuhan Adam-Hawa dari surga, “warisan” anak-cucu mereka, tentunya bagi yang memenuhi “syarat”. Persyaratan itu adalah mengikuti petunjuk-Nya (ayat ke-35).

Persyaratan yang dimaksud menegaskan perbedaan pandangan Islam yang sangat berbeda dengan pandangan Kristen dalam hal keselamatan (salvation): bagi Kristen keselamatan hanya mungkin melalui Juru Selamat (Savior), bagi Islam itu tergantung pada ketaatan individu (“barang siapa”, ayat ke-38) mengikuti petunjuk-Nya. Dalam konteks ini, rahmat-Nya tentu menentukan karena seperti diungkapkan Schuon (2007:82)[2]: “… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue“.

… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue.

Demikianlah kisah singkat “kejatuhan” manusia dari surga-atas-sana ke dunia-bawah sini. Pertanyaannya, bagaimana kisahnya sebelum kejatuhan itu?

Sebelum Kejatuhan

Sebelum kejatuhan mereka Adam-Hawa AS tinggal di “kampung” surga yang penuh kenikmatan, kemuliaan, dan keredaan-Nya. Sejumlah ayat Al-Quran mengisyaratkan gambaran kehidupan di kampung itu.

a. Kenikmatan

Gambaran kenikmatan hidup di surga disajikan dalam QS (2:35) yang mengisyaratkan ketersediaan sumber pangan dalam jumlah melimpah dan dapat dinikmati sepuas-puasnya. Gambaran yang luar biasa disajikan dalam sejumlah ayat Surat ke-56, Surat Al-Waqiah:

berlokasi di antara pohon bidara yang tidak berduri (ayat ke-28), dipenuhi pohon pisang yang buahnya bersusun-susun (29), di bawah naungan yang luas (30), difasilitasi air yang terus mengalir (31), dipenuhi buah-buahan yang tak-terlarang untuk menikmatinya dan pohonnya tidak berhenti berbuah (32-33), dilengkapi kasur-kasur yang tebal lagi empuk (34), dilayani para bidadari yang sebaya, penuh cinta dan terus dibuat perawan (35-37)…

Itulah gambaran surga bagi “ahli kanan” (teks: ashabul yamin) yang bagi banyak komentator “lebih wah” dari yang dapat dibayangkan oleh pikiran yang paling liar sekalipun. Tetapi gambaran itu masih di bawah kelas “surga kenikmatan” (teks: jannatun naim, ayat ke12) yang disiapkan untuk “orang-orang dekat ” (teks: muqarrabun) yang “wah”-nya sukar di bayangkan.

b. Kemuliaan

QS (2: 234) sebagaimana dikutip di atas mengisyaratkan kehidupan Adam AS sangat mulia, demikian mulianya sehingga para malaikat bersujud kepadanya. “Malaikat bersujud”: Adakah kemuliaan yang lebih agung dari ini?

Tetapi kemuliaan itu bukan hak eksklusif Adam AS. Kemuliaan itu juga disandang oleh semua manusia, anak-cucu Adam: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam QS (17:70).

c. Reda dan Diredai

Anak cucu Adam yang memasuki surga-Nya berarti menerima undangan-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang reda dan diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Kua, dan masuklah ke alam surga-Ku  QS (89:27-30).

Kata kunci ayat ini: jiwa tenang (teks: an-Nafs al-Muthmainnah)[3], reda, dan diredai-Nya.

*****

Kenikmatan, kehormatan, dan diredai-Nya. Adakah anugerah yang lebih besar dari ini? Kisah anugerah inilah yang menjadi prolog dari prolog kisah manusia di dunia-bawah-sini sebelum jatuh dari sugra-atas-sana.

Wallahualam….@

[1] Ini adalah pandangan eksternal seorang non-Yahudi dan non-Kristen yang belum tentu sesuai atau memadai dari persepsi internal penganut dua agama samawi ini.

[2] Frithjof Schuon (2007), Spiritual Perspectives and Human Facts, World Wisdom.

[3] Mengenai jiwa tenang lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/10/07/jiwa-tenang/.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Jiwa yang Tenang

Kalau ada kesempatan memohon hanya satu hal kepada-Nya, apakah doa itu? Jawaban dapat bermacam-macam sesuai dengan kedewasaan emosional, kapasitas intelektual, dan kepekaan spiritual yang bersangkutan. Bagi penulis, doa itu adalah jiwa yang tenang (Quran: al-nafsu al-muthmainnah). Argumennya, hanya yang berhati tenang yang memperoleh undangan memasuki surga-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku, (QS 89:28-30)

Dalam ayat itu jelas yang berjiwa tenang tidak hanya masuk surga-Nya, tetapi memasukinya dengan rida dan rida-Nya. Adakah yang lebih beruntung dari memperoleh undangan ini? Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara memperoleh status atau stasiun spiritual berjiwa tenang?

Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan ini tetapi hampir semuanya terkait dengan sikap merespons karunia-Nya. Dia SWT memiliki kebebasan mutlak untuk memberikan atau tidak memberikan karunia-Nya. Ini pasti. Yang juga pasti, karunia-Nya dapat sesuai atau tidak seusai keinginan. Dari dua kepastian ini terbentuk semacam matriks 2×2, katakanlah X(i,j), yang masing-masing bersifat dikotomi. Artinya, hanya dua kemungkinan nilai i atau j: 1 (ya) atau 0 (tidak). Dalam konteks ini masing-masing isi matriks itu dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • X(1,1): memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, memperoleh rezeki “nomplok”, lebih besar dari biasanya. Contoh lain, lulus ujian akhir dengan predikat yang memuaskan bagi pelajar atau mahasiswa. Ajaran agamanya, syukur: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS 14:7).
  • X(1,0): memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, sakit yang berkepanjangan atau kena stroke. Contoh lain, usaha bangkrut sehingga rencana kuliah anak urung. Ajaran agamanya, sabar: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas “(QS 39:10; juga 2:155).
  • X(0,1): tidak memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, belum memperoleh kelebihan rezeki sehingga niatan mengajak istri umrah belum kesampaian. Ajaran agamanya, qanaah: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki”(QS 13:26).
  • X(0,0): tidak memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, urung di PHK padahal perusahaan tempat kerja sedang dililit hutang: Ajaran agamanya, syukur.

Berikut adalah matriks dengan isi semacam itu:

Kesesuaian dengan keinginan
Ya Tidak
Karunia-Nya  

Diberikan

Syukur

Contoh: Memperoleh rezeki “nomplok”

Sabar

Contoh: Kena stroke

Tidak diberikan

Qanaah

Contoh: Belum mampu mengajak istri umrah

Syukur

Contoh: Tidak jadi di PHK

Kesimpulannya, jiwa tenang terkait dengan beberapa kebajikan spiritual yang lain antara lain syukur, sabar dan qanaah: jiwa tenang dapat direalisasikan jika hati dipenuhi rasa syukur ketika menerima karunia-Nya, sabar ketika memperoleh cobaan hidup, serta qanaah, menerima dengan rasa syukur “jatah” rezekinya sekecil sekalipun. Semua kebajikan spiritual hanya mungkin lahir dari keyakinan mantap terhadap kebenaran ayat ini:

Apa saja di antara rahmat Allah kepada manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup melepaskan setelah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (QS 35:2)

Wallahualam….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Hamba ar-Rahman dan Kesalahen Sosial

Pasrah, Yakin dan Serius

Pasrah, yakin dan serius. Trilogi ini merupakan tuntutan normatif semua agama. Dalam istilah Islam, trilogi ini adalah Islam, Iman dan Ihsan. Unsur terakhir ini konotasinya adalah keseriusan dalam dua unsur pertama. Semua unsur ini terdapat dalam ajaran semua agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) walaupun terdapat perbedaan penekanan. Dalam konteks ini Islam menghendaki  keseimbangan ketiga unsur itu[1]. Mengenai hubungan tiga unsur trilogi ini layak direnungi penegasan Schuon (2005:70)[2] :

There is no iman (unitary faith) without islam (submission to the Law), and there is neither one nor the other without ihsan (spiritual virtue), that is without profound understanding or realization; whereas accepting the One has already given himself (aslama) to Him…

Gelar Ganda

Pada tataran normatif, masing-masing unsur dari trilogi itu itu saling mencakup sehingga seorang individu yang (ber)Islam atau Muslim, juga (ber)Iman atau Mukmin, sekaligus (ber)Ihsan atau Muhsin. Mukminun (kata benda, jamak) yang berasal dari kata Mukmin dalam  Al-Quran merujuk pada kolektif dari individu yang dimaksud (Umat). Istilah ini artinya benar-benar beriman[3] sehingga bersifat inklusif dalam arti menyandang unsur keislaman dan keihsanan. Singkatnya, mukminun (mukminin), muslimun (muslimin) dan muhsinun (muhsinin) adalah gelar-ganda yang disandang oleh Umat.

Ada lagi satu gelar bagi Umat yang disebutkan dalam Al-Quran tetapi agaknya kurang populer yaitu ‘ibadul ar-Rahman atau, untuk mudahnya, hamba-hamba ar-Rahman. Istilah ini menarik karena, misalnya, kenapa tidak disebutkan hamba-hamba Allah. Analog dengan ini, ketika Siti Maryam RA didatangi “seorang pria” di kamar pribadinya beliau “berlindung kepada ar-Rahman”, bukan “berlindung kepada Allah”.

Ar-Rahman adalah salah satu nama-Nya yang sangat kaya makna sehingga di sini tidak diterjemahkan[4]. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan hamba-hamba ar-Rahman?

Ragam Karakter

Istilah hamba ar-Rahman dapat ditemukan dalam QS (25:63-68). Ayat-ayat ini memberikan banyak ciri atau kualifikasi dari hamba ini antara lain rajin salat malam (63), sangat mengkhawatirkan siksa neraka (65-6), dan hemat tetapi tidak kikir (67).

Terkait dengan banyaknya kualifikasi ini menarik untuk dikemukakan komentar Nouman Ali Khan, seorang pakar Bahasa Arab dan juru dakwah Muslim Amerika Serikat yang menurut catatan Wikipedia termasuk dalam 500 orang Muslim yang paling berpengaruh di dunia. Bagi Khan, banyaknya kualifikasi itu menunjukkan ragam karakter dari individu Umat sehingga seorang hamba ar-Rahman tidak harus memenuhi semuanya. Baginya, sudah bagus kalau satu atau beberapa dari ciri itu sudah disandang. Argumennya, dalam dunia nyata sangat sulit seseorang menyandang semua ciri-ciri itu.

Pandangan Khan layak dipertimbangkan karena dia terkenal keahliannya dalam memahami struktur ayat suatu Surat dalam Al-Quran: dia meyakini dan sering memberikan ilustrasi mengenai kuat dan indahnya struktur ayat Al-Quran, sama-sekali tidak acak sebagaimana pandangan kebanyakan. Jika kita tidak mampu melihat kekuatan dan keindahan struktur itu maka itu semata-mata menunjukkan ketidakmampuan kita.

Untuk memahami jalan pikiran Khan, lirik lirik lagu “tombo ati” dapat digunakan sebagai ilustrasi. Lagu ini mendaftar lima keutamaan agar hidup kita mencukupi: (1) baca Quran dan maknanya, (2) salat malam, (3) berkumpul bersama orang saleh, (4) rajin puasa, dan (5) zikir tengah malam. Berapa banyak yang bisa melakoni itu semua? Jawaban yang patut diduga: langka. Itulah sebabnya, satu saja cukup sebagaimana terungkap dalam lirik lagu itu: “salah saawijine sopo bisa ngelakoni mugi-mugi gusti Allah nyembadani“.

Rendah Hati lagi Santun

Kembali ke topik hamba ar-Rahman (ibad ar-rahman).

Sebagaimana disinggung sebelumnya, hamba berkualifikasi “khusus” ini memiliki banyak ciri. Tetapi ada satu ciri istimewa karena disebutkan pertama dan penyebutannya melekat atau satu ayat dengan kata “ibad ar-Rahman”. Ciri itu adalah rendah hati (teks: hauna) dan bicara santun bahkan terhadap orang-orang bodoh yang menghina sekali pun (teks: jahilun). Ini ayatnya:

“Dan adapun hamba-hamba ar-Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila menyapa orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”.

Jadi, mengikuti pola pikir Khan, sekalipun Anda tergolong kurang rajin puasa sunat Senin-Kamis, bangun malam, baca Al-Quran, atau mengikuti pengajian, agaknya sudah berhak bergelar hamba ar-Rahman sejauh memiliki dua ciri ini: rendah hati dan berakhlak (berperilaku spontan) santun ketika berkomunikasi dengan sesama. Dua ciri yang satu nafas ini (dalam satu ayat) terkesan digarisbawahi Al-Quran ketika menjelaskan hamba ar-Rahman, serta mencerminkan akhlak yang dapat menyuburkan kesalehan sosial yang sayangnya masih kurang disemangati oleh Umat.

Wallahualam…@

[1] Mengenai perbedaan penekanan ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/.

[2] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, World Wisdom.

[3] Kualifikasi “benar-benar” perlu untuk membedakan dengan amanu (kata kerja) yang artinya juga “orang-orang beriman”.

[4] Kata ar-Rahman tidak diterjemahkan karena kedalaman maknanya. Mengenai hal ini lihat INI.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Menianjau-Ulang Makna Ar-Rahman

Maha Pemurah

Kata Ar-Rahman (Arab) umumnya diterjemahkan “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”. Dalam basmalah (QS 1:1) kata ini disandingkan dengan kata Ar-Rahman yang pada umumnya diterjemahkan oleh ahli tafsir “Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan bahwa dua kata ini merujuk secara eksklusif kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini menarik dicermati posisi Shihab. Dalam Tafsirnya Al-Mishbah, Shihab (2006:22) tidak menerjemahkan dua kata ini mungkin karena menganggap tidak ada padanan bahasa Indonesia yang memadai. Beliau menganggap dua kata ini memiliki rumpun kata yang sama (terkait dengan rahmat) walaupun beda timbangan (Arab: wazan): jika Rahman berwazan fa’lan, Rahim fa’il (halaman 34). Mengenai hubungan antar keduanya beliau mengungkapkan:

Dengan kata ar-Rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedangkan dengan ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya (halaman 22).

Terjemahan “Maha Penyayang” untuk Al-Rahim umumnya dinilai tepat; tetapi terjemahan “Maha Pemurah” untuk Ar-Rahim, sekalipun ini merupakan mayoritas, bermasalah. Tulisan ini membahas secara singkat letak masalahnya.

Konteks Penggunaan

Menurut Sister WH dalam Discover True Islam, permasalahan terletak pada pengabaian konteks bagaimana kata Ar-Rahman secara aktual digunakan dalam Al-Quran. Berikut adalah sebagian argumennya:

Dan siapa yang lebih memenuhi syarat untuk menafsirkan nama Al-Rahman daripada Al-Rahman sendiri? (Maksudnya, Allah SWT.) Penggunaan kata, bukan etimologi dan tentu saja bukan kamus, selalu merupakan faktor penentu dalam memaknai suatu kata, dan ini tanpa kecuali. Bagaimana nama digunakan dalam Al-Quran harus menjadi faktor penentu bagi kita untuk memutuskan apa arti nama itu… hal ini terlebih berlaku bagi nama yang disebutkan demikian sering dan dianggap demikian penting dan menonjol seperti nama Ar-Rahman.

Untuk mendukung argumennya dia mengajukan tiga kasus berikut.

1. Kasus Maryam RA

Dalam QS (19:17,18) dikisahkan Maryam RA, ketika didatangi seorang pria (Jibril AS) yang memasuki kamar pribadinya, meminta perlindungan kepada Al-Rahman:

… lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Ar-Rahman, jika engkau orang yang bertakwa”.

Dengan menyebut Al-Rahman, dia tentu meminta perlindungan dari yang “Mahakuasa”, bukan meminta belas kasihan dari yang “Maha Pemurah”. Yang terakhir ini tentu tidak akan menanamkan rasa takut kepada “penyusup” sehingga penggunaannya dalam konteks ini jelas tidak tepat.

2. Kasus Ibrahim AS

QS (19:45) dikisahkan Ibrahim AS berkata kepada ayahnya yang kafir dan penyembah berhala: “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab Ar-Rahman, sehingga engkau menjadi teman bagi setan…”

Menimpakan azab jelas bukan tindakan yang Maha Pemurah (the Merciful) tetapi yang Mahakuasa (the Almighty). Dalam konteks ini Sister WH mengemukakan:

Is this the act of The Merciful, or The Beneficent, or The Most Gracious, to wrathfully leave Satan as the guide of someone? Does this act express His mercy and beneficence? Or is this the act of The Almighty, the Ultimate Authority, the All-Powerful Avenger?

3. Kasus “Anak Tuhan”

Kata Ar-Rahman juga digunakan dalam kasus penghujatan Al-Quran terhadap klaim bahwa Dia SWT memiliki anak (QS 19:88-93):

Dan mereka berkata, Ar-Rahman mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja angit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Karena menganggap Ar-Rahman mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Ar-Rahman mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan dibumi melainkan akan datang kepada Ar-rahman sebagai seorang hamba.

Mengomentari ayat-ayat ini Sister WH menyatakan:

They vividly describe how this blasphemy invokes His wrath. Is this the description of “The Beneficent” or “Most Gracious”? Do these ayat describe a benevolent benefactor (as in “beneficent”) or a generous host (as in “gracious”), “graciously” accommodating His “guests” or the recipients of His largesse, or a kind-hearted ruler forgiving His subjects, or do they describe NONE but THE ALMIGHTY???

(Catatan: huruf kapital dan tanda tanya berasal dari penulis yang bersangkutan.)

Dari tiga kasus di atas jelas bahwa Ar-Rahman tidak tepat jika diterjemahkan sebagai “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”; terjemahan yang tepat adalah Mahakuasa (the Almighty). Jika ini kasusnya maka kata Ar-Rahman tidak serumpun dengan kata Ar-Rahim. Hal ini sejalan dengan QS (25:60) yang mengesankan bahwa Ar-Rahman tidak dikenali oleh penurut Bahasa Arab di era Nabi SAW.

Jika tiga kasus di atas belum meyakinkan, silakan cermati QS (Surat: Ayat) berikut:

1:1, 1:3, 2:163, 13:30, 17:110, 19:18, 19:26, 19:44, 19:45, 19:58, 19:61, 19:69, 19:75, 19:78, 19:85, 19:87, 19:88, 19:91, 19:92, 19:93, 19:96, 20:5, 20:90, 20:108, 20:109, 21:26, 21:36, 21:42, 21:112, 25:26, 25:59, 25:60, 25:60, 25:63, 25:63, 26:5, 27:30, 36:11, 36:15, 36:23, 36:52, 41:2, 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, 43:81, 50:33, 55:1, 59:22, 67:3, 67:19, 67:20, 67:29, 78:37, dan 78:38.

Semua ayat itu mendukung argumen bahwa terjemahan tepat untuk Ar-Rahman adalah yang Mahakuasa (the Almighty).

 

Sumber Gambar: Pinterest

Kesimpulan dan Implikasi

Mahakuasa dan Maha Penyayang. Dua kata ini menunjukkan dua sifat yang berlawanan (saling melengkapi): kekuatan absolut dan belas kasih absolut. Kekuatan pasangan inilah yang “mengendalikan” Alam semesta: Alhamdulillahi rabbil alamin,  Ar-rahman ar-Rahim (QS 1:2-3) [*]. Dalam Al-Quran, Ar-Rahim tercantum dua kali lebih banyak dari pada Ar-Rahman; 114:57. Fakta ini mungkin mengisyaratkan bahwa “satu unit” kekuasaan harus diimbangi oleh “dua unit” kasih sayang.

Memahami hubungan Ar-Rahman dan Ar-Rahim (dalam arti “Maha Kuasa” dan “Maha Penyayang”) penting untuk memahami-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengurus alam raya yang luar biasa dinamis dan kuat, yang secara langsung dan terus menerus berinteraksi dengan segala, secara aktif menciptakan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Untuk jelasnya, silakan renungkan kutipan ini:

Just entering into this understanding, we can clearly see that Allah is not a static provider of mercies and benevolence, as many perhaps unconsciously picture Him, but rather an unfathomably dynamic and powerful Creator and Sustainer and Caretaker of, directly interacting with, all that exists – continuously, actively creating in the past, present and future, not One who created everything only in the past and now leaves everything to just continue along a path pre-set by Him, as some picture it.

Wallahualam…@

[*] Masing-masing unsur dari pasangan ini, seandainya analogi diizinkan, mungkin analog dengan unsur Yang dan Yin dalam filosofi Budha Tibet.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Berkah: Pendalaman Makna

Wajar jika kita berharap mendapatkan satu pohon dari satu benih yang kita tanam. Tapi, bagaimana jika kita mendapatkan 10 pohon? Atau, 10 tahun kemudian, kita mendapatkan hutan kecil sebagai hasilnya? Jika hal itu terjadi, dan itu tidak mustahil, maka tindakan kita menanam satu benih mengandung berkah. Demikianlah kira-kira gambaran Shad Hamid ketika menjelaskan makna berkah (Arab: barakah). Ia menegaskan bahwa itu baru sebagian dari makna berkah. Jadi apa makna berkah? Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan singkat ini secara singkat pula.

Makna Lingustik Berkah

Kata barakah kira-kira setara dengan blessing (Inggris) yang umumnya dikaitkan dengan suatu obyek yang dianggap memiliki kualitas atau dapat memberikan pengaruh luar biasa. Obyek itu dapat berupa orang (“orang suci”), bangunan (“bangunan suci atau kramat”), tempat (“tempat suci atau kramat”), dan obyek lainnya. Pemahaman ini sangat problematik karena membatasi kedalaman dan keindahan maknaa berkah; dalam Bahasa Shad, “limits it’s actual deep and beautiful meaning“.

Makna pertama berkah, seperti disinggung sebelumnya, terkait dengan pertumbuhan, penambahan, atau peningkatan. Jadi, sesuatu yang mengandung keberkahan berarti tumbuh. Tetapi pertumbuhan itu melampaui harapan (Arab: fawqa thawaqqu).

Makna kedua dari berkah terkait dengan kesinambungan, bukan bersifat sementara. Sesuatu yang terus bertambah atau tumbuh terlalu cepat– misalnya bangunan yang terus bertambah lantainya, atau pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat– biasanya mengundang risiko terpapar keambrukan (crash). Kata berkah bersifat berkesinambungan sehingga tidak mengandung unsur risiko semacam itu.

Ada makna ketiga berkah dan ini terkait dengan unta. Ini penjelasannya:

… the third part of the meaning of Barakah has something to do with camels. The Arabs call a camel that kneels or sits down as Barakah. This is because anyone who has had any experience with a camel will know that when a camel sits down it’s very difficult to get the camel to stand back up again, and when the camel has sunk in the sand, the camel is extremely stable and stays in its place. Meaning, there is no risk in the camel or the rider falling down, it doesn’t go anywhere.

Similarly, Barakah is something that is stable. It’s not like an economy that rises and crashes, it’s not like the fashion that comes and goes, it is something that stays.

… bagian ketiga dari makna Barakah ada hubungannya dengan unta. Orang-orang Arab menyebut unta yang berlutut atau duduk sebagai Barakah. Ini karena siapa pun yang pernah memiliki pengalaman dengan unta akan tahu bahwa ketika unta duduk, sangat sulit untuk mendapatkan unta untuk berdiri kembali, dan ketika unta tenggelam di pasir, unta sangat stabil dan tetap di tempatnya. Artinya, tidak ada risiko unta atau pengendara jatuh, ia tidak pergi ke mana pun.

Demikian pula, Barakah adalah sesuatu yang stabil. Ini tidak seperti ekonomi yang naik dan turun, tidak seperti mode yang datang dan pergi, itu adalah sesuatu yang tetap.

Singkatnya, menyetarakan berkah dengan blessing sangat problematik. Lebih dari itu, dalam perspektif Islam, juga berbahaya. Kenapa? Karena hanya Dia SWT yang menggenggam kemaslahatan maupu kemudaratan. Buktinya, lihat saja ayat ini “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu” (QS 29:21).

Kata Berkah dalam Al-Quran

Kata berkah bersifat qurani dalam arti tercantum dalam banyak ayat Al-Quran. Sebagian di antaranya ditemukan dalam QS 6:92, 44:3, 25:1, 17:1, 37:113, dan 7:96. Semuanya layak direnungkan. Dalam konteks ini, makna linguistik kata itu sebagaimana dibahas sebelumnya diharapkan dapat meningkatkan apresiasi kita terhadap makna barakah yang tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Ayat terakhir (7:96) mungkin dapat dijadikan contoh kasus uji coba bagi kita:

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan

Pembangunan yang Berkah: Suatu Refleksi

Kesimpulannya: tumbuh, berkesinambungan dan stabil. Trilogi inilah kira-kira yang merangkum makna linguistik berkah. Kalau sekarang populer istilah SDGs– artinya, Sustainable Development Goal atau Sasaran Pembangunan yang Berkelanjutan– maka kita dapat memperkenalkan pembangunan yang berkah. Ini berarti Sasaran Pembangunan yang Berkelanjutan dan Stabil atau Sustainable and Stable Development Goals, SSDGs. [Istilah pembangunan (development) secara implisit mengandung makna pertumbuhan (growth); yang kedua adalah syarat perlu untuk yang kedua, bukan syarat cukup.]

Sumber Gambar: Pinterest

Huruf S kedua dalam SSDG dapat membantu mengingatkan pentingnya aspek stabilitas ekonomi, keamanan, sosial-kultural dalam pembangunan berkelanjutan. Tanpa stabilitas, SDGs tidak dapat termanifestasi dalam realitas bumi. (Dalam hal ini kita perlu belajar dari Pak Harto?) Sisipan S kedua juga dapat membantu kita memiliki balance equation yang tidak hanya mendaftar apa yang harus dilakukan, tetapi juga item apa saja yang tidak boleh dilakukan. Dengan sisipan itu kita ibarat pasien yang cerdas, tidak hanya melakukan apa diperintahkan dokter, tetapi juga menghindari apa yang dilarangnya.

Mungkin banyak yang keberatan dengan istilah “pembangunan yang berkah” dengan argumen dalam kata “berkesinambungan” terkandung makna “stabil”. Tapi konotasi dua istilah terakhir berbeda. Jika yang pertama erat terkait dengan isu lingkungan alam atau faktor eksternal bagi populasi manusia, maka yang kedua dengan berkonotasi lebih faktor “internal” manusia dalam arti perilaku sosial-politik mereka. Jika mengacu kepada salah satu dokumen SDGs, yang pertama lebih terkait dengan dimensi planet dan people, yang kedua dengan peace. Terkait yang kedua ini dokumen itu mengingatkan:

We are determined to foster peaceful, just and inclusive societies which are free from fear and violence. There can be no sustainable development without peace and no peace without sustainable development.

Make sense?

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Tazakka, Tuzakku dan Kesucian Hati

Kata hati dalam judul merujuk bukan pada sesuatu yang bersifat fisik, melainkan pada– meminjam istilah KH Zezen— “dimensi keilahian dalam diri manusia”. Kata tazakka dan tuzakki (Arab) adalah istilah  qurani yang berbicara mengenai kesucian hati dalam pengertian itu. Yang menarik, dua kata ini berakar kata yang sama (zaka) tetapi memiliki konotasi yang bertentangan: sementara yang pertama positif, yang kedua negatif bahkan tercela. Tulisan ini menelusuri dua kata ini dalam Al-Quran dalam kaitannya dengan kesucian hati. Sebelumnya, berikut adalah analisis bahasa dua kata ini secara singkat.

Kaya Makna

Bahasa Arab kaya makna dengan aturan kebahasaan yang rumit: perubahan bentuk kata atau tanda baca dapat mengubah makna dasar radikal.

Kata zaka adalah kata kerja yang berarti membersihkan, menyucikan, memberikan berkah, menyuburkan, dan mengembangkan. Kata ini dapat dirangkai dengan kata lain secara luas. Sebagai ilustrasi, jika dirangkai dengan kata tanaman dan perniagaan, kita memperoleh kalimat zaka azzar’i berarti “tanaman yang tumbuh subur, sementara zaka attijarah berarti perniagaan yang tumbuh dan berkembang.

Dengan makna ini mudah bagi kita untuk memahami kata zakat yang juga dari kata zaka berkonotasi menyuburkan harta selain membersihkan hati. Membersihkan dari apa? Dari Syuh, potensi kekikiran yang melekat dalam bakat manusia (lihat QS 59:9).

Ayat Tazakka

Dalam Bahasa Arab, huruf ganda (tasydid) mengindikasikan kesungguhan. Jadi, huruf ganda “k” dalam kata tazakka tidak sekadar berarti “menyucikan”, tetapi “menyucikan secara sungguh-sungguh, secara serius, tidak hanya sekadarnya”.

Kata tazakka tercantum paling tidak dalam empat ayat Al-Quran yang digunakan dalam berbagai konteks. Untuk memperoleh gambaran mengenai arti dan konteks penggunaannya, berikut disajikan terjemahan dan catatan dari empat ayat yang dimaksud.

Terjemahan Catatan
QS (20:75-76): …. mereka itulah yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia) (yaitu) surga-surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang menyucikan diri. Kebersihan hati dari dosa (teks: mujrima) yang menyebabkan memperoleh azab akhirat dalam keadaan yang tidak hidup maupun tidak mati (ayat ke-75).
QS (35:18): … Dan orang-orang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain… Dan barang siapa menyucikan diri, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan sendiri…. Prinsip pertanggungjawaban individual. Menyucikan diri adalah kegiatan individual, tidak berlaku “kriteria orang ketiga”; artinya, tidak seorang pun dapat melakukannya untuk dan atas nama kita.
QS (79:18): Maka katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan?”
QS (87:14): Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).

Ayat Tuzakku

Kata tuzakku juga mengandung huruf “k” ganda yang mengkonotasikan kesungguhan. Berbeda dengan kata tazakka berkonotasi positif, kata tuzakku berkonotasi negatif bahkan tercela. Arti kata ini, “menganggap dirimu suci”, atau dalam bahasa gaulnya, “sok suci”.

Sejauh penelusuran penulis (melalui aplikasi Lafzi) hanya ada satu ayat yang mencantumkan kata tuzakku yaitu QS (53:32). Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat penting sehingga perlu ditinjau secara agak rinci.

Ayat sebelumnya (ke-31) berbicara mengenai “balasan orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga”). Ayat ke-32 menjelaskan apa yang dimaksud dengan orang yang berbuat baik. Inilah teks ayat yang dimaksud serta artinya:

“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil (teks: allamam). Sungguh Tuhan Maha Luas amnpunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu sejak Dia menjadikan kamu dari tanah, lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah menganggap dirimu suci. Dia mengetahui orang yang bertakwa (QS 53:32).

Dalam ayat ini ada kata menarik yaitu allamam yang berarti “kesalahan-kesalahan kecil”. Berdasarkan ayat ini, “kesalahan-kesalahan kecil” tidak menggugurkan status “orang yang berbuat baik”. Ayat ini juga mengesankan pesan kuat: jangan “sok bersih” karena melihat orang lain melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Wallahualam.

Bahtera Nuh

Terkait dengan pemurnian hati layak dicermati karya Hamza Yusuf (lahir 1958) yang berjudul Purification of the Herat: Signs, Symptoms and Cures of the Spriritual Diseases of the Heart. Dia adalah salah seorang cendekia muslim Amerika Serikat yang mengusung pengajaran klasik mengenai Islam dan sains keislaman ke seluruh dunia.

Dalam bukunya ini Hamza Yusuf mengedepankan arti penting zikir untuk membersihkan hati. Yang menarik, dalam bukunya ini, ia juga menganalogikan zikir dengan bahtera Nuh AS:

We live in the age of Noah (a.s.) in the sense that a flood of distraction accosts us. It is a slow and subtle drowning. For those who notice it, they engage in the remembrance of God. The rites of worship and devotion to God’s remembrance (dhikr) are planks of the ark. When Noah (a.s.) started to build his ark, his people mocked him and considered him a fool. But he kept building. He knew what was coming. And we know too.

Kita hidup di zaman Nuh (a.s.) dalam arti menghadapi prahara banjir besar. Lambat laun dan tidak kentara kita tenggelam. Bagi mereka yang menaruh perhatian, mengingat Allah atau zikir dan zikir berfungsi sebagai bahtera penyelamat ketika bahtera itu berlangsung. Nuh AS ketika mulai membangun bahtera itu ia diejek dan dianggap bodoh. Tetapi dia terus membangunnya. Dia tahu apa yang akan terjadi. Kita juga tahu.

Bahtera Nuh AS dahulu kala adalah zikir masa kini. Pertanyannya: “Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS 6:80, 10:3, 11:24, 11:30, 16:17, 23:85, 37:155, 45:23).

Wallahualam…@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

 

Simbolisme Haji: Belajar dari Syariati

Kini jamaah haji tengah berada di Arafah, suatu wilayah terbuka di timur luar Kota Mekah. Di sana, sekitar 2.3 juta jamaah berkumpul untuk wukuf, salah satu rukun haji.

An aerial view of Mount Arafat, where thousands of Muslim worshippers gather during the Hajj pilgrimage. EPA

Sumber: Ini

Jamaah sudah harus meninggalkan Arah sebelum malam, bergerak ke Mudalifah untuk “bermalam” (di sini ada bukit kecil yang disebut sebagai Masy’aril Haram dalam Al-Quran), sebelum akhirnya sampai di Mina untuk tinggal 2-3 hari di sana. Ketika di Mina inilah jamaah melakukan Jumrah (lempar batu) dan menyembelih hewan korban (umumnya diserahkan kepada Panitia Haji). Dari Mina Jamaah kembali ke Kabah untuk Tawaf Ifadah (Rukun Haji).

Kenapa jamaah melakukan semua itu? Jawaban singkatnya, karena itulah yang dicontohkan Nabi SAW: tindakan jamaah adalah perwujudan kepatuhan kepada ajaran yang dibawanya, tanpa bertanya kenapa? (Arab: bila kaifa).

Terlepas dari soal kepatuhan, semua ritual haji sebenarnya mengandung banyak hikmah atau simbolisme yang layak direnungkan. Salah satu rujukan mengenai ini adalah karya-karya Ali Syariati (1933-1977) mengenai Haji. Beliau adalah seorang sosiolog (ideolog) revolusioner Iran yang sangat dihormati karya-karyanya di bidang sosiologi agama dan masyhur sebagai seorang cendekiawan Iran abad ke-20.

Bagian selanjutnya tulisan ini meninjau secara singkat sebagian kecil dari simbolisme yang dimaksud sebagaimana dikemukakan oleh Syariati dalam salah satu karyanya [1].

Filsafat Hampa

Bagi Syariati ibadah haji adalah bentuk penolakan terhadap filsafat hampa (rejection of an empty philosophy). Kenapa? Karena sehari-hari kita cenderung kehilangan tujuan. Tujuan kita hanya untuk hidup dan apa yang ada dalam tubuh kita yang hidup adalah jiwa yang mati. Baginya itu adalah kondisi yang tidak sehat dan pengalaman haji dapat mengubah kondisi tidak sehat ini. Selanjutnya Syariati mengatakan ini:

Haji adalah antitesis dari ketiadaan tujuan. Ini adalah pemberontakan melawan nasib terkutuk yang dipandu oleh kekuatan Setan. Pelaksanaan Haji akan memungkinkan Anda melarikan diri dari jaringan kerumitan yang kompleks. Tindakan revolusioner ini akan mengungkapkan kepada Anda cakrawala yang jelas dan cara bebas untuk bermigrasi ke keabadian, kepada Allah SWT.

Hajj is the antithesis of aimlessness. It is a rebellion against a damned fate guided by the evil force. The fulfillment of Hajj will enable you to escape from the complex network of fuzzles. This revolutionary act will reveal to you the clear horizon and free way to migration to eternity to the Almighty Allah.

Ibadah Haji dimulai dari miqat, tempat yang sejak era Nabi SAW sudah ditentukan untuk tujuan itu . Di sanalah jamaah menegaskan niat untuk memulai ibadah haji, mengenakan pakaian ihram, serta melepaskan semua pakaian sehari-hari.

Simbolisme Pakaian

Bagi Syraiati ritual melepaskan pakaian sehari-hari kaya dengan simbolisme. Argumennya, kita sehari-hari hakikatnya tidak mengenakan pakaian, tetapi dengan pakaian kita membungkus diri kita yang sebenarnya.

Pakaian kita, lanjutnya, menyimbolkan (simbolizes), memolakan (patterns), dan membedakan (distincts). Pakaian kita menciptakan batas semu (superficial border) yang menyebabkan keterpisahan antar manusia. Dalam kebanyakan kasus, keterpisahan ini melahirkan diskriminasi. Lebih lanjut, lahirlah konsep “Aku”, bukan “Kita”. “Aku” diletakkan dalam konteks sukuku, margaku, keluargaku, posisiku, keluargaku, dan seterusnya; bukan “Aku” sebagai manusia (human being).

Manusia terdiri dari ras, bangsa, kelas, sub-klas, kelompok, dan marga. “Untuk apa?”, tanya Syariati. Untuk menunjukkan “ones-self-but under so much make-up”, jawabnya sendiri. Selanjutnya dia mengatakan ini:

Sekarang bukalah pakaian Anda. Tinggalkan semuanya di miqat. Kenakan Kafan yang terdiri dari bahan putih polos. Anda akan menjadi seperti orang lain. Lihatlah keseragaman tercipta! Jadilah partikel dan menyatulah dengan massa; jadilah setetes air dan masukilah lautan.

Now take off your clothes. Leave then at miqat. Wear the Kafan which consists of plain white material. You will be like everyone else. See the uniformity appear! Be a particle and joint the mass; as drop, enter the ocean.  

Kita dapat merasakan kuatnya bahasa Syariati. Pantaslah jika dia hidup dari satu penjara ke penjara lain karena penguasa pada masanya merasa sangat “gerah” dengan ide-idenya yang revolusioner dan mengancam status quo.

Demikianlah gambaran singkat simbolisme Haji menurut Syariati. Baginya Arafah berasosiasi dengan Pengetahuan dan sains,  Ma’syar atau Muzdalifah dengan Kesadaran dan pemahaman, Mina dengan Cinta dan Iman. Pengetahuan-Kesadaran-Cinta. Trilogi inilah yang dibutuhkan dalam perjalanan untuk menghampiri-Nya yang dilambangkan dengan kembalinya jamaah dari Mina ke Kabah untuk Tawaf Ifadah.

Wallahualam…@

[1] Hajj (the Pilgimage), terjemahan Inggris oleh Ali A. Behzadnia MD & Najla Denny.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com