Dialog Imajiner dengan Rumi (4)

Dialog 4: Musuh

[Sang murid merasa aneh-ganda. Pertama, masternya tampak murung padahal biasanya riang. Kedua, kemurungan itu muncul justru ketika masternya baru saja dianugerahi anak yang telah lama didambakannya. Perasaan aneh ini membuat Murid berani bertanya.]

Murid: Master tampak murung. Boleh tahu kenapa?

[Master tak bergeming; sang murid termangu. Tidak memperoleh jawaban, sang murid alih-alih mendengar bacaan-tartil dari  Master yang masih terpejam. “Ah Surat 64 Ayat 14”, bisik sang murid dalam hati.]

Murid: Maaf, apakah Master khawatir  si anak kelak akan menjadi musuh Master?

[Murid menduga demikian berdasarkan ayat yang baru saja diperdengarkan. Mendengar “tuduhan” ini Master menatap sang murid serius.]

Rumi:

(1) Apakah Antum tahu cerita Jenderal A yang pernah mengomandoi selaksa bala tentara kehkahlifahan? Ia jatuh karena ulah anaknya melindungi bandar narkoba;

(2) Apakah Antum tahu kisah Wazir B yang pernah mengdalikan kekuasaan birokrasi kekhalifahan? Ia  terpuruk karena anaknya terbukti sering memalaki sejumlah kementerian-gemuk;

(3) Antum tahu konlomerat C yang sedemikain kaya sehingga kekuasaan uangnya dapat membeli kasus hukum untuk kepentingan jaringan bisnisnya?

Murid: Saya tahu sedikit-sedikit, Master. Bagaimana dengan pengusaha C? Apa yang terjadi?

Rumi: Ia dihukum pancung karena melindungi anak-tunggalnya yang terbukti telah menjual rahasia negara yang sangat sensitif, juga sering kedapatan bermain mata dengan beberapa selir khalifah.

[Setelah jeda sesaat Master melanjutkan.]

Rumi: Itulah ganjaran mereka dunia. Ganjaran di akhirat siapa yang tahu. Kalau Rabb-SWT memberikan azab maka itu pantas karena mereka itu hamba-Nya; kalau Dia mengampuni mereka maka itu bisa saja karena Dia Maha Pengampun[1].

Murid: Tetapi master kan bukan jenderal, pejabat negara atau pengusaha. Saya yakin anak Master tidak akan seperti anak-anak para pembesar itu. Jadi, kekhawatiran Master bagi saya berlebihan.

[Dilihatnya masternya hanya diam si murid melanjutkan.]

Murid: Saya menyaksikan pengajian Master semakin membeludak, halakah zikir Master semakin ramai, dan nasehat Master selalu diperhatikan para penguasa kekhalifahan. Jadi, saya tetap berpendapat kekhawatiran Master mengenai anak berlebihan…

[Murid kaget ketika masternya merespons dengan nada sengit…]

Rumi: Semua yang Engkau kemukakan itu tidak relevan! Engkau kira ayat yang Aku bacakan tadi tidak berlaku bagiku. Engkau kira Aku sanggup mengontrol jiwaku yang sepenuhnya di bawah kendali “jari”-Nya? Bagaimana kalau Dia menyusupkan sifat ria dalam jiwaku ketika aku berdakwah? Bagaimana kalau Dia menyisipkan sifat sok-suci[2] ketika aku memimpin jamaah zikir? Bagaimana kalau Dia menghidupkan dalam diriku sifat gila-hormat ketika menasihati para pembesar kekhalifahan?

[Rumi melanjutkan setelah menarik nafas sesaat, masih sengit.]

Rumi: Engkau ingat ini. Yang relevan adalah kebersihan sumber nafkah keluarga. Jadi, tantangannya adalah memastikan sumber itu terbebas dari jeratan syubhat[3] apalagi haram. Engkau kira ini soal enteng?

[Melihat muridnya diam-menunduk akhirnya Rumi melunak.]

Rumi: Yang penting, renungkanlah ayat yang Aku bacakan tadi. Itu PR-mu. Itu serius.

Murid: Siap, master.

[Sesampainya di rumah Murid membuka mushaf dan mencari ayat yang dimaksudkan oleh masternya. Ia setuju dengan masternya: “ancaman” ayat itu (Quran 64:14) serius:

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

َـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَـٰدِكُمْ عَدُوًّۭا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

Wallahualam bimuradih….@

[1] Quran (5:119).

[2] Sok-suci atau menganggap diri suci (Arab: tuzakku), (Quran 53:32).

[3] Perbuatan yang status hukumnya abu-abu antara halal dan haram.

 

[Lanjut ke Dialog 5]

Advertisements

Dialog Imajiner dengan Rumi (3)

Dialog 3: Konsistensi

Murid: Matster, saya yakin dengan kebenaran teks suci ini: “Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (2:186). Oleh karena itu saya selalu berdoa setiap habis salat khususnya mengenai keluasan rezeki. Tetapi rezekiku begini-begini saja, tetap sempit. Kenapa Master?

Rumi: Insya Allah Dia-SWT akan mengabulkan doamu. Tetapi caranya Dia yang menentukan dan waktunya Dia yang pilih. Demi kebaikanmu. Jadi, tenanglah. Lakukanlah apa yang menjadi bagianmu: terus berdoa.

[Rumi menanap mata Murid dengan lembut, agak lama seolah-olah mau menembus kedalaman hati Muridnya.]

Rumi: Tetapi Antum punya masalah. [Murid kaget mendengar ini.]

Murid: Apakah masalahnya, Master?

Rumi: Jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Tanyakanlah itu padanya.

[Murid berupaya menerka masalah yang dimaksud, tetapi gagal.]

Murid: Maaf, Master. Saya sudah mencoba tetapi buntu.

Rumi: Begini masalahnya:

Antum ingin dekat dengan-Nya tetapi sering mengabaikan seruan azan,

Antum ingin hidup berkah tetapi jarang bersedekah, dan

Antum ingin meneladani Nabi-SAW tetapi tidak memiliki kepekaan mengenai nasib orang lemah dan anak yatim.

[Melihat Murid hanya termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum lebih banyak menuntut hak dari pada memenuhi kewajiban; Antum masih gemar cekcok karena masalah sepele, padahal mengerti arti penting persaudaraan; Antum mengerti hak tetangga, tetapi kerap mengabaikannya.

[Karena Murid masih termangu Rumi melanjutkan.]

Rumi:

Antum mohon Ampunan-Nya tetapi berperilaku mengundang murka-Nya, Antum menuntut kebahagiaan akhirat tetapi lebih mendahulukan dunia, Antum mengetahui Dia-Maha-Baik tetapi terus berburuk sangka kepada-Nya.

[Rumi mengakhiri nasihatnya dengan ujaran singkat.]

Rumi: Jadi, masalah Antum tidak konsisten. Dan itu serius. Tetapi Dia Maha Pengampun….]

[Murid termangu menerima pelajaran keras kali ini. Tetapi dia ingat masternya pernah mengatakan” “Truth hurts”; jadi, dia maklum dan menerima secara legowo. “Ternyata dia lebih mengenalku dari pada diriku sendiri”, bisiknya dalam hati. ] 

[Ia menatap wajah lembut dan terkaget ketika terdengar lantunan ayat (Azzumar 53) dari masternya yang matanya terpejam]:

۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dilah yang Mah Pengampun dan Maha Penyayang”.

.

Wallahualam bi muradih…@

[Lanjut ke Dialog 4]

Dialog Imaginer dengan Rumi (2)

Dialog 2: Debu

 

[Sambil memandang ke luar jendela Rumi berkata perlahan…]

Rumi: Apakah antum[1] mengenali jalan-jalan di luar sana?

Murid: Sedikit, Master.

Rumi: Gunakan mata-hati. Antum lihat banyak sekali jalan di sana. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang lurus, ada yang berkelok. Ada yang aman, banyak yang rawan. Bahkan ada yang bertanda kutip: “jalan”.

[Murid hanya diam dan segera menyiapkan telinga-hatinya untuk menerima ajaran pagi ini. Dia maklum Master suka menggunakan “bahasa burung”[2] yang hanya dapat dipahami  melalui telinga-hati.]

Rumi:  Ketahuilah, jalan terbesar, lurus dan teraman adalah jalan Al-Mustafa[3].

[Karena lawan bicara hanya diam maka Rumi melanjutkan.]

Rumi: Antum mengetahui martabatku?

Murid: Samar-samar, Master.

Rumi: Aku adalah debu di jalan Al-Mustafa. Tetapi aku beruntung karena terberkati sedikit wewangiannya. Hanya sedikit. Kau bisa menciumnya?

Murid: Sangat, Master.

Rumi: Antum tahu siapa yang paling mencintai Al-Mustafa?

Murid: Tidak ada ide, Master.

Rumi: Bilal. Setelah ditinggal kekasihnya dia tidak lagi bersedia mengumandangkan azan. Ketika khalifah membujuknya ia mengelak: “Biar aku jadi Muazin Rasul saja”, katanya. Tidak bisa dipaksa. Sebab, jika dipaksa, ia hanya sanggup sampai pada bagian ini:”waasyhadu anna Muhammadan ar-Rasuilullah”.

[Mendengar ini Si Murid hanya termangu, mencoba membayangkan situasinya. Melihat muridnya diam saja, Rumi melanjutkan].

Rumi: Antum tahu apa yang paling dicintai dan disayangi Al-Mustafa?

Murid: Samar-samar, Master.

Rumi: Kaum Mustadhafin[4], dan anak-anak yatim.

Murid: Tapi…

[Murid urung melanjutkan protesnya karena dilihatnya Sang Master tenggelam dalam kontemplasi].

 

[1] Arti antum dapat dilihat dalam Dialog 1.

[2] Istilah bahasa burung (Arab: mantiq al-thair) digunakan teks suci untuk menyampaikan kebenaran lebih tinggi, higher truth. Teks suci menyinggung Sulaiman AS sebagai nabi yang memahami bahasa burung dalam pengertian ini. Posting mengenai bahasa burung dapat diakses di SINI.

[3] Al-Mustafa (Arab) artinya yang terpilih (the chosen one). Rumi biasa menggunakan istilah ini untuk merujuk kepada Nabi SAW.

[4] Maksudnya, kelompok masyarakat yang terpinggirkan (marginalized), termasuk kaum fakir-miskin.

 

Sumber Gambar: Google

 

[Lanjut ke Dialog 3]

Dialog Imajiner dengan Rumi (1)

Dialog 1: Pengantin

Rumi: Apakah antum[1] mengunjungi diri antum secara teratur?

Murid: Tidak, Master.

Rumi: Lakukanlah itu! Mulai sekarang!

Murid: Siap Master.

Rumi: Apakah keinginanmu?

Murid: Bertemu dengan Ramadhan tahun ini.

Rumi: Hmmm…!

[Rumi siap pergi tetapi tiba-tiba berbalik dan berbicara lebih serius.]

Rumi: Kau tahu akan ada perkawinan, perkawinan dengan keabadian[2]. Itu pasti. Bersiaplah jadi pengantinnya.

Murid: ???

 

[1] Antum (Arab) adalah ungkapan akrab untuk lawan bicara (Arab: mukhatabah): “engkau”, “kamu”, “anda”, “you”.

[2] Istilah Rumi untuk kematian.

[Lanjut ke Dialog ke-2]

 

 

Bermain Sepak Bola Tanpa Gawang

Dalam suatu ceramah, seorang kiai besar menganalogikan kita semua tengah bertanding sepak bola. (Bola Sepak, kata orang di negeri Jiran.) Tapi anehnya, sebagian kita tidak sadar tengah melakukannya. Sebagian lagi– sekalipun menyadari tengah melakukan pertandingan bola, dibekali keterampilan tinggi, serta dipenuhi semangat bermain– tidak mengenali tujuan atau gawang ke mana bola harus diarahkan. Sebagian di ataranya– sekalipun mengenali tujuan– tidak menatai aturan bermain Sepak Bola. Sisanya–  sekalipun bersedia menaati aturan– berharap memperoleh kemenangan tanpa lawan, cobaaan atau tantangan dari kesebalan lawan.

Sang Kiai, ketika menggunkan analoginya, sebenarnya tengah mengajarkan ilmu hikmah menggunakan satu kitab klasik yang sangat populer sedunia; yaitu, Al-Hikam. Kitab ini adalah karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Iskandariah, Mesir, 1250-1309), mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah, yang hidup di masa kekuasaan Dinasti Mamluk[1].

Tetapi berbeda dengan model penceramah lain, ia menghendaki agar pelajaran AL-Hikam tidak hanya bersifat teoretis apalagi sekadar berfungsi sebagai aksesoris, untuk “gaya-gayaan”. Sebaliknya, Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan  praktis sehari-hari para Salik.

Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan praktis sehari-hari para Salik.

Apa itu Salik? Untuk mudahnya, Salik adalah orang yang tengah berada dalam perjalanan pulang kembali kepada Tuhan (istilah Qurani, rajiun). Dalam pengertian ini, Salik berlaku bagi semua orang, tanpa kecuali. Orang yang tidak menyadari status Salik ini yang dimaksudkan Sang Kiai dengan pemain bola yang tidak sadar tegah bermain bola.

Jalan yang ditempuh oleh Salik disebut Suluk. Karena Salik berlaku bagi semua orang maka hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aini, kata Sang Kiai; artinya juga berlaku umum. Dengan kata lain, bagi Sang Kiai, Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Salik berlaku bagi semua orang,… hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aiani,… Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Tanpa ilmu Suluk hidup kita jadi random (istilah orang statistik), tidak memiliki probability density function atau pdf (kata orang statistik), tidak memiliki pola, tidak memiliki tujuan. Itulah yang dimaksud dengan pemain bola yang tidak memiliki gawang (gawang lawan), ke mana bola harus diarahkan dengan mengerahkan segala daya-upaya-semangat (himmah, dalam istilah Al-Hikam, Hikmah ke-2).

Dalam menjalani Suluk tentu ada aturan yang harus ditaati berupa syariah (aturan umum) dan arahan mursyid (pembimbing Salik). Tanpa ketaatan itu maka mustahil bagi Suluk untuk menuju ke arah yang benar, bahkan berbahaya, serta sampai dengan selamat (wusul, istilah Sufi) ke tujuan akhir Suluk yaitu (keredaan) Tuhan. Itulah analogi dari ke-tidak-taat-an pada aturan permainan sepak bola.

Itulah “keanehan” sebagian besar kita. Ada lagi keanehan yang luar biasa, yang benar-benar absurd: ingin memperoleh kemenangan, bahkan ingin menjadi juara, tetapi tidak menghendaki tantangan dari kesebelasan lawan.

Tantangan dari kesebelasan lawan ini yang dalam kehidupan beragama disebut dengan cobaan (Rab: balaa). Tantangan ini harus dihadapi oleh semua orang, tanpa kecuali, suka atau tidak suka.

Mengenai cobaan ini Sang kiai mengutip ayat berikut (Quran 2:155-157):

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi “wa inna ilahi wa iian ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami miliki Allah dan kepada-Nya kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petujnjuk.

Dari ayat ini jelas status Salik kita yang tengah “kembali” ke Tuhan (rojiun). Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks kematian. (Menurut penuturan Sang Kiai, “kelas” Umat kebanyakan, bahkan  kebanyakan  kalangan cendekia dan pembesar kerajaan di negara Jiran, sampai saat ini, baru memahami rojiun dalam konteks peristiwa kematian.)

Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks konteks kematian.

Sang Kiai menafsirkan ayat di atas sangat kontekstual.

Ketakutan: Kamtibmas;

Kelaparan dan kekurangan buah-buahan: Kecukupan pangan serta kecukupan gizi; dan

Kekurangan harta: kemiskinan struktural.

Dengan tafsir kontekstual semacam ini maka tidak mengherankan jika untuk menangani “cobaan” Sang Kiai berharap lebih banyak kepada kalangan negarawan-ilmuan-cendekiawan-birokrat dari kepada ulama.  Wawasan luar biasa bagi seorang kiai pesantren tradisional (salafiyah).

Sumber Gambar: Google

Sebagai catatan akhir, Sang Kiai yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan tokoh fiktif. Dia adalah tokoh riil, masih hidup, masih mengelola pesantren tradisional, ulama besar kalangan Nahdiyin yang akrab dengan Muhammadiyah, tokoh karismatik MUI, populer di negara-negara Jiran termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Nama beliau adalah K.H. Zezen Zaenal Abidin. Bagi yang berminat mengakses rekaman pengajian beliau mengenai AL-Hikam, silakan kunjungi alamat ini:

https://ceramahhikmah.blogspot.com/2015/05/ceramah-hikam-mp3-kh-zezen-zaenal-abidin.html#more.

[1] Lihat  https://www.qudusiyah.org/id/kajian/al-hikam/; juga http://nurulmakrifat.blogspot.com/2013/09/terjemah-kitab-al-hikam-ibnu-athaillah.html.

 

Demokrasi dan Tukang Sepatu

Kata kunci: kritik demokrasi, cacat demokrasi, pemilihan pejabat publik

 

Tahun depan Bangsa Indonesia akan melangsungkan pesta demokrasi dalam rangka pemilihan para pejabat publik: anggota dewan legislatif (DRP, DPD) dan Presiden serta Wakil Presiden. Sesuai jadwal, sekitar awal November 2019 semua tahapan proses pemilihan ini diharapkan akan sudah tuntas[1]. Pesta ini layak disambut gembira karena sistem demokrasi mengapresiasi “suara” rakyat. Walaupun demikian, sistem ini diakui luas mengandung beberapa kelemahan. Tulisan ini mengajak pembaca untuk merenungkan beberapa aspek kelemahan yang melekat dalam sistem ini.

Demokrasi dan Sepatu

Jika menggunakan sepatu sebagai metafora maka argumen demokrasi kira-kira, pemakai sepatu paling mengetahui sepatu yang sesuai dan nyaman enak untuk dipakainya.Konsekuensi logisnya, suara mereka perlu didengar dan opini mereka mengenai persepatuan layak digunakan sebagai ukuran yang menentukan definisi sepatu yang baik. Sampai di sini argumennya masuk akal. Tetapi pertanyaannya, apakah semua pemakai sepatu mengetahui seluk-beluk sepatu sehingga “opininya” layak diperhitungkan? Bagi yang Pro demokrasi-habis-habisan jawabannya “ya”, bagi yang sedikit-punya-akal jawabannya “nanti dulu”.

Sekarang angka-angkanya. Berapa pemakai sepatu yang mengetahui seluk-beluk sepatu? Agaknya tidak ada yang tahu. Tepi akal sehat menyarankan angkanya kira-kira kurang dari 1 per 100,000 pemakai sepatu. (Angka 10,000 dalam demografi biasa digunakan sebagai penyebut atau satuan populasi terpapar dari suatu kasus yang sangat-sangat langka, misalnya, angka kematian ibu (AKI).) Dengan kata lain, proporsi pemakai sepatu yang mengetahui seluk-beluk persepatuan (=p1) patut diduga sangat kecil.

Awam Soal Negara

Pertanyaan berikutnya: Berapa proporsi rakyat yang mengetahui seluk-beluk atau urusan kenegaraan (=p2)? Agaknya juga tidak ada yang tahu jawabannya. Walaupun demikian, akal sehat cenderung membimbing ke arah angka yang sangat kecil: agaknya cukup aman menduga p2 kira-kira sama dengan p1 atau (p2~p1).

Sebagian besar rakyat tentu pintar dalam beberapa hal– atau memiliki keterampilan tertentu– tetapi pasti tidak dalam segala hal. Mereka mungkin petani tanaman pangan yang tangguh, buruh pabrik tekstil yang berpengalaman, pedagang asongan yang cerdik, PNS, tentara, dosen perguruan tinggi, ahli akunting, ekonom, ahli filsafat, ahli statistik, dan sebagainya. Hampir semua (kalau tidak semua) bersepatu. Tetapi berapa per-mil dari mereka yang mengerti cara membuat sepatu? Kira-kira bagaimana kualitas sepatu yang, misalnya, dibuat oleh seorang ekonom tersohor yang juga dosen di perguruan tinggi?

Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa “hampir semua rakyat, awam mengenai persepatuan”. Jika kata “sepatu” diganti “negara” maka kesimpulannya, “hampir semua rakyat, awam mengenai kenegaraan”. Di sinilah isunya: sistem demokrasi, sederhananya, berati mempercayakan opini mengenai urusan kenegaraan kepada rakyat yang sebagian besar justru awam mengenai urusan itu. Dalam konteks ini layak direnungkan ungkapan Stoddart (2008:35)[2] yang maksudnya kira-kira sebagai berikut:

Bagaimana seseorang dapat memberikan pendapat mengenai pemerintah padahal orang itu tidak mengetahui soal pemerintahan? Orang seyogianya tidak diminta membuat sepasang sepatu jika diabukan pembuat sepatu
Cacat demokrasi yang paling nyata sebenarnya diketahui luas: pemilih akan memilih seorang kandidat yang paling menjanjikan keuntungan ekonomi baginya.

Kritik terhadap Demokrasi

Paragraf di atas menunjukkan kritik Stoddart terhadap demokrasi. Dia boleh dikatakanmewakili mazhab Tradisionalisme yang sangat kritis terhadap yang berbau modernisme. Mengenai nasionalisme, misalnya, mazhab ini mencapnya sebagai perluasan egoisme individual yang tidak ada keelokan di dalamnya[3].

Yang perlu dicatat, Stoddart bukanlah satu-satunya yang kritis terhadap demokrasi. Jauh dari itu. Jauh sebelum era Stoddart, banyak tokoh-tokoh dunia melancarkan kritik tajam terhadap demokrasi. Berikut adalah sebagian di antaranya sebagaimana dikutip oleh Stoddart (ibid, 38):


Plato (427-347 SM): Demokrasi menuju ke despotisme. (Democracy pass into despotism.)

Pliny (23-79 M): Jangan biarkan tukang sepatu yang memberikan penulaiterakhir (urusan Negara) (Let not thecobber judge above the last.)

George Washington (1737-1799): Dari semua bentuk pemerintahan, demokrasi adalah yang paling sedikit dipertanggungjawabkan di antara negara-negara beradab. (Of all forms of government, democracy is the least accounted amongst civilized nations.)

Thomas Jefferson (1743-1826): Demokrasi tidak pernah lebih dari aturan massa, di mana 51% dari orang-orang dapat mengambil hak istimewa dari 49% lainnya. (Ademocracy is never more than the mob rule, where 51% of the people may takeaway the privileges of the other 49%.)

WinstonChurchill (1874-1965): Argumen terbaik melawan demokrasi adalah percakapan lima menit dengan pemilih rata-rata. (The best argument aginst democracy is a five-minute conversation with the average voter.)

Kembalike Masa Lalu?

Berbedadengan sistem demokrasi, dalam sistem kerajaan, kesultanan atau kekhalifahan,urusan-urusan  kenegaraan diserahkan kepada ahlinya: raja, sultan atau khalifah. Apakah artinya kita perlu kembali ke sistem-sistem itu? Jawabannya tidak juga. Sejarah mencatat banyak raja, sultan atau khalifah yang semena-semena dan “menghina” nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Penyebab utama, tidak ada mekanisme kontrol, atau kalaupun ada terlalu lemah karena dikooptasi oleh penguasa tertinggi. Dalam sejarah perdaban Muslim,  para sufi secara individual seringkali  “cukup gila” mengambil alih fungsi kontrol itu.  

Keadaannya juga berbeda (dalam kasus RI) ketika urusan suksesi kepemimpinan nasional tidak diserahkan langsung kepada rakyat, melainkan kepada MPR.Apa harus kembali ke sana? Tidak juga karena sejarah membuktikan model ini menghasilkan proses transisi kepemimpinan yang tidak mulus dan kurang beradab. Penyebab utama, preasumsi bahwa dibandingkan rakyat kebanyakan, anggota MPR lebih tahu mengenai urusan kenegaran, lebih memiliki integritas pribadi, serta lebih berani dalam mengenkukakan pendapat, ternyata tidak berlaku.  

Dari uraian terdahulu tampaknya jelas bahwa dalam urusan kenegaraan yang paling menentukan bukan sistem tetapi supra-struktur atau subyek yang mengoperasikan sistem itu.

Setelah menyadari keterbatasan sistem demokrasi apa yang perlu dilakukan? Untuk menjawab ini, “nasehat” Stoddart (2008:36) agaknya layak disimak:

Apa yang terpenting adalah bahwa kita melihat dunia modern kita tanpa terlalu banyak berpikir, secara obyektif, dan tanpa rasa takut, dan berupaya paling tidak untuk memahaminya. Memahami adalah kekuatan, bukan sekadar berpikir. “Menguburkan kepala ke dalam pasir” (seolah-olah tidak masalah) tidak berguna bagi kita. Memahami bahkan dapat menuntun kita pada “solusi” yang tak terduga, bahkan jika ini hanya bersifat batiniah (inward).

Harapan

Dalam pesta demokrasi tahun depan rakyat bangsa ini akan memilih sejumlah “tukang sepatu”. Harapannya mereka tidak salah pilih dengan memilih “tukang las”, atau “tukang obat”, misalnya.

Bagi yang terpilih, harapannya mereka punya komitmen untuk menghasilkan “sepatu terbaik” bagi rakyat. Mereka juga diharapkan mampu mengayomi rakyat untuk menjadi rga negara yang baik, sekaligus warga global yang baik (good global citizen). Yang terakhir ini perlu karena gelombang populis metengah marak di mana-mana, paling tidak di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Menurut Macron (Presiden Prancis), gelombang ini merupakan penjelmaan dari “setan lama” yang telah memicu PDI dan kini tengah mengancam tatanan global[4].

Wallahualam….@


[1] Lihat https://nasional.kompas.com/read/2018/02/28/08350381/ini-tahapan-dan-jadwal-lengkap-pemilu-2019 .
[2]  William Stoddart (2008), “The Flaw of Democracy”, dalam Remembering in a World of Forgetting (hal. 35-37), World Wisdom.
3] Lihat https://uzairsuhaimi.blog/2018/11/16/nasionalisme-patriotisme/.
[4] Mengenai hal ini dapat dirujuk https://uzairsuhaimi.blog/2018/11/16/nasionalisme-patriotisme/.
 

Untuk mengakses versi pdf silakan klik di sini

 

 

 

 

Selawat: Belajar dari Cicit Rasul SAW

Kata kunci: Selawat, Burdah, Imam Zainal Abidin, Doa Mustajab.

 

Bagi komunitas Muslim atau Umat, berselawat itu penting. Mereka berselawat paling tidak sembilan kali setiap harinya (ketika Salat). Mereka melakukannya karena itu perintah yang secara eksplisit bersumber dari otoritas tertinggi ajaran Islam yaitu Al-Quran: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ungkapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya  (Quran 33:56)”.

Inti Selawat adalah doa kepada Allah untuk Rasul SAW. Betapa pun tingginya penghormatan dan kecintaan Umat kepada Rasul SAW, doa mereka tetap ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada Rasul SAW. Inilah contoh kongkret ketegasan ajaran keesaan Tuhan (tauhid) dalam Islam. Mengenai hal ini teks suci sangat eksplisit: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya”. Katakalah (Muhammad),” Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat (Quran72:20-21)”.

Perintah berselawat dalam Salat (tasyahhud) singkat saja: “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad”. Tetapi singkatnya perintah ini tidak mengurangi hormat dan cinta Umat kepada nabinya. Mereka bahkan mengembangkan berbagai cara untuk mengekspresikan kecintaan mereka melalui puisi, nyanyian (Qasidah), kaligrafi, dan berbagai media ekspresi budaya lainnya. Karya Qasidah yang berjudul Burdah karya Al-Busyiri (1213-1296) dari Mesir[1], misalnya, sampai sekarang masih sangat populer di kalangan Umat. Burdah adalah buah 

Salah satu ekspresi kecintaan Umat kepada nabinya dicontohkan dalam Selawat Iman Ali Zainal Abidin (lahir 658/659 atau tahun 38 Hijriyah). Iman ini adalah cucu Ali RA melalui Husain RA; jadi, cicit Rasul SAW (memalui Fathimah RA). Selawat Imam ini tercantum dalam Kitab Ash-Sahifah As-Sajjadiyyah[2]. Sebagian ulama permulaan sangat menghargai kitab ini dan bahkan menyebutnya “Saudara Perempuan Al-Quran”. Bagi kebanyakan sebutan ini mungkin berlebihan tetapi Ling (ibid: xlxiii) memberikan penjelasan yang menarik:

Jika sebagian ulama permulaan merujuk Shahifah sebagai “Saudara Perempuan Al-Qura, sebagian alasannya mungkin terletak pada mosaiknya mengekspresikan keragaman spiritulaitas yang secara akurat merefleksikan model Al-Quran dan Nabi bagi kesempurnaan manusia.

Melalui Selawatnya Imam ini agaknya bermaksud tidak hanya mendidik Umat dalam hal berselawat (agar tidak terlalu “pelit”), tetapi juga menggambarkan aspreasi mendalam terhadap kedudukan, sepak terjang dan perjuangan Rasul SAW selama hidupnya.

Di bagian akhir selawatnya, Imam menyinggung isu syafaat tetapi dalam koridor tauhid yang tegas dan sekedar berupa doa. Inti doanya dua: (1) Doa agar Rasul SAW diberikan derajat tertinggi di akhirat kelak, lebih tinggi bahkan dari para malaikat dan nabi-nabi lain, dan (2) Doa agar dengan kedudukan tertinggi itu Rasul SAW diberikan kuasa untuk memberikan syafaat kepada Umat. (Sebagai catatan, yang pertama juga merupakan doa Umat ketika habis mendengarkan azan.)

Untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai doa Imam, berikut disajikan terjemahan selawatnya lengkapnya. 

Terjemahan Selawat

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami Nabi Muhammad SAW yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya, dengan kusa-Nya yang melampaui segala hal termasuk berat, yang tak luput dari pada-Nya meskipun itu halus.

Kemudian Dia menjadikan kami sebagai Umat yang terakhir atau Umat yang lalu, yang mengangkat kami sebagai saksi atas yang membangkang, dan memperbanyak jumlah kami atas Umat lainnya yang lebih sedikit, karena karunia-Nya.

Ya Allah, limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad kepercayaan-Muyang menyampaikan wahyu-Mu yang paling unggul dari ciptaan-Mua, yang jadi pilihan-Mu di antara hamba-hamba-Mu iman kasih sayang, pemimpin kebaikan, kunci keberkahan.

Berbekal pertolongan-Mu ia bangkit menantang mereka dan menyerang mereka di tengah-tengah kampung mereka, hingga menanglah agama-Mu dan kalimat-Mu tetap tinggi nan agung meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

Sebagaimana ia telah bersusah-payah memperjuangkan perintah-Mu, mempertaruhkan raganya demi Engkau, dalam menempuh segala bahaya, menyeru kerabat dan kaumnya ke jalan-Mu.

Ia memerangi sanak keluarga demi rida-Mu, memutuskan tali keluarga demi menghidupkan agama-Mu.

Ia menjauhkan orang-rang yang dekat kepadanya karena bantahannya, dan mendekatkan orang-orang yang jauh karena penerimaannya kepada-Mu, mengikat tali persaudaraan dengan orang-orang jauh demi Engkau, dan memusuhi orang-orang yang dekat demi Engkau.

Ia menyibukkan dirinya dalam menyampaikan risalah agama-Mu, membebaninya dalam menyeru mereka ke agama-Mu, dan giat memberi nasehat kepada mereka yang menerima seruan-Mu.

Dan hijrah ke negeri yang asing ke tempat nan jauh dari kampung halaman demi menegakkan dan mengagungkan agama-Mu, dan menundukkan orang-orang kafir. Sehingga lebih mudah baginya dalam melakukan apa yang harus ia lakukan terhadap musuh-musuh-Mu, dan kian sempurna pula dalam mengemban tugas melindungi wali-wali-Mu.

Ya Allah, angkatlah derajat Nabi Muhammad sebagai balasan dan pengorbanannya demi Engkau ke tempat yang tertinggi di dalam surga-Mu, di mana tak ada satu pun yang dapat membandingkan bahkan malaikat, demikian nabi yang diutus.

Perkenankanlah ia memberi syafaat kepada keluarganya yang suci dan para umatnya yang beriman sebaik-baik apa yang telah Engkau janjikan.

Wahai yang menepati janji dan menyempurnakan ucapan, Wahai yang mengubah kesalahan menjadi kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda, sesungguhnya Engkau Maha Pemurah dan Maha Agung, Maha Penyantun dan Mahamulia.

 

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Burdah

[2] Ash-Sahifah As-Sajjadiyya: Kumpulan Doa-doa Mustajab Imam Ali Zainal Abidin AS (2004), Penerbit Lentera.

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di: https://drive.google.com/open?id=1YQeytKP5E5J-vEPkA-cTF7qtr7QJ6NFy