Air: Apa Kata Al-Quran?

Kita sebagai makhluk hidup ditakdirkan memiliki ketergantungan terhadap air[1]. Kita butuh air karena 60-70% berat tubuh kita berupa air. Demikian vitalnya fungsi air bagi tubuh sehingga kekurangannya akan memaksa tubuh secara otomatis mengambil sumber cairan lain dalam tubuh yaitu darah. Akibatnya darah mengental dan ini mengganggu fungsi darah mendistribusikan oksigen dan sari makanan ke seluruh bagian tubuh.

Untuk memenuhi kebutuhan air itu maka kita perlu minum. Masalahnya, karena minum merupakan urusan sehari-hari, kita cenderung bersikap tidak peduli terhadap sumber air yang minum kita sehari-hari, suatu sikap yang kurang elok (QS 56: 68-70):

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkan dari awan atau Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?

Kutipan di atas, dalam bentuk narasi restrospektif, mengilustrasikan gaya khas Al-Quran dalam menjelaskan keberadaan Dia SWT dan ketergantungan kita secara mutlak kepada-Nya. Gaya ini khas dalam arti– mungkin berbeda dengan gaya Kitab-Kitab suci lain– menggunakan contoh kongkret dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diverifikasi (verifiable), bukan melalui penjelasan filosofis-abstrak atau cerita mengenai entitas atau peristiwa luar biasa yang adi manusiawi.

Yang menarik untuk dicatat, kata air (Arab: ٱلْمَآءَ), sangat sering disebutkan dalam Al-Quran selain yang dikutip di atas. Catatan penulis paling tidak ada ada 20-an ayat yang menyebutkan secara eksplisit kata air, tiga di antaranya adalah sebagai berikut:

  • “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit sehingga bumi menjadi hijau. Sesungguhnya Allah Maha halus, Maha Mengetahui” (QS 22:63).
  • Tidakkah engkau melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya[2] (QS 35:27).
  • Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS 39:21).

Kutipan di atas menegaskan paling tidak dua hal. Pertama, air sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Sains dapat menjelaskan hal ini secara gamblang dan tak-terbantahkan. Kedua, air itu diturunkan-Nya (Arab: anzala) dari langit. Jadi, subyeknya jelas: Dia SWT.

Dengan iptek manusia dapat mengupayakan hujan buatan yang untuk keperluan jangka pendek, upaya yang dapat memberikan manfaat kepada manusia tetapi pasti dalam skala terbatas. Iptek mustahil dapat menggantikan fungsi matahari menguapkan air laut untuk membentuk awan dan mendistribusikannya secara alamiah pada tataran global. Selain itu perlu dicatat bahwa hujan buatan juga membawa dampak negatif yang merugikan antara lain dalam bentuk hujan asam dan pencemaran tanah[3].

Singkat kata, kita butuh air dan untuk memperolehnya kita perlu “campur tangan” langit. Dalam kontkes ini layak disisipkan di sini penuturan Lings[4] yang kaya makna terkait dengan simbolisme air:

In the Qoran the ideas of Mercy and water—in particular, rain—are in a sense inseparable. With them must be included the idea of Revelation, tanzīl, which means literally “a sending down.” The Revelation and the rain are both “sent down” by the All-Merciful, and both are described throughout the Qoran as “mercy,” and both are spoken of as “life-giving.” … rain might even be said to be an integral part of the Revelation which it prolongs, as it were, in order that by penetrating the material world the Divine Mercy may reach the uttermost confines of creation; and to perform the rite of ablution is to identify oneself, in the world of matter, with this wave of Mercy, and to return with it as it ebbs back towards the Principle, for purification is a return to our origins. Nor is Islam—literally “submission”—other than non-resistance to the pull of the current of this ebbing wave.

Dalam Al-Quran, gagasan tentang Rahmat dan air — khususnya hujan — dalam arti tertentu tidak dapat dipisahkan. Bersama mereka harus dimasukkan gagasan Wahyu, tanzil, yang secara literal berarti “mengirim turun.” Wahyu dan hujan keduanya “diturunkan” oleh Yang Maha Penyayang, dan keduanya digambarkan di seluruh Alquran sebagai “rahmat,” dan keduanya disebut sebagai “pemberian hidup.” … hujan bahkan dapat dikatakan sebagai bagian integral atau kelanjutan dari Wahyu yang … seolah-olah menembus dunia material, Rahmat Ilahi dapat mencapai batas-batas penciptaan yang paling tinggi; dan melaksanakan ritual wudu berarti mengidentifikasi diri sendiri, di dunia materi, dengan gelombang rahmat ini, dan untuk kembali bersamanya ketika ia kembali ke Prinsip, karena pemurnian adalah kembalinya ke asal usul kita. Islam yang secara literal “tunduk” tidak bearti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali-ke-asal.

Kutipan di atas mengaitkan air dengan rahmat karena keduanya sama-sama menggunakan kata tanzīl atau anzala. Jelasnya, kata ini dalam Al-Quran hampir semuanya digunakan untuk merujuk kepada rahmat dalam pengertian luas termasuk kitab, quran, ayat, tempat yang diberkati, dan ketenangan yang “diturunkan” ke dalam hati seseorang atau sekelompok orang. Mengenai yang terakhir ini silakan rujuk antara lain QS (48:18).

Islam yang secara literal berarti “tunduk” tidak berarti selain berserah-diri pada tarikan arus gelombang kembali ke asal-usul kita.

Walalhualam…@

[1] Istilah “bumi yang hijau” menarik untuk dicatat karena setara dengan istilah ilmiah “blue planet” yang digunakan berdasarkan fakta ilmiah bahwa sekitar 72% permukaan bumi tertutup oleh air[1]. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Air

[2] Terkait dengan aneka jenis buah-buahan penulis teringat cerita seorang teman warga Jerman keturunan Argentina yang ingin ke Indonesia. Ketika ditanya apakah bermaksud mengunjungi Bali atau Candi Borobudur ia mengiyakan tetapi yang utama adalah ingin banyak menikmati buah manggis yang katanya tidak tumbuh di kawasan Amerika Latin.

[3] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/hujan-buatan

[4] Martin Lings “The Qoranic Symbolism of Water”, Studies in Comparative Religion, Vol. 2, No. 3. (Summer, 1968) © World Wisdom, Inc.www.studiesincomparativereligion.com

 

Banjir, Perubahan Iklim dan Ulah Manusia

Warga Jabodetabek dan sekitar kali ini memperoleh “hadiah” tahun baru yang luar biasa: kepungan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Singkatnya, bencana. Kepada para korban kita turut prihatin, berempati serta dituntut untuk membantu meringankan beban kesulitan mereka: para korban perlu diyakinkan bahwa negara “hadir” dan solidaritas sosial di antara warga bangsa masih kental[1].

Bencana alam seperti banjir terkait dengan faktor cuaca yang sebagian di luar kendali manusia: “Cuaca di bumi juga dipengaruhi oleh hal-hal lain yang terjadi di angkasa, di antaranya adanya angin matahari atau disebut juga star’s corona[2]. Oleh karena itu, untuk menyikapinya, selain wajib melakukan segala upaya manusiawi untuk mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim dan cuaca[3], sikap pasrah untuk menerima takdir-Nya adalah suatu sikap sehat dan terpuji, paling tidak dari sisi agama.

Banjir kali ini dilaporkan tidak hanya melanda kawasan ‘langganan” banjir musiman, tetapi juga beberapa wilayah yang sebelumnya ‘bebas” banjir. Kasus banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Lebak dilaporkan baru pertama kali terjadi. Laporan semacam ini mendukung dugaan bahwa bencana kali ini terkait dengan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim yang bersifat global.

Kabar Baik dan Kabar Buruk

Terkait dengan perubahan iklim global ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, kesadaran penduduk mengenai seriusnya isu itu semakin meningkat (Grafik1).

Grafik 1: Persentase Responden yang Menganggap Perubahan Iklim sebagai Ancaman Utama Negaranya

Sumber: INI

Kabar buruknya, tingkat kerusakan ekologis yang diakibatkan sudah sedemikian parah sehingga tindakan jamaah warga planet bumi bukan pilihan tetapi keharusan serta tidak dapat ditunda[4]. Urgensi masalahnya diabadikan dalam Dokumen Sasaran Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG- Sustaninable Development Goal) (Paragraf 50) yang dinyatakan dengan cara yang bernuansa puitis:

Kita bisa jadi generasi pertama yang sukses mengakhiri kemiskinan; pada saat yang sama seperti kita mungkin generasi terakhir yang memiliki kesempatan untuk menyelamatkan planet ini.

We can be the first generation to succeed in ending poverty; just as we may be the last to have a chance of saving the planet.

Ulah Manusia

Selain faktor alamiah yang di luar kendali, faktor ulah manusia juga berpengaruh terhadap bencana atau kerusakan alam. Bukti ilmiah mengenai hal itu boleh dikatakan melimpah. Dengan kata lain, dalil aklinya meyakinkan. Demikian juga dalil naqlinya, dalil berbasis Quran atau Sunah. Sebagai ilustrasi, QS(30:41) menunjuk langsung hidung manusia sebagai pelaku kerusakan “di darat dan di laut”:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30:41)

Ada dua catatan menarik dari ayat ini. Pertama, ayat itu diturunkan lebih dari satu milenium lalu ketika manusia belum mengenal teknologi “perusak” alam dalam skala yang kita kenal sekarang. Kedua, ayat itu memastikan pelaku kerusakan merasakan akibat sebagian perlakukannya terhadap alam.

Selain itu ada ayat lain yaitu QS (2:9-11) yang menengarai “perusak bumi” sebagai ciri orang-orang munafik:

dan di antara manusia ada yang berkata “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman (ayat ke-8).

Dan apabila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik), Janganlah berbuat kerusakan di bumi“. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan” (ayat ke-11).

Ingatlah sesungguhnya merekalah orang yang berbuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari” (ayat ke-12)

Ada kesan ayat ini ditujukan pada para perencana dan pelaku pembangunan fisik (katakanlah atas nama pertumbuhan ekonomi) yang tidak memiliki visi pembangunan berkelanjutan.

Wallahualam…@

[1] Kentalnya solidaritas ini terungkap dari pemberitaan media masa terkait penanganan korban bencana di sekitar Jakarta. Hal serupa (kalau tidak lebih mengesankan) terkait upaya bantuan kemanusiaan bagi korban bencana banjir bandang di sebagian wilayah Lebak yang medannya dilaporkan sangat sulit dijangkau. Informasi mengenai yang terakhir diperoleh dari lapangan langsung melalui beberapa pegiat kemanusiaan yang kebetulan masih keluarga dekat penulis.

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Cuaca

[3] Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang sangat luas dalam periode waktu yang sangat lama (11-30 tahun) yang disebabkan oleh letak geografis dan topografi suatu wilayah yang mempengaruhi posisi matahari terhadap daerah di bumi. Lihat https://www.padamu.net/pengertian-cuaca-dan-iklim-dan-perbedaannya

[4] Posting mengenai perubahan iklim dapat diakses di sini https://uzairsuhaimi.blog/2019/06/24/perubahan-iklim-kenapa-kita-abai/

Yesus dalam Al-Quran

Nama Yesus banyak disebutkan dalam Al-Quran, tentu tidak secara harfiah tetapi dalam padanan Arabnya yaitu Isa. Kitab Suci ini mencantumkan nama Isa AS secara eksplisit sebanyak 27 kali dalam 26 ayat. Ini fakta qurani yang menarik karena penyebutan Muhammad SAW secara eksplisit hanya sebanyak 4 kali dalam 4 ayat. Yang mungkin lebih menarik, penyebutan nama Maryam RA sebanyak 34 kali dalam 31 ayat[1]. Tulisan ini membahas secara singkat ayat-ayat yang terkait dengan Isa AS dan Maryam RA. Sebelum memasuki topik utama ini, untuk memberikan konteks yang lebih luas, berikut ini disajikan perspektif Al-Quran mengenai rasul secara keseluruhan[2].

Konteks

Al-Quran “tidak membeda-bedakan” para rasul-Nya dan mengakui “kelebihan” masing-masing. Ayat-ayat mengenai hal ini sangat eksplisit. Mengenai yang pertama QS(2:136) menarasikan sebagai berikut:

Katakanlah “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya. dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya (teks: muslimun).

(Teks ayat: Klik di sini)

“Kami tidak membeda-bedakan”, la nufarriqu. Penegasan yang sama dapat ditemukan dalam QS(2:185) dan QS(3:84). “Kami berserah diri kepada-Nya” menegaskan makna inklusif dari istilah muslimun; artinya, berlaku bagi umat-umat terdahulu sebelum Umat Muhammad SAW.

Terkait dengan “kelebihan masing-masing”, QS (2:253) menarasikannya sebagai berikut:

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ditinggikan beberapa derajat. Dan Kami berikan putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dengan Roh Kudus…”

(Teks ayat: Klik di sini)

Para penafsir sepakat narasi “yang (langsung) Allah berfirman” merujuk pada Nabi Musa AS. Musa AS, bersama Isa AS dan Muhammad SAW, masing-masing membawa kitab suci untuk umat masing-masing: Taurat-Yahudi (Musa AS), Injil- Nasrani[3] (Isa AS) dan Al-Quran-Muslim (Muhammad SAW). Tiga  agama ini yang kini  dikenal sebagai agama samawi[4], agama “langit”, agama berbasis wahyu.

Terkait dengan Ibrahim AS, Al-Quran menyebutkan istilah milah-hanif yang kira-kira setara dengan agama tetapi dalam bentuk yang lebih longgar. Dengan milah itu Ibrahim AS diakui sebagai leluhur semua agama samawi[5]. Lebih dari itu, ketika berargumen soal agama dengan para ahli kitab Muhammad SAW diperintahkan untuk merujuk milah hanif sebagai karakteristik ajaran yang dibawanya (QS 2:135)

Isa Ibnu Maryam

Dalam banyak ayat (14 dari 26 kasus), penyebutan Isa AS selalu dikaitkan dengan ibunya, Maryam RA. Jadi nama lengkap Isa AS adalah Isa Ibn Maryam. Karakterisasi Maryam AS dalam Al-Quran sangat terhormat dan boleh dikatakan unik:

  • Beliau satu-satunya wanita yang namanya tercantum secara eksplisit dalam Al-Quran.
  • Sebagaimana disinggung sebelumnya, nama beliau tercantum tidak hanya sekali melainkan 34 kali dalam 31 ayat Al-Quran. Lebih dari itu, salah satu nama Surat Al-Quran berjudul Maryam (Surat ke-19).
  • Al-Quran menggelarinya sebagai sangat terhormat: tersucikan dan terpelihara (3:42).

Gambaran umum mengenai beliau dapat dilihat dalam QS (66:12):

… dan Maryam putri ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya, dan dia termasuk orang-orang yang taat.

(Teks ayat: Klik di sini)

Penyaliban dan Trinitas

Soal penyaliban Isa AS QS(4:157) sangat eksplisit:

.. dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang-orang yang diserupakan dengan Isa…

(Teks ayat: Klik di sini)

Demikian juga soal trinitas. QS(4:171) sangat eksplisit mengenai ini:

Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan) dengan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah mengatakan, “(tuhan itu) tiga”, berhentilah dari ucapan itu).

(Teks ayat: Klik di sini)

Al-Quran menganggap isu trinitas sangat serius sehingga seolah-olah meminta konfirmasi langsung pada Nabi Isa AS dalam suatu “dialog”:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai “Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku bagai dua tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya… (5:116).

(Teks ayat: Klik di sini)

Wallahualam…@

[1] Penyebutan secara eksplisit Ibrahim AS dan Musa AS masing-masing sebanyak 71 kali (65 ayat) dan 158 kali (149 ayat).

[2] Dalam Islam istilah rasul merujuk kepada nabi (penerima wahyu) yang berkewajiban menyampaikan ajaran-Nya kepada Umat. Istilah rasul dalam Al-Quran terkadang merujuk kepada malaikat yang diutus untuk menyampaikan wahyu kepada seorang rasul.

[3] Dalam artikel ini digunakan istilah Nasrani, bukan Kristen, karena lebih bersifat qurani dalam arti tercantum dalam Al-Quran.

[4] Karena memiliki kitab suci maka semua umat agama samawi ini berhak bergelar ahli kitab. Jika Al- Quran menggunakan istilah ahli kitab tidak termasuk Islam maka hal itu karena Al-Quran masih dalam proses pembentukan. Berbeda Taurat dan Injil, Al-Quran diturunkan secara bertahap dalam waktu relatif lama, lebih dari 20 tahun.

[5] Dalam Islam, penghormatan (tahiyyah) terhadap Ibrahim AS terlembagakan karena merupakan bagian bacaan Salat (tepatnya pada tasyahud akhir).

Prolog dari Prolog

Tulisan ini mengenai prolog kisah anak-cucu Adam, kisah manusia, kisah kita semua, di dunia-bawah-sini. Tulisan ini juga mengenai prolog dari prolog itu,

Prolog Kisah Manusia

Prolog kisah manusia di dunia, dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam), ditandai dengan kisah kejatuhan Adam-Hawa AS dari surga. Siapa yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa ini? Jawabannya berbeda antar tradisi agama samawi.

Posisi Yahudi tidak terlalu jelas. Mungkin karena Yahudi lebih fokus pada sukunya sendiri daripada pada “supra suku”, anak-cucu Adam secara keseluruhan. Posisi Kristen jelas: Adam-Hawa AS yang bertanggung jawab sehingga anak-cucunya menyandang dosa keturunan. Kristen secara khusus menyalahkan Hawa As atau Eve dalam bahasa Inggrisnya. Hal ini tersirat dari kata evil atau devil– diturunkan dari kata Eve– yang selalu berkonotasi negatif, jahat dan bahkan merusak[1].

Bagaimana dengan Islam? Posisinya juga jelas: iblis paling bertanggung jawab. Itulah sebabnya Al-Quran sering mengingatkan setan, anak cucu-iblis, sebagai musuh manusia. Ini tidak berarti Adam-Hawa tidak bersalah: keduanya, dalam porsi yang sama, divonis bersalah tetapi kesalahannya dimaafkan. Kesalahan mereka bukan saja melanggar perintah-Nya untuk tidak mendekati “pohon ini” (hadzihi al-syajarah), lebih dari itu mereka berdua makan buah yang berasal dari pohon terlarang itu. Lihat QS (2:34-35):

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam” maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir (34).

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tapi) janganalah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim (35).

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman. “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai batas yang ditentukan (36).

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia menerima tobatnya. Sungguh Allah Maja Penerima tobat, Maha Penyayang (37).

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (38).

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (39).

Semua ayat di atas mengisahkan “proses” kejatuhan Adam-Hawa dari surga, “warisan” anak-cucu mereka, tentunya bagi yang memenuhi “syarat”. Persyaratan itu adalah mengikuti petunjuk-Nya (ayat ke-35).

Persyaratan yang dimaksud menegaskan perbedaan pandangan Islam yang sangat berbeda dengan pandangan Kristen dalam hal keselamatan (salvation): bagi Kristen keselamatan hanya mungkin melalui Juru Selamat (Savior), bagi Islam itu tergantung pada ketaatan individu (“barang siapa”, ayat ke-38) mengikuti petunjuk-Nya. Dalam konteks ini, rahmat-Nya tentu menentukan karena seperti diungkapkan Schuon (2007:82)[2]: “… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue“.

… without grace man can do nothing even if nourished with wisdom and filled with virtue.

Demikianlah kisah singkat “kejatuhan” manusia dari surga-atas-sana ke dunia-bawah sini. Pertanyaannya, bagaimana kisahnya sebelum kejatuhan itu?

Sebelum Kejatuhan

Sebelum kejatuhan mereka Adam-Hawa AS tinggal di “kampung” surga yang penuh kenikmatan, kemuliaan, dan keredaan-Nya. Sejumlah ayat Al-Quran mengisyaratkan gambaran kehidupan di kampung itu.

a. Kenikmatan

Gambaran kenikmatan hidup di surga disajikan dalam QS (2:35) yang mengisyaratkan ketersediaan sumber pangan dalam jumlah melimpah dan dapat dinikmati sepuas-puasnya. Gambaran yang luar biasa disajikan dalam sejumlah ayat Surat ke-56, Surat Al-Waqiah:

berlokasi di antara pohon bidara yang tidak berduri (ayat ke-28), dipenuhi pohon pisang yang buahnya bersusun-susun (29), di bawah naungan yang luas (30), difasilitasi air yang terus mengalir (31), dipenuhi buah-buahan yang tak-terlarang untuk menikmatinya dan pohonnya tidak berhenti berbuah (32-33), dilengkapi kasur-kasur yang tebal lagi empuk (34), dilayani para bidadari yang sebaya, penuh cinta dan terus dibuat perawan (35-37)…

Itulah gambaran surga bagi “ahli kanan” (teks: ashabul yamin) yang bagi banyak komentator “lebih wah” dari yang dapat dibayangkan oleh pikiran yang paling liar sekalipun. Tetapi gambaran itu masih di bawah kelas “surga kenikmatan” (teks: jannatun naim, ayat ke12) yang disiapkan untuk “orang-orang dekat ” (teks: muqarrabun) yang “wah”-nya sukar di bayangkan.

b. Kemuliaan

QS (2: 234) sebagaimana dikutip di atas mengisyaratkan kehidupan Adam AS sangat mulia, demikian mulianya sehingga para malaikat bersujud kepadanya. “Malaikat bersujud”: Adakah kemuliaan yang lebih agung dari ini?

Tetapi kemuliaan itu bukan hak eksklusif Adam AS. Kemuliaan itu juga disandang oleh semua manusia, anak-cucu Adam: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam QS (17:70).

c. Reda dan Diredai

Anak cucu Adam yang memasuki surga-Nya berarti menerima undangan-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang reda dan diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Kua, dan masuklah ke alam surga-Ku  QS (89:27-30).

Kata kunci ayat ini: jiwa tenang (teks: an-Nafs al-Muthmainnah)[3], reda, dan diredai-Nya.

*****

Kenikmatan, kehormatan, dan diredai-Nya. Adakah anugerah yang lebih besar dari ini? Kisah anugerah inilah yang menjadi prolog dari prolog kisah manusia di dunia-bawah-sini sebelum jatuh dari sugra-atas-sana.

Wallahualam….@

[1] Ini adalah pandangan eksternal seorang non-Yahudi dan non-Kristen yang belum tentu sesuai atau memadai dari persepsi internal penganut dua agama samawi ini.

[2] Frithjof Schuon (2007), Spiritual Perspectives and Human Facts, World Wisdom.

[3] Mengenai jiwa tenang lihat https://uzairsuhaimi.blog/2019/10/07/jiwa-tenang/.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Jiwa yang Tenang

Kalau ada kesempatan memohon hanya satu hal kepada-Nya, apakah doa itu? Jawaban dapat bermacam-macam sesuai dengan kedewasaan emosional, kapasitas intelektual, dan kepekaan spiritual yang bersangkutan. Bagi penulis, doa itu adalah jiwa yang tenang (Quran: al-nafsu al-muthmainnah). Argumennya, hanya yang berhati tenang yang memperoleh undangan memasuki surga-Nya:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku, (QS 89:28-30)

Dalam ayat itu jelas yang berjiwa tenang tidak hanya masuk surga-Nya, tetapi memasukinya dengan rida dan rida-Nya. Adakah yang lebih beruntung dari memperoleh undangan ini? Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara memperoleh status atau stasiun spiritual berjiwa tenang?

Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan ini tetapi hampir semuanya terkait dengan sikap merespons karunia-Nya. Dia SWT memiliki kebebasan mutlak untuk memberikan atau tidak memberikan karunia-Nya. Ini pasti. Yang juga pasti, karunia-Nya dapat sesuai atau tidak seusai keinginan. Dari dua kepastian ini terbentuk semacam matriks 2×2, katakanlah X(i,j), yang masing-masing bersifat dikotomi. Artinya, hanya dua kemungkinan nilai i atau j: 1 (ya) atau 0 (tidak). Dalam konteks ini masing-masing isi matriks itu dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • X(1,1): memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, memperoleh rezeki “nomplok”, lebih besar dari biasanya. Contoh lain, lulus ujian akhir dengan predikat yang memuaskan bagi pelajar atau mahasiswa. Ajaran agamanya, syukur: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS 14:7).
  • X(1,0): memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, sakit yang berkepanjangan atau kena stroke. Contoh lain, usaha bangkrut sehingga rencana kuliah anak urung. Ajaran agamanya, sabar: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas “(QS 39:10; juga 2:155).
  • X(0,1): tidak memperoleh karunia-Nya yang sesuai dengan keinginan. Contohnya, belum memperoleh kelebihan rezeki sehingga niatan mengajak istri umrah belum kesampaian. Ajaran agamanya, qanaah: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki”(QS 13:26).
  • X(0,0): tidak memperoleh karunia-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan. Contohnya, urung di PHK padahal perusahaan tempat kerja sedang dililit hutang: Ajaran agamanya, syukur.

Berikut adalah matriks dengan isi semacam itu:

Kesesuaian dengan keinginan
Ya Tidak
Karunia-Nya  

Diberikan

Syukur

Contoh: Memperoleh rezeki “nomplok”

Sabar

Contoh: Kena stroke

Tidak diberikan

Qanaah

Contoh: Belum mampu mengajak istri umrah

Syukur

Contoh: Tidak jadi di PHK

Kesimpulannya, jiwa tenang terkait dengan beberapa kebajikan spiritual yang lain antara lain syukur, sabar dan qanaah: jiwa tenang dapat direalisasikan jika hati dipenuhi rasa syukur ketika menerima karunia-Nya, sabar ketika memperoleh cobaan hidup, serta qanaah, menerima dengan rasa syukur “jatah” rezekinya sekecil sekalipun. Semua kebajikan spiritual hanya mungkin lahir dari keyakinan mantap terhadap kebenaran ayat ini:

Apa saja di antara rahmat Allah kepada manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup melepaskan setelah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (QS 35:2)

Wallahualam….@

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Hamba ar-Rahman dan Kesalahen Sosial

Pasrah, Yakin dan Serius

Pasrah, yakin dan serius. Trilogi ini merupakan tuntutan normatif semua agama. Dalam istilah Islam, trilogi ini adalah Islam, Iman dan Ihsan. Unsur terakhir ini konotasinya adalah keseriusan dalam dua unsur pertama. Semua unsur ini terdapat dalam ajaran semua agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) walaupun terdapat perbedaan penekanan. Dalam konteks ini Islam menghendaki  keseimbangan ketiga unsur itu[1]. Mengenai hubungan tiga unsur trilogi ini layak direnungi penegasan Schuon (2005:70)[2] :

There is no iman (unitary faith) without islam (submission to the Law), and there is neither one nor the other without ihsan (spiritual virtue), that is without profound understanding or realization; whereas accepting the One has already given himself (aslama) to Him…

Gelar Ganda

Pada tataran normatif, masing-masing unsur dari trilogi itu itu saling mencakup sehingga seorang individu yang (ber)Islam atau Muslim, juga (ber)Iman atau Mukmin, sekaligus (ber)Ihsan atau Muhsin. Mukminun (kata benda, jamak) yang berasal dari kata Mukmin dalam  Al-Quran merujuk pada kolektif dari individu yang dimaksud (Umat). Istilah ini artinya benar-benar beriman[3] sehingga bersifat inklusif dalam arti menyandang unsur keislaman dan keihsanan. Singkatnya, mukminun (mukminin), muslimun (muslimin) dan muhsinun (muhsinin) adalah gelar-ganda yang disandang oleh Umat.

Ada lagi satu gelar bagi Umat yang disebutkan dalam Al-Quran tetapi agaknya kurang populer yaitu ‘ibadul ar-Rahman atau, untuk mudahnya, hamba-hamba ar-Rahman. Istilah ini menarik karena, misalnya, kenapa tidak disebutkan hamba-hamba Allah. Analog dengan ini, ketika Siti Maryam RA didatangi “seorang pria” di kamar pribadinya beliau “berlindung kepada ar-Rahman”, bukan “berlindung kepada Allah”.

Ar-Rahman adalah salah satu nama-Nya yang sangat kaya makna sehingga di sini tidak diterjemahkan[4]. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan hamba-hamba ar-Rahman?

Ragam Karakter

Istilah hamba ar-Rahman dapat ditemukan dalam QS (25:63-68). Ayat-ayat ini memberikan banyak ciri atau kualifikasi dari hamba ini antara lain rajin salat malam (63), sangat mengkhawatirkan siksa neraka (65-6), dan hemat tetapi tidak kikir (67).

Terkait dengan banyaknya kualifikasi ini menarik untuk dikemukakan komentar Nouman Ali Khan, seorang pakar Bahasa Arab dan juru dakwah Muslim Amerika Serikat yang menurut catatan Wikipedia termasuk dalam 500 orang Muslim yang paling berpengaruh di dunia. Bagi Khan, banyaknya kualifikasi itu menunjukkan ragam karakter dari individu Umat sehingga seorang hamba ar-Rahman tidak harus memenuhi semuanya. Baginya, sudah bagus kalau satu atau beberapa dari ciri itu sudah disandang. Argumennya, dalam dunia nyata sangat sulit seseorang menyandang semua ciri-ciri itu.

…. sudah bagus kalau satu atau beberapa dari ciri itu sudah disandang…  dalam dunia nyata sangat sulit seseorang menyandang semua ciri-ciri itu.

Pandangan Khan layak dipertimbangkan karena dia terkenal keahliannya dalam memahami struktur ayat suatu Surat dalam Al-Quran: dia meyakini dan sering memberikan ilustrasi mengenai kuat dan indahnya struktur ayat Al-Quran, sama-sekali tidak acak sebagaimana pandangan kebanyakan. Jika kita tidak mampu melihat kekuatan dan keindahan struktur itu maka itu semata-mata menunjukkan ketidakmampuan kita.

Untuk memahami jalan pikiran Khan, lirik lirik lagu “tombo ati” dapat digunakan sebagai ilustrasi. Lagu ini mendaftar lima keutamaan agar hidup kita mencukupi: (1) baca Quran dan maknanya, (2) salat malam, (3) berkumpul bersama orang saleh, (4) rajin puasa, dan (5) zikir tengah malam. Berapa banyak yang bisa melakoni itu semua? Jawaban yang patut diduga: langka. Itulah sebabnya, satu saja cukup sebagaimana terungkap dalam lirik lagu itu: “salah saawijine sopo bisa ngelakoni mugi-mugi gusti Allah nyembadani“.

Rendah Hati lagi Santun

Kembali ke topik hamba ar-Rahman (ibad ar-rahman).

Sebagaimana disinggung sebelumnya, hamba berkualifikasi “khusus” ini memiliki banyak ciri. Tetapi ada satu ciri istimewa karena disebutkan pertama dan penyebutannya melekat atau satu ayat dengan kata “ibad ar-Rahman”. Ciri itu adalah rendah hati (teks: hauna) dan bicara santun bahkan terhadap orang-orang bodoh yang menghina sekali pun (teks: jahilun). Ini ayatnya:

“Dan adapun hamba-hamba ar-Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila menyapa orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “Salam”.

Jadi, mengikuti pola pikir Khan, sekalipun Anda tergolong kurang rajin puasa sunat Senin-Kamis, bangun malam, baca Al-Quran, atau mengikuti pengajian, agaknya sudah berhak bergelar hamba ar-Rahman sejauh memiliki dua ciri ini: rendah hati dan berakhlak (berperilaku spontan) santun ketika berkomunikasi dengan sesama. Dua ciri yang satu nafas ini (dalam satu ayat) terkesan digarisbawahi Al-Quran ketika menjelaskan hamba ar-Rahman, serta mencerminkan akhlak yang dapat menyuburkan kesalehan sosial yang sayangnya masih kurang disemangati oleh Umat.

Wallahualam…@

[1] Mengenai perbedaan penekanan ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/04/30/titik-temu-agama-samawi/.

[2] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, World Wisdom.

[3] Kualifikasi “benar-benar” perlu untuk membedakan dengan amanu (kata kerja) yang artinya juga “orang-orang beriman”.

[4] Kata ar-Rahman tidak diterjemahkan karena kedalaman maknanya. Mengenai hal ini lihat INI.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com

Menianjau-Ulang Makna Ar-Rahman

Maha Pemurah

Kata Ar-Rahman (Arab) umumnya diterjemahkan “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”. Dalam basmalah (QS 1:1) kata ini disandingkan dengan kata Ar-Rahman yang pada umumnya diterjemahkan oleh ahli tafsir “Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan bahwa dua kata ini merujuk secara eksklusif kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini menarik dicermati posisi Shihab. Dalam Tafsirnya Al-Mishbah, Shihab (2006:22) tidak menerjemahkan dua kata ini mungkin karena menganggap tidak ada padanan bahasa Indonesia yang memadai. Beliau menganggap dua kata ini memiliki rumpun kata yang sama (terkait dengan rahmat) walaupun beda timbangan (Arab: wazan): jika Rahman berwazan fa’lan, Rahim fa’il (halaman 34). Mengenai hubungan antar keduanya beliau mengungkapkan:

Dengan kata ar-Rahman digambarkan bahwa Tuhan mencurahkan rahmat-Nya, sedangkan dengan ar-Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diri-Nya (halaman 22).

Terjemahan “Maha Penyayang” untuk Al-Rahim umumnya dinilai tepat; tetapi terjemahan “Maha Pemurah” untuk Ar-Rahim, sekalipun ini merupakan mayoritas, bermasalah. Tulisan ini membahas secara singkat letak masalahnya.

Konteks Penggunaan

Menurut Sister WH dalam Discover True Islam, permasalahan terletak pada pengabaian konteks bagaimana kata Ar-Rahman secara aktual digunakan dalam Al-Quran. Berikut adalah sebagian argumennya:

Dan siapa yang lebih memenuhi syarat untuk menafsirkan nama Al-Rahman daripada Al-Rahman sendiri? (Maksudnya, Allah SWT.) Penggunaan kata, bukan etimologi dan tentu saja bukan kamus, selalu merupakan faktor penentu dalam memaknai suatu kata, dan ini tanpa kecuali. Bagaimana nama digunakan dalam Al-Quran harus menjadi faktor penentu bagi kita untuk memutuskan apa arti nama itu… hal ini terlebih berlaku bagi nama yang disebutkan demikian sering dan dianggap demikian penting dan menonjol seperti nama Ar-Rahman.

Untuk mendukung argumennya dia mengajukan tiga kasus berikut.

1. Kasus Maryam RA

Dalam QS (19:17,18) dikisahkan Maryam RA, ketika didatangi seorang pria (Jibril AS) yang memasuki kamar pribadinya, meminta perlindungan kepada Al-Rahman:

… lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Ar-Rahman, jika engkau orang yang bertakwa”.

Dengan menyebut Al-Rahman, dia tentu meminta perlindungan dari yang “Mahakuasa”, bukan meminta belas kasihan dari yang “Maha Pemurah”. Yang terakhir ini tentu tidak akan menanamkan rasa takut kepada “penyusup” sehingga penggunaannya dalam konteks ini jelas tidak tepat.

2. Kasus Ibrahim AS

QS (19:45) dikisahkan Ibrahim AS berkata kepada ayahnya yang kafir dan penyembah berhala: “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab Ar-Rahman, sehingga engkau menjadi teman bagi setan…”

Menimpakan azab jelas bukan tindakan yang Maha Pemurah (the Merciful) tetapi yang Mahakuasa (the Almighty). Dalam konteks ini Sister WH mengemukakan:

Is this the act of The Merciful, or The Beneficent, or The Most Gracious, to wrathfully leave Satan as the guide of someone? Does this act express His mercy and beneficence? Or is this the act of The Almighty, the Ultimate Authority, the All-Powerful Avenger?

3. Kasus “Anak Tuhan”

Kata Ar-Rahman juga digunakan dalam kasus penghujatan Al-Quran terhadap klaim bahwa Dia SWT memiliki anak (QS 19:88-93):

Dan mereka berkata, Ar-Rahman mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja angit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Karena menganggap Ar-Rahman mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Ar-Rahman mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan dibumi melainkan akan datang kepada Ar-rahman sebagai seorang hamba.

Mengomentari ayat-ayat ini Sister WH menyatakan:

They vividly describe how this blasphemy invokes His wrath. Is this the description of “The Beneficent” or “Most Gracious”? Do these ayat describe a benevolent benefactor (as in “beneficent”) or a generous host (as in “gracious”), “graciously” accommodating His “guests” or the recipients of His largesse, or a kind-hearted ruler forgiving His subjects, or do they describe NONE but THE ALMIGHTY???

(Catatan: huruf kapital dan tanda tanya berasal dari penulis yang bersangkutan.)

Dari tiga kasus di atas jelas bahwa Ar-Rahman tidak tepat jika diterjemahkan sebagai “Maha Pemurah” atau “Maha Pengasih”; terjemahan yang tepat adalah Mahakuasa (the Almighty). Jika ini kasusnya maka kata Ar-Rahman tidak serumpun dengan kata Ar-Rahim. Hal ini sejalan dengan QS (25:60) yang mengesankan bahwa Ar-Rahman tidak dikenali oleh penurut Bahasa Arab di era Nabi SAW.

Jika tiga kasus di atas belum meyakinkan, silakan cermati QS (Surat: Ayat) berikut:

1:1, 1:3, 2:163, 13:30, 17:110, 19:18, 19:26, 19:44, 19:45, 19:58, 19:61, 19:69, 19:75, 19:78, 19:85, 19:87, 19:88, 19:91, 19:92, 19:93, 19:96, 20:5, 20:90, 20:108, 20:109, 21:26, 21:36, 21:42, 21:112, 25:26, 25:59, 25:60, 25:60, 25:63, 25:63, 26:5, 27:30, 36:11, 36:15, 36:23, 36:52, 41:2, 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, 43:81, 50:33, 55:1, 59:22, 67:3, 67:19, 67:20, 67:29, 78:37, dan 78:38.

Semua ayat itu mendukung argumen bahwa terjemahan tepat untuk Ar-Rahman adalah yang Mahakuasa (the Almighty).

 

Sumber Gambar: Pinterest

Kesimpulan dan Implikasi

Mahakuasa dan Maha Penyayang. Dua kata ini menunjukkan dua sifat yang berlawanan (saling melengkapi): kekuatan absolut dan belas kasih absolut. Kekuatan pasangan inilah yang “mengendalikan” Alam semesta: Alhamdulillahi rabbil alamin,  Ar-rahman ar-Rahim (QS 1:2-3) [*]. Dalam Al-Quran, Ar-Rahim tercantum dua kali lebih banyak dari pada Ar-Rahman; 114:57. Fakta ini mungkin mengisyaratkan bahwa “satu unit” kekuasaan harus diimbangi oleh “dua unit” kasih sayang.

Memahami hubungan Ar-Rahman dan Ar-Rahim (dalam arti “Maha Kuasa” dan “Maha Penyayang”) penting untuk memahami-Nya sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengurus alam raya yang luar biasa dinamis dan kuat, yang secara langsung dan terus menerus berinteraksi dengan segala, secara aktif menciptakan di masa lalu, sekarang dan masa depan. Untuk jelasnya, silakan renungkan kutipan ini:

Just entering into this understanding, we can clearly see that Allah is not a static provider of mercies and benevolence, as many perhaps unconsciously picture Him, but rather an unfathomably dynamic and powerful Creator and Sustainer and Caretaker of, directly interacting with, all that exists – continuously, actively creating in the past, present and future, not One who created everything only in the past and now leaves everything to just continue along a path pre-set by Him, as some picture it.

Wallahualam…@

[*] Masing-masing unsur dari pasangan ini, seandainya analogi diizinkan, mungkin analog dengan unsur Yang dan Yin dalam filosofi Budha Tibet.

Contact: uzairsuhaimi@gmail.com